Book Of Flowers

Book Of Flowers
Seorang Anak Bernama Remina (1)


__ADS_3

--- Kota Orion ---


...


...


Kota ini bising sekali...


Aku selalu berpikir kalau Miralius itu adalah tempat paling bising karena banyaknya tawa para Elf dan Fae disana


Tapi, ketika berhasil masuk ke dalam kota ini, aku baru menyadari kalau kota manusia tidak kalah bising dengan Miralius. Aku pernah kesini, tapi baru sekarang aku merasa terganggu


Ibukota dari Kerajaan Orion ini punya wilayah yang sangat luas dan cukup padat. Banyak sekali orang-orang yang memenuhi tempat-tempat di kota ini


Entah di dalam bangunan, di lapangan, pasar, dan macam-macam lagi


Mereka berlalu-lalang, berbincang-bincang, bermain, tertawa. Segala macam suara memenuhi kota ini selagi kami berjalan diantara lautan orang-orang itu


Kami semua berpencar sekarang ini dan berusaha mencari di setiap sudut kota yang besar ini. Mereka terus memaksa ikut mencari, walaupun aku tetap menolak. Dan pada akhirnya, aku menyerah dan membiarkan mereka ikut


Ordelia menyaranku untuk pergi keluar bersamanya dan Remina untuk mencari Elf lain. Yang aku khawatirkan dari hal ini adalah Remina yang tidak memiliki penyamaran sama sekali


Tapi, seluruh tubuhnya mirip dengan manusia. Kecuali, telinga Elf nya itu. Jika kerudungnya terbuka nanti, aku yakin seseorang akan mencoba menangkapnya


Aku ingin langsung mengirimnya ke Miralius, tapi dia masih menolak dan bersikeras pergi dengan kami. Padahal kami sudah memperketat keamanan disana


Walaupun memang tidak ada satupun dari kami yang diam dan tinggal disana, aku sudah mempersiapkan tempat teleportasi tersembunyi jika ada keadaan darurat disana.


Aku juga sudah meletakkan sebuah benih pelacak di dekat Seret


Jadi, jika ada yang menyerang tempat itu lagi, aku akan tahu semenjak mereka menginjakkan kaki di dekat Seren. Kami akan berteleportasi kesana dan menghalau pengacau itu


Dan yang kami perlukan hanyalah sebuah batu teleportasi yang kami miliki masing-masing 1 untuk berteleportasi. Tapi, sejauh ini kami belum pernah berteleportasi darurat kesana. Para Elf yang kukirim kesana juga tidak memiliki masalah lebih lanjut, jadi segalanya benar-benar aman disana


Aku tidak bisa membiarkan kejadian 5 tahun lalu itu terulang lagi. Apapun itu, aku akan lakukan yang terbaik untuk melindungi mereka kali ini


Dan mengenai Miralius, hutan itu memang sudah mati semenjak inti Pohon Agung diambil. Hal itu juga mengakibatkan aku tidak bisa berkomunikasi dengan Ayahanda. Tapi, para Elf yang tinggal disana sekarang ini harus mengisi tempat itu dengan Mana secara konstan untuk sementara waktu


Misiku bertualang sekarang ini bukan hanya untuk mencari para Elf, tapi juga inti dari Pohon Agung. Inti Pohon itu tidak bisa dihancurkan, tapi bisa digunakan untuk sesuatu hal


Sebenarnya aku tahu dimana posisi inti Pohon itu sekarang. Tapi, aku merasakan alau intinya sudah dipecah-pecah menjadi 5


Yang pertama ada di Crux, mungkin karena kakek tua itu yang memegangnya. Yang kedua ada di benua Sahra. Tapi, aku tidak tahu kenapa inti Pohon itu bisa sampai disana, dan aku tidak juga berani pergi ke sana untuk mengetahuinya. Dan sisanya berada di benua Flos, tepatnya di istana Hortensia. Tiga Inti terakhir itu mungkin dipegang oleh Rosalia dan Yael


Aku tidak tahu ada berapa orang yang terlibat langsung dengan mereka, tapi mengingat kalau seluruh dunia sedang memburuku sekarang ini, aku menganggap seluruh manusia menjadi musuhku untuk sekarang


Dan untuk mengambil inti Pohon itu....


Aku rasa akan mustahil untuk sekarang. Mereka bisa memfitnahku dan membuat seluruh dunia melawanku semudah menjetikkan jari. Jika aku melakukan sesuatu kepada mereka lagi dalam waktu dekat ini, aku yakin kalau situasinya justru akan bertambah parah


Aku benci ini. Suasana meriah di kota ini bahkan tidak bisa kunikmati seperti biasanya karena pikiranku yang terlalu banyak


Aku ingin mencoba meringankan kepalaku, tapi rasa bersalah dan tanggung jawab selalu hinggap dan menyeretku


Aku hampir tidak punya waktu istirahat akhir-akhir ini...


...


"Tuan Oberon?"


Remina yang memperhatikan aku yang diam daritadi menatapku dengan wajah polos


"Banyak pikiran lagi, ya...?" Ordelia berkata dengan wajah murung


Ah....! Aku merusak suasana lagi...!


