
'Apa-apaan ini...?' Tanya Verdea
Verdea melihat kesana kemari untuk memastikan hal yang ia lihat itu benar
Dia... Berada dalam mimpi itu lagi...
Mimpi dimana dia masuk ke dalam jiwanya sendiri itu
"Oh, kamu memanggilku lagi?"
"Hah?"
"Kenapa kamu terlihat kaget begitu coba?"
Sosok yang berada di dalam mimpinya itu, Marcellus, bahkan datang seperti sebelumnya
Dia muncul dari balik pohon dan duduk di samping Verdea seperti biasa
"Kamu masih belum paham cara mengontrol mimpi ini ya?"
Verdea menggelengkan kepalanya
"Hah... Pantas saja..." Marcellus berkata
Dia kemudian memutar posisi duduknya dan menghadap kearah Verdea
"Dengar. Mimpi ini hanya datang karena kamu memanggil namaku sebelum tertidur. Jadi, jangan lakukan secara tidak sengaja"
...
"Haah...? Pantas saja..." Respon Verdea
Dia membuang napasnya selagi Marcellus cuma diam menatap
Dan juga....
Verdea baru sadar kalau cahaya di wajah Marcellus sudah semakin memudar dan memperlihatkan sedikit wajahnya yang asli
Walaupun masih belum terlalu jelas...
"Jadi, kenapa kamu memanggilku?" Tanya Marcellus
"Hm.... Sebelum tidur tadi, aku sebenarnya ingin menceritakan kejadian hari ini padamu" Verdea merespon
"Hanya itu?"
"Hanya itu"
Verdea kemudian menoleh kearah matahari yang masih tidak bergerak di cakrawala itu. Matahari yang terang namun tidak menyilaukan
"Aku sangat senang hari ini. Itu sebabnya aku ingin kamu juga mendengarkannya" Lanjut Verdea
"... Kalau begitu cepat ceritakan"
"Mau mendengarkan" Verdea berkata sembari menoleh kembali kearah Marcellus
"Aku bosan ketika kamu tidak memanggilku. Jadi tolong hibur aku" Marcellus membalas, sambil melambaikan tangannya seakan menyuruh
Verdea langsung siap bercerita dengan senyum di wajahnya
...
"Begitu..."
Dia terlihat tidak terhibur
Verdea langsung cemberut ketika menyadari hal itu
"Aku jadi rindu hidup..." Marcellus berkata dengan nada bosan
"..."
Ada sesuatu yang ingin dikatakan Verdea padanya
"... Aku sudah mendengar ceritamu dari temanku"
"Lalu?"
Marcellus yang kembali bersemangat langsung mendekatkan diri ke Verdea
__ADS_1
"Aku ingin kamu menceritakan kisahmu dan kakakmu"
Marcellus tersentak dan diam tidak berkata
Dia langsung duduk dengan tenang kembali sambil menundukkan kepalanya, masih dengan ekspresi seperti orang kaget yang tertempel di wajahnya
"Kenapa?"
"... Kamu tahu siapa kakakku?"
"Ya. Sang Penghancur, Lazarus bukan?"
"... Begitu. Kamu tahu rupanya..."
Dia membuang pandangannya, dan wajahnya sekarang terlihat sedih
Verdea bingung dengan kelakuan Marcellus yang mendadak itu
"... Salah ya?"
Nada Verdea mulai menurun karena rasa penyesalannya. Dia berpikir kalau ia telah mengingatkannya pada sesuatu yang menyakitkan
"Tidak, tidak. Hal itu tidak salah" Dia berkata sambil mengibaskan tangannya. Wajahnya kemudian kembali muram. "Aku harap itu salah..."
...
"Ahahaha. Suasananya jadi kelam. Kita mungkin harus ganti topik"
"Mau topik apa lagi coba? Kamu saja terlihat tidak tertarik dengan yang kuceritakan tadi" Verdea berkata
Nadanya sengaja dia naikkan untuk merubah suasana dengan cepat
"..."
Namun respon yang dia dapat hanya keheningan
Marcellus terlihat kebingungan karena tidak tahu harus membicarakan apa lagi
Karena suasana hening itu, Verdea langsung menyadari sesuatu ketika ia melihat punggung telapak tangan kanannya
"... Kalau begitu aku ingin bertanya sesuatu" Verdea berkata
Dia menyodorkan tangan kanannya kearah Marcellus
Marcellus yang penasaran kemudian memperhatikan simbol di tangan kanan milik Verdea itu
Wajah tersenyumnya kemudian terlihat kembali
"Temanku bilang kalau simbol ini ada kaitannya denganmu. Tolong jelaskan?" Tanya Verdea
"... Aku akan jelaskan kalau kamu sudah siap"
"Dan kapan menurutmu aku akan siap?"
"Tidak tahu. Tapi, jika kamu bertemu dengan sesuatu yang mengganggumu, segera temui aku"
Sesuatu yang mengganggu...
