
--- Ratusan tahun yang lalu ---
...
Kekacauan ada dimana-mana
Mayat bergelimpangan dimana-mana ketika Darwin berjalan diatas kudanya, di tengah sebuah medan pertempuran yang sudah tidak berbentuk
Claudia berjalan kaki di belakangnya, menggunakan kerudung untuk menutupi wajahnya
Dia perlahan menatap kearah Darwin yang menunjukkan wajah gusar selagi terus maju ke depan
Nampak sekali kalau dia merasa lelah disaat itu. Melihat semua mayat itu bergeletakan dimana-mana, hanya karena pertempuran dua orang roh agung, dia terlihat sangat geram dengan semua yang sudah terjadi
Tetapi dia menahannya sebaik mungkin. Entah kenapa, tetapi Claudia tahu betul Darwin sedang menahan dirinya
...
Kuda Darwin tiba-tiba terdengar rusuh, dan hal itu membuat mereka berdua terkejut
Tetapi perlahan, kuda itu membungkuk seakan sedang memberi sebuah hormat
Mata mereka pun tertuju ke depan, ke arah dimana kuda itu menunduk
Sesosok Elf berdiri disana, diantara abu peperangan ini, menghadap Darwin dan Claudia yang juga berjalan diantaranya. Sosok yang memiliki baju serba kehijauan, dengan sebuah mahkota sulur emas di kepalanya. Matanya yang putih itu menunjukkan kalau dia tidak bisa melihat, hanya memanfaatkan telinganya yang lebar untuk mendengar apa yang bisa dia dengar
Dan hanya kebetulan dia mengenali suara milik Darwin diantara bekas pertempuran itu
"Aestas... Lama tidak berjumpa" Darwin berkata
Aestas hanya menundukkan kepalanya dengan mata terpejam, tanda kalau dia menerima salam Darwin itu
"Kenapa kamu jauh-jauh kemari? Perjalanan menuju ke tempat ini hanya akan membahayakan dirimu jika bepergian sendiri" Darwin berkata lagi
Aestas menghela napasnya
"Aku mendengar kabar mengenai pertempuran ini. Lazarus sudah memberi kabar tidak mengenakkan, dan Leshy yang menerima kabar itu pertama kali" Aestas menjawab
"Makhluk itu masih saja tetap pemarah ya...?"
Darwin menggerakkan kudanya untuk mendekat kearah Aestas agar bisa bicara dengannya dengan sopan
Dan karena dia juga mendekat, Claudia pun ikut di belakangnya
Aestas pun mendengar sebuah langkah kaki yang tidak dia kenali itu, berada di belakang Darwin. Hal itu tentu membuatnya penasaran
"Darwin. Siapa orang yang berjalan di belakangmu itu?" Aestas bertanya
Darwin yang baru turun dari kudanya itu langsung menoleh kearah Aestas yang bertanya
"Ah, dia orang kepercayaanku, Claudia. Lebih tepatnya, tunanganku..."
"Oh, selamat! Aku belum pernah mendapatkan kabar apapun soal ini. Dan juga, ini adalah pertama kalinya kita bertemu, Nyonya Claudia"
"Ya habisnya, kami masih bertunangan!"
Darwin tertawa di depan Aestas yang hanya menggelengkan kepalanya dengan senyum
Claudia hanya diam tertawa kecil melihat tingkah tunangannya itu
Lalu, sebuah helaan napas keluh keluar dari mulut Darwin, membuat kedua orang itu memperhatikannya
"... Seandainya perang ini tidak pernah ada, aku penasaran bagaimana kehidupan kita bertiga dengan satu sama lain. Aku ingin sekali bicara normal dengan kalian diatas sebuah meja, bukannya berada disini diantara mayat orang-orangku..." Darwin mengeluh
...
