
--- Beberapa Menit kemudian, Miralius ---
"Oh? Kalian sudah selesai?"
Kami semua datang menjumpai Alf, Frank, Claudia dan para kru Black Hunt yang kami tinggal di dekat Pohon Agung
"Bagaimana?"
Aku tersenyum merespon pertanyaan Alf, kemudian menunjukkan kepingan yang berada di tanganku. Mata Alf langsung terlihat berbinar
"Setidaknya kita sudah mendapatkan empat" Dia berkata sembari menerima pecahan roh itu
Dia kemudian meletakkannya kembali ke dalam pohon yang masih hangus itu
"Sisanya tinggal menunggu yang terakhir" Aku berkata
Alf tersenyum meresponku sembari menanti tubuhnya yang lama itu kembali
Lalu, aku menoleh kearah Claudia yang terlihat tegang
Aku baru ingat sesuatu
"Claudia"
"Ya, Oberon?"
"... Jika kami ingin mengembalikan inti roh itu seperti semula, aku harus mencabut pecahannya dari badanmu itu juga. Apakah kamu baik-baik saja dengan itu?"
...
"Oberon. Aku ini seharusnya sudah mati. Lagipula, inti roh ini adalah milik kalian. Tidak seharusnya aku merasa benda ini adalah milikku"
...
Dia wanita yang jujur. Tapi aku masih heran kenapa dia terlihat tegang
"Tapi, aku merasa ada sesuatu yang aneh"
Claudia langsung memainkan jarinya dengan gugup karena sikapnya ketahuan
"... Oberon. Jika aku sudah mati lagi, aku ingin kamu berjanji satu hal padaku"
"Apa?"
"... Tolong Darwin untuk kembali ke alam kematian"
...
Cinta kedua orang ini sangatlah rumit. Satunya rela berkorban untuk yang lain, bahkan jauh-jauh menjadikan dirinya sendiri iblis
Lalu, yang satunya bersyukur dengan apa yang ada. Dia tidak ingin menyusahkan orang lain, dan dia sekarang ini pasti menganggap dirinya begitu
Kebangkitan kembali Darwin dan kebenciannya pada kami. Dia mungkin berpikir kalau itu adalah salahnya
Hmph...
"Aku berjanji. Tapi jangan harap aku bisa cepat menyelesaikan hal itu"
Claudia tersenyum mendengar responku. "Syukurlah..." Dia berkata
Aku jadi kasihan pada mereka berdua
Oh ya...
Aku belum menjelaskan apapun pada para petinggi mengenai kontrakku dengan Verdea.....
. . .
Singkat ceritanya, aku menjelaskan semua hal itu secara terperinci. Beberapa jadi melihatku seperti orang bodoh, dan beberapa hanya terlihat setuju saja kepadaku
"Jadi, aku mohon jangan protes. Aku mohon sekali lagi!"
"Raja kita ini benar-benar tidak bisa tertolong dalam hal ini. Dia terlalu baik" Amelia berkata sembari menghela napas
"Jadi, kalian anggap diri kalian tidak baik begitu?" Aku bertanya
"Bukan begitu. Aku berkata kalau kamu itu sangat, SANGAT, baik. Untung saja kamu cukup pintar"
__ADS_1
"Vain memang begitu sejak dulu" Verdea berkata
"Kamu ini. Bisa coba jangan memanggil nama Oberon seringan itu? Kamu bahkan tidak punya posisi lebih tinggi darinya" Turin protes
"Dia temanku bukan?" Verdea membalas setengah kesal
"Dan aku ini pelayannya secara legal. Dokumen yang kutandatangani hari itu merupakan sumpah kepada mereka berdua" Aku menyela
Hal itu membuat Verdea menjulurkan lidah kearah Turin. Dan itu kesalahan besar
Turin langsung membuat lidah anak itu ditusuk oleh suhu dingin
Verdea langsung meringis kesakitan karena lidahnya yang terasa terbakar akan suhu dingin itu selagi aku menajamkan tatapanku kearah Turin
"Jadi kesimpulannya, kami juga secara resmi pelayan dari mereka berdua?" Tanya Welt
...
Eh... Entahlah
Aku memang raja mereka, tapi akulah yang menandatangani kontrak itu sendirian
Mungkin, aku bisa dianggap sebagai kepala pelayan milik Verdea dan Artorius sementara mereka adalah bawahanku atau semacamnya
Tapi hal itu juga terdengar tidak etis sekali kepada mereka. Jadi, status mereka lebih baik tetap seperti itu saja. Aku yang membuat kontraknya, dan mereka tidak ikut campur bukan?
"Oberon!!!!"
Oh? Ada satu tamu kecil yang mendadak datang
"Remina! Hati-hati saat naik!"
...
"Oberon! Aku mendengar kalau kamu dan si hitam ini ingin pergi ke.... Tempat apalah itu! Apa benar!?"
'Tempat apalah itu' apaan coba?
"Jika maksudmu Hortensia, ya. Hal itu memang benar"
"Kalian tidak boleh pergi!"
Tapi...
"Aku sudah mempersiapkan semua hal untuk semua skenario saat ini"
"Hah?..."
Yang kuperlukan sekarang ini hanyalah kembalinya semua inti roh Ayahanda. Dengan begitu, Mana disini akan kembali stabil dan para Elf tidak perlu lagi bersusah payah menggunakan Mana mereka untuk mempertahankan bentuk sihir ruang ini
Lalu, karena Seren sedang tidak aktif, aku akan meminta Welt dan para Gnome untuk menjaga gerbang hutan. Mereka memang tidak berpengalaman, tapi mereka adalah klan Elf terkuat dalam hal pertahanan
Dan...
Aku sudah menyelesaikan benda ini...
