
...
"Claudia..."
"Ya, aku disini"
Wanita itu menyambut tangannya dengan lembut, dan meletakkannya di pipinya yang berair karena air mata
"Oh..... Claudia... Aku... Tidak bisa... Melihatmu..."
"Tidak perlu. Sentuh saja aku seperti ini, sampai kita terpisah..."
"... Kenapa... Kita harus terpisah...?
Jangan bilang... Kamu tidak ingin... Bersamaku lagi...?"
"Tidak, tidak...!"
Claudia menggelengkan kepalanya dengan lemas, menatap wajah Darwin yang sudah semakin lemas itu
"Aku akan selalu bersamamu. Aku sudah menunggumu di tempat yang jauh"
"... Kenapa...? Kamu bicara... Seakan kita akan... Mati..."
"... Benar juga"
Claudia tersenyum di tengah tangisnya, perlahan mengecup telapak tangan Darwin dengan lembut
"Kita tidak akan pernah mati. Jika kita terbangun di tempat yang sama nanti, aku akan selalu bersamamu hingga akhir"
"... Dimana... Tempat itu...?"
"Entahlah...
Aku hanya tahu kalau tempat itu sangat jauh, dimana tidak ada satu makhluk hidup pun yang bisa mencapainya"
"Maksudmu... Miralius...? Tempat itu kuburan bagiku... Tapi tidak pernah bisa... Kumasuki..."
Claudia tertawa kecut, dengan tubuh yang mulai bergetar dan air mata yang semakin deras
Di dalam hatinya dia tahu, kalau dia hanyalah sebuah tiruan dari mendiang Claudia. Tetapi, mewarisi seluruh hal dari Claudia yang asli, dia bisa merasakan rasa sakit yang mendalam. Sebuah rasa sakit yang kedua Claudia itu mampu rasakan dalam situasi ini
"Hey, hey--! Kamu ingat bagaimana kita bertemu pertama kali dulu--?" Claudia bertanya
"Ah... Waktu itu... Siapa yang... Bisa menyangka hal itu...?"
"Benar bukan? Sejujurnya-- Aku menyangka kalau aku akan-- Mati di waktu itu!"
"Wajahmu indah... Seperti bulan... Bulan yang itu..."
Claudia terus mengangguk, ketika Darwin menunjuk kearah bulan diatas mereka
"Itu juga misi pertamaku-- Yang gagal--"
Tetapi, hal itu adalah sebuah kegagalan yang manis...
......................
--- Ratusan tahun yang lalu, di sebuah kerajaan lama ---
...
"Hah? Penyusup ini wanita??"
Pria muda itu menyodorkan wajahnya untuk melihat lebih dekat wajah wanita yang ditahan oleh pasukannya itu
*Puh!*
...
"Dan dia itu wanita yang lancang, tanpa tata krama. Bisa-bisanya kamu meludahi wajah pangeran sepertiku ini"
Diludahi, dia pun mengeluarkan sapu tangannya dan menghapus bekas ludah itu dari wajahnya, selagi wanita itu mendengus kesal
"Tenang saja. Kamu itu sama sekali bukan pangeran lagi"
...
Pria itu terdiam, kemudian mulai tertawa hingga bahkan membuat kedua prajurit dan orang yang ditahan mereka terlihat bingung
Dia pun mengambil sebuah belati yang tergeletak di lantai tepat di belakangnya. Ujung dari belati itu mulai di tusukkan sedikit ke ujung jarinya, untuk memastikan ketajaman benda itu
Setelah itu, dia pun berbalik dengan sebuah senyum sinis
"Aku tahu"
Dan saat semua orang menyadarinya, belati itu membelah leher salah satu prajuritnya. Tidak butuh waktu lama untuk prajurit yang kedua memiliki leher yang robek juga
Keduanya pun jatuh ke lantai, membuat wanita itu terkejut dengan apa yang terjadi
Dia terdiam dan tubuhnya membeku. Tidak sedikitpun dia menyangka, kalau pangeran dari kerajaan itu akan membunuh prajuritnya sendiri. Tapi hal itu baru saja terjadi di hadapannya, dan itulah yang membuat dia membeku
Sebelum dia sadar, pangeran itu pun membuatnya terkejut dengan mengangkat wajahnya hingga mata mereka bertemu. Wajah yang masih memiliki darah tertempel di pipinya itu, membuat wanita itu terkejut setengah mati
Dan dia tersenyum dengan sangat lebar, seakan tidak sedikitpun penyesalan terlihat di wajahnya. Seringai yang sangat lebar, seakan orang yang disebut sebagai pangeran itu adalah seekor iblis yang datang langsung dari neraka
Takut, wanita itu pun menutup matanya, menyiapkan dirinya ketika pisau itu akan menusuknya juga
...
