
"Vain" Verdea berkata sambil menarik-narik jubahku yang daritadi hanya memandang kearah api
"Ya?" Aku merespon, memutar posisi dudukku untuk menghadapinya
"Gendong aku"
Ah, dia sudah lelah...
Aku pun perlahan mengangkatnya dan mendekapnya. Dia kemudian menanam wajahnya di bahuku dan mencoba untuk tidur
"Rekor baru untukmu, Veri" Aku berkata
"Berapa lama aku bisa berjalan sekarang?" Dia bertanya
"Sekarang sudah gelap. Kamu sudah mulai kuat"
Dia tertawa puas dengan nada yang semakin lama semakin pelan, hingga matanya tertutup
Dia tidak tidur siang tadi, jadi tidak heran kalau dia lelah sekarang. Aku tidak paham kenapa anak ini mencoba membuat dirinya seakan dia itu cukup kuat. Tidak akan jadi masalah jika aku atau salah satu temanku menggendongnya di dalam perjalanan
Hanya saja, malam sekarang ini terasa sangat tidak mengenakkan. Jika kami tidak ingin berakhir menjadi umpan ratusan monster seperti kemarin, akan lebih baik jika kami membuat benteng sementara menggunakan sihir pelindung seperti ini. Monster biasa tidak akan bisa mendekat, dan Verdea juga Veskal bisa beristirahat dengan lebih santai. Semua orang juga butuh tenaga mereka kembali
Area kami masuk sekarang ini sudah tidak bersalju lagi. Sepertinya kami sudah masuk ke area garis tengah Vitario. Pada area ini, kami tidak mengenali yang namanya musim salju
Melihat daun hijau lagi membuatku cukup tenang...
"... Vainzel..."
Hm? Dia belum tertidur?
"Ada apa?"
"... Jangan pergi"
...
Dia rupanya hanya mengigau. Tapi dia mengulangi kalimat itu lagi...
Kuelus kepalanya agar anak itu bisa merasa tenang, walau hanya saat berada di dalam mimpinya semata
Dia tersenyum kecil merasakan ada sentuhan di kepalanya, selagi dengkurannya yang halus itu mulai terdengar stabil
Aku hanya tersenyum halus mendapati hal itu, sambil terus mengelus pelan rambut Verdea tanpa membuatnya terbangun
Hingga, ada seseorang datang mendekat untuk menemani kami. Orang yang tidak lain adalah Fyon
"Memastikan sihir pelindung itu tetap menyala pasti terasa sangat melelahkan bukan?" Aku membuka percakapan untuknya
"Tidak lebih melelahkan dibanding menguras Mana kami habis seperti kemarin. Beruntung sekali hutan di luar Goeitias ini cukup kaya dengan aliran Mana" Dia berkata
Dengan sigap dia mengambil tempat duduk di sisiku dan menghela napas. Menoleh dari sisi, dia meneruskan perbincangan ini lagi
"Omong-omong, kenapa tidak kalian saja yang berteleportasi kearah Gerbang Hutan?" Dia bertanya
Ah, itu dia pertanyaannya
"Menurutmu dengan 9 anggota bajak laut yang tidak semuanya bisa sihir itu, dan 2 anak kecil diantara kami, apakah kami bisa?"
Dia tidak menjawab mendengar pertanyaan balik itu. Fyon tahu betul logika dari apa yang kuucapkan
"Sepertinya membawa anak-anak itu memang menyulitkan..."
Yah, dia sudah mengatakannya. Dan secara fakta, itu memang terbukti. Jika aku bertualang sendirian dengan teman-temanku Elf-ku saja, kami bahkan nyaris tidak perlu istirahat sama sekali, apalagi harus takut kepada teleportasi sejenak semata
...
Setelah perbincangan kecil itu berakhir mataku pun menangkap, kalau dia sedang menghisap aliran Mana di udara menggunakan jarinya. Itu mengingatkanku kalau area hutan ini sangat kaya dengan Mana karena dipenuhi oleh jejak sihir monster
"Aku bisa memberimu jariku jika kamu perlu Mana. Tapi, kamu harus memanggilku Oberon selama sebulan untuk itu" Aku mencoba bercanda, mengundang tawa kecil darinya
"Kalau begitu tidak. Seminggu saja sudah terasa melelahkan, apalagi sebulan" Dia membalas sembari memiringkan tubuhnya ke belakang
"Oh ayolah. Hanya sebulan. Terakhir kali aku kalah darimu, aku harus memanggilmu tuan Fyon selama setahun"
"Seandainya kamu tidak langsung kabur untuk berpetualang lagi, aku yakin itu sungguh akan menjadi setahun penuh dibandingkan hanya 3 hari. Dasar licik"
"Hehehehehe~!"
Aku puas dengan reaksi Fyon yang mulai menggerutu itu. Ditambah karena apa yang dia katakan memang benar, karena aku kebetulan mendapati kesempatan untuk kabur
"Dunia ini diputar oleh orang cerdas. Mungkin akan lebih baik jika kamu sepertiku~" Aku bahkan menambahkan garam di lukanya
"Hah! Tidak akan, apalagi jika aku harus melayani manusia!"
Haah...?
...
Dia tidak salah entah bagaimana!
Ah ya, masih membahas soal itu
"Omong-omong soal Verdea, apa kamu sudah tahu bagaimana aku menemukannya dulu?" Aku mengalihkan pembicaraan sedikit menjauh
"Tidak. Aku hanya dengar dari Luna kalau kamu sudah bersumpah setia kepadanya"
Ah, begitu...
