
--- 1 jam kemudian ---
"Ah... Dari perut, turun ke hati~" Verdea berkata sambil bersandar ke akar pohon di belakangnya
Kami semua bersandar puas ke hal terdekat yang membuat kami nyaman setelah memakan masakan Ivor
Dia hanya memasakkan kami banyak sekali sup ubi, tapi entah kenapa rasanya sangat nikmat hingga membuat perutku penuh
Masakannya tidak terlihat spesial sama sekali, tapi rasa masakan miliknya tidak pernah membuatku kecewa...
Semua orang pun puas dengan masakannya itu, sederhana tapi membuat hati senang
Dia selalu bilang kalau dia mempelajari memasak dari ibunya, tapi aku pikir itu memang bakatnya sejak dulu. Tapi dia jarang sekali memasak kecuali jika aku atau teman-temanku yang lain mau mendorongnya
Aneh, padahal bakatnya itu sudah cukup luar biasa. Dia bisa membuka sebuah kedai makanan di kota seperti Hortensia, dan tempat itu kujamin tidak akan kalah dengan restoran mewah disana
"Terima kasih makanannya Ivor..." Aku berkata padanya
Dia hanya mengacungkan jempol kearahku sebagai respon, dengan pipi memerah seperti biasa aku memuji dirinya
"Vain. Aku ingin kita latihan sekarang" Verdea berkata kepadaku
"Tunggu isi perut kita turun dulu... Tidak akan enak rasanya ketika kita latihan dengan perut yang masih penuh..." Aku menjawab
"Ah, benar juga. 10 menit istirahat mungkin cukup" Verdea berkata lagi sambil mengatur ulang posisi duduknya
"Latihan apa yang akan kalian lakukan?"
Kami berdua langsung menoleh kearah atas tempat bersandar kami ketika mendengar pertanyaan itu, dan menemukan Remina yang terlihat penasaran berada disana
"Si cebol tidak perlu ikut-ikutan tahu. Kamu ini memang merepotkan" Verdea berkata dengan nada ketus
"Apaan coba? Aku bertanya pada tuan Oberon, bukan padamu kepala hitam" Remina membalas
"Hah!?"
"Kalian mau ribut lagi, akan kulempar kalian ke seberang sana" Aku melerai mereka
Tapi, mereka tetap menggerang kearah satu sama lain dengan niat menyakiti
"Latihan apa yang ingin kalian lakukan Oberon?" Remina bertanya sekali lagi
"Ah, hanya latihan bertarung biasa. Dia ingin belajar bertarung jarak dekat dariku, padahal ada orang yang lebih bagus untuk mengajarinya, seperti tuan Cyrus disini" Aku menjawab dirinya. "Aku belajar segala hal dari tuan Cyrus. Bahkan bertarung juga" Aku menambahkan setelah itu
Cyrus pun nyaris tersedak hingga suara batuknya terdengar keras, membuat kami semua kaget
"Ahaha...! Aku tidak yakin bisa mengajar mereka dengan baik. Kamu bahkan harus terluka beberapa kali saat kita berlatih dulu" Cyrus menambahkan
"Tapi, bukannya terluka saat latihan itu biasa?" Aku membalas
"Ya, kalau terluka memar di beberapa tempat memang tidak apa-apa. Tapi, tanganmu juga pernah putus karena aku refleks menebasnya waktu itu bukan?" Cyrus membalas balik
Ah, dia benar...
Remina dan Verdea langsung merinding ketika mendengar ucapan Cyrus. Mereka mungkin berpikir, 'Latihan macam apa yang sebenarnya mereka lakukan sampai ada tangan putus seperti itu?'
Yah, waktu itu Regenerasi ku masih lambat. Aku pun dilarang untuk bertarung selama beberapa bulan lamanya, walaupun tanganku sudah tumbuh lagi 3 hari kemudian
Tapi, dia tutor yang bagus dalam bertarung, sungguh. Dia hanya perlu tahu kapan dia harus menahan kekuatannya. Kecuali di satu waktu itu karena aku memang datang kearahnya dengan niat membunuh seperti yang dia instruksikan, hingga tanganku terpotong
Dan juga, biasanya Ivor dan Luna yang mengajari Verdea bertarung dulu, tapi Verdea entah kenapa bersikeras agar aku saja yang melatihnya
"Kalau begitu, lebih baik dengan Vainzel saja..." Verdea yang masih merinding berkata
"Ya. Aku lebih baik berlatih dengan tuan Oberon saja..." Remina yang situasinya sama menambahkan
Tidak ada alternatif lain selain diriku ya...?
Ya sudahlah... Ini untuk melatih mereka juga, jadi tidak apa-apa untukku
"Bena- HAH!? Kenapa kamu mau ikut latihan coba!?" Protes Verdea setengah terkejut
"Ada masalah?"
Mereka berniat berdebat lagi, tapi sebelum mereka sempat, aku langsung memberi tatapan kaku kearah mereka berdua, hingga mereka diam tidak berkutik dengan mulut tertutup
"Kalau begitu, aku ingin melihat latihan kalian" Veskal menyela
"Hm? Bukannya kamu ingin menantang Zaphir?" Aku bertanya padanya
"Aku ingin melihat caramu bertarung saja. Tidak masalah bukan?"