Sudah beberapa detik berlalu, dan pisau itu sama sekali tidak menyentuh kulitnya sedikitpun
Justru, ketika dia membuka matanya, wajah pangeran itu masih terlihat tersenyum
Tidak lama, dia pun merasakan kalau badannya diangkat. Pangeran itulah yang mengangkatnya ke dekapannya, kemudian mulai berjalan diantara lorong istananya
Dia masih diam, tanpa petunjuk apapun tentang situasi yang membingungkan itu
"Kenapa? Aku sedang menyelamatkanmu loh~"
...
"Tentu saja aku bingung! Lepaskan!!"
Tetapi belum sempat dia bergerak, pangeran itu memotong perbuatannya dengan sebuah suara yang menyuruhnya untuk diam
"Masuklah ke kamarku. Dan disana, putar sebuah gambar seorang ratu di dinding hingga mereka terbalik. Jalan rahasia akan terbuka nanti, dan pergilah melaluinya. Kamu bisa melakukannya bukan?"
...
Rasa ragu masih menempel di hatinya. Tetapi...
Wanita itu juga masih ingin tetap hidup. Jadi, dia harus mencari cara apapun itu untuk keluar
Dia pun mengangguk, merespon sang pangeran yang mulai tersenyum lagi dengan balasan itu
"Boleh aku minta namamu?"
"... Claudia. Hanya Claudia"
"Nama yang bagus. Mirip seperti nama seorang ratu di masa lalu kerajaan ini"
Wanita itu pun perlahan diturunkan, dan dia bisa langsung merasakan sebuah nyeri di kakinya karena sudah berkelahi dengan para prajurit tadi
"Kamarku ada di ujung lorong ini, lalu belok kanan. Pintu paling besar yang berada di kirimu adalah pintu masuknya"
"... Pangeran"
"Hm? Kenapa?"
"Kenapa kamu ingin menyelamatkanku? Aku sudah membunuh orang tuamu, kamu tahu?"
...
...
Pangeran itu pun berpaling sedikit. Dan senyumnya yang hilang digantikan oleh ekspresi gusar itu, membuat wanita itu terkejut
Dia sama sekali tidak menyangka, sebuah wajah gusar penuh kesedihan bisa menempel di wajah orang yang terlihat sadis itu
"... Aku yang sudah membayarmu untuk membunuh mereka"
Dia terkejut mendengar perkataan sang pangeran, hingga secara refleks mengambil satu langkah mundur
"... Sudahlah. Pergi dan teruslah hidup"
Tanpa sepatah kata lagi, pangeran itu pun menyerahkan belati yang ada di tangannya kepada si wanita, kemudian berbalik tanpa sepatah kata lagi
Wanita itu mematung sejenak. Tetapi setelah beberapa saat...
"Pangeran!"
...
Panggilan untuknya itu membuat dia melihat balik kearah sang wanita yang sekarang terlihat bingung
"... Siapa namamu?"
...
Itu pertama kalinya dia menanyakan nama seseorang. Itu pertama kalinya dia peduli kepada seseorang hingga membuatnya penasaran. Itu pertama kalinya dia memikirkan sesuatu di luar pekerjaannya
Tetapi...
Dia justru ditertawakan, hingga membuat dia merasa bodoh
"Ya ampun! Seharusnya kamu tahu! Siapa coba yang bisa tidak tahu nama penerus sebuah kerajaan!"
__ADS_1
Walaupun tawa pangeran itu mulai dia tahan, si wanita merasakan sebuah rasa malu yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya
Rasa malunya kali ini memuncak, hingga dia tidak tahu harus berbuat apa lagi dan hanya ingin menghilang
"Baiklah, sudah cukup menggodamu...
