
...
"Apa?"
Aku tidak salah dengar bukan?
Bagaimana dengan ketiga anak i-
Ah, mereka juga terlihat bertanya-tanya...
...
"Ulangi perkataanmu itu?" Aku meminta kepada Lyralia
Dia menghela napas karena sadar aku tidak menanggapi hal ini seserius dirinya
"Singkatnya, aku ingin menyarankan kepadamu untuk menjadikan Remina sebagai seorang petinggi di masa depan" Dia mengulangi perkataannya kemudian
...
Jadi itu kenapa dia merasa sebaiknya tidak semua orang mendengarkan hal ini terlebih dahulu hm...?
Benar juga, kalau beberapa dari mereka pasti akan menolak hal ini karena Remina tidak memiliki sesuatu yang terlalu unik seperti para petinggi pada umumnya
Tapi, apa yang membuat Lyralia berpendapat kalau Remina mampu menjadi petinggi?
Bahkan Remina saja heran kenapa Lyralia menyodorkan ide itu kepadaku
"... Aku bertanya kepada Ayahanda tentang masa depan yang dimiliki Remina sebelum berniat menyatakan ide ini kepadamu" Lyralia berkata lagi
"Lalu, apa yang dia katakan?"
Ramalan Ayahanda tidak pernah meleset
Aku benar-benar berada diantara perasaan gelisah dan senang sekarang ini. Aku yakin ramalannya akan bagus
"Beliau bilang, 'Air sungai akan mengalir diantara sebuah padang rumput hingga mataku terpaku kearah lautan jernih yang tidak jauh, namun tersebar luas di cakrawala'. Tidak perlu waktu lama untukku dengan sendiri menyadari maknanya" Lyralia pun berkata
'Air sungai akan mengalir jauh diantara sebuah padang rumput, hingga mataku terpaku kearah lautan yang tersebar luas di cakrawala' hm...?
"Dia akan hidup dengan jangka waktu lama (lautan memenuhi cakrawala) di dalam kesuksesan (yang luas dan jernih). Ramalan untuk Remina bahkan lebih bagus dibandingkan dengan salah satu dari kita berenam"
Milikku bahkan menyatakan kalau aku akan terikat dengan kehidupan yang sangat lama selagi terbawa arus angin (daun yang terbawa angin). Bahkan milik kelima temanku tidak bisa lebih tenang dibandingkan nasib yang akan menimpaku itu...
Dan nasib yang telah diramalkan itu terjadi karena aku menyarankan mereka semua menjadi seorang petinggi...
(Note : dan untuk alasan spoiler, author tidak akan memberitahukan tentang milik yang lainnya)
"Dan karena beberapa penilaianku kepada Remina akhir-akhir ini, aku semakin yakin dia pantas menerima gelar sebagai seorang petinggi"
"Maksudmu... Anak pendek ini punya potensi tersembunyi, begitu?" Verdea bertanya, membuat Remina kesal hingga menepis tangan Verdea yang tertuju kearahnya
"Tidak cocok jika dibilang tersembunyi. Dia sudah menunjukkan potensi itu di depan kita semua sejak awal" Lyralia berkomentar
Aku masih tidak paham
Lagipula, mengesampingkan kemampuan milik Remina, ada satu hal lagi yang seharusnya dia pertimbangkan
"Latihan menjadi seorang petinggi itu tidak mudah. Kamu dan mereka berempat juga pasti sudah menyadari hal itu bukan?"
...
Langkah kami terhenti di perpustakaan kastil
Lyralia sepertinya menyadari kalau kami berempat berniat kemari. Dia juga pasti sekalian ingin berbicara di dalam
Tapi, pintu ruangan itu baru saja dibuka, dan Lyralia sudah kembali membuka topik ini
"Aku tidak khawatir dengan hal itu. Remina sudah melihat dan melalui sesuatu yang lebih buruk daripada latihan itu" Dia berkata
Aku akui itu. Tapi sungguh, membuat seorang Elf biasa sepertinya melalui latihan itu hanya akan membuat mentalnya runtuh jika tidak berhasil
Maksudku, bagaimana jika kehidupan Remina yang diramalkan Ayahanda itu tidak hanya berarti dia akan berhasil ketika menjadi petinggi saja?