Wajahnya berubah, dan itulah pertama kalinya dalam beberapa tahun Claudia bersamanya, dia melihat Darwin menangis
Sebuah air mata menetes membasahi wajahnya yang mulai meratap kosong ke bawah. Sebuah ratapan yang membayangkan bagaimana kehidupan mereka tanpa adanya konflik berat seperti ini
...
"Darwin..."
Claudia perlahan memeluknya dari belakang, dan menempel wajahnya di punggung Darwin
"... Jangan menangis, temanku. Aku pastikan padamu kalau semua hal ini akan membuahkan hasil yang manis untuk kita semua"
Darwin mengangguk perlahan, agar tidak meresahkan kedua orang terdekatnya
"... Xiang yang menyerang kami. Mereka menggunakan taktik serangan bergilir untuk menyimpan kekuatan pasukan gabungan kali ini. Mereka juga mulai merebut beberapa kota dari tangan kami..."
"Kamu sudah cukup baik. Sayang saja situasi buruk lah yang membuat kita terlihat jelek" Aestas mencoba meyakinkan temannya
Rakyat akan mulai membangkang ketika negeri mereka mulai dihancurkan perlahan. Baik itu Aestas ataupun Darwin, mereka berdua mendapatkan cemooh dari rakyat mereka
Nasib begitu kejam bagi seorang pemimpin yang merupakan kekuatan terkuat sebuah negeri. Semua orang akan bersandar pada mereka, seakan mereka adalah tiang harapan terakhir. Dan ketika mereka retak, kesalahan akan jatuh kepada mereka, bukan pada banyaknya beban yang bersandar pada mereka
...
Miralius hanya bisa bertahan. Sementara itu, Polaris, negara milik Darwin hanya bisa menyerang negara yang bertetanggaan dengan mereka saja. Melancarkan sebuah kampanye militer ke timur hanya akan menguras banyak uang dan tenaga bagi Polaris, sementara Miralius dibuat benar-benar tidak bisa bergerak
Sayangnya, mereka juga harus mencari cara untuk menghancurkan kekuatan militer negara di timur Vitario. Jika tidak, musuh mereka disana hanya akan berkembang lebih jauh
"Negeri di timur Vitario mulai berkembang pesat. Mereka bahkan mulai mengerahkan kebanyakkan tentara mereka untuk memusnahkan kita. Apa yang harus kita lakukan dengan situasi ini, Aestas?"
Aestas menggelengkan kepalanya
...
Matanya pun menunjukkan kalau dia merasa suram dan tidak antusias ditengah bungkamnya itu
Darwin menoleh kearah Claudia, yang hanya menggelengkan kepalanya, tanda kalau Darwin sebaiknya diam terlebih dahulu dan memberi ruang pada Aestas
Kesunyian terus bersemayam diantara mereka, entah berapa lama. Diamnya Aestas terus membuat kedua orang itu cemas dengan keadaannya
...
"Sebelum aku memberi sebuah saran, Sang Elf pertama sudah meramalkan sebuah nasib..." Aestas pun berkata
Darwin langsung mengangkat kepalanya mendengarkan hal itu
"Lalu, apa yang dia bilang?" Darwin bertanya
"... 'Ketika angin berhembus ke timur, ombak akan mengganas, membuat 1 kapal terguncang dan 1 kapal lainnya hanyut. Semua itu terjadi berkat seorang kapten ceroboh'..."
...
"Apa maksudnya? Apa dia akan bilang kalau saranmu itu akan terdengar bodoh kali ini?"
Darwin tidak senang ketika menyadari arti ramalan itu. "Bahkan sampai mengatakan kalau negara kita akan bermusuhan. Bisa coba?"
Aestas menggelengkan kepalanya lagi
"Saranku memang akan terdengar bodoh"
"Memangnya apa?"
...
