
--- Keesokan paginya ---
Jadi...
Kenapa orang ini masih ada disini? Dia seharusnya bersiap bukan?
"Maaf mengganggu. Aku hanya kebetulan ingin kemari"
Kami masih tertegun dengan kehadirannya. Kehadiran Edwin, si pendekar pedang hitam
"Edwin, kamu-"
"Aku ingin melatih pangeran Verdea berpedang. Apa itu terlalu sulit untuk dikabulkan?"
Ah... Dia mulai lagi...
Padahal aku sudah berpikir Verdea berhasil mengubah pikirannya itu...
"Tolong pergi. Kami sibuk"
"Sibuk bertarung dengan satu sama lain di hutan kecil ini?"
Memangnya itu urusanmu? Anak ini mengejekku semalam tahu?
"Maaf Vainzel... Sungguh kami... Sudah berusaha menghalaunya tanpa menyakitinya..." Luna berkata dengan napas terengah-engah dan nyaris jatuh ke lantai
Dan aku seharusnya tidak memaksa mereka melakukan hal seperti ini. Aku pikir Rosalia yang akan datang, tapi aku tidak sangka malah orang ini lagi
Luna dan Luxor berkeringat. Aku yakin sebagian besar hal itu bukan karena lelah, tapi karena mereka menahan kekesalan mereka sekuat mungkin
"Dimana tiga yang lain?"
"Mereka menggantikan kami mengerjakan pekerjaan dalam kastil"
Pantas saja. Kenapa coba mereka bertukar tugas walaupun sudah kubagikan dengan adil?
"Ehem" Edwin mencoba menarik perhatian
"Pergi. Kami punya urusan" Aku mengusirnya seketika
"Tidak, sampai aku mendengar jawaban pangeran. Kamu tidak punya hak menjawabnya"
Cih! Aku benci kalau dia sudah menggunakan kalimat itu
Kami semua menoleh kearah Verdea. Dan...
Dia hanya diam menatap Edwin, seakan sedang menganalisa orang itu
Tiba-tiba saja, dia mendekat, masih dengan tatapan penuh penilaian. Entah apa yang dia pikirkan menelaah Edwin seperti itu
"Tunjukkan teknik berpedangmu"
...
Heh?
"Itu artinya kamu setuju, tuan muda?"
"Aku hanya ingin melihat teknikmu lagi, itu saja. Tunjukkan sekarang"
Oh syukurlah...
Aku pikir Verdea akan menerimanya...
Dia terlihat lesu sekadang karena sudah berharap terlalu tinggi
"Kalau begitu, aku harus menolak"
"Kenapa?"
"Karena benda yang boleh kubelah di tempat ini hanyalah sebuah pohon. Tetapi kalian tahu betul apa yang terjadi ketika aku melakukan hal itu sebelumnya"
Ordelia mengutuk Edwin selama dia berada di kastil Thyme disaat itu, bahkan menyarankan aku untuk menggantungnya terbalik lain kali. Aku bahkan masih yakin dia bersikap agresif kepada Edwin sekarang ini
Pilihan bijak. Setidaknya kamu sadar kalau aku bukanlah makhluk paling menakutkan di kastil ini
"Kalau begitu, kita masuk saja. Suasana hatiku untuk bertarung sudah hilang" Verdea berkata
Heh?
"Heh-? Tunggu dulu-!"
"Kalau begitu ayo kita ke dalam Edwin"
"HEY!! Urusan kita belum selesai!"
"Ah! Tidak dengar! Ah!!"
Anak ini sudah mulai membangkang kepadaku...!
"Baiklah. Tapi kamu lihat saja nanti!"
"Lihat apa nanti hah?!"
"Lihat saja ya lihat saja!"
"Kamu tidak jelas sekali!"
"Lalu kenapa? Ada masalah!?"
Adu mulut itu kami terus lakukan sembari berjalan kedalam kastil
"... Kenapa mereka ingin bertarung coba?"
"Aku dengar karena Vainzel diejek oleh Verdea. Jadi inilah hasilnya" Luna berbisik ketus, mungkin karena ingin ikut juga
"Ah, kekanak-kanakan sekali..."
