
...
...
Mereka harus duduk di taman sekarang akibat Verdea yang sudah menghancurkan meja tadi
Dia terduduk lemas di atas kursinya itu, selagi meneguk tehnya perlahan karena gusar telah membuat kekacauan yang tidak diperlukan
"Kita bisa mulai lagi pembicaraan disini, tenang saja" Rosalia berkata
"Tapi tetap saja aku merasa tidak enak. Para pembantu itu bahkan menjerit panik ketika melihat meja itu hancur bukan...?" Verdea membalas dengan nada lemas
"Mereka sudah terbiasa merapikan kembali kekacauan yang kubuat, tapi mereka malah terkejut sekarang..."
Rosalia tertawa kecil menggelengkan kepalanya
"Dan setidaknya kita tidak menganggu anggota keluarga yang lain. Yah, mereka memang berada di ujung sisi kastil yang berlawanan dari tempat kita sekarang ini"
"... Kamu bicara seakan tidak ingin mereka ikut campur, kakak"
"Karena mereka memang tidak penting dan hanya akan mengalihkan pembicaraan. Lebih nyaman bicara empat mata saja kan?
Enam jika kamu ingin menghitung Veskal di belakangmu juga"
Verdea terdiam mendengar perkataan itu, kemudian menghela napas selagi membuat sebuah pertanyaan dari apa yang dibahas Rosalia disaat mereka masih di dalam
"Sekali lagi aku akan bertanya : bagaimana bisa?
Bagaimana bisa kamu berkata kalau ini untuk umat manusia? Apakah Blood Sabbath juga termasuk?" Dia pun melontarkan pertanyaan itu
"Ya. Aku sebenarnya berniat untuk menyimpan rencana Blood Sabbath dan berharap tidak perlu menggunakannya. Tetapi... Ketika Vainzel datang bersamamu dan aku mengetahui identitasnya, aku pun tahu kalau aku harus menyingkirkannya terlebih dahulu" Rosalia terus terang
"Jadi, kamu menggunakannya untuk mengontrol sesuatu yang tidak bisa dikontrol...?" Verdea bergumam
"Benar dan salah. Lebih tepatnya, aku ingin melepasnya karena tidak bisa kukontrol, tetapi dalam waktu yang sama juga tidak boleh kulepaskan. Jadi aku memastikan kalau seluruh dunia lah yang akan mengontrol kalian"
Perkataan Rosalia itu memicu wajah kesal milik Verdea
"Kamu bicara seakan itu sudah jadi keseharian. Puluhan ribu nyawa menghilang untuk membuatnya, dan entah berapa ratus ribu setelah hujan darah itu turun" Verdea berkata kemudian
"Aku tidak akan membuat alasan untuk itu. Tapi aku juga memang selektif dalam memilih 'korban'. Biasanya mereka penjahat dan pembunuh
Kamu tahu? Bahkan Walter sebenarnya akan kubuat menjadi 'korban' untuk menjalankan Blood Sabbath. Tetapi apa yang dia paparkan untuk membantuku membuatku sangat terkesan"
"... Sayangnya, kamu yang sebagian besar bertanggungjawab atas kematiannya setelah itu" Verdea bergumam, meneguk teh di cangkirnya
Rosalia hanya tersenyum kecil selagi memejamkan mata menanggapi kalimat terakhir Verdea
"Aku tidak benci dia. Hanya saja, aku tidak memerlukan sesuatu yang tidak bisa diriku gerakkan dengan leluasa. Kasusnya sama seperti Darwin ketika dia sudah mendapatkan Claudia lagi, yang sebenarnya merupakan seluruh tujuannya bergabung denganku"
Dan karena dia sudah mendapatkan Claudia, dia tidak memiliki niat untuk tunduk dibawah Rosalia. Tetapi semuanya sudah terlalu terlambat untuknya hingga berakhir seperti itu
"... Tapi aku harus berterima kasih karena kamu sudah membentuk Darwin seperti itu" Verdea berkata, setengah tersenyum
"Kenapa?" Rosalia spontan bertanya
"Tidak apa. Kamu tidak akan paham, sama sepertiku terhadap tujuanmu itu" Verdea menjawab santai
"Wow. Balasan yang luar biasa" Veskal berkomentar, membuat Verdea dan dirinya tertawa kecil. "Tapi sungguh tuan putri, dia bahkan tidak memberitahu kami alasannya. Dia bahkan menangis waktu itu disaat kepergian Darwin" Veskal menambah
Verdea pun menepis perutnya, hingga Veskal pura-pura kesakitan untuk membuat temannya itu senang
"Yah, kamu tidak perlu membongkarnya. Aku juga merasakan kalau jawabannya akan sangat rumit" Rosalia berkomentar sebelum meneguk tehnya
__ADS_1
"Memang rumit. Bahkan Vainzel saja belum kuberitahu"
Rosalia terlihat sedikit terkejut dengan kalimat itu
"Mengejutkan. Aku pikir kalian sama sekali tidak menyembunyikan sesuatu diantara satu sama lain" Dia berkomentar kemudian
"Justru kebalikannya. Banyak hal yang kami sembunyikan dari satu sama lain agar tidak membebani semua orang. Baik itu aku, Vainzel, maupun Veskal disini" Verdea membalas sembari melirik kearah Veskal
Veskal melambaikan tangannya ke Rosalia mengikuti akhir kalimat Verdea, membuat Verdea sekali lagi menepis perut temannya itu
...
