
--- Malam hari, kastil Thyme ---
"Sudah pastikan tidak ada yang akan menguping bukan?"
"Sudah. Vainzel belum kembali, jadi yang lain sedang menunggunya sekarang ini. Singkatnya, untuk beberapa waktu ini kita akan aman berdiskusi"
Verdea mengangguk, kemudian membukakan pintu lebih lebar agar Veskal bisa masuk dengan cepat dan menutup pintunya kembali rapat-rapat sebelum ada orang yang melihat
"Bahkan Remina tidak boleh tahu ini, karena dia pasti tidak akan bisa berbohong nanti"
Veskal menghela napasnya. "Aku sebenarnya heran kenapa kamu mau merahasiakan hal ini..." Dia berkata kemudian
"Sudah kubilang tadi bukan? Dan juga, Aku ingin menyampaikan semua hal dari mulutku sendiri, dengan jawaban yang sudah pasti"
"Setelah aku pikir-pikir, bukannya akan lebih mudah mencari jawabannya bersama Vainzel?"
"Justru itu yang ingin kuhindari Veskal...! Dia pasti akan kesal duluan karena kakak tidak memberikan jawaban pasti walaupun aku sudah repot-repot datang bukan...?"
Verdea duduk di kasurnya menarik napas lelah
Menemui Rosalia adalah sesuatu yang berbahaya bagiku, dan Verdea paham itu. Aku sebenarnya tidak ingin dia datang kesana, dan Verdea juga paham itu
Lalu, jika aku mendengar kalau dia tidak mendapatkan sesuatu yang jelas dari Rosalia, Verdea tahu kalau aku akan merasa kesal hingga membuat dirinya merasa seperti sebuah beban saja, walaupun aku tidak berniat begitu
Hal itu bisa diatasi, tetapi sebaiknya dihindari. Jadi sebaik mungkin, Verdea ingin mendapatkan konfirmasi terlebih dahulu sebelum melontarkan informasi itu kearahku. Dia ingin memperbanyak waktu yang bisa mereka gunakan untuk sesuatu yang lebih penting
Itu karena Rosalia juga sempat memberitahunya kalau Yael sedang menyembuhkan diri. Dan ketika dia sudah sembuh, Verdea tahu kalau itu akan menjadi masalah besar bagi semua orang di sisinya
"Kamu paham soal kakak lebih baik dari diriku Veskal. Jadi, setidaknya aku ingin mendapat sedikit pemahaman tentang dirinya darimu" Verdea pun berkata lagi
Veskal tertegun sebelum sekali lagi menghela napas
"Kamu sudah melihat dan mendengar tentang dirinya secara keseluruhan tadi. Aku tidak perlu memberitahu dirimu yang seharusnya teliti ini..."
...
Verdea tertegun
Dia sudah melihat dan mendengar tentang Rosalia...? Semenjak diskusi mereka di kastil Rose itu...?
Verdea bisa menangkap beberapa hal, tetapi dia tidak bisa menyatukan semua polanya
"Dia suka sekali teh. Dia selalu memasang wajah tenang. Sering membawa kipas, berlagak seperti seorang ratu. Cara bicaranya sangat sopan walaupun sedang ma-"
"Aku terkesan kamu mengingat detail-detail yang kurang penting juga" Veskal memotong Verdea yang sibuk bergumam
"... Jangan bilang, kamu sedang membahas tentang disaat dia jujur untuk sejenak saat kita berada di dalam ruang resepsi?" Verdea bertanya kemudian
"Memang itu yang sedang kubahas. Justru, seluruh kehadirannya di hadapan kita tadi itu lah yang sedang kubahas"
Verdea tersentak. Pertanyaannya semakin banyak, walaupun ruangnya semakin sempit
"... Rupanya, aku memang masih tidak bisa paham dengan kakak..." Verdea bergumam kemudian, merasa gusar
"Rosalia memang seperti itu. Tidak akan ada yang bisa memahami dia secara keseluruhan, kecuali dirinya sendiri. Dia terkadang jujur, terkadang juga tidak. Dia murah senyum, tapi juga sangat mengerikan ketika marah. Perumpamaan yang paling bagus mungkin..."
