
--- Setelah itu, kastil Thyme ---
"Haiya!!!"
*Tak!*
"Terlalu lambat!"
*Bruk!*
...
Remina secara refleks melompat mundur, tetapi dia masih terkena serangan
Apapun yang dia lakukan, dia selalu saja terkena serangan. Apalagi, hal itu membekas di bagian yang terkena, karena kulitnya yang lembut dan putih itu
"Hah... Aku bahkan tidak bisa mengalahkanmu, nyonya Lyralia..." Dia menggerutu, ditambah sebuah helaan napas
Lyralia hanya menggosok hidungnya karena pujian itu, selagi dia sesekali melirik kearah Ivor yang hanya menonton dari atas pohon
Atau begitulah. Ivor sebenarnya hanya membaca buku saja diatas pohon, tapi Lyralia menganggap kalau dia sedang menonton
Dia yang acuh tidak acuh selagi membalik lembaran bukunya itu membuat Lyralia tertunduk lemas, sekali lagi kecewa. Setelah itulah dia baru memperhatikan, hanya karena sikap Lyralia berubah
Di tengah hal itu, Remina hanya menatap dengan wajah heran
"Sebaiknya kita langsung masuk ke bagian evaluasinya. Aku harap tidak terlalu buruk..." Remina mencoba mencari topik, tetapi mulai tidak semangat lagi
"Tidak perlu ada evaluasi. Kamu masih standar dalam kemampuan fisik"
Satu kalimat dari Lyralia, dan Remina langsung tertusuk
"Kamu juga selalu ragu menyerang, entah kenapa. Padahal itu saja yang selalu membuatmu terluka"
Kalimat kedua itu membuat dia jatuh ke tanah dengan lemas
"Omong-omong, kamu juga kalah melawanku yang dibilang oleh Vainzel sebagai petinggi terlemah"
Dan kalimat terakhir itu menancapkan Remina ke tanah, hingga dia tidak ingin bergerak lagi
Dia benar-benar sudah tidak berdaya. Gurunya memberi serangan verbal yang fatal, walaupun itu adalah fakta yang akurat
"Hoy. Bukannya kamu sedikit kasar dengan anak itu?" Ivor menyela
"Yah, Vainzel bilang kalau aku harus sangat jujur dalam setiap evaluasi. Semua guru kita juga pasti menginginkan hal itu dariku ketika sedang mengajar orang lain seperti ini" Lyralia membalas singkat
"Aku harus setuju dengan Lyralia. Dia tidak salah, karena hal itu juga bisa membentuk kalian untuk berusaha menjadi lebih baik dengan menutupi kelemahan"
Mereka bertiga beralih kearah Alf yang duduk di sebuah meja dibawah pohon, dengan Luxor yang sibuk menyuguhkan teh untuk mereka semua minum
"Baiklah kalau begitu. Elf Agung sendiri sudah berucap..." Ivor menyerah, tidak mencoba mendorong argumennya lagi
Dia pun turun dari pohon tempatnya duduk, kemudian mendekat kearah meja untuk mengambil cangkir miliknya
"Jangan diteguk sampai habis begitu saja. Nikmati dengan lidahmu itu" Luxor menggerutu
"Hah? Memangnya salah jika aku langsung minum? Toh, kita juga melakukan hal itu untuk menghilangkan dahaga saja" Ivor membalasnya
"... Setidaknya hargai apa yang sudah aku buat..."
...
"Baiklah anak rajin. Tidak perlu menangis seperti yang biasa kamu lakukan"
"Jangan-!!"
Ivor tertawa meledek selagi dia berlari karena Luxor yang mulai mengejarnya
Sementara itu Lyralia kembali menggerutu, melihat Ivor yang tidak memedulikan dirinya lagi
"Seandainya saja dia mau bermain kejar-kejaran seperti itu denganku, pasti akan romantis..." Dia bergumam ketus
Mata Remina berkedut melihat kekonyolan para petinggi itu, tetapi segera dia tutupi dengan sebuah helaan napas pendek
"Memangnya, kenapa nyonya Lyralia sangat jatuh cinta kepada tuan Ivor?" Remina kemudian bertanya, menarik perhatian Lyralia
"Sssh...! Jangan terlalu keras"
Lyralia perlahan mendekat dan menjongkok di dekatnya, terus melihat kearah Ivor yang masih dikejar
"Pertanyaanmu apa tadi? Kenapa aku suka dengannya?"
Remina mengangguk untuk mengkonfirmasi sekali lagi
"Ah, karena kebetulan saja. Jadi bisa dibilang...
Ini takdir!!!"
...
Remina ingin menepuk dahinya karena merasa geli, tetapi dia tahan tangan kanannya itu menggunakan tangan kirinya agar hal itu tidak terjadi
"Sungguh hanya kebetulan! Mungkin dulu saat...
Kami pertama kali bertemu?"
"Aku mohon jangan menceritakan hal yang membuat geli..."
Lyralia tertawa kecil melihat Remina yang terlihat lemas itu, hingga membuat dia sedikit terkejut dengan sikap mendadak Lyralia
Posisinya pun berubah, terlihat sedang berpikir untuk melontarkan apa yang ada di ingatannya kepada Remina
...
"Ah ya. Begini awalnya"
......................
--- 150 tahun yang lalu, Miralius ---
...
Perang berdampak sangat besar kepada semua orang
Beberapa merasa kehilangan yang sangat berat, walaupun mereka selalu menahannya hingga tidak terlihat...
Beberapa sama sekali tidak bisa menanggapi hal itu hingga jatuh ke dalam keputusasaan...
Dan juga...
Ada beberapa yang menyerah, tidak kuat lagi untuk ditinggalkan
Dia tidak boleh merasa ditinggalkan dalam sebuah kesepian, tetapi orang seperti itu meninggalkan orang yang juga sama membutuhkannya
Seseorang yang masih kecil dan tidak tahu harus apa, ketika melihat sebuah bunga beracun tergeletak di dekat mayat orang itu...
Dia hanya tahu caranya untuk menangis, tetapi tidak tahu caranya untuk menolong orang yang sudah tidak ada lagi sekarang...
...
...
...
"Lyralia kamu harus begini. Lyralia kamu harus begitu. Kenapa tidak ada orang yang mau paham coba...?"