Suasana pun berubah hening ketika mereka melihat kearah Rosalia yang diam seakan sedang menelaah mereka itu. Tapi tidak dalam waktu yang lama
"... Tapi kalian tetap bisa mempercayai dan bersandar kepada satu sama lain"
Helaan napas perlahan keluar dari mulutnya, selagi mereka berdua menatap satu sama lain, bingung dengan arti perkataan Rosalia
"... Dan masih mengenai topik itu Verdea, aku akan memberitahu dirimu satu hal"
Verdea menoleh kearahnya, menunggu sebuah kalimat selanjutnya yang akan keluar dari mulut Rosalia selagi dia terlihat tertegun sejenak
"... Aku tidak percaya kepada siapapun itu, terkecuali 2 orang. Marianne, dan Yael
Aku selalu jujur mengatakan semua hal dalam pembicaraan empat mata, walaupun ada beberapa saat aku harus berbohong dan menyembunyikan sesuatu...
Dan aku benci manusia secara keseluruhan. Apapun yang mereka lakukan, apapun yang mereka katakan, kamu tidak bisa percaya dengan mereka sedikitpun
Aku harap itu cukup memuaskan dirimu untuk mendapatkan sedikit ide kenapa aku melakukan semua hal ini"
...
...
...
Rosalia diam tidak menjawab Verdea, sibuk memperhatikan pantulan dirinya di dalam cangkir teh itu
Karena itu Verdea pun harus memutar otaknya. Dia ingin agar pembicaraan ini bisa berlanjut, agar dia bisa memahami lebih banyak hal lagi
Dia ingin mencoba paham. Tetapi orang yang duduk di hadapannya itu tetaplah musuhnya, walaupun ia bersedia memberikan informasi kepada dirinya
"Kamu benci manusia, tetapi ingin melakukan semua hal ini untuk manusia...?"
Rosalia masih diam tidak menjawab
Helaan napas perlahan terdengar, selagi dia memanggil seorang pelayan untuk datang mendekat. Pelayan yang sejak tadi berdiri di dekat tembok kastil itu pun perlahan berlari kearah mereka menuruti permintaan Rosalia
"Tolong bereskan semua ini. Aku sudah merasa lelah, jadi tolong bawakan setengah dokumen urusan negara ke ruanganku nanti"
"Dimengerti, tuan putri"
Verdea tersentak, menyadari apa yang Rosalia minta barusan. Dia ingin agar pembicaraan itu berakhir saja untuk saat ini, tanpa memberitahukannya dengan jelas kepada dirinya, maupun Veskal
"Kakak? Kenapa tiba-tiba?" Verdea bertanya, berniat untuk protes
"Aku hanya lelah adikku. Dan juga, aku sudah bilang kalau urusanku itu masih banyak karena Damien yang tidak kompeten menjadi raja bukan?" Rosalia membalas
Verdea tidak bisa membalas ucapan itu dengan alasan apapun, hingga dia pun pada akhirnya hanya tutup mulut
Dia tahu ini akan terjadi. Dia tahu Rosalia tidak akan membuang waktu demi meladeni orang yang tidak akan memahami dirinya. Dan itulah kenapa dia sekarang tidak akan memberitahu apapun lagi
"Kamu bisa bertemu denganku ketika kamu sudah paham dengan tujuanku itu. Dan sampai saat itu, jangan membuang nafasmu hanya untuk mencoba meyakinkan diriku membongkar banyak hal"
__ADS_1
Itu artinya dia tidak berniat bertemu lagi dengan Verdea hingga waktu dimana adiknya itu paham telah tiba
Verdea mengepalkan tangannya kesal. Kesal kepada dirinya sendiri karena tidak mampu mendapatkan lebih banyak, hingga kepalanya tertunduk
Tetapi, Rosalia masih tidak berhenti disitu saja
"Dan aku akan mendorongmu untuk memahami hal ini dengan caraku sendiri. Aku dan Damien sudah memastikan sebuah kursi pejabat kosong hanya untukmu. Kamu akan mengurus semua urusan pejabat itu, dan aku akan memperlihatkan kepadamu bagaimana manusia itu melalui mataku"
Verdea tersentak mendengar hal itu, mengangkat kepalanya yang penuh dengan kejutan
"Eh-? Tapi... Kenapa tiba-tiba?"
