
--- Tahun 257, Kastil Thyme ---
"Dan sekarang, aku mau menanyakan pendapat kalian" Aku berkata
Verdea dan Vainzel duduk di kursi yang berseberangan dariku sambil terlihat berpikir keras
Sementara itu, semua temanku juga ikut berkumpul di dalam ruang tengah bersama kami
Ya... Kalau aku pergi dan meninggalkan mereka sekarang, aku sudah pasti mengkhawatirkan dua anak kecil ini
Tinggal sendirian di kastil ini selama kami pergi. Sudah pasti mereka tidak akan bisa bukan?
Aku bisa meninggalkan salah satu temanku disini, tapi kasihan mereka kalau tidak bisa menikmati acara tahun baru di Miralius. Itu kampung halaman mereka, dan sudah menjadi hak mereka untuk pulang ketika mereka mau. Dan ini adalah waktu yang tepat untuk itu
Verdea dan Veskal masih terus berpikir. Semoga saja, mereka bisa memberikan saran yang membuat semua orang puas
"Kalau begitu ajak kami ke Hutan Elf" Verdea berkata
Veskal merespon pendapatnya dengan anggukkan mantap
...
Aku bohong jika bilang aku tidak senang. Tapi sekarang, yang akan menjadi urusan merepotkan adalah bagaimana aku bisa meyakinkan Artorius mengenai hal ini—mengajak Verdea pergi dari area kerajaan Hortensia
"Bocah-bocah ini asal bicara saja. Kalian memangnya sanggup menempuh perjalanan 10 hari bersama kami?" Ivor menyela
Dia kemudian beralih kearahku, dengan tatapan yang berkata, 'Kamu tidak akan membiarkan mereka pergi dalam kondisi ini bukan?'
"Kakak. Kami tidak apa-apa merayakan tahun baru disini. Tidak akan ada masalah besar juga" Dia pun mengalihkan pembicaraan
"Aku juga tidak masalah..." Ordelia menyela, sepertinya setuju kalau perjalanan ini akan melelahkan untuk Verdea dan Veskal
"Tapi, orang tua kalian pasti ingin kalian pulang bukan?" Aku justru memberi pertanyaan
Dan mereka pun menunjukkan reaksi. Ordelia tersentak sehingga mencoba menyembunyikannya, sementara Ivor mendecakkan lidah karena mengingat betapa merepotkannya ibunya di Miralius
"Hanya orang tua kalian saja yang ingin kalian pulang" Seseorang tiba-tiba menyela
Kami menoleh kearah Luna yang terlihat suram di dekat pintu ruangan. Ditambah dengan kalimat itu, kami semua tidak berani mengatakan apapun kepadanya
Dia memalingkan wajahnya dari kami semua dan berdiri bersandar di tembok, di tengah diamnya ruangan itu
"Jangan begitu, Luna. Aku yakin ayahmu juga ingin-"
"Kalian bilang begitu, tapi kenyataannya tidak"
...
Ordelia langsung diam ketika perkataannya dipotong oleh Luna
Semua orang yang mengenal Luna sejak dulu sudah tahu seperti apa hubungannya dengan ayahnya. Dan itu bisa dibilang tidak baik-baik saja
Dan karena mengingat itu, aku sering merasa bersalah ketika Zaphir, ayah Luna, lebih senang menghabiskan waktu denganku daripada dengan Luna anaknya sendiri
Aku juga tidak tahu kenapa mereka bisa seperti itu...
