Book Of Flowers

Book Of Flowers
Terbang Dengan Angin


__ADS_3

...


...


"Jadi ini batasmu..." Aku bergumam menatap Seren yang sudah membeku di tempat bersama Veskal yang masih terbelalak di sampingku


Semua Elf yang hadir disana terlihat sangat histeris dan tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Semuanya mencoba untuk mencari tempat berkumpul yang bagus tanpa menggangguku ataupun para petinggi yang berdiri paling dekat dengan tubuh Seren


Tidak hanya para Elf, semua manusia yang berasal dari kota Andromeda juga terlihat ricuh. Bahkan ada beberapa anak-anak yang menangis melihat naga yang sudah menyelamatkan mereka itu telah tiada


Leshy masih duduk tepat di samping Seren, merangkulnya walaupun Ordelia yang sedang menangis mencoba membujuknya untuk beristirahat sejenak


Tetapi Leshy tetap menolak, siapapun yang meminta hal itu kepadanya. Dia sama sekali tidak melepaskan dagu nya yang menempel diatas kepala Seren itu


Terkecuali aku. Aku tetap diam, tidak memedulikan siapapun yang ada di dekatku sekarang. Hati dan pikiranku hanya terpaku kearah Seren


Dia terlihat sangat tenang untuk seseorang yang sudah mati...


Aku sungguh penasaran dengan apa yang membuatmu puas walaupun kamu bilang akan melihat semua ini hingga akhir...


...


"Vain-"


Verdea yang muncul dari balik pintu masuk Miralius itu pun membuat semua orang kecuali diriku beralih menatapnya


Tetapi ketika dia sadar aku saja yang tidak menoleh kearahnya, Verdea pun hanya diam menunduk, beralih kearah Seren


"Demi pohon Agung..." Luna terbelalak tidak percaya


"Penjaga agung..." Zaphir mengikuti


Ivor, Fyon dan beberapa Dark Elf yang datang bersama mereka hanya diam


...


"Leshy" Aku memanggilnya


Leshy hanya diam tidak bergerak, tetapi aku pun sadar kalau dia sedang mendengarkan


"... Apa kalimat terakhir milik Seren?" Aku pun bertanya


Leshy diam sejenak. Hatinya masih berat untuk menjawab, tapi dia harus


"... Dia berterima kasih kepada Oberon Aestas karena sudah datang menjumpainya ya..."


Dagunya semakin tertanam di kepala Seren seakan dia sedang mengeratkan sebuah pelukan


Dia tidak ingin melepas pelukan itu, dan semua orang pun berhenti mencoba membujuknya. Dia sama sekali tidak akan mendengarkan


...


"Lalu kita harus bagaimana...?" Welt bertanya


Kematian Seren tentu membuat gempar seluruh rakyat Miralius. Ini adalah yang pertama kalinya seorang penjaga pilihan milik para Oberon, yang tidak akan mati karena usia, mati terbunuh


Para penjaga yang seharusnya memiliki keabadian dan kehendak untuk menentukan usianya itu sekarang ada yang gugur


...


Tapi...


"Diantara semua hal yang kamu bisa pikirkan, kenapa kamu harus berpikir kalau kita tidak akan memiliki penjaga gerbang lagi?"


"Itu bukan apa yang kukatakan-"


"Tapi itu apa yang kamu maksudkan"


"..."


...


Penjaga gerbang...


...


Tugas itu sudah selesai...


Tidak akan ada lagi yang duduk di posisi ini sebagai posisi khusus


Hanya Seren saja yang layak melakukan itu. Dan karena dia sudah tiada, tidak boleh ada yang berpikir untuk menggantikannya sekalipun...


"Tugasnya sudah selesai. Sudah adil bagi kita jika merelakannya sekarang ini..." Aku berkata lagi, berlutut setengah kaki menghadap kepada Seren


Seren harus kami antarkan dengan pantas. Dibawah tempat ini, dimana dia sudah menghabiskan waktunya. Sekaligus sebagai kenangan akan keberadaannya bagi para Elf yang ingin berkunjung


Dia layak menerima hal itu...


...


"... Ini adalah salahku..."


...


"Vain..."


"Seren tidak akan mati jika bukan karena aku memanggilnya disaat itu"


...


"Tapi aku juga tidak bisa menolak kalau itu adalah pilihan terbaik..."


