
"Jadi, berapa lama kamu bilang senjata itu akan selesai ditempa?"
"Tunggu saja seminggu. Aku yakin dengan bantuan Veskal, pembuatannya akan sangat cepat"
Bagus, aku yakin itu cukup. Tapi, aku harus meninggalkan anak yang satu ini di sisi paman Zero
Aku sungguh tidak ingin meninggalkannya, tapi aku adalah seorang raja. Ada banyak urusan yang aku harus tangani, terutama ketika aku mengingat kalau aku ini adalah pelayan Verdea
Belum lagi, kebutuhan kaum Elf semakin lama semakin meningkat karena pembangunan ulang rumah-rumah kami. Aku harus serius menanggapi mereka semua, dan segera membantu apabila memungkinkan
"Kalau begitu, aku akan pergi terlebih dahulu. Aku harus memastikan kalau Luna dan Zaphir baik-baik saja sebagai kedua tanganku"
"Pasti berat sekali menjadi tangan sang raja. Baiklah kalau begitu"
Aku tertawa kecil mendengar kalimat paman Zero, sebelum kami melambaikan tangan tanda perpisahan. Aku pun dengan segera menghilang dari hadapan mereka, dibawa oleh sihir teleportasi kembali kearah Miralius
Yang tersisa dariku di tempat itu sekarang hanyalah bekal yang kutinggalkan untuk Veskal. Cukup untuk beberapa hari, tetapi setidaknya itu akan mampu memuaskannya seandainya dia butuh sayuran jika ingin makan
...
"Duduklah. Aku yakin teleportasi itu sangat melelahkan untukmu" paman Zer mempersilakan Veskal untuk duduk diatas sebuah bangku kecil
Veskal dengan senang hati menerima tawaran itu, menyenderkan punggungnya di tembok ruangan yang kosong selagi dia duduk diatas bangku yang dimaksudkan
"Teleportasi itu selalu melelahkan..." dia kemudian menggerutu selagi melihat langit-langit
"Jika kamu tidak punya Mana yang kuat tentu itu akan melelahkan. Dan aku tahu betul kalau baik kamu ataupun si pangeran kecil, kalian tidak memiliki kualitas Mana seperti itu" paman Zer berkomentar selagi mengambil setiap perkakas dan bahan yang bisa dia dapatkan
"Tapi aku punya kualitas Mana yang lebih baik. Anak itu sama sekali tidak bisa melebihi potensi dari perapal sihir tingkat dasar. Aku kadang kasihan ketika dia menggerutu disaat dia tidak bisa merapal sihir tingkat menengah keatas..."
"Bakat tidak selalu datang ke orang yang tepat. Tetapi disiplin akan selalu memberkati seseorang yang menekuninya"
"Hah... Aku tidak tahu bagaimana harus menyampaikan motivasi seperti itu kepadanya. Verdea memang adalah orang yang disiplin dalam hal yang dia sukai, tapi, dia sendiri tidak diberkati dengan apapun kecuali teman-teman yang baik"
Paman Zero yang sudah mempersiapkan air untuk Veskal minum itu diterima dengan baik olehnya. Veskal dengan segera meneguk habis gelas itu, menyerahkannya kembali ke tangan paman Zero
"Bukannya itu sendiri sudah cukup?" paman Zero meneruskan
"Tentu. Tentu, paman Zero..." Veskal pun menyandarkan diri ke tembok, semakin terlihat pasrah
"Tapi itu tidak akan cukup untuk membantu dirinya untuk di masa depan nanti"
"...!"
Paman Zero terhenti seketika mendengar kalimat itu. Gelas yang dia berniat untuk letakkan di dalam tempat dia mencuci benda kotor itu masih berada di dalam genggaman tangannya. Perlahan dia menoleh kearah Veskal, yang entah sejak kapan sudah menatap kearahnya terlebih dahulu
Dia pun tahu, kalau ada sesuatu yang diinginkan Veskal dari perbincangan ini
"... Apakah ini mengenai perseteruan diantara kalian dan Rosalia Hortensia?" dia pun bertanya
"Sangat tepat. Kamu pasti adalah seorang penerawang"
"Simpan basa-basi itu jika kamu memang menginginkan sesuatu, Veskal"
__ADS_1
...
...
...
"Verdea butuh bantuan"
"Semua orang tahu itu, tapi-"
"Tapi kalian sudah memiliki banyak orang yang lebih berharga dibandingkan apapun, itu yang ingin kamu bilang?"
"... Cukup mendekati"
Gelas itu pun sudah tersingkir dari tangan paman Zer, selagi dia mulai fokus dan mendekat kearah Veskal
"Yang kumaksudkan adalah, jika kamu menginginkan aku ataupun seluruh kota Bargalos untuk berada di sisi Verdea dalam perang ini, aku harus menolak" dia pun berkata dengan nada serius setengah berbisik
"... Karena kalian menganggap diri kalian itu lemah?" Veskal melontarkan pertanyaan
"Karena aku menganggap gabungan kami semua itu lebih lemah dibandingkan seorang Oberon bernama Vainzel"
"Vainzel itu pengecut dan berada dalam posisi yang lemah. Dia tidak punya sikap sinting dan kondisi yang cukup untuk mengalahkan Rosalia, walaupun dia mencoba meyakinkan diri dia bisa sekalipun"
Paman Zero tersentak mendengar kalimat itu dari Veskal. "Kenapa kamu berkata seperti itu mengenai temanmu sendiri?" dia dengan rasa kesal kemudian bertanya
"Karena itu benar" Veskal sama sekali tidak menyangkal kalimatnya. "Dan dibandingkan kedua temanku, aku akan sangat bangga jika seseorang memanggilku gila. Karena itulah yang kami butuhkan untuk saat ini, sesuatu yang tidak dimiliki Vainzel atau Verdea sekalipun"
Veskal menghela napasnya lelah, kembali melihat kearah langit-langit tanpa memedulikan paman Zero yang mulai merasa terganggu dengan seluruh perbincangan itu
"Apa yang membuatmu berkata begitu?" paman Zero bertanya
"Karena aku tahu Rosalia lebih baik- Aku benci mengatakan hal ini berulang kali kepada semua orang"
...
