Book Of Flowers

Book Of Flowers
Kota Calendula


__ADS_3

--- 2 hari kemudian ---


Sudah 2 hari berlalu sejak kami berangkat dari kastil Thyme. Di tengah-tengah cuaca yang dingin seperti ini, mereka masih kuat untuk berjalan


Bahkan Veskal masih tetap berjalan tanpa terlihat lelah sedikitpun. Aku kagum dengan ketahanan milik anak itu dalam perjalanan jauh. Sementara itu, Verdea sudah terduduk di gendonganku setelah setengah perjalanan dalam sehari. Dia bahkan tidak bergerak sedikitpun sekarang ini dan terasa seperti boneka


Aku sudah menawarkan untuk menyewa kuda untuk mereka, tapi mereka menolak, terutama Verdea yang memberi alasan panjang yang tidak jelas. Dan saat melihat dia sekarang ini, aku hanya tersenyum kecil karena mengingat alasannya itu


...


Aku masih terpikir dengan kehadiran mencurigakan beberapa hari lalu... Tapi, selama apapun itu tidak mengikuti kami lagi, aku bisa merasa lega untuk sementara


Juga, salju sudah mulai turun kembali. Padahal, kemarin kami tidak menemukan satupun butiran salju yang turun dari langit. Cuaca di benua ini sungguh aneh entah kenapa


Dan lihat yang satu ini. Dia terlihat sudah mulai kesusahan untuk bernapas, padahal sudah ada di gendonganku semenjak beberapa menit yang lalu. Sepertinya cuaca dingin ini sudah mulai merasuk hingga ke tulangnya


Dia bahkan menanam wajahnya ke dadaku entah kenapa...


"Si Pangeran kecil sudah lelah~?" Aku meledek


Dia hanya melotot dengan wajah kesal kearahku. Aku tertawa kecil setelah melihatnya kembali menanam wajahnya di dadaku


"Omong-omong, kita sudah dekat dengan kota Calendula"


"Sungguh!?"


Lihat dia, bersemangat lagi. Dan juga, memang seharusnya begitu


Kami sudah berjalan cukup lama dari kota Hortensia melalui jalur selatan ke timur. Sebentar lagi, kami seharusnya melihat tembok kota Calendula dari kejauhan


Verdea langsung mendengar perkataanku dan sekarang malah mengangkat kepalanya kembali. Teman-temanku yang lain juga sudah mulai terlihat antusias


Kami sedang berada di sebuah hutan sekarang ini. Walaupun semua pohonnya sudah tidak berdaun karena musim dingin, aku tetap bisa mengetahui tanda dari tempat ini hanya dengan menengok ke sekitar


"Tinggal keluar dari hutan, dan kalian bisa melihat kota itu langsung"


Verdea langsung bergerak seperti ingin diturunkan dengan mengayun-ayunkan kakinya. Aku yang tidak ingin dia tendang berkali-kali itu pun langsung mengerti tanda itu dan segera menurunkannya


Tidak perlu waktu lama untuk dia segera melesat untuk mencari tampilan kota Calendula yang kami ingin masuki itu


"Hey! Ikuti dia!" Veskal menyerukan sambil berlari mengikuti Verdea


"Jangan sampai jatuh! Kamu harus mengangkat dirimu sendiri kalau jatuh!" Aku menyerukan balik, kepada keduanya


Kami yang melihat kemudian ikut berjalan cepat agar tidak tertinggal dengan mereka berdua


Verdea terus berlari. Dia tidak terlalu peduli kalau dia akan merasa lelah lagi. Matanya berbinar seperti ingin mendapatkan sesuatu yang bisa dia dapatkan dalam kesempatan ini saja. Dia kadang hampir terjatuh, tapi dia tetap berlari seakan hal yang dia nanti itu lebih penting daripada dirinya