Namaku hm...? Namaku Darwin"
Dia mengangkat kepalanya mendengar jawaban itu, hingga matanya mulai berseri
"Darwin saja?"
Pangeran itu menggelengkan kepalanya
"Darwin von Ziegler. Ingat itu dan jangan lupakan"
......................
--- Keesokan harinya, di sebuah kedai ---
"Hey Claudia!!"
"Uwah-!!! Apa???"
"Heh~? Termenung sendirian sejak tadi~ Pasti memikirkan seorang pria"
"A- Bukan urusanmu, Gerta! Jauhkan hidungmu dari urusanku" Claudia membalas, ditambah wajah berpaling
Wanita yang mengganggunya itu pun duduk di sampingnya, selagi Claudia meminum habis segelas susu hangat yang dia beli
"Sebenarnya cukup bagus kalau kamu berpikir seperti wanita normal. Maksudku... Aku tahu kamu sejak kecil"
"Kenapa juga wanita menyebalkan sepertimu harus melatihku coba?"
"Hey~! Aku bisa dengar gumaman itu loh~"
Claudia mendengus kesal, selagi Gerta hanya tertawa kecil
...
"Aku tahu kehilangan orang tuamu dan dipaksa berlayar jauh hingga kemari itu berat. Tetapi, aku hanya akan bilang kalau kamu tidak seharusnya kehilangan masa muda mu juga" Gerta berkata, meneguk gelas bir miliknya
"... Begini saja cukup. Aku juga tidak punya tujuan lain di hidupku selain mengikuti misi..."
"Lalu, kenapa kamu termenung seperti itu dan hanya duduk disini?"
Claudia kehabisan akal. Dia baru sadar kalau semua hal itu tidak biasanya dia lakukan ketika semua temannya masih berkumpul. Dia hanya duduk diatas meja itu ketika semua temannya sudah pergi, hanya ditemani oleh segelas susu hangat dan pemilik kedainya
Jika dipikir-pikir lagi, jarang sekali dia bicara dengan Gerta dengan suasana 'normal' ini. Dia tidak berpikir kalau kata normal itu akan terlintas lagi di kepalanya
"Jadi, bisa beritahu apa yang kamu pikirkan~?"
"Tidak. Aku tidak mau"
Claudia menjauhkan wajah Gerta dari dekatnya, kemudian menggeser dirinya sendiri sedikit lebih jauh dari Gerta
"Ayolah~"
Tetapi Gerta tidak menyerah dan terus mendekatinya hingga Claudia terjatuh
"Apa yang salah denganmu, wanita??" Claudia meneriakkan
"Kamu juga wanita bukan? Lagipula, aku akan tetap bersikeras mencari tahu"
Claudia terbelalak mendengar hal itu
"Tu- Tunggu! Sebaiknya jangan!"
Dia tahu betul kalau Gerta ingin mencari tahu sesuatu, dia akan menyuruh seseorang. Dan siapa tahu, orang itu justru akan menyebarkan apa yang dia ketahui dengan orang lain
"A- Aku akan beritahu nanti. Ini privasi!"
Gerta pun tersenyum tanda menang
"Diterima~"
Claudia pun menghela napasnya, antara merasa lega dan merasa gusar. Mungkin keduanya
...
"Harus kuakui, ceritamu sedikit lucu dan imut"
"Sudah kuduga kamu akan mengatakan hal itu!!"
Claudia yang frustasi langsung melempar pisaunya kearah tembok, tepat mengenai kepala gambaran Gerta yang terlihat tidak mirip dengan yang aslinya karena dia membuat coretan gambaran itu sendiri
"Kenapa? Itu pujian loh~?"
"Kamu bilang ceritaku itu lucu!!"
"Habisnya, siapa coba yang tidak mengetahui-"
Gerta melanjutkan dengan tawa kecil melihat ekspresi Claudia, kemudian mulai berbaring di ranjang Claudia
"... Lalu, apa yang akan kamu lakukan mengenai pangeran itu?" Gerta pun bertanya
...
