Book Of Flowers

Book Of Flowers
Kesempatan (2)


__ADS_3

"Verdea! Kamu dimana? Ini sudah larut bodoh, jadi kembalilah!!"


Remina terus meneriakkan hal itu berkali-kali ke seluruh arah. Tapi dia tidak mendengar sedikitpun respon dari seseorang


Dia yakin sudah mengikuti Verdea sampai ke situ. Suara langkah kakinya juga menghilang di area itu


Remina kemudian berusaha mengingat cara mengetahui posisi orang yang tidak terlihat. Arah angin. Napas. Suara langkah


...


...


"Ketahuan!" Remina berseru sembari menyiram sebuah semak


Verdea langsung tersentak terkena sihir air yang dingin. Dia kemudian menunjukkan kepalanya dari semak itu dengan wajah kesal pada Remina


"Baiklah, baiklah. Dasar tidak punya kerjaan"


Verdea pun terpaksa keluar sambil membersihkan bajunya dari daun semak itu. Kepalanya yang basah itu membuat Remina tertawa kecil karena gugup


"Kamu ini. Kenapa coba lari sejauh itu? Memang tidak berbahaya selama tidak di gunung, tapi kalau tersesat semalaman bagaimana?"


"... Cuma tersesat. Apa yang ditakutkan coba...?"


Remina kemudian menghela napas panjang meresponnya. Perlahan, dia mengambil tangan Verdea dan mulai membujuknya kembali


"Ayo. Ini sudah larut, jadi sebaiknya kita kembali. Ayahku juga pasti sudah khawatir..."


"... Aku ingin diam disini sebentar"


Verdea langsung merampas kembali tangannya, menjongkok, kemudian cemberut sambil mulai membuat lingkaran menggunakan jarinya di tanah


Remina langsung melihat kearahnya seakan Verdea itu orang bodoh yang mudah tersinggung


...


"... Kalau begitu, aku akan diam disini juga" Remina berkata, kemudian melihat kosong kearah tanah


"Hah? Apaan coba, sok dekat" Verdea langsung merespon


"Aku tidak mungkin membiarkanmu disini sendirian. Oberon pasti marah kalau kamu tersesat semalaman nanti"


"... Lalu bagaimana kalau aku mau diam disini semalaman?"


"Kamu paling tertidur sebentar lagi, sama seperti waktu biasa"


Verdea langsung mendecak kesal menahan diri untuk berargumen lebih jauh


"Para Fae paling akan ada disini sebentar lagi. Aku bisa mendengar gemerincing sayap mereka"


"Terserah. Mereka tidak akan bisa memaksaku"


Remina kembali menghela napas keluh


"... Kenapa coba tiba-tiba kamu bertingkah seperti anak kecil karena masalahmu dengan Oberon barusan?"


"... Kamu tidak akan paham. Dia itu orang bodoh, dan kamu itu lebih bodoh"


"Mau kubuat kamu mandi air dingin hm?"


Dia langsung merinding mendengar respon terakhir Remina


"... Tentu saja aku tidak paham. Aku tidak tahu kalian itu seperti apa biasanya. Alhasil, aku juga tidak tahu apa masalah kalian yang kalian hadapi. Jadi tentu orang yang terkait yang harus bercerita bukan?"


"... Aku cuma ingin menolongnya, tapi aku rasa tidak akan bisa"


Remina langsung berpikir, 'Oh! Dia sungguh mulai bercerita'


Dia langsung memasang telinganya selebar mungkin agar bisa menanggapi Verdea dengan benar


"Dia itu terlalu membebani dirinya sendiri. Tapi dia tidak mau mencoba mengambil jalan selain itu. Sudah kuduga, membantu seseorang itu mustahil jika orang itu sendiri tidak mau membantu dirinya"


"Hm... Begitu. Apa Oberon juga begitu saat kalian berada di Hortensia?"


"... Dia selalu begitu. Entah dimanapun itu, aku yakin dia begitu"


Mendengar Verdea, Remina teringat sesuatu hal. Sewaktu ketika dia temukan olehku, dia juga bisa merasakan hal itu. Kata-kataku kepada kedua orang manusia itu, dan sikapku juga. Dilihat dari itu, dia langsung paham apa yang dikatakan oleh Verdea


Dia mengangguk paham dan berkata, "Kamu memang tidak salah. Dia dulu bilang, 'jika kamu ingin menyalahkan seseorang akan insiden itu, timpakanlah padaku'. Dia itu sangat membebani dirinya..."

__ADS_1


"Sudah kubilang bukan? Itu sebabnya aku ingin menolongnya. Setidaknya, jika ada hal yang bisa kulakukan untuknya...


... Itu saja yang ingin kulakukan"


Verdea menggenggam erat kepalan tangannya. Dia langsung terlihat kalut


Remina sendiri hanya diam. Dia memberi ruang untuk Verdea berpikir. Tidak sedikitpun suara dia keluarkan untuk mengganggu anak yang masih gusar itu


"Kalau begitu hajar saja dia"


"... Hah?"


Verdea langsung menoleh kaget kearah Remina. Dia mencoba memproses perkataannya barusan di kepala


"Hajar saja dia. Jika kamu bertarung dengannya, aku yakin dia mau mendengarkan"


"... Kamu ini cukup radikal untuk seorang Elf air"


"Begitukah? Kamu pikir nyonya Lyralia itu seperti apa sebenarnya?"


Verdea diam seribu bahasa


"Nyonya Lyralia yang justru mengajarkan hal ini padaku. Setiap kali dia ingin temannya melakukan perintah absolut, dia akan membuat mereka bertarung dengannya tanpa sihir"


"Memangnya dia pernah menang?"