Aku selalu berusaha membantu agar hubungan mereka lebih dekat, tapi semua usaha itu tidak memiliki hasil sama sekali
Luna sendiri sudah menyerah untuk menjalin hubungan baik dengan ayahnya dan selalu bersikap seperti ini ketika topik mengenai atau mendekati tentang ayahnya muncul. Itu sebabnya aku tidak pernah membahas apapun lagi mengenai hal ini kepadanya
Aku menghela napas pelan. "Kita masih harus melanjutkan diskusinya" Aku pun berkata
Aku membenarkan posisi duduk, sebelum kembali fokus kepada Veskal dan Verdea—dua masalah utama kami ketika memang ingin melakukan perjalanan ke Miralius
"Masalahnya, kalau kalian ingin merayakannya disini, kalian berlima tidak mungkin terang-terangan menunjukkan diri bukan?" Veskal menjelaskan. "Lagipula, aku kenal betul dengan Putri Rosalia. Dia itu berbahaya jika ingin mendapatkan sesuatu yang menarik matanya" Dia menambahkan
Perkataan Veskal ada benarnya
Perempuan itu adalah masalah besar. Bahkan sekarang, Artorius menjadikan dia sebagai penasihat takhta, atau bisa disebut dengan gelar resminya, tangan kiri raja
Menggunakan posisi itu, dia bisa mengontrol pemikiran Artorius. Dan aku tidak meremehkan kecerdasan anak itu sama sekali, mengingat dia mendapatkan posisi penting di dalam sebuah kerajaan
Aku kadang ragu kalau dia itu anak berumur 13 tahun. Dia terlalu pintar melakukan segala hal, bahkan kebanyakan keputusan yang memakmurkan kerajaan ini adalah nasihat darinya
Jika dia menaruh perhatiannya di salah satu temanku, hanya Tuhan yang tahu hal buruk apa yang akan dia lakukan
Tidak. Bukan hanya dia, aku tidak ingin informasi mengenai teman-temanku jatuh kepada satupun anggota kerajaan, bahkan Artorius. Posisi kami sangat terguncang apabila mereka bisa memanfaatkan hal itu, dan bisa saja membahayakan Verdea
Hah... Bukannya kami takut kepada mereka, sungguh. Aku yang terlalu protektif terhadap keselamatan Verdea. Tapi mau bagaimana lagi? Dia masih sangat kecil walaupun dia memang besar mulut
Kembali ke topik
__ADS_1
"Tapi, perjalanan ke Miralius juga bukan sembarang perjalanan. Banyak monster menempati benua tempat Miralius berada" Aku menyela
"Dan mereka bukan monster sembarangan juga" Luna menambahkan
Kami bisa menggunakan sihir teleportasi kesana, tapi aku tidak yakin dengan kapasitas Mana kedua anak ini. Melakukan sihir itu sekarang ini pasti akan membuat mereka kelelahan. Dan aku ingin menghindari keadaan bahaya dimana Mana mereka bisa saja terkuras sepenuhnya...
"Baiklah, kalau begitu kita voting saja bagaimana?" Luxor mengusulkan
Kami semua menoleh kearah Luxor. Dan tatapan kami semua pun menandakan kalau kami setuju
"Jika keputusan yang paling banyak dipilih menang, maka tidak perlu diganggu gugat lagi" Lanjutnya
Aku sebenarnya ingin bilang tidak setuju. Tapi, kami semua akan menyia-nyiakan waktu kalau kami melakukan ini terus menerus. Jadi ya sudah...
Jika keputusannya pergi ke Miralius, kami berlima harus menjaga kedua anak ini sekuat tenaga
Jika keputusannya tetap disini, hanya Verdea dan orang yang bertugas sebagai pengawalnya saja yang bisa menikmati acara tahun baru. Dan tidak lupa kalau kami harus berhati-hati dengan mata-mata Rosalia
Untuk mengganti Veskal, aku yakin dia akan mengirim orang lain bila sempat
......................
--- Beberapa saat kemudian ---
"Jadi, keputusannya kita akan pergi ke Miralius" Luxor berkata, setelah memastikan semua hal secara rapi
Isi voting itu sudah berucap. Mau tidak mau, kami harus menepatinya dan pergi ke Miralius
Juga, salah satu orang yang memilih pergi ke Miralius membuatku terkejut...
Aku menoleh kearah Luna. Dia tahu aku ingin berkata apa dan hanya memberikan tatapan kosong, kemudian berpaling
Tapi kenapa?
