
--- Malam harinya ---
Suara jangkrik...
Hanya itu saja yang mengisi keheningan yang menyelimuti sunyinya semua kereta yang berhenti untuk beristirahat sementara waktu. Ditambah dengan sebuah suara semak yang samar bisa terdengar sedikit jauh dari para gerombolan yang sedang beristirahat di tengah perjalanan mereka
Diantara suara nyanyian mereka yang sangat tidak merdu dan nyaring itu, semak itu terlihat sedang diatur posisinya oleh seorang wanita. Mata emasnya yang melihat kesana kemari untuk memastikan posisi dedaunan semak itu sudah benar pun akhirnya terlihat puas setelah beberapa saat
Dia pun mengambil posisi yang baik untuk menjongkok, selagi perlahan menurunkan celananya. Lalu tidak lama, dia pun bernapas lega dengan sangat lembut
"Halo"
Sayangnya dia pun harus dikejutkan oleh suara pria di belakangnya. Dia nyaris bangun, tetapi kemudian ingat kalau celananya belum naik
Sementara, pria itu hanya menatap bingung ada apa gerangan yang sudah menimpa orang di hadapannya itu
"Natasha. Apa yang kamu lakukan di semak?"
...
Natasha pun terlihat gusar, terutama karena Veskal sama sekali tidak menoleh. Dia juga bersyukur kalau hari sedang gelap malam ini
"Aku sedang buang air. Jadi aku harap, kamu berpaling dari sini dan bergabung dengan orang-orang itu, Veskal" Natasha pun menjawab
Veskal yang menyadari hal itu spontan berpaling. Tidak sedikitpun menunjukkan wajahnya yang memerah karena sudah melakukan sesuatu yang tidak seharusnya dia lakukan
"Maaf... Aku tidak tahu..." Dia samar berkata, karena bibirnya yang ia tutupi
Tetapi, tidak seperti apa yang diminta oleh Natasha, Veskal justru hanya menggeser posisinya sedikit untuk berdiri di sisi pohon yang berlawanan dengan posisi Natasha
Natasha tentu merasa keheranan dengan hal itu
"Kenapa kamu malah diam saja disini?" Dia pun bertanya
"Uh..." Veskal justru terlihat ragu menjawab
"Uh apa?"
"... Kamu mau mendengar suara mereka?"
...
...
...
"... Ah ya, tidak"
Natasha pun hanya menunduk lemas. Dia bahkan tidak berniat untuk mendekat diantara gerombolan kami lagi hingga dia yakin kami sudah berhenti menyanyi
Dan Veskal di sisi lain, tertawa kecil mendengar respon Natasha, membuat wanita itu menoleh kembali kearahnya yang tidak bisa dilihat jelas dibalik pohon itu
"Lihat? Bahkan Vainzel saja terlihat sangat gusar disana" Veskal berkomentar
Tangannya yang terlihat sebelah tertunjuk itu bisa dilihat oleh Natasha, menunjuk tepat kearahku diantara Ivor dan Verdea yang sibuk meneriakkan suara di kedua telingaku
Lalu momen selanjutnya, mereka bisa melihat kalau aku menarik kedua pipi orang itu hingga mereka berteriak minta ampun
Natasha pun ikut tertawa, spontan membuatmu Veskal berhenti dan menoleh kearahnya sedikit
Namun dia pun teringat kalau Natasha masih buang air, hingga dia harus mengalihkan pandangannya lagi
"Tidak apa. Aku sudah selesai"
Natasha pun muncul di samping Veskal selagi mengatur kembali celananya dalam posisi yang nyaman, sebelum kembali memperhatikan gerombolan kami dari kejauhan
Keduanya hanya menatap kearah kami, sesekali tertawa melihat tingkat konyol yang dilakukan oleh salah satu dari kami
Pemandangan yang sebenarnya biasa mereka lihat dan alami. Sesuatu yang terlihat kecil, namun berarti sangat besar
Veskal dan Natasha, keduanya paham kalau sahabat dan orang-orang terdekat adalah sesuatu yang lebih berharga dari apapun itu. Sesuatu yang tidak bisa digantikan. Mudah terbuang, namun sangat susah dicari
"... Aku penasaran apakah teman-temanmu juga segila orang-orang ini?" Veskal berkata dengan nada setengah meledek
Natasha hanya tersenyum selagi menunduk ke bawah. Rambut coklatnya yang pendek itu entah bagaimana bisa menutupi wajahnya dari hadapan Veskal. Mata emasnya cukup nampak dari sela-sela rambut itu, tetapi tetap saja Veskal merasa risau dengan ekspresi apa yang sedang digunakan oleh teman masa kecilnya itu
"... Yah. Mereka tidak jauh dari ini. Kadang..." Natasha berkata, tetapi berhenti di tengah
Veskal pun menyenderkan badan ke pohon di belakangnya selagi masih menunggu Natasha mulai bicara kembali dengan risau
"Kadang... Mereka juga menangis denganku..."