Edwin hanya menggelengkan kepalanya melihat kearah kami, sembari ikut masuk ke dalam kastil
......................
"Aku penasaran, sungguh"
"Soal apa, Oberon?"
"Kenapa kamu sangat setia kepada orang yang duduk di takhta Hortensia, seberapa buruk pun orang itu?"
Edwin berhenti meniupi tehnya yang panas itu, kemudian meletakkannya diatas meja di depan kami semua
"Ada banyak hal. Utamanya karena yang mulia Artorius menyelamatkanku dari kemiskinan dan membuatku bersumpah atas nama takhta kerajaan sebagai seorang kesatria setelah pemberontakan yang dia pimpin
Aku tidak menyesal, sungguh. Walaupun aku kecewa dengan orang yang duduk di takhta selama ini, aku terkesan dengan orang-orang yang berada di sekitarnya. Termasuk tuan putri dan pangeran Verdea"
Ah, seperti itu...
Tunggu...
"Kamu ikut dengan pemberontakan ayahnya Verdea? Berapa umurmu sekarang?"
"34"
...
Heh?
Tunggu?
Itu artinya dia mengikuti perang itu ketika dia berumur 12 tahun...?
A-?
Orang ini monster! Sungguh!
Anak 12 tahun macam apa yang sudah mengikuti perang?
Dan aku mendengar kalau dialah yang membawa kemenangan dalam perang itu untuk kubu Artorius. Itulah sebabnya dia diangkat sebagai kesatria tangan kanan raja setelah itu sampai kini
Sangat mencengangkan mengetahui usianya yang masih muda disaat itu
Tapi berbeda dengan aku yang terkejut, Verdea justru terlihat kagum
"Bagaimana kamu bisa memenangkan perang saat usia muda begitu?"
"Usia muda? Aku sudah 12 tahun, seumuran denganmu walaupun sedikit lebih muda"
__ADS_1
Dia tidak bisa menentukan apa itu muda dan tua rupanya...
"Kamu tahu? Tidak semua anak 12 tahun bisa memenangkan perang" Aku menyela
"Ah, aku juga beruntung. Seandainya istri keempat yang mulia tidak menolongku di hari itu, aku pasti sudah meninggal hari ini"
...
"Istri keempat...?"
Edwin pun tersentak ketika menyadari apa yang baru saja dia lontarkan di hadapanku dan Verdea
"Oh maaf. Aku baru ingat kalau beliau adalah ibumu, pangeran Verdea" Dia berkata, dengan sebuah senyum canggung
"Kesampingkan itu, kamu tahu soal ibuku?"
Wajah Verdea berubah dari kagum menjadi penasaran, dalam artian yang gelap dan tidak enak di hati
...
Tunggu. Jangan bilang Artorius tidak memberitahukan apapun kepadanya mengenai Marianne
Tidak mungkin bukan, Artorius itu tidak memberitahukan apapun kepada Verdea tentang ibunya?
Astaga...
"Aku... Bisa dibilang cukup tahu. Aku dijadikan sebagai seorang pengawal untuknya selama beberapa bulan. Dan bisa dibilang, beliau adalah wanita yang cemerlang, apalagi setelah mengetahui ia sudah menyelamatkan nyawaku di masa perang"
Hm begitu...
Mengingat kalau Artorius memang memiliki sejarah di kota Calendula, sangat wajar kalau dia kesana karena ada banyak pasukan terluka
Calendula adalah kota obat-obatan dan penyembuhan. Dan disanalah dia bertemu dengan Marianne. Pasukannya juga pasti pergi kesana karena sudah terpukul mundur oleh kubu saudaranya waktu itu
"Tapi sangat disayangkan, yang mulia ratu mengetahui perintah raja Artorius yang menjadikanku sebagai pengawal itu. Aku pun terpaksa ditarik mundur dari tugas pengawal, meninggalkan Nyonya Marianne sendiri hingga mendengar kabar dia mati karena penyakit"
Penyakit?
"Dia tidak mati karena penyakit" Frank menyela
...
