
...
Hah...
Aku merasa buruk karena perlakuanku tadi
Tidak seharusnya aku menarik tanganku tiba-tiba seperti itu. Remina pasti kebingungan dengan hal itu dan merasa bersalah
Sekarang dia sedang berbaring di dalam kereta kuda yang kubawa ini. Aku membeli kereta kuda ini dengan uang hasil menjual beberapa bagian badanku ke pasar gelap. Untung saja ada yang berbaik hati menjual kereta ini dengan harga murah tadi
Kereta ini akan digunakan untuk tempat interogasi kami nanti. Agar tidak mencurigakan dan memastikan tidak ada saksi mata, kami mengeksekusi rencana penculikkan itu saat tengah malam. Karena aku yakin, tidak akan ada orang lain yang menaiki kereta kuda dan pindah kota ada waktu malam
Aku benci melakukan ini, tapi aku sama sekali tidak bisa diam saja melihat perlakuan para manusia itu kepada kaumku
Aku tidak pernah mencoba melakukan apapun pada manusia selama 5 tahun ini, walaupun aku tahu persis sejahat apa mereka pada para Elf. Tapi, aku akhirnya mencapai batas ku. Aku tidak bisa diam lagi melihat hal itu, terutama mengingat setiap wajah marah dan takut para Elf yang kuselamatkan
Kenapa aku tidak melakukan ini sejak dulu-
...
Karena mereka ya....?
Semua hal yang kulakukan sekarang ini, setiap kali aku menahan amarahku pada para manusia, semua itu kulakukan karena aku mengingat kalau Verdea dan Veskal juga manusia
...
Apa kabarmu Verdea, Veskal? Sudah lama kita tidak bertemu
Aku penasaran apa kalian juga melihat ke langit malam sekarang ini. Bintang-bintang di langit bersinar sangat indah seperti permata sekarang ini
Kamu pasti akan senang melihatnya, terutama Verdea, mengingat kamu pernah mencoba mengambil beberapa batu bersinar dari rumah Elf di Miralius
Apa... Kalian akan kecewa jika kalian tahu aku melakukan hal jahat ini?
Hanya suara angin yang terdengar di telingaku
...
Aku bicara sendiri lagi
Aku sudah tidak tahu ini yang ke berapa kalinya aku berbicara sendiri
...
"Ada apa Remina?"
Dia tidak sedang tidur. Aku bisa tahu dari napasnya yang tidak terdengar teratur itu
Karena kaget dan ketahuan, dia pun bangun dari tempatnya berbaring dan duduk menghadapku
"Remina? Kenapa belum tidur?" Aku bertanya
Ini sudah larut. Aku tetap bangun karena aku harus menunggu teman-temanku yang sedang menjalankan misi itu
Remina mangut-mangut seperti ingin mengatakan sesuatu. Setelah beberapa saat aku menunggunya, akhirnya dia membuka mulut
"A- aku ingin minta maaf" Dia berkata pelan
Kepalanya tertunduk seakan
...
Hah... Dia benar-benar merasa bersalah...
Aku ini memang orang terburuk. Aku membuat seorang anak kecil merasa bersalah karena sesuatu yang tidak dia lakukan
"Tidak perlu dipusingkan. Aku juga tidak mempermasalahkan hal itu" Aku berkata sambil sedikit menoleh kearahnya
"... Tapi, aku merasa sudah membuat Oberon terganggu" Dia membalas
"... Sudah kubilang, tidak perlu dipusingkan". Aku menoleh kearahnya, kemudian menambahkan, "Dan tidak perlu memanggilku Oberon. Panggil saja Vainzel"
Dia melihat kearahku dengan wajah gelisah, tapi dia perlahan mengangguk paham
Setelah melihat anggukkan nya itu, aku kembali fokus mengendalikan 2 kuda yang menarik kereta ini
*Tap! Tap! Tap!*
Ah, mereka sudah sampai
"Apa i-"
"Tenang Remina. Ini kami" Ordelia berkata sambil menunjukkan dirinya yang sudah berada di dalam kereta
Remina kaget dan menghentikan perkataannya ketika melihat Ordelia yang tiba-tiba muncul di hadapannya itu
Dia semakin kaget ketika melihat semua teman-temanku yang tiba-tiba muncul entah darimana di dalam kereta itu. Dan...
