
--- Beberapa saat kemudian ---
"Area ini?"
Zaphir hanya memberi arahan kalau area tengah tempat kekuasaan Elf bulan akan menjadi tempat latihan mereka. Dan hanya tempat ini saja yang memenuhi gambaran 'luas' itu
Lapangan terbuka. Setiap tanaman yang seharusnya menutupi area itu berada disana seakan sengaja menyingkir dan memberi ruang
"Jika aku tidak salah, Luna pernah bercerita kalau tempat ini tercipta karena latih tarung pertama antara dirinya dan Vainzel" Veskal pun berkata
"Bahkan disaat mereka kecil, kedua orang itu sangat barbar hah...?" Verdea berkomentar
Remina dan Edwin juga langsung tertawa sambil bergidik ketika membayangkan kerusakan macam apa yang bisa ditimbulkan olehku dan Luna yang sekarang
"Tapi tempat ini cocok juga. Yang terpenting adalah, tidak ada penghalang untuk kita berdua berdansa" Edwin menjelaskan. "Sekarang, apakah kamu punya pedang?" dia kemudian bertanya
Remina tentu menjawab dengan jawaban, "Tidak"
Tapi...
Sebelum Edwin sempat bersikap pasrah, Remina pun merapal sebuah mantra sihir air
"Oh, roh air yang agung. Berikanlah naungan tirta dan berkahmu di dalam perjalanan agung ini. Sucikanlah tempat ini dari kekotoran yang melahap dunia
Imaginary Copy"
Sihir itu pun mulai membentuk air yang dibawa oleh Remina dalam sebuah botol minum tepat diatas tangannya yang sedang menengadah. Bentukan air itu dibentuk langsung oleh pikiran Remina, berdasarkan apa yang dia ingat dari wujud yang dia inginkan itu
Dan ketika dia selesai, Imaginary Copy pun membentuk sebuah pedang putih yang terlihat sangat cantik. Sangat cantik, sehingga pantulan dari cahaya keunguan milik kristal pohon itu terlihat menawan diatasnya
Ada sebuah batu permata biru di tengah pembatasnya. Dan gagang yang diukir dengan sangat indah itu, langsung membuat Veskal bersiul kagum selagi memukau Verdea
Dan ketika Remina mengeluarkan pedang itu dari sarungnya, terlihatlah sebuah pedang tipis yang ukurannya sesuai sekali untuk diangkat oleh Remina sendiri
Tidak terlalu berat, namun masih bisa dirasakan bobotnya ketika Remina mengayunkannya. Yang tersisa hanyalah mengetes apakah pedang ini cukup untuk membelah sesuatu
"Aku tidak tahu kamu bisa membuat pedang seperti itu? Dimana kamu melihatnya?" Verdea bertanya
"Ketika tuan Ivor dan nyonya Lyralia mengajakku untuk berbelanja membeli kebutuhan kastil. Sebuah pedang di toko senjata menarik perhatianku karena dia diletakkan sebagai pajangan toko" Remina menjelaskan. "Sayangnya aku hanya bisa mengangkatnya sejenak. Lagipula, membeli pedang disaat itu hanya akan berakhir sia-sia untukku" dia menambahkan
"Kenapa? Kamu bisa melatih pedang di kastil Thyme bukan?" Verdea bertanya balik
"Seandainya tidak ada seseorang yang bisa saja meledek ketika melihatku latihan dengan sikap payah nanti"
Balasan Remina itu langsung membuat Verdea tersinggung, sehingga tarikan napasnya itu panjang sekali
"Menyerahlah. Aku tahu betul kamu akan meledekku jika pedang itu kucoba ayunkan disana"
Yah, Verdea tidak bisa menolak hal itu. Walaupun dia bisa saja memperbolehkan Remina latihan pedang disana, dia tidak bisa menjamin kalau dirinya tidak akan meledek Remina
Itu sudah jadi kebiasaan mereka entah kenapa
__ADS_1
"Ya sudahlah. Lupakan"
Verdea langsung cemberut selagi memalingkan wajahnya. Dia pun hanya berniat untuk mencari tempat menonton yang nyaman saja, bersama dengan Veskal yang kebingungan melihat tingkah temannya itu
"Hmm..."
Tanpa disadari Remina yang tentu langsung terkejut, Edwin berdiri tepat di sampingnya entah bagaimana—menelaah pedang yang dimiliki oleh Remina itu
"Pilihan pedangmu bagus juga ya. Walaupun aku yakin harganya pasti sangat mahal di toko senjata itu" Edwin berkomentar
"50 keping emas, penjaga tokonya bilang waktu itu" Remina memberi harganya langsung
"Ah-! Itu sama harganya dengan 10 bulan gajiku...!"
Dia kemudian menepuk gagang pedang miliknya
"Yang satu ini aku dapat dari seorang musuh di dalam pertempuran pertamaku. Bisa dibilang, dia sudah jadi rekanku selama puluhan tahun sekarang" dia berkata
"Kamu bahkan tidak pernah menggantinya?"