Apa maksud Frank?
...
Tunggu. Lupakan
"Kita simpan topik itu untuk lain hari. Aku mohon jangan dibahas sekarang" Aku menyela
Aku tidak ingin merusak suasana hati Frank setelah kemarin malam. Kasihan dia
Dan aku juga sudah terlalu banyak mengetahui perkara ini. Sebaiknya jangan lagi
Tapi jujur saja, aku jadi penasaran
Sebaiknya kutelan dalam-dalam saja rasa penasaranku ini...
"Oh benar. Semua persiapan keberangkatan akan selesai besok. Kalian sudah siap bukan?"
"Oh, begitu-"
...
Tunggu
"Hah?! Bukannya lebih cepat dari yang dikatakan?"
"Masalahnya, semua persiapan ini sudah kami lakukan semenjak ingin menyerang Miralius waktu itu. Tapi karena segala hal yang sudah terjadi, lalu ini dan itu, semua persiapannya jadi sia-sia
Itu sebabnya Nyonya Rosalia memberikan kalian persiapan itu. Kami hanya menyuruh kalian menunggu beberapa hari karena ingin mempersiapkan mental para prajurit ketika bersama kalian"
Ah... Masuk akal
Yah, lebih cepat lebih baik
Tapi...
"Kenapa juga Rosalia memberikan kami pasukan itu? Bukannya tidak akan baik mengingat kalau mereka itu pada awalnya berniat menyerang Miralius?"
Walaupun mental mereka sudah dipersiapkan, aku ragu mereka akan mudah diberi pemahaman oleh sisi kami, dikarenakan tujuan awal mereka dikumpulkan. Yaitu menghancurkan Miralius
"Anggap saja ujian dari Nyonya Rosalia. Dia juga tidak memberitahukan aku detailnya"
Yah, sudah kuduga
Tidak mungkin wanita itu akan menyerahkan informasi secara sembrono, walaupun kepada orang terpercaya miliknya
"Omong-omong, bukannya itu berarti kami harus diantar ke pelabuhan sekarang ini?" Verdea menyela
...
"Tenang pangeran. Semuanya sudah diatur oleh para anggota kerajaan"
Oh syukurlah. Aku pikir mereka lupa mengenai bagian itu
Bayangkan persiapannya sudah selesai besok dan kami belum sampai. Tidak etis sekali bukan?
"Kapan kereta kudanya akan mengantar kami?"
"Tunggu beberapa saat la-"
"Oh?"
Ordelia bereaksi, menerawang kearah gerbang depan kastil. Kami semua tentu jadi tertarik kenapa dia tiba-tiba begitu
"Apakah orang-orang di depan itu yang akan mengantarkan kita, Edwin?" Ordelia bertanya
Cepat sekali. Padahal kami baru-baru ini duduk...
"Ah, sepertinya mereka sudah tiba. Kita akan berangkat"
Dia terlihat antusias untuk orang yang kesannya kaku. Apa karena dia akan ditugaskan dalam perang lagi kah?
...
Kesampingkan dulu hal itu. Verdea terlihat aneh sekarang ini
"Kenapa Verdea?"
"... A- Aku belum... Membereskan beberapa barang yang ingin kubawa..."
...
Aku akan menduga tiga hal yang dia ingin bawa itu sekarang ini, selain pakaiannya yang sudah dia siapkan
"Contohnya?"
"Buku"
Satu benar
"Cemilan"
Dua benar
"P- Pedang kayu ku"
Tiga benar
Dasar bocah...!
Padahal dia bisa meninggalkan benda-benda itu disini dan tidak akan ada yang berubah...! Benar-benar tidak ada gunanya membawa semua benda itu kamu tahu...?
"K- Kenapa kamu mengepalkan tanganmu dengan kesal seperti itu?" Dia bertanya gugup
"Coba cari tahu sendiri. Kamu pintar bukan...?"
"Uwah... Kamu sedang menyindir..."
Kamu sadar bukan...?
