
--- Malam harinya ---
"Vain..."
Hah...
Dia mengguncang tubuhku yang sedang tidur lelap hingga aku merasa cukup terganggu. Karena itu, aku terbangun dan berbalik kearahnya yang sudah naik keatas kasurku
"Kenapa...?" Aku bangun dan mengusap mataku, merespon tingkah anak itu
"Aku tidak bisa tidur"
Ah anak ini... Ada-ada saja...
Aku yang masih mengantuk pun menguap dengan sangat lebar dan berkata, "Kalau begitu aku temani ya...?", walau hanya setengah sadar
Aku sudah mulai meregangkan badanku dan bersiap untuk beranjak, menggandeng tangan Verdea yang mulai melilit di tanganku. Tetapi...
"... Aku ingin tidur di sampingmu" Dia pun berkata
"Hm...? Kenapa tidak di kasurmu...?"
"Aku tidak nyaman"
...
Mungkin dia masih takut karena kehadiran penyihir hitam tadi. Dia jadi banyak pikiran bukan...?
"Baiklah. Pastikan kakimu tidak melayang kearahku nanti ya?"
"Aku tidak bergerak sembarang seperti itu tahu!"
Seandainya dia tahu seberapa buruk pergerakannya saat tidur. Seandainya...
"Baiklah. Geser sedikit" Dia meminta, dimana aku langsung merespon
Dia memuatkan bantalnya diatas kasurku dan mulai berbaring menyamping. Aku juga ikut berbaring di bantal milikku dan memejamkan mataku kembali, tanpa mengatakan apapun lagi untuk membantunya ikut tertidur
...
...
...
"Bacakan aku ce-"
"Tidur cepat" Aku memotong sebelum dia sempat menyelesaikan permintaannya
Badanku bahkan kubalikkan dari hadapannya, sehingga Verdea terlihat dengan jelas mulai kesal dengan perlakuanku
"Bacakan aku cerita" Dia justru semakin bersikeras
"Tida-"
"Kalau begitu ajak aku bicara"
Hah...
"Jadi, ada apa?"
"Balikkan dulu badanmu kemari kalau mau bicara denganku"
...
Nak, kamu sungguh tahu membuat orang bekerja keras bahkan disaat mereka beristirahat...
Aku membalikkan badanku kembali menghadap kearahnya, hanya agar dia merasa puas walau aku harus menahan sedikit emosi karena tidurku yang tidak setiap saat datang itu diganggu
Dia mulai menaikkan selimut dan menutupi setengah bagian dari wajahnya tanpa menoleh kearahku. Dugaanku benar ketika berkata kalau dia memang sedang banyak pikiran
"Aku kepikiran dengan kakek" Dia pun mengutarakan
"Hm...? Memangnya kenapa?"
"Apa dia akan baik-baik saja sendiri?"
"... Memangnya kamu ingin mengajaknya tinggal di kastil?"
"Tidak. Dia bilang dia tidak ingin meninggalkan tempat itu seumur hidupnya"
Yah, itu mudah ditebak. Dia juga benci dengan Artorius, terlihat dari wajahnya yang berlipat ketika aku menyebut nama itu pertama kali di hadapannya
"Lalu?"
"... Dan dia juga bilang kalau dia benci dengan ayah..."
Kan?
...
Hal itu sesungguhnya wajar. Dia adalah seorang ayah sebelum dia menjadi apapun sekarang ini. Kehilangan Marianne—satu-satunya anaknya, tentu akan memukul Frank hingga ke titik paling dalam
Sebaik apapun perlakuan Artorius padanya, sebaik apapun dia menjaganya, hal itu tetap berakhir dengan kematian tragis Marianne. Apa yang dia janjikan—bahwa dia akan menjaga Marianne, semuanya berubah menjadi kebohongan pada hari jasad wanita itu dikirim kembali ke kota Calendula
Bagi Frank, Marianne adalah satu-satunya hal yang tersisa di dunia ini. Mata yang dia tujukan setiap kali dia melihatku itu adalah mata orang yang sudah pasrah. Mata yang menunjukkan, kalau hanya dia sendiri saja yang bisa menolong dirinya sendiri
Jika... Dia memang punya alasan untuk menolong dirinya. Tapi alasan itu nyaris pudar, sampai Verdea tiba di hadapannya. Malang sekali nasibnya bukan...?