"Tapi aku sungguh tidak paham, nyonya Lyralia. Kenapa tiba-tiba menyarankan diriku menjadi seorang petinggi?" Remina secara pribadi mulai bertanya
"Kamu akan tahu setelah melalui latihan itu. Lalu, aku akan membuktikan kepada raja yang satu ini kalau kamu memang pantas menjadi orang terpercaya miliknya" Lyralia justru membalas
"Bukan berarti aku menolak, hanya saja tetap saja aku tidak menyangka diriku akan direkomendasikan sebagai seorang petinggi olehmu" Remina berkata lagi
Aku bahkan tidak pernah meragukan dirinya. Poinku adalah, kita tidak harus memaksa Remina, itu saja
Verdea dan Veskal pun meminta waktu mereka sebentar untuk mencari buku selagi kami melanjutkan diskusi
Mereka tidak izin pun aku tidak akan menghalangi. Pergi saja
Remina terlihat masih kebingungan. Tapi, aku sudah menyiapkan semua jawaban dari pertanyaan yang akan dia lontarkan sebentar lagi
"Memangnya, tes seperti apa yang harus dilalui untuk menjadi seorang petinggi, Oberon?" Dia pun mulai bertanya lagi, kali ini kepadaku
Langsung ke inti hm? Padahal masih ada beberapa prosedur sebelum tahap itu
"Ada 5 tahap. Tahap pertama adalah kamu harus mengalahkan petinggi klan-mu terlebih dahulu di hadapan anggota lainnya"
"Dan aku merasa kalau aku cukup mudah dikalahkan olehmu. Aku yakin itu" Lyralia menyela
"Tidak terlalu benar. Terakhir kali kamu melalui tes itu, kamu membuat ayah angkatmu cedera"
Dan itu sungguhan. Itulah alasan utama kenapa hanya Lyralia saja yang menjadi petinggi klan Undine saat ini
Ayah angkatnya yang merupakan petinggi sebelumnya sudah tidak bisa menjalankan tugas militer lagi, walaupun dia masih menjalankan pekerjaan mengatur kehidupan klan Undine menggantikan Lyralia yang selalu kabur dari tanggungjawabnya setiap saat
Remina tentu berkeringat dingin mendengar itu, terutama ketika Lyralia berkata, "Ayolah. Kalian berlima kan tahu seberapa besar aku ingin memukul wajah orang itu~"
Tapi bukan berarti kamu harus mematahkan tulangnya juga...
"Tahap kedua cukup mudah. Kamu harus mencari Leshy di seluruh penjuru Goeitias, dan aku akan mengajarimu satu trik untuk membuat Leshy datang kepadamu secara pribadi" Aku melanjutkan kepada Remina
"Aku percaya jika kamu mengatakan hal itu mudah" Dia membalas
Lalu, masuk ke bagian sulitnya
Mengingat semua hal itu saja membuatku merinding
"Tahap ketiga, Leshy secara pribadi akan menguji dirimu selama seminggu" Aku pun menjelaskan singkat
Remina terlihat termangu heran menatapku
"Oberon bicara seakan tuan Leshy itu sangat kejam" Dia berkata kemudian
...
...
__ADS_1
...
"Kamu bercanda bukan...?"