Sebaiknya kuceritakan saja jika sudah sejauh itu. Fyon juga tetap temanku. Yang lain juga sudah tahu, dimana itu menjadi setengah alasan mereka ingin melindungi Verdea sekarang ini
"Aku menemukannya ketika dia diculik dulu"
Fyon langsung terkejut mendengar itu
"Diculik...?" Dia bahkan bertanya tidak percaya
"Begitulah. Karena dia itu seorang pangeran, kamu mungkin berpikir kalau mereka itu kebal terhadap tindakan kriminal seperti itu" Aku meneruskan. "Tapi mereka justru yang paling rentan"
Fyon pun sepenuhnya mendengarkan, selagi matanya terpaku kearah Verdea yang tertidur
"Dia diculik di hari aku tidak sengaja melintasi hutan bandit diluar area kota Hortensia. Aku sebenarnya tidak tahu apa yang dibawa oleh kedua orang yang membawanya, hingga aku melempar kedua bajingan itu ke udara. Tetapi yang membuatku heran, walaupun kota Hortensia memiliki keamanan yang ketat seperti itu, seorang pangeran seperti Verdea bisa dibawa jauh keluar dari tembok kota, apalagi istana" Aku berterus terang
Jika dipikir kembali, itu memang aneh. Dan jika aku harus menduga, maka tersangka utamanya bisa dengan sangat mudah ditebak
Seseorang yang memiliki kuasa tinggi di dalam anggota kerajaan
"Kejam bukan? Siapa yang dengan tega menculik anak kecil seperti dia...?"
Apapun itu, orang-orang itu sama sekali tidak manusiawi...
Bahkan Fyon jadi tertegun iba mendengar itu
"... Apa kamu kasihan dengannya?" Fyon pun bertanya balik
...
Senyumku langsung hilang ketika mendengar perkataan Fyon
Aku tidak marah padanya. Aku...
Bingung...
Aku bingung dengan perasaan yang mendorong alasanku untuk menolong Verdea
Kasihan? Sukarela? Aku tidak tahu. Perkataan Fyon membuat semua pertanyaan itu lewat di pikiranku...
Karena, jika aku benar hanya merasa kasihan pada Verdea, aku yakin anak ini sendiri tidak akan senang dengan hal itu
Dia mungkin akan kecewa padaku jika pertemanan kami hanya didasari rasa iba milikku padanya. Bahwa, kalau dia sudah percaya sedalam itu kepadaku, hanya untuk mengetahui kalau pertemanan kami tidak bersifat mutual
...
Tapi, apapun itu, aku akan tetap melindungi anak ini. Setidaknya aku ingin melakukan sesuatu untuknya semampuku
Dia... Tidak boleh disakiti lagi
...
Haah... Alihkan saja pembicaraan ini...
"Omong-omong, malam ini bulan sabit" Aku berkata untuk mengalihkan pembicaraan
"... Omong-omong, Miralius sudah dekat" Fyon menambah
Aku sudah tahu hal itu. Aku memang tidak banyak berkelana di Goeitias dibandingkan benua lainnya, tapi aku sudah pasti mengingat jalan ke kampung halamanku bukan?
Dia dengan jelas ingin meledekku karena mengatakan sesuatu yang sudah jelas
"Hey! Matahari sudah mau terbenam!" Ivor menyela dari kejauhan
"Kami tahu!" Teriakku dan Fyon
Verdea merintih dan nyaris bangun karena teriakkan itu sehingga membuatku panik dan mencoba menenangkannya kembali
......................
Malam semakin larut. Aku, Luna dan Fyon yang giliran berjaga kali ini. Alasannya karena kedua orang itu menolak untuk tidur entah kenapa, sementara aku harus tetap terbangun karena Verdea tidak sedang diurus Veskal yang tertidur lebih dahulu. Kedua anak itu sangat kelelahan sehingga mereka langsung jatuh dalam mimpi seperti ini
Aku sebenarnya selalu berjaga setiap malam, karena aku khawatir dengan Verdea. Aku juga biasanya meletakkannya diatas pangkuanku selagi dia tertidur. Tapi, Veskal yang tiba-tiba saja tidur sembari bersandar ke pohon seperti itu membuatku jadi merasa iba dan tidak berani mengganggunya sama sekali. Perlu dicatat, kalau ini juga memang perjalanan panjang pertama mereka
Aku hanya ingin memastikan keamanan setiap orang dengan tanganku sendiri kali ini. Terutama karena sekarang, seluruh kru Black Hunt sedang menjadi tamu kami. Untuk sekarang...
Sementara itu, Fyon sibuk mengasah jimat sihir gelap miliknya yang berbentuk seperti gigi anjing, dan Luna sedang bermeditasi dengan telinga yang tetap waspada dengan sekitar. Kedua orang ini tidak bisa tidur dengan normal seperti yang lainnya karena sikap patriotisme mereka, sungguh...
Mereka terlihat santai saja, tapi sebenarnya mereka lebih merasa tertekan dibandingkan diriku. Itu karena mereka tidak biasanya bertualang dan bertarung dengan monster sebanyak itu. Juga, karena kami memang tidak biasanya menghabisi monster begitu saja, mengingat kalau kaum Elf dan monster hidup berdampingan di dalam benua ini
Semua teman-temanku pada akhirnya mengenal bahaya yang bisa ditimbulkan oleh kaum monster. Kami memang hidup berdampingan, tetapi kaum monster pada zaman ini sama sekali tidak akan ragu untuk membunuh kaum lain yang mereka bisa temukan
Tingkat kewaspadaan Luna dan Fyon sudah benar-benar mencapai titik tertinggi. Mereka sama paranoidnya denganku, bahkan mungkin lebih parah
Aku hanya berusaha menghangatkan Verdea semampuku dengan sihir api dasar. Itu karena area hutan ini terasa lembab di malam hari, hingga suasananya jadi cukup sejuk untuk mendinginkan tubuh. Verdea tidak terlalu suka dingin, kecuali jika kami membahas salju...
Para Dark Elf sibuk berpatroli bergilir untuk menjaga agar sihir perisai yang kami rapal dalam area besar tidak memudar
Sihir perisai itu tidak hanya berfungsi untuk menangkap monster, tapi juga untuk mendeteksi keberadaan penyihir hitam itu
Aku tidak mungkin akan memberinya kesempatan sedikitpun kali ini
Perlahan aku menoleh kearah langit. Tapi, awan menutupi langit malam itu dan membuatnya semakin terlihat gelap. Walaupun itu memang bukan awan salju, tetap saja bentuknya yang mengerikan itu membuatku sedikit resah
Badai angin mungkin akan datang lagi... Lebih buruk, mungkin badai hujan...