Dia ingin tutup mulut, tetapi Darwin pasti akan memojokkannya hingga dia menyerah nanti
Jadi dengan sebuah helaan napas, dia pun melontarkan apa isi pikirannya
"Kita kirim orang yang bisa mengacaukan kerajaan besar di timur, Xiang, dan menghancurkannya dari dalam"
Darwin langsung memiringkan kepalanya tanda bingung mendengar perkataan Aestas
"Sebelah mana coba bodohnya saran itu? Justru itu saran yang brilian kamu tahu?" Darwin berkata
Aestas mengangkat kepalanya senang, mendengar pujian kecil yang berasal dari temannya itu
"Aku mungkin bisa mengirim seorang Elf kesana. Zaphir mungkin akan sangat-"
"Maaf bila aku menyela, tetapi aku sepertinya cocok untuk berada di dalam misi ini"
...
Mereka berdua langsung menoleh kearah Claudia yang mengangkat sebelah tangannya
Darwin langsung memasang wajah gelisah mendengar hal itu
"Claudia, jangan lagi..." Dia berkata lemas, memegang kedua bahu Claudia
Claudia yang perlahan menurunkan tangannya itu mulai tersenyum untuk menenangkan Darwin
"Tidak apa. Lagipula, nasib yang diramalkan oleh Aestas itu mungkin bisa bermaksud baik untuk kita bukan? Dan misi yang mana yang pernah kugagalkan, tuan sadis~?"
Darwin tertawa kecil melihat tingkah Claudia kepadanya, tetapi rasa gelisah masih tertinggal di dadanya
Di sisi lain, Aestas mulai terlihat berpikir kalau apa yang dikatakan oleh Claudia mengenai ramalan itu cukup masuk akal
Singkatnya, dia mendukung perkataan Claudia itu
"Ide itu cukup brilian. Aku harap kamu bisa membawakan hasil yang luar biasa di depannya" Aestas berkata, dengan nada girang
__ADS_1
Tetapi...
Darwin masih tetap khawatir. Merasakan hawa kekhawatiran dari temannya itu, Aestas pun maju untuk menenangkannya
"Darwin temanku. Kamu mengeluarkan aura penuh kegelisahan" Dia berkata
Darwin menundukkan kepalanya karena tingkahnya sudah disadari
Claudia pun harus maju kali ini
"Tenanglah, tuan sadis! Aku pasti akan kembali, dan kita akan langsung menikah setelah itu!" Claudia menyerukan
Darwin melirik kearahnya, mendengar seruan itu. Dia pun sadar, kalau Claudia tidak akan berubah pikiran saat ini
"... Nanti kita bahas saja di kediaman milikku" Darwin berkata dengan nada pasrah
Claudia pun tersenyum penuh kepuasan
......................
--- Kediaman Ziegler, timur Polaris ---
...
Darwin duduk di kursinya, selagi Claudia sibuk merapikan ranjang untuknya tidur nanti
Matanya sesekali melirik kearah seorang pembantu yang akan menjadi tunangannya itu, dan langsung teralihkan sebelum dia menyadarinya
Kegelisahannya masih belum pergi. Dan hal itu seakan membunuhnya perlahan diatas kursi itu. Tubuhnya yang lemas, perlahan merosot ke bawah dipenuhi oleh pikiran yang tidak-tidak
"Sudah selesai mengeluhnya?"
Mendengar suara itu, Darwin sontak membuka matanya kaget, dan menemukan Claudia mengintip dari balik punggung kursi
Mata mereka yang bertemu itu membuat Darwin berusaha bangun kembali, hingga membuat Claudia harus mundur dan berjalan ke hadapan Darwin
"Sudah selesai merapikan kasurku?" Darwin bertanya
Claudia hanya mengangguk, dan duduk perlahan diatas kursi yang berseberangan dengan Darwin
"... Kamu masih gelisah rupanya"
Darwin hanya terdiam. Terdiam cukup lama...