Gadis itu menggerutu selagi dia berjalan diatas sebuah sungai, melalui sebuah batang kayu pohon tumbang yang menjadi jembatan kecil
Dia terus menggerutu setengah berbisik, selagi alam dan langkah kecil kakinya sendiri menutupi suaranya yang sendirian di tengah hutan itu
Entah kemana kedua kaki itu menuntun si gadis, tetapi dia sama sekali tidak peduli. Dia hanya terus berjalan mengikuti kakinya, selagi terus melihat ke bawah dengan hati penuh kekesalan
"Hmph... Sepertinya tempat ini sudah terlalu jauh. Tapi karena sepi, sebaiknya aku tandai saja untuk datangi lain kali"
Sesekali dia melihat sekeliling, tetapi matanya selalu berakhir kembali kearah kedua telapak kakinya yang sedang berjalan. Hanya melihat sekilas, dia memberi tanda tertentu agar dia bisa mengingat tempat itu untuk lain kali
Suara menggerutu pun kembali keluar setelah beberapa momen kecil itu, dikarenakan hatinya yang masih penuh kekesalan kepada orang-orang di sekitarnya
...
"... Semua ini salah mama"
Suara keluhannya itu mulai berubah target. Yang awalnya dia tujukan kepada orang lain itu, mulai dia arahkan kearah ibunya sendiri
Ibunya yang telah tiada tidak lama ini
"Jika dia tidak pergi, aku tidak perlu repot-repot tinggal dengan keluarga Marelis. Aku tidak perlu repot-repot disuruh latihan. Kakek tua itu juga berisik. Makanannya sama sekali bukan seleraku juga-"
Langkahnya perlahan terhenti, bersamaan dengan apa yang sedang dia ucapkan
Dia hanya terhenti, kali ini karena pikiran penuh rasa bimbang. Dia sudah tidak tahu lagi, siapa yang harus dia salahkan akibat kemalangan yang sedang dia alami itu
...
...
"Semua ini gara-gara ayah. Dia yang paling bersalah..."
Tapi dia masih merasa ada yang salah. Dia merasa tidak patut menyalahkan orang yang tiada akibat sebuah peperangan untuk membela kaumnya sendiri
Walaupun dia tidak tahu siapa ayahnya itu, dia tidak seharusnya menjelek-jelekan namanya
...
Jadi siapa yang harus dia salahkan?
Keluarga Marelis yang menampungnya walaupun dia tidak ingin? Kenapa? Mereka berniat baik bukan?
Ibunya yang sudah tidak merasa kuat lagi? Apa gadis itu ingin memaksanya untuk tetap tinggal dan terus menderita?
Ayahnya yang mati agar seluruh kaum Elf bisa hidup tenang? Apa salahnya orang yang sudah lama tiada kepadanya sekarang ini?
"... Aku tidak tahu lagi..."
Dia menendang kerikil yang ada di depannya hingga masuk ke dalam sebuah semak
Tapi entah kenapa, semak yang terkena kerikil itu tiba-tiba mengeluarkan bunyi gemerusuk yang cukup jelas, seakan ada sesuatu yang sedang bersembunyi disana
Gadis itu terkejut, mencoba mengambil sikap waspada selagi mundur beberapa langkah untuk mengambil jarak
Jika dia bertemu dengan seorang anak nakal, dia tidak yakin akan mampu menahan diri. Itu sebabnya dia ingin lari saja sebelum terjerat masalah
Selagi dia terus mundur, matanya terpaku kearah semak itu. Sesuatu yang bergerak disana tidak terlalu besar, seakan dia memiliki ukuran seperti seorang Fae
Tetapi gadis itu masih tidak yakin. Dia masih tetap waspada dan bersiap untuk lari seandainya itu benar adalah anak Elf yang lain
Dan beberapa detik kemudian...
Sebuah kodok besar keluar dari semak itu. Sebuah kodok biasa, berlendir dan memiliki wajah jelek
Gadis itu merinding melihat penampilan Kodok itu, namun merasa lega karena itu bukan sesuatu yang dia duga
Atau begitulah yang dia pikir
"KENA KAU!!"
Kodok itu dengan panik mencoba melompat kearah si gadis yang ikut terkejut, hingga sebuah bayangan sebuah sosok mulai berada diatas mereka
*GUBRAK!!*
Suara hantaman yang cukup keras memenuhi udara
Si gadis terjatuh ke tanah sepenuhnya, bahkan sekarang ada sebuah luka memar di kepalanya, akibat benturan tidak terduga itu
Ketika dia mencoba mengusap lukanya itu, dia menyadari sebuah suara rintihan dari orang yang sudah menabraknya barusan
Suara rintihan seperti seorang anak kecil yang sedang terluka
Matanya pun dia angkat secepat mungkin, untuk mengkonfirmasi isi pikirannya. Dan benar saja
Seorang Elf kecil yang sebaya dengannya duduk tepat di hadapannya, merintih sembari menutupi luka memarnya, walaupun ada seekor kodok yang dia pegang cukup erat
Kodok itu tidak sengaja melompat keluar dari genggamannya, hingga si Elf asing itu spontan menangkapnya kembali
Kulit merah padam, dengan rambut merah api yang acak-acakan. Matanya terlihat sangat tajam, tetapi dari tingkahnya saja bisa ketahuan kalau dia itu sangat kekanak-kanakan. Dia punya badan yang cukup besar, walaupun bisa diketahui kalau dia itu sebaya dengan si gadis
Disanalah si gadis baru tahu wajah dari orang yang dia baru temui itu
Atau lebih tepatnya, orang yang melukainya dengan cara menabrak
"Hey kamu!" Dia spontan membentak dan berdiri. "Gunakan matamu itu sebelum kamu melompat kearah orang lain dan menabrak mereka!" Suaranya semakin keras
Teriakannya itu memicu sebuah reaksi dari si Elf asing itu, hingga dia pun ikut berdiri dan mulai menghadapi si gadis
"Mau bagaimana lagi? Jika aku melewatkan kesempatan itu, kodok ini pasti akan kabur lagi..." Elf asing itu menjawab
"Bukan berarti kamu harus menghantam orang lain juga! Kepalaku bisa pecah seandainya aku tidak menghindar sedikit tadi tahu?!" Si gadis berkata karena semakin kesal
"Kalau begitu buktikan kepadaku cara menangkap kodok dengan mudah! Silahkan!" Si Elf asing membalasnya, sembari melepas kodok itu
...
Kodok itu terlepas...
"AAAAHHH!!! DIA LEPAS LAGI!!"
