
--- Pagi harinya ---
Ah~!
Segarnya musim semi memang tidak tertandingi. Melewati musim dingin jadi terasa sepadan dengan datangnya musim indah yang satu ini setelahnya...
Aroma musim ini juga sangat meluluhkan hati, membuatku ingin terus duduk dan menikmati suasana. Mungkin juga membuat satu atau dua puisi untuk mengisi waktu luang itu
Mari kita buat...
Bunga-bunga bermekaran, burung-burung bernyanyi...
"Vainzel!!!!!"
---Dan Verdea berteriak memanggil namaku dengan nada yang keras sekali
Coret. Teriakannya itu lebih keras dari biasanya! Apa yang terjadi pada anak itu?!!
"Verdea! Ada apa??" Aku ikut berteriak, dan mulai berlari keluar mencarinya
Aku pun menemukannya berada di taman belakang bersama dengan para pelayan baru
"Ada apa??" Aku bertanya sedetik setelah aku menghampiri mereka, dengan wajah yang terlihat bingung dan panik
Wajahku langsung berubah menjadi datar ketika aku melihat apa yang terjadi padanya. Diantara semua pelayan baru itu, dia terlihat sangat berantakan, entah bagaimana
Askot yang jadi kusut, jas yang terbalik, dan beberapa hal yang tidak ingin kusebutkan lagi
A- Apa yang mereka lakukan padanya coba?? Padahal cuma memakaikan baju saja bukan?
Dan mereka bertujuh ada disini! Bagaimana tidak satupun dari mereka tahu bagaimana bangsawan berpakaian??
"Vainzel! Bantu aku memakai pakaian ini!" Verdea meminta dengan wajah yang terlihat ingin meringis
...
...
Begini, lalu begini...
Mereka semua hanya mengangguk meresponku sembari memperhatikan cara memasangkan pakaian Verdea dengan benar
Sebenarnya ini tidak terlalu sulit bagiku. Itu karena aku juga suka memakai pakaian formal seperti ini, walaupun ujung-ujungnya akan tertutup oleh jubah kuning berkerudung yang selalu kukenakan
Hanya saja, dengan mudah aku mengatakan, mereka malah susah melakukannya. Beberapa dari ketujuh ini berasal dari ras lain, jadi aku mungkin paham kenapa mereka tidak bisa memakaikan pakaian formal bangsawan
Tapi, manusia seperti Ilias itu seharusnya tahu setidaknya sedikit mengenai tata cara pemakaiannya
Sudah! Akhirnya dia sudah terlihat rapi!
Mari perhatikan lagi...
Demi Pohon Agung, anak ini tampan sekali...!
Tapi, wajahnya lebih condong ke imut daripada gagah. Dia masih tetap terlihat seperti seorang bayi, sama seperti ketika dia berumur 7 tahun waktu itu
Itu sebabnya warna cerah seperti hijau ini cocok untuknya. Lalu, celana hitam untuk menyerasikan dengan warna rambutnya, ditambah sarung tangan sutra dan sepatu kulit berwarna putih
Jubahnya juga berwarna putih, dengan sebuah bros emas berukiran lambang Hortensia
Ketujuh orang itu langsung takjub melihat hasil kerjaku
"Dan begitulah cara memakaikan pakaian untuknya. Terlihat rumit, tapi yang perlu kalian perhatikan hanyalah keserasian warnanya dengan Verdea"
Mungkin kuning keemasan juga bagus untuknya, tapi itu hanya akan membuat warna yang kami kenakan sama saja. Harus ada sedikit variasi
"M-M-Maaf kami ti-tidak b-b-b-bisa memasangkan p-p-pakaianmu, p-p-p-pangeran!" Ilias meminta maaf
"Tidak masalah. Kalian juga masih belum belajar" Verdea berkata
"Oh ya tuhan... Aku akan pingsan..."