'Seperti apa?', pikir Verdea
Pandangannya di dalam mimpi itu tiba-tiba menjadi buram
Belum sempat bereaksi akan hal itu, sebuah cahaya putih menyilaukan matanya
......................
"Veri?"
Aku menepuk pipinya berkali-kali, dan akhirnya dia bangun setelah beberapa saat
Keringat dinginnya mengucur di seluruh badannya. Aku berpikir dia sedang bermimpi buruk, itu sebabnya aku membangunkannya
"Vain...?"
"Ya, aku disini"
Perlahan aku mendekapnya di dalam pelukanku sembari mengelus rambutnya. Napasnya masih normal, walaupun tadi dia terlihat terganggu
Anak ini...
__ADS_1
Aku tidak bisa meninggalkannya setiap malam tanpa pengawasan. Dia pasti akan selalu berkeringat dingin seperti ini setiap malam
Ketika aku datang mengawasinya lagi malam ini, dia awalnya terlihat tenang
Itu mungkin saat paling tenang ketika aku melihatnya tidur. Aku bahkan melihat dia tersenyum ketika tertidur lelap untuk yang pertama kalinya
Tapi, tiba-tiba dia merungut. Merungut seakan terjadi sesuatu kepadanya di dalam mimpi itu
Keringat dingin tiba-tiba mengucur di dahinya, dan aku langsung membangunkannya sebelum keadaannya semakin parah
Hal itu tidak baik sama sekali untuk kesehatannya. Apa yang sebenarnya dia mimpikan barusan?
"Vain... Aku sudah tidak apa-apa"
Aku melepasnya dari dekapanku dan menatap matanya tajam
"Setidaknya kali ini ceritakan, apa yang ada dalam mimpimu itu?"
Tidak mungkin aku akan membiarkan dia terus begini. Kesehatannya adalah prioritasku sebagai pengawal dan pengasuhnya
Dia terlihat ragu awalnya, kemudian dia membuka mulutnya dan mulai bercerita
Dia menceritakan mimpi mengenai dirinya yang masuk ke dalam jiwanya sendiri. Dengan detil akan tempat dan semua mimpi serupa yang sudah dia alami
Dia menceritakan tentang sosok yang berada di dalamnya. Sosok yang mengakui namanya sebagai Marcellus
Dia menceritakan apa yang dia lakukan dalam mimpi itu
...
"Jadi begitu. Tapi, aku ingin kamu tidur dengan tenang ya?"
Aku pun beranjak pergi. Namun...
"Vain..." Dia berkata sambil menarik lengan bajuku. "Kamu tahu sesuatu?" Lanjutnya
Wajahnya terlihat gelisah dan khawatir
Aku tersenyum untuk berusaha menenangkannya
"... Ya. Aku tahu sesuatu" Perlahan kuelus kepalanya. "Tapi, tolong biarkan aku yang mengurus ini, baik?" Tambahku
Dia langsung terlihat sedikit lebih tenang. Aku kemudian menemaninya di dalam sana sampai dia tertidur, kemudian pergi keluar
Veskal berdiri tepat di dekat pintu kamar Verdea, bersender ke tembok
Tatapan matanya mengarah padaku seperti mengatakan kalau dia ingin mengetahui semua hal yang kami bicarakan tadi
"... Aku akan memberitahumu nanti. Aku juga tidak akan bertindak sebelum pagi datang"
Veskal terdiam, kemudian menganggukkan kepalanya pelan setelah mendengar responku
Dia kemudian beranjak dari tempat itu dan pergi ke kamarnya
......................
Tidak bisa dipercaya
Jika apa yang diceritakan Verdea itu ada benarnya, aku tidak tahu harus berbuat apa
Marcellus sang pelindung...
Tidak ada satupun Elf yang menyukainya. Kebalikan dengan para manusia yang memujinya secara berlebihan
Seandainya mereka tahu kegelapan di balik orang itu, aku yakin kalau mereka akan membenci Marcellus ketimbang Lazarus
Dia selalu diceritakan seakan dia itulah pahlawan di dunia ini. Semua cerita melebih-lebihkan kebaikannya dan melupakan apa yang telah diberikan Lazarus untuk mereka
Kisah sebenarnya dari kedua roh itu telah terhapus dari pikiran semua makhluk. Hanya para Elf saja yang memiliki ingatan akan hal itu, karena pemberontakan yang kami lakukan padanya dulu. Ingatan yang tidak menyenangkan dan sayangnya terukir jelas di pikiran kami semua
Roh sok suci itu dan teman-temannya adalah penyebab utama kematian Oberon sebelum diriku. Dia tidak sebaik apa yang para manusia pikirkan, tidak seperti Lazarus
Lalu, sekarang dia ingin macam-macam dengan Verdea?
Tidak bisa kubiarkan. Aku harus segera konsultasi dengan Ayahanda saat pagi tiba
Kata-kata Ayahanda mengenai Verdea yang bisa jadi berhubungan dengan Marcellus membuatku takut
Apa yang akan terjadi pada anak itu?
__ADS_1