Elf asing itu pun jatuh ke tanah dengan lemas, menyadari apa yang telah dia lakukan
"Kamu bodoh atau tolol...?" Si gadis mengomentari
Tetapi Elf asing itu terlalu sibuk meringis kesal meratapi kodok yang sudah pergi itu, bahkan air matanya saja terlihat mulai mengalir
...
Si gadis pun menghela napasnya karena kesal. Hal yang paling dia benci lihat adalah seseorang menangis di hadapannya, walaupun hal itu sangat serius
Karena itu, dia pun melepas tutup botol kayu miliknya, hingga air mulai merambat keluar dari mulut botol yang menganga ke udara itu
Si Elf asing melihat hal itu, bertanya-tanya apa yang akan dia lakukan
Tetapi tidak lama...
*Syut!*
--- Air itu melesat kearah kodok yang lari ke semak-semak itu, hingga suara gemerusuk terdengar lagi di dalamnya
Saat-saat penantian pun tiba, dimana si kodok mulai terlihat keluar dari semak dan mengambang di udara, sepenuhnya terbungkus di dalam gelembung air
Gelembung itu perlahan bergerak kearah kedua Elf kecil itu, hingga meletus ketika si kodok sudah dengan aman sampai ke tangan si gadis
"Ini. Jangan lepaskan lagi" Si gadis berkata, menyodorkan kodok di tangannya kembali ke Elf asing itu
Matanya kemudian mulai berbinar terang, selagi dia menerima kembali kodok itu dari si gadis yang kemudian menghela napas
"... Bagaimana caranya aku membalas budi kepadamu...?" Dia pun berkata, mulai meringis lagi
"Berhenti menangis dan pergi. Aku ingin sendirian saja sekarang" Si gadis berkata
Dia berniat untuk pergi, tetapi Elf itu malah menahannya sebelum dia sempat berbalik
"Setidaknya beritahu namamu! Besok, aku akan membawakan sesuatu untukmu sebagai hadiah!" Si Elf asing berkata
Wajah heran si gadis pun terpicu mendengar hal itu
"Tidak. Tidak ada gunanya memberitahukan namaku kepada orang yang tidak kukenali" Dia pun berkata, setelah menenangkan diri sedikit
Dia kembali berniat pergi dengan segera, tetapi dia pun sadar akan satu hal
Tangannya tidak bisa terlepas dari genggaman Elf itu
Dia mencoba melepasnya berkali-kali, bahkan dengan cara memaksa. Tapi sekeras apapun usahanya, dia sama sekali tidak bisa melakukannya
"Apa yang- Kamu lakukan???" Si gadis bertanya karena panik
"Namaku Ivor! Ivor Magnus!"
"!!!"
Si gadis tersentak mendengar nama yang dilontarkan itu, hingga dia sontak berhenti mencoba melepaskan diri
Matanya kembali tertuju kearah Elf itu, yang ternyata terlihat benar-benar serius hanya ingin mengetahui nama si gadis
Dia pun perlahan menyerah, melunakkan tenaganya hingga dia dilepaskan
Helaan napas keluar, selagi dia sudah mulai siap memperkenalkan diri
"... Baiklah. Namaku Lyralia Marelis. Kamu bisa datang ke area klan Undine jika ingin bertemu denganku" Dia pun berkata, mangut-mangut
Mata Elf itu berbinar sekali lagi, dipenuhi oleh semangat yang membara karena telah dibalas
"Bagus! Aku akan pergi kesana bersama dengan ibuku! Sekalian juga untuk mengundang kepala keluarga Marelis!" Dia pun berseru
"Baiklah, baiklah. Jangan berteriak di wajahku lagi" Si gadis memohon
Tapi disaat selanjutnya, dia pun sadar kalau Elf itu sudah pergi berlari entah kemana. Si gadis hanya bisa melihat orang yang baru dia temui itu sudah pergi ke kejauhan, selagi melambaikan tangan kearahnya
"Sampai jumpa besok!" Seruan dari jauh itu terdengar, selagi sosoknya mulai menghilang diantara pepohonan dan semak
...
...
Anak aneh
Hanya itu kesan yang dia miliki kepada Elf itu
Dan satu hal lagi
"Dia bilang... Namanya itu Ivor Magnus...?"
__ADS_1
Si gadis pun merinding ketika menyadari seberapa besar keluarga milik Elf kecil yang baru dia temui itu
...
--- Keesokan harinya ---
Mereka sungguh berjumpa lagi. Matanya berkedut ketika melihat sosok Ivor yang tersenyum lebar di depan pintu kamarnya, memamerkan sebuah keranjang dipenuhi kue coklat kering
"Kamu sungguh datang ya...?"
"Tentu saja! Janji tetap janji!"
"Tolong berhenti berteriak di setiap kalimatmu itu..."
Ivor pun meletakkan jari telunjuk di bibirnya sendiri, menandakan kalau dia akan lebih tenang ketika berbicara
Lyralia mengangguk senang secara spontan, menyadari hal itu, kemudian mencoba memalsukan suara batuk
"Omong-omong, kenapa hari ini? Hari ini adalah hari yang penting kamu tahu?" Lyralia bertanya kepadanya
"Ya dan tidak. Kita hanya perlu mencatat nama saja bukan? Toh, yang diangkat hari ini hanya seorang Oberon" Ivor menjawab singkat
Dia mulai memasukkan kue kering itu ke mulutnya, sebelum menyodorkan satu kearah Lyralia, namun ditolak
"Kamu mengatakan 'hanya' seakan Oberon itu adalah posisi yang sepele..." Lyralia berkomentar
"Bukannya aku bilang begitu! Aku hanya bilang kalau tidak akan ada petinggi baru yang diangkat hari ini! Kita juga lebih baik menghindari si Oberon baru itu!" Ivor menjawab, setengah berteriak
Lyralia mulai frustasi karena dia berteriak lagi, hingga bisa terlihat oleh Ivor yang segera menutup mulutnya dengan tangan
"Kenapa? Bukannya bertemu dengan Oberon itu sebuah kehormatan?" Lyralia bertanya
"Aku tidak ingin menjadi petinggi. Lebih enak jika aku hidup santai seperti ini bukan?" Ivor menjawabnya singkat dengan mulut yang semakin terisi
Perkataannya itu memicu reaksi dari Lyralia. Sesuatu yang tidak dia sangka akan datang dari satupun Elf di Miralius
Semua orang di sekitarnya selalu berbicara kalau menjadi petinggi itu adalah kehormatan terbesar. Karena hal itu, dia selalu dilatih oleh keluarga yang menjadikannya anak angkat ini, nyaris setiap hari
Baik itu teknik bertarung, ataupun beberapa pelajaran dasar lainnya. Dia selalu ditekan untuk belajar, agar menjadi petinggi yang memadai bagi seorang Oberon
Tetapi...