"KENAPA KALIAN MEMILIH PERGI KE MIRALIUS COBA!?" Ivor berteriak karena kesal, semakin menjerit setelahnya
Ordelia hanya tersenyum kecil karena ketakutan. Lyralia hanya bersenandung pelan dan mencoba menenangkan Ivor yang terlihat ingin meledak. Verdea dan Veskal masih melompat-lompat kegirangan selagi bergandengan tangan. Luna hanya diam
Reaksi mereka semua sangat luar biasa, sehingga aku berharap Luxor juga mau mengikuti untuk menambah. Tapi dia sepertinya merasa kalah sekarang ini, memasang ekspresi datar yang sama denganku
"Ayolah Ivor! Anggap ini pelajaran untuk bertualang kami saja!" Seru Verdea
"Betul itu~!" Veskal menyetujui, selagi mereka berdua tertawa kembali
Aku, Luxor dan Ivor menghela napas lelah. Kami bertiga adalah orang-orang yang memilih untuk tinggal dan merayakan acara tahun baru disini. Aku dengan alasan khawatir akan keadaan kedua anak itu, Luxor yang tidak ingin bajunya kotor karena perjalanan panjang, dan Ivor yang mencoba menghindari ibunya hingga berusaha menggunakan kesempatan ini untuk mewujudkan hal itu
Tapi sekarang dia harus mengumpulkan tenaga untuk mengatasi ibunya yang dia anggap menjengkelkan di Miralius
Seandainya Luna memilih tetap tinggal disini, aku yakin votingnya akan dibatalkan. 4 lawan 4 yang menjadi perkiraanku justru sekarang berubah menjadi 5 lawan 3
Tapi, aku sebaiknya tidak mengganggu Luna sekarang. Perasaannya mungkin memburuk kalau aku melakukan hal itu
Dengan tekad yang sudah terkumpul, aku pun berdiri. Keputusan sudah bulat, dan kami sekarang punya tujuan yang harus dicapai
"Baiklah. Kalian pergi bersiap sekarang karena besok, kita akan melalui perjalanan yang panjang"
Mereka semua langsung berkata "Ya!", dengan semangatnya dan mulai bergegas selagi beranjak keluar dari ruangan bersama-sama
Tapi, sebelum dia pergi lebih jauh, Verdea terhenti dan menyempatkan diri untuk menghampiriku
"Aku ingin mengunjungi beberapa tempat juga nanti!" Dia berkata dengan semangatnya
Hah... Dia mulai bersemangat
Kuelus kepalanya sambil tersenyum dan mengangguk pelan
Matanya berbinar terang dan dia berlari dengan girang ke kamarnya
Senyum lebarnya itu membuatku tidak bisa menolak permintaannya...
Baiklah. Sekarang aku akan mengurus pemberitahuan mengenai hal ini pada Artorius
...
--- Setelah itu, kamar Verdea ---
"Ada yang perlu dibantu?" Veskal masuk ke kamar Verdea sambil bertanya
Dia baru saja dipanggil oleh Verdea entah kenapa. Dan dia berharap kalau ini akan jadi perintah pertama yang diberikan anak itu kepadanya. Veskal langsung antusias memikirkan apa yang akan menjadi perintah pertamanya
Verdea yang awalnya duduk diatas kasur sambil sibuk mempersiapkan barang-barangnya diatas sana langsung berhenti dan menoleh melihat kehadiran Veskal
__ADS_1
"Tidak ada. Kamu sendiri bagaimana?" Tanya Verdea balik
Veskal terdiam ketika dia hanya mendapatkan pertanyaan balik. Dia kemudian berjalan mendekat agar dia tidak perlu bicara jauh dengan Verdea
Tetapi, mata Verdea justru menunjuk kearah sebuah barang yang dibawa oleh Veskal sehingga dia lupa untuk mempersiapkan barangnya. Sebuah sabuk kulit yang di kedua sisinya ada sarung belati
"... Hanya belati?" Tanya Verdea lagi
Dia berniat menanyakan apakah itu saja yang akan dibawa oleh Veskal di dalam perjalanannya nanti
"Yang penting bisa aman" Veskal menjawab singkat
Dia terheran. Veskal paham dengan maksud perkataannya, tetapi menganggap kalau belati itu saja cukup. Berbeda dengan dirinya yang sibuk mempersiapkan beberapa pakaian juga
Tapi apapun itu, Verdea kembali mengemas barang. Dia masih perlu memikirkan apa yang perlu dia bawa dan tidak perlu, sementara aku juga sedang tidak ada sisinya karena sedang melakukan hal yang sama
...