__ADS_1
...
Menangis dengannya...
Sahabat. Berdasarkan pengalaman Veskal, dia sama sekali tidak asing lagi dengan makna kalimat itu
Matanya kembali menatap kearah kami. Utamanya, terpaku tepat kearahku dan Verdea yang sedang sibuk mengganggu satu sama lain hingga nyaris jatuh ke api unggun yang kami buat
Dua orang yang berarti seluruh dunia baginya. Dua orang yang akan dia lakukan apapun itu untuk lindungi
Bahkan jika harus mengkhianati keduanya. Bahkan jika keduanya kecewa terhadap dirinya...
Tapi dia tahu kalau skenario kedua itu tidak akan terjadi. Aku dan Verdea, dia tahu betul kalau kami tidak akan pernah merasa kecewa kepadanya, apapun kondisi yang menimpa
...
"Aku senang kamu bisa menemukan teman yang berarti bagimu, Veskal"
"Hm?"
Kalimat yang mendadak dikeluarkan oleh Natasha itu belum diantisipasi oleh Veskal sama sekali. Tetapi setelah beberapa saat, dia pun menangkap isi kalimat itu
"Teman yang berarti hm? Aku tidak yakin kata itu tepat"
Dari awal Veskal juga sudah berpikir...
Seorang teman yang baik tidak mungkin mengkhianati temannya. Bahkan jika hal itu bisa digunakan untuk menyelamatkan temannya itu
Bahkan berpikiran untuk berkhianat saja terasa bersalah
Tetapi...
Dia punya pemikiran itu...
Jika ada suatu hari dia harus bekerjasama dengan Rosalia lagi, selama itu bisa digunakan untuk menyelamatkan kami berdua teman terdekatnya, dia akan rela
Itu sebabnya dia tidak pernah menyombongkan diri sebagai teman kami...
Lalu, untuk alasan kenapa dia rela untuk melakukan apapun demi kami...
"Aku tidak yakin kata apa yang bisa kugunakan untuk menggambarkan perasaanku kepada mereka"
'Cinta' dan 'sayang' bahkan terasa salah. Terasa... Kurang
'Cinta', mungkin adalah kata paling dekat untuk menggambarkannya. Jadi, dia akan menggunakan itu untuk sekarang ini
...
Matanya masih terpaku kearah kami berdua, tidak memedulikan Natasha yang menoleh kearahnya
Tatapannya yang dipenuhi perasaan itu pun membangkitkan kembali semua memori yang dia simpan di dalam hati. Sebuah memori yang bisa mengisi penuh seluruh badannya, karena setiap detik yang dia tempuh adalah hal paling berharga mulai dari hari itu
Ya. Hari dimana dia kutangkap basah sedang menyelinap mengawasi kami di kastil Thyme dulu...
Hari dimana dia bertengkar dengan Verdea hanya karena sebuah pedang kayu...
Hari dimana dia bisa menangis dengan keras setelah menahannya bertahun-tahun, lalu disambut oleh pelukan hangat dariku dan Verdea...
Hari dimana dia bisa menjadi dirinya sendiri, tanpa dimanfaatkan atau dibentuk oleh orang selain dirinya...
"Tertawa bersama mereka sungguh memberiku sebuah makna baru di dalam kehidupan. Meninggalkan masa lalu kelam seperti yang kita berdua alami dulu, mereka menjulurkan tangan mereka dan menarik diriku ke dalam cahaya di hari itu..."
Hari... Dimana dia belajar untuk mencintai. Mencintai orang selain dirinya, juga...
Mencintai, dirinya sendiri...
...
Natasha sadar, dengan apa yang dimaksudkan Veskal
"... Kamu sangat menghargai keberadaan mereka semua, hah...?" Kalimat itu pun keluar bersama dengan helaan napas darinya
"Begitulah. Mereka mengajariku cara untuk mencintai kembali. Sesuatu yang kupikir sudah kubuang semenjak menjadi bayangan pembunuh"
"Rosalia Hortensia itu sungguh kejam. Tidak berbeda dari keluargamu dan pamanku..."
