
--- Sementara itu ---
"Ugh..."
"Ivor, kamu masih merasa tidak enak badan?"
"Aku dipukul oleh fakta dari Vainzel yang berkata kita salah melakukan sesuatu. Kamu pasti paham betul perasaanku sekarang, Lyralia"
Walaupun dia tidak mau mengakui dia salah, Ivor tahu kalau aku tidak sembarang mengatakan sesuatu
"Orang yang satu itu tidak pernah sembarang bicara. Dia punya tujuan yang jelas untuk melakukannya, walaupun biasanya hanya jangka pendek"
"Tetapi dia selalu ingin mengatakan hal itu kepada kita. Hanya saja, dia tidak pernah menemukan waktu yang tepat sampai sekarang" Luxor menyela
"Aku heran kenapa dia harus membuatku tahu lebih dahulu 50 tahun lalu..." Ivor berkata lagi, menunduk karena gusar
"Dia bilang kita sudah salah karena bersumpah setia kepadanya. Lalu sebenarnya, apa yang dia inginkan?" Luna bergumam bingung
Sementara itu Ordelia hanya diam menunduk, tidak tahu harus apa di tengah kebimbangan setiap orang yang ada disana. Itu karena dirinya sendiri sudah bimbang disaat aku melontarkan kalimat itu
"Aku heran kenapa dia tiba-tiba bilang kalau kita tidak seharusnya menjadi petinggi hanya karena bersumpah setia kepadanya" Luxor sekali lagi berujar, mengusap kepalanya karena kesal
"Sejujurnya, aku juga tidak paham. Tapi aku punya firasat kalau dia memang benar entah kenapa" Luna meneruskan
"Firasat Luna tidak bisa dibantah... Tapi kepalaku sudah terlalu pusing untuk menerima apapun sekarang ini..." Ivor menambah. "Dan dia bahkan berkata kalau aku yang harus menjadi juri apakah Remina layak atau tidak. Apa yang harus kulakukan jika aku salah menilai?"
...
...
...
Ordelia masih tetap diam, dan bungkamnya dirinya itu pun mengundang Luna yang mulai melirik kearahnya
Luna mulai menghela napasnya, perlahan mulai mendekat dan duduk di samping temannya yang masih menunduk itu
Ordelia pun merasakan sebuah tangan yang tiba-tiba mengelus kepalanya disaat itu. Tangan seseorang yang duduk di sampingnya, sosok kakak bagi keempat orang itu
"Aku tahu kamu merasa bimbang karena tiba-tiba tidak bisa mengenali niat Vainzel, tapi percayalah, dia punya niat yang baik" Luna berkata pelan kepadanya
Ordelia yang tadinya menoleh kearah Luna itu pun menatap kembali ke bawah
Dia tahu Luna benar. Tapi...
"Tapi rasanya, dia mengatakan kalau dia sudah bersalah menjadikan kita sesuatu yang dia inginkan..." Ordelia pun mulai bicara. "Dia mungkin memang ingin kita menjadi petinggi. Tapi, sumpah kepadanya itulah yang mungkin menjadi titik kesalahan kita..."
Luna yang mendengarkan hal itu dengan baik pun kemudian menoleh kearah semua orang yang sedang hadir bersamanya, kecuali Ordelia
Satu pertanyaan pun dia lontarkan
"Kalian masih ingat sumpah kalian kepadanya?"
Semua orang terdiam mendengar hal itu, hingga Luxor mulai angkat bicara
"Aku bersumpah kepadanya kalau aku akan selalu berusaha menjadi seberani mungkin untuk melindunginya ketika dia ada dalam bahaya" Dia berkata
"... Jika aku ingat, aku bersumpah kalau aku akan bekerja dengan baik sebagai seorang petinggi di bawah perintahnya" Lyralia mengikuti
"... Aku bilang kepadanya kalau aku akan selalu berada di garis paling depan dalam pertempuran, melindungi yang lainnya" Ivor mengikuti
"..... Aku tidak akan mengecewakannya dan akan selalu memenuhi ekspektasinya..." Ordelia juga mengikuti
Dan terakhir Luna. Walaupun mereka sudah tahu, Luna juga harus tetap mengkonfirmasi miliknya
"Aku bersumpah kalau kita semua akan selalu tunduk kepada perintahnya, dan akan selalu menaati perintah itu"
...
...
...
