
--- Keesokan paginya ---
"Dan lucunya, Veskal sekarang diikat dan digantung terbalik oleh Oberon di dahan sebuah pohon. Sementara si Elf bulan itu dikirim kembali ke rumahnya dan akan menghadapi latihan khusus pagi ini" Remina pun menyelesaikan ceritanya
"Kasihan. Aku jadi iba dia tidak bisa tidur dengan nyaman" Verdea berkata
"Aku tidak yakin kamu merasa kasihan"
"Tentu aku kasihan! Walaupun aku tetap ingin melihat Veskal digantung terbalik..."
Remina menghela napasnya karena Verdea bersikap seperti biasa lagi
"Juga, kenapa bisa kamu menghindari hukuman karena melewati waktu malam?" Verdea bertanya
"Aku berhasil mengalahkan tiruan guru, dan Oberon menganggap kalau aku pantas mendapat hadiah"
"Ugh. Orang itu bersikap pelit dan murah lagi"
"Karena aku memang melanggar aturan. Aku yakin dia tidak akan bersikap toleran jika pelanggarnya adalah kamu sekalipun"
"Ugh... Kenapa kamu harus benar...?"
Adil tetaplah adil. Remina juga paham kenapa aku memberi aturan, yaitu 'waktu malam'
"Badanku rasanya sakit sekarang karena latihan terlalu banyak tadi malam..."
"Hmph. Dia tidak pernah salah dalam memberi aturan. Jika kamu latihan seperti tadi dan keesokannya ada pertempuran, kamu tidak akan berada dalam kondisi ideal"
"Tetap saja aku harus latihan melawan guru... Dia tidak menahan diri bukan...?"
"Yah, kamu ada benarnya"
Verdea pun tertawa usil memikirkan hal itu, dan Remina tahu kalau orang itu menanti kekalahannya
"Aku hanya akan menertawakanmu jika kamu kalah 20 kali lagi, jadi tenang saja~"
"Kamu berkata seakan aku bisa menang saja"
"Itulah sebabnya aku akan sangat senang jika kamu bisa! Aku-!"
...
Verdea spontan berhenti dan mengalihkan wajahnya kearah lain. Diusap lehernya itu entah kenapa, hingga Remina pun menghela napas karena gusar
Dia gusar karena tahu Verdea ingin bicara apa. Dia berharap Verdea menyelesaikan kalimatnya, tapi justru, dia malah berhenti tanpa kelanjutan
Remina mencoba memadamkan kegusarannya dengan memainkan rambutnya, dan mereka tetap melakukan hal yang sama selagi sesekali melirik kearah satu sama lain
Suasana diantara keduanya terasa hening, hanya dipenuhi oleh suara samar dari kejauhan—berasal dari para Elf bulan muda yang sedang berlatih bersama Zaphir
— Hingga, Edwin tiba ke area latihan dan menarik perhatian kedua anak itu dalam waktu seketika
Bukan hanya dia, aku juga tiba disana mengikutinya. Remina spontan bangun dari tempatnya duduk untuk menyambutku, tetapi langsung kualihkan niatnya hanya dengan sebuah telapak tangan yang kuangkat
"Vain? Kenapa kamu disini?" Verdea bertanya sembari bersilang dada
"Sebuah urusan. Utamanya karena aku ingin bertanya tentang sesuatu kepada Remina"
Sejujurnya, ini tidak terlalu penting
"Ayahmu tidak punya masalah kamu berlatih pedang bukan?"
__ADS_1
Remina terlihat bingung dengan pertanyaan itu, memiringkan kepalanya dengan tanda tanya besar
"Jika dia tidak mengizinkanku Oberon, aku tidak akan keluar latihan kemarin malam" dia kemudian berkata
Ah, begitu...
Sepertinya Airus juga sudah mulai mengenali bakat putrinya. Dia terlihat seperti sudah lepas tangan, tapi akan lebih tepat jika kami bilang dia tidak bisa menahan Remina dan bakatnya yang terus berkembang
"Ayahku justru ingin melihatku menjadi seorang petinggi. Walaupun dia kadang terlihat sedih setiap kali aku membahas hal itu diatas meja makan"
...