Dia perlahan melirik kearah Claudia yang mulai terlihat ikut gelisah. Dan karena itulah, dia akhirnya mengumpulkan pikirannya kembali
Dia kemudian maju, berlutut di depan Claudia yang tentu membuat kekasihnya itu terkejut, kemudian mengeluarkan sesuatu dari kantongnya
Benda itu perlahan ia sodor ke hadapan Claudia, menunjukkan sepasang cincin berlian yang terlihat berkilau walaupun dengan cahaya yang redup. Bahkan kilaunya memantul di mata Claudia yang terbelalak, melihat cincin itu berada di hadapannya
"... Aku tahu kamu tidak menginginkan cincin untuk pertunangan. Kamu bahkan sudah bilang berkali-kali, walaupun itu tradisi kita untuk memakai cincin pernikahan. Tapi...
Aku ingin setidaknya kamu melihat cincin ini, kemudian berkata, 'Aku akan segera pulang dan kami akan menikah' setiap kali kamu melihatnya"
...
Claudia pun menyadari, untuk pertama kalinya...
Untuk pertama kalinya, dia melihat Darwin membungkuk, seakan nyawanya sedang berada di ujung tanduk juga
Untuk pertama kalinya, dia melihat Darwin terlihat sangat gelisah, hingga seluruh tubuhnya gemetar
Lelaki yang selalu bertubuh tegap di hadapannya itu mulai gemetar untuk pertama kalinya, tepat di hadapan wanita yang dia cintai
"... Penampilanku pasti buruk sekali" Darwin berkata dengan lemas, walaupun tangannya masih terulur menyodorkan kedua cincin itu
...
Disaat dia tertunduk, tangannya pun merasakan sebuah sentuhan. Ketika dia mengangkat kepalanya, Claudia duduk di hadapannya, dengan wajah dipenuhi air mata
Disaat itulah dia tidak tahu harus apa lagi. Dia yang umumnya tahu harus bagaimana, sekarang sudah tidak berdaya di depan wanita itu
"... Aku sudah pernah bercerita tentang Gerta bukan?"
...
Pertanyaan mendadak itu langsung direspon oleh Darwin dengan sebuah anggukan pelan
"Dia ibu yang sudah mengasuhku ketika aku dijual kemari. Dia yang sudah mengajariku banyak hal. Dan satu hal yang bisa kamu kenali darinya-- Adalah kalau dia senang sekali memakai perhiasan dan pakaian bulu"
"..."
"Tapi--- Aku mendapat surat satu tahun lalu-- Kalau beliau sudah meninggal..."
Satu tahun. Claudia berpisah dengan Gerta dan mengikuti Darwin selama 10 tahun
"Itu sebabnya aku--- Benci melihat cincin-- Aku tidak ingin-- Mengingat wajahnya lagi--"
Disaat itu, Darwin pun menyadari alasannya. Alasan kenapa Claudia selalu menolak memakai sebuah cincin di tangannya
Dia sadar, kenapa Claudia mendadak bertingkah seakan dia itu memaksa keceriannya. Dia berpikir kalau hal itu dilakukan oleh kekasihnya untuk menyemangati dirinya, tetapi itu ternyata karena dia merindukan Gerta, ibu asuhnya
Dia selalu bercerita, kalau Gerta memiliki sifat yang sangat nakal, namun lihai
Dia pun langsung menunduk lemas, berniat untuk menarik tangannya dan melempar cincin itu entah kemana. Yang terpenting baginya adalah, agar Claudia tidak perlu menemukan cincin itu lagi, dan bila perlu melupakan soalnya...
"Tapi..."
Tapi, Claudia justru menarik tangannya kembali, membuat Darwin tersadar
"--- Aku seharusnya tidak melupakan dirinya. Dan juga-- Dia itulah alasan kenapa aku bisa menyusup dan bertemu denganmu..."