2 Orang yang diculik oleh mereka. Kedua orang itu pingsan dan tidak sadarkan diri
Mata Remina langsung melebar dan dipenuhi rasa takut. Ingatan akan siksaan yang dia hadapi karena kedua orang itu membuat seluruh badannya bergetar dan ingin kabur dari hadapan mereka
Melihat Remina yang ketakutan, Ordelia langsung mengantisipasinya dengan memeluk Remina seerat mungkin dan menutupi pandangannya dari kedua orang itu
"M- Mereka-"
Remina tidak bisa menyelesaikan kata-katanya karena rasa takut yang luar biasa itu. Dia kemudian perlahan membalas pelukan Ordelia
Ivor dan aku kemudian berganti tempat, dan membuatku duduk di hadapan kedua orang yang masih pingsan
Satunya wanita tua, dan satunya pria muda. Mereka sepertinya ibu dan anak
"Kalian yakin ini orangnya?"
"Ya.... Berdasarkan reaksi Remina, sudah jelas bukan?" Lyralia berkata
Ada benarnya juga
"Bangunkan mereka"
Mendengar perkataanku, Luxor langsung menggunakan sihir cahaya dan menyentuh kepala kedua orang itu
Dalam sekejap, keduanya terbangun. Kaget melihat kami, si pria muda berusaha kabur, tetapi ikatan tali di tangan dan kakinya hanya membuatnya tersungkur
"Siapa kalian!? Kenapa-!?"
Mata kedua orang itu pun tertuju kearah Remina yang terlihat ketakutan di pelukan Ordelia
"Untuk memperjelas, kalian pasti mengenal wajah ini bukan?"
Aku memakai sihir penyamaranku lagi dan memperlihatkan sosok berambut hitam itu kepada mereka untuk sekilas, kemudian kembali melepasnya
Kedua orang itu langsung mengeluarkan keringat dingin dari dahi mereka karena ketakutan setelah mengenaliku
"K- kamu- S- s- siapa- S-"
"Sa si su! Bicara yang jelas!" Aku membentak
Kedua orang itu semakin terlihat ketakutan denganku
"Aku ingin langsung ke intinya, dan aku punya 3 pertanyaan yang harus kalian jawab dengan jujur. Darimana kalian-"
__ADS_1
"Beritahu kami ini dimana dahulu!" Potong wanita tua itu
Aku langsung menghantamkan tanganku dan menghancurkan bagian kereta di samping kepalanya
"Sekali lagi kamu memotongku, kepalamu akan jadi yang selanjutnya" Aku berkata dengan wajah kesal
Semua teman-temanku menyaksikan hal itu dengan wajah datar selagi kedua orang itu kusiksa mentalnya
"Pertanyaan pertama. Kalian tahu sesuatu dari akar bisnis jual-beli Elf ini?" Aku bertanya
Si pria muda tidak ingin membuka mulutnya dan malah memelototiku dengan wajah kesalnya
Tetapi, wanita tua itu langsung membuka mulutnya, membuat si pria muda kaget
"... K- kami hanya mendengar, k- kalau ada seseorang bernama Walter Herb yang menjual mereka. Ka- kami tidak tahu lebih lanjutnya. Kami hanya membeli gadis itu, sumpah" Wanita itu berkata
"Ibu-!?"
"Diam Henry. Ini untuk keselamatan kita" Dia berkata dan memotong perkataan anaknya
Karena perkataan ibunya itu, si pria muda hanya diam tanpa memprotes apapun lagi
Aku mencoba mengolah informasi itu terlebih dahulu
Walter Herb. Walter. Rosalia pernah mengatakan nama itu saat kami diserang secara mendadak 5 tahun lalu
Jadi, orang itu juga berkaitan dengan Rosalia? Sebenarnya ada berapa banyak orang yang memiliki hubungan dengan perempuan licik itu?
