Book Of Flowers

Book Of Flowers
Bantuan


__ADS_3

Darwin pun terjatuh ke tanah, tepat sebelum mereka sampai ke ruangan. Hal itu juga membuat Claudia ikut tertarik dan terjatuh ke lantai


Untungnya, Darwin jatuh ke belakang, dan Claudia menggunakan badan Darwin sebagai bantalan ketika dia jatuh


Claudia pun perlahan bangun, dan tenaganya sudah sedikit terisi dari sebelumnya sehingga membuatnya bisa berdiri


Satu hal yang dilupakan oleh Darwin adalah, bahwa dulu Claudia adalah seorang dokter. Mengetahui setiap saraf penting di tubuh dan efek dari berbagai macam alat dan obat-obatan adalah keahliannya


Menusuk saraf yang membuat seseorang lumpuh itu sangat mudah bagi Claudia


Setiap hari dia belajar tentang kedokteran di benua Lao dulu rupanya sangat berguna untuknya sekarang ini


Dia menatap kearah Darwin yang 'pingsan' dengan mata terbuka itu. Setidaknya, dia tidak akan bergerak untuk beberapa saat. Dia bahkan tidak bisa menggerakkan bola mata miliknya sekarang ini


'Kerja bagus. Aku mengandalkanmu'


Ivor yang mengintip dari luar selnya melihat kearah Darwin yang terkapar di lantai


Claudia tersenyum merespon Ivor. Kemudian dia berbalik kearah tembok bata di pojok ruangan dekat pintu masuk


Ketika dilihat dengan hati-hati, tembok ini memang terlihat seperti tembok rusak, namun Bata-bata di bagian tembok ini terlihat sangat rapi seakan diperbarui setiap saat


'Baiklah. Bata yang mana yang harus kudorong di tembok ini'


'Kenapa menurutmu aku tahu coba!? Sel-ku berada di pojok ruangan paling jauh dari tembok itu bukan!?'


'Ok, ok. Berhenti berteriak di kepalaku'


Claudia pun meraba setiap bata di tembok itu dan mencoba mendorongnya


Salah satu bata di pojok kanan atas tembok itu pun berhasil terdorong masuk. Dan dalam waktu yang sama, tembok itu terbuka seperti sebuah pintu secara otomatis


Claudia pun menatap kearah lorong masuk ruangan rahasia yang gelap itu. Memberanikan diri, dia pun mengambil langkah pertamanya memasuki ruangan itu


Ivor mendoakan keberuntungan datang padanya, selagi Claudia meneruskan langkahnya ke dalam ruangan itu. Pintu rahasia itu pun perlahan tertutup semakin dalam Claudia masuk


......................


*Ting!*


*Ting!!*


*Ting!!!*


Semakin jauh dia melangkah kedalam tempat itu, resonansi di dadanya juga menguat


Lorong-lorong yang sangat gelap. Claudia harus mengandalkan dan menempel pada tembok untuk melalui tempat itu


Dia juga sudah mulai merasa lelah, tapi dia masih bertekad untuk menelusuri tempat itu sampai ke ujungnya


Pandangannya mulai menggelap. Napasnya mulai memberat. Badannya mulai melemah


Dia berusaha terus berjalan dan terus menopang diri sendiri dengan tembok di sampingnya


*Tuk...*


*Tuk...*

__ADS_1


*Tuk...*


*Tak!*


Suara itu terdengar ketika dia mencoba menopang diri karena nyaris jatuh, dan secara tidak langsung menabrak benda itu


Dia perlahan meraba-raba dan mencoba mengetahui benda apa itu. Dia pun menyadari kalau yang dia tabrak dengan sikunya itu adalah sebuah pintu


Tapi...


Pintu itu tiba-tiba perlahan terbuka. Karena refleks dan tidak ingin ketahuan, Claudia pun berusaha bersembunyi sambil menahan napasnya sedalam mungkin. Dia pun menjongkok di sisi lain pintu yang perlahan terbuka itu


Seseorang yang memakai kerudung hitam menunjukkan dirinya dari balik pintu itu sambil melihat kesana kemari, seakan sedang waspada akan sesuatu


Claudia panik karena menyadari adanya seseorang disana. Dan lagi...


*Ting! Ting! Ting!*


Dentingan di dadanya terasa semakin keras dan semakin cepat


Diantara dentingan di dadanya yang semakin cepat, dan adanya orang tidak dikenal di dekatnya sekarang ini, Claudia terus mencoba untuk menenangkan diri


Tapi pikirannya justru lebih semakin panik. Keringat dingin mengucur di dahinya, dan entah kenapa dia merasa akan dibunuh sekarang ini


Dia pun perlahan menutup matanya, menunggu nasib yang akan menimpanya sebentar lagi


...


