Book Of Flowers

Book Of Flowers
Rencana Dadakan


__ADS_3

--- Malam hari, Rumah Vainzel ---


Kami berkumpul sekarang ini. Semua orang ingin mendengarkan penjelasan kami berdua tentang kejadian tadi dan duduk mendekat, kecuali Veskal yang berdiri di sudut ruangan


Dia hanya mengawasi kami selagi kami membicarakan hal ini


"Tidak, tidak. Aku ingin penjelasan yang lebih rinci" Luna berkata sambil mencubit bagian atas hidungnya


Semua orang masih terlihat bingung dengan penjelasan ku, sedangkan Verdea yang duduk di pangkuanku malah sibuk memperhatikan segel di tangannya itu


"Aku sudah merasa aneh ketika melihat Inti Mana di dalam simbol itu kemarin. Ternyata keanehan yang kudapatkan itu lebih parah ketika sudah kuketahui"


Semua orang memiliki Inti Mana. Dan semua Inti Mana makhluk hidup selalu terletak di jantung mereka


Jantung makhluk hidup tidak hanya berfungsi untuk menyebarkan darah ke tubuh, tapi juga Mana


Dengan begitu, Mana bisa mempengaruhi seluruh tubuh. Namun karena tangan adalah organ yang paling fleksibel untuk digunakan, menyebabkan Mana lebih kuat ketika digunakan di tangan


Verdea juga termasuk dalam hal itu. Inti Mana miliknya terletak tepat di jantung. Kekuatan Mana-nya juga sama sekali tidak terlalu meluap-luap. Tapi entah kenapa, aku bisa merasakan Inti Mana keduanya dari simbol itu


Dan tidak berhenti disitu. Inti Mana itu bahkan tidak memancarkan Mana yang lebih kuat dari Inti Mana asli milik Verdea, namun bisa membuat sihirnya sekuat itu


Dan setelah kejadian hari ini, dan analisa yang kulakukan dengan sihir Verdea tadi, aku yakin sepenuhnya kalau simbol itu adalah sebuah segel, dikarenakan segel memiliki sifat mengompres kekuatan seseorang


Walaupun aku tidak yakin benda di tangannya itu segel, tapi untuk sekarang aku panggi saja begitu


Tapi, Verdea mendapatkan segel itu ketika kami sampai di tempat ini. Ketika kami di kastil sejak dulu, aku tidak merasakan ada keanehan itu seperti sekarang ini di tubuhnya


Walaupun mimpi ketika dia bertemu Marcellus sendiri dimulai ketika kami berada di kastil, tidak ada apapun yang aneh terjadi pada Verdea


Lalu apa pemicu segel itu tiba-tiba muncul?


Kutukan? Keturunan? Berkah?


...


"Verdea. Apa Marcellus memiliki segel sepertimu juga?"


"Tunggu. Kenapa kita malah beralih ke Marcellus?" Protes Fyon


"Aku bingung Vain. Jelaskan lebih rinci" Lyralia mengeluh


"Tunggu dulu teman-teman"


Aku kembali menoleh kearah Verdea setelah mengatakan hal itu


Verdea mencoba mengingat-ingat hal yang dia lihat dalam mimpinya itu


"Ada. Tapi, simbol miliknya berbentuk seperti perisai dengan enam sayap"


Hah?


Marcellus memang memiliki simbol seperti Verdea, tapi bentuk segel mereka berdua berbeda dengan satu sama lain?


...


"Bisa jelaskan apa kaitan hal ini dengan Marcellus sekarang?" Tanya Luna yang terlihat tidak sabar


Aku menghela napasku


Baiklah... Mereka tidak akan diam kalau aku tidak memberitahukan segala hal


......................


"..."

__ADS_1


"..."


"... Gila!! Itu artinya-!!"


Tak!


Kepala Cyth sekali lagi dipukul oleh Lyralia karena mulutnya yang tidak bisa diam itu


"... Berpikir kalau ada kemungkinan seperti ini..." Luna bergumam


Luna menggigit jarinya karena dia merasa gelisah


Mereka semua terlihat tidak percaya dengan apa yang mereka dengar. Hening menguasai seluruh ruangan. Hanya suara jangkrik dan hal lainnya di luar yang terdengar di dalam ruangan ini


Setidaknya aku sudah memberitahukan seluruh kebenarannya pada mereka semua. Aku tidak perlu mengontrol pendapat mereka sama sekali


"Lalu kenapa kamu harus berhubungan baik dengan anak itu?" Tanya Fyon kesal


"Fyon!" Ordelia menyela


Tapi Fyon menaikkan telapak tangannya untuk menyuruh Ordelia diam


"Kamu lupa dengan apa yang dilakukan orang itu pada kaum kita?" Lanjut Fyon


"... Tidak. Tidak sama sekali"


Dia tiba-tiba saja membanting tangannya di meja dan meneriakkan, "Lalu kenapa kamu ingin menolongnya!?"