Sudah terbukti baginya, walaupun menjadi seorang petinggi mampu untuk berkontribusi banyak bagi kaum Elf dan seorang Oberon...
Petinggi itu hanya akan membuat keluarganya sengsara...
Siapapun orang itu, dari manapun asalnya, dia akan tetap berakhir di garis depan untuk membahayakan diri, hingga nyawanya pun hilang. Keluarganya pun akan meratapi hal itu seumur hidup mereka
Sama seperti ayah dan ibu kandungnya...
...
"Lyralia? Yoohoo~?"
Ivor bingung melihat Lyralia yang diam merunduk, hingga dia mencoba mengibas tangannya agar Lyralia setidaknya berkedip
Menyadari ekspresi gadis itu, kebingungannya berubah menjadi rasa khawatir. Tetapi dia tidak tahu harus melakukan apa untuk mencairkan suasana itu
Lalu, diantara situasi yang hening itu, sebuah suara memanggil nama mereka berdua
"Lyralia! Ajak temanmu itu keluar karena kita harus segera ke acara penobatan itu sekarang!" Suara itu terdengar
Lyralia pun tersadar, walaupun ekspresinya belum berubah. Dia dengan gelisah menatap kearah Ivor yang ternyata jadi khawatir itu, kemudian menghela napas untuk menenangkan diri
"Ayo. Kita harus segera pergi"
Ivor dengan tenang mengangguk, kemudian mulai berjalan terlebih dahulu selagi melirik kearah Lyralia yang berjalan di belakangnya
...
--- Di area Pohon Agung ---
...
...
...
"Kita sudah berdiri disini selama 3 jam lebih, dan anak itu bahkan belum bergerak sama sekali"
Sebuah pukulan menyikut dari Lyralia pun mendarat di pinggang Ivor, hingga dia merintih kesakitan
"Apa-apaan coba...?" Dia berkata kemudian
"Kamu sadar kalau 'anak' yang kamu bilang itu adalah Oberon bukan?" Lyralia membalas ketus, dengan suara berbisik
"Aku sadar...! Tapi kenapa kamu perlu memukul perutku...!?"
"Karena kamu itu tidak sopan"
"Kalian sama saja"
Mereka berdua tersentak mendengar suara lain yang menegur mereka dari belakang
Keduanya pun menoleh untuk melihat orang itu, dan menemukan seorang anak Elf berkulit ungu dengan rambut perak yang menawan
Anak Elf itu lah yang telah menegur mereka, dan juga mengundang banyak mata kearah mereka yang sedang berada diantara klan Elf api dan air itu
"... Siapa kamu?" Lyralia bertanya
"Yo, Ivor. Aku sudah diberi izin oleh ayahku. Sekarang aku bisa berkeliling, jadi aku ingin bertanya apa kamu mau ikut atau tidak"
Lyralia yang benar-benar diabaikan itu langsung terlihat kesal
"Aku tanya, siapa kamu...?" Dia mengulangi pertanyaannya
"Ah, kamu bertanya kepadaku?"
"Lalu siapa lagi??"
Beberapa Elf pun menyuruh mereka memelankan suara, sebelum kembali fokus kearah ritual yang sedang dijalankan
"... Lihat? Lebih baik kita pergi daripada berbicara hingga terkesan tidak sopan disini bukan?" Anak Elf itu berkata lagi, menunjuk kearah seseorang yang menyuruh mereka diam barusan
"Ah, kamu benar. Ibuku paling hanya akan marah, jadi tidak masalah" Ivor akhirnya menjawab
"Itu bukan masalah bagimu??" Lyralia terkejut
"Tentu saja. Kalau dia mengangkat tangan ke wajahku, baru itu namanya masalah bukan?"
Ada benar dan tidaknya. Logika Ivor sama sekali tidak bisa dicerna oleh Lyralia dengan baik
"Ayo pergi" Ivor berkata lagi, sebelum beralih kearah Lyralia untuk sejenak. "Kamu mau ikut, Lyralia?" Dia pun bertanya
Lyralia terdiam sejenak, melirik sedikit kearah ayah asuh miliknya.
Dan setelah berpikir sejenak, sebuah jawaban pun sudah dia tentukan
"Tidak. Lakukan saja kegiatan laki-laki milik kalian itu, selagi aku disini. Aku tidak ingin merusak permainan kalian yang mungkin akan kasar itu"
...
...
...
"Lyralia..."
"... Kenapa?"
Ivor dengan canggung menunjuk-nunjuk kearah temannya itu, meminta dia mengambil alih secara pribadi
Secara tidak langsung, Lyralia juga ikut menoleh kearahnya, menunggu jawaban yang dimaksudkan oleh Ivor yang akan datang langsung dari mulut anak itu
"... Aku ini perempuan, nona muda Marelis"
Lyralia pun tertegun mendengar perkataan itu, hingga mulutnya perlahan mulai melebar ke bawah
...
--- Beberapa saat kemudian, di area hutan Elf Bulan ---
"Aku... Sungguh berpikir dia itu laki-laki. Bahkan bentuk wajahnya saja terkesan tampan..." Lyralia berkata, sedikit merinding selagi menggigiti kukunya
"Kamu seharusnya bisa langsung tahu melihat alis matanya yang sedikit lebih lebat. Maksudku, kamu setidaknya bisa bedakan milikku dan milikmu juga bukan?" Ivor memberi saran
Saran yang tidak terlalu membantu, sejujurnya. Jika Ivor melihat lebih baik seluruh pria di keluarga Marelis, dia akan terkejut
"Omong-omong, kenapa kita harus kemari? Bukannya petinggi Zaphir tidak akan senang melihat kita berada di teritori latihan milik klan nya?" Lyralia bertanya
Dia baru mengingat kalau bahkan petinggi klan Undine saja ditolak olehnya mentah-mentah untuk menggunakan area latihan yang relatif sangat luas ini
"Luna pernah bilang kalau kami diperbolehkan karena dia yang mengundang. Dia itu anak dari petinggi Zaphir sendiri" Ivor menjawab singkat
"Luna?"