Frit mulai bertingkah dan benar-benar terjatuh, namun berhasil ditangkap oleh yang lain. Hidungnya juga berdarah entah kenapa
"Sebaiknya kita mempersiapkan hal lainnya lagi. Aku yakin kusir kuda kerajaan itu akan tiba beberapa saat lagi" Aku mengingatkan
"Ah ya, aku hampir lupa dengan bunga milikku. Semoga kakek sudah menyelesaikan karangan bunga yang kubuat semalaman" Verdea berkata
Dia pun segera beranjak keluar ruangannya untuk menuju ke tempat kakeknya, meninggalkan kami yang masih berada di dalam kamarnya
"... Sebaiknya kalian juga bersiap. Dan selamat hari Festival Bunga"
Aku langsung menggunakan sihirku untuk menumbuhkan bunga lili putih untuk mereka masing-masing satu
Mereka langsung terkagum, dan dengan antusiasnya menerima bunga yang kubuat itu satu-persatu
Yah, walaupun aku yakin bunga-bunga itu akan layu dalam satu hari karena hanya terbuat dari Mana-ku yang terlepas ke udara
"Verdea juga sudah menyiapkan bunga untuk kalian. Jadi sebaiknya kalian tunggu dia selagi melakukan pekerjaan"
Dan aku sungguh tidak bohong. Anak itu diam-diam menyiapkan bunga mawar kuning untuk dibagikan kepada semua orang
__ADS_1
Dia meminta Frank untuk merawatnya selama beberapa lama kami pergi. Jadi bunga itu sekarang sudah tumbuh dengan baik di taman, hanya menunggu untuk dipetik
Harusnya aku juga minta pada Ayahanda untuk merawat beberapa bunga, tapi ya sudahlah
"Baiklah. Aku yakin tuan Luxor dan nyonya Lyralia membutuhkan beberapa bantuan sebelum kalian pergi" Nazia berkata, diikuti anggukan kepala yang lainnya
Dia pun mengajak mereka semua untuk pergi dan melakukan beberapa pekerjaan sebelum bertemu mengantar kami pergi nanti
...
Hmph... Hari itu akhirnya datang...
Aku bukannya tidak senang karena kemungkinan adanya jebakan lagi disana. Aku lebih tidak ingin datang karena beberapa bangsawan disana yang pastinya akan tertarik kepadaku
Ayahanda beri aku kekuatan. Hal yang paling kubenci di dunia ini adalah orang yang bisa terus berbohong walaupun sudah ketahuan. Dan aku yakin ada banyak sekali orang disana yang seperti itu
Urusan dengan Gong dan Bestia belum kuselesaikan dengan tuntas. Julius juga mungkin sudah menaruh matanya kearahku. Aku tidak ingin berurusan dengan raja Borneus, apalagi Crux. Aku juga tidak tahu apapun mengenai Cassiopeia dan Sahra karena mereka itu terlalu pasif dalam hubungan antar kerajaan
Memikirkan semua hal itu saja membuat kepalaku pusing tujuh keliling. Hubungan Miralius dan kerajaan lain sudah mulai terbuka, dan itu malah menambah kesulitan ku dalam mengelola semua hal
Tetapi, hal itu juga bagus. Aku melakukan ini juga untuk kepentinganku dan teman-temanku. Yang terpenting adalah menemukan cara untuk membiasakan diri
...
Kenapa aku harus hadir...? Aku tidak mau...!
Ini mungkin hukuman bagiku, karena sekarang aku dipaksa untuk menjadi raja yang baik untuk Miralius. Terima sajalah, jika begitu...
"Ah, disini rupanya"
Hm?
Oh, Veskal
"Ada apa mencariku, Veskal?" Aku bertanya
"Hanya ingin bertanya bagaimana cara kita menyerahkan semua dandelion itu nanti, setelah aku pikir-pikir lagi?"
...
Tunggu, memangnya dia berpikir kami akan menyerahkan sekarung dandelion itu langsung ke tangan Verdea?