"Tidak. Dia sungguh akan melakukan apapun itu untuk membuatmu gagal, jadi kamu harus kuat menangani dirinya. Ivor dan Luxor saja nyaris gagal, tetapi hari terakhir tahap itu membuat keputusan Leshy berubah" Aku terpaksa memberitahunya
Bagaimanapun juga, Leshy itu tetap monster. Dia tahu cara terbaik untuk menggagalkan seseorang, karena kaum monster itu dibuat sebagai 'algojo'. Dan dia menggunakan metode kasar itu untuk menilai kepantasan seseorang
Paling kasar, diantara semua tahap yang ada dalam hal ini
Di dalam tes itu dulu, dia mencoba memecah belah kami dengan menggunakan ilusi. Di hari pertama kami semua gagal karena tidak mendapati hal itu, sampai aku menunjukkan kepada semua temanku kebenaran dari tes milik Leshy
Aku dengan tidak sengaja membongkar bentuk ilusi yang diberikan kepadaku sebelum ditangkap oleh Leshy di saat kemudiannya dan dinyatakan gagal
{Note : Vainzel punya mata yang bisa melihat aliran Mana, jadi dia bisa membedakan yang mana wujud asli temannya atau wujud ilusi Leshy}
Tapi itu bahkan tidak bisa menghentikan Luxor yang terlalu lemah mentalnya dan Ivor yang tidak pandai membaca situasi hingga mereka mulai berkelahi. Leshy bahkan menarget mereka secara ketat karena keduanya tidak bisa akur saat itu, selagi ketiga teman perempuanku sudah lolos dari ilusinya
Apa yang membuat kedua orang itu berhasil melaluinya hanya satu. Mereka mulai bekerjasama, dan bahkan tanpa bantuan kami sama sekali
Kami yang sudah lolos terlebih dahulu terkejut melihat mereka berdua berhasil melalui semua ilusi Leshy, walaupun aku bisa melihat ada beberapa cedera di badan mereka setelah itu
Leshy terlalu keras kepada mereka di hari terakhir, tapi Ivor dan Luxor berhasil melaluinya dengan teguh
...
Cara Leshy menilai juga membuatku dan kelima temanku kewalahan. Aku bahkan sebenarnya ada disana hanya karena ingin menemani semua temanku, tetapi malah ikut terjerat dalam tes itu...
"Apa dia akan menggantungku terbalik juga seperti kedua orang itu...?" Remina bertanya ketakutan, mengingat cerita yang kuceritakan kepadanya waktu itu
"Tidak apa. Kamu akan belajar menanganinya karena aku juga pernah digantung di tiga hari pertama" Lyralia berkata
"Sementara aku hanya satu kali, tapi tetap saja rasanya tidak enak..." Aku mengikuti
"Ahahaha! Mengingat kalau kita semua digantung terbalik olehnya tepat di hari pertama itu membuatku geli!" Dia menambahkan lagi
Dia berkata begitu karena itu adalah pertama kalinya dia melihat aku dan Luna mulai meringis...!
"Lalu masuk tahap keempat. Kesulitannya bisa dibilang lebih rendah daripada yang ketiga, tapi hal itu bisa juga diperdebatkan" Aku melanjutkan lagi
"Kenapa?" Remina bertanya penasaran
"Kamu harus membawa persembahan untukku dari luar maupun di dalam Miralius. Sesuatu yang bisa bermanfaat bagiku dan Pohon Agung"
Dan masalahnya ada disini
"Kamu tidak bisa memberiku sesuatu dengan sembarang. Seorang pengawas kerajaan Miralius yang akan menilai seberapa bernilainya apa yang akan kamu berikan sebelum membiarkanmu masuk kembali ke dalam Miralius. Tapi karena Seren sedang sekarat sekarang, Zaphir atau Luna lah yang akan menggantikannya"
...
Aku juga ragu akan membiarkan Zaphir ataupun Luna menjadi seorang penguji di dalam tes ini. Mereka sama sekali tidak paham tentang apa yang aku dan Ayahanda inginkan
Lupakan. Tidak hanya mereka, semua petinggi, termasuk teman-temanku yang lain juga, mereka tidak paham dengan apa yang aku dan Ayahanda inginkan dari mereka
Lalu untuk anak ini...
