
"Baiklah. Semuanya sudah ada disini"
Aku mengatur kembali posisi dudukku, kemudian melipat kaki kiriku di atas pahaku
Menghitung kembali setiap orang yang ada di tempat ini terlebih dahulu, jumlah mereka memang sudah pas dengan yang kuinginkan
Welt Divo, Petinggi klan Elf tanah atau Gnome, tiba-tiba mengangkat tangan kanannya sampai aku memperhatikannya
Dia sepertinya ingin menanyakan sesuatu
"Oberon. Maafkan aku, tapi kenapa seluruh petinggi di Miralius dipanggil kemari? Dan juga..."
Welt melihat sekeliling dan memperhatikan setiap temanku yang bukan petinggi Elf di sekitarnya. "Kenapa ada orang lain juga disini?" Dia bertanya lagi
"Karena setiap orang yang berada di sini akan sangat penting untuk keselamatan ras kita" Aku menjawab
"Hah! Jangan bercanda! Apa yang bisa dilakukan oleh manusia-manusia ini untuk kita? Mereka itu cuma makhluk liar tidak berguna yang hanya-"
"Amelia. Cukup" Aku memotong
"...!"
Setiap orang yang berada disana melihat kearahnya dengan wajah kaget. Welt memberinya isyarat agar dia diam saja sampai nanti terlebih dahulu, dan Amelia hanya mengangguk kesal
Melihat kalau semua orang sudah diam dan tidak berisik, aku pun mulai bicara kembali
"Aku tidak ingin memperpanjang masalah ini, jadi..."
Aku menunjukkan pada mereka batu rekaman yang aku dapatkan dari Sylph yang tiada itu. "Kita semua harus melihat hal ini bersama untuk mengkonfirmasi rencana yang akan kubuat"
Mereka mendekatkan telinga mereka agar mereka bisa mendengarkan dengan seksama, selagi dengan fokus menatap kearah batu itu yang perlahan bersinar terang
Di dalamnya terlihat rekaman yang direkam dengan sudut sedikit keatas dan jauh dari sebuah jendela yang tertutup, selagi Sylph yang merekam itu sedang menjelaskan secara terperinci setiap hal yang terjadi, bahkan dengan sangat ringkas
Pertemuan antara raja-raja yang ada di dunia. Pasukan Gabungan yang akan mereka bentuk untuk memusnahkan seluruh kaum kami. Seorang raja kaum Beast dan manusia yang menolak untuk ikut di dalamnya
Dia menjelaskan setiap detail yang bisa dia dengar dari ruangan pertemuan dengan jendela tertutup itu
'Maaf kalau itu saja yang bisa aku dapatkan. Aku akan kembali sekarang, dan aku harap bisa bertemu dengan saudariku segera. Sekali lagi aku harus minta maaf'
*Bzzt!*
...
Rekamannya diakhiri dengan perkataan terakhir milik Sylph itu
...
Aku merasa malu
Seharusnya aku yang meminta maaf padanya karena sudah mengirimnya ke misi yang berbahaya itu, tahu benar dengan bahaya yang bisa menimpanya
Tapi, dia yang meminta maaf hanya karena informasi itu tidak cukup baginya
...
"Aku sudah menemui saudarinya dan memberitahukan kematiannya itu, jadi kamu tidak perlu terlalu berat hati Oberon" Amelia berkata
"... Terima kasih Amelia"
Aku tidak tahu harus melakukan apa untuk adiknya itu
Kehilangan kakaknya sudah pasti membuat hatinya hancur berkeping-keping
Aku... Harus melanjutkan pertemuannya terlebih dahulu
"Kalian sudah melihat rencana milik Rosalia Hortensia di rekaman ini. Dan aku sudah menyusun rencana milikku, dan sudah menempatkan posisi kalian masing-masing di dalamnya" Aku berkata lagi
"... Kenapa kamu yakin kita bisa menang, Oberon" Turin Glacier, Petinggi klan Elf es berkata
Dia memalingkan wajahnya sedikit dari pandangan kami dengan wajah gelisah, dan hal menunjukkan kepada kami kecantikan wajah miliknya
"... Aku hanya bisa mengatakan satu hal. Percayalah padaku"
"Sama seperti saat kami mempercayaimu dulu hingga Miralius hancur berkeping-keping?" Amelia menyela
...!