Kalung teleportasi yang sangat mirip fungsi dan bentuknya dengan milik paman Zer
Aku sudah membuatkan satu untuk Collin Hortensia. Dia sudah pergi cukup lama sebelum pertemuan ini dan berjanji tidak akan mengganggu kami. Entah kemana, hanya Tuhan yang tahu tempatnya pergi. Rosalia juga tidak terlihat khawatir dengan kehilangan adiknya itu, bahkan tidak menanyakan sedikitpun mengenai dirinya. Dia terlalu fokus dengan mengambil kembali Verdea dan Artorius
Aku cukup kuat untuk berteleportasi ke gerbang hutan secara bolak-balik. Jika terjadi sesuatu, aku sudah pasti bisa dengan cepat tiba. Tapi aku juga harus berhati-hati untuk keamanan Verdea. Itu sebabnya aku akan mengajak kelima orang itu lagi, ditambah Frank
"Jadi, Remina tidak perlu khawatir lagi"
"... Baiklah" Dia berkata pelan
Aku mulai tersenyum untuk menambah semangatnya
"Kamu juga hati-hati, dasar hitam" Dia kemudian berkata dengan nada pelan pada Verdea
"Terdengar setengah-setengah sekali..." Verdea membalas
"Berisik! Terima kasih sedikit coba!"
"Cih. Dasar cebol kasar"
"Kamu mau bertarung hah!?"
__ADS_1
Entah bagaimana, aku meringis luar dalam di tengah kerusuhan itu. Para petinggi saja tidak bisa menenangkan mereka berdua
"Pesan untuk Oberon!"
Hah?
Seorang Sylph entah darimana muncul di belakangku. Dia kemudian membuka kepalan tangannya dan menunjukkan batu biru yang bersinar
Oh! Serpihan yang terakhir! Tidak kusangka sampai secepat ini
Alf langsung terlihat antusias melihat hal itu
Mengesampingkan wajah ceria Alf, Sylph itu perlahan meminta telingaku untuk berbisik
"Orang yang menyerahkan batu ini kepadaku ingin mengatakan selamat" Sylph itu berbisik
"... Baiklah"
Aku tidak butuh kata selamat darimu, Yuriel Grandier. Tapi, jika aku bisa mengembalikan kata-katamu ini nanti, aku akan mengucapkan terima kasih
Aku memerintahkan Sylph itu untuk menyerahkan serpihan itu pada Alf. Dia segera melakukannya, dan disambut seketika oleh Alf
Pecahan ketiga pun sudah ada di dalam pohon itu. Yang tersisa tinggal dua
"Claudia. Apa kamu siap?" Aku bertanya padanya
Dia mengangguk paham, kemudian aku menuntunnya berjalan kearah Alf
"Terima kasih Claudia Dolores. Aku akan selalu mengharapkan kebaikan untukmu" Aku berkata padanya, menunduk hormat salam perpisahan
Claudia mulai tersenyum lembut meresponku
"Tidak apa. Ini adalah hal yang seharusnya kulakukan" Dia membalas
Aku ikut tersenyum untuk meresponnya
Janji adalah janji. Aku akan menepati hal itu demi menghargai orang yang rela mebantu kami
Baiklah. Waktunya mundur sedikit
Aku berdiri tepat di samping Verdea dan teman-temanku yang lain, selagi Alf dan Claudia sudah bersiap untuk melakukan pemindahan jiwa itu
Cahaya biru mulai menyinari mereka berdua selagi kami semua melihat. Cahaya itu sangat terang sampai menyilaukan mata kami. Aku bahkan yakin cahaya itu bisa dilihat dari seluruh Miralius
Dan di menit berikutnya, cahaya itu berhenti bersinar. Kami semua melihat kedua tubuh itu yang sudah jatuh tidak bernyawa di tanah
Sekali lagi Claudia, terima kasih atas jasamu
Aku semakin tersenyum lebar ketika melihat pohon itu hidup hijau kembali
"Selamat datang kembali, Ayahanda"
Pergerakkan pohon itu terasa seakan sedang menunduk hormat padaku. Tidak lama, tanah dibawah kami mulai menghijau kembali
Perlahan dan perlahan bagai sebuah akar yang sedang merambat. Seluruh tanah Miralius sebentar lagi akan pulih kembali
Bunga kembali tumbuh. Jamur mulai berwarna lagi. Rumput segar mulai bisa tercium aromanya. Para pohon mulai rindang kembali
Semuanya bagaikan sihir yang tidak bisa dipercaya. Terutama ketika kami melihat pulau-pulau terbang itu kembali seperti semula
Tidak butuh waktu lama. 10 menit semenjak awal tanah ini mulai menghijau, seluruh Miralius sudah kembali seperti yang aku ingat
Aku menghirup udara segar disana untuk menyambut kembali lingkungan yang kurindukan ini
Ternyata benar perkataan orang. Ribuan gunung dan ribuan pantai terindah pun tidak akan bisa mengalahkan keindahan kampung halamanmu. Aku paham dengan arti kata itu sekarang
Ketika berpisah dengan tempat kamu berasal untuk terlalu lama, rasanya sangat menyakitkan. Tapi aku sekarang merasa lega, seakan sebuah beban berat akhirnya menghilang dari pundakku
"M- Miralius sudah pulih!!"
Semua teman-temanku mulai bersorak gembira. Beberapa melompat di tempat, beberapa hanya tersenyum lebar di tempat dengan tatapan puas
Ah... Rumahku...
Aku meneteskan air mataku di tengah suasana hangat ini
Verdea dan Veskal kemudian mendekat kearahku dengan senyum lebar. Mereka terlihat sangat senang dengan kembalinya Miralius
__ADS_1
Hehe. Suasana ini semakin terasa menyenangkan