"Rupanya itu..." Luxor pun bergumam terkejut menyadari apa yang diinginkan Luna dari mereka
Luna hanya mengangguk pelan, membuat tiga yang lainnya mulai bungkam tanpa bisa bicara. Ketiganya juga sudah sadar akan hal itu, dan tidak bisa menantang argumen tersebut
"Itu sebabnya dia terlihat sedang mencoba menghindari kita selagi bisa ketika di Miralius dulu..." Luxor berkata lagi
__ADS_1
"Ya" Luna menjawab. "Bukan Vainzel yang sudah mengekang kita. Kitalah yang sudah mengekang diri kita sendiri"
Dan itu pun sudah menjadi kesimpulan bagi mereka semua, selagi pikiran mereka masing-masing mulai dipusingkan oleh hal itu
"Tapi walau begitu, kenapa dia berkata kalau menjadikan kita petinggi adalah sebuah kesalahan? Hanya sumpah itu saja yang salah bukan?" Luxor semakin bingung hingga mengeraskan pertanyaannya
Tetapi Luna menggeleng. Menggeleng karena pemikiran Luxor itu salah
"Kalian mungkin tidak sadar, tapi dia pernah melihat nasib kita berdasarkan ramalan Ayahanda. Dia selalu memberitahukan diriku segala hal, kecuali tentang isi pikirannya yang paling dalam"
Mereka sekali lagi tersentak mendengar hal itu, bahkan Ordelia yang sejak tadi menunduk
"Itu artinya-"
"Ya, Ordelia
Vainzel sudah tahu apa nasib yang kita dapatkan disaat menjadi seorang petinggi, dan dia merasa bersalah akan hal itu"
Seketika rasa penasaran dicampur gelisah pun menyambar hati mereka. Rasa bersalah karena tidak menyadari kalau teman mereka itu sudah menyimpan sesuatu yang tidak ingin dia dengar
"Apa isi ramalan itu...?" Lyralia bertanya
"Dia hanya memberitahukan soal diriku"
"Apa?"
...
...
...
'Bulan sabit itu tidak akan pernah lengkap lagi. Ketika cahayanya yang perlahan terkikis dan menghilang itu sirna, titik cahaya terakhirnya akan turun ke tanah, dimana cahaya itu akan berusaha sekuat tenaga agar sang bulan tidak tiada'
"--- Tapi naas, bulan itu tidak akan pernah kembali, hingga sang cahaya terakhir harus berusaha menjadi sinar bagi bulan yang baru"
...
...
...
Bulan yang cahayanya terkikis mengindikasikan kalau dia akan menderita di masa depan. Perlahan-lahan tapi pasti dan menyakitkan, hingga cahayanya sudah habis
Tapi dia masih belum paham arti dari 'cahaya terakhirnya yang akan turun' itu
"Sebaiknya kita tutup saja pembicaraan ini. Aku takut jalurnya akan mengarah ke sesuatu yang semakin merusak suasana" Luna pun berkata
Tidak ada yang menolak, dan semuanya setuju di dalam diam
Mereka semua pun berniat untuk menghindari satu sama lain, sepakat agar tidak ada yang saling menyakiti satu sama lain dahulu
"Aku... Sebaiknya mencari anggota klan ku dulu" Luxor pun berkata, segera beranjak masuk ke Miralius tanpa pamit
Ordelia di sisi lain, justru segera bangun tanpa berbicara sepatah kata. Mulai membungkuk untuk izin pamit, kemudian pergi masuk ke dalam Miralius mengikuti Luxor
Lyralia berniat untuk tetap diam, tetapi dia melihat kalau Ivor sedang ingin membicarakan sesuatu dengan Luna. Jadi karena itu, dia pun hanya memberikan satu alasan
"Aku akan buatkan sesuatu yang manis untuk kalian berdua, oke?"
Dan dia pun beranjak pergi untuk melakukan apa yang dia niatkan, sekaligus memberi ruang kepada kedua temannya itu untuk berbicara empat mata
...
...
...
"Menurutmu kita bisa tahu sesuatu hal yang diinginkan Vainzel?" Ivor pun memulai pertanyaannya
Memulai sesuatu adalah sesuatu yang tidak biasa dilakukan Ivor, hingga Luna terlihat gusar dengan hal itu
"Dia mungkin memintamu menjadi juri tadi karena dia ingin kamu mendengar jawaban langsung milik Remina" Luna pun memberikan pendapat
Dari sekian ratus tahun dia mengenali rajanya, dia hanya tahu niat yang ada di pikiranku, tapi tidak tahu apa yang ada di hatiku
"Vainzel adalah orang yang paling sulit untuk dibaca dari semua orang yang kuketahui. Tapi dia berkata kalau hanya aku saja yang paling dekat dengan kata 'memahami' dirinya..."
