
--- Kerajaan Xiang ---
'Veskal...'
'Veskal...'
'Sayangku, bangun...'
...
'Veskal ku...'
"Siapa...?"
Veskal yang baru membuka matanya itu masih memiliki pandangan yang buram. Wajah orang yang daritadi memanggilnya itu sama sekali tidak terlihat dan masih remang-remang
Satu hal yang dia bisa pastikan, orang itu memiliki rambut gelap yang panjang dan mata hijau yang mencolok. Bahkan walaupun pandangannya masih kabur, dia bisa mengetahui warna bola mata orang itu yang bagaikan permata
Orang itu adalah seorang wanita. Dan dari sudut pandangnya sekarang ini, Veskal seakan sedang berbaring diatas paha wanita itu
"Kamu... Siapa...?"
"Sstt... Tenang sayangku, tenang... Tidak perlu memaksa dirimu untuk sekarang"
Suara yang lembut bagai terompet malaikat, itu adalah gambaran yang diberikan oleh Veskal kepada wanita itu
"... Sudah lama kita tidak bertemu, sayangku"
...
Wanita itu terus memanggilnya sayang sejak tadi. Tapi, pandangannya yang masih buram dan kepalanya yang masih berat tidak memperbolehkan dirinya untuk mengenali sosok orang itu
Dia hanya bisa berbaring dan melihat keatas, selagi merasakan sebuah elusan lembut di kepalanya, dan sebuah tangan lainnya yang menggenggam tangan kanannya dengan erat
"Kamu sudah besar sekarang... Aku sangat senang melihatmu tumbuh menjadi seorang pria..."
"..."
"Apa kamu punya orang yang kamu sukai?"
"... Kenapa... Aku harus menjawab pertanyaanmu...?"
"... Aku akan merasa sangat senang jika kamu mau berbicara denganku"
Sosok itu pun terdiam, melihat lurus ke depan. Veskal bisa melihat matanya yang tidak melirik kearahnya itu, dan hanya fokus ke depan seakan menikmati sebuah pemandangan
Tapi, ketika Veskal melirik sedikit ke sekitarnya, dia menyadari kalau dirinya berada di sebuah tempat yang tidak dia kenali sekarang. Sebuah padang rumput hijau, namun memiliki sedikit kesan putih. Tidak ada pohon di dekat mereka, hanya beberapa bunga yang tidak tahu apa, tumbuh berkelompok mengelilingi mereka
Tidak ada seorangpun di tempat itu selain dirinya dan wanita itu. Dan juga...
Tempat itu sangat menenangkan hati...
Tidak pernah dia merasa setenang itu selama ini. Bebannya terasa lepas dari pundaknya di tempat itu. Dan elusan tangan wanita itu yang menyentuh kepalanya, membuat dia sama sekali tidak ingin bergerak
Seakan dia sudah mati dan berada di surga sekarang ini. Di sebuah tanah dimana dia tidak perlu merasakan rasa sakit lagi
Bahkan, dia memakai baju putih lembut yang tidak dia ketahui sejak kapan dia pakai sekarang ini. Dia mulai berpikir kalau dia sungguh berada di surga sekarang ini
"Veskal"
"Ya...?"
"Menurutmu, tempat ini apa?"
Veskal berpikir sejenak, selagi melihat sekeliling
"... Aku berpikir... Ini mungkin surga..."
"Hmm... Kamu benar dan salah"
Veskal sama sekali tidak mengerti maksud wanita itu. Tapi, sebelum dia sempat bertanya, wanita itu menoleh kembali kearahnya
"Tempat ini hanya bayanganmu. Sebuah tempat dimana kamu lari ke dalam sebuah dunia yang kamu buat, demi menghindari masalah di dunia luar" Wanita itu menjelaskan
Veskal terdiam, masih penasaran kenapa pandangannya tetap buram. Tetapi, dia mulai tidak mempedulikan hal itu lagi dan mulai membalas
"Tapi, kamu berkata juga kalau aku benar..."
__ADS_1
Wanita itu tersenyum kecil, dan sebuah suara tawa terselip keluar dari bibirnya yang terlihat tipis itu
"Karena ini adalah tempat paling ideal bagimu. Inilah surga yang kamu bayangkan"
Veskal terdiam, kemudian bibirnya perlahan mulai berbentuk menjadi senyum
"Itu artinya, kamu itu semacam bidadari...?"
"Tidak. Aku bukan bidadari. Justru kebalikannya, karena aku sudah membuat dosa yang tidak bisa dimaafkan"
"... Dosa apa...?"
Wanita itu terdiam. Kali ini, yang terdengar oleh Veskal adalah sebuah suara helaan napas sedih, hingga dia mendengar sebuah jawaban
"Aku meninggalkan anakku di dunia, tanpa siapapun lagi yang bisa menjaganya"
Elusan tangan wanita itu berhenti. Veskal bahkan merasakannya dan jadi terheran, seakan dia sudah terbiasa dengan kebiasaan wanita itu
Dan disaat selanjutnya, dia bisa melihat sesuatu yang bersinar perlahan merosot ke bawah di wajah wanita itu
Sebuah air mata...
"Aku meninggalkan anakku--- Dan memberikannya ke tangan yang salah---"
Suaranya mulai terisak. Sebuah suara yang tadinya terdengar seperti terompet malaikat, sekarang terdengar sangat memilukan dan menusuk ke bagian terdalam hati Veskal
Dia ingin mengusap air mata wanita itu, tetapi dia sadar satu hal lagi...
Dia tidak bisa menggerakkan anggota badannya yang lain, selain apa yang ada di kepalanya...