Aku harap badainya tidak melanda sebelum kami sampai...
"...!"
Hm!?
"Hm?"
Luna tiba-tiba saja tersentak. Aku dan Fyon langsung ikut kaget karenanya, terutama karena Luna tidak akan begitu jika dia tidak mendapati sesuatu yang tidak terlalu berarti
"Ada apa?" Aku bertanya
Keringat dinginnya mengucur, membuatku merasa semakin risau. Dan kalimatnya setelah itu membuat ketakutanku memuncak
Sesuatu yang seharusnya kami antisipasi...
"... Aku merasakan gerakan cepat dibawah cahaya bulan..." Luna membalas dengan mata terbelalak
"... Lalu?"
"... Tapi mereka tidak terasa hidup"
Mereka...?
Tidak hidup...?
...
...
...
"SEMUA BANGUN SEKARANG!!"
Tapi reaksi mereka untuk bangun segera dan peringatanku itu terlalu lambat...
Tepat disaat yang sama aku meneriakkan hal itu, sesuatu menyerang dari belakang berniat untuk menggapai badanku bersamaan dengan Verdea. Sempat tersentak menanggapi serangan itu, namun pada akhirnya kuhindari dengan cepat sambil membawa Verdea di pelukanku
Aku berguling di tanah dan memegang kepala Verdea agar dia tidak ikut terantuk. Ketika aku sudah berhenti menggelinding dan menoleh kearah penyerangku itu, aku melihat sebuah makhluk berkulit pucat, memakai jubah hitam, mata merah dan taring yang berbau darah
Sudah kuduga! Kami diserang oleh vampir sekarang! Salah satu klan monster mayat hidup—para Undead yang paling kuat!
Tapi bagaimana bisa mereka melewati para Dark Elf dan sihir perisai itu? Tidak sembarang orang bisa melewati sihir tingkat tinggi oke?!
Sialnya, mereka baru saja bangun. Beberapa temanku memang sudah siaga, tetapi aku yakin kepala mereka masih terasa tidak nyaman. Ini situasi yang buruk untuk bertarung, apalagi disaat aku harus melindungi Verdea sepenuhnya kali ini
Anak itu bahkan ketakutan dengan mata terbelalak melihat kearah vampir yang menyerang. Dan dia akan lebih ketakutan lagi jika situasi ini semakin berantakan. Tapi mau bagaimana lagi?
"Jangan sisakan siapapun disini! Hisap darah mereka semua!"
Diikuti oleh seruan dan tawa sinis vampir itu, vampir lainnya melesat dari kegelapan malam dalam bentuk pasukan dan menyerang satu persatu teman-temanku. Luxor yang lebih dahulu mereka dorong menjauh dari posisi kami, dan disaat Luna ingin menolongnya, 3 vampir sekaligus langsung menghadang
Ivor sempat dikejutkan hingga dia terlempar, namun disaat penyerangnya mencoba untuk mencakar para kru Black Hunt yang tidak tahu harus apa, dia dengan segera melesat dan memecahkan kepala monster-monster itu seperti sebuah semangka yang ditinju keras
Lyralia di sisi lain, segera dikepung juga, sehingga dia harus memaksa keluar dengan segala kemampuannya untuk mencari posisi aman dalam bertarung. Disaat dia nyaris dikejar lagi, Ordelia dan Luxor melancarkan sihir mereka masing-masing—melumpuhkan beberapa vampir sekaligus. Namun gantinya, mereka kini yang mulai dikepung oleh para monster itu
Para Dark Elf bahkan terlihat kewalahan menangani mereka karena kalah dalam jumlah walaupun lebih kuat
Gawat! Tidak akan ada yang bisa menolong kami jika seperti ini! Mereka bahkan tidak tahu dasar utama dalam bertarung melawan vampir!
"JANGAN HANCURKAN BADAN MEREKA SAJA! HANCURKAN JANTUNG MEREKA!" Aku meneriakkan
Semua teman-temanku mendengar dan merespon hal itu. Luna bahkan segera terlihat menusuk penyerangnya satu persatu dan mengeluarkan jantung mereka masing-masing, dimana para vampir itu segera terhuyung dan mati ke tanah—berubah menjadi abu hitam dan menghilang
Luxor, Ordelia, Ivor dan Lyralia bahkan tidak lupa untuk menghancurkan musuh yang mereka sudah lumpuhkan
Veskal di sisi lain, hanya bersembunyi dan mencari posisi terbaik untuk menyerang dalam satu tusukan. Sementara setiap anggota Black Hunt segera menarik keluar pistol mereka masing-masing untuk menembaki setiap vampir yang mendekat
"Apa mereka juga lemah terhadap perak dan bawang putih seperti rumor, Elf??" Cyth bahkan bertanya
"Hanya kepada perak murni dan kayu! Vampir takut kepada bawang itu hanya mitos! Dan jangan lupa untuk arahkan perak itu ke jantung mereka!" Aku membalas, dimana Cyth langsung merasa percaya diri
"Keluarkan peluru perak kita!" Dia bahkan menyerukan
Jika dia punya banyak, maka-
"Kita hanya punya 3 kantong, dan itu hanya cukup untuk 5 pistol!"
Sial! Aku sudah terlalu berharap!