__ADS_1
"... Itu alasannya dia menjadikanmu tangan kanannya. Bukan Ordelia, bukan juga Luxor"
Ivor benar. Tapi tugas itu sungguh membebani Luna
Sungguh, membebani...
...
"Jadi, dia ingin sesuatu yang tidak membebani kita, tapi bisa membuat kita bisa dekat dengannya hah...?" Luna akhirnya menyimpulkan satu hal
Tapi Ivor justru berdecak karena kesimpulan itu masih kurang memuaskan. Dan dia paham kalau Luna tidak tahu apapun lagi lebih jauh dari itu
"... Menjadi petinggi itu sungguh berat. Aku jadi tidak menyalahkannya ketika dia bilang dia menyesal menjadikan kita petinggi"
Ivor sekali lagi tertunduk ke bawah, tidak tahu harus berbuat apa
...
...
"Tapi itu juga harus kita lakukan" Sebuah pernyataan pun keluar
Pernyataan yang membuat Ivor kembali mengangkat kepalanya dan menatap Luna yang mengutarakan hal itu secara langsung
Luna yang berdiri tepat di hadapannya itu bahkan mulai mengacak rambut Ivor selagi dia merintih dan menepis tangan yang menyentuh kepalanya itu. Luna pun tertawa kecil melihat ekspresi gusar Ivor
"Jika kita tidak menjadi petinggi, Ivor..." Luna pun berkata lagi, membuat Ivor kembali memperhatikan. "Perubahan pada kaum Elf mungkin tidak akan terjadi" Luna pun menambah
"Apa... Maksudmu...?" Ivor bertanya, sepenuhnya bingung
Luna justru tersenyum semakin lebar, sebelum beranjak dan berkata
"Vainzel terlihat lebih senang sekarang. Terutama ketika dia berada di sekitar kita, tidak seperti yang dulu biasanya terjadi", sebelum dia menghilang selagi melambaikan tangannya
...
...
...
Ivor pun tertegun
Dia mencoba menelaah kembali tentang apa yang dikatakan Luna. Dia juga mencoba mengingat kembali setiap kali aku terlihat senang
Setiap kali aku terlihat senang...
Setiap kali mereka duduk diatas meja makan itu...
Setiap kali mereka bercanda di tengah sebuah misi...
Setiap kali kami menghabiskan waktu bersama semua orang...
...
Setiap kali ada Verdea disana
"Itu dia!" Ivor pun berseru dengan mulut menganga
Dia pun merasa bangga karena otaknya yang biasa lelet itu bisa berjalan disaat itu. Dia pun memiliki satu misi disaat itu, yang dia buat sendiri
"Aku harus menemukan Verdea!!"
Tanpa perlu basa-basi dia pun segera berlari menjauhi Gerbang Hutan, mencari Verdea yang pergi entah kemana
Sementara itu, Lyralia yang baru saja keluar kembali dari dalam Miralius selagi membawa dua minuman gula itu pun hanya termangu melihat Ivor yang berlari dengan cepat seperti seorang maniak
Dia pun menatap kearah minuman yang dia bawa itu selagi mengeluarkan napas keluh. Kedua orang yang dia sudah buatkan minuman itu sudah tidak ada di tempat mereka lagi
Dan karena dia kesal, dia segera meneguk kedua minuman di dalam gelas kayu itu tanpa pamrih, mengeluarkan suara lega setelahnya
"Sebaiknya aku mencari Remina untuk ikut dalam hal ini..." Dia pun bergumam, berjalan kembali kearah Miralius
"Ivor, Luna, Vainzel, Luxor, Ordelia"
Senyumnya pun tidak bisa dia tahan setelah dia melantunkan nama-nama temannya itu
Dia tahu, kalau semua orang sedang mempersiapkan diri dengan hal yang akan datang. Terutama kelima temannya yang baru saja dia sebutkan itu
__ADS_1
Jadi dia hanya mengeluarkan sebuah senyum semanis minuman yang baru saja dia buat dan minum
"Tidak ada yang lebih baik daripada teman yang saling mencoba memahami diri satu sama lain" Dia menemani senyum itu dengan sebuah kata