Dia bisa merasakannya, tapi tidak ada yang mau bergerak, seakan mereka terpaku ke tanah
Tangisan wanita itu mulai menderas, bahkan pantulan cahaya di air matanya itu bisa terlihat memenuhi pipinya
Dan karena itu, Veskal pun harus menggunakan satu-satunya anggota badannya yang bisa bergerak untuk menghentikan tangisan wanita itu
"Jangan menangis... Jangan basahi pipimu itu..."
...
Wanita itu mulai menenangkan dirinya, terdengar dari tarikan dan hembusan napasnya yang dalam
Veskal melihati wanita itu. Tidak sedikitpun matanya berpaling, karena menunggu mata hijau bagai permata itu menoleh kembali kearahnya
Hal itu pun tidak butuh waktu lama
"Maaf sudah membuatmu gelisah. Aku tidak seharusnya melakukan hal itu"
Veskal tersenyum, mencoba membalas genggaman wanita itu. Tapi, badannya tetap tidak bisa bergerak, dan tangannya tetap lemas
"... Badanmu tidak bisa bergerak" Wanita itu berkata
"... Ya"
"... Ada sesuatu di dunia luar yang membuatmu tidak bisa bergerak"
Wanita itu tahu, dan Veskal bisa merasakannya
"Badanku... Sekarang ini sedang di rantai... Di sebuah tempat..."
...
Wanita itu terdiam, dengan kepala tertunduk. Veskal bisa melihat kalau matanya melebar seakan tidak percaya mendengarkan hal yang baru saja dilontarkan
"Veskal..."
"Tapi tenang... Temanku... Akan datang menyelamatkanku..."
...
"Teman...
Ah ya. Kedua temanmu itu. Aku tahu"
"... Kamu tahu...?"
Wanita itu mengangguk perlahan
__ADS_1
"Dari mana...?"
"Kamu sering memberitahuku. Jangan bilang kamu lupa?"
Wanita itu tertawa dengan sangat ceria, bahkan Veskal bisa merasakan aura yang memancar darinya
Sebuah aura yang familiar baginya
"... Kamu tersenyum... Seperti Verdea..."
Tapi, dia merasa masih ada sesuatu yang salah dari apa yang dia katakan
"... Tidak... Aku merasa itu tidak benar juga..."
"Jadi, aku tersenyum seperti siapa?" Wanita itu bertanya
"... Entah... Ada sesuatu... Yang terlintas... Namun tidak bisa kuingat dengan baik..."
Dia ingin menghantam kepalanya disaat itu juga, agar dia bisa mengingat sesuatu yang familiar itu
Sesuatu yang tidak seharusnya dia lupakan
Dan disaat itu, Veskal dengan tidak sadar mengangkat tangan kanannya untuk meraba wajah wanita itu
Tapi, dia terhenti. Dia kaget ketika menyadari tangannya yang tiba-tiba bisa bergerak itu
Hanya saja...
Disaat dia berhenti, dengan tangannya tepat nyaris menyentuh wajah wanita itu, sebuah memori yang tidak dia kenal terpicu di dalam kepalanya
Dan sosok wanita itu, dia terlihat di dalam ingatan tak dikenal itu...
Entah kenapa, air mata mulai menetes dari matanya. Sebuah perasaan rindu mulai menggerogoti hatinya layaknya rayap yang melubangi kayu
Wanita itu berusaha menenangkan Veskal yang matanya mulai berair itu dengan memegang tangan kanannya. Perlahan dia kecup tangan itu, kemudian dia mendekat kearah wajah Veskal
Veskal baru tersadar, ketika dia merasakan sebuah kecupan di dahinya, dan wajah wanita itu berada sangat dekat dengannya
Dan disaat itulah dia sadar, bahkan seberapa dekat pun dia berada di wanita itu, bahkan bila kepalanya tidak terasa berat sekalipun, wajah wanita itu tidak akan bisa dia lihat sosoknya
Bahkan ketika dia mendekat, wajah wanita itu tetap terlihat buram di mata Veskal, terkecuali mata hijaunya yang indah
"Maafkan aku, Veskal. Jangan menyerah"
"... Kenapa...?"
"Aku akan selalu berada di dekatmu. Pergilah, jalani hidupmu hingga kamu menjadi tua
Jangan jadi sepertiku. Hiduplah... Untukku"
Kata terakhir dari wanita itu perlahan mulai membuat segala hal terasa berputar bagi Veskal
......................
Dia terbangun
Ketika dia membuka matanya, dia bisa melihat dengan jelas semua hal yang ada disana, bahkan di bawah gelapnya tempat itu
Obor yang menyala di dekat mereka, sekarang sudah padam dan belum diganti. Itu menandakan kalau matahari masih ada di langit
Tapi, Veskal perlahan teringat dengan mimpi itu
Dia merangkul dirinya, mencoba mencari tahu siapa wanita yang berada di mimpinya itu
Dia bahkan sampai meneteskan air mata, di dalam mimpi itu, dan juga ketika dia bangun
Pertanyaan miliknya adalah, 'siapa?'
Rasa penasarannya kian naik seiring pertanyaan yang berada di kepalanya terus bertambah dan tidak berhenti
...
Ketika dia terus merangkul dirinya di samping Collin yang tertidur, sepasang mata merah mengintai dirinya tanpa Veskal sadari
"Seandainya aku bisa membunuh kalian sekarang..." Sosok itu bergumam, kemudian mundur sebelum Veskal menyadari kehadirannya
Tetapi sebuah tawa sinis yang kian senyap milik sosok itu membuat Veskal merinding dan menyadari sebuah kehadiran, namun terlalu telat menoleh ketika sosok itu telah menghilang dari sekitarnya
__ADS_1