Dia sama sekali tidak memiliki kriteria yang baik untuk menjadi seorang petinggi yang kami, atau harus kubilang aku, inginkan
Aku hanya mencari dua kriteria saja dari seorang petinggi. Kriteria yang juga diinginkan oleh Ayahanda
Itu sebabnya, jika dalam tes ini dia gagal membawa apa yang aku dan Ayahanda inginkan...
"Jika kamu tidak membawa apa yang kami inginkan, aku secara pribadi akan menggagalkanmu dalam tes itu secara keseluruhan. Kamu bisa datang kembali jika kamu merasa lebih siap, namun harus kamu lakukan kembali ke tahap awal" Aku berkata kepadanya
"Dan untuk tahap terakhir..."
Tahap ini adalah yang paling mudah
"Untuk yang terakhir, kamu akan dinobatkan, dan melakukan sumpah Elf di hadapan seluruh penduduk Miralius
Kamu harus pintar memilih kalimat yang kamu gunakan di dalamnya. Jika tidak, kamu justru akan terjerat tanpa kamu sadari"
Sama sepertiku. Walaupun seperti yang aku bilang dari sebelumnya : Aku tidak masalah dengan hal itu, tapi Verdea akan berpikiran lain. Bagi anak itu, sumpah Elf itu sangatlah tidak rasional
Dan sumpah yang akan dibuat itu sangat sakral. Lebih berpengaruh dibandingkan yang dibuat diatas kertas atau sumpah petualang yang aku buat
Karena, tidak hanya di depan seluruh Elf saja, calon petinggi itu juga harus membuat sumpah di hadapan Ayahanda. Langsung kepada pendahulu kami yang sangat kami puja
Remina pun mengangguk paham
Kalimat selanjutnya yang dia lontarkan bahkan membuatku terkejut
"Baiklah, kapan bisa kita mulai?"
...
Ternyata anak ini lebih parah dari perkiraanku...
Dia sama sekali tidak tahu apa-apa tentang kesulitan prosedur penobatan petinggi...!
Aku menoleh kearah Lyralia menggunakan tatapan yang secara langsung membuatnya paham kalau aku sedang menyebut dirinya sebagai, 'Bodoh'
Dia pun hanya berpaling dan bersiul seakan tidak ingin mengurus urusan ini, hingga tatapanku justru semakin tajam mencoba menusuknya
Hah...!
Ini artinya, aku harus mengurus semua hal tentang penobatan anak ini menjadi seorang petinggi hm...?
Sungguh guru yang bertanggungjawab, Lyralia itu...!
"Kamu juga harus memikirkan tentang prosedur awal sebelum tahap-tahap itu, Remina" Aku beralih kearah Remina, setengah putus asa
"Prosedur awal...?"
Lihat?! Dia tidak tahu apapun bukan?!
"Aku akan beritahu nanti. Ada beberapa kriteria yang harus kamu penuhi sebelum melaksanakan upacara penobatan itu" Aku menjelaskan kepadanya
Dan karena itu...
"Aku mungkin harus membawamu kembali ke Miralius, hingga kita bisa mengurusnya sekarang jika kamu mau
Kamu bebas memilih. Aku tidak akan menghambat keputusanmu, apapun itu"
Dari nadanya tadi, dia sepertinya ingin melakukan hal ini secepat mungkin
Remina langsung terlihat antusias dan mengangguk mantap merespon perkataanku
Baguslah...
