
Dibantu oleh Darwin, Claudia berjalan perlahan menuju ruang tahanan di kastil itu
Tangga turun menuju ruangan itu terasa sangat panjang. Namun, walaupun Claudia sudah mulai merasa pusing karena lelah, dia tetap bersikeras untuk pergi menemui kami
Dia diangkat oleh Darwin sambil menuruni tangga itu. Tapi entah kenapa, dia merasa sangat lelah walaupun dia tidak berjalan. Mungkin karena efek dia memaksa merangkak tadi
"Kamu masih ingin terus-"
"Tutup mulutmu dan terus berjalan...!" Claudia memotong dengan suara pelan
Darwin langsung diam tak bicara lagi
Mereka terus menuruni tangga yang memutar itu sampai pada akhirnya, sampai ke sebuah pintu ruang bawah tanah
Darwin pun dengan ragu-ragu membuka pintu itu, terutama karena melihat Claudia yang sudah semakin tidak sabar
Mata Claudia terbelalak dengan apa yang dia lihat dibalik pintu itu
Puluhan alat siksa berada di dalam ruangan yang sangat luas itu, diletakkan dalam ruang isolasi kecil yang terpisah dan bisa terlihat isinya dari balik jeruji besi. Dan di seberang ruangan isolasi itu, para tahanan terletak disana, terkurung dibalik sel. Ada yang terlihat sangat kurus seperti nyaris tidak makan, bahkan ada yang diikat dengan rantai dan disumpal mulutnya karena selalu meronta-meronta
Dia ingin memukul Darwin sekali lagi. Itu karena dia mengetahui mengenai ruang tahanan yang kejam ini, tapi sama sekali tidak berusaha menolong orang-orang yang telah disiksa
Darwin bahkan tidak berkedip sedikitpun. Matanya tidak menunjukkan rasa kasihan sedikitpun kepada orang-orang disana
*Ting!*
Perasaan itu muncul kembali di dada Claudia
Dia pun mencari kesana kemari arah dari resonansi perasaan itu
'Siapa kamu?'
"...!"
"Ada apa Claudia?" Tanya Darwin yang menyadari ekspresi kaget Claudia
"... Tidak apa-apa" Jawab Claudia
Tapi, dia masih bertanya-tanya. Suara apa yang barusan masuk ke kepalanya itu?
'Aku tanya sekali lagi, siapa kamu?'
...
'Kamu tidak tahu cara telepati!? Bicara dengan pikiranmu bodoh!'
'... Seperti ini?' Claudia mencoba menjawab suara itu dengan pikirannya
'Ya. Sekarang, jawab aku'
'... Namaku Claudia Dolores. Siapa kamu?'
'Panggil saja Ivor'
'Kenapa kamu bisa-'
'Pertanyaanku yang kedua. Aku merasa ada yang aneh di dalam badanmu. Kenapa bisa begitu?'
__ADS_1
'... Apa kamu seorang Elf?'
'Ya. Aku petinggi Elf api. Tapi entah kenapa aku merasa ada koneksi diantara kita berdua'
"Ah, itu mereka. Kenapa coba mereka diletakkan di sel paling pojok?"
Darwin membuat telepati antara Ivor dan Claudia terputus untuk sementara. Berpura-pura tidak tahu apa-apa, Claudia pun hanya diam untuk sementara waktu
Mereka pun perlahan mendekat kearah sel itu. Setelah melihat lebih seksama, Claudia menemukan seorang elf laki-laki yang memiliki rambut dan mata semerah api
Seluruh tubuhnya diikat oleh rantai khusus. Ada sihir yang terpancar dari rantai itu, dan Claudia menduga kalau itu digunakan untuk menekan kekuatan yang ada dalam tubuh Ivor
Semua teman-temannya tergelatak pingsan di dekatnya, dengan beberapa luka memar di bagian tertentu. Mereka semua juga diikat oleh rantai yang sama. Dan jika dihitung, hanya ada 5 elf dan 2 manusia disana
Seharusnya ada 6 Elf, tapi aku tidak berada di dalam sel itu sekarang ini. Claudia bertanya-tanya dimana keberadaanku yang tadinya dibawa bersamaan dengan mereka
*Ting!*
Resonansi itu kembali bersuara di dadanya. Tapi, resonansi itu masih belum terasa sangat dekat
Ivor dan Claudia pun bertukar tatapan. Melihat Ivor yang terlihat marah itu, Darwin pun melontarkan ejekan kasar pada mereka
Mengabaikan ejekan Darwin, mereka pun melanjutkan telepati mereka
'Apa itu barusan?'
'... Kamu bisa merasakannya?'
'Aneh... Padahal kamu yang memiliki badan itu, tapi entah kenapa aku merasa kamu itu orang lain'
'... Maksudmu?'
'... Apa mungkin-!?'