Veskal tertegun sejenak, sebelum dia menjentikkan jari mendapatkan sebuah gambaran yang tepat
"Dia selalu minum teh, walaupun dia tidak suka" Veskal pun berkata dengan mantap
...
...
Dan itu entah bagaimana membuat Verdea menatapnya dengan wajah kosong yang mulai mengumpulkan kekesalan
"... Kenapa kamu menatapku seperti itu, Veri?"
"Harusnya kamu mengatakan hal itu sejak tadi bodoh!!"
Verdea melempar sebuah bantal sekuat tenaga hingga tepat mengenai wajah Veskal dan membuatnya jatuh ke lantai hingga merintih
"Apa yang salah denganmu coba sampai harus melemparku dengan bantal?!" Veskal protes. "Kamu bahkan menggunakan tangan kananmu untuk itu!"
"Kamu sudah memiliki jawaban yang jelas, tapi malah membuatku harus memutar otak terlebih dahulu!" Verdea membalas
Veskal diam tidak menjawab, mencoba mencari tahu apa yang dimaksud Verdea
Melihat Veskal yang bingung, Verdea pun berdiri di hadapan kasurnya itu, membayangi Veskal
"Ingat kembali perumpamaan milikmu itu barusan. Lalu dengarkan aku baik-baik
Kamu dengan jelas-jelas tahu jawabannya, kalau kakak ke-2 selalu melakukan semua hal yang tidak suka dia lakukan, bukan??"
Veskal pun sadar mendengar penjelasan Verdea. "Kamu benar..." Veskal bergumam
Masih kesal, Verdea pun mengambil bantal itu dan mengayunkannya untuk memukul Veskal lagi berkali-kali
"Itu sebabnya aku bilang kalau kamu itu bodoh!" Dia menyerukan
__ADS_1
"Aduh-! Ampuni aku!" Veskal memohon
Wajah cemberut khas itu pun diperlihatkan oleh Verdea, sebelum dia melempar bantalnya kembali keatas kasur
Veskal pun bangun dari lantai, mengambil beberapa langkah menjauh dari Verdea sebelum kembali berbincang
"Setelah mengetahui sesuatu tentang kakakmu, apa langkahmu selanjutnya?"
Tapi Veskal diabaikan olehnya, yang sedang sibuk bergumam mencari jawaban baru setelah pintu pertama telah terbuka
Veskal mencoba menarik perhatian Verdea dengan menjentikkan jari, tetapi Verdea sudah terlalu larut di dalam pikirannya
"Verdea! Verdea!"
Veskal mencoba memanggil namanya, tetapi Verdea masih belum menyahut
Dia pun tertawa kecil karena merasa familiar dengan pemandangan itu
'Anak ini mulai bersikap seperti Vainzel', Veskal bergumam di dalam hati
Karena itu Veskal pun menggoyangkan tubuh Verdea, hingga dia tersadar setengah terkejut
"Vainzel akan tertawa melihatmu yang barusan tadi"
Verdea awalnya terheran, sebelum akhirnya sadar kalau dia larut di dalam pikirannya dan mengabaikan Veskal sepenuhnya, persis seperti yang biasa kulakukan di beberapa waktu tertentu
"A- Abaikan itu dulu. Aku sudah mendapat kunci pertamanya, jadi aku merasa bersemangat untuk mencari semua jawabannya" Dia berkata kemudian, dengan wajah memerah selagi Veskal tersenyum usil
Suasana pun kembali sunyi setelah Veskal menghela napas kecil, selagi menggelengkan kepalanya
"Jika aku bisa memberi perkataan Veri, aku akan bilang... Kalau Rosalia itu berlawanan dengan dirimu, tapi juga sama
Kalian berdua punya orang-orang dan tujuan yang ingin kalian perjuangkan. Tetapi perbedaannya... Orang milik Rosalia itu sudah tidak ada lagi..." Veskal berkata
"... Jadi dia melakukan semua ini untuk dendam...? Kepada seluruh umat manusia...?"