Cyth yang melongo mendengar kalimat anggotanya itu pun hanya bisa menembak mati seorang vampir yang mencoba mencakar dirinya, kemudian tertawa canggung kearahku
Yang aku perlu khawatirkan sekarang ini hanyalah keberadaanku dan Verdea. Belum ada terlalu banyak yang menyerang kami sejak tadi. Hanya yang satu di hadapan kami ini saja
Masalahnya ketika aku berkelahi nanti, aku harus memastikan keselamatan Verdea juga
Tidak. Aku harus memastikan keamanan semua temanku. Namun sekarang aku harus memprioritaskan Verdea yang ada di dekatku sementara ini
Vampir yang menyerangku tadi langsung menyergap lagi. Sarung tangan milikku kulepaskan secepat mungkin dengan menariknya lepas menggunakan mulut, dan aku langsung melompat menghindari serangan kilatnya itu
__ADS_1
"Pegangan Veri!" Kusempatkan untuk memperingatkan Verdea
Verdea menuruti kalimatku, langsung melingkarkan tangannya sekuat mungkin mengelilingi leherku
Salah satu tanganku masih memegang tubuh Verdea dan salah satunya lagi kugunakan untuk menyerang dengan melibas kearah vampir itu
Tapi sama sepertiku, vampir itu langsung menghindar dan melakukan serangan lainnya
Pertarungan yang terasa lambat dan menyakitkan itu pun terjadi. Dikarenakan aku harus membawa Verdea sekaligus menghalau setiap serangan makhluk ini, aku sama sekali tidak bisa mencari celah yang tepat untuk mengakhiri pertarungan ini
Tapi aku terus menghindar dan bertahan, sebelum kembali menyerang balik. Terus dan terus selagi memperhatikan gerakkannya
Perhatikan...
Disaat dia melesat lagi kearahku, aku pun melihatnya. Satu titik lemah, ketika tangannya menjangkau terlalu jauh ke depan—dimana aku berhasil menghindari serangan itu.
Kuputar badanku secepat mungkin hingga aku berhasil mendaratkan pukulan ke badannya dan membuat vampir itu terlontar hingga menabrak pohon
Pohon itu seketika tumbang karena keras tabrakannya, hingga darah vampir yang kulawan itu bercipratan kemana-mana di sekitar pohon itu, sekaligus membuat beberapa kawannya tertimpa oleh pohon tersebut
Tapi Vampir yang kulawan itu belum mati sama sekali, dikarenakan jantungnya yang belum hancur. Dan untuk memastikan dia mati, aku melesat kearahnya dan menusuk jantungnya sebelum dia sempat bangun
Dia langsung meronta-ronta dengan hebat, kemudian perlahan-lahan kehilangan kesadaran dan mati sepenuhnya—menghilang menjadi abu hitam yang melayang-layang di udara
Tch! Ini lebih sulit daripada yang kuduga. Aku harus mencari cara untuk tetap membawa Verdea di dekatku tanpa harus mengurangi kemampuanku dalam bertarung
Tanganku kupendekkan kembali dan dengan cepat aku menoleh kearah teman-temanku yang masih bertarung
Baiklah. Aku harus menolong yang lainnya sekarang
Tapi aku terhenti. Verdea terlihat ketakutan. Dia mengeratkan pelukannya di bahuku dan menangis, walau dia mencoba meredam suaranya sekuat tenaga
Badannya gemetar. Tapi ini bukan waktunya untukku merasa iba dan mengabaikan pertempuran yang sedang terjadi
Jadi, aku pun hanya mengelus kepalanya sambil berkata, "Tidak apa-apa. Kamu akan aman"
Verdea langsung mengangguk, namun masih menangis dan menanam wajahnya di bahuku
Veskal pun menjerit, membuat kami berdua terkejut. Nampak kalau dia gagal menghabisi seorang vampir, hingga lawannya itu masih berdiri tegak di hadapannya yang terjatuh ke tanah dengan luka cakar yang tidak terlalu dalam
Tanpa basa-basi lagi, aku melesat kearah Veskal yang hampir ditusuk oleh Vampir yang dia lawan. Luna yang juga berpikiran sama itu pun hanya dapat bagian melindungi Veskal yang terluka
Aku berhasil menangkap Vampir itu. Dan yang kulakukan selanjutnya adalah membantingnya ke tanah di belakangku kemudian menusuk jantungnya
"Di atasmu!" Veskal meneriakkan
Tanganku langsung kuayunkan sehingga vampir yang menyerang dari udara langsung tertebas kepalanya. Tanpa memberi ampun, kutusuk jantungnya, sehingga vampir yang baru kubunuh itu menghilang bersamaan
Veskal hanya mengacungkan jempol di belakang Luna yang sedang sibuk ketika aku memperhatikan, sehingga aku pun menoleh kearah lain tanpa perlu khawatir kepadanya lagi
Selanjutnya-
"Baiklah! Kalian para orang bodoh, silahkan berhenti!" Seseorang tiba-tiba berkata
Seseorang yang aku tahu bukan main-main kuatnya. Semua orang yang hadir bahkan bisa merasakan bulu kuduk yang spontan naik. Bahkan hanya dari suaranya, kami tahu, kalau orang yang bicara itu adalah seseorang yang tingkatnya jauh diatas para vampir
Mataku terbelalak, selagi Verdea berkeringat dingin. Beberapa dari kru Black Hunt bahkan terjatuh ke tanah, terkecuali Cyth dan tangan kanannya yang diam membeku hanya bisa menelan ludah
Bahkan teman-temanku membeku di tempat, ketika sorot mata mereka menghadap kearah suara itu. Dan aku pun paham kenapa...
Ketika aku menoleh perlahan kearah suara itu, aku melihat Ordelia yang dicengkeram di leher belakangnya oleh sebuah sosok besar bermata merah. Darah segar menetes, turun dari lehernya. Dan dia merintih, ketika dia di dorong ke depan untuk dihadapkan kepada kami semua oleh seorang sosok yang menangkapnya
Sosok itu berdiri di bawah kegelapan selagi memamerkan Ordelia kepada seluruh orang disana
Aku panik. Mataku terpaku pada Ordelia yang pingsan di cengkeraman sosok itu. Kakinya sama sekali tidak menyentuh tanah. Sosok itu sungguh, mengangkatnya ke udara seakan dia adalah mainan anak-anak. Dan mengetahui kalau Ordelia berada di dalam bahaya, tidak satupun kami para Elf berani bergerak. Beberapa dari kami paham, kalau kehilangan seorang petinggi adalah sesuatu yang bisa saja fatal
Tapi beberapa dari kami, teman-teman dekatnya—kami tidak ingin kehilangan seseorang yang kami anggap penting di hidup ini
Mataku bergetar hebat, setelah semua hal itu selesai melalui pikiranku
Lengah, semua temanku juga ditangkap dan ditahan di tanah oleh para vampir. Mereka berniat melawan, tapi karena takut Ordelia akan disakiti, mereka pun meredakan emosi mereka untuk sementara waktu. Luna bahkan menggerang, seakan mengancam vampir yang menahan Ordelia untuk tidak menyakitinya lebih dari itu
Para vampir juga perlahan mengerumuniku. Tapi aku menunjukkan tangan sulurku pada mereka dan bersiaga akan serangan, sehingga tidak satupun berani menyentuhku. Tidak sepatah kata keluar, selagi kedua sisi hanya bisa mengancam satu sama lain dengan tegangnya situasi
"Aku akan menyerah jika aku jadi kamu, Oberon" Sosok itu pun berkata
...!
