
--- Saat Petang, Kamar Rosalia ---
"Kamu dengar perkataan orang lancang itu bukan kakak!?" Darius berkata dengan nada kesal
Dia berjalan bolak-balik di depan Rosalia sambil terus mengutuk namaku
Sementara Rosalia dengan tenangnya hanya meminum teh seperti biasa. Dia bahkan tidak memedulikan perkataan Darius. Yang dia ingin Darius lakukan sekarang ini adalah keluar dari kamarnya, namun tidak bisa dia katakan dengan jelas karena takut menyinggung
Ada sesuatu urusan yang Rosalia ingin lakukan dengan bawahannya, tapi keberadaan Yael tidak boleh diketahui oleh saudara kandungnya itu
...
Mereka memang saudara kandung, tapi mereka sama sekali tidak harmonis. Keduanya adalah makhluk egois yang sama-sama mengincar sesuatu yang besar. Mereka tidak cocok sebagai saudara sama sekali, walaupun sifat mereka sangat mirip
Dan juga, apa yang mereka incar itu adalah sesuatu yang sangat berlawanan
"... Apa kakak mendengarkanku?"
Darius menatap langsung mata Rosalia dengan tatapan kesal ketika menyadari dia sudah diabaikan selama itu
Rosalia hanya dengan tenangnya meletakkan cangkir teh di meja dan mengalihkan pandangannya kearah lain
"Tidak ada perkataanmu yang penting untukku, adikku"
Darius langsung mengangkat tangannya, siap memukul Rosalia. Tapi Rosalia menatap balik ke matanya, dan dia diam tidak bergerak
Tangannya pun ia turunkan perlahan dan dia gunakan untuk menutup wajahnya
Pintu kamar Rosalia tiba-tiba terbuka. Sofia masuk ke dalam. Mereka berdua berdiri tegak, kemudian memberi salam hormat kepadanya
"Semoga bunga bermekaran bersamamu, Ibunda" Mereka berdua berkata
"Aku ingin bertemu dengan kalian berdua, terutama kamu, Rosalia..." Sofia berkata
Tatapannya yang mengarah kepada Rosalia itu memberi kesan kesal dan marah
Mereka berdua mengangkat kepala mereka, diikuti dengan Rosalia yang duduk kembali
"Seperti yang kalian tahu-"
"Tolong, tidak perlu formal begitu ibunda. Aku tidak mau membuang waktu" Rosalia memotong
"... Wah, wah. Seseorang sudah mulai belajar menjadi lancang rupanya" Sofia membalas
Rosalia hanya menghela napasnya dan menopang kepalanya dengan tangan kanan di kursi
Sofia kemudian melanjutkan perkataannya
"Seperti yang kalian tahu, Oberon Vainzel mengatakan sesuatu yang, 'menyinggung' Rosalia. Dan sebagai ibumu, aku berhak tahu kebenaran dari singgungan itu"
"... Jadi kamu pikir aku punya bawahan seorang penyihir hitam dan pasukan Vampir begitu?"
Rosalia bangun dari tempat duduknya dan menghadap langsung ibunya itu dengan tatapan kaku nan dingin
"Aku cuma gadis kecil lemah dan tidak berguna bukan ibu? Apa yang membuatmu berpikir aku sekuat itu?" Dia melanjutkan
Plak!
Suara tamparan itu sangat keras sampai-sampai ia bergema di seluruh ruangan
Pipi kiri Rosalia mendapat bekas merah sebuah tamparan dari ibunya. Bekas itu terlihat sangat jelas dan bisa terasa sakitnya ketika hanya melihatnya saja
Darius hanya duduk di pinggir kasur Rosalia sambil menikmati interaksi ibu dan kakaknya itu
"... Aku penasaran, harus berapa kali aku menampar wajahmu sehingga kamu belajar sopan santun?" Sofia menantang
Rosalia hanya berdiri disana, bahkan tidak berusaha meredakan rasa sakit berdenyut di pipinya itu
"... Aku sudah beri jawabanku, jadi silahkan pergi"
Rosalia berjalan kembali ke kursinya dan duduk bersandar sambil menutup matanya
Sofia dengan sombongnya mengangkat kepalanya, kemudian berbalik dan pergi dari kamar Rosalia
"... Kamu juga Darius. Aku ingin istirahat..."
"... Hah... Dasar perempuan tidak tahu diri"
Darius ikut melangkah pergi dari kamar Rosalia, mengikuti ibunya
.....
"Interaksi yang tidak menyenangkan, dari perspektif ku"
Yael tiba-tiba muncul dari balik bayangan di belakang Rosalia
"Tidak perlu memikirkan soal mereka. Orang-orang itu akan mati mengenaskan, cepat atau lambat" Yael menambah
"... Kenapa kamu berpendapat begitu?"