"Anak yang kamu sebut laki-laki tadi itu"
"Dan jika aku lihat lagi... Area ini sangat luas ya?" Lyralia berkata, takjub
Diantara semua klan, daerah milik Elf bulan adalah yang terbesar. Suasana yang ada di sekitar bahkan terkesan sangat tenang, dengan beberapa kunang-kunang biru terlihat di sekitar dan beberapa pepohonan yang merupakan inang kristal cahaya yang indah
Dibandingkan dengan daerah klan Elf air yang Lyralia ketahui, daerah ini sangatlah menakjubkan. Daerah yang utamanya diisi sungai, air terjun dan danau itu, terasa membosankan dibandingkan tempat yang dinaungi cahaya rembulan itu
"Malam ini juga malam purnama. Luna memang tahu kapan dan dimana harus mengajak kita" Ivor berkomentar setelah melihat ke langit
"Kita?"
Hal itu terdengar aneh karena Ivor seakan sudah mengantisipasi Lyralia juga akan diundang, walaupun Luna baru saja dia kenal
Kecuali, jika dia bermaksud satu hal lain
"Kamu punya teman selain Luna yang akan datang kemari?"
Ivor seketika mengangguk, membuat Lyralia tersentak kaget
"Kamu tidak bilang hal itu tadi??"
"Memangnya aku tidak boleh memiliki teman selain kalian berdua?"
Ivor yang perkataannya benar itu membuat Lyralia diam tidak tahu harus menjawab apa
Dia pun menyadari kalau Lyralia sekarang ini sedang merasa gelisah. Gelisah karena dia akan bertemu dengan lebih banyak orang baru
Ivor pun bergumam sejenak sambil memejamkan mata, sebelum menjatuhkan dirinya hingga duduk bersila diatas tanah
Lyralia sekali lagi terkejut, karena Ivor sama sekali tidak memberi tanda akan duduk barusan
"Sebaiknya kita duduk dulu, dan akan kuceritakan semua hal tentang teman-temanku"
...
Di momen dia mendengar kalau lebih banyak orang akan datang, Lyralia sesungguhnya ingin kembali saja ke area Pohon Agung. Dia tidak ingin berurusan lebih jauh dengan lebih banyak orang, menganggap kalau hal itu hanya akan membuang waktunya
Tetapi...
Dia tahu, kalau Ivor sadar akan niatnya itu. Anak itu sadar akan niat Lyralia, tetapi dia sama sekali tidak memaksanya untuk tidak pergi
Anak yang dia anggap menyebalkan itu, ternyata sangat perhatian akan apa yang dia inginkan. Dan karena itu, Lyralia merasa tidak enak berniat untuk meninggalkannya disini, apalagi benar-benar melakukannya
"Jika tidak mau aku tidak akan memaksa. Tapi jangan harap kalau aku tidak akan sesekali berkunjung ke rumahmu"
Dengusan sombong pun terdengar darinya, selagi dia membuang wajah dari hadapan Lyralia
Hal itu tentu membuat Lyralia kaget, hingga dia semakin bimbang harus apa
Tetapi pada akhirnya, Lyralia pun goyah
Dia perlahan mengambil posisi duduk yang nyaman, berhadapan dengan Ivor yang mulai menggambarkan senyum lebar di wajahnya
"Bagus! Kamu tidak akan menyesal berteman dengan mereka, aku jamin!" Ivor pun menyerukan, membuat Remina tersentak
"Aku belum bilang aku akan berteman dengan teman-temanmu. Hanya saja..."
'Aku penasaran dengan mereka', mungkin tidak akan jadi alasan bagus untuk diutarakan
Lyralia pun menghela napas, menanti apa saja yang akan disodorkan nasib kearahnya, sementara si Elf api kecil di hadapannya itu mulai berpikir
"Jika aku harus mulai, sebaiknya dari Luna" Dia mulai berucap
"Ah, anak yang kusangka laki-"
Lyralia diam tidak meneruskan perkataannya
"Betul! Bisa dibilang... Dia itu ketua dari kelompok kami? Lagipula, dia memang yang tertua, dan yang paling terampil bela diri"
Memikirkan hal itu entah kenapa membuat Ivor gusar, hingga Lyralia saja bisa menyadarinya
"Memangnya... Dia lebih tua berapa tahun?" Lyralia pun bertanya
"2 tahun. Kita masih 5, jadi sekarang dia itu..."
...
...
"7 tahun", Lyralia berkata, setelah menepuk dahinya
Dia sangat terkesan karena Ivor tidak tahu cara berhitung, tidak dalam artian yang baik
"Intinya, dia itu sangat sombong juga! Dia seringkali memamerkan kemampuannya itu di hadapan kami! Aku bahkan heran kenapa Ordelia yang imut itu bisa akrab dengannya!"
"Ordelia?"
Nama baru sekali lagi dia dengar
"Ah, kalau yang satu itu, asalnya dari klan Gaia. Jika aku tidak salah, dia seumuran dengan kita, tapi lebih tua dariku"
"Aku lahir di bulan kesembilan"
"Ah, Ordelia juga begitu. Tanggal lahirnya itu... hari ke-16 di bulan kesembilan"
Lyralia menepuk tangannya pelan-pelan, sedikit terkejut bercampur senang karena tanggal lahirnya persis dengan Ordelia
"Kebetulan sekali. Mungkin bisa dibilang kami itu kembar?" Lyralia berkomentar
"Tunggu. Itu artinya..."
Ivor langsung membuang wajahnya kesal, membuat Lyralia heran ada apa gerangan
"Itu artinya aku masih yang paling muda..." Ivor bergumam
Lyralia pun tertawa kecil melihat wajah Ivor itu
"Lalu, yang terakhir adalah Luxor dari klan Luxuria. Jika aku sarankan, jangan terlalu kasar kepadanya" Ivor pun meneruskan
"Memangnya kenapa?"
"Karena dia itu cengeng. Aku pernah berlatih tarung dengannya, dan ketika aku melemparnya keatas pohon, dia menangis kencang walaupun tidak terluka"
"Terdengar seperti orang yang mudah diusili"
"Betul betul! Dia yang paling lemah mentalnya, padahal dia itu laki-laki"
Ivor kemudian terlihat berpikir lagi
"Tapi dia itu sangat pintar. Aku sudah kenal dia semenjak masih bayi, dan dia itu sangat pandai dalam hal sihir. Walaupun aku ragu dia bisa mengalahkan Ordelia..."
"Oh? Mereka juga paham beberapa sihir?"