Dia tahu aku siapa...? Lalu kenapa dia berani menyerang ku seperti ini...??
Menyerang seorang Oberon adalah tabu bagi para monster. Orang 'itu' tidak akan membiarkan mereka hanya mendapati orang ringan jika mereka ketahuan dengan jelas seperti ini
"Siapa kamu...!?" Aku pun menggertak, namun tidak bisa menahan rasa geram milikku
Sosok itu tertawa sinis mendengar pertanyaanku. Dia kemudian melangkah maju dan memperlihatkan wajahnya
Rambut putih, wajah yang masih terlihat muda dan badan yang sangat besar juga tinggi. Seringainya yang lebar dia arahkan untuk meremehkanku, selagi pandangannya melihat dari atas karena perbedaan tinggi kami yang signifikan
Sosok yang sesungguhnya sangat mengintimidasi hanya dari tampangnya semata...
"Perkenalkan. Aku Darwin Von Ziegler. Para vampir biasa menyebutku, Kaisar. Tapi makhluk lain biasanya menyebutku tuan para vampir" Dia pun memberi perkenalan diri
"... Apa aku perlu merasa terhormat?" Aku membalas
"Tidak, mengingat ego kalian para Elf yang terlalu tinggi"
"Sangat luar biasa mendengar hal itu dari seseorang yang berpikir dia telah menang sekarang ini"
Dia langsung menggores leher Ordelia sedikit. Aku geram dan ingin langsung menyerangnya, tapi tahu aku tidak akan bisa karena dua hal
"Kata-katamu itu sakit, Oberon. Kita baru berkenalan, kamu tahu?" Dia memelas
"Aku tidak peduli siapa kamu dan apa kamu, tapi akan kupastikan seluruh badanmu itu patah nanti sehingga kamu berharap kamu tidak ingin hidup...!"
"Uhuhu~ Menakutkan~"
Dia kemudian tertawa, menatapku tajam untuk menikmati setiap ekspresi kesal yang kubuat untuknya
Semua vampir yang ada di sana langsung menggelakkan tawa kepadaku juga, sehingga hutan itu pun bergema akibat suara mereka yang nyaring
Semua temanku hanya menggertak gigi mereka di tengah keadaan ini karena tidak bisa melakukan apapun
"Haha... Lelucon yang bagus"
Aku benci orang ini. "Apa maumu...!?"
Apa alasannya menyerang kami seperti ini...???
...
...
...
Pertanyaan itu seharusnya tidak kuutarakan...
Karena...
Dia justru mengarahkan pandangan matanya kearah Verdea yang ada di gendonganku sekarang...
"... Serahkan anak itu" Dia berkata dengan seringai lebar
Verdea dan aku langsung tersentak. Semua temanku yang mendengarkan tersentak. Kalimat itu keluar tanpa adanya pertanda apapun, sehingga tidak satupun dari kami mengantisipasi hal itu
"... Kenapa harus anak ini?" Aku perlahan menyembunyikan Verdea dari pandangannya menggunakan jubahku
"Dia terlihat lezat. Aku suka bau darahnya"
"Langkahi mayatku dulu, nyamuk...!"
"Hoho...? Masih menolak?"
"Yang satu ini mungkin tidak seenak anak itu, tapi setidaknya aku akan-"
!!!
"JANGAN! Aku mohon, jangan...!"
Jangan sakiti Ordelia...!
"... Kalau begitu serahkan anak itu"
...
Ini terlalu kejam. Aku bisa membunuh setiap vampir yang ada disini dan juga tuan mereka sendiri. Tapi, taruhan dari perbuatan itu adalah semua temanku yang ditahan, termasuk Ordelia. Mereka akan dengan cepat dihabisi, mengingat kalau nyawa setiap orang sekarang ini ada di tangan para vampir
Pada titik ini, skenario terburuk adalah hanya Verdea saja yang bisa kuselamatkan...
Aku tidak mungkin memilih keselamatan salah satu temanku saja...!
Apa-apaan ini...!? Aku harus apa...?!
...
"Aku akan pergi denganmu!" Sebuah suara pun memberi keputusan untuk semua orang
Semua orang tersentak mendengarkannya. Terutama ketika menyadari kalau suara itu adalah milik Verdea yang berada di pelukanku sekarang ini
Orangnya sendiri telah bicara, membuatku terkejut tidak percaya
"Jangan!"
"Itu berbahaya nak!"
"Jangan buang dirimu seperti itu!"
"Verdea...!"
Verdea hanya menundukkan kepalanya mendengar setiap larangan yang spontan keluar dari mulut semua temannya. Tatapan matanya kosong. Dia menangis ketakutan, tetapi dia sudah memilih
Dia memilih untuk menjadi pengorbanan untuk menyelamatkan yang lain
"Kamu-!"
"Aku saja yang pergi, Vain" Dia berkata sekali lagi
Aku menganga tidak percaya. Kalimatku yang baru saja keluar bahkan dia potong tanpa ragu. Badanku sekarang yang justru terasa bergetar dan lemas sekarang ini
Dia... Tidak mungkin mengatakan hal itu. Apa-!?