...
"Lalu, kamu tahu sesuatu tentang Oberon?"
"K- kami tidak tahu. Seorang Hakim Agung bernama Yuriel Grandier memasang harga yang mahal untuk kepala orang itu"
"Lagipula dia penyebab utama insiden 5 tahun lalu" Pria muda itu menyela
...
"Insiden itu menyebabkan istri dan anakku meninggal. Jadi, persetan dengan orang itu" Dia menambahkan
Air matanya perlahan menetes ke pipinya, sama dengan wanita paruh baya itu. Tapi, masih dengan ekspresi marah, dia menoleh kearahku lagi dan berkata,
"Persetan dengan kalian para Elf kotor. Kalian pantas dibakar hidup-hidup!"
"Tutup mulutmu-!"
"Zaphir. Hentikan" Aku memotong
Zaphir yang tadinya ingin bangun, kembali duduk dengan tenang sambil bertukar tatapan geram dengan pria muda itu
...
Hah... Harus ada yang bisa meluruskan kesalahpahaman ini...
Aku takut jika tidak diluruskan, perang ribuan tahun antar para ras itu akan terulang lagi. Aku takut kami dikenang sebagai penyebab perang itu lagi oleh para manusia
...
Fokus Vainzel. Pertanyaan terakhir ini adalah pertanyaan paling penting
Setelah merenung sedikit, aku kembali menoleh kearah mereka berdua
"... Pertanyaan terakhir. Kemana kalian membawa ayah dari anak itu?"
"Persetan. Kami tidak tahu dan tidak peduli"
"Kami hanya disuruh untuk memperingatkan seandainya ada Elf yang sekarat. Lalu, ada sebuah kereta yang datang dan membawa Elf itu pergi entah kemana"
Jawaban terakhir itu sama sekali tidak membantu. Tapi, aku harus tetap berterima kasih pada wanita ini karena sudah mau memberitahukan semua hal ini
"Lalu... Dimana ayahku?"
Kami semua menoleh kearah Remina. Dia terlihat sangat syok dan panik, dengan air mata yang terus mengalir
"Aha... Ahahah! Bocah ini ingin bertemu dengan ayahnya?"
Pria muda itu tiba-tiba tertawa dengan keras, bahkan ibunya sampai kaget melihatnya
"Berhenti berharap~ Ayahmu itu sudah mati!" Dia berkata, kemudian melanjutkan tawanya
Aku langsung menghentikan Zaphir yang sekali lagi mencoba menyerang orang itu
"Apa maksudmu?" Aku bertanya
"Haha... Dia sakit sangat parah saat kami melaporkan kondisinya. Aku bahkan heran kenapa dia masih hidup dalam kondisi seperti itu" Pria itu menjawab
"Kalian bohong... Kalian pasti bohong!" Remina menolak
"Ahaha! Oh.... Anak kecil yang polos. Rupanya kamu masih belum tahu apapun"
"Kamu masih bisa tertawa dan mencelanya seperti itu, bahkan ketika kamu sudah menyiksanya selama ini!?" Ordelia berkata dengan nada geram
Wajah dan ekspresinya benar-benar marah sekarang ini. Dia bahkan tidak terlihat seperti Ordelia yang biasanya
"Hey. Seperti yang aku bilang tadi, persetan dengan kalian. Tidak peduli kalian dewasa atau anak kecil, ras kalian harus menanggung dosa dari raja kalian itu! Dan jika dia memang sayang dengan kalian, seharusnya dia menyerahkan kepala tidak berharganya itu sejak dulu!" Pria itu berkata
Semua teman-temanku langsung menoleh kearahnya dengan wajah geram
"Kalian-!"
"Aku akan-!"
"Hentikan! Kalian semua, diam!" Aku berkata, menghentikan mereka semua
Tapi ekspresi marah mereka sama sekali tidak lepas dari wajah mereka. Gigi mereka mengerat seperti anjing yang sudah siap menggigit sekarang ini
Aku duduk dengan lemasnya di depan mereka berdua
Kemudian aku membuka kerudungku, dan perlahan...