Itu mengingatkanku kalau Remina jarang bicara kepada ayahnya sekarang mengenai sesuatu hal selain urusan masa depannya
...
Hah...
"Kita akan bicarakan ini lain kali saja. Sebaiknya kita menonton latihan berpedang ini saja dahulu" aku berkata
Dan dengan lagak nyaman, aku terlebih dahulu mengambil posisi duduk diatas akar sebuah pohon yang menyediakan dirinya untukku
"Kamu punya banyak waktu juga rupanya. Aku pikir urusan pertahanan Miralius dan persiapan Black Hunt masih belum selesai"
"Ada banyak orang yang bisa menanganinya. Jika mereka tidak bisa, salah satu dari para petinggi pasti akan mencari diriku"
Dan aku sengaja meninggalkan jejak Mana di sekitar sini. Jika mereka ingin menemukanku, silahkan saja. Aku akan paham jika mereka merasa kesulitan mengenai sesuatu
Verdea mengangguk karena senang dia tidak akan menonton sendirian saja. Kami berdua pun duduk diatas akar pohon tebal itu, sementara Remina dan Edwin mulai setuju kepada satu sama lain untuk memulai latihan mereka
"Kamu sudah paham dasar dari berpedang bukan? Masih memutuskan untuk menggunakan pedang yang sama?" Edwin menyempatkan bertanya selagi berjalan ke posisinya
"Ya. Aku pikir pedang ini tidak cocok untukku. Tapi hatiku mulai berkata lain" Remina juga begitu
Senyum Remina melebar. Dan dengan percaya diri, dia melanjutkan kalimatnya yang belum terselesaikan
"Hatiku bilang, bagaimana kalau aku saja yang menyamakan diri hingga cocok dengan pedang ini"
Kalimatnya membuat aku dan Verdea kagum hingga bertepuk tangan pelan. Edwin juga terlihat senang, mulai tertawa kecil mendengarkan muridnya
"Pikiran itu tidak salah. Tapi terkadang, membiarkan pedang mengontrolmu adalah pilihan yang salah" Edwin berkata
"Kamu salah, guru. Aku bicara seperti ini bukan untuk memastikan diriku dikendalikan oleh pedang ini"
"Hmmm...."
Sebuah senyum terakhir ditunjukkan oleh Edwin, sebelum dia-
*SAT!!*
--- Bergerak ke depan dan mengejutkan Remina dengan berada tepat di hadapan wajahnya
Tanpa ampun dia menggerakkan bagian tajam pedangnya untuk membelah Remina menjadi dua bagian. Namun muridnya segera membalas dengan menjadikan dirinya dan pedang yang dipegang olehnya menjadi air, sepenuhnya menghindari serangan itu
Remina melompat keluar dari wujud genangan airnya, membalas Edwin dengan melakukan gerakan ayunan yang sama, namun lebih cepat. Alhasil, Edwin pun dia pukul mundur
Oof...
Satu inci lagi, dan dia bisa melukai wajah Edwin. Dia hanya kurang cepat, mungkin karena pedang itu terlalu berat untuknya
"Sepertinya Remina masih merasakan bobot pedang itu..." Verdea berkomentar
__ADS_1
"Itu masalah?" aku bertanya
"Sayangnya ya. Karena bagi para kesatria, pedang merupakan bagian tubuh mereka. Dan tidak ada bagian tubuh yang seharusnya membebani atau menghambat pemilik mereka bukan?"
Ah...!
Itu persepsi yang menarik dalam melihat sebuah senjata. Sepertinya kesatria seperti Edwin adalah orang yang cukup berpengalaman menggunakan senjatanya
Maksudku, aku memang memiliki tongkat sebagai senjata suci. Tetapi aku jarang menggunakannya karena kekuatan yang dimiliki oleh benda itu
Satu hentakan saja bisa membuat tembok tanah raksasa yang menyerupai pegunungan. Itu sebabnya aku lebih memilih untuk menggunakan tangan atau kakiku saja, karena mereka bahkan sudah cukup untuk ******* lawanku
Remina dan Edwin mulai bergerak memutar, namun masih menjauhi dan menghadap satu sama lain. Keduanya terlihat seperti seekor singa dan harimau yang sedang bertarung untuk memperebutkan area kekuasaan. Bahkan sorot mata mereka terlihat seakan mereka sudah sedia untuk merobek leher satu sama lain
"Satu malam dan kamu bisa melancarkan serangan balik yang membuatku nyaris kewalahan" Edwin memberi sebuah kalimat
"Aku juga tetap latihan. Tidak mungkin aku akan membiarkan diriku dikalahkan dengan telak lagi" Remina membalasnya
"Dia bicara apa?" aku bertanya kepada Verdea
"Soal kemarin. Remina selalu dikalahkan tanpa bisa memukul mundur Edwin"
Sungguh? Bukan itu berarti kalau dia baru saja melakukan sebuah pencapaian yang cukup besar?