Dengan begitu dia bisa tetap aman disana terlebih dahulu
"He~eh? Si cebol ini ingin dijadikan petinggi...?" Verdea yang mendekat kearah kami berkomentar
__ADS_1
Dia dan Veskal yang baru saja kembali bersama kami itu langsung terlihat memiliki niat menganggu
"Memangnya kenapa? Kelima orang aneh itu juga sudah menjadi petinggi sejak seumuran Remina. Justru lebih muda" Aku menanggapinya, sepenuhnya berada di sisi Remina
Remina pun mendukung argumenku itu dengan sebuah anggukan keras dan senyum sombong, ditambah dengan kalimat, "Setidaknya Oberon sudah mengakui diriku"
"Baiklah, baiklah. Aku tidak akan menyinggung hati kecilmu itu lagi, Remina kecil~" Verdea berkata, dengan niat mengejek
"Dan aku juga akan merindukan kebisingan tempat ini, karena pasti semu~a tempat di kastil ini akan tenang setelah kamu sibuk dengan banyak pekerjaan~" Veskal menambahkan
Perkataan mereka membuat Remina cemberut dan malah beralih kearahku meminta bantuan
Aku pun berpaling. Begitu juga dengan Lyralia yang bahkan tidak dimintai tolong
"Aku punya urusan. Mungkin, para pelayanmu itu sedang membuat masalah di dapur lagi" Aku berkata kepada Verdea. "Ah, dan temui aku di dapur nanti bersama Ivor. Ada sesuatu yang aku ingin diskusikan, tapi jangan tinggalkan Remina bersama Verdea tanpa pengawasan" Aku beralih kepada Lyralia
Aku juga sudah mulai mencium bau asap. Asalnya pasti dari dapur
Kastil ini terlalu kacau sampai semua hal yang tidak normal terasa normal
Efek mengurus orang-orang aneh rupanya sudah membekas di otakku hingga aku bersikap santai saja disaat seperti ini...
Aah... Hidupku yang tenang hilang...
Aku pun beranjak dari tempat itu terlebih dahulu, sebelum Lyralia bahkan sempat meminta bantuan untuk bisa ikut keluar
Remina hanya bisa memandang dengan putus asa ketika aku sudah sepenuhnya menghilang di balik pintu yang tertutup
Harapan terakhirnya adalah Lyralia. Tetapi hal itu pun padam seketika ketika Lyralia yang tadinya duduk diam itu menghilang, hingga Remina menyadari kalau dia sudah berubah menjadi air dan secepat mungkin merayap keluar dari ruangan itu
Wajahnya semakin terlihat putus asa, terutama ketika kedua orang yang tertinggal bersamanya di dalam perpustakaan hanya tersenyum lebar melihat kekalahannya
"Mana bantuanmu sekarang~?" Verdea mengejek dengan senyum tanda menang
"Sepertinya kita khawatir terlalu banyak. Rupanya dia bahkan tidak bisa melawan tanpa bantuan~" Veskal menambahkan lagi
Tawa penuh ejekan pun dilontarkan oleh kedua anak itu, membuat emosi Remina memuncak hingga wajahnya berubah merah
Kesal, dia pun ikut berlari keluar secepat mungkin, membuat kedua orang yang menertawakannya itu mulai memelankan tawa mereka hingga berhenti
"Awas jika kalian merindukanku setelah aku pergi nanti! Sampai jumpa, orang jelek dan si bau badan!" Remina berkata, sebelum menjulurkan lidahnya dan pergi
Keduanya pun menatap satu sama lain setelah kepergiannya, kemudian tertawa kecil melihat tingkah teman mereka itu
"Ayolah, badanku bahkan tidak sebau itu" Veskal berkata
"Mungkin kamu harus mengendusnya ulang. Bahkan Vainzel saja menyiapkan sabun mandi di kamarmu, walaupun dia tidak yakin kamu akan menggunakannya
Dan entah bagaimana dugaannya benar! Kamu sama sekali tidak menggunakannya!"
Setelah perkataanya itu, entah kenapa tawa Verdea justru lebih keras daripada disaat dia mengejek Remina barusan, membuat Veskal sepenuhnya heran dan berwajah datar
"Abaikan saja soal bau badanku. Kalian pasti akan jadikan itu bahan celaan selama seminggu jika diteruskan..." Veskal berkata, memasang sikap cemberut
Sikapnya itu mengundang tawa sejenak dari Verdea, sebelum dia beralih kearah buku yang dia ambil tadi
...