Tidak! Jangan. Ubah pikiranmu nak! Jangan tunjukkan mata itu padaku! Jangan tukar nyawamu seperti itu!
Jangan...!
Jangan seperti itu...!
Lihat kearahku dan bilang kamu berbohong...!
...
Tapi seberapa keras pun aku mencoba meyakinkan diriku...
Sorot mata Verdea sudah menentukan, kalau dia ingin pergi ke tangan Darwin...
...
...
...
Nak--
'Vain- Oberon! Berhenti meringis!'
Aku tersentak mendengar suara itu di kepalaku. Sebuah telepati masuk tanpa izin dari pihakku—memaksakan diri mereka seakan ini genting
Tapi ini memang genting. Aku bahkan hampir menoleh kearah Fyon yang memberi telepati itu padaku, selagi dia pura-pura senyap dan menanam wajahnya di tanah untuk menutupi dirinya dari perhatian semua orang
Dan dia sekali lagi bicara
'Aku akan meledakkan energi sihirku di area ini sebentar lagi. Pura-pura saja kamu setuju dengan hal itu dan beri aku waktu'
!!!
Orang gila-
'Tapi-'
'Aku tahu aku akan melemah untuk beberapa saat. Tapi jika orang itu sudah meletakkan Ordelia di tanah, aku yakin kamu dan anak itu bisa menyelamatkannya'
Itu... Tidak. Rencana itu mungkin berhasil
Hanya saja, bayarannya adalah Fyon akan lumpuh karena memaksa Mana-nya keluar secara serentak. Tetapi jika dibandingkan elemen lain, sihir hitam adalah sihir paling berbahaya dalam soal ledakan Mana
Lalu...
--- Bagaimana jika aku tidak bisa menyelamatkan mereka berdua...?
...
'Jangan banyak berpikir lagi dan lakukan segera!'
...
"Veri..." Aku pun berkata pelan, membuat air mataku yang sempat tertahan itu segera turun untuk menutupi niatku
Verdea cuma mengangguk. Badannya masih terlihat lemas dan matanya tetap kosong. Aku pun perlahan meletakkannya ke tanah
"Jangan Vain!"
"Kamu sudah gila!"
"Tidak!"
Semua teman-temanku berusaha memperingatkanku. Tapi aku tetap berusaha tenang dan menghayati sandiwara sejenak ini seakan aku juga tidak rela
Darwin hanya tersenyum sinis melihat hal itu, menyelipkan sebuah nada remeh di tengahnya
"Kemari, nak" Jari telunjuknya melambai agar Verdea segera mendekat
Dia melempar Ordelia tidak jauh dari tempatnya berdiri, sebelum kemudian menyilangkan tangannya di dada seakan dia adalah seorang penguasa
"Veri-"
"Aku harus Vain. Kalian tidak akan selamat jika aku tidak melakukannya"
...
Maaf nak...
Ini saja hal terbaik yang aku dan Fyon bisa pikirkan untuk saat ini. Jadi teruslah bersikap sungguh-sungguh
Verdea perlahan berjalan kearahnya dan aku hanya melepas pegangan tangannya yang perlahan menjauh. Para Vampir yang mengerumuni kami membukakan jalan untuknya selagi bersorak dengan sangat riuh ketika Verdea berjalan melewati mereka
Semua temanku berusaha meronta-ronta melepaskan diri untuk menghalau Verdea. Fyon di sisi lain, masih tetap fokus dengan sihirnya—diam seakan dia sudah mati selagi ditahan di tanah
Verdea pun sudah menghadap kepada Darwin, mata ke mata. Tinggi mereka yang berbeda jauh itu bahkan membuat Darwin harus menekuk leher untuk melihat Verdea yang ada di hadapannya
Anak itu terlihat mangut-mangut, dengan badan yang masih gemetar ketakutan
"Um, tuan vampir...?" Dia pun berucap
__ADS_1
"Ya?"
"Boleh aku bawa Ordelia kesana dulu?"
Darwin melihat Verdea dengan tatapan meremehkan
"Boleh saja. Toh, teman-temanmu juga tidak ada yang bisa bergerak~"
Dia kemudian tertawa terbahak-bahak bersama para vampir. Kali ini aku benar-benar geram, karena mereka sungguh mencemooh setiap orang yang ada di sisi kami sekarang ini. Ditambah lagi, dia memperlakukan Verdea seakan anak itu sekarang adalah mainannya
Verdea mulai dengan perlahan menarik tangan Ordelia yang masih lemas kearahku
Tapi, dia nyaris tidak bisa membawa Ordelia dari tempat mulainya. kadang dia terjatuh karena berat Ordelia, dan semua Vampir itu menertawakannya. Dia kemudian akan bangun lagi dan berusaha sekuat tenaga menyeret Ordelia, walaupun harus berakhir terjatuh lagi dan ditertawakan lagi setiap hal itu terjadi
Aku sudah tidak tahan melihat hal itu. Diantara geram dan iba, ingin mencabik vampir bedebah itu atau segera membawa lari Verdea dan Ordelia saja sejauh mungkin
'Sedikit lagi...'
Aku mempersiapkan sulurku selagi para vampir itu masih fokus menertawakan Verdea
'Sedikit lagi...'
Aku memberi pesan telepati kepada semua pohon disana untuk bersiap menyerang
Dan satu saja aba-aba dari Fyon...
'.... Sekarang!!'
*DUAR!!!!*
Ledakan Mana milik Fyon berhasil menyakiti beberapa vampir yang berjaga-jaga sehingga membunuh sebagian kecil, selagi Mana miliknya mengeluarkan bentuk asap yang sangat tebal, menutup penglihatan para vampir itu. Kepulan asap perlahan semakin banyak dan menutupi seluruh area di sekitar kami semua
Semua temanku langsung melepaskan diri dan membunuh vampir yang menahan mereka, bahkan Veskal yang terkejut dia bisa mengalahkan seorang vampir dalam hal kekuatan fisik
Disaat yang bersamaan, aku menjulurkan tanganku dan menangkap Ordelia dan Verdea dari balik asap itu
Para pohon yang kuperintahkan juga dengan ganasnya mencari semua vampir yang berada di dalam asap, kemudian mengikat dan menusuk jantung mereka. Siapapun dari para vampir yang tertangkap dan kurang beruntung itu sudah dipastikan lenyap jika mereka tetap berada di dalam area asap hitam
Aku di sisi lain, berusaha menarik Ordelia dan Verdea sekuat tenaga. Aku bisa merasakan kalau kedua sulurku mengikat tubuh mereka masing-masing, tetapi...