"Verdea! Tunggu!" Aku kadang menyerukan, tetapi tidak dihiraukan


"Pelan-pelan nak! Jangan tinggalkan kami!" Luna bahkan mengikuti


Tapi dia mengabaikan semua seruan kami. Dia terus berlari secepat mungkin tanpa berniat menyimpan tenaganya. Sedikit lagi, dia mencoba meyakinkan dirinya


Dan akhirnya, jalan keluar dari hutan sudah terlihat di depan mata


Dia semakin mempercepat langkahnya. Aku bahkan heran kenapa dia tidak merasakan sakit di dadanya, berlari di cuaca dingin seperti ini dengan napas yang tidak teratur. Dia bisa saja membekukan paru-parunya jika memaksakan untuk melakukan hal itu


Tapi tidak lama setelah berada di dekat ujung hutan, dia berhenti. Matanya masih terus berbinar-binar dan napasnya mulai tersengal-sengal


Dan ketika kami baru sampai di dekatnya, dia terduduk di tanah, mendapatkan pemandangan yang ingin dia lihat selama perjalanan ini


Wajahnya terlihat senang melihat kota itu. Begitu juga kami, karena perjalanan ini akhirnya memberikan sedikit hasil yang kami inginkan. Kota Calendula


Kota di timur benua ini adalah kota terkecil milik kerajaan Hortensia. Namun, kota ini juga adalah pemasok obat-obatan paling terkenal di seluruh dunia

__ADS_1


Kalau tidak salah, mereka terkenal semenjak Artorius naik takhta. Aku pernah mendengar dia sering membiayai toko-toko di kota ini sejak perang saudara Hortensia berakhir, kira-kira 17 tahun lalu dari sekarang


Tapi, saat itu, aku sedang berada di benua Sto Astra. Ketika perang itu terjadi, aku sedang berkelana dan melihat tempat-tempat lain


Kota ini mungkin punya sejarah langsung dengan Artorius. Dan sejarah itu membantu kota kecil ini menjadi makmur. Lihat saja tembok kota itu dan tumbuhan hijau yang masih bertahan di dalamnya walau musim dingin sedang berlangsung


Ketika melihat tembok Kota Calendula di depan matanya, Verdea beralih menoleh kearahku dengan mata yang dipenuhi rasa antusias


"Antarkan aku ke sana!" Dia berkata dengan napas yang masih tersengal-sengal


Aku menoleh kearahnya dengan banyak pertanyaan yang ingin kulontarkan padanya. Namun, aku mengangkatnya dan tetap diam sambil meneruskan perjalanan kami, menyelipkan senyum diantaranya untuk menambah ringan situasi


"Kenapa kamu... Antusias sekali...?" Veskal yang kelelahan berkata pada Verdea selagi berjalan di sisiku


Dan Verdea menjawab dengan kepala kosong


"Ibu"


...


"Aku ingin melihat ibuku"


...


Jadi itu alasannya mengapa...


Tapi, wajar saja dia ingin bertemu ibunya. Artorius memberitahuku kalau ibunya meninggal karena sakit dan jenazahnya di pulangkan ke kampung halamannya. Hal itu terjadi sejak Verdea baru berusia beberapa minggu


Jadi, inilah kampung halaman dan tempat peristirahatan ibunya. Kota Calendula. Wajar Artorius merasa bertanggungjawab dan memakmurkan kota ini...


Hmph... Setidaknya ada hal baik yang datang dari raja itu


Aku berniat mengunjungi kota ini untuk membeli beberapa obat-obatan untuk perjalanan kami. Tapi, sepertinya mengunjungi pemakaman kota ini akan menjadi prioritas utama kami sekarang. Aku harap Verdea bisa senang dengan kunjungan kecil ini, begitu juga ibunya di alam sana


......................


Memasuki kota itu bukanlah menjadi tantangan lagi sekarang. Dengan paspor dan bukti tanda kehormatan kerajaan Hortensia dalam bentuk dokumen, aku dan semua teman-temanku bisa segera masuk tanpa perdebatan panjang. Tunjukkan saja kepada para prajurit itu, dan mereka akan menyingkir


Entah kenapa rasanya menyenangkan melihat mereka menunduk seperti itu kepadaku


"Permisi..."