Claudia perlahan menunjukkan sebuah senyum, di tengah air matanya yang masih mengalir
Dia pun meminta Darwin untuk duduk di sampingnya, dan Darwin tanpa menunggu apapun segera melakukannya
Claudia pun merasa sedikit tenang setelah itu, menghapus air matanya pergi
"... Pakaikan cincin itu di tanganku, aku mohon"
Mata Darwin berbinar mendengar perkataan Claudia. Dia langsung terlihat senang dan antusias, entah bagaimana dia bisa menggambarkan emosinya disaat itu
Dia pun mengangguk, meminta tangan Claudia, kemudian perlahan memuatkan cincin itu ke jari manis tangan kirinya
Claudia pun melihat cincin itu dengan tatapan penuh emosi yang bercampur, antara senang dan sedih
"... Aku tidak seharusnya melupakan beliau. Tapi, kamu mengingatkanku kalau aku harus tidak melupakan suatu keberadaan, baik saat sedang dalam misi atau tidak"
Matanya perlahan menatap kearah Darwin yang ikut senang melihatnya, dengan sebuah senyum tulus seperti yang ditunjukkan kepadanya pertama kali di bawah pohon itu
"... Jadi, agar aku tidak mengkhawatirkanmu disini dan Gerta disana, aku akan bersumpah atas nama Gerta kalau aku akan kembali"
Darwin tertawa kecil menanggapi Claudia
"Itu sumpah yang besar, nyonya penyusup..." Dia berkata kemudian
"... Padahal aku ingin membuatmu merasa baikan..." Claudia berkata, kemudian cemberut
"Ah, jangan marah~ Aku bercanda- Lihat, aku terlihat senang sekarang bukan?"
Darwin melebarkan senyumnya menggunakan tangan, membuat Claudia mendorong wajah Darwin menjauh dari hadapannya karena merasa geli
Tidak cukup dengan itu, Darwin pun memeluknya dari belakang, mengundang tawa diantara mereka berdua disaat itu
"Ah, sudahlah. Kamu sebaiknya tidur karena urusanmu akan banyak besok" Claudia berkata, setelah berhenti tertawa
Darwin langsung merasa runyam karena itu
"Padahal aku ingin lebih menghabiskan waktu denganmu..." Darwin berkata dengan wajah cemberut
"Masih ada waktu 3 hari sebelum aku pergi. Jadi sekarang, tidur sana!"
Walter pun tersenyum, kemudian perlahan mengecup pipi Claudia sebelum beranjak naik ke ranjangnya
...
'Ketika kamu kembali setelah beberapa bulan, aku bisa membayangkan pernikahan kita yang sangat megah!'
'Ya, ya. Terus saja berkhayal, sampai terbawa mimpi sekalian'
'Justru bagus bukan? Aku jadi bisa membayangkanmu memakai baju pengantin melalui mimpi itu~'
'Hm hm~ Baiklah, selamat bermimpi indah. Aku harus memadamkan lilinnya sekarang'
'Mau membahas soal mimpi itu sampai aku tertidur?'
'Tidak, nanti bakal jadi semalaman. Jadi tidurlah, dan bermimpilah semegah yang kamu mau jadikan pernikahan kita'
'Ternyata kamu juga ingin pesta yang megah~!'
'Tidur!'
'Hmph! Kekasihku ini garang sekali!'
'Hm hm~'
__ADS_1
...
'Selamat malam, nyonya penyusup. Jangan lupa untuk tidur dan tidak terjaga'
'Selamat malam juga, tuan sadis. Aku harap kamu bermimpi indah'
......................
--- Kembali ke masa kini ---
...
...
"Kita tidak pernah mendapatkan momen itu..."
Darwin menatap kosong ke langit
Diantara semua bintang-bintang yang bersinar dengan cahaya putih itu, dia pun mengingat sebuah sosok yang familiar. Seorang sosok yang juga kebetulan dia temui dibawah langit berbintang ketika mereka berdua masih sangat muda
"... Seberapa jauh aku sudah terjatuh ke jurang, Aestas...?" Darwin pun bergumam kearah langit. "Apakah sejauh bintang-bintang itu dan bumi ini...?"