Ketika aku menarik mereka sekuat tenaga, salah satu sulurku dipotong dengan cepat selagi aku berhasil menarik yang satunya dan menangkap orang yang tertarik itu
Ketika sulur yang tidak terpotong itu berhasil sampai padaku, Ordelia lah yang muncul dan berada di pelukanku, sementara Verdea tidak terlihat dimana-mana
Panik dengan hal itu, kuletakkan Ordelia di tanah sembari memanggil, "Luna!!", kemudian bergerak secepat yang kubisa untuk menggapai kembali kearah tempat Verdea berada dengan tangan kananku
Aku berusaha, sungguh aku berusaha. Diantara asap hitam yang mulai memudar ini, aku berharap penuh kalau aku masih bisa menghalau vampir itu sebelum dia sempat membawa Verdea pergi
Namun, asap yang memudar di sekitar kami itu langsung meruntuhkan semua harapanku untuk mendapatkan Verdea yang sudah menghilang bersama dengan para vampir yang menyerang dan berhasil kabur...
Semua teman-temanku selamat, walaupun mengalami luka kecil. Tapi, aku langsung menoleh kesana kemari sambil terus berharap Verdea masih ada di sekitar
Namun nihil. Tidak ada satupun tanda-tanda keberadaannya dan para Vampir itu di sekitarku
Tidak ada
...
...
...
Aku langsung terduduk di tanah ketika menyadari mereka sudah pergi. Fakta kalau anak itu tidak ada saja sudah cukup untuk membuat pikiranku hancur
Seluruh tubuhku bergetar ketika menyadari kegagalanku untuk melindungi temanku. Teman yang sudah aku janjikan, kalau aku akan selalu disana untuk melindunginya. Tapi aku tidak berada di sisinya, dan aku membiarkan dirinya berada dalam bahaya...
...
Aku...
Aku adalah penyebab dia tertangkap...
"Vainzel! Dimana Verdea?!" Tanya Veskal yang perlahan mendekat kearahku
Tapi, ketika melihat wajahku yang terbelalak dan pasrah, dia langsung tahu jawabannya
Dia geram kepadaku. Spontan, dia mengambil kerah bajuku dan menamparku. Tamparan itu cukup untuk membuatku tersadar kembali, walau aku masih tidak bisa berhenti bergetar selagi mataku dia paksa fokus kepadanya
"Ini semua salahmu! Kenapa kamu membiarkannya pergi!? Kamu tahu kalau itu justru akan membahayakan dirinya bukan?!!" Dia kemudian meneriakkan
"Veskal hentikan itu! Kita semua juga tahu kalau Vainzel harus melakukan pilihan" Luna menyela
"Jadi kalian tidak peduli pada Verdea!?"
"Aku tidak berkata begitu! Yang salah dalam kejadian ini adalah situasinya dan bukan siapa-siapa!"
...
"Dia benar Luna..." Aku berkata lesu
Luna dan teman-temanku yang bisa mendengarkan langsung tersentak
"Vainzel. Ini bukan waktunya untuk menyalahkan diri"
"Tidak. Ini memang salahku. Aku seharusnya..."
...
Apa yang ingin kukatakan sebenarnya?
Jika aku lebih memilih menyelamatkan Verdea, Ordelia lah yang akan berada dalam bahaya. Harusnya aku bersyukur aku bisa menyelamatkan seorang temanku bukan...?
Tapi...
Tapi...
...
Ini terlalu... Menyeramkan. Situasi ini hanya memberiku satu dari 2 pilihan. Keduanya tetap akan membuat salah satu dari temanku berada dalam bahaya...
Dan aku membiarkan Verdea tertangkap karena pilihanku. Jika aku memilih untuk melaju kearah Verdea tadi, aku yakin...
Ordelia juga akan ditangkap oleh Darwin. Tapi, sulur yang mengikat Verdea lah yang dipotong
Verdea adalah target mereka sejak awal sampai akhir. Tapi Ordelia benar-benar akan terbunuh jika aku tidak melakukan hal barusan. Lalu, aku malah menyerahkan Verdea ke tangan mereka. Dan aku tidak mampu mendapatkan dia kembali...
Aku... Tidak bisa apapun...
Aku pikir, hanya karena aku punya kekuatan dan pengalaman dalam bertarung, aku bisa melakukan apapun
Tapi nyatanya tidak...
"Hoy! Berhenti melamun-! Kenapa kamu menangis coba?!" Veskal berteriak
...
Oh, aku menangis...
Dan entah bagaimana, Veskal juga ikut meringis. Entah karena frustasi, atau karena dia mengikutiku. Tapi bagaimanapun itu, air mata kami turun karena tidak mampu menyelamatkan Verdea barusan
"Veskal, lepaskan dia! Ini peringatan terakhir!"
Luna memperingatkan sekali lagi. Veskal yang masih frustrasi pun menumpahkan kekesalannya selagi dia bisa. Dengan melemparkan dari genggamannya, sehingga aku kembali terduduk di tanah
"... Terserah!" Dia pun menyerukan, kemudian hanya mengendus gusar sambil menggigiti jari jempolnya
Luna segera menghampiriku, memegangi kedua bahuku. Tetapi berlainan dengan Veskal, aku sama sekali tidak menatap matanya
"Oberon, sadarkan dirimu. Kita masih bisa berusaha untuk mencari anak itu. Jadi kita perlu mengumpulkan tenaga terlebih dahulu" Luna pun berkata
...