Jika Seren tidak datang disaat itu, maka Veskal, Albert, Eleanor, semua anak-anak dari kota Andromeda, dan para Sylph lah yang akan mati


Lawan kami lah yang sangat kuat. Apa yang dia miliki disaat itu berada diluar dugaan kami


"Jadi itu sebabnya, aku tidak akan mengecewakanmu dalam perang ini, Seren..."


Mataku pun beralih kepada Leshy


"Bukan begitu, Leshy...?" Aku bertanya kepadanya

__ADS_1


Aku tahu kamu memiliki sesuatu yang kami semua akan butuhkan. Dan dugaanku benar


Leshy pun membuat sebuah bola sihir transparan melayang di udara untuk kami semua lihat. Sebuah bola sihir yang terisi oleh sebuah lambang yang aku sudah kenali itu


"Sigil Bathin..."


Bola sihir itu pun perlahan diturunkan oleh Leshy menuju tanganku yang menengadah. Aku pun bisa merasakan kalau bola sihir itu sudah kupegang dengan benar disaat benda itu menyentuh tanganku


...


Sigil ini...


"Seren ingin aku mencabut itu dan membuat kalian menjaganya. Aku yakin kamu tahu yang terbaik untuk sekarang, Oberon"


Leshy pun bangun dan entah dengan sihir apa, tubuh Seren terangkat ke udara olehnya seakan melakukan hal itu sangatlah mudah baginya


...


Sigil ini terlepas dari tubuh Yael...


Dia tidak akan berdaya jika benda ini tidak kembali kepadanya. Jika aku tidak salah, seorang setengah iblis yang melempar sigil miliknya itu sama artinya dengan dia yang melempar kekuatan kehidupan dirinya sendiri


Jika kami bisa tetap memiliki benda ini hingga Yael tumbang, kami pasti bisa menang


Yang terpenting adalah siapa yang memiliki daya tahan yang lebih bagus


...


Aku sungguh akan membunuh mereka semua...


Mereka semua yang sudah menyakiti teman-temanku dan terlibat dalam kematian Seren...


Tidak akan ada siapapun dari mereka yang lepas kali ini. Mulai sekarang jalannya hanya akan menuju keberhasilan untuk kami semua


......................


...


...


Angin disaat itu menjadi sangat hening hingga aku tidak bisa mendengarnya di tengah kesunyian ini...


Rasanya sangat menyeramkan. Menakutkan...


Mereka menjadi senyap seakan mereka adalah sebuah napas yang telah menghilang. Seakan mereka adalah napas dari seorang naga terakhir...


Naga yang sekarang tidak bisa terbang lagi, terkubur dibawah lapisan tanah yang akan menjadi tempatnya bersemayam hingga ujung waktu


Tepat di belakang pintu masuk Miralius. Tepat dimana dia menghembuskan napas terakhirnya, dan tempat dimana dia menghabiskan sisa hidupnya semenjak bertemu Oberon Aestas


...


"Tubuhmu lebih besar dari yang kukira, jadi maaf jika aku harus memotong beberapa pohon yang melindungi sarang kecilmu ini..." Aku berkata


Tetapi orang yang kutuju itu tidak menjawab. Yah, dia memang tidak akan bisa menjawab lagi...


...


Pemakaman ini sangatlah singkat. Lebih sederhana juga dari apa yang aku inginkan


Jadi kami semua hanya membuat sebuah lubang yang cukup besar menggunakan kekuatan para Gnome, mengubur Seren di dalamnya, membuat akar tanaman menutupi mulut lubang itu, kemudian menimbunnya kembali dengan tanah


Sungguh sangat sederhana...


...


"Seren..."


...


"Sampai jumpa..."


Hanya itu saja kalimat yang bisa kusampaikan kepadamu, teman lama. Penjaga terhormat dari kaum kami selama ratusan tahun lamanya


Ini hormat terakhirku kepadamu. Jadi tolong bawalah, dan sampaikan ini kepada Oberon Aestas juga untuk kami semua para Elf


Aku juga akan menyusul suatu hari nanti. Semua orang akan menyusul


Tapi tidak hari ini. Sama sekali bukan hari ini


Masih ada hutang yang harus dibawa seseorang kepada kalian semua yang telah mendahului kami. Hutang dari orang-orang yang menyalahi kalian, dan juga...