Tatapan penuh penyesalan. Itu saja yang bisa kulihat dari mata Darwin dan Claudia disaat itu. Mereka seakan sedang berdoa kalau semua ini sama sekali tidak akan pernah terjadi
...
Melihat tubuh Darwin menghilang perlahan seperti itu mulai dari ujung kakinya, dan Claudia yang hanya bisa meratapi dengan mata sembab, adalah pemandangan yang menyakitkan. Tubuhku terasa tertusuk dan merasakan iba yang berat karena pemandangan memilukan ini
...
Jadi seperti itu...
Kebenciannya kepada kaum Elf, dimulai karena kesalahpahaman diantaranya yang meminta pertanggungjawaban atas kematian Claudia karena saran itu, dan Oberon Aestas yang tidak tahu harus melakukan apa. Dan itulah sebabnya, 1 negara terguncang dan 1 negara hancur
Polaris, atau yang sekarang disebut Cassiopeia, jatuh ke tangan Marcellus berkat kecerobohan seorang pemimpin. Tapi, aku masih tidak bisa memastikan apakah pemimpin itu adalah Oberon Aestas, atau Darwin sendiri
Dan inilah ujung konflik itu. Kesalahpahaman yang menjerumuskan ketiga orang itu kepada penyesalan yang sangat mendalam. Kesalahpahaman yang membuat ketiga teman itu harus menjadi musuh terhadap satu sama lain
...
Ah-?
Verdea?
Kenapa dia maju ke sana?
...
Aku melihat sekilas tatapan wajahnya itu. Dia menghadap ke depan membelakangiku, jadi aku hanya mendapatkan penglihatan sekilas
Veskal yang berniat untuk menarik kembali Verdea, langsung kutahan sebelum dia sempat bergerak
"... Lihat saja dia" Aku berkata pada Veskal
Melihat itu, teman-temanku yang lainnya segera mengurung niat mereka untuk mengatakan sesuatu
...
Verdea terus maju, dan akhirnya, dia pun berlutut berseberangan dengan Claudia. Darwin yang menyadari adanya sosok lain di dekatnya itu langsung menoleh untuk mencari tahu siapa
"Ah, kamu..." Darwin berkata, berpaling dari wajah Verdea. "Selamat nak... Kamu menang..." Darwin berkata lagi, dengan nada pelan
Verdea hanya tersenyum kecut menanggapi kalimat itu. 'Menang' baginya sekarang ini tidaklah berarti apa-apa
'Menang' baginya adalah ketika semua orang bisa terselamatkan
"... Pernikahan macam apa yang kalian inginkan?" Verdea kemudian menanyakan
Darwin sontak tertawa tersendat-sendat mendengar hal itu
"Kamu bicara seakan kamu akan menjadi orang yang menikahkan kami..." Darwin berkata dengan nada meremehkan
"... Apakah sesuatu yang megah?" Verdea bertanya sekali lagi
...
"... Aku tidak yakin kamu mendengarkan, nak... Atau kamu memang tidak mau mendengarkan..."
"Habisnya, aku penasaran. Aku penasaran karena...
Karena aku tidak akan bisa melihat berlangsungnya pernikahan itu nanti..."
...
Kalimat itu tentu mengundang kekesalan dari Darwin. Tetapi dia tidak memiliki daya lagi untuk menegakkan kepalanya, apalagi mencoba menyakiti Verdea
Aku bahkan heran kenapa dia mengatakannya seperti itu
"... Kamu menghina kami atau semacamnya... Verdea...??" Darwin mengucapkan dengan nada kesal
"Tolong, Verdea. Beri kami ruang..." Claudia menambahkan, mengeratkan pelukannya ke kepala Darwin
"... Aku tidak bohong. Aku akan melewatkan pernikahan itu nanti, dan kalian hanya akan bisa bercerita dengan kata-kata..." Verdea menambahkan
"... Apa yang kamu maksudkan...?" Darwin bertanya
Tetapi Verdea hanya tersenyum tanpa membalas lebih jauh
...