"Begitulah. Padahal kita tidak pernah pergi berperang lagi, tapi para petinggi tetap mengajarkan beberapa seni bertarung kepada anak-anak mereka. Terutama Luna"
Petinggi Zaphir memang terkenal sangat keras, hingga Lyralia saja tidak perlu mengenalinya dua kali untuk tahu bagaimana sikapnya terhadap semua orang. Apalagi kepada anak kandungnya sendiri
Kepala keluarga Marelis juga begitu kepada Lyralia. Dia dilatih dengan keras, karena kebetulan kalau ayah kandungnya adalah saudara milik kepala keluarga Marelis yang sekarang
"Perang sudah tidak ada, tapi tradisi penobatan petinggi harus tetap dijaga..." Lyralia bergumam
"Benar bukan? Merepotkan sekali untuk anak-anak seperti kita yang hanya ingin bermain disaat ini"
Keduanya menghela napas keluh secara bersamaan
Mata Lyralia pun kembali bersinar, masih penasaran dengan cerita yang bisa diberikan Ivor
"Lalu lalu? Ceritakan aku lebih banyak tentang apa yang biasa kalian lakukan" Dia pun meminta
"Ah, boleh saja" Ivor membalas dengan senyum lebar
Dia mulai bercerita panjang lebar tentang bagaimana dia bertemu dengan masing-masing dari teman-temannya itu.
Mulai dari Luxor yang dia temui karena ibunya berteman baik dengan petinggi klan Luxuria, ayah dari Luxor lebih tepatnya...
Lalu beralih kearah Luna yang dia temui karena Luxor mengajak untuk mengintip latihannya di waktu itu, hingga tidak sengaja ketahuan dan malah terseret untuk menjadi samsak...
Dan akhirnya, bagaimana mereka bertiga bertemu dengan Ordelia yang geram kepada mereka, akibat pertarungan milik Ivor dan Luna. Utamanya, ketika mereka bertiga digantung terbalik hingga para petinggi datang untuk memperbaiki kerusakan yang terjadi
Dia juga bercerita banyak hal tentang apa yang sesekali mereka lakukan. Biasanya, mereka akan menjahili para Elf yang bisa mereka temui. Beberapa waktu, mereka akan berlatih tarung. Dan yang paling menyenangkan adalah, ketika mereka berempat berkeliling ke semua area Miralius, sekaligus menjarah sedikit beberapa benda unik yang bisa ditemukan
Ivor terus bercerita seperti anak kecil yang sedang berimajinasi dan bersemangat, tetapi Lyralia sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu
Dia justru malah terpendam ke dalam cerita itu, dengan kepala yang dipenuhi gambaran-gambaran petualangan kecil milik mereka itu
"Wah... Aku juga jadi ingin ikut berkeliling dengan kalian!" Lyralia kemudian menyerukan, masih dipenuhi bayang-bayang semua cerita itu
Melihat Lyralia yang terlihat bersemangat, Ivor pun mulai melunak
Helaan napas lega samar keluar dari bibirnya, selagi senyum kecil berkesan hangat dia pancarkan
"... Jadi, kamu tidak masalah untuk bertemu dengan teman-temanku bukan?"
__ADS_1
"Tidak. Karena, mungkin terdengar menyenangkan-"
...
Seketika dia terdiam, mengingat satu hal penting
Seberapa besar pun impiannya, seberapa besar pun dia ingin mengalami petualangan itu...
Dia tidak yakin, kalau kepala keluarga Marelis, pamannya, akan mau mengizinkannya melakukan hal itu
Lyralia pun terdiam, tidak tahu harus berkata apa lagi. Dia juga sadar, kalau dia sudah merusak suasana dengan mendadak diam barusan
Kepalanya tertunduk ke bawah, tidak berani menatap Ivor yang duduk di hadapannya
...
"Kamu harus jujur sesekali kepada hatimu sendiri, Lyralia", kalimat itu pun terlontar
Kalimat yang membuat Lyralia tersentak, dan spontan mengangkat kepalanya
Ivor yang duduk tersenyum di hadapannya itu adalah pemandangan yang sangat menenangkan. Dan lagi, kalimatnya itu barusan masih bergema di dalam kepala Lyralia
Apa yang dia lihat, apa yang di dengar, dan apa yang dia saksikan disana...
Hari itu tidak pernah dia lupakan, bahkan jika ajalnya akan menjemput
"Lupakan perkataan para orang dewasa itu. Jika sanggup, lebih baik hidupi saja hidupmu dengan melakukan apa yang kamu senangi" Ivor berkata lagi, mendengus ke udara
...
"Oh- Um..."
Jujur kepada hatinya sendiri...
Artinya, dia harus ikuti apa yang hatinya katakan. Sesuatu yang hatinya inginkan...
...
Sekarang ini, dia hanya punya satu keinginan...
"Aku ingin pergi mengelilingi Miralius bersama kalian..." Dia bergumam pelan
"Apa?"
"Apa?"
Lyralia menyisir pergi perkataannya barusan menggunakan tawa canggung, selagi menutupi wajahnya menggunakan telapak tangan
Ivor pun memasang wajah aneh karena merasa heran dengan tingkah dadakan Lyralia yang tidak dia antisipasi itu, hingga mereka bertatapan cukup lama di posisi canggung itu
Hingga...
"..."
"..."
"Perasaanku saja, atau memang ada suara teriakan yang datang dari arah sana?" Lyralia bertanya
"aaaaAAAAAAAAAAA!!!!!" Bunyi teriakan itu bersuara semakin keras karena mendekati mereka
"Heh-?"
Pohon yang menaungi mereka itu pun tiba-tiba mengeluarkan bunyi gemerusuk yang hebat, seakan sesuatu sudah menabrak dedaunan diatasnya, hingga mereka harus melindungi kepala agar tidak terkena dahan
Tapi tidak lama, suara rintihan bisa terdengar dari sana, selagi mereka mencoba mengintip dari bawah
Terlihat sekali ada gadis Elf kecil yang memakai topi seperti bunga terompet berada diatas pohon itu. Ditambah lagi, dia terlihat sangat gusar karena mendarat dengan cara yang tidak mulus
Hanya saja, orang itu adalah orang yang dikenali oleh Ivor
"Ah! Itu Ordelia!"
Anak itu terkejut mendengar seruan Ivor, sehingga dia mengangkat kepalanya menghadap kearah mereka berdua yang berada di bawah
Wajah imut kecil itu pun bisa dilihat oleh Lyralia dengan jelas, membuat dia sedikit terkejut
Itu karena dia tidak pernah melihat makhluk seimut itu seumur hidupnya, apalagi jika makhluk itu adalah seorang Elf. Hatinya pun tertusuk oleh sesuatu yang kasat mata karena tidak bisa menahan melihat wajah imut itu
"A- Aku akan membantumu turun" Lyralia menawarkan diri
Tetapi dia segera dihentikan oleh Ordelia yang menyerukan, "Ah, tidak perlu! Jangan naik atau kamu akan jatuh!"
