Book Of Flowers

Book Of Flowers
Di Tengah Badai (2)


__ADS_3

Hidup diantara bangsawan itu sangat menyusahkan, pikir Veskal


Hidup dan tumbuh diantara para bangsawan, anak ini sama sekali tidak pernah menerima kebahagiaan sedikitpun


Orang-orang melihatnya seperti orang yang sangat beruntung. Gambaran mereka akan dia dan keluarganya sangatlah indah, seperti lukisan langsung dari tangan seorang maestro dan diletakkan dalam bingkai emas yang indah


Tapi di balik gambar yang terlihat sempurna itu, mereka sama sekali tidak tahu kalau dia menderita. Seandainya mereka tahu retakan yang ada di balik bingkai itu. Retakan yang bisa menghancurkan gambaran sempurna bagi semua orang itu


"Kamu itu kesalahan!"


"Dasar tidak berguna!"


"Kamu harus bersyukur kami masih membiarkanmu tinggal disini"


"Kamu harus mematuhi perkataanku"


"Memalukan!"


"Tidak berguna"


Tidak berguna. Tidak berguna. Tidak berguna


Kata-kata itu terngiang di kepala Veskal setiap kali dia mengingat hari-hari itu. Hari-hari dimana dia hanya sendiri sebagai seorang anak kecil di tengah badai yang sangat ganas


Gelap. Dingin. Badannya bahkan hampir terbawa oleh angin yang kencang. Dan dia hanyalah seorang anak kecil. Anak kecil yang ketakutan


Anginnya sangat kencang. Mereka juga terasa dingin dan menusuk, sama seperti angin malam di musim dingin


Pembuluh darahnya terasa hampir pecah semakin lama dia di sana. Badannya bahkan terhempas selagi menggigil—hampir terbang di saat-saat tertentu


Yang dia lakukan di tengah badai itu hanyalah terus mengusahakan berjalan tanpa henti, dan berdoa agar badai itu cepat hilang agar dia tidak berakhir terkubur di dalamnya


Waktu berlalu. Detik menjadi menit. Menit menjadi jam. Jam menjadi hari, dan hari itu pun perlahan menjadi minggu kemudian bulan dan tahun


Waktu terus berlalu, dan setelah sekian lama, dia akhirnya terjatuh ke tanah. Kakinya menyerah. Anginnya kemudian terasa semakin pelan, tetapi badannya yang sudah menderita sekian lama itu terasa sangat sakit ketika terjatuh


Dia merasa sudah berada di dalam bongkahan es, dimana suhu dingin itu semakin menjadi-jadi dalam menusuk tubuhnya. Walaupun dia sudah tumbuh menjadi lebih dewasa, dia masih tidak bisa terbiasa dengan cuaca dingin itu


Hingga...


--- Angin itu semakin lama semakin menghilang...


Dan pada akhirnya...


--- Akhirnya, ada tangan yang terjulur kearahnya. Tangan pertama yang terjulur untuk membantunya...


Dan untuk pertama kali dalam hidupnya, dia menangis bahagia. Dia menerima tangan milik orang itu dan mulai berjalan di belakangnya


Langit cerah, awan gelap menghilang, dan burung-burung terbang secara berkelompok


Dia menikmati suasana itu. Dia tidak masalah jika orang yang menolongnya itu selalu berjalan cepat ke depan. Dia tidak masalah mengikuti orang yang menolongnya itu tanpa imbalan apapun


Tapi, berapa lama dia menikmati suasana itu?


Tidak lama sama sekali


Dia menyadari sesuatu ketika dia semakin bergerak maju. Tanah di depannya... Hanya dipenuhi oleh darah


Darah orang-orang yang bersalah maupun yang tidak. Pencuri dan pendosa. Bangsawan dan rakyat jelata. Darah mereka mengalir layaknya sungai, dan entah kenapa dia terus mengikuti jalur itu seakan dia tidak akan tenggelam pada suatu titik


Dan ketika dia melihat tangannya setiap kali, dia cuma melihat tangan yang berlumuran darah. Tangan yang sudah menghabisi banyak orang. Dan semakin dia melangkah, mayat orang-orang yang dia bunuh terlihat sangat jelas dan nyata di sisi jalan


Mereka meminta penghakiman yang adil atas kematian mereka. Mereka berteriak, menggerang, dan bahkan ada yang menarik kaki Veskal sampai dia hampir terjatuh


Lalu, orang yang menolongnya itu berhenti. Mata orang itu menangkap sesuatu. Sesuatu di depan mereka


Veskal ikut melihat. Seorang Elf dan seorang anak kecil berada di depan mereka kali ini, dan mereka berdua bisa menarik perhatian orang itu. Dia berpikir kalau mereka juga adalah seseorang yang harus dihabisi, tetapi...