Dia pun mengambil tangan mereka berdua, kemudian menyatukannya dengan satu sama lain
Verdea perlahan memejamkan matanya...
"Tuhan. Semoga mereka selalu diberkati di bawah berkatmu. Roh agung. Semoga mereka selalu dilindungi dan tidak dipisahkan. Tuntun mereka ke jalan menuju cahaya, dan sebuah masa depan yang---"
Itu...!
Itu doa untuk pengantin saat berada di upacara pernikahan...
"--- Berikan mereka pangan yang berlimpah, rumah yang nyaman, dan keturunan yang sehat. Hingga ujung waktu mereka, ikatan ini akan selalu bertahan"
Verdea perlahan membuka matanya kami, menoleh kearah kami. Dia berniat untuk meminta kesaksian kami
Dan diantara kami semua temannya yang berdiri disana, hanya aku dan Veskal yang mengangguk tanda setuju. Kami membiarkan dia untuk melanjutkan upacara itu
Verdea kembali menoleh kearah Claudia dan Darwin sekali lagi, kembali melanjutkan perkataannya
"Apa kamu, Claudia Dolores, menerima pria ini sebagai pasanganmu?"
Claudia mengangguk, dan air matanya mulai menderas selagi Verdea menoleh kearah Darwin
"Apakah kamu, Darwin von Ziegler, menerima wanita ini sebagai pasanganmu?"
...
Darwin menatapnya kosong
Ketika dia sadar tadi, Verdea mengucapkan sebuah doa upacara pernikahan. Dan sekarang, dia meminta persetujuan darinya untuk menerima Claudia
Tapi, dia merasa senang entah kenapa...
Tubuhnya mulai menghilang hingga dadanya, dan Darwin pun sadar kalau dia sudah tidak punya banyak waktu lagi
Darwin pun mengerahkan tenaga terakhirnya untuk menatap kearah Claudia. Sosok wanita yang dia cintai itu, duduk di hadapannya dengan air mata yang terus mengalir. Sayang sekali tangannya sudah menghilang, dan tidak bisa menghapus air mata itu
Tanpa membuang waktu lagi, Darwin pun membalas perkataan Verdea
"Ya... Aku menerimanya... Dan akan selalu setia padanya. Baik sekarang, maupun... Nanti..."
...
Upacara itu selesai, dan diakhiri dengan kedua pengantin yang saling mengecup bibir satu sama lain
Itu juga, adalah kali pertama mereka mengecup satu sama lain, seumur hidup mereka
Namun, disaat itu juga, aku bisa melihat tetesan Mana terakhir pergi dari tubuh Darwin, menghilang di udara
Dan tidak lama, tubuh dan jiwanya pun mengikuti, pergi dibawa angin entah kemana
Disaat itu juga, teriakan penuh penderitaan milik Claudia mulai terdengar melengking, hingga dia terjatuh ke tanah meratapi kekasihnya yang sudah tidak ada disana
Tempat dimana Darwin terbaring tadi, sekarang sudah tidak memiliki apapun selain bunga-bunga di bawahnya. Garden of Heaven sudah mengakhirinya tanpa rasa sakit sedikitpun
Tapi kematian tetaplah kematian, dan kesempatan kedua tidak akan didapatkan lagi...
...
Di tengah suasana memilukan itu, aku melihat Verdea tertawa. Tertawa, namun ditemani oleh air matanya yang mengalir tanpa ditahan ataupun dipaksa...
"Sampai jumpa, Darwin..." Dia bergumam pelan
Disaat semua orang berpaling untuk menghindari pemandangan memilukan itu, hanya aku dan Verdea saja yang menatap keatas dengan hati hancur, seakan mengantar kepergian Darwin
Dan disaat itu, aku tidak paham kenapa dia mengatakan sampai jumpa kepada seseorang yang merupakan musuhnya
__ADS_1
Anak ini memang aneh. Tapi...
Sungguh, Dia memang berhati besar