...
"Aku heran, kenapa kamu ingin Remina untuk tidak pergi. Maksudku, kalian berdua itu selalu bertengkar dengan satu sama lain setiap hari"
Komentar mendadak Veskal itu membuat suasana hening, bahkan menghentikan Verdea yang baru berniat untuk membuka halaman bukunya
Mata teman di sampingnya, yang melirik kearahnya dengan rasa penasaran itu dia tinggalkan dalam keheningan cukup lama tanpa sebuah jawaban
Hingga satu pernyataan pun dia utarakan sepadat mungkin
"Jika kamu tidak memiliki apapun sejak awal, kamu pasti akan mempertahankan apa yang kamu punya sekarang, seperti sebuah harta karun
Sungguh, seandainya ini tidak memalukan, aku akan langsung berkata di hadapan semuanya, kalau kalian adalah harta paling berharga yang bisa kuminta dan dapatkan. Aku ingin menjaga setiap orang yang hidup di bawah atap kastil Thyme, sekarang ini dan selalu"
Verdea terdiam sejenak, sebelum dia kembali mencoba membuka mulutnya untuk berbicara
"Tapi kalian bebas memilih. Dan bahkan, jikalau kalian semua memilih untuk pergi dengan kehidupan kalian yang baru, aku sudah siap untuk tidak memiliki apa-apa kembali
Karena... Kakek juga akan segera pergi meninggalkanku..."
...
Veskal sudah mendapatkan jawabannya, di tengah suasana murung itu
"Tidak memiliki apapun sejak awal ya...?"
Bukan soal materi ataupun objek. Apa yang dianggap Verdea sebagai sebuah kepunyaan adalah kehadiran mereka semua di sekitarnya
Wajar dia bisa selalu mengerti dengan Verdea, dan begitu juga sebaliknya. Dia selalu ingin mendapatkan orang yang setidaknya bisa dia ajak bicara dengan cara normal tanpa gerakan yang kaku
Mereka hanyalah dua orang yang berbeda, tetapi memiliki nasib yang sama...
"Jadi itu motif milikmu. Tidak kusangka cukup mudah ditelan" Veskal berkomentar
"Kamu juga setidaknya langsung paham tanpa mencoba menggodaku lebih jauh" Verdea berkata, setengah memuji
"Ayolah. Reaksi yang kamu tunjukkan ketika sedang diganggu itu membuatku dan Vainzel puas"
"Cuih...! Bayangkan hidup untuk mengganggu orang lain semata"
"Makanya jangan jadi bocah kecil pemarah. Kami jadi senang mengusili dirimu~"
Verdea pun menggerutu karena sekali lagi mendengar kata terlarang baginya, sementara Veskal hanya tersenyum usil selagi meletakkan tangan dan kepalanya diatas meja
Untuk menutup pembicaraan itu, Verdea pun membuka bukunya dan mulai membaca
...
...
"Masih banyak langkah yang harus diambil..."
"Tentu saja. Kita hanya baru keluar dari situasi rumit saja"
"... Menurutmu, apa yang harus kita lakukan selanjutnya, Veri?"
...
"Aku akan biarkan Vainzel bergerak tanpa bantuanku kali ini
Dia selalu tahu yang terbaik jika hal itu berkenaan dengan keselamatan kita semua. Aku juga biasanya hanya menambah satu atau dua bagian pada rencananya"
Veskal menegakkan tubuhnya sebelum sepenuhnya bangun dan beranjak pergi. Sebuah senyum tertempel di bibirnya selagi satu tujuan tersirat di kepalanya dengan jelas
"Aku juga akan mempersiapkan diri" Dia berkata untuk yang terakhir kali, sebelum sepenuhnya menghilang dari perpustakaan itu
__ADS_1
Verdea yang kembali sibuk membaca bukunya itu hanya mengantar kepergian temannya dengan sebuah senyum tanda puas