"Aku ingin mengajaknya ke istana, tapi aku takut dia tidak akan senang disana" Verdea berkata
"... Kehidupannya bukan terletak pada kerajaan ini. Dia hidup di dalam memori, dan ke dalam memori lah dia menyelam"
Hanya dia saja yang bisa menarik dirinya kembali
"... Vainzel" Verdea memanggil lagi
"Ya...?"
"Terima kasih mau menemaniku"
...
"... Aku juga senang nak. Tapi..."
"Tapi?"
...
"... Abaikan saja"
Aku berbalik dari hadapannya yang masih penasaran. Tetapi kalimat itu tidak pernah keluar dari mulutku lagi sepanjang malam itu berlangsung
...
'Kapan perpisahan kita akan datang?' Itulah hal yang membuatku takut
Aku masih merasa belum membantumu sama sekali sekarang ini. Jika aku pergi, apa yang akan terjadi dengan nasibmu?
Aku tidak meragukan apakah kamu bisa hidup atau tidak. Aku bahkan yakin kamu bisa mendapatkan orang-orang yang mau ada di sisimu. Tapi rasanya sangat tidak etis membiarkanmu menderita seorang diri seperti itu. Apalagi karena kamu manusia
Hidup kalian pendek. Memenuhi kehidupan itu hanya untuk mengincar posisi, harta atau kejayaan bukanlah sesuatu yang kamu harus lakukan. Selama kalian hidup, akan lebih baik jika kalian menikmati hidup apa adanya
Tapi sayang. Siapapun yang lahir di keluarga bangsawan seperti dirimu rasanya sudah dikutuk untuk tidak mampu merasakan kesenangan terlalu lama. Semua manusia di dunia menginginkan kuasa, dan mereka akan melakukan apapun untuk mendapatkannya. Keluarga bangsawan rentan terhadap konflik tidak berujung itu, sehingga orang yang tidak ingin terlibat sepertimu saja ikut terjerat di tengahnya
Itu sebabnya aku berusaha untuk membantumu. Aku akan pastikan, kalau kamu bisa keluar dengan selamat dari permasalahan tidak berguna itu. Jika perlu...
Aku ingin agar kamu dan Veskal tinggal saja bersama kami di hutan Elf. Walau aku tahu betul, hal itu mustahil untuk terjadi. Kenapa?
Karena kita akan kembali lagi ke titik, 'kapan kita akan berpisah'. Bagaimanapun itu, walaupun kalian bisa hidup dengan sangat bahagia dan keluar dari drama kerajaan itu, ada satu titik dimana kalian akan pergi dari kehidupan ini...
Pergi, dari kehidupanku...
...
Aku rupanya egois juga ya...?
"Baiklah, sekarang kamu tidur" Aku pun berucap
Aku menutup mataku rapat-rapat dan mengabaikan Verdea yang ingin melanjutkan pembicaraan
"Baiklah. Dasar tidak jelas"
Verdea paham dengan apa yang kumaksudkan. Dia paham kalau aku tidak ingin membahas ini lagi. Anak ini terlalu cerdas untuk mengabaikan tanda yang kuberikan barusan
Jadi dia pun mengikuti permintaanku. Matanya terpejam, mengakhiri malam ini bersama denganku di dalam tidur yang lelap
......................
--- Keesokan Harinya ---
"Woaahh!! Laut!!"
Verdea kemudian berlari menuju Kota Lotus yang sudah tidak jauh lagi dari pandangan mata
"Veskal, ikuti dia. Aku lelah" Ivor berkata
__ADS_1
"Tidak disuruh pun aku sudah tahu itu" Balas Veskal ketus selagi dia langsung berlari mengikuti Verdea
Aku juga sebenarnya ingin ikut berlari untuk memastikan anak-anak itu tidak macam-macam, tapi barang-barang ini terasa berat karena banyaknya. Jika aku berlari secepat anak itu, aku yakin beberapa dari barang ini akan terjatuh berserakan di tanah
Kenapa juga harus aku yang membawa barang-barang berat ini setiap hari? Ada lima orang yang tangannya tidak penuh sekarang ini, tapi malah menyerahkan barang-barang ini kepadaku
Belum lagi kebanyakkan dari barang-barang ini diisi oleh Souvenir yang mereka beli. Mereka bahkan tidak pandang bulu dengan harga barang-barang ini dan langsung membelinya
Untung saja uang simpanan Kastil masih tersisa...