Orang yang dia ikuti itu memberikan tatapan seakan dia mendambakan sesuatu. Sesuatu yang sudah dia cari setelah sekian lama. Dan tatapan itu diberikan kepada dua orang itu

__ADS_1


Veskal menyadarinya tanpa perlu diutarakan. Orang yang menolongnya itu bahkan tidak pernah melihat kearahnya seperti itu. Dia bahkan hampir tidak pernah melihat ke belakangnya dimana Veskal berada


Veskal bahkan tidak yakin, apakah orang itu menatapnya dengan tatapan yang menginginkan sesuatu seperti itu...


Dia ingin melihat kedua orang itu lebih dekat. Dia pun mengirim Veskal ke depan untuk mengawasi mereka


Tetapi, si Elf selalu menyadari kehadirannya. Dan menyadarinya sebagai orang asing yang berbahaya


Dia selalu menutup si anak kecil dengan jubahnya dan tetap berjalan ke depan. Veskal bahkan tidak bisa melihat apapun dari mereka, bahkan mendengarkan pembicaraan apapun yang mereka lakukan


Dan disaat itu, orang yang menolongnya menghampirinya dengan tatapan tidak puas. Dan disaat itu, Veskal langsung dibuang tanpa pertimbangan lebih lanjut


Dia tersentak dengan hal itu. Kepalanya tidak bisa memproses apapun


Dia sudah bahagia dengan apapun. Dia sudah membuang keluarganya untuk mengikuti orang itu. Dia membunuh banyak orang dan berjalan di jalan yang sama dengan orang itu


Dan sekarang, dia dibuang karena gagal dalam satu perintah yang diberikan orang itu...


"Tidak berguna"


...


Tidak berguna... Tidak berguna... Tidak berguna...


Angin kembali mengamuk. Awan hitam kembali terkumpul dan kali ini menurunkan hujan yang sangat deras


Topan terbentuk dan Veskal yang tidak melawan terbawa pergi dengan cepat entah kemana. Dia terbang terbawa angin seperti kertas yang ringan


Akhirnya dia terlontar. Dari ketinggian yang mematikan, dia terlontar dari topan itu. Dia mulai terjatuh menuju ke tanah tanpa memiliki harapan apapun lagi. Layaknya sebuah cangkang kosong tidak berarti, menunggu dirinya hancur pada suatu waktu tertentu


Perlahan dia menutup matanya. Dia pikir dia akan mati, tapi dia merasakan ketenangan


Dan dia tidak peduli dengan apapun lagi setelah ketenangan itu datang padanya


Namun...


Seseorang justru menangkapnya sebelum dia jatuh dari tanah. Dan betapa ironis dan lucunya nasib yang datang kepadanya itu


Elf itu perlahan meletakkannya di tanah seakan dia adalah suatu benda yang bisa hancur kapan saja. Seakan dia itu berharga


Dia ingin kabur. Dia malu telah ditolong oleh orang yang pernah dia ganggu itu. Tapi mereka menyuruhnya duduk. Hanya duduk


Dia akhirnya duduk, diikuti kedua orang itu. Tapi masih mencari cara agar dia bisa menjauh dari keduanya tanpa mereka perlu perhatikan lagi


Namun, kepalanya terasa tenang. Dan tidak hanya itu. Kedua orang itu akhirnya berani bicara di dekatnya tanpa menyembunyikan apapun. Bahkan seringkali mereka mengajaknya bicara dan bercanda, walaupun hal itu tidak terlalu penting


Mereka seharusnya terus berjalan. Seharusnya begitu. Tapi mereka hanya duduk di dekatnya. Duduk tanpa terus berjalan sama sekali seakan kemajuan bukanlah sesuatu yang penting bagi mereka. Mereka hanya duduk, menemani dirinya seakan...


Seakan mereka, menanti Veskal untuk ikut berjalan bersama...


...


...


...


Dia pernah memperingatkan mereka untuk terus saja berjalan dan meninggalkannya. Tapi, mereka tetap memaksa duduk bersamanya dan berkata


"Kami akan pergi jika kamu sudah siap pergi"


Menunggu. Mereka menunggunya. Mereka menunggu orang tidak berguna seperti dirinya


Kenapa? Kenapa harus dia? Dia cuma orang tidak berguna. Orang yang dibuang berkali-kali, dan terlempar kesana kemari tanpa adanya tujuan yang jelas


Tapi, dia tidak ingin menghambat perjalanan kedua orang itu. Dia berdiri tegak dan mulai berjalan, walau selalu berada beberapa langkah di depan atau dibalik mereka. Dia tidak merasa layak untuk berdiri di sisi kedua orang itu


Mereka selalu bicara dengan satu sama lain. Bercanda, membagi cerita sedih dan hal-hal lainnya


Veskal hanya tersenyum memandangi mereka. Mereka juga selalu melihat ke belakang dan mengajaknya berbicara walau dia tidak mengajak, sembari berjalan pelan agar dia tidak ketinggalan