Semua teman-temanku tersentak dengan perkataannya itu
Luna bahkan ingin bangun untuk memberinya pelajaran karena sudah mengatakan hal itu, tapi aku menyuruhnya untuk duduk kembali tanpa dia menyentuh Amelia
"Dia sudah kurang ajar padamu Vainzel" Luna protes
"Tidak. Dia ada benarnya"
...
"Dan aku malu karena aku harus mengakui hal yang sudah jelas itu. Bahkan seorang Sylph mati demi memberikan semua informasi ini kepada kita. Semua Elf yang diculik sejak dulu mungkin akan berpendapat aku ini tidak dapat diandalkan, bahkan kamu kan, Cyrus?"
Aku menatap mereka semua satu persatu
Cyrus hanya diam tidak menjawab. Welt diam dan menundukkan kepalanya. Amelia mendengus kesal dan membuang wajahnya. Turin masih menunduk dan mengalihkan pandangannya. Fyon juga tidak bicara sama sekali
Tetapi Gwen Magnus, ibu kandung Ivor, dan juga merupakan seorang petinggj klan Elf api itu bahkan tidak bergeming dan hanya terus menatapku seakan kejadian itu tidak mempengaruhinya
"Lanjutkan Oberon. Kami harus mendengar semua rencanamu ini" Gwen berkata
__ADS_1
Aku perlahan mengangguk padanya
"Aku ingin menyerang salah satu kerajaan yang menandatangani perjanjian Pasukan Gabungan itu"
"Hah!?" Semua temanku sontak berkata. "Kamu gila Oberon. Itu justru akan membuat mereka semakin tidak tahu ampun pada kita" Luxor berkata dengan nada khawatir
"Lalu, ada sugesti darimu untuk membuat mereka mengampuni kita?" Aku bertanya padanya
"... Tidak. Maafkan aku" Luxor membalas
"Dan aku tidak berkata aku ingin menghancurkan mereka secara keseluruhan, aku hanya berkata aku ingin melancarkan serangan pada mereka"
"Um, maaf. Tapi apa fungsi kami dalam rencana ini?" Cyth bertanya sambil mengangkat tangannya
"Aku ingin kalian memastikan kalau semua manusia yang ada di sini sekarang ini tetap aman. Aku juga akan mengirim Luna dan Ivor untuk melindungi kalian dan menginformasikan kalian lebih lanjut nanti"
"Tunggu. Jika kami memang harus ikut pertempuran ini, lalu kenapa kami harus dipastikan aman" Veskal menyela dan bertanya
"Karena kalian tidak akan ikut ke garis pertempuran. Aku berencana untuk mengirim kalian untuk pergi ke kota Bargalos dan meminta bantuan para Dwarf"
"Hah? Kenapa kamu-"
"Aku yakin mereka akan ikut. Percayalah padaku" Aku memotong perkataan Luxor
...
"Dan untuk penyerangan kecil atau penyusupan ini, aku ingin Verdea, Veskal dan Zaphir saja yang mengikutiku"
"Aku menolak!" Frank berseru sambil mengangkat tangan. "Kamu ingin menempatkannya pada bahaya yang bukan tanggungjawabnya? Cucuku bukan alat, Oberon" Dia melanjutkan
"Cih. Kami juga tidak butuh bantuanmu, dasar manusia sombong" Amelia menyela
"Tutup mulutmu nyonya. Kenapa kalian berpikir aku ingin membantu kalian?"
"Apa yang-!?"
"CUKUP!!"
*Ctas!!*
Aku mencambuk tanah di sampingku dengan kerasnya untuk menghentikan argumen antara Amelia dan Frank
"Kakek..." Verdea berkata pelan sambil melirik kearah kakeknya dengan tampang khawatir
Kakeknya tersenyum kearahnya untuk meyakinkan kalau tidak akan ada apa-apa yang terjadi
...
Frustasi milik Frank itu sangat kupahami. Dia sudah kehilangan seorang anak karena seseorang yang seharusnya mengurusnya namun tidak bertanggungjawab
Kehilangan cucunya mungkin bisa menjadi hal pertama yang tidak dia inginkan sekarang ini
Aku... Harus mengatakan ini...