"Ah...! Berkelana itu sangat melelahkan...! Kenapa coba kamu bisa tahan dengan hal ini Vainzel?" Lyralia mengeluh
"Tapi, menyenangkan juga kita bisa melihat-lihat berbagai macam pemandangan. Setelah hamparan putih salju sejak kemarin, akhirnya kita bisa melihat laut" Ordelia menyela
"Kalian saja yang tidak pernah keluar dari Miralius. Walaupun aku memang harus akui, posisi Gerbang Hutan dan laut terdekat memang cukup jauh" Aku menggerutu
"Aku juga tidak bisa membantah kalau hal ini menyenangkan" Luna juga berkata, mencoba menyembunyikan rasa gembiranya
"Aku setuju. Lumayan untuk olahraga bagi para pemalas" Luxor berkata sambil melirik kearah Ivor dan Lyralia
"Diam. Aku akan membuatmu menangis di duel kita yang selanjutnya" Ivor mengancam
Ordelia tertawa kecil di sampingku mendengar ocehan semua orang, selagi Lyralia semakin menghela panjang napasnya
Tapi tidak ada yang memperhatikanku
"Hah... Seandainya ada orang yang mau membantuku mengangkat barang-barang ini" Aku pun menyinggung
Harapanku terpenuhi. Mereka semua tiba-tiba mulai melirik. Sekarang tinggal menunggu simpati mereka dengan bersikap lemas
"Baiklah. Berikan barang itu" Ivor pun jadi yang pertama menawarkan diri
"Oke"
Langsung kulepas semua barang yang kubawa dan meletakkan semuanya di pundak Ivor. Seketika dia terhuyung dan nyaris jatuh karena berat semua benda itu hingga dia mulai menggerutu kemudian
"Sialan! Kenapa bawaan ini banyak sekali coba!?"
"Itu barang-barang yang kalian beli selama perjalanan asal kalian tahu saja" Aku membalas
Lidahku kujulurkan kearahnya dan aku mulai berlari mengejar Veskal dan Verdea, mengabaikan Ivor yang mulai menjerit kesal ke udara
"Hoy nak! Tunggu aku!"
Mereka cepat sekali. Mereka bahkan sudah sampai di dekat gerbang kotanya
Butuh beberapa saat sampai aku bisa menghampiri mereka. Dan ketika baru saja aku menapaki langkah terakhirku ke sisi keduanya, seorang penjaga tua di depan gerbang itu memelototi kami bertiga yang berdiri di hadapannya selagi menatap balik
"Ada keperluan?"
Aku langsung memperlihatkan paspor yang kumiliki kepada penjaga itu beserta izin resmi Artorius
Memeriksa kelengkapan identitas kami, si penjaga tua tersenyum ramah, kemudian menyerahkan benda yang kuserahkan sebelumnya kembali kepadaku
Akhirnya ada penjaga yang normal dan tidak menggerutu melihat kami...
"Omong-omong, jika kalian ingin menyeberang ke benua lain, aku sarankan kalian tidak melakukannya selama beberapa hari ini" Penjaga tua itu tiba-tiba berkata
Dan dia tentu menarik perhatianku dengan kalimat itu
"Kenapa begitu, pak?" Aku bertanya
"Jika kalian lihat kecepatan angin dan pola awan di langit, kalian bisa tahu kalau akan ada badai salju di laut"
Hmph...
Hal yang kutakutkan menjadi kenyataan. Itu artinya kami mungkin akan menunggu sampai hari terakhir tahun ini
Kami punya sisa 7 hari lagi sampai akhir tahun tiba. Pelayaran kembali ke sana mungkin akan memakan waktu paling banyak 3 setengah hari. Belum menghitung perjalan dari titik sampainya ke Gerbang Hutan yang bisa memakan waktu 3-4 hari
Aku juga harus memperhitungkan kemungkinan monster yang bisa saja menyerang nanti, hingga waktu perjalanan bisa saja terhambat. Bantuan orang itu bisa kuminta, tapi akan susah untuk menemukannya di dalam cuaca seperti ini. Dia juga mungkin sedang hibernasi untuk menyimpan tenaga
Tetapi, jika kami menunggu beberapa hari, aku yakin kami malah akan merayakan akhir tahun di kota ini atau di dalam pelayaran diatas kapal
Hah... Dilema ini menyakitkan juga...