Tapi... Dari tatapannya, dugaanku sepertinya benar
"Tidak. Aku punya cara lain untuk 'menyerahkan' satu karung bunga itu" Aku menjawabnya
Dia mengangguk, setuju dengan apapun yang sedang kupikirkan sekarang ini
...
Veskal itu tinggi sekali ya...?
Aku harus menekuk leherku keatas hanya untuk melihat kearah wajahnya. Dan ketika aku sadar, aku hanya setinggi setengah dadanya, sama seperti perbandingan Remina dengan Verdea
Ayahanda, aku jadi yang paling pendek diantara kami bertiga. Aku yang jadi terlihat seperti bocah dibandingkan dengan mereka. Bagaimana ini bisa terjadi?
Ini tidak adil. Apa-
Jangan tunjukkan wajah polos itu kearahku! Kamu sedang meremehkan tinggiku atau semacamnya??
......................
--- Beberapa saat kemudian ---
Kereta kuda kami sudah tiba. Semua orang sudah keluar bersama-sama
Ketujuh pelayan baru itu akan mengantar kepergian kami semua. Ayahanda akan tetap berada disini bersama dengan mereka, karena aku tidak ingin identitasnya diketahui siapapun
Frank sayangnya harus ikut, walaupun dia tidak mau. Itu karena dialah wali sah milik Verdea, mengingat kalau ayahnya tidak bisa hanya memihak kepada satu anak saja. Aku juga yakin Damien atau Darius tidak ingin melepas Artorius dari dekat mereka, karena takut dengan si saudari tercinta
Semua orang sudah berada disana dengan bunga mereka masing-masing di tangan, hadiah untuk yang lainnya. Semuanya berencana untuk menyerahkan bunga itu nanti di dalam ruang pesta di kastil Rose
"Kereta kuda siap, semua orang sudah siap kita tinggal berangkat sebentar lagi" Aku berucap
Verdea terlihat bingung, selagi menengok sekitar seakan ingin mencari sesuatu. Aku bisa tebak siapa yang ingin dia cari
"Dimana Veskal?" Dia pun bertanya
Aku hanya tersenyum dan berbalik kearahnya
"Ketika aku bilang semua orang sudah siap, mereka semua sudah siap" Aku menjawab
Dan disaat itu juga, sesuatu terbang melewati kami. Satu-persatu, maupun berkerumun, mereka berbaris dengan rapi selagi ditiup dengan angin
Bunga Dandelion yang jumlahnya banyak, terbang melalui dan mengelilingi kami semua yang berada di halaman sekarang ini
Semua orang tentu terkejut, menengok kearah asal angin bertiup yang berasal dari atap kastil itu
Veskal berdiri disana, bersama dengan Erin. Keduanya terlihat sibuk memainkan sebuah sihir menggunakan ranting kayu yang mereka pungut masing-masing
Inilah cara kami menyerahkan hadiah bunga kami. Dandelion terlihat lebih indah jika dia tertiup oleh angin
__ADS_1
Dan untuk membantu kedua orang itu, aku pun ikut merapal sihir angin dan menerbangkan semua bunga itu secara berputar, kemudian pergi menjauh keatas hingga mereka terbang layaknya sekelompok burung dalam pusaran angin itu
Aku menangkap salah satu bunga dandelion yang tertinggal, kemudian meniupkannya kearah Verdea yang langsung tertawa geli ketika terkena
"Selamat Festival Bunga temanku. Semoga kamu bisa terbang jauh seperti bunga-bunga itu" Aku berkata
Senyum Verdea melebar selagi tangannya terangkat untuk menangkap beberapa bunga dandelion yang mendekat
Dan walaupun tertangkap, dia akan menghembuskan bunga itu hingga terbang kembali ke udara
Dia pun mengarahkan wajahnya kearahku. Dirinya yang terlihat sangat senang itu pun meminta tanganku selagi aku mulai menyadari kalau dia sedang meminta Frank untuk mendekat
"Hadiahmu itu lebih awal. Jadi...
Tada!!"