Dia pun terhenti, dan tidak lama mulai memperhatikan dedaunan pohon itu yang mulai bergerak tidak seperti biasanya
Seakan, daun-daun itu sedang membantu Ordelia turun. Tapi nyatanya, memang begitu, hingga gadis kecil itu berhasil meletakkan kakinya dengan aman di tanah
"Sudah. Hah... Rasanya lega sekali ada di tanah lagi..." Ordelia menghela napas lega
"Bagaimana bisa coba kamu terbang keatas sana? Terakhir kali aku mengecek, kamu tidak punya sayap!" Ivor bertanya penasaran
"Itu karena dia melempar diri menggunakan tanaman daun karet"
Suara yang familiar terdengar datang dari kanan mereka
Luna ada disana, membawa seorang anak Elf lainnya yang berpakaian modis dan berambut kuning cerah seakan bersinar seperti cahaya di pundaknya. Anak yang sekarang ini mungkin setengah pingsan dengan napas terengah-engah
"Turunkan aku..." Anak itu berkata kepada Luna
Luna segera menurutinya, dan tanpa pamrih menjatuhkan anak itu ke tanah hingga dia sontak merintih
"Apa masalahmu coba?? Padahal aku tidak melakukan apapun kepadamu hari ini!" Anak itu berteriak kearah Luna yang memasang wajah datar
Sementara itu, Lyralia terlihat berpikir
"... Itu artinya, yang satu ini lah yang namanya Luxor?" Lyralia berkata, menunjuk kearah anak itu
Dan ya, Luxor pun menoleh karena namanya disebut
"Sepertinya ada wajah baru disini. Dan sepertinya dia akan merepotkan seperti Ordelia..." Luxor bergumam
"Oh ayolah. Hanya karena kamu selalu kalah melawan Ordelia, bukan berarti kamu bisa bilang dia itu menyusahkan" Luna menyela
"Tidak usah dibahas!"
Cekcok diantara keduanya pun tidak terhindarkan, selagi Lyralia menggaruk wajahnya karena merasa canggung melihat hal itu
"Salam kenal, namaku Ordelia" Suara Ordelia kemudian menyapanya dari samping
Lyralia awalnya tertegun, tetapi ketika melihat wajah tersenyum Ordelia, dia langsung tidak ragu lagi untuk menjabat tangannya
"Namaku Lyralia! Kamu imut sekali, Ordelia"
"Eh? Ah-?"
Setelah menarik tangannya dari jabatan tangan mereka berdua, Ordelia spontan menarik topinya ke bawah untuk menutupi wajahnya
Tetapi hal itu justru membuat Lyralia semakin terpesona dan ingin mencubit pipi Ordelia
"Dia memang seperti itu ketika bertemu orang baru. Beri saja waktu untuknya membiasakan diri denganmu" Ivor berkata
"Baiklah. Salam kenal untuk kalian semua!" Lyralia membalas, namun kearah mereka semua
Hal itu pun mengundang tawa kecil dari Ivor, membuat mereka semua bingung
"Kenapa?" Luna bertanya
"Padahal tadi, dia terlihat mangut-mangut. Tapi sekarang dia justru terlihat bersemangat bersama kita" Ivor membalas
"Eh-? Itu..."
Lyralia tertawa canggung sekali lagi untuk mengusir topik itu pergi
"Bagaimana kalau kita melakukan sesuatu saja? Aku juga ingin lebih mengenal kalian semua!" Lyralia pun berkata
"Hm? Dari mana datangnya antusiasme itu?"
"Tidak dari mana-mana. Bagaimana, kalian yang lainnya?"
Mereka bertiga yang ditanyai Lyralia mulai mengangguk, karena perkataannya memang tidak salah
"Tidak seru jika berkumpul tanpa ada kegiatan. Lagipula, kita punya teman baru sekarang" Luna pun berkata. "Kalau begitu, bagaimana kalau kita belajar masak saja? Ivor tadi membawa keranjang penuh berisi kue kering, tapi dia belum menjelaskan bagaimana dia membuatnya" Dia menambahkan
"Ayolah! Kalian hanya akan merusak peralatan dapur, terutama Luxor!" Ivor membalas ketus
"Kenapa aku saja?" Luxor juga mengikuti
"Sudah! Sebaiknya kita segera bersiap saja" Lyralia menyela
Cekcok kedua pun berhasil dihindari, membuat Luxor dan Ivor hanya mendecak kesal kepada satu sama lain
Ordelia pun mengajak Luxor dan Luna untuk pergi dahulu untuk mempersiapkan beberapa hal, selagi Ivor masih diam di belakang untuk mengajak Lyralia yang terlihat ingin ditinggal terlebih dahulu
Lebih tepatnya, dia ingin ketiga orang itu pergi dahulu
"... Ivor"
"Woah! Itu pertama kalinya kamu memanggilku menggunakan namaku!"
"Lupakan itu"
Ada sesuatu yang lebih penting yang ingin dia katakan sekarang ini
"... Aku akan mencoba jujur kepada diriku sendiri mulai sekarang"
Ivor terdiam, mendengar perkataan yang baru saja dilepaskan itu. Sesuatu yang dia minta itu, rupanya ditanggapi serius oleh Lyralia
Perkataan dari Lyralia yang terlihat senang, seakan sebuah beban terlepas dari pundaknya
"... Tidak perlu dipaksakan. Jika sanggup saja" Ivor berkata, dibalas sebuah anggukan dari Lyralia
Keduanya pun tersenyum, hingga Lyralia mengambil tangan Ivor dan mengajaknya pergi mengikuti yang lain
"Mulai sekarang, aku ada 3 teman baru!"
"Lalu aku bagaimana?"
"Kita sudah lebih dulu berteman, jadi tidak dihitung"
"Jahat. Padahal kita juga baru-baru ini berkenalan"
"Kamu lebih spesial, tenang saja"
"Hmph. Entah kenapa perkataanmu malah jadi manis"
......................