"Dia tidak pernah menang melawan Nyonya Luna dan Oberon saja. Sisanya dia kalahkan entah bagaimana"


Verdea mempelajari satu hal baru dari pembicaraan itu, bahwa Lyralia adalah orang yang kasar walaupun penampilannya sangat anggun


"Tapi, walaupun aku melawannya tanpa sihir sekalipun, aku tidak mungkin menang melawan Vainzel" Verdea berkata demikian


Aku ini monster dalam pertarungan jarak dekat, tidak membahas ketika menggunakan sihir. Mengingat hal itu saja sudah membuat Verdea goyah


Lalu, saat latihan saja, walaupun bersama Remina yang sudah bisa kompak dengannya, mereka berdua tetap tidak bisa menyaingi kemampuanku


Tapi, Remina tiba-tiba menyentil keningnya. Verdea langsung kembali fokus kearahnya


"Kamu tidak perlu menang. Satu tamparan di wajahnya saja sudah cukup. Tunjukkan saja kalau kamu bisa membuatnya yakin, dan hanya itu"


...


...


*Sbyur!!*


Verdea pun akhirnya mandi air dingin. Walaupun Remina sengaja hanya menyiram bagian atas tubuhnya saja, dinginnya udara langsung membuat Verdea menggigil


"Anggap itu bayaran untuk saranku! Ini terakhir kalinya aku akan membantumu, hmph!" Remina menggerutu sembari membuang wajahnya


Verdea melihat kearah Remina yang berdiri di sampingnya itu. Wajah cemberutnya itu mulai menarik keluar suara tawa dari Verdea


"Apa yang lucu coba?"


"Kamu"


"Hah!? Apa maksudnya coba?!"


"Pikirkan sendiri. Kita harus kembali bukan?"


Verdea kemudian perlahan bangun, membersihkan celananya dari debu. Perlahan, tangannya terulur kearah Remina


"Ayo?"


Remina terdiam sejenak melihat tangannya yang terulur itu. Tetapi perlahan...


Dia pun menerima tangan Verdea yang tidak jauh lebih besar dari miliknya


Menemui para Fae, keduanya pulang dibimbing oleh mereka


Remina terus menatap kearah Verdea yang berjalan di sampingnya. Tidak sedikitpun matanya beralih dari wajah penuh tekad anak laki-laki itu


"... Verdea"


"Ya?"


"... Aku baru sadar kalau kamu dan Oberon itu bertubuh kecil"


"Bilang ke dirimu sendiri"

__ADS_1


Respon Verdea itu ditambah olehnya dengan senyuman yang mengarah pada Remina


"Tidak apa. Kami pasti bisa melalui ini. Pasti" Verdea berkata lagi


...


'Benarkah begitu?', Itu yang ingin dia lontarkan. Tapi Remina menahan niat mengatakannya di detik kata itu nyaris keluar


'Apa yang membuat mereka seyakin itu?', tiba-tiba muncul di kepalanya


Dengan tubuh sekecil itu, apa yang bisa kami lakukan?


...


Rasa bimbang menyergapnya. Dia tidak tahu mau bagaimana lagi. Dan di ujungnya...


Remina merasakan sebuah simpati yang besar. Sebuah simpati yang perlahan membentuk sebuah niat kuat


Itu pertama kalinya dia merasakan sebuah niat besar untuk menolong seorang manusia. Menolong seseorang dari ras yang paling dia benci


Remina kemudian tersenyum merasakan isi hatinya itu


'Inikah sebabnya kenapa kamu ingin menolong anak ini, Oberon?', dia bergumam dalam hati


'Aku tidak menyalahkanmu. Dia itu... Memang terasa spesial'


...


"Jadi, sudah puas kaburnya?" Aku bertanya


Verdea hanya duduk menatap mataku diatas akar pohon. Dia terlihat cemberut, tapi entah kenapa aku merasa perasaan hatinya itu berbeda dengan wajahnya


Yah, aku tidak mempertanyakan kenapa dia basah. Habisnya, aku yakin kalau dia mengatakan sesuatu yang membuat Remina kesal...


...


Hah sudahlah. Dia tidak mau menjawab, jadi aku rasa dia masih marah


"Segera keringkan rambutmu dan tidur"


"... Vain"


"Ya?"


"Aku ingin latih tarung denganmu lagi besok"


...


Ya sudahlah. Aku tidak keberatan. Kami juga tidak punya apapun untuk dilakukan selama 1 minggu sebelum keberangkatan


Aku pun hanya mengangguk meresponnya


"Kalau begitu aku pulang dulu. Ingat untuk segera tidur"


Aku kemudian berbisik kepada para Fae untuk memastikan agar Remina pulang dengan aman


Dengan begitu, aku pun pulang ke rumahku tanpa rasa khawatir lagi


...


"Aku akan datang juga untuk melihat latihan besok. Kesempatanmu besok, ingat!" Remina berkata pada Verdea


"Ya, ya..."


...


"Tapi aku bingung, apa yang bisa membuatnya yakin untuk melakukan apa yang kuinginkan...?"


"..."


Remina tidak bisa menjawab. Para Fae juga sudah mulai membujuknya untuk kembali ke rumah bersama mereka


Karena itu, dia pun hanya memegang bahu Verdea sejenak, mengangguk pelan, kemudian berjalan pulang tanpa menunggu responnya


"... Kesempatan..."


Verdea menunduk lemas


Itu akan menjadi satu-satunya kesempatannya. Jika dia gagal dalam kesempatan itu, dia tidak akan punya kesempatan selanjutnya ketika berada di Hortensia

__ADS_1


Giginya mulai mengerat karena rasa gelisah. Dia tahu betul, kalau dia gagal, aku tidak akan bisa berubah. Dan dia tahu konsekuensi dari hal itu


"Aku harus membuatnya berubah. Harus!"


__ADS_2