"Terima kasih peringatannya. Omong-omong, ada 5 orang lagi teman kami yang akan kemari sambil membawa tas. Mereka semua Elf" Aku pun memberi beberapa kata kepadanya
"Baiklah. Selamat datang di Kota Lotus" Dia dengan ramah lagi-lagi berucap
Ah, kekuatan dari orang yang ramah. Hatiku jadi luluh...
Aku mengangguk pelan karena tersenyum lebar dengan kehangatan tidak terduga ini, kemudian mengajak kedua anak itu memasuki kota tanpa sepatah kata lagi
Dan kota ini, masih sama saja seperti saat pertama kali aku mendatanginya
Terlihat juga beberapa orang menari di area tengah kota. Nyanyian, musik, dan bahkan pertunjukkan panggung kecil seakan tahun baru akan dirayakan hari ini sangatlah riuh, dikerumuni oleh berbagai macam kalangan yang tinggal di dalam kota ini
Tetapi, diantara puluhan atraksi dan toko yang bisa kami temukan di kota ini, mata Verdea hanya tertarik kepada satu hal
"Vain. Permen" Verdea menarik-narik bajuku sambil menunjuk kearah sebuah toko kecil yang menjual permen
Aku hanya menghela napas dan mengeluarkan beberapa koin untuk menanggapi permintaan anak itu
Ketika anak ini menginginkan sesuatu, dia harus mendapatkan hal itu. Kata-katanya adalah hal absolut yang harus aku akui—terkadang menjengkelkan
Sepertinya kami harus mencari kapal murah untuk nanti. Jika kami menghabiskan uang ini, kami tidak akan bisa membeli stok makanan untuk kastil ketika pulang
Ah coret itu. Aku punya alternatif lain untuk mengisi kembali uang anggaran kastil. Dan solusi itu akan ada sampai kami tiba di Miralius
Baiklah! Sekarang waktunya untuk mencari kapten kapal yang ingin mengantar kami menyeberang! Seberapa sulit hal ini perlu dilakukan?!
......................
--- Beberapa jam kemudian ---
Aku sudah lelah berkeliling disini. Di depanku sekarang berdiri seorang kapten kapal yang sedang tawar menawar denganku
Dia tidak mau menerima tawaranku sama sekali. Bukan hanya dia, semua kapten kapal yang kami jumpai, tidak satupun mau menerima koin emas yang kusodorkan kepada mereka
Jangan tanya alasannya kenapa. Lihat saja contohnya dari kapten yang satu ini
"Tidak bisa kurangi harganya?"
"Maaf, tapi tidak. Jika kamu cukup gila untuk menyuruh kami berlayar saat badai seperti itu, setidaknya 1000 keping emas sudah cukup"
1000 keping emas... Mahal sekali...
Ekonomi kerajaan manusia itu aneh. 1 keping emas sama harganya dengan 100 keping perak. Dengan anggaranku disaat bertualang dulu, aku justru akan sangat bersyukur bisa mendapatkan 10 perak sekalipun. Sementara orang ini meminta 1000 keping emas? Ini jelas-jelas perampokan
Hal itu tidak masuk akal. Aku tahu kalau bayarannya mungkin menyangkut nyawa beberapa kru kapal, tapi itu tetap harga yang tidak senonoh. Jika dia hanya ingin 200 atau 300 keping emas, aku akan lebih dari senang meladeninya
Dan aku tahu betul dia paham dengan resiko itu. Tapi melihat kalau keselamatan seluruh kapalnya hanya seharga 1000 keping emas, aku tidak bisa menyerahkan nyawa kami kepada orang serakah seperti ini
Tapi, kami sudah sejauh ini berjalan dan tidak mungkin kami kembali begitu saja bukan?
"Aku bisa membantumu berlayar, tapi kamu juga harus pikirkan keselamatan kami dan kapal kami nak" Pelaut itu bahkan berkata sambil menghisap rokoknya
Juga karena kamu ingin uang kami. Jangan pikir aku tidak menangkap senyum licikmu barusan
"... Aku pikirkan dulu hal ini. Nanti aku akan kembali"
"... Baiklah. Tolong pikirkan baik-baik"
Aku berbalik dan berjalan dari arah berlawanan pelaut itu, mendekati Verdea dan Veskal yang sedang duduk sambil makan permen. Ketika aku menghampiri mereka, keduanya langsung melontarkan pertanyaan kearahku
"Bagaimana?"