Verdea terdiam, begitu juga Veskal
"... Tidak. Jika kamu berkata dia itu mirip juga denganku, maka dia tidak mungkin melakukannya untuk balas dendam" Verdea berkata setelah memikirkan lebih rinci
"Aku tidak yakin juga. Tapi aku bisa meyakinkanmu kalau jalan kalian memang berbeda
Karena seperti yang dia bilang tadi. Dia tidak percaya siapapun itu. Baik itu aku yang dulu, maupun Yael yang paling dekat dengannya sekarang, walaupun dia berkata dia percaya kepadanya" Veskal menjelaskan
"Tapi yang membuatku masih bingung adalah, kenapa dia ingin menyelamatkan manusia, walaupun dia membenci mereka?
"Hm~ Itu teori yang bagus"
Kata-kata Rosalia memunculkan sangat banyak pertanyaan, hingga jikalau Verdea dan Veskal sekaligus menghitungnya, mereka hanya akan membuang waktu
Kakaknya itu pintar memberi kalimat yang baik agar niatnya tidak segera diketahui. Verdea bahkan ragu, aku bisa menelaah pemikiran Rosalia yang satu ini
Rosalia mengincar sesuatu yang besar. Sesuatu berskala luas, hingga melibatkan setiap manusia bahkan mungkin setiap makhluk hidup yang ada di dunia
Sesuatu yang melibatkan seluruh manusia...
...
...
Seperti sesuatu yang dipercayakan kepada Verdea. Sesuatu yang melibatkan seluruh manusia...
"Aku... Harus bertanya kepada Marcellus sekarang juga" Verdea bergumam
Veskal dengan jelas mendengar hal itu, tersentak seketika
"Kenapa harus dia?"
"Karena jika melibatkan skala dunia, orang itu yang lebih berpengalaman
Dia juga mempercayakan satu hal kepadaku. Satu hal yang ingin dia wariskan kepada pemilik segel ini"
Verdea menatap segel di tangan kanannya, sebelum menatap kearah Veskal kembali. "Terima kasih. Kamu sudah banyak membantu malam ini" Dia berkata kemudian
"... Kamu bicara seakan kita akan berpisah"
"Tidak juga. Mungkin untuk malam ini, jawabannya ya"
Veskal tersenyum kecil. Dia pun paham apa yang harus dia lakukan sekarang, yaitu berjalan keluar dari kamar Verdea
Tetapi langkahnya terhenti ketika dia baru saja sampai di hadapan pintunya, sebelum berbalik kembali kearah Verdea dan berkata, "Ah, aku lupa memberitahumu sesuatu"
Senyumnya pun nampak, sebelum dia kembali berbicara lagi
"Senang bisa membantu"
Sebuah kalimat tanda apresiasi karena telah mampu memuaskan dirinya dan orang lain keluar dari mulut Veskal
Verdea tertegun, kemudian tertawa kecil setelah mendengarnya
__ADS_1
"Kenapa coba? Aku kira ada sesuatu yang mengganggumu"
Veskal spontan tersenyum hangat melihat tawa anak itu, sebelum dia menggelengkan kepalanya heran
"Tidak ada. Selamat malam, tuan duta besar"
Veskal pun mulai beranjak keluar, menutup pintu di belakangnya
Dan selagi dia berjalan di lorong kastil, dia hanya tersenyum senang dengan pikiran kosong
Tidak lama, dia pun berjumpa denganku yang baru saja kembali, bersama dengan Remina di belakangku
"Ah, Veskal. Aku baru saja ingin bertemu denganmu dan juga Verdea. Tapi sepertinya kamu baru dari kamarnya?" Aku bertanya
Veskal diam tersenyum, membuat kami berdua keheranan melihatnya yang terlihat bahagia itu
"Ada beberapa hal yang ingin dia sampaikan kepadamu juga. Tapi, waktunya sekarang ini belum tepat" Dia menjawab kemudian
...
...
...
"Begitukah...? Jadi dia sedang ingin tidur ya...?"