Kami menghampiri sebuah toko obat sekarang. Prajurit di depan gerbang menyarankan kami untuk mengunjungi toko ini karena ini adalah toko terbaik dimana pemiliknya adalah orang yang penting untuk kerajaan


Aku sebenarnya tidak terlalu sering ke tempat ini karena aku tidak terlalu membutuhkan obat-obatan. Tapi, karena perjalanan ini bisa memungkinkan banyak hal seperti membuat teman-temanku demam atau flu, akan lebih baik jika kami membeli beberapa obat yang bisa mengatasi penyakit itu


Maksudku, melihat Luxor dan Ordelia menggigil kemarin, aku semakin yakin kami butuh obat. Aku sempat lupa kalau cara kerja tubuh teman-temanku itu berbeda dengan tubuhku


Kesampingkan itu, untuk toko yang pemiliknya merupakan orang penting kerajaan, penampilan dari toko ini sendiri sangat membuatku kaget. Dia sangat... Kecil dan sempit, jika aku bisa gambarkan. Sangat tidak mencolok di mata orang-orang yang lewat, selain tanda yang bertuliskan nama tokonya, yaitu Gold Dust


"Silahkan masuk" Seseorang tiba-tiba bersuara dari dalam toko


Aku sedikit terkejut, karena aku menyangka pemiliknya mungkin sedang pergi ke suatu tempat hingga tidak ada yang menjawab seruan kami sejak tadi


Tapi, jika dia memang ada di dalam, akan lebih baik kami masuk


Pintu yang memiliki gagang kayu itu pun kubuka perlahan, selagi sebuah dering lonceng terdengar setiap kali pintu itu berdecit dan terbuka ke dalam. Dan melihat dari betapa kecilnya toko ini dari luar, aku tidak terkejut dengan isi dalamnya


Bangunan dari kayu ini hanya diisi oleh beberapa rak, obat-obatan yang tersusun rapi, sebuah meja kasir, dan beberapa hiasan gantung di atapnya. Semuanya bersatu padu di dalam sebuah ruangan kecil yang terasa sesak, hingga aku tidak yakin semua temanku akan muat ketika memasukinya


Tapi bagaimanapun juga, lebih baik jika kami membeli obat berkualitas dari orang seperti pemilik toko ini


"Selamat datang" Sebuah suara lagi-lagi menyapa kami


Seorang pria tua datang dari balik sebuah pintu di belakang meja kasir. Dia berjalan perlahan dengan tongkatnya, walaupun punggungnya masih terlihat tegak

__ADS_1


Rambut pria itu sudah memutih seutuhnya, walaupun ada beberapa helai yang masih hitam, begitu juga dengan rambut wajahnya. Seluruh kulitnya sudah mulai menjadi keriput dan dia memakai sebuah kacamata tebal yang nyaris menutupi bola matanya yang berwarna biru itu


Jika aku boleh menduga, maka dia pasti pemilik tokonya. Terlihat seperti orang tua yang sangat bijak


"... Kami ingin membeli obat" Aku pun berkata dengan terus terang


Dia sempat mengamati kami satu-persatu tanpa mengeluarkan suara. Entah apa yang ada di pikirannya, tetapi matanya kemudian kembali menghadap kearahku setelah dia selesai menelaah


"Silahkan. Pilih yang kamu perlukan" Dia berkata dengan nada yang... Tidak terlalu ramah


Ya sudahlah. Lakukan saja dan selesaikan ini dengan cepat


Aku memeriksa semua obat-obatan yang berada di sebuah rak di samping kami


Semua teman-temanku berkumpul ke dekatku selagi aku memeriksa bau dan bentuk sebuah obat dalam toples


"Itu berguna untuk salep luka" Orang tua itu berkata


Aku sebenarnya sudah tahu. Aku hanya memeriksa obat ini


Kualitasnya bahkan melebihi ekspektasiku. Jika ada orang yang membuat obat ini, orang itu pasti sudah memiliki pengalaman bertahun-tahun dan tekun dalam membuat obat