Mengumpulkan tenaga...
Dia menyarankanku untuk kembali ke Miralius terlebih dahulu dan mencari bantuan...
"Aku tidak punya waktu untuk itu. Aku harus segera mencarinya"
"Itu perbuatan bodoh! Kamu tahu kalau Fyon terluka dan kita kekurangan orang!"
"Lalu apa saranmu hah?! Membiarkan anak itu tersisa tengkoraknya terlebih dahulu selagi kita 'mengumpulkan kekuatan'?!"
"... Jika kita pergi ke sarang para vampir dimana aku yakin Verdea dibawa sekarang ini, itu hanya bisa disebut bunuh diri"
"Tidak! Anak itu tanggung jawabku! Dan aku harus-!"
Bagaimana kalau dia disakiti oleh para Vampir itu?
...
"Vain... Vainzel..."
"... Ordelia..."
Aku mengusap mataku, dan langsung menyambut Ordelia yang dituntun oleh Lyralia ke dalam pelukanku
"Ordelia. Kamu tidak apa-apa. Syukurlah kamu tidak apa-apa..."
Setidaknya ada satu hal yang bisa membuatku tenang sekarang ini--
"Vain..."
Oh, Ordelia---
Tangannya perlahan menyentuh pipiku, sehingga air mataku yang mengalir segera dia usap lembut sehingga menghilang. Hangat tangannya itu tetap kutempelkan disana, karena itu adalah satu-satunya tempat aku bisa merasa nyaman untuk saat ini...
"Seandainya aku lebih cepat-- Aku bisa menyelamatkan kalian berdua---!" Aku meringis di hadapannya
Dan dia pun tersenyum lembut. Matanya masih lemas, begitu juga tubuhnya. Jadi dia pun terjatuh lagi karena masih tidak mampu duduk tegap, sehingga aku dan Lyralia spontan menopangnya untuk berbaring di tanah
"Vampir bernama Darwin itu menyerap Mana-nya. Dia sekarang sedang berada dalam kondisi kritis, tapi aku bisa mengstabilkan aliran Mana tubuhnya untuk sementara waktu" Lyralia berucap
"Inti Mana-ku memang lemah jika dipaksa terkuras seperti itu... Hehe..." Ordelia juga meneruskan
"Ini bukan waktunya bercanda---"
"Tapi setidaknya... Itu cukup untuk... Meringankan suasana..."
...
Aku tidak bisa membantahmu sama sekali hah...?
Tapi napasnya terengah-engah dan lukanya belum tertutup. Dia masih harus beristirahat...
Apa aku harus memilih lagi, untuk mengumpulkan tenaga atau segera menyelamatkan Verdea...?
Verdea...
Ordelia...
...
...
...
"Vain..." Ordelia berucap lagi
Aku mendengarkan kalimatnya dengan seksama, mengecup tangannya untuk memastikan kalau aku begitu kepadanya
Dia pun tersenyum. Dia hanya perlu mengutarakan ucapannya
"Dapatkan Verdea kembali... Aku... Tolong lakukan... Untukku"
...!
"O- Ordelia!"
...
Dia pingsan. Tidak ada lagi respon yang bisa kudapatkan darinya setelah itu. Dia jatuh tidak sadarkan diri, seakan dia tertarik ke dalam mimpi indah dengan senyum itu
Dan mendengar kalimat terakhirnya sebelum tidak sadarkan diri, aku tertegun...
Hingga, seseorang lagi mendukung keputusanku
"Ordelia benar, Vain. Dapatkan kembali anak itu, agar pikiran kami bisa tenang"
Ivor juga setuju...
...
Lyralia mengangguk...
Luna hanya membuang wajahnya perlahan...
Fyon dan Luxor hanya memejamkan mata menunggu keputusanku...
Bahkan Cyth dan Black Hunt terlihat siap untuk mengikutinya...
Di sisi lain Veskal...
...
Veskal tidak perlu kupertanyakan keputusannya...
"Kita sama sekali tidak butuh istirahat sekarang. Ada janji yang harus dipenuhi" Dia bahkan berkata
...
"Hm... Dari mana kamu tahu aku berjanji sesuatu kepada Verdea?"
"Terakhir kali aku lihat, aku punya telinga"
Itu jawaban yang bagus...
Dan seharusnya aku tidak begini...
Ordelia dan Ivor benar. Bahkan jika kami pergi untuk mengumpulkan kekuatan sekarang, kami tidak akan bisa tenang sedikitpun. Verdea adalah teman kami, dan bagaimanapun juga, kami adalah temannya. Akan lebih baik jika kami bertindak secepat mungkin sebelum semuanya terlambat
Dan dibandingkan situasi Ordelia dimana dia bisa terbunuh kapan saja tadi, aku mendapati satu hal...
Para vampir itu. Jika mereka ingin menyakiti Verdea, mereka seharusnya membunuhnya disini di depan kami
Tapi mereka justru malah membawa dan menculiknya pergi. Untuk apa?
Mereka tahu konsekuensinya jika menyerangku tanpa pamrih seperti ini. Tapi mereka justru melakukannya sekaligus menculik Verdea...
Ada sebuah alasan yang lebih besar dibalik semua ini...
...
Jika kami berangkat sekarang, para vampir itu tidak akan bisa bergerak jauh dari sarang mereka. Karena matahari sudah mulai terbit. Paling cepat mereka bisa bergerak hari ini hanya bisa pada saat matahari terbenam
Juga, untuk hukuman mereka karena sudah macam-macam dengan membahayakan nyawa temanku...
Aku yang harus melakukannya dengan tanganku sendiri. Aku harus menyingkirkan kaum itu dari dataran utama Goeitias. Mereka tidak layak untuk tinggal di area yang dilindungi oleh kami para Elf
Dan untuk orang yang bisa membawa kami dengan cepat kepada para bedebah itu... Aku ada satu di pikiran sekarang
Kalung yang tidak kugunakan semenjak aku istirahat berkelana ini akhirnya akan berguna lagi
__ADS_1