"Jangan berkata lancang seperti itu, Fyon!" Aku langsung membalas


Dia hanya membalas perkataanku itu dengan tatapan kesal, kemudian kembali duduk


"Aku sadar kalau kalian mungkin akan berubah pikiran tentangnya karena hal ini. Tapi, aku akan tetap mencari tahu apa niat sebenar Marcellus meletakkan segel ini di tangannya"


Kepalaku terasa pusing. Menjaga anak ini ternyata lebih sulit dari yang kubayangkan


Aku hanya ingin kebaikan untuknya, namun seberapa jauh aku bisa membawanya menuju kebaikan itu?


Aku hanya takut kalau aku tiba-tiba harus berhenti di tengah jalan dan belum sampai ke tujuan itu sama sekali


Dan masalahnya, aku tidak mungkin melakukannya sendiri di situasi sekarang ini, terutama ketika kejadian-kejadian yang hampir membunuh Verdea akhir-akhir ini


Hah...


...


"Kalau begitu, apa yang harus kami lakukan?"


Aku menoleh kearah Luna yang mengatakan hal itu


Dia terlihat siap dengan apapun yang akan kuperintahkan sekarang ini


Tapi, tidak hanya dia saja yang begitu. Setiap orang dari teman-temanku itu sudah terlihat bersedia, kecuali Fyon


...


Mereka masih bersedia membantu kami. Syukurlah...


"Tunggu! Aku masih belum setuju!" Fyon menyela


Aku menoleh kearahnya


"Alasannya?"


"Aku tidak ingin kamu terlibat dengan apapun itu tentang ini

__ADS_1


... Aku tidak ingin kematian dari Oberon, 200 tahun yang lalu terulang lagi"


...


"Aku paham dengan maksudmu. Tapi, aku sendiri sudah masuk terlalu dalam di masalah ini"


Janji yang kubuat harus ku tepati. Dan teman yang sedang susah akan ku tolong


Aku selalu begitu. Ikatan pertemanan yang aku miliki dengan Verdea tidak bisa ku putuskan begitu saja sekarang ini. Yang tersisa hanyalah seberapa kuat aku bisa menahan semuanya


"..."


Fyon diam seribu bahasa


Dia tidak tahu harus bicara apa lagi untuk meyakinkanku


Aku kemudian kembali fokus kepada teman-temanku yang lain


"Aku ingin kita semua kembali besok"


Dan dengan kompaknya, semua temanku berkata "Hah!?", setelah mendengar perkataanku


Aku sudah merencanakan ini semua


Dan jika kami ingin mengurus perkara segel ini,


"Kita harus mengurusnya disana"


Semua temanku mengangguk setuju


Mengakhiri malam itu, aku mengantar Verdea ke dalam kamarnya dan menemaninya sampai ia tertidur


Dan agar kepulangan kami bisa cepat, aku harus meminta bantuan 'miliknya'


Aku mengambil jubahku dan mulai keluar dari rumahku perlahan-lahan tanpa seorang pun yang tahu


......................


--- Beberapa jam kemudian, Gerbang Hutan ---


...


...


"... Salam untuk raja para peri"


Seren menundukkan kepalanya kepadaku untuk memberi hormat. Aku yang baru keluar dari gerbang portal langsung menyapanya


Aku kemudian menyuruhnya untuk mengangkat kepala, selagi aku mendekat kearahnya dari portal


"Angin malam ini dingin sekali. Aku heran kenapa kamu bisa tetap tahan tinggal disini"


Aku tahu ini musim dingin, tapi karena terbiasa dengan cuaca buatan yang sedikit hangat di Miralius, aku sama sekali tidak bisa menahan dinginnya udara di luar sini


"Memangnya di dalam hangat dan tidak bersalju?" Tanya Seren


"Memang tetap bersalju, tapi tempat itu semuanya buatan bukan? Cuacanya bahkan bisa dikontrol oleh Ayahanda" Aku berkata


"Sihir ruang milik Tuan Alf memang luar biasa" Dia berkata, kemudian memasang wajah serius


"Lalu, apa ada masalah sehingga kamu harus datang kemari, Oberon?" Lanjutnya


"... Aku ingin kamu menerbangkan kami pulang"


Mata Seren melebar seakan dia terkejut dengan perkataanku

__ADS_1


__ADS_2