Claudia diam tidak tahu harus menanggapi apa
Dia tidak pernah memikirkan sesuatu sejauh itu, kecuali mengenai jalur keluar masuk dari tempat dia menyusup. Itu sebabnya dia bingung sekarang
"Menurutmu aku harus apa?" Claudia bertanya
"Entah~ Cari tahu sendiri sana!" Gerta menjawab, memutar badannya
"Kamu ini suka sekali membuatku kesal!!!"
Gerta tersenyum, melihat kearah Claudia yang menjongkok ke lantai. Dia perlahan bangun dan duduk kembali di hadapan gadis itu
"Apa yang dikatakan hatimu?"
...
Claudia hanya diam, tidak bisa menjawab dengan sesuatu yang ada di kepalanya
Tetapi jika Gerta menyarankan apa yang ada di hatinya...
"... Aku ingin bertemu dengannya lagi. Aku masih penasaran dengannya"
Claudia membuka dirinya kepada Gerta. Itu pertama kalinya dia jujur kepada dirinya sendiri
Gerta mengangguk paham dengan senyum penuh rasa sedih
"Kalau begitu, pergilah. Pastikan jika kamu kembali, tubuhmu itu masih utuh"
......................
--- Beberapa hari kemudian ---
...
...
"Halo"
"... Aku yakin kalau aku tidak meminum alkohol tadi malam..."
"Ini aku yang asli, jadi berhenti berpikiran yang lain"
Darwin melihat sosok yang dia jumpai dan menghilang di malam itu sekali lagi di hadapannya. Sekarang, Claudia berada di hadapannya, dengan sebuah baju layaknya seorang pelayan
Dia tidak percaya dengan hal itu sehingga mulai mencoba melihat setiap ujung tubuh Claudia dari atas kasurnya
...
"Kamu cantik dengan pakaian itu"
"Sayang sekali pujian tidak akan bekerja padaku. Bangunlah, yang mulia!"
Claudia merampas selimut Darwin dan mulai melipatnya, selagi Darwin turun dari sana dengan wajah yang masih dipenuhi pertanyaan
Kepalanya kosong karena tidak menyangka hal itu terjadi. Dia sekali lagi menengok kearah Claudia yang masih mencoba melipat selimutnya, kemudian berpaling dengan wajah yang tidak berkurang bingungnya
...
"Jadi, kenapa kamu memanggilku kemari? Semua pelayan bahkan berkata kalau aku mungkin akan kamu hukum mati"
"Yah. Seseorang yang tiba-tiba masuk kamar raja dari kerajaan ini dan membangunkannya di pagi buta, kemudian bertingkah seakan ini rumahnya tentu akan mengundang gosip bukan?"
"Detail sekali. Kamu cukup cerdas, walaupun kesan pertamaku kepadamu itu 'brutal' dan 'haus darah'"
Darwin hanya tertawa kecil selagi terus berjalan di samping Claudia
...
"... Aku mengundangmu kemari karena aku ingin bertanya" Darwin berkata
"Soal kenapa aku disini? Itu karena aku menyelinap"
"Lalu... Kenapa kamu menyelinap kemari?"
"Karena aku penasaran denganmu. Mengawasi dirimu sekarang adalah 'misi' untukku"
"Jadi kamu mata-mata?"
"Tidak terlalu tepat. Aku hanya mengamati untuk diriku sendiri saja. Aku adalah klien diriku sendiri"
__ADS_1
...
Darwin menyadari satu hal dari cara bicara milik Claudia, yang juga ditunjukkan oleh sikapnya yang bisa meniru perilaku seorang pelayan itu
"Kamu bicara seakan hidup itu hanya dipenuhi misi"
Claudia menoleh kearah Darwin, kemudian menghela napasnya
"Kali ini tidak. Ini misi pertama yang kubuat, tetapi ini juga tidak bisa disebut misi" Claudia menjawab, dengan kepala tertunduk
"Perkataanmu itu kontradiktif"
"Lalu bagaimana aku harus menggambarkannya selain seperti itu?"
Darwin terdiam tidak tahu harus menjawab apa
Lalu, di tengah kesunyian mereka itu, seorang pembawa pesan datang ke hadapan Darwin, membawa sebuah kabar dengan napas terengah-engah
"Yang mulia...! Yang mulia...! Saya mendapatkan kabar..."