Ah, sudahlah. Apapun yang kukatakan juga, anak ini nanti akan menggerutu jika aku tidak menuruti kemauannya
"Kalau begitu, ayo kita berangkat"
__ADS_1
Ordelia bangun terlebih dahulu, kemudian meraih tanganku dan mengajakku pergi duluan
"Ayo" Ordelia mengajak sekali lagi kepada semua teman kami
Aku senang dengan sifat antusiasnya
Kami pun pergi sepenuhnya dari ruangan itu sambil bergandengan tangan dengan benar. Tanpa saling menarik ataupun saling memaksa
Semua temanku yang melihat kami sudah pergi itu kemudian menatap satu sama lain, mengakhiri tatapan mereka semua di Verdea
Verdea hanya mengangkat bahunya, kemudian ikut bangun dan segera berlari keluar mengikuti kami
"Vain! Ordelia! Tunggu aku!"
Remina secara tidak langsung terpaksa mengikuti Verdea yang sudah berlari keluar itu
Luxor pun akhirnya ikut bangun, menatap kearah Luna, kemudian samar-samar memintanya untuk mengantar kepergiannya
"Dasar bayi besar"
"Ayolah Luna. Aku benci sebutan itu"
Luxor cemberut, hingga Ivor mengelus kepalanya sambil tertawa
"Tidak apa. Kamu tetap bayi di kelompok ini, jadi kamu akan tetap menjadi yang paling disayang oleh kami"
"Mau kupukul?"
Luna hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah kedua orang itu. Dia pun mengangguk kearah Lyralia dan ikut mengajak semuanya untuk pergi ke depan mengantar kami yang akan pergi
...
Frank hanya diam di kursinya sejenak, tersenyum melihat kami semua yang satu-persatu pergi keluar
"Aku senang Verdea mengenal kalian" Dia bergumam kecil
Alf yang duduk di sampingnya kemudian menepuk pundaknya hingga dia tersadar. Mereka berdua pun pergi keluar mengikuti kami, setelah setuju dengan satu sama lain
......................
Baiklah, dan sudah selesai
Aku menyerahkan sebuah benih kecil ke tangan Edwin, dan dia menerimanya dengan senang hati
"Kalau begitu, aku naik ke kereta itu duluan" Dia berkata sambil menunjuk kearah sebuah kereta kuda yang ada di posisi paling belakang
"Ya sudah. Tunggu kami"
Verdea masih harus menguatkan hati Frank dahulu. Yang lainnya juga menunggu bersamaku, kecuali Edwin
"Dan satu hal lagi. Jangan sembrono dan ikuti perkataan Oberon"
"Iya kakek. Kamu terlalu khawatir"
Verdea tersenyum lebar untuk meringankan rasa khawatir kakeknya itu
Dia bicara sejak tadi dengan Verdea, jadi kami harus menunggu beberapa saat agar Verdea bisa pergi bersamaan dengan kami. Yah, walaupun ini sudah 10 menit lebih
Tiga kereta kuda sudah menunggu di depan. Masing-masing untuk 2 pasang dari kami berenam yang akan pergi
Sebaiknya aku menempatkan Remina di dekat Ordelia, karena dia saja yang aku bisa percayai dapat membuat Remina tidak terganggu. Aku akan bersama Verdea
Dan aku harus meminta maaf pada Luxor nanti karena sudah menempatkannya dengan Edwin...
"Anakku"
Hm?
Oh, Ayahanda memanggilku. Dia juga repot-repot berjalan kemari
"Ayahanda? Kenapa kemari?"
Aku menjongkok ke tanah untuk menatap langsung mata Ayahanda
"Aku hanya ingin memberitahukan padamu, hati-hati"
"Kamu terdengar seperti Frank..."
"Karena aku juga khawatir sepertinya"
...