'Apanya yang apa?'
'... Apa mungkin karena inti 'pohon itu' yang berada di badanku sekarang ini?'
'Hah!?'
Ivor terus mencoba menetapkan ekspresinya agar Darwin tidak curiga. Hal yang dia barusan dengar membuatnya sangat kaget sampai-sampai dia hampir melompat maju
'... Aku akan ceritakan semuanya'
Melalui telepati itu, Claudia pun mulai menceritakan semuanya sesingkat mungkin
...
Seperti yang aku tulis sebelumnya, aku merasakan kalau inti Pohon Agung terpecah menjadi 5. Satu berada di Crux, satu berada di benua Sahra, dan 3 yang terakhir berada di Hortensia...
Salah satu dari ketiga itu digunakan oleh Darwin untuk menghidupkan tubuh Claudia yang seharusnya sudah mati
Inti Pohon itu sendiri adalah Inti roh milik Alf. Dalam artian, Alf sama sekali belum mati. Hanya tubuh miliknya yang mati
Kebalikan dengan Alf, tubuh milik Claudia masih utuh, namun jiwanya sudah tiada
Normalnya, jika sebuah roh mengambil tubuh yang belum rusak, maka roh itulah yang akan mengontrol tubuh itu, walaupun itu bukan tubuh aslinya
__ADS_1
Namun, karena inti roh milik Alf itu dipecah menjadi kepingan, rohnya tidak utuh sama sekali, dan hanya menghasilkan bubuknya saja. Dalam artian lain, roh Alf sekarang ini seakan menghilang dan sangat lemah karena hanya berbentuk bubuk, sehingga tidak mampu mengambil alih badan Claudia
Roh yang hampa itu kemudian hanya berfungsi sebagai 'mesin tenaga' untuk menjalankan tubuh yang tidak memiliki jiwa itu. Efeknya juga sebenarnya tidak akan bertahan lama, dan dapat menyebabkan inti milik Alf hancur ketika waktunya tiba
Aku tidak tahu waktu pastinya inti itu dapat hancur, itu karena aku tidak mau mencoba untuk macam-macam dengan inti itu. Tapi, aku memperkirakan kalau inti itu bisa hancur tidak sampai puluhan tahun
Itu karena kepingan itu jadi sangat kecil dan rapuh ketika dipecah belah. Dan sama seperti mesin yang dibuat manusia, inti itu juga bisa hancur jika digunakan terus menerus untuk fungsi tertentu seperti itu
Ivor sadar akan hal itu. Dia bahkan tahu persis dengan bahaya dari inti pohon yang diletakkan dalam badan Claudia itu
"Hah! Dasar Elf rendah!"
"... Kamu berisik Darwin"
"Apa, Claudia?"
"Kamu berisik!"
Claudia pun memukuli Darwin. Darwin hanya berdiri diam menerima semua pukulan Claudia yang tidak bertenaga itu
*Ting!*
Claudia berhenti memukul Darwin ketika merasakan hal itu lagi
'Itu apa coba?' Tanya Ivor
'Abaikan. Beritahu aku semua yang kamu tahu. Aku akan menolongmu' Claudia memotong
...
'Kamu bergurau bukan?'
'Tidak. Aku memang tidak ingin mendapatkan nyawa kedua ini. Jadi, aku ingin mengembalikannya kepada kalian'
...
'Aku akan percaya denganmu untuk sekarang, jadi pergi saja dulu. Aku sedang diikat dengan rantai sihir sekarang ini, jadi aku tidak bisa mengeluarkan sedikitpun kekuatanku. Dan, ada pintu rahasia dibalik tembok di dekat pintu masuk. Vainzel ada disana. Kamu hanya perlu mendorong sebuah bata di dekatnya. Aku akan mengandalkanmu untuk menyelamatkannya'
'Baiklah. Terima kasih sudah mau mempercayaiku'
Mereka pun mengakhiri telepati itu dengan Ivor yang mulai berbaring di lantai, berbalik dari mereka
"Darwin, ayo kita pergi" Claudia berkata
Darwin yang tidak menyadari telepati antara mereka itu sama sekali hanya mengangguk pelan dan berbalik kearah kamar mereka
"Dan Darwin, aku tidak suka denganmu yang mencela para elf itu tadi barusan"
"Hah! Mereka bisa mati membusuk di sana!"
"Kamu tidak kasihan sedikitpun pada mereka, bahkan dengan yang anak kecil yang terkapar di dalam sel itu?"
"..... Tidak" Darwin menjawab dengan wajah yang merasa aneh
...
"... Kalau begitu aku sudah dapat jawaban yang kuinginkan"
__ADS_1
Claudia pun mengeluarkan sebuah jarum tipis dari balik lengan gaun tidurnya dan menusukkan jarum itu ke bagian saraf di leher Darwin