Nadanya yang panik itu, membuat insting Darwin berkata kalau berita itu tidak akan bagus. Dia meminta pembawa pesan itu untuk melanjutkan ucapannya, dengan menegakkan kepala orang itu ke hadapannya
"Saya... Saya melihat pasukan Orion berjalan kemari... Untuk menghancurkan kita...
Jumlah mereka sangat besar! Aku tidak tahu harus apa lagi melihat-"
Darwin langsung menutup mulut orang itu. Apa yang dia dengar sudahlah cukup
"Jadi begitu. Tidak cukup mereka mengelabui sejarah, mereka juga ingin memusnahkan semua orang yang menentang mereka"
"Benar begitu! Karena pemujaan kita kepada Lazarus dibandingkan kepada Marcellus, mereka-!"
"Mereka bodoh sudah menentang kita"
Tetapi, dari kabar itu saja Darwin mengetahui, kalau lawannya bukan hanya Orion. Mereka bukanlah kerajaan yang memiliki pasukan besar untuk saat ini, mengingat kalau Lazarus sudah membuat kekacauan disana tidak beberapa tahun lalu
"Itu artinya, mereka bersekutu dengan semua negara hanya untuk menyerang dan menghancurkan kita..."
Darwin terlihat kesal disaat itu
Diantara semua kerajaan manusia yang memuja Lazarus, hanya kerajaan mereka saja yang tersisa dan masih berpegang teguh. Jika mereka hancur, seluruh penggambaran tentang Lazarus akan diubah menjadi hitam sepenuhnya
Sejarah hanya ditulis oleh pemenangnya, dan itulah sebabnya Darwin tidak ingin kalah, meninggalkan sebuah fakta terpendam yang sejarah harus ketahui
Tetapi, melawan pasukan sebanyak itu, dia harus mengetahui setiap anggotanya dan mengetahui kelemahan mereka. Sayang sekali, para pengintainya pasti akan menolak misi itu karena ketakutan
"... Siapa pengintai terbaik kita? Aku ingin orang itu segera dikirim untuk menggali informasi pasukan itu" Darwin berkata
"Baik. Saya akan segera menyampaikan pesan ini kepadanya"
Pengintai...
Kata itu terngiang di kepala Claudia, selagi dia secara sadar mengangkat tangannya hingga menarik perhatian kedua orang yang sibuk berbicara dari tadi itu
"Aku bisa" Dia berkata tanpa sedikitpun keraguan
Mata Darwin langsung terbelalak, namun perlahan menunjukkan sebuah ketertarikan. Dia tertarik dengan pengajuan diri milik Claudia, dan karena itulah, senyumnya pun mulai terbentuk
......................
--- Satu bulan kemudian ---
...
...
"Kita menang..."
Darwin duduk di bawah pohon itu, menutup wajahnya, dan tertawa
Claudia yang duduk di sampingnya itu hanya tersenyum manis melihat betapa senangnya raja yang dia layani itu
Dia terus bercerita panjang lebar bagaimana pasukannya bisa mengalahkan semua orang disana, tanpa menimbulkan satu korban pun dari sisi mereka
Bagaimana mereka membakar bagian hutan itu, membuat sebuah kandang berapi yang memusnahkan setiap musuh mereka dengan panah dan pelontar batu
Mereka bahkan tidak perlu menyusahkan Lazarus yang harus berurusan dengan adiknya berkali-kali. Para pendukungnya akan tetap ada di dunia, dan terus mendukung Lazarus hingga tujuannya tercapai
"Ahaha...! Seandainya kamu bisa melihat wajah ketakutan mereka..." Darwin berujar pada Claudia
"Tidak perlu. Dari wajahmu yang senang saja aku sudah tahu mereka seperti apa"
"Betul! Tapi, yang membuatku sangat senang saat ini adalah karena kita bisa menang melawan pasukan sebanyak itu!"
"Hm hm~ Kamu sangat senang, dan aku juga ikut senang karena itu"
...
Darwin tertegun melihat Claudia yang sibuk menyiapkan teh. Dia perlahan duduk tegak dari tempatnya bersandar, menatap kearah Claudia dengan wajah penasaran
...