"Karena tidak ada dari kalian yang bisa sekuat kedua anak ini"
"HAH!? OBERON-!!"
"Dan aku tidak hanya memandangnya dari sudut kekuatan dasar saja"
...
"Kedua anak ini sudah melalui banyak hal dari yang kalian bisa pikirkan. Mereka dibenci sejak lahir, banyak yang merendahkan mereka, bahkan tidak sedikit yang ingin membunuh mereka. Mereka juga sudah melalui pertempuran asli berkali-kali" Aku berkata
"Yang aku butuhkan bukanlah kekuatan baku saja. Aku butuh pengalaman seseorang juga dalam penyerangan ini. Dan diantara kita semua, hanya beberapa saja yang sudah melalui pertempuran asli"
Kelima temanku, Fyon dan Zaphir saja yang tahu rupa pertempuran asli diantara semua petinggi disini
Tapi, aku ingin memberi waktu istirahat pada kelima temanku itu karena aku sudah menyeret mereka sejak dulu kedalam masalah Verdea sampai sekarang
Fyon masih butuh waktu untuk menyembuhkan traumanya
Lalu, orang terbaik yang bisa kuambil sekarang ini adalah Zaphir. Satu-satunya Elf yang masih hidup sejak zaman perang ribuan tahun dan berlangsung sampai sekarang
Pengalamannya tidak perlu diragukan lagi
Aku memang merasa tidak adil sekarang ini karena dia juga sudah pasti butuh waktu istirahat. Tapi, dia selalu terlihat siaga dengan perintahku, dan terlihat tidak ingin istirahat walaupun aku akan memaksa
Aku terdengar seperti sedang memanfaatkannya saja...
"Kamu ikut, Zaphir?" Aku bertanya
Zaphir langsung mengangguk tanpa ragu sedikitpun, membuktikan perkataanku itu barusan
Aku harus memberinya waktu istirahat nanti, sebanyak yang bisa dia dapatkan
Kemudian, aku menatap kearah Veskal dan Verdea untuk meminta persetujuan mereka
"Vain..." Verdea berkata pelan sekali lagi
Veskal mengangguk paham dengan rencanaku itu. "Jadi, kamu ingin menyerang mereka untuk menghalau pembentukan sebagian dari pasukan itu?" Veskal bertanya
"Tepat sekali" Aku berkata
"Sudah menentukan kerajaan mana yang akan kita serang?" Tanya Veskal sekali lagi
"... Aku ingin kalian yang memilih"
__ADS_1
Aku mengeluarkan sesuatu lagi dari balik jubahku, dan menunjukkan pada mereka sebuah gulungan yang berisi salinan peta di seluruh dunia
"Uwah. Gambaranmu jelek~ Bahkan ada beberapa yang terlihat tidak akurat" Cela Verdea
"Kenapa Benua Flos terlihat lebih kecil dan terasingkan? Lalu, dimana pulau kecil di barat kerajaan Bestia? Pulau Bulan Lao juga terlihat lebih gendut-"
"Kalian ingin mengkritik gambaranku atau menjalankan rencana? Cepat pilih kota yang mana" Aku berkata memotong Veskal, selagi Verdea terkikik
Kertasnya yang kecil tahu?! Aku hanya mencukupkan ukuran gambaranku dengan kertas ini
Abaikan itu
"Keluarkan Bestia dan Gong dari pilihan kalian juga jangan lupa" Aku menambahkan
Tidak ada gunanya menyerang kedua negara itu mengingat kalau mereka juga tidak akan berada di kubu manapun di perang nanti. Justru, jika kami menyerang mereka, hal itu akan membuat kewaspadaan kerajaan lainnya meningkat terhadap kami
Zaphir juga ikut mendekat untuk menelaah kota mana yang sebaiknya kami serang terlebih dahulu
Mereka terus menelaah cukup lama sampai tanganku sudah mulai pegal menunjukkan peta ini
"Bagaimana kalau kerajaan Crux saja?"
...