"Aku paham. Aku bukan orang pertama yang menjadi sekutumu dalam hal ini"
"Frank Gold sudah setuju untuk bekerjasama denganku. Setelah waktunya tepat, aku ingin Eleanor Alveria Andromeda dan sepupuku Albert untuk ikut bersekutu denganku. Aku ragu Cyth akan mengkhianati kepercayaan Vainzel karena bajak laut itu punya kode moral pribadi yang tidak ingin mereka ingkari"
Dia sudah paham dengan setiap pemain yang ada di sisi Miralius. Dia sudah paham kemampuan seperti apa yang bisa dia gunakan dalam mencapai hal ini
Dan dia sudah paham, apa titik buta yang aku dan Verdea tidak lihat. Maka itu adalah kewajibannya untuk memastikan kami tidak memiliki kelemahan lagi sama sekali
"Aku mungkin butuh Tasya, tapi kita akan lihat dulu..."
"Tasya?"
"Temanku. Aku ragu dia perlu aku ikutkan dalam permasalahan ini, karena dia sendiri sudah melalui banyak hal"
Paman Zero diam mendengar itu. "Dan menurutmu kamu sendiri belum melalui banyak hal?" dia kemudian bertanya
"Kata kuncinya adalah 'sudah', paman. Jika usai, maka kita pastikan urusan itu tetap usai. Tidak perlu menambah lagi bukan?" Veskal membalas
__ADS_1
"Lalu kenapa kamu butuh aku jika tidak ingin menambah masalah orang lain?"
Veskal terdiam mendengar pertanyaan itu. Walaupun dia punya jawabannya, dia merasa gusar hal itu harus disampaikan
"Aku tidak perlu kamu ikut secara aktif. Aku hanya perlu kamu membuatkan diriku beberapa hal selama seminggu ini"
Membuatkan sesuatu adalah keahlian seorang Dwarf. Tidak perlu diragukan lagi. Tetapi apa yang harus diragukan disaat itu adalah apa niat dari keinginan itu
"Buatkan aku setidaknya 5 batu sihir setiap hari. Di hari ketujuh, siapkan 30 batu sihir sekaligus"
"Batu sihir..."
Sebuah benda kecil yang dibuat dari alkimia. Sebuah benda yang mampu menyimpan sihir sekali lempar tanpa memerlukan rapalan
"Tapi kenapa batu sihir?"
Veskal hanya diam menatap paman Zero. Dia tidak memberi jawaban sama sekali
Dan itu cukup untuk membuat paman Zero tunduk
"Sepertinya kamu tidak leluasa merencanakan ini di Miralius, hm?" dia kemudian berkata, selagi mempersiapkan peralatannya
"Percayalah, paman. Jika aku bisa melakukannya sedekat itu dengan Vainzel, aku tidak perlu bantuan darimu"
Itu terdengar kejam, tapi tidak salah. Paman Zero juga tidak memiliki niatan awal untuk terjerat dengan masalah ini. Dia bahkan menghindarkan Bargalos dari urusan kami dengan memastikan kami beranjak keluar—kembali ke Miralius
...
Itu mengundang rasa bersalah di hatinya. Dia paham, kalau kami seharusnya tidak pernah pantas untuk berada di dalam masalah ini. Tetapi takdir punya rencana lain. Hanya saja, itu tidak berarti dia harus membahayakan penduduk kota tempat kelahirannya ini
Dan jika dia bisa membantu sekaligus tidak membahayakan kampung halamannya sama sekali, maka paman Zero sudah memutuskan
"Aku juga akan membuatkan dirimu sesuatu yang pasti akan bisa membantu"
Dan dengan begitu...
Palu seorang penempa pun berdenting diatas besinya. Memastikan kalau palu itu masih bisa bekerja sesuai tugasnya
"Hanya aku. Tiada siapapun di kota Bargalos yang akan mengikuti rencana gelap milikmu ini"
Sebuah pilihan yang berada diluar ekspektasi Veskal. Pilihan dari paman Zero yang berinisiatif untuk ikut di dalam peperangan ini. Veskal pun mengusap dagunya—bingung dengan bagaimana dia harus memanfaatkan situasi ini
Ada satu hal yang perlu dia ketahui dahulu
"Apa benda yang akan kamu buatkan untukku itu?"
"Sebuah jimat"
Veskal tertegun, mengangguk paham dengan apa yang ada di dalam niatan paman Zero
"Aku paham, garis besar dari rencanamu sekarang..."
Sekali lagi, suara palu itu berdenting untuk mengetes apakah dia layak menjalankan tugasnya...
__ADS_1
"--- Dan aku akan pastikan, setidaknya kamu bisa menghindari kerugian yang lebih besar untuk dirimu sendiri"
Dan palu itu pun siap untuk ketukan yang ketiga. Siap untuk membuat sebuah senjata yang pantas untuk digunakan