"Apa kita bisa pergi sekarang?"
Dengan rasa kecewa, aku hanya menggelengkan kepalaku untuk memberi jawabannya. Dan itu pun menyeret mereka hingga keduanya terlihat ikut sama kecewanya dengan diriku
500 keping emas. 800 keping emas. 1000 keping emas. Harga yang ditawarkan setiap kapten kapal itu semakin menjadi-jadi saja setiap kami berganti. Aku juga jadi menyesal menolak tawaran kapten pertama yang kami hampiri tadi, karena alasan dia kekurangan kru yang mumpuni
Hah... Keberuntungan kami rupanya habis untuk sekarang. Jika begitu, sebaiknya aku mencari kelima orang itu untuk memesan beberapa kamar di dalam sebuah penginapan untuk hari ini
"Maaf. Tapi aku dengar kalian butuh kapal" Seseorang tiba-tiba bicara, membuat kami bertiga terkejut
Suaranya sangat khas karena terdengar dalam namun tidak serak seperti orang yang biasa saja—bukan seorang kapten kapal. Ketika aku berbalik, aku menangkap penampilan seseorang yang memakai jaket pelaut, dengan senyum lebar yang terkesan angkuh, serta rambut hitam yang berminyak. Tapi apa yang membuatnya terlihat khas adalah, bagian depan rambutnya yang terlihat memutih entah kenapa
"Permisi. Tapi, anda siapa?" Aku bertanya-tanya
"Namaku Cyth. Aku adalah seorang bajak laut"
Bajak laut?
...
"Aku paham. Kamu menyadari sesuatu dariku bukan?" Aku pun berkata
"Oho? Kenapa kamu berasumsi aku mengincar sesuatu darimu?" Cyth membalas
"Aku tidak kenal bajak laut yang tidak punya persepsi tajam"
Dan aku tidak salah ketika senyumnya berubah menjadi seringai. Dia pasti menginginkan harga yang lebih tinggi lagi dibandingkan kapten kapal pada umumnya. Ditambah lagi dia itu bajak laut
__ADS_1
Mereka terkenal serakah. Tapi, kita lihat dulu untuk membuat percakapan ini formal
"... Benar sekali. Lebih tepatnya, aku ingin tukar-menukar denganmu" Dia pun berkata
Tukar-menukar hm...?
"Silahkan jelaskan" Kupersilakan dia untuk bicara
Cyth tersenyum mantap dan mengajak kami bertiga ke suatu tempat dimana kami bisa bicara dengan tenang menghindari keramaian kota
...
--- Kedai Black Snake, Kota Lotus ---
"Aku tahu kamu itu seorang Elf. Dan bukan Elf biasa dalam soalan apapun" Dia berkata setelah meneguk gelas bir yang dia pesan
Wah... Orang ini berbahaya...
Instingnya lebih tajam dari yang aku perkirakan. Aku juga dibuat takjub olehnya, karena tidak semua orang sepintar dirinya dalam menghindari masalah dengan Oberon sepertiku
Ya, aku masih dendam kepada orang-orang yang memalak diriku selama ini
Dan omong-omong kenapa harus disini?
Suasana kedai ini memang lebih nyaman daripada yang pernah aku datangi, tapi tetap saja terasa aneh bagiku dia mengajak kemari hanya untuk membicarakan tukar-menukar. Hal ini bisa dilakukan diluar saja bukan?
Dia bahkan mentraktir minuman kami...
Verdea dan Veskal sibuk meneguk susu hangat yang dibelikan Cyth untuk mereka, seakan mereka sedang berlomba untuk menyelesaikan gelas masing-masing terlebih dahulu. Sementara aku yang dipesankan jus buah mulai meminum benda itu melalui sulur tanganku agar mulutku tidak penuh dan bisa tetap bicara
"Kenapa kamu ingin menolong?" Aku pun bertanya lagi
"Seperti yang aku bilang tadi. Tukar-menukar"
Masih berputar-putar rupanya
"... Kalau begitu jelaskan intinya saja"
Cyth pun mulai antusias, sebelum melihat ke kanan dan kiri untuk memastikan tidak ada yang mendengarkan. Setelah yakin, dia dekatkan kursinya ke meja kami dan mulai bicara pelan
"Aku ingin kamu memberi aku 'Souvenir' dari kerajaan para Elf"
Souvenir?