"Yah... Pengalaman"
Yael tertawa kecil
Rosalia akhirnya memegang pipi kanannya yang terasa berdenyut itu
"Aku heran kenapa ibumu bertingkah seperti itu. Kamu justru lebih berguna dibandingkan adikmu itu"
"... Justru karena aku berguna itulah dia memanfaatkan ku
__ADS_1
... Apapun yang dia lakukan, ditujukan hanya untuk putra kebanggaannya itu"
"Tidak adil sekali..."
Yael tertawa kecil dengan nada meledek
Rosalia tiba-tiba ikut tertawa. Suara tawanya semakin keras semakin lama, karena mendengar perkataan Yael barusan
"Kamu bicara soal keadilan seakan kamu itu orang suci" Rosalia berkata sambil menoleh kearahnya
"Hey, hey. Aku ini orang suci untuk diriku sendiri"
"Haha. Kamu benar-benar tahu cara menghiburku"
"Yah... Aku senang kamu memujiku"
"Memangnya aku selalu memarahimu?"
"Kalau diingat lagi, aku nyaris tidak mendengar pujian"
"... Hm. Benar juga"
Rosalia kemudian kembali tertawa kecil setelah perkataannya
...
"... Omong-omong, Hakim Agung Yuriel sudah menerima permintaan pertemuanmu"
"Ayolah! Kamu merusak suasana senang ku, Yael"
"Hah... Aku hanya memberitahu"
Yael membuang wajahnya dari Rosalia
Rosalia menghela napasnya, kemudian bangun dan berjalan ke dekat Yael
"Baiklah. Kita harus bergegas" Dia berkata
"... Dengan senang hati"
Tepat setelah responnya itu, Yael menteleportasi mereka berdua menuju kediaman Hakim Yuriel di kerajaan Crux
......................
"Ah. Kejutan yang menyenangkan"
Seorang pria tua dengan beberapa pembantunya menyambut mereka di depan kediaman itu. Pria tua itu memakai baju bak seorang hakim agung dan memiliki rambut serta mata yang sudah mulai memutih
Dia kemudian berjabat tangan dengan Rosalia dan saling bertukar senyum
"Sudah lama tidak berjumpa, Tuan Yuriel. Atau harus kubilang, kakek"
Yuriel tersenyum ramah kearahnya
Rosalia menyeringai lebar
"Aku akan bahas nanti di dalam Tuan Yuriel. Mari kita masuk dulu"
Melewati Yuriel, Rosalia dan Yael berjalan kedalam kediamannya
Yuriel pun mengikuti mereka dari belakang bersama para pembantunya
...
"Ah, kalian semua sudah berada disini" Rosalia berkata dengan nada terkejut
Darwin duduk dengan gerakkan yang menandakan dia tidak sabar akan sesuatu dan ada orang lain lagi yang duduk dengan tidak sopan nya di samping Darwin
Orang itu juga terlihat berpakaian tidak sopan dengan kancing baju yang semuanya terbuka. Namun, ketika pertama kali melihat wajahnya yang tampan itu, orang tidak akan mengira kalau sifatnya sangat tidak sopan
"Walter. Turunkan kakimu dari meja" Yuriel memperingatkan
"Ck. Biarkan orang melakukan hal yang mereka inginkan kenapa? Dasar kakek tua"
"Tuan Putri sudah datang, jadi bersikaplah yang sopan!" Bentak Yuriel
Walter mendecak sekali lagi, kemudian menurunkan kakinya
"Cepat saja jelaskan. Kesabaranku menipis" Darwin menyela
"Tenang, tenang. Aku akan menjelaskan semuanya setelah secangkir teh disuguhkan"
Rosalia melirik kearah Yuriel setelah berkata begitu. Yuriel kemudian sadar dan memerintahkan pembantunya untuk menyiapkan teh
Merasa puas dengan perlakuan Yuriel, Rosalia duduk di sofa yang berseberangan dengan 2 orang itu
Dia melebarkan kipasnya dan perlahan mengibasnya
Tapi, kesabaran Darwin menipis. Dia membanting tangannya di tangan sofa, tapi sebelum dia berkata atau berbuat apapun, Yael menodongnya dengan sihir hitam
Karena itu, Darwin terpaksa menahan amarahnya dan duduk kembali. Sayangnya tangan sofa yang dia hantam itu rusak sampai tidak berbentuk, sehingga membuatnya harus duduk tegak
"Tehnya Tuan Putri"
Seorang pembantu yang mengantarkan teh datang kearah meja tamu itu. Dia meletakkan cangkir berisi teh itu diatas meja, kemudian pergi
Rosalia perlahan mengangkat cangkir teh itu dan mencium aromanya. Dan dengan lembutnya, dia meletakkan pinggir cangkir itu di bibirnya, kemudian meneguk teh itu perlahan
Setelah puas, Rosalia pun mulai bicara dan membuka perbincangan mereka
__ADS_1
"Aku membatalkan rencanaku untuk membuat Oberon berada di sisiku. Ketika melihat usaha Yael dan Darwin yang berakhir nihil itu, aku menyimpulkan kalau dia mustahil di dapatkan"
"Pasti karena anak itu" Walter menyela dengan nada bangga
"Oh? Kamu sudah menemui mereka?"