Aku mengecek lagi, dan akhirnya menemukan sebuah obat ekstrak yang aku perlukan. Obat yang bisa mengatasi pilek dan demam


"Apakah ada ginseng di dalam obat ini?" Aku bertanya selagi menelaah komposisinya hanya dengan melihat isi


"Kamu punya mata yang tajam. Obat seperti it memang diperlukan dalam perjalanan panjang di musim ini" Pemilik itu mengomentari


"Kalau begitu aku ambil ini 2 toples. Bayarannya akan ditanggung oleh yang mulia Artorius"


Dahinya tiba-tiba mengerut mendengar itu, membuatku bertanya-tanya apakah aku melakukan kesalahan yang membuatnya tersinggung. Tetapi dia tidak menjawab pertanyaan itu dan hanya menghela napasnya


Aku meletakkan toples itu dan beberapa koin diatas meja kasir. Dia mungkin kesal karena aku tidak ingin membayar muka tadi. Jadi aku berinisiatif untuk memberikan koinnya langsung tanpa negosiasi. Pemilik toko ini bahkan terlihat tidak terkesan dengan apapun yang kulakukan


Dia berniat untuk menerima koin emas yang kuberikan itu, tetapi Verdea kemudian menambahkan satu koin emas lagi yang aku sengaja berikan kepadanya keatas kasir. Kenapa? Karena dia ingin satu informasi dan berpikir harus membayarnya


"Dan aku ingin bertanya, apakah bapak mengetahui tempat pemakaman milik seseorang bernama Marianne Gold" Verdea pun menanyakan


Orang itu langsung tersentak dan tidak bergeming seperti sebelumnya


Dia lalu meletakkan koin itu dan melepaskan kacamatanya, memperlihatkan bola mata biru yang entah kenapa terbelalak itu. Tangannya mulai terlihat gemetar dan dia tidak menoleh kearahku sedikitpun—fokus sepenuhnya kepada Verdea


"Aku ingin tahu apa keperluanmu dengan beliau?" Dia bertanya


"Aku anaknya" Verdea menjawab tanpa pamrih. "Pangeran kelima dari keluarga Hortensia, Verdea Hortensia. Marianne Gold adalah nama ibuku" Dia bahkan menjelaskan


Orang tua itu menatap wajah Verdea dengan seksama. Dia kemudian mundur selangkah dan memperlihatkan wajah yang tidak terlihat sebelumnya


Sebuah wajah yang menandakan syok, seakan apa yang dia lihat di hadapannya adalah sesuatu yang tidak dia sangka akan hadir seumur hidupnya


"Aku tidak sangka kamu akan tiba disini..." Dia berkata dengan air mata yang tiba-tiba mulai mengalir


"... Bapak tidak apa-apa?" Aku bertanya karena khawatir


Suasana berubah menjadi sedih secara tiba-tiba setelah air mata orang itu semakin menderas...


"Matanya mirip sekali dengan ibunya..." Dia bahkan berkata


...


Aku punya kecurigaan ini semenjak awal. Jika Marianne dikubur di kota ini, maka itu berarti keluarganya berasal dari kota ini juga bukan...?


"... Maaf, kalau aku tidak sopan. Tapi, bapak ini siapa?" Aku pun mengeluarkan pertanyaannya


Wajahnya yang masih gemetar menunjukkan senyum kearah Verdea. Sebuah senyum penuh rasa haru seakan dia sudah lama dekat dengan Verdea hingga dia menyodorkan badannya untuk melihat wajah anak itu dengan lebih seksama

__ADS_1


Atau memang, pemilik toko ini sangat dekat dengan Verdea. Seperti sebuah hubungan darah


"Aku ayah dari Marianne Gold. Kakek dari anak ini, Frank Gold" Dia pun mengkonfirmasi hal itu


__ADS_2