...


...


Menyadari langkah orang itu yang terdengar menjauh, Claudia membuka matanya perlahan. Dia menghela napas syukur, dan perlahan mengintip kearah jalan keluar lorong


Orang itu tidak terlihat di pandangan matanya. Suara langkah kakinya juga sudah tidak terdengar


Setelah memastikan lebih teliti, dan memperkokoh kembali tekadnya, dia pun berjalan masuk ke dalam ruangan dengan pintu terbuka itu


Dan dia tidak perlu berjalan jauh untuk mengetahui isi ruangan itu. Matanya terbelalak kaget dengan isi ruangan yang dia lihat itu


Hanya ada cahaya sebuah obor di dalam ruangan yang luas itu. Tapi, dia tidak perlu cahaya tambahan melihat ruangan itu. Ruangan yang diisi dengan berbagai macam peralatan aneh seperti alat bedah dokter


Ada banyak sekali makhluk-makhluk selain manusia yang hanya tinggal mayatnya disini. Kebanyakkan dari mereka berukuran kecil dan di awetkan dalam sebuah toples atau kotak kaca


Ada beberapa organ yang dipajang setelah diawetkan di dalam ruangan itu. Melihat semua hal itu, Claudia merasa jijik dan bahkan nyaris muntah


Setelah dia mengatur tubuhnya dengan baik kembali, Claudia pun menoleh kearah tumpukkan badan orang-orang diatas sebuah meja. Orang-orang itu memakai masker dan sarung tangan khusus. Claudia pun menyangka kalau orang-orang itulah yang telah melakukan hal-hal keji di dalam ruangan ini


Ketika dia mendekat dan memeriksa mereka, orang-orang itu masih hidup dan hanya pingsan. Ada luka memar yang samar di leher mereka, seakan dipukul dengan cukup keras, namun tidak membahayakan


Orang yang memukul mereka itu pasti tahu betul cara agar tidak membahayakan seseorang ketika memukul pingsan mereka


Dan ketika dia memperhatikan orang-orang itu lebih teliti...


...


Dia menyadari kalau mereka baru saja pingsan

__ADS_1


Tiba-tiba saja, sebuah sulur hidup menjalar kearahnya dan mengikatnya erat. Badannya pun dengan cepat terangkat ke udara oleh sulur itu


Panik, dia mencoba melepaskan diri, tapi usahanya itu sama sekali tidak menghasilkan apapun karena kuatnya ikatan sulur itu


"Lepas-!"


"Diam dan dengarkan aku" Orang itu berkata sambil menatap langsung matanya


*Ting!! Ting!!*


...


"Kenapa Inti Roh itu ada di dalam badanmu?"


Claudia diam dan berhenti meronta seketika mendengarkan hal itu. Dan ketika dia menatap kearah sepasang mata oranye di balik kerudung itu, dia pun menyadari satu hal


"Kamu... Vainzel??"


"..... Ya. Jawab aku segera"


Aku mulai mengeratkan ikatan sulur tanganku itu, membuat Claudia semakin tertekan


"Baiklah- Namaku Claudia- Tolong turunkan aku agar aku bisa menjelaskannya- dengan baik!"


...


"Baiklah"


Aku perlahan menurunkannya ke lantai, tapi masih mengikatnya, walaupun tidak seerat sebelumnya


Claudia mulai memberanikan dirinya untuk berbicara. Dengan hati yang sudah tenang, dia pun melihat langsung kearah mataku


"... Aku ingin menolongmu" Claudia berkata dengan mantap


...


"Bagaimana aku bisa tahu kalau perkataanmu itu bukan jebakan?" Aku bertanya. "Lagipula, kamu tidak memberiku jawaban dari pertanyaan itu" Aku menambahkan


"... Tolong dengarkan aku dulu"


"... Baiklah"


...


"Aku akan mengembalikan pecahan roh ini padamu nanti. Tapi..."


"Tapi?"


"... Aku ingin kamu membunuhku setelah itu"


...!


Mendengar perkataan Claudia, aku tersentak


Perkataannya bahkan tidak terdengar main-main sama sekali. Niatan berbohong pun tidak bisa kurasakan darinya. Kata-katanya sudah menyatu dengan tekadnya, matanya bahkan terus tersorot kearahku


Diantara semua permintaan atau syarat yang bisa dia minta kepadaku, dia memintaku untuk membunuhnya setelah dia menyerahkan inti roh itu kembali

__ADS_1


Tapi, apa benar dia ingin menghilangkan nyawanya begitu saja?


__ADS_2