...
...
Aku bersujud di depan mereka...
Semua orang yang melihatnya langsung kaget
"Vainzel, apa yang-!"
"Maafkan aku. Sebagai raja para peri, tolong maafkan aku"
Ordelia langsung berhenti bicara ketika aku mulai bicara
Mata kedua orang itu melebar karena tidak percaya. Lalu, perlahan tapi pasti, tatapan mereka berubah menjadi tatapan geram
"Kamu...!"
"Jadi, kamu-!"
Aku mengangkat wajahku lagi dan melihat langsung kearah mereka, dan berkata
__ADS_1
"Aku minta maaf karena tidak bisa menghentikan insiden 5 tahun lalu"
"KAMU BICARA SEAKAN KAMU TIDAK MELAKUKANNYA SAMA SEKALI!" Pria itu berteriak marah
Dia mencoba menendang ku, tapi Zaphir menghadang dan membuat kakinya terkilir
Dan sekali lagi, aku harus menghentikan Zaphir. Dia perlahan mundur dari pria itu yang masih menahan rasa sakitnya
"... Aku tidak terlalu berharap kalian memaafkanku, atau paham dengan situasinya, tapi... Tolong. Tolong jangan hancurkan hidup para Elf. Aku mohon"
"Kalian sudah menghancurkan hidup sebagian besar manusia di dunia ini... Lalu-"
Ketika dia melihat langsung ke mataku, pria itu terdiam. Tidak. Semua orang disana terdiam melihat wajahku
Wajah yang menunjukkan rasa putus asa itu berusaha kusembunyikan dengan cara menunduk ke bawah
"Vainzel..." Ordelia berkata pelan
Remina yang ikut melihat juga hanya bisa melihat rasa putus asa yang terukir di wajahku
"... Setidaknya, jika kalian menganggap aku lah penyebab insiden itu, maka, timpakan lah rasa marah kalian itu pada diriku. Jangan lakukan apapun kepada para elf tidak bersalah seperti gadis kecil ini"
Aku mengambil sebuah pisau dari balik kerudung ku. Teman-temanku kaget melihat hal itu, terutama ketika aku memotong ikatan tali milik pria itu dan menyerahkan pisau itu ke tangannya
"Tusuk aku jika hal itu bisa membuatmu lebih baik" Aku berkata
"Kamu sudah gila Vain!?" Teriak Zaphir
Aku diam tidak menjawab
Pria itu masih memegang pisau itu dan mengarahkannya padaku
Tangannya bergetar. Pikirannya mungkin mengatakan kalau dia harus menusukku. Tetapi badannya terus bergetar hebat
Aku masih menunggu jawabannya. Aku masih duduk di hadapannya sambil terus menatap. Dadaku hanya terletak beberapa inci dari ujung pisau itu
Aku bahkan tidak mencoba menantangnya sama sekali. Aku hanya duduk disana, sesekali melihat kearah tangannya yang bergetar, dan terus menunggu
...
...
*Tak!*
Pisau itu terjatuh tepat diantara lututku. Dia hanya mundur dariku dan memeluk ibunya sembari keduanya menangis
Dia bahkan tidak menggores ku sedikitpun
"... Apa-apaan ini?"
Kami menoleh kearah Zaphir yang berbicara. Dia terlihat sangat geram karena hal itu
"Kalian berani menyiksa seorang anak kecil karena dosa pemimpinnya, tapi ketika pemimpinnya menyerahkan diri, kalian malah mundur?"
Dia kemudian menunjukkan rasa jijik yang tercampur dengan wajah geramnya itu
"Kalian menjijikkan....
Kalian melakukan hal keji pada gadis ini untuk melampiaskan diri, tapi ketika sudah tidak diperlukan, kalian bertindak seakan tidak perlu terjadi apa-apa lagi" Dia menambahkan
Kedua orang itu hanya melihat kearahnya, tanpa menjawab atau menunjukkan rasa takut sedikitpun
"... Boleh kita mulai bagian membunuhnya?" Luxor berkata
Dia juga sudah terlihat sangat geram. Tapi...