"Maaf. Aku hanya merasa sedikit lelah"


"Tidak apa-apa. Kami semua juga lelah" Ordelia membalas

__ADS_1


Entah kenapa, tapi nadanya yang terasa sarkas itu membuatku sedikit kesal


Remina kemudian bingung dengan kami yang saling membuang wajah dari satu sama lain. Dia bertukar menatap antara aku dan Ordelia sesekali selama beberapa saat


"Oberon dan Titania kenapa?" Tanya Remina yang mulai terlihat gelisah


"A-! Aku belum jadi seorang Titania, Remina" Ordelia dengan gugupnya menjelaskan pada Remina


Dia kemudian beralih menoleh kearahku dengan tatapan kesal dan berkata, "Dan mungkin tidak akan sampai ratusan tahun mendatang"


Ada apa dengan dia coba?


Sudahlah. Aku jadi semakin tidak mood. Lebih baik aku percepat saja pencarian Elf hari ini. Toh, matahari sudah mau tenggelam juga


"Kita kembali ke penginapan saja" Aku berkata sambil berjalan balik ke penginapan, meninggalkan Remina dan Ordelia yang masih diam di lapangan kota itu


...


"... Apa kita melakukan kesalahan?" Tanya Remina


"Tidak. Memang dia saja yang kepala batu" Balas Ordelia sambil tersenyum


"Sudah. Aku akan belikan permen untukmu sekalian kita berjalan pulang"


"Asyik!"


Remina dan Ordelia kemudian berjalan dengan riangnya sambil bergandengan tangan mengikutiku


......................


"Bagaimana?"


Zaphir langsung menyambutku dengan wajah serius di dalam penginapan


Sementara itu, Luxor tertidur dengan pulasnya. Dan dari yang terlihat....


... Dia sama sekali tidak keluar ya...? Aku yakin sepenuhnya kalau Luxor sama sekali tidak ikut kami mencari Elf yang hilang


Hanya Luxor dan Zaphir saja yang sudah kembali. Teman-temanku yang lainnya masih belum kembali dari pencarian mereka


"Tidak ada lagi. Aku sudah meminta semua tanaman di kota ini untuk mencari yang masih belum ditemukan, tapi sudah tidak ada lagi yang tersisa di kota ini" Aku menjawab


".... Tapi, orang tuamu dan Petinggi Fyon belum ditemukan sama sekali"


...


"... Aku tahu itu Zaphir. Dan jangan sarankan kita pergi ke Crux dan Hortensia"


"Tapi-!"


"Hey Zaphir...."


Kami berdua terdiam untuk sementara waktu


Aku selalu ingin menanyakan hal ini padanya. Semenjak beberapa tahun lamanya, sejak dia berpisah dengan anaknya, aku ingin menanyakan hal ini


Dengan sebuah sorotan mata tajam kearahnya, aku pun melontarkan pertanyaan itu


"... Kamu khawatir dengan setiap Elf yang diculik. Tapi, pernahkah kamu khawatir dengan Luna?"


...


"Aku tidak perlu mengkhawatirkannya. Lagipula, kamu yang mengirimnya untuk menjaga anak manusia tidak berguna itu" Dia menjawab dengan wajah serius


"..."


Aku hanya diam. Jawaban itu sudah cukup untukku


Tapi, hatiku merasa kesal kepadanya karena dia bahkan tidak mengkhawatirkan darah dagingnya sendiri

__ADS_1


Luna berada entah dimana sekarang ini dan sedang menjaga Verdea. Kita tidak tahu apa kabarnya dan apa kondisinya. Tapi, Zaphir bahkan tidak mencoba menaruh pikiran tentang Luna di kepalanya sendiri


Dia fokus dengan semua Elf yang hilang, tapi tidak sekalipun dia mengingat nama anaknya itu


...


"Hah!? Sejak kapan kalian ada disana!?" Luxor yang tiba-tiba terbangun berseru


Melihatnya yang sudah sepenuhnya bangun, aku memberi tatapan kesal kearahnya, hingga dia langsung merinding dan menyadari apa kesalahannya


"Baiklah... Aku memang tidak keluar..."


"Tuan Luxor memang pemalas"


Sosok kecil Remina muncul di balik pintu. Diikuti oleh Ordelia di belakangnya, mereka berdua masuk ke dalam. Remina langsung melompat keatas kasur yang kosong, kemudian menjilati permennya


"Hey! Jangan panggil aku-"


"Tidak. Remina memang benar" Aku memotong Luxor


"Vain...!"


Luxor langsung meringis sambil menunduk seperti anak kecil yang baru dimarahi


Dasar cengeng...


Ordelia dan Remina langsung tertawa kecil melihat reaksi Luxor


...


Dan ketika melihat Remina...


Aku tersadar, kalau dia masih sangat kecil. Walaupun dia terlihat tinggi, dia itu masih kecil


"Remina. Berapa umurmu tahun ini?" Aku bertanya


Remina menoleh kearahku, kemudian merespon


"Ayahku bilang 12 tahun. Kira-kira... 2 bulan lalu"


"Ayah? Siapa ayahmu?" Aku bertanya lagi


"Ayah..."


...


...


Eh?


Kenapa dia menangis?


Kami semua kaget melihatnya yang tiba-tiba menangis itu


Apa... Aku mengatakan sesuatu yang buruk...?


"Ayah... Ayah...!"


"R- Remina..."


Aku mencoba menenangkannya, tapi aku mengundurkan diri ketika melihat Ordelia yang sudah mendahuluiku


"Ayahku... Dibawa pergi oleh mereka..."


Tangisannya semakin keras, walaupun Ordelia sudah mencoba menenangkannya


...


Dibawa pergi...?

__ADS_1


Apa... yang sebenarnya terjadi?


__ADS_2