"Claudia, kamu tahu? Hanya dirimu saja yang memanggil diriku, seorang raja dari kerajaan ini, dengan kata 'Kamu'" Darwin berkata
Claudia pun tersentak
"Oh, maaf. Apa itu menyinggungmu?"
"Entah kamu berniat melakukannya lagi, atau itu sudah kebiasaan..."
Claudia langsung menunduk malu, mendengar respon Darwin. Dia perlahan memainkan rambutnya seperti biasanya ketika dia gugup
Melihat tingkah Claudia itu, Darwin langsung mendapatkan sebuah kesan wanita yang imut darinya. Dan karena itu, dia pun mengambil rambut Claudia di sisi lainnya, kemudian mengecup rambutnya itu perlahan
Claudia tentu terkejut dengan gerakan mendadak itu, dan refleks mengambil langkah menjauh, melihat Darwin yang langsung tertawa kecil karena hal itu
"Aku tidak mungkin tersinggung dengan orang yang sudah membantu kemenangan negeri ini. Lagipula, aku tidak menyangka kamu itu setia kepada perintahku" Darwin menjawab
Senyumnya berubah disaat itu. Lebarnya sama, namun kesannya berubah di mata Claudia
Senyum itu tidak terkesan sadis seperti biasanya. Wajah itu menunjukkan kalau dia hanya senang, layaknya orang biasa
Sebuah senyuman tanda senang yang hangat
...
"Kamu bisa juga tersenyum seperti itu...?" Claudia bergumam dengan sebuah senyuman yang mengikuti Darwin
"Oh? Memangnya kenapa?"
"Tidak ada. Sepertinya... Aku memang belum mengetahui semua sisi yang ada pada dirimu..."
Darwin hanya menggelengkan kepalanya, kemudian mendekatkan wajah mereka dengan satu sama lain sembari memegang tangan Claudia
"Kalau begitu, aku beri kamu sebuah tantangan
Bongkar isi hatiku, nyonya penyusup"
...
Claudia tersenyum remeh menatap Darwin, dan berkata "Aku terima, tuan sadis"
Mereka saling tertawa bersama satu sama lain, selagi menghabiskan waktu meminum teh yang sudah disiapkan
......................
--- Kembali ke masa kini ---
"Dan aku menang... Aku berhasil..." Claudia berbisik
Darwin hanya tertawa lemas untuk menanggapinya, dengan sebuah senyum lebar di wajahnya
Kisah cinta itu sesungguhnya membosankan di mata orang lain. Sesuatu yang biasanya bisa mereka dengar di atas sebuah panggung setiap harinya sekarang ini
Hanya saja, itu kisah cinta mereka berdua, dan hal itu tentu membekas di hati mereka berdua hingga kini
"Aku bahkan masih ingat... Betapa khawatirnya aku ketika kamu... Pergi dalam misi..."
"Orang-orang berkata kalau kamu kadang menangis semalaman karena rasa takut--"
...
"Kamu meluluhkan hatiku... Aku membayarmu untuk membunuh orang tuaku... Karena aku tidak menyukai keputusan mereka...
Dan siapa sangka... Nyonya penyusup akan... Membuatku jatuh cinta... Bahkan hingga aku... Memberinya nama baru"
Dolores. Itulah nama bangsawan yang diberikan kepada Claudia oleh Darwin...
"... Bahkan dengan beraninya, dia menggandeng tanganmu bukan--?"
"Haha... Aku jadi ingat... Dengan wajah cemburu ibu asuh milikku... Kepadamu..."
"Ahaha... Benar
Dia mengira aku sudah sepenuhnya mengambil hatimu untukku, dan membiarkannya merasa terabaikan..."
"Tapi pada akhirnya... Dia yang pertama kali... Menyetujui pertunangan kita..."
"... Dia juga ibu yang baik. Kamu beruntung dia menjadi seorang ibu bagimu"
"Sayang sekali... Dia harus melihat kita berdua... Menjadi sesuatu yang tidak pernah dia bisa bayangkan..."
...
...
Wajah Darwin berubah menjadi masam ketika dia meratapi sesuatu
__ADS_1
Sesuatu memori yang tidak ingin dia ingat, perlahan terlintas di kepalanya ketika topik mengenai pertunangan itu dia ingat kembali
"Tetapi... Di hari itu..."