Hutang dariku...


...


...


...


Verdea tiba-tiba menyentuh pundakku pelan, walaupun aku tidak menoleh kepadanya dan hanya tertunduk


Sebuah napas keluhan keluar dari mulutku, selai aku perlahan mencoba menatap matanya setelah bertingkah seperti anak kecil yang sedang marah sejak tadi. Dan dia hanya menyapaku dengan sebuah senyuman yang menghangatkan suasana


Mata kami berdua kemudian menoleh kembali kearah tempat Seren terkubur


Lalu Verdea pun membungkuk setengah lutut ke tanah, seakan sedang memberi hormat kepadanya. Semua orang terlihat terkejut melihat hal itu, karena Verdea tidak diharuskan untuk membungkuk kepada Seren. Aku bahkan tidak seharusnya membungkuk kepada Seren


Dia adalah tamu yang terhormat. Tamu yang diakui oleh Seren sendiri, sehingga posisi mereka adalah sama. Bukannya salah, tetapi memberi hormat dengan cara itu sama sekali tidak diperlukan


Tetapi Verdea tidak peduli. Dia kemudian meletakkan tangan kanannya di dada, seakan sudah siap memberikan isi hatinya untuk yang terakhir kali kepada Seren


"Maaf aku baru memberikan hormat dengan jelas kepadamu hanya disaat kepergianmu ini..." Dia mulai berkata


"Aku punya banyak hal yang masih ingin kubicarakan untuk menghabiskan waktu denganmu. Tetapi sungguh disayangkan perpisahan terjadi diantara kita dengan sangat cepat


Aku ingin mulai dari rajamu yang keras kepala ini. Aku hanya akan bilang : Kamu bisa selalu tenang. Bisa kujamin kalau rajamu ini akan menjadi raja terbaik yang akan dilihat Miralius jika dia berada di sisiku. Aku akan selalu menjaganya, begitu juga sebaliknya...


Kamu bisa memegang janji itu. Jika aku ingkar, maka namaku bukan Verdea Hortensia ataupun Regulus lagi"


...

__ADS_1


"Sampaikan juga kepada Aestas aku berterima kasih..."


Eh...?


Kenapa Verdea bicara seakan dia kenal Aestas dengan baik...?


"Lalu yang terakhir..." Verdea melanjutkan. "Aku sungguh ingin berterima kasih kepadamu karena sudah mengakui diriku sebagai teman Vainzel, dan karena kamu sudah membawaku terbang diatas punggungmu walaupun hanya sekali"


...


Itu sangat terdengar seperti Verdea...


Dia selalu saja membahas hal kecil yang membuatnya senang, dan selalu merasa harus berterima kasih atasnya...


"Maka aku juga harus memberi hormat"


Belum sempat aku menoleh, kami semua pun sudah melihat Veskal mengikuti posisi Verdea dan memberi hormat kepada Seren


Anak ini juga hah...?


"Tidak banyak, jadi aku hanya akan bilang, terima kasih karena sudah melindungiku disaat Yael menyerang kami dulu" Veskal pun berkata


Hmph...


Aku menoleh kearah yang lain. Yang kumaksudkan adalah semua orang yang ada disana


Mungkin aku harus menggerakkan mereka sedikit. Mungkin beberapa kalimat bisa bekerja...


Aku pun membalikkan badanku untuk menghadap mereka semua


"Salah satu penjaga kita sudah tiada. Penjaga yang dipercayakan oleh tuan kita yang sebelumnya, Aestas, telah pergi menyusul mendiang rajanya. Tapi aku hanya berharap satu hal dari kalian semua...


Jangan hanya anggap kalau kepergiannya hanyalah sebuah kemalangan! Anggap ini sebagai titik tumpu kita untuk bergerak lebih jauh menuju masa depan! Menuju tempat dimana kita selayaknya berada, membuat cerita di sepanjang perjalanan itu untuk diceritakan kepada mereka yang telah pergi disaat kita menyusul!


Jadi hargailah keputusannya! Dia tidaklah menyerah untuk mempertahankan hidupnya, tetapi dia justru sudah yakin kalau kita tidak akan butuh perlindungannya lagi! Dia sudah percaya kepada kalian semua kalau kalian bisa!"


...