"Jika kamu mengasah pedangmu dengan benar, benda itu akan bertahan sepanjang hidupmu
Pelajarilah dariku yang awalnya menjadi seorang penebang kayu. Merawat pedang itu tidak jauh berbeda dari merawat kapak"
Dia berkata begitu, tapi Remina sendiri ragu itu benar
"Lalu, apa yang harus kulakukan sekarang?" Remina pun bertanya
Pose miliknya terlihat sangat kuat. Kaki melebar dan bahu yang mengembang, serta kedua tangannya yang terletak diatas ujung tumpul pedangnya. Hal itu dia lakukan seperti dia sudah terbiasa, hingga matanya tetap menyorot kearah Remina yang masih memperhatikannya dengan seksama
"Serang aku terlebih dahulu menggunakan pedang itu" satu perintah itu pun dia kumandangkan...
...
"Tanpa persiapan?" Remina bertanya
"Terserah jika kamu mau menggunakan sihir. Aku hanya ingin melihat kemampuan dasarmu terlebih dahulu"
Balasan itu sudah cukup untuk memberi konfirmasi. Remina pun langsung memasang posisi bertarungnya—senjata di sisi kanan tubuh, dan tangan kiri yang sudah siap merapal sihirnya
Sedikit gugup, dia menghitung mundur waktu selama 10 detik. Dan ketika hitungan itu selesai
*BATS!*
--- Dia melesat maju untuk segera menyerang Edwin
Tetapi gurunya itu sama sekali tidak terlihat terganggu dengan gerakan cepat milik Remina. Merasa diremehkan, Remina pun menarik mundur pedangnya dan bersiap untuk menyerang
Pedangnya pun dia lancarkan dengan gerakan menghunus. Tetapi...
Edwin langsung bergerak, menangkis pedang itu tanpa menggunakan miliknya sama sekali. Dia sepenuhnya hanya menggunakan kakinya sendiri dengan gerakan memutar, dan pedang milik Remina langsung terpukul mundur
__ADS_1
Remina tentu panik, mencoba menyerang dengan salah satu keahlian utamanya—sihir. Dia langsung melempar 3 bola air sekaligus kearah Edwin, tetapi sekali lagi ditepis dengan sangat mudah, hanya menggunakan tangan kirinya kali ini
Remina menyerang balik dan kali ini berhasil melakukan gerakan ayunan kearah Edwin yang belum sepenuhnya selesai menyiapkan diri. Hal itu bahkan mampu membuat Edwin menarik pedangnya dari tanah, namun...
*Clang!*
...
...
...
Pedang Remina terbang hanya dalam satu kali ayunan balik darinya...
...
"Fyuh~ Kamu menyulitkan juga rupanya" Edwin berkomentar, menyarungkan kembali pedangnya dalam waktu yang sama
Remina, di sisi lain...
Merasa sedikit tidak puas dengan hasil pertarungan singkat itu. Sangat singkat hingga dia paham perbedaan level kemampuan diantara dirinya dan Edwin
Bahkan jika dia menggunakan sihir kuat sekalipun tadi, dia masih ragu bisa mengalahkan Edwin dalam kekuatan penuh
"Edwin itu kuat sekali ya...?" Verdea berkomentar
"Yang aku tahu dari bekerja dengannya dulu, adalah orang itu berbahaya untuk ditantang" Veskal menanggapi pemikiran Verdea
Memori tidak menyenangkan mengenai dirinya yang kalah secara tidak terhormat melawan Edwin dulu pun terngiang kembali di kepalanya
Dan memori mengenai setiap murid yang dibawa oleh Edwin ke bawah sayapnya
...
Helaan napas pun terdengar. Seakan dia benar-benar pasrah dengan kondisi yang ada sekarang
"Aku hanya bisa berharap Remina bisa mengikuti kecepatan latihan Edwin"
Verdea pun mendengus karena tidak mendapatkan jawaban lengkap dari Veskal
"Pangeran ini tidak senang ketika temannya hanya memberitahukan sesuatu setengah-setengah..." dia berceletuk
Veskal hanya tertawa kecil menanggapi hal itu selagi keduanya kembali mengawasi latihan yang akan tetap berlanjut lagi
Remina sudah mendapatkan pedangnya kembali. Dan dengan percaya diri, dia todongkan benda itu kearah Edwin sembari berkata, "Sekali lagi, guru!"
Edwin tentu tidak bisa mengabaikan tekad itu. Dengan seringai yang lebar, dia mulai bersiap memasang kuda-kudanya. Tetapi kali ini, dia terlihat jauh lebih serius dibanding sebelumnya
"Pastikan kamu bisa mempelajari pola seranganku terlebih dahulu, oke?" Edwin pun berkata
Remina mengangguk tanda paham. Dan tanpa aba-aba dari satu orang pun yang hadir disana, keduanya beradu pedang dengan sangat sengit selagi kedua orang yang menonton mulai bersorak menyemangati Remina
__ADS_1