"Begitulah. Walaupun aku hanya melihat mereka lewat"
"Ya. Seperti perkataan Walter, anak itu adalah penyebabnya"
"... Lalu, kamu mau kami membunuh anak itu?" Walter bertanya
Rosalia tertawa sinis
"Tidak. Aku ingin kalian melakukan hal lain"
"Tolong jangan bilang kalau hal itu susah dilakukan" Darwin berkata dengan nada lemas
"Bisa dibilang ya, bisa dibilang tidak"
"Maksudmu apa Tuan Putri?" Tanya Yuriel
"... Red Sabbath"
Semua orang kecuali Yael dan Rosalia tersentak mendengar hal itu
Perkataan itu adalah sebuah bendera merah di pikiran mereka semua. Tidak ada satupun orang yang tidak mengetahui sejarah dari Red Sabbath atau Blood Sabbath
"... Kamu tidak mungkin berniat-"
"Salah. Aku memang berniat melakukannya" Rosalia memotong Yuriel
"Tapi akan ada banyak korban untuk membuat dan ketika melakukan perbuatan sekejam itu. Kamu ingat sejarah itu bukan?"
"Aku ingat persis dengan hal itu Tuan Yuriel. Dan aku tidak bilang kalau kita harus menyebabkan banyak korban ketika melakukannya"
"Hah?"
"... Aku ingin kalian membunuh banyak orang di kerajaan lain secara diam-diam. Dan aku ingin Tuan Yuriel untuk menutup kasus-kasus pembunuhan itu jikalau ketahuan"
Mereka semua langsung paham dengan perkataan Rosalia, kecuali Walter
"Apa singkatnya?" Tanya Walter
"Singkatnya, bunuh orang di luar kerajaan Hortensia dan Crux sebanyak mungkin tanpa ketahuan. Yang ada di dalam kerajaan ini... Habisi sedikit saja" Yuriel menjelaskan
"Oooohhh........ Bagaimana caranya?" Darwin yang mulai penasaran bertanya
Yuriel mencubit bagian atas hidungnya karena pusing mendengar perkataan Walter
"Aku akan beritahu nanti. Tutup saja mulutmu dan jalankan ototmu itu" Yuriel menyela sambil mengibaskan tangannya kearah Darwin
Walter dan Darwin pun menatap kearah Yuriel dengan tatapan kesal
"Baiklah. Orang tua yang sudah lemah sepertimu memang banyak bicara, padahal membutuhkan otot seperti kami"
"Tutup mulutmu-"
"Sudahlah Tuan Yuriel. Abaikan dia" Rosalia memotong
"Jadi, kalian sudah paham bukan?" Rosalia bertanya
Mereka semua mengangguk paham
"Ah ya. Aku ingin kalian lebih berfokus membunuh orang di kerajaan kecil" Rosalia menambahkan
"Pemikiran yang sempurna" Puji Yuriel
Dengan menarget negara kecil, mereka bisa menutupi kasus kematian itu dengan alasan penyakit mewabah. Gejala yang ditimbulkan beberapa sihir hitam juga tidak terlalu berbeda dengan penyakit asli
Ditambah lagi, dengan kuasa hakim milik Yuriel, penutupan kasus itu akan sangat mudah dilakukan untuk mereka
"Aku akan menunggu pesta berdarah itu~~~" Yael yang diam daritadi akhirnya bicara
Tapi, wajahnya terlihat seperti dia terangsang hanya karena 'kesenangan' yang akan datang itu. Yuriel dan Walter langsung menunjukkan ekspresi jijik ketika melihat wajahnya itu
Sementara itu, Rosalia sibuk menghabiskan teh di cangkirnya. Setelah habis, dia pun bangun dan berkata
"Baiklah. Itu saja dariku"
"Tunggu dulu Tuan Putri"
Rosalia terhenti ketika Darwin berbicara
"Aku ingin memastikan kalau Oberon itu bisa mati nanti"
Wajah amarahnya sama sekali tidak bisa dia tahan lagi. Rasa marah akan kekalahannya dariku waktu itu memenuhi kepalanya
Yuriel dan Walter merinding ketika melihatnya yang marah itu
"... Bagaimana kalau kita memusatkan sebagian besar Red Sabbath itu ke Hutan Para Elf nanti?" Rosalia menawarkan
Mendengar perkataan Rosalia itu, Darwin menyeringai lebar dengan tatapan sinis. Dia tertawa perlahan, tapi bertambah keras seiring waktu
Tapi Rosalia hanya melanjutkan langkahnya. Dia pergi sebelum tawa Darwin semakin keras di telinganya, dan pergi bersama Yael
...
"Mereka semua orang-orang gila" Yael berkata
__ADS_1
"Sama seperti kita" Rosalia membalas
Tawa sinis mereka kemudian terdengar, sampai mereka berdua dibawa pergi oleh aura hitam Yael, kembali ke Kastil Lily