Sebuah buket bunga pun ditunjukkan oleh Frank, tersodor kearahku yang setengah terkejut
Buket bunga mawar kuning yang disusun rapi, serta duri yang sudah dibersihkan hingga aman untuk dipegang
"Selamat Festival Bunga juga. Semoga pertemanan kita akan selalu bertahan selamanya"
...
Ah...
Melihat wajahmu yang tersenyum itu, bagaimana aku tidak luluh...?
Kamu sangat luar biasa dalam mencerahkan hari. Kamu persis seperti sebuah bunga matahari, atau seperti mawar kuning ini
Temanku...
Semoga kebahagiaan selalu menyertaimu
Semoga dunia ini bisa terus menyaksikan senyumanmu
Dan semoga persahabatan kita selalu bertahan hingga ujung waktu
Semoga doaku yang pergi seperti bunga-bunga itu, bisa dibawa pergi oleh angin hingga Tuhan mendengarnya
"Panjang umur untukmu, temanku" Aku berkata selagi mengambil buket bunga itu dari Frank
Lalu, aku perlahan menyelipkan sesuatu ke tangan Verdea. Sebuah apel yang kudapatkan dari seorang saksi mata terbentuknya persahabatan kami
"Dari seorang teman lama. Kamu mungkin tidak akan mengenalinya, tapi dia menyampaikan salam untukmu"
Matanya berbinar ketika menerima buah apel itu, hingga dia melempar dirinya untuk memelukku erat. Tapi kami berdua terjatuh ke tanah akibat kelakuannya itu, mengundang tawa dari semua orang
Dasar. Padahal dia itu sudah besar dan berat, tapi masih bertingkah seperti anak kecil!
"Hei! Aku juga ingin dipeluk!" Veskal tiba-tiba menyela dari kejauhan
Kami berdua tentu terkejut dan mencoba untuk mengusirnya dengan berteriak, "Jangan!!!!!"
Tapi terlambat
Dia kemudian melompat kearah kami yang terkejut dengan kehadirannya yang mendadak. Tidak perlu waktu lama untuknya menabrak dan membuatku tertindih oleh badan mereka berdua
"Ayolah! Kalian sudah terlalu besar untuk menindihku seperti ini!"
Tetapi mereka hanya tertawa selagi aku mencoba bangun tanpa menyakiti mereka
Dan untuk menambah penderitaan, sebuah bayangan datang dari atas. Kami pun menemukan seseorang yang melayang di udara dengan sebuah senyum di wajahnya, siap menimpa kami lagi
"IVOOOOR!!!!" Kami bertiga berteriak
*GEDEBAM!!*
...
Pada akhirnya Luxor dan Lyralia juga mengikuti mereka menimpa kami, hingga semua orang yang hanya melihat langsung tertawa atau menggelengkan kepala
Ahaha... Aku masih bisa merasakan rasa sakitnya di punggungku. Mungkin karena aku sudah semakin tua, rasanya semakin nyeri disini...
...
Mawar kuning...
Aku baru ingat kalau aku belum menanam mawar kuning tahun ini. Padahal, ini sudah musim panas
Sebaiknya aku lakukan saja untuk sekarang...
Karena, bunga itulah yang menjadi lambang persahabatan kami. Seperti yang dia bilang diatas bunga itu, persahabatan kami akan selalu bertahan hingga ujung waktu. Itulah sebabnya setiap tahun aku selalu menumbuhkan bunga itu untuk mereka berdua, sebagai pengingat persahabatan kami yang abadi
Sebuah bunga yang akan selalu kutanam dan rawat dengan baik di setiap tahunnya. Ketika aku melihat mahkota bunga itu, aku selalu melihat senyum teman-temanku yang cerah disana...
Sebuah lambang yang bisa membuatku melihat jelas wajah mereka berdua, selama-lamanya...
...
Aku bersyukur di hari itu aku berhasil melempar buket mawar yang diberikan Verdea kepadaku kearah Ordelia sebelum Ivor menimpa kami...
__ADS_1