Tidak. Veskal tidak hanya bermaksud begitu. Kata-katanya terlalu samar kali ini
Sepertinya Verdea sudah mendapatkan sesuatu dari Rosalia. Tetapi... Dia tidak bisa memberitahukan hal itu terlebih dahulu
Sama seperti ketika dia berhasil membangkitkan segel miliknya itu. Dia mungkin tidak ingin aku berpikir terlalu banyak, karena informasi itu hanya akan memberatkan
Anak itu lebih mudah dibaca akhir-akhir ini. Tapi karena itu juga, setidaknya aku bisa paham di situasi seperti apa aku harus berbicara dengannya
"Baiklah kalau begitu. Sebaiknya aku ikut tidur juga" Aku pun berkomentar
"Tapi, Oberon. Bukannya apa yang kamu ingin sampaikan itu penting?" Remina bertanya
"Mungkin. Tapi seperti yang Veskal katakan, Verdea itu akan tidur sebentar lagi"
Remina pun diam tidak membalas, dengan helaan napas heran
Aku bisa melakukannya besok ketika dia sudah bangun. Dan jika dugaanku benar, Verdea mungkin sedang ingin menemui Marcellus sekarang ini
Marcellus itu adalah salah satu penunjang utama perkembangan Verdea sekarang ini. Walaupun aku memang membenci roh yang satu itu, aku tidak bisa menyangkal fakta itu
Jika dia berniat membantu, itu bagus. Entah dia kerasukan apa, tetapi aku yakin Marcellus juga berubah dari apa yang kami para Elf ketahui
...
"Lalu, Veskal"
Aku ingin mengatakan hal ini beberapa saat nanti di masa depan. Tetapi tidak kusangka aku akan melakukannya hari ini disaat ini
Veskal mengangguk untuk siap menanggapi diriku. Setelah helaan napas lega keluar dari mulutku, sebuah kalimat pun akhirnya keluar
"Lain kali jika menyembunyikan sesuatu, jangan lakukan kepadaku. Aku bisa membacamu seperti buku"
Mata Veskal terbelalak, mendengar ucapan bagai salam pelepasan itu. Ucapan bagai orang tua yang sudah melepas kepergian anaknya yang akan hidup mandiri
Tetapi belum sempat dia bereaksi, kusentil dahinya agar dia tidak terus termenung
Dia merintih karena hal itu, memasang wajah cemberut untuk menutupi ekspresinya sebelum itu
"... Dan terima kasih sudah mau menjaga Verdea. Siapa sangka anak misterius yang kami angkat dulu sekarang menjadi teman terbaik yang bisa kami berdua percaya"
Sudah lama waktu berjalan. Banyak hal mulai berubah
Sama seperti tinggi mereka, Veskal dan Verdea juga sudah mulai terlihat matang
Sudah waktunya aku tidak perlu menyela diantara pemikiran mereka. Apa yang terbaik untuk mereka, hanya mereka saja yang tahu. Tergantung apakah mereka ingin mengutarakan hal itu padaku atau tidak, mulai saat ini
Tapi, lihat dirinya yang diam tertegun sekarang ini. Dia seakan sedang meresap dengan baik apa yang baru saja kulontarkan kearahnya
"Kalau begitu, selamat malam. Jangan tidur terlalu lagi untuk malam ini, dengar...?"
Dia tidak merespon, hingga aku pun menggelengkan kepala
Dia akan sadar sebentar lagi, tapi aku tidak perlu menunggu. Aku sudah merasa sangat lelah hari ini, memikirkan kelanjutan esok hari
Kami berdua pun beranjak dengan Remina yang terlihat keheranan namun tidak berani bertanya, dan sesekali melihat kearah Veskal yang masih tertegun
Setelah kami menghilang dari pandangan, Veskal pun mulai mengangkat kepalanya, lurus menghadap lorong itu
"... Entah kenapa semua orang berterima kasih kepadaku hari ini"
Dia berkata begitu, tetapi sesungguhnya dia senang...
Dia senang bisa membantu selagi dia bisa...
__ADS_1