Kami berempat menoleh kearah Claudia yang menyarankan hal itu
"Kenapa begitu?" Aku bertanya
Welt dan Turin juga sudah melapor kalau tidak ada satupun Elf yang berada disana ketika mereka pergi mengamati. Kerajaan itu juga tidak memiliki sesuatu kekuatan militer yang terlalu besar, walaupun patut diperhatikan
Lalu, apa fungsi kami menyerang kota itu?
...
Ah!
"Untuk mengambil kembali salah satu pecahan inti Pohon" Aku bergumam
Gumaman itu membuat Zaphir yang mendengarkan langsung terlihat antusias
Benar. Kami sebaiknya juga segera mengumpulkan pecahan inti roh itu sebelum perang dimulai
Kami sudah mendapatkan Claudia yang memiliki salah satunya. 2 pecahannya masih ada di tangan Rosalia, seperti apa yang ada dalam rekaman batu itu. salah satunya ada di Sahra entah kenapa
Dan yang terakhir ada di Crux, mungkin di tangan Yuriel
Xiang dan Crux keduanya adalah negara yang akan ikut menyerang kami, tapi menyerang Crux yang kekuatannya lebih besar terlebih dahulu adalah keputusan yang bijak
Jika kami menyerang Xiang terlebih dahulu, Crux mungkin akan menjadi waspada dan meminta bantuan dari kerajaan lain. Belum membahas Orion yang memiliki kekuatan militer terkuat, bertetanggaan dengan Crux dan bisa memberikan bantuan kapan saja di masa siaga
Kami harus menyerang sebelum mereka sepenuhnya waspada
Yang menjadi masalah sekarang adalah, apa kami sempat untuk mengumpulkan seluruh inti pohon sebelum perang besar itu dimulai? Waktu yang kami miliki sangatlah terbatas
"Verdea. Veskal. Zaphir. Apa kalian setuju kalau kita serang Crux terlebih dahulu?" Aku bertanya
Zaphir dan Veskal langsung mengangguk setuju. Verdea dengan ragu-ragunya ikut mengangguk
Menyadari tingkahnya itu, aku menjadi khawatir kepadanya
"Kenapa Veri? Apa kamu-"
"Tidak. Aku ingin ikut. Tapi, aku takut kalau kakek akan merasa khawatir lagi" Dia menjawab
...
Aku menatap ke Frank untuk meminta persetujuannya. Verdea pun mengikutiku dan menatap ke Frank
...
Menyerah. Frank hanya menghela napas, kemudian mengangguk walaupun terlihat tidak sepenuh hati
Aku dan Verdea tersenyum kearah satu sama lain setelah mendapat persetujuan itu
"Lalu. Apa posisiku?" Tanya Remina yang duduk diantara Veskal dan Verdea
"Hm... Bagaimana kalau kamu membantuku dengan terus giat latihan?" Aku berkata
"Tapi..."
"Aku yakin, kalau kamu mau giat latihan, kamu bisa sekuat nyonya Lyralia"
"Betul itu!" Lyralia menyela dari tempat duduk lain
Aku kemudian mengelus kepalanya dan dia langsung terlihat sungguh-sungguh dengan saranku itu
"Baiklah. Kita akan menutup pertemuan ini sekarang juga. Keputusan sudah diambil"
Kami akan menyerang kerajaan Crux untuk menghalau pasukan gabungan mereka, ditambah untuk mengambil kembali inti pohon agung
Para Petinggi akan tetap disini, dan harus patroli ke seluruh benua Goeitias secara bergilir
Kami juga memberi tugas baru pada kru Black Hunt, yaitu untuk pergi memata-matai kerajaan Sahra bersama Amelia, guna mendapatkan informasi tentang keberadaan inti roh itu. Mereka cukup berpengetahuan mengenai seluruh benua di dunia, jadi dia adalah orang yang paling cocok untuk melakukan hal itu
Dengan bantuan para Fae dan Amelia, dia pasti bisa menjalani tugas itu dengan mudah
Dan dengan begitu, keputusan dari pertemuan ini sudah dibulatkan. Yang tertinggal sekarang adalah eksekusi nya
__ADS_1
Semakin cepat semakin bagus. Kami harus mengejar waktu dan menyelesaikan semua ini dalam waktu yang bersamaan nanti