"Tapi aku bersyukur kepada Rosalia. Karena jika bukan karena dia, aku tidak akan bisa berjumpa dengan dua orang tidak beres itu..."
Veskal pun menunjukkan sebuah senyum kepada Natasha, sebelum mengatakan satu hal lagi
"Mungkin kamu juga harus bersyukur pamanmu seperti itu. Jika tidak, kamu mungkin tidak akan bertemu dengan teman-teman yang sangat kamu sayangi itu"
__ADS_1
...
Natasha terdiam menatap Veskal. Terdiam tanpa jawaban
Walaupun ada salahnya Veskal berkata kalau dia harus bersyukur, Natasha tidak bisa menolak kalau keberadaan pamannya yang keji itulah yang membuat dirinya mampu bertemu dengan teman-temannya
Teman-teman yang selalu dia hargai dan letakkan di dalam hatinya
Karena itu, Natasha pun tertawa kecil
"Entah bagaimana kamu bisa menemukan nilai baik dari orang-orang busuk seperti mereka" Dia juga berkata
"Bahkan seekor ular saja punya guna bukan?" Veskal membalas
"Ada benarnya"
...
"Kamu tahu?"
"Apa, Veskal?"
"Mereka pernah bilang kepadaku kalau aku harus beristirahat. Setidaknya satu kali, di tengah semua masalah yang sudah dan sedang menimpa kami"
"Beristirahat...?"
Veskal mengangguk mengkonfirmasi, sebelum mengeluarkan sebuah helaan napas kecil
"Tapi lihat mereka..."
Gambaran kami dua terukir dengan jelas di mata kedua orang itu. Gambaran disaat kami tertawa dengan keras dengan satu sama lain, selagi mereka yang sedang memantau itu terlihat kalut
"... Mereka bahkan tidak pernah beristirahat..."
Jarang sekali dia bisa mengeluh seperti itu. Belum lagi, helaan napasnya itu sangatlah panjang, dikarenakan sudah lelah melihat tragedi yang selalu terulang
Masalah tiba, kami menyelesaikannya. Salah satu dari kami terpisah, kami harus menyelamatkannya. Dan ujungnya, seluruh dunia berada dalam bahaya, lalu kami yang harus menanggungnya
Hanya kami yang tahu, tentu. Tapi sungguh, bagi Veskal itu sangatlah tidak adil
...
Apa yang dilakukan dunia busuk ini untuk kami juga...?
Itulah yang dipikirkan Veskal selagi dia menunduk ke bawah memikirkan semua hal
Kesunyian datang, ditambah dengan Natasha yang tidak tahu harus bicara apa dan hanya menatap kosong kearah kerumunan kami
Dan disana dia tersentak ketika melihat kami memanggil keduanya untuk mendekat. Dia pun membuat Veskal sadar, tetapi seakan tidak merespon, Veskal tetap menunduk
Veskal sudah sadar, tetapi dia masih merasa kesal dengan apa yang terjadi
Hanya saja, kami sudah memanggil mereka cukup lama, hingga keduanya tidak punya pilihan selain mendekat agar suasana tidak menjadi canggung
Keduanya terus mendekat, berpikir untuk mengakhiri malam. Hingga...
Veskal memberikan Natasha satu pertanyaan
"Menurutmu, apa yang akan kamu lakukan untuk menyelamatkan teman-temanmu, Natasha?"
...
Sebuah pertanyaan yang sangat personal. Sebuah kalimat yang memicu apa yang dipendam oleh Natasha
Tapi baginya, dan bagi Veskal juga, jawabannya hanya satu...
"Aku akan melakukan apapun itu"
Walaupun pemikiran mereka berbeda...
"... Tapi bukan berarti aku harus mengkhianati teman-temanku"
Hanya itu jawaban yang Natasha bisa berikan
"... Aku tidak bisa bilang kamu salah. Tapi bersekutu dengan iblis itu lebih baik ketika disaat kamu putus asa"
"... Aku tidak bisa menolak hal itu"
Keberuntungan bodoh tidak akan menolong mereka begitu saja. Satu-satunya keberuntungan yang akan mereka dapatkan adalah bertemu dan tetap berada di sisi orang-orang yang mereka cintai
Tuhan sama sekali tidak akan menolong mereka. Terlalu banyak bukti yang bisa mereka serahkan untuk memperkuat klaim itu
__ADS_1
Jadi jika waktunya sudah membuat kami tercekik...
"Aku harus melakukan sesuatu diluar kehendak teman-temanku..."