"Dia sudah percaya kepadaku kalau aku bisa...!"


...


"... Biarkanlah dia terbang bersama dengan angin, teman-temanku. Dia memiliki hak untuk bisa terbang bebas juga. Tetapi aku yakin...


Selagi dia terbang dengan bebas, dia akan membawa angin untuk menuntun kita ke jalan yang lebih baik"


Aku sangat yakin akan hal itu


Kematian Seren adalah salah satu kejadian terbesar yang terjadi di masa kekuasaan milikku. Tetapi hal itu adalah titik tumpu terbaik bagi kami semua. Itu adalah jalan yang telah dibuka oleh Seren, sebuah pesan darinya kalau kami harus maju


Jadi aku ingin tahu pendapat kalian. Apakah kalian akan memberikan apa yang Seren inginkan, atau menolak untuk maju dari titik tumpu itu...


Dan jawabannya, sungguh membuatku puas


Setiap orang yang ada disana mulai membungkuk hormat kepada Seren. Dan yang memulainya lagi-lagi bukanlah seorang Elf, tetapi seorang wanita manusia yang merupakan Eleanor


"Aku ingin berterima kasih kepada Eldwyrm yang terhormat karena sudah menyelamatkan para penduduk kota yang kucintai di hari itu" Dia berkata


Lalu yang mengikutinya tepat bersamaan adalah Zaphir, disusul oleh Albert


"Kehormatan bagiku untuk bertarung di sisimu dalam perang besar itu. Karena itu aku harus berterima kasih untuk sesekali" Zaphir berkata


Lalu Luna yang membungkuk


"Aku berterima kasih karena kamu sudah mau menjadi pembimbing kami. Tanpamu, aku tidak akan pernah bisa menjadi seseorang yang bisa hidup dengan nyaman"


Lalu teman-temanku yang lainnya. Disusul para petinggi, para Elf, Black Hunt, penduduk kota Andromeda, Leshy, Claudia, Natasha...


Dan yang paling mengejutkanku adalah Ayahanda yang baru saja kami keluarkan dari peti yang kami bawa


Tetapi tidak ada yang tahu identitas aslinya, selain teman-temanku. Dia menyamar diantara kumpulan para Elf cahaya, membungkuk hormat kepada seorang naga yang seharusnya memberi hormat kepadanya


Ayah dari para Elf justru membungkuk di hari itu, bersama semua orang. Dan hanya aku yang tersisa berdiri sendiri disana


...


Karena itu pun aku membungkuk dengan sebuah senyuman, di sisi kedua teman terdekatku


Teman-teman yang hanya tersenyum usil seakan mereka sudah merencanakan hal ini terjadi


"Matamu sungguh menjelaskan siapa dirimu sekarang ini" Verdea berkomentar


Veskal bahkan terlihat setuju, walaupun tidak menunjukkannya dengan jelas


"Memangnya ada yang aneh?" Aku bertanya kepada mereka


"Justru sebaliknya. Jarang sekali aku bisa melihat tatapan mata yang berwibawa dan gagah seperti itu, terutama dari seseorang yang sangat ceria sepertimu


Sangat disayangkan, tapi orang yang bisa kubandingkan denganmu sekarang ini hanyalah Julius. Bahkan kamu terlihat jauh melampaui karismanya


Tidak ada raja di dunia ini disaat ini yang bisa melampauimu sekarang. Perkataanku yang tadi kepada Seren ada benarnya bukan?"


'Dia akan menjadi raja terbaik yang Miralius pernah lihat'


Hah...! Apapun itu yang dikatakan anak ini...


Padahal dia membahas soal Miralius tadi, tapi sekarang malah membahas soal dunia yang sekarang...


...


Seren...


Kamu bisa dengar kah...?


...


Tangan kanan yang kuletakkan di dadaku. Masih ada satu hal lagi yang harus kukatakan kepada Seren


...


"Terima kasih karena sudah percaya kepadaku. Aku tidak akan membuatmu kecewa"

__ADS_1


Jadi terbanglah dengan angin, menuju tempat dimana Aestas berada. Kami sudah bisa melihat jalur yang telah dibuat olehmu, dan kami berjanji akan menjalaninya dengan baik


Sampai jumpa, teman lama. Sampai jumpa, penjaga masa lalu yang tidak akan terlupakan


__ADS_2