"Souvenir macam apa?"
"Apapun itu selama mereka cukup berharga"
Hmm... Sesuatu yang berharga...
"Ah ya. Dan aku mungkin ingin banyak"
Serakah juga rupanya
...
"Baiklah. Jumlah dan nilai 'Souvenir' itu akan bergantung pada kemampuan kapalmu membawa kami"
Itu akan lebih baik, karena aku dan para Elf memang tidak terlalu membutuhkan beberapa hal di Miralius seperti jarahan perang pada zaman dahulu. Kebanyakkan dari benda itu hanya berfungsi sebagai pajangan di gudang semata, tanpa memiliki nilai sejarah yang bisa membuat kami bangga atau puas
"Ohoho~? Kamu terlalu meremehkan ku, nak" Cyth menanggapiku, memahami kalau aku memandang rendah kearahnya
"Umurku 151 tahun, anak muda. Jangan panggil aku nak hanya karena aku lebih pendek darimu" Aku membalas
"Kalau begitu bocah" Veskal meledek sambil membersihkan mulut Verdea dari bekas susu yang habis mereka minum
...
"Hey. Mau di pukul?"
"Vainzel bocah" Verdea mengikuti
"Verdea..."
"Ahahaha! Bahkan anak-anak ini setuju" Cyth menyela
Ugh! Aku akan memberi mereka berdua pelajaran nanti...!
Cyth pun terlihat berpikir sejenak, sebelum senyumnya kembali melebar selagi matanya menatap kembali kearahku
"Baiklah. Kita harus cepat berangkat kalau kalian bisa" Dia pun berkata
Hanya itu saja yang perlu aku dengar sekarang ini. Aku langsung bangun dan berjalan keluar dari kedai itu, sehingga kedua anak itu spontan mengikuti dengan wajah puas di wajah masing-masing. Tidak lupa mereka berterima kasih karena Cyth sudah mentraktir minuman mereka barusan
Tepat saat kami berjalan mengarah ke pelabuhan, kami kebetulan melihat teman-temanku yang lain kebingungan dan melihat kesana kemari. Lyralia bahkan terlihat semakin lemas, mungkin karena tidak bisa kuasa menangani suasana meriah di kota ini
"Hey!" Aku memanggil mereka sambil melambaikan tangan
Mereka langsung menoleh kearahku dan terlihat lega. Kelimanya berjalan dengan cepat kearah kami, seakan aku saja tempat mereka bisa merasa nyaman sekarang ini
"Vain. Syukurlah..." Luna berkata
"Kami lelah mencarimu..." Lyralia menambahkan sambil meringis kesal, mengusap wajahnya ke pipiku
"Tenang saja. Aku bukannya menghilang dari muka bumi juga" Kudorong wajahnya selagi dia mencoba tetap menempel
"Jadi, mereka adalah teman kalian?" Cyth bertanya kepadaku
Semua mata temanku langsung mengarah kepada Cyth. Mereka lalu menatap kearahku kembali seakan bertanya siapa orang itu. Yang lucu dari tingkah mereka barusan adalah, kelimanya melakukan itu dengan sangat sinkron
Kembali kepada Cyth
"Ya. Tidak ada masalah bukan?" Aku berkata pada Cyth
Aku lalu memberi isyarat 'aku akan jelaskan nanti' pada teman-temanku
Kami harus pergi secepat mungkin sekarang ini. Menurut perkiraanku dan saran dari Cyth barusan, Badai yang akan melanda akan semakin parah semakin kami menunggu
Cyth pun hanya mengangkat bahu untuk memberi tanda kalau tidak ada masalah. Dia berjalan kearah dermaga, mengajak kami semua untuk ikut dengannya dengan segera
Dan selagi dia berjalan kearah tempat yang tidak terlalu jauh dari kedai tempat kami keluar barusan, dia meneriakkan sesuatu
"Hoy para pemalas sekalian! Siapkan kapal kita!" Dia meneriakkan kearah sebuah kapal
Mendengar teriakkan Cyth, semua orang yang menatap dari kapal itu tiba-tiba mulai bekerja sekeras mungkin untuk menyiapkan kapal yang akan kami tumpangi tanpa basa-basi menuruti perintah kapten mereka
Dan membahas soal kapal mereka, Kapal ini terlihat megah sekali. Tidak sesuai dengan bayangan kapal seorang bajak laut di kepalaku
Kapal yang terbuat dari kayu coklat kemerahan yang masih terpoles rapi dan terlihat masih baru dengan pinggiran emas dan ukiran yang mewah. Ukuran layar mereka bahkan sangat besar dan kayunya masih terlihat kokoh ketika aku melihat lebih dekat. Aku yakin kalau kapal ini sudah berlayar cukup lama, tapi lihat betapa cantiknya benda ini
Ini kapal bangsawan atau kapal bajak laut coba?