Wajah Veskal kemudian berubah. Seperti ada sesuatu yang melintas di kepalanya dan ingin dia keluarkan melalui mulutnya
Dia merasa sudah cukup lama menahan hal itu dan mungkin sudah waktunya dia bertanya. Itu karena selama ini, walaupun dia sudah dengan jelas berkata dia mengabdi kepada Verdea, dia belum mendapatkan kejelasan hati dari tuannya
"... Verdea..." Katanya pelan
Verdea kembali menoleh kearahnya. Tapi, wajah kelam milik Veskal membuat dia bertanya-tanya dengan apa yang terjadi
"Kamu... Percaya denganku?" Veskal pun akhirnya bertanya
Verdea diam mematung karena kaget. Dia sama sekali tidak menyangka pertanyaan itu akan datang
"Begini. Apa kamu tidak curiga aku mungkin masih bekerja dibawah kakakmu atau semacamnya? Aku ini orang jahat, kamu tahu?" Veskal semakin menambah
Dia mencoba memutar kalimatnya karena Verdea belum memberinya satupun perintah. Dia masih perlu tahu, apa arti dirinya ada disana di dalam mata orang yang dia anggap sebagai teman dan tuannya sekaligus itu
...
Tetapi... Verdea hanya berpaling dan perlahan kembali mengerjakan persiapannya
"Aku percaya padamu selama Vainzel percaya padamu" Verdea berkata
Veskal sedikit tersentak mendengar itu
"Aku hanya percaya apapun yang dia katakan. Aku juga sebenarnya tidak mempercayaimu saat kamu pertama kali disini, tapi dia mengatakan kalau kamu tidak akan melakukan sesuatu di luar batas" Lanjutnya. "Dan aku senang, aku mendapatkan teman baru..."
Dan itulah yang sejujurnya. Verdea mengatakan hal itu dari hati. Dia tahu, jawaban yang baik bukanlah jawaban yang diinginkan Veskal
Verdea tahu, kalau Veskal menginginkan kejujuran dari dirinya
...
Veskal diam dengan mulut terbuka. Ternganga menyaksikan kejujuran yang tidak ditahan itu. Tapi itu cukup, untuk membuatnya tersenyum kecil kemudian, hingga dia harus menoleh untuk menyembunyikan ekspresi senangnya
"Kalian benar-benar punya kepercayaan yang kuat kepada satu sama lain... Aku kadang cemburu dengan hal itu..." Dia pun bergumam
Verdea terus sibuk memilih barang-barang yang dia akan bawa dan mengabaikan Veskal. Tapi, dia juga tidak bisa menahan senyumannya
Mereka berdua sungguh ingin menjadi teman untuk satu sama lain. Dan keduanya pun merasa lega menyadari hal itu...
"... Baiklah, biar aku tolong kamu" Veskal berkata, kemudian naik keatas kasur dan merangkak ke samping Verdea
Dia duduk bersila menghadapi Verdea. Keduanya pun tersenyum kepada satu sama lain, dan mereka mulai memilih barang-barang yang akan Verdea bawa—tidak jarang berdebat dengan barang yang masing-masing mereka pilih
Selagi mereka berdebat, aku hanya tersenyum melihat kedua anak itu dari balik pintu
Perlahan-lahan, aku mundur dan pergi dari depan kamar Verdea dan membiarkan mereka berdua melakukan apa yang membuat mereka senang. Keduanya pantas mendapatkan waktu itu
Aku harap Veskal dan Verdea akan menjadi teman yang lebih baik ke depannya dan terus bersama seperti itu...
"...?"
Ketika berjalan melalui lorong kastil, aku pun bertemu dengan Ordelia. Sesuatu yang sesungguhnya sudah aku antisipasi
Aku sudah meminta dia melakukan sesuatu untuk persiapan besok dan sekarang dia akan memberitahuku
"Bagaimana cuacanya untuk besok?"
Ordelia menunduk sedih. Aku pun paham, kalau berita yang akan dia berikan itu akan mengecewakan. Tapi mau tidak mau, dia kemudian berkata, "Sepertinya badai saljunya akan semakin parah ke depan..."
...
"... Gawat juga, ya..."
__ADS_1
Perjalanan ini mungkin akan sulit jika kami tidak bergegas dengan segera. Perjalanan ini sekarang hanya memiliki masalah waktu yang tepat