--- Kembali ke masa kini ---
"Begitulah ceritanya" Lyralia pun menutupnya
"Entah kenapa caramu bercerita itu lebih detail daripada Oberon" Remina berkomentar
"Itu karena dia payah. Maniak kerja itu mana tahu cara yang benar berurusan dengan anak kecil"
"Perkataanmu mungkin akan membuat Oberon kesal..."
"Ayolah. Kamu tahu kan, kalau dia selalu melihatku seakan aku itu makhluk yang menjengkelkan?"
Remina tertawa kecil mendengar respon Lyralia itu
Tapi Lyralia yang diam dan perlahan menatap ke langit itu membuat dia ikut terdiam
"... Lalu aku memberitahu pamanku, kalau aku tidak ingin menjadi seorang petinggi hanya karena merasa terpaksa. Dan reaksi yang dia berikan benar-benar berada di luar dugaanku
Dia justru tidak mempermasalahkannya, dan justru berharap aku bisa bahagia, tidak seperti ayah atau ibuku..."
Dia pun diam tertegun, selagi ingatan akan orang tuanya mulai terlintas di kepalanya
"... Jika aku pikirkan lagi, situasiku mungkin agak sama denganmu sekarang ini, walaupun sedikit tidak lebih parah" Lyralia pun berkata
"Bagaimana bisa?" Remina bertanya singkat
"Karena, kita punya ketakutan yang tidak bisa kita hadapi. Misalnya, sepertiku yang takut akan penolakan dari anggota keluargaku yang lainnya
Tapi aku bisa melawan ketakutan itu. Aku penasaran apa kamu akan bisa juga, melawan ketakutan mu"
Remina tersentak mendengar perkataan Lyralia
Dia paham betul apa yang dimaksudkan gurunya itu. Sesuatu yang sebenarnya dia harus lakukan, agar tidak membekas seumur hidup
Sesuatu yang harus dia hadapi dan hilangkan
"... Tapi aku tidak punya motivasi sepertimu, nyonya Lyralia..."
Remina pun menunduk karena kehabisan kata-kata. Dia sudah memberitahukan alasannya itu
"Kalau begitu, kamu hanya harus membuatnya"
Remina mengangkat kepalanya memperhatikan Lyralia, selagi gurunya itu mengangkat sebuah jari telunjuk
"Misalnya, baru-baru ini Verdea dicemooh oleh anak bangsawan itu. Jika kamu mau, kamu bisa saja memukul wajah bajingan itu
Kumpulkan amarahmu, dan lontarkan tendangan itu hingga giginya lepas. Memikirkan hal seperti itu adalah cara terbaik untuk melawan ketakutan mu" Lyralia menjelaskan
"Kenapa nyonya harus menjadikan anak itu sebagai contoh coba?" Remina bertanya ketus
"Karena dia akrab denganmu, dan dia saja yang terkena kejadian baru-baru ini"
Lyralia kemudian berpikir lagi
"Ah, bagaimana kalau ganti saja Verdea, dan gambarkan dia sebagai ayahmu saja. Aku yakin akan lebih efektif"
"Ide bagus"
Lyralia hanya tersenyum menanggapi respon Remina yang sangat singkat dan segera itu
"Jadi begitu... Buat motivasiku sendiri...
Baiklah! Aku siap untuk melakukan hal itu!" Remina berseru
Senyum Lyralia semakin melebar, selagi dia mengingat satu kalimat yang selalu dia simpan sampai sekarang ini
"Tidak perlu memaksakan diri, nak. Lakukan jika sanggup saja"
"Tapi aku harus bisa, nyonya Lyralia. Untuk ayah dan semua teman-temanku..."
...
...
'Aku penasaran kenapa kamu mau meninggalkan anakmu di tangan kami, Airus'
'Alasannya tidak banyak. Utamanya juga, karena anak itu memang tidak bisa ditahan ketika dia ingin melakukan sesuatu'
'Kamu terdengar seperti orang tua yang tidak ingin bertanggungjawab...'
'Kedengarannya memang begitu. Tapi sungguh, Remina memang seperti ibunya. Jiwa kerasnya untuk bertualang, dan talenta milik ibunya seluruhnya turun kepada anak itu'
...
'Memangnya dia sekeras kepala itu?'
'Ah, tidak terlalu. Tapi...'
'Tapi?'
'... Tapi aku tidak ingin mengekang hidupnya. Aku dan ibunya dulu sempat berharap, jika kami memiliki anak, dia akan menjadi Elf yang mengikuti sang Oberon bertualang ke dunia luar'
'Jadi, kamu ingin dia melayani Vainzel?'
'Lebih tepatnya, aku dan ibunya ingin dia berjiwa bebas seperti sang Oberon. Dia juga masih anak-anak, jadi dia akan melihat sendiri pilihan seperti apa yang akan baik untuk batasan yang dia miliki'
'... Batasan?'
'... Anak itu jauh lebih berbakat dariku maupun ibunya, nyonya Lyralia'
'Dia sudah dipoles dengan baik semenjak lahir. Justru, ketika kami berada di dalam bahaya nanti, anak itu yang malah akan melindungiku'
...
...
Pembicaraannya dengan ayah Remina itu sejenak terngiang kembali
Dan dia benar. Perkataannya tentang anaknya sendiri itu benar
Jika dalam hal 'mengorbankan diri demi orang lain', seseorang yang sudah bertekad tidak akan bisa dihentikan. Apa yang mereka miliki disaat itu tidak lebih penting dibandingkan kebaikan orang lain
Dia sudah bertemu dan berada di sekitar orang-orang itu selama ini. Dia paham betul cara mereka berpikir, dan itulah sebabnya kenapa tidak ada satupun orang lain yang berani membantah mereka
Kebahagiaan orang lain adalah kebahagiaan mereka. Jika tidak seperti itu, mereka tidak akan mendapatkan ketenangan. Apalagi, jika orang itu hanya memiliki jumlah terbatas untuk dia lindungi, hingga dia ingin terus memastikan orang terdekatnya itu terus berada di sisinya
Remina adalah salah satu orang itu, dan Lyralia baru mengonfirmasi kebenarannya disaat itu
...
"Hah... Dan aku pikir kalau hanya Verdea saja yang tidak normal sejak kecil..."
Pemikirannya terbukti salah
"Baiklah. Jangan memaksakan diri saja, dengar?" Lyralia berkata sekali lagi
Remina membalas dengan sebuah anggukan mantap, membuat keduanya tersenyum
...
...
"Hah... Aku jadi ingin main kejar-kejaran dengan Ivor karena bosan..."
__ADS_1
"Kamu masih memikirkan hal itu...?"