Hmm... Aku jadi menikmati latihan kecil mereka ini...
"Fisikmu memang sudah kuat sejak awal, dan aku tahu itu. Tapi yang menjadi masalah hanyalah kamu masih harus menyesuaikan diri dalam dunia berpedang"
"Jadi bagaimana hasilnya? Aku mencoba menyesuaikan diri semalaman. Veskal dan Oberon bisa menjadi saksi"
Edwin tertawa kecil di tengah perbincangan mereka
Dan tanpa ragu lagi, dia melesat ke depan hingga Remina segera memasang posisi bertahan. Kedua pedang mereka langsung beradu dan memercikkan api yang cukup terlihat oleh kami yang menonton. Remina dengan sekuat tenaga mencoba menahan benda itu agar tidak menembus pertahanannya, berkebalikan dengan Edwin yang terlihat memaksa mendorong
"Aku harus bilang, kalau hasilnya cukup luar biasa" Edwin pun membalas pertanyaan Remina
Gadis itu tersenyum masam karena masih merasa terpojok. Walaupun begitu, dia tetap menyempatkan diri untuk memberi sebuah kata, "Terima kasih", sebelum mendorong Edwin mundur lagi dengan melakukan ayunan sekuat tenaga
Edwin yang belum sempat mendarat segera dikejutkan oleh Remina yang berubah menjadi genangan air dan merambat dengan cepat kearahnya. Disaat dia baru mendarat, Remina melompat keluar kembali
Tetapi serangan itu langsung dia hindari dengan bergerak ke sisi dan mengejutkan Remina. Sebuah ayunan vertikal pun dia lakukan sekuat tenaga untuk menjatuhkan Remina, tetapi gadis itu tetap melakukan trik yang sama—mengubah dirinya menjadi air sehingga pedang Edwin hanya bisa bergerak melalui tubuhnya semata
Remina mencoba sekuat tenaga untuk memutar tubuhnya dengan menggunakan pedangnya yang ditancap ke tanah sebagai tumpuan. Kekuatan dia kumpulkan di kakinya, dan dia arahkan tepat kepada Edwin
Panik, Edwin segera menghalau serangan itu dengan lengannya agar wajahnya tidak terkena. Dan dia berhasil, walaupun sekali lagi harus menerima pukulan mundur
Dengan cepat dia tancapkan pedangnya ke tanah dan dia raih kaki Remina yang masih memiliki wujud semula. Belum sempat terkejut, Remina lebih dulu dibanting ke tanah oleh Edwin sehingga dia kehilangan fokus sejenak
Edwin pun mengayunkan Remina ke sisi lain arena latihan, sebelum dia mengambil pedangnya kembali dan bergerak secepat mungkin kearah Remina
Fokus akhirnya kembali kepadanya. Remina dengan memaksakan diri segera berubah menjadi air dan membatalkan serangan Edwin yang baru saja diayunkan
Edwin pun dia paksa untuk berhenti maju dan mengambil langkah mundur. Edwin paham kalau dia maju, Remina akan mendapatkan apa yang diinginkan
Di sisi lain, Remina mendecak kesal selagi dia berubah kembali ke wujud aslinya, karena Edwin tidak cukup mendekat untuk dirinya menyerang balik
"Kamu licin juga ya...?" Edwin berkomentar
"Aku bisa mengatakan hal yang sama kepadamu, guru..." Remina membalas
Keduanya mulai bergerak memutari satu sama lain lagi
__ADS_1
Tetapi kali ini...
Keduanya terlihat lebih serius