Dia khawatir padaku. Yah, itu tentu saja terjadi
Kemampuan menerawang masa depannya itu memang akurat, tapi apa yang ia bisa lihat itu bersifat ambigu jika masih akan lama terjadi. Wajar dia khawatir
Apalagi semenjak insiden kematian Oberon sebelum diriku, aku tidak meragukan kekhawatirannya itu sama sekali. Bisa dibilang, dia merasa trauma kehilangan tuan Aestas sebelum kelahiranku
"Tidak masalah. Ketika kami pulang Ayahanda, semua hal akan menjadi lebih baik dari yang pernah terjadi"
Ayahanda tersenyum mendengar perkataanku. Matanya terlihat sedikit sedih, selagi tangannya mulai terulur dan mengelus kepalaku
"Hati-hati, anakku. Jangan gegabah"
Aku hanya memberinya sebuah anggukan untuk membuatnya tenang. Hanya itu saja yang bisa kulakukan untuknya sekarang ini
"Tenang Ayahanda. Kami tidak akan membiarkan kakak kami ini mati" Luxor berkata
Oh, ayolah-
"Kalian bisa berhenti menggodaku begitu?"
"Heh? Padahal betul kalau kamu itu seperti kakak bagi kami..." Ordelia mengikuti
Mereka senang sekali menggangguku...
"Ayahanda. Daripada 2 bocah ini semakin berisik, lebih baik kami naik ke kereta saja"
Alf juga ternyata tertawa mendengar godaan mereka kepadaku
"Baiklah. Sekali lagi, hati-hati. Jangan sampai terluka parah"
Aku langsung menyuruh kedua orang itu untuk naik ke kereta mereka. Dan seperti dugaanku, Luxor menggerutu karena aku menempatkannya dengan Edwin. Walaupun dia langsung masuk tanpa ribut-ribut lagi...
Kebetulan, Verdea sudah selesai bicara dengan Frank, dan Remina mengikutinya dari belakang
Waktunya berangkat
...
Salam perpisahan sudah kami ucapkan kepada mereka. Kami yang sudah melaju diatas kereta kuda itu hanya bisa melambaikan kami dari jendela untuk membalas seruan sampai jumpa dari mereka yang berada di kastil
Tapi aku sudah puas. Aku tidak berniat untuk melihat keluar jendela lagi. Yang perlu kulakukan sekarang hanyalah menunggu sampainya kami ke Goeitias dengan aman
Aku sudah menghubungi Cyrus untuk mengamankan area hutan tempat kami bertemu dengan Black Hunt dan pasukan Orion nanti. Mereka seharusnya sudah sampai di Miralius sekarang ini dan beristirahat untuk sementara waktu
Tapi ya... Aku yakin mereka ada di sekitar Gerbang Hutan dan berkemah disana. Para Elf tidak akan suka kehadiran manusia di dalam Miralius
"Yah, sekali lagi kamu tenggelam dalam pikiranmu"
"Ah, Verdea"
Dia sepertinya menyadari wajahku yang berubah ekspresi selagi termenung barusan
Dia tertawa kecil melihat wajahku yang gugup karena ketahuan
"Bagaimana kalau kita bahas semua rencana itu lagi?"
"Tidak masalah. Juga, kamu harus ingat detail penting seandainya ada pertempuran. SELALU posisikan dirimu di dekatku"
"Tapi, aku ingin mencoba menggabungkan kekuatanku dengan yang lain..."
"Veri..."
"Aku tahu, aku tahu. Ini serius jadi aku tidak boleh main-main..."
Aku tahu kamu ingin bereksperimen. Tapi, kita harus menjamin keberhasilan misi ini. Target kita memang raja mereka, tetapi satu negara justru akan menjadi musuh kita karena hal itu. Kamu harus sangat serius dan cukup kuat untuk bisa menangani lawan seperti itu, apalagi jika kerajaan mereka sangat besar
Mungkin aku akan mengajakmu berlatih tarung dengan seorang raksasa nanti setelah kita menyelamatkan Veskal. Para raksasa itu pasti akan senang juga, walaupun aku yakin mereka akan benar-benar berniat membunuh kami ketika latih tarung itu berlangsung...
"Jadi tidak?"
"Oke, oke. Jangan tidak sabaran seperti itu..."
Padahal aku cuma termenung sebentar
__ADS_1
Rencana ini harus berjalan dengan lancar. Harus
Veskal menunggu kami. Semoga Tuhan selalu melindunginya