Para kru milik Cyth bahkan cekatan sekali dalam mengerjakan pekerjaan mereka masing-masing
Layar, jangkar, peralatan dan kebutuhan mereka siapkan dengan seksama. Sebuah papan kayu bahkan diturunkan layaknya karpet merah dari atas kapal, sebagai jalan naik keatas dek untuk kami
"Wanita duluan" Cyth berkata sambil mempersilakanku maju dengan lagak sopan
Aku langsung bergerak mundur selangkah dan membiarkan Luna menjadi orang pertama yang naik ke dek
Setelah kami semua naik, semua persiapan juga sudah siap. Kapal yang terlihat hanya diisi 17 orang termasuk kami ini kemudian mulai berlayar menjauh dari pelabuhan
Angin yang datang meniup layar kapal itu dengan semerta-merta, seakan ingin merobeknya. Tetapi entah bagaimana, layar kokoh itu bisa bertahan, dan justru mendorong kapal ini dengan kecepatan yang melebihi perkiraanku
Verdea dan Veskal dengan takjub berdiri di sisi kapal, melihat arus laut yang tergerus oleh lambung kapal. Mereka bahkan melihat ke langit untuk menyapa burung camar yang lewat, selagi angin menghembus rambut keduanya dengan sangat bebas. Aku bahkan harus menahan kerudungku agar tidak jatuh dari atas kepalaku dan tetap menutupinya dengan benar
Sinar mentari memasuki mataku selagi aku dan yang lainnya ikut berdiri di sisi kapal, membuat kelima temanku yang lainnya takjub melihat suasana yang terasa baru bagi mereka ini. Cyth juga menemani kami, selagi dia menahan rambutnya agar tidak semakin berantakan
"Cepat juga" Aku memuji Cyth yang berdiri di sampingku
Cyth tertawa terbahak-bahak
"Selamat datang di Black Hunt! Kru milikku memang pemalas, tapi mereka bisa diandalkan dalam menangani kapal dengan cepat dibandingkan wanita!"
Leluconnya vulgar juga...
Dia menepuk pundakku sebelum pergi untuk kembali mengarahkan para anak buahnya. Aku hanya menggelengkan kepalaku menanggapi tingkahnya barusan
Kemudian, aku menyuruh semua temanku termasuk Verdea dan Veskal untuk masuk ke dalam kapal melalui sebuah pintu. Hanya karena Veskal mulai mencoba memanjat sisi kapal dan aku takut dia semakin nekat
Tapi, Verdea menolak dan tetap bersamaku. Aku pun menggendongnya dan menghampiri Cyth yang sibuk memeriksa arah mata angin, meninggalkan teman-temanku yang memasang wajah cemberut, menuruti arahan seorang anggota kru kapal menuju bagian dalam kapal
"Lalu, bagaimana caramu membawa kami melalui badai itu nanti?" Aku pun bertanya setelah mendekat kepadanya
Cyth tertawa sejenak selagi kepala Verdea yang ada diatas gendonganku itu dia acak-acak hingga Verdea memelototinya dengan ekspresi cemberut
"Aku punya trik" Dia pun berkata, sambil memamerkan kalung bulat berbentuk keong laut yang dia kenakan kepada kami
Dia kemudian beralih lagi kepada kru nya dan meneriakkan
"Kita akan ke Goeitias anak-anak! Siapkan bokong kalian untuk semua emas yang akan kita dapatkan!"
"Aye aye!"
Hah... Bajak laut. Apapun itu, orang yang tidak berada di dalam aturan seperti mereka selalu saja memiliki cara untuk membuat riuh suasana
__ADS_1
Jadi, aku akan percayakan 'trik' yang dia miliki itu. Lagipula, orang yang paling mengetahui kapal mereka adalah pelaut itu sendiri. Bajak laut, maupun tidak