__ADS_1


Veskal merasa puas. Dia puas bisa bersama orang yang menunggunya. Dia bahkan tidak memedulikan angin kencang yang menerpa mereka. Dia terus berjalan di belakang mereka setelah itu, bersama, dan merasa puas dengan hal itu


Semakin lama, dia semakin merasa nyaman berada di sekitar lebih banyak orang. Orang-orang yang juga memperhatikan kehadirannya


Luxor yang selalu membangunkannya setiap pagi


Lyralia yang selalu mengeluh ketika melakukan pekerjaan setelah selesai


Ivor yang selalu memasak makanan yang selalu membuatnya gembira


Ordelia yang selalu menghiburnya dengan berbagai cerita dan buku yang ada di tangannya


Lalu, Luna yang selalu melatihnya untuk menjadi lebih kuat. Melatihnya hingga dia merasa, kalau pisau yang dia pegang tidak selalu harus dilumuri oleh darah


Semua orang itu membuat dirinya merasa lengkap. Terutama kedua orang yang telah mengumpulkan semuanya itu. Dia akhirnya bisa merasa tenang walau masih harus berjalan menatapi punggung semua orang


Lalu dia bertemu Cyth di tengah-tengah perjalanan mereka


Orang yang aneh baginya, tapi terasa sama sepertinya


'Jangan anggap rendah dirimu di dekat mereka'


'Habiskan waktumu bersama mereka sebisamu"


'Dan yang terpenting, hargai setiap waktu yang kamu habiskan dengan mereka. Kamu tidak akan bisa menemukan orang seperti mereka lagi'


Cyth memberikan perkataan itu padanya. Khusus, padanya...


Veskal kemudian melihat mereka berdua dari belakang. Dia tidak paham dengan perkataan itu


Dia selalu berdiri di belakang semua orang selama perjalanannya. Dia tidak perlu menganggap dirinya terlalu tinggi karena hal itu hanya akan membuatnya sombong


Dia sudah menghabiskan cukup waktu bersama mereka. Tapi, semua orang akan pergi suatu hari. Itu sudah alami di dunia ini, bahkan untuk orang yang dia sebut sebagai keluarga


...


Dia tidak paham dengan yang terakhir. Lebih tepatnya dia tidak tahu apa makna dari keluarga. Dia mendengar akan konsep itu, tetapi selalu merasa asing dalam memprosesnya


Tetapi ketika Yael datang dan hampir membunuhnya, dia akhirnya paham ketika melihat kedua orang yang berusaha membantunya itu


Dia sudah memberi bantuan kepada anak kecil itu untuk kabur. Tapi anak itu justru hanya berusaha mencari cara untuk membantunya, walaupun yang dia perlu lakukan hanyalah berlari keluar dan meninggalkannya semata


Lalu, si Elf datang dan menghajar Yael sampai dia lari ketakutan


Dan dia semakin paham ketika dia menyadari si Elf yang membiarkan dia menangis ketakutan seperti anak kecil di bahunya


Tidak akan ada orang yang mau memberikan bahu mereka kepada seseorang tanpa imbalan. Tapi dia sudah menolong Veskal dari bahaya maut, dan dia bahkan membiarkannya menangis seperti itu


Mereka tidak pernah meminta imbalan apapun selama perjalanan itu. Mereka hanya selalu bicara dengannya, tapi tidak pernah hanya mengenai sebuah perintah atau suruhan. Mereka mengajaknya bersenda gurau seakan dia itu bagian dari keluarga mereka


Dan Veskal baru sadar, akan semua itu


Keluarga... Adalah sesuatu yang bisa dia sebut untuk kami semua, teman-temannya


Dia paham dengan perkataan Cyth. Dia tidak akan menemukan orang seperti kami lagi, sekuat apapun dia berusaha mencari


Orang-orang yang membiarkan tangan mereka selalu terjulur kepadanya. Orang-orang yang selalu mengajaknya berbicara tanpa adanya paksaan atau perintah absolut


Orang-orang yang menghargai keberadaannya, kapanpun itu


Dan disaat itu, dia melihat kearah Cyth. Kalimat halus keluar dari bibirnya, dipenuhi oleh rasa terima kasih yang mendalam


"Terima kasih sudah meyakinkanku" Katanya, sembari tersenyum sambil menangis bahagia


Dan di tengah badai itu, dia bersumpah kalau dia tidak akan membiarkan apapun menyakiti kedua orang itu


Setidaknya, itulah hal yang bisa dia lakukan untuk kami


Badai tidak pernah selesai ketika dia bersama mereka. Tapi sekarang, ada orang yang mau berjalan bersamanya. Dia sudah cukup bersyukur dengan hal itu

__ADS_1


Dia berdoa di tengah badai itu, tapi kali ini untuk kebaikan kedua temannya, dan agar badai cepat menghilang untuk mereka berdua


Dia merasa puas, hanya dengan itu...


__ADS_2