"Gugup dengan posisi barumu, adikku?"
"Tidak. Tidak juga..."
Rosalia tersenyum kecil karena merasa senang. Dia pun berhasil yakin kalau Verdea akan menerima posisi itu tanpa kompromi
"Kalau begitu selamat. Mulai besok, kamu sudah resmi menjadi duta besar Hortensia untuk menggantikan diriku. Aku harap kamu bisa bertugas dengan baik, tuan duta besar"
...
Verdea masih tidak yakin dengan hal itu. Bukan karena dia harus menjalankan sebuah tugas yang mungkin akan berat, tetapi karena dia tidak paham kenapa hal itu tiba-tiba diberikan kepadanya
Dia tidak paham kenapa Rosalia melakukannya...
Rosalia pun perlahan mendekatkan bibirnya ke telinga Verdea yang sama sekali tidak mengantisipasi hal itu. Dan setelah dia sudah cukup dekat, suara bisikan yang terdengar jelas di telinga Verdea itu pun keluar
"Aku juga ingin kamu perlahan naik ke takhta mulai dari titik ini, karena disana sajalah kamu bisa memahami gambaran manusia secara keseluruhan. Dan ketika kamu sampai disana adikku....
Aku ingin kamu membuktikan kalau perbuatanku itu salah. Dan selagi kamu melakukannya, aku tidak akan berhenti, walaupun seluruh dunia mengancam nyawaku..."
Senyum kecil pun terukir di bibirnya setelah dia mundur dari posisi berbisik. Rosalia pun segera beranjak tanpa memakan waktu lebih lama lagi, kembali ke kamarnya
Verdea yang dia tinggal itu pun tertegun, selagi Veskal terlihat khawatir dengan semua hal yang baru saja dia dengar dan hadapi
...
...
"Kamu tidak apa, Verdea?" Veskal bertanya pelan
"... Tidak apa. Aku hanya... Mendapatkan satu gambaran mengenai kakakku"
Veskal semakin terlihat khawatir. Dia ingin bertanya, tetapi dia pun undur diri karena tidak ingin membebani Verdea lebih dari itu
"... Ayo Veskal"
"He-? Ke- Kemana?"
"Mencari Luna dan Ivor. Aku ingin memberitahu mereka beberapa hal, karena aku tidak yakin bisa menghadap Vainzel untuk sementara"
"... Kenapa...?"
Verdea terdiam, menatap Rosalia yang sudah menghilang ditutup oleh pintu. Tapi tidak lama, matanya pun tertuju kearah Veskal
"Aku ingin berdiskusi empat mata denganmu. Kamu adalah orang yang paham Rosalia lebih baik dari diriku, walaupun aku ini adiknya"
Veskal pun tidak tahu harus menjawab apa. Dan karena itu, dia hanya mengangguk setuju tanpa argumen balik sedikitpun
"Kita akan beritahu Vainzel setelah kita mengetahui semua perkataan kakak. Aku tidak ingin memberi dia ketidakpastian untuk saat ini"
Veskal mengangguk paham
__ADS_1
Verdea pun mulai berjalan terlebih dahulu, diikuti oleh Veskal di belakangnya
Tidak ada lagi yang perlu mereka lakukan di tempat itu selain menunggu Luna dan Ivor untuk kembali