"... Tidak. Kita tidak akan membunuh mereka" Aku berkata pada mereka
Luxor dan Zaphir tersentak mendengar perkataanku. Mereka pun ingin menanyakan kenapa aku berubah pikiran, tapi mereka tidak mencoba bertanya ketika melihat wajahku yang terlihat kosong
"Mereka akan tetap hidup. Kita tidak berhak memutuskan kematian seseorang, karena hal itu sudah menjadi kebebasan" Aku berkata
"Tapi-"
"Kalau begitu aku harus memberi kalian perintah untuk tidak menyakiti kedua orang ini" Aku memotong Zaphir
Semua temanku diam tertegun mendengarkanku. Aku pun menoleh kearah kedua orang itu
"Lalu, apa keputusan kalian? Apakah kalian ingin hidup atau mati?" Tanyaku
Mereka berdua yang daritadi diam tertegun pun akhirnya menjawab, "Kami tentu mau hidup". Ibunya kemudian mengangguk pelan mengikuti perkataannya
Aku tersenyum kearah mereka. Dan setelah dengan perlahan menaikkan kerudungku kembali, aku pun berkata, "Bagus. Kami akan menurunkan kalian di kota selanjutnya"
Mereka pun melihat kearah satu sama lain dengan senyuman bahagia
...
Ah... Sisi lembutku kembali muncul
Aku tergoyah ketika mendengar tentang istri dan anak dari pria ini. Aku sempat lupa kalau manusia juga memiliki kesulitan mereka masing-masing
Mereka punya suka duka mereka masing-masing. Walaupun mereka melakukan tindakan keji, mereka punya alasan masing-masing, dan pasti ada penyebab dari kejahatan mereka itu. Kejahatan seseorang umumnya terjadi karena kondisi
Manusia dan Elf tidak terlalu berbeda. Kami semua bisa terjebak di dalam kegelapan. Hal itu sangat mengerikan dan bisa datang kapan saja
...
Itu alasan utama aku menjaga Verdea sejak awal. Agar dia tidak terjerumus kearah itu, dan agar dia bisa tahu jalan yang tepat untuk keluar dari kegelapan itu, tanpa melukai dirinya
Aku menggandeng tangannya selama ini, dan mengajaknya untuk ikut mengikuti cahaya yang kulihat. Tapi, ketika aku melepas tangannya, kira-kira apa yang dia lakukan?
...
Ah, aku sudah memutuskan tempat kepergianku selanjutnya
Aku akan mencari mereka kali ini. Verdea, Veskal dan Luna pasti berada di kota para Dwarf sekarang ini, mengingat Paman Zer yang menjadi pemandu mereka
Mungkin akan butuh waktu yang sangat lama untuk menemukan kota tersembunyi itu. Aku juga sudah tidak memiliki jimat untuk memanggil Paman Zer, jadi aku harus berusaha mencarinya sendiri
Aku sudah menunda pencarian ku terhadap mereka selama ini karena fokus pada para Elf, tapi sekarang, ketika kami sudah mengunjungi sebagian besar kota di dunia, aku mungkin harus meluangkan waktu untuk mencari mereka
...
...!
"Maaf. Tapi, kami harus tetap membawa kalian. Apa boleh?" Aku berkata pada kedua orang itu
"Hah!? Kenapa-"
Mereka bahkan belum sempat menyelesaikan perkataan mereka ketika menyadari kereta kami yang tiba-tiba berhenti
"Vainzel. Ada orang yang tidak menyenangkan di depan kita sekarang ini" Ivor berkata. Ekspresinya terlihat sangat murka dan ingin menyerang orang yang dia katakan itu
Yah... Aku juga sudah merasakannya
Setelah keluar dan menghadapi orang itu, aku tersenyum remeh dan berkata,
"Lama tidak berjumpa, Yael Tarasque"
Yael hanya membalasku dengan sebuah senyuman sinis di bibirnya
__ADS_1