Yah, memang tidak masalah
"Baiklah. Yang penting jangan mengganggu kami"
Sudah 10 menit lebih setelah kami makan tadi. Waktunya untuk memulai latihan itu
"Ayo Verdea, Remina. Kita pergi mencari sungai yang alirannya deras dulu"
"Tunggu! Kenapa dia juga diperbolehkan ikut?" Verdea protes sambil menunjuk Remina
"Karena bukan kamu yang menentukan siapa yang ingin kuajari, jadi cepat bergerak dan jangan protes"
Verdea langsung cemberut mendengar responku, sementara Remina tersenyum puas karenanya
2 anak ini akan menjadi rival nanti, aku bisa membayangkannya
Aku pun pamit kepada kedua orang tuaku dan Cyrus. Diikuti oleh Verdea, Remina dan Veskal, aku pun berangkat mencari sungai terdekat di dalam Miralius
......................
"Omong-omong, kenapa harus di sungai?" Verdea bertanya
"Pastinya, ada kaitannya untuk melatih fokus mu juga. Nanti kamu akan tahu" Aku menjawab
Remina tiba-tiba menarik-narik jubahku
"Ada sungai di depan. Mungkin cukup deras" Dia berkata
"Hm? Darimana kamu tahu? Tidak ada suara air terdengar" Verdea menyela
"Karena aku ini Elf air aku tahu persis dimana ada air, dasar kepala hitam dungu"
"Hah!?"
"Sudahlah, aku lelah menangani kalian?" Aku melerai mereka dengan nada mengeluh
Mereka lebih membuatku repot dibandingkan apapun hal merepotkan yang pernah kulalui
"Itu artinya... Sungainya masih sedikit lebih jauh ya...?" Veskal memperkirakan jaraknya
"Tidak apa. Lagipula, kebanyakkan sungai di Miralius mengering sejak kebakaran itu terjadi. Jika ada sungai, itu artinya bagus untuk kita" Aku berkata
Kami berempat pun meneruskan perjalanan kami melalui beberapa pepohonan kecil hingga sampai ke sungai
Aku pun mengecek kedalam sungai itu dan deras alirannya. Airnya hanya setinggi tumit, dan airnya tidak terlalu deras seperti saat musim hujan
Mungkin karena sekarang musimnya sudah mulai memasuki musim panas lah yang menyebabkan sungai ini sedikit surut
__ADS_1
(Walaupun Miralius memang berada di dalam sihir ruang, tempat itu bisa terpengaruh dengan iklim dan posisi matahari yang sama dengan dunia luar)
Lebar sungai ini juga terlihat cukup luas untuk latihan kami
Baiklah, sudah pas untuk kami latihan. Dan ada banyak batu disini untuk menambah kesulitan latihannya
"Baiklah. lepas sepatu kalian dan jubahmu Verdea. Kita akan latihan sambil merendam kaki di sungai"
Verdea dan Remina melakukan persis seperti yang aku perintahkan, kemudian melompat masuk ke dalam sungai itu dan mencipratkan airnya kemana-mana
"Ehem" Aku menyela
Mereka langsung berhenti bermain-main air seketika
Veskal hanya mengambil posisi duduk diatas sebuah batu yang tidak jauh dari sungai, selagi aku memasuki aliran sungai itu tanpa melepas sepatu dan jubahku yang panjang
Verdea dan Remina menyadari hal itu. Mereka bingung kenapa aku masuk ke aliran sungai itu tanpa melepas kedua hal itu
"Hm? Kamu tidak melepas sepatumu Vain?" Tanya Verdea
"Yah, karena ini cuma latihan, aku tidak ingin terlalu serius" Aku berkata
Mendengar perkataanku, Verdea merasa kali dia sedang diremehkan olehku, dan langsung memasang wajah cemberut
"Pertama, kalian maju dahulu. Aku ingin melihat kemampuan kalia-"
Verdea langsung menyerang tanpa penjelasan lebih lanjut, tapi aku menghindarinya tanpa usaha sama sekali
"--- Kemampuan kalian agar aku bisa tahu level kalian dalam pertarungan jarak ini" Aku meneruskan perkataanku
"Kamu terlalu banyak bicara!"
Verdea menyerang lagi dengan sebuah tendangan, tapi aku menghindar ke sisi sekali lagi tanpa terkena serangannya
Wah. Sepatu ini cukup berat bila terkena air rupanya, walaupun aku memang bisa menghindari serangannya
Giliran Remina yang menyerangku dari belakang dan membidik punggungku. Tapi aku hanya perlu memutar badanku 90 derajat untuk menghindari serangannya itu
"Hah? Dia susah sekali dikenai" Verdea menggerutu
"Gerakan kalian saja yang mudah diprediksi" Aku berkata
Mereka kembali menyerang, kini bagian kepalaku secara bersamaan
Aku berputar di tempat, kemudian mengacaukan arah pukulan mereka, dengan cara mendorong tinju mereka itu kearah lain tanpa mengenai tubuhku
Remina terjatuh keatas sungai karena terpeleset sebuah batu, sementara Verdea nyaris tersandung dan jatuh
"Masih mau melanjutkan?" Aku berkata
Dia terlihat kesal karena tidak bisa mengenaiku, kemudian menyerang kembali
Aku langsung menghentakkan kakiku ke air untuk menciprat wajahnya, kemudian melakukan serangan berputar di tempat kearah kakinya sehingga membuatnya terjatuh
Remina berhasil berdiri kembali dan mencoba menyerang bagian kepalaku, tapi aku menghindari tinjunya
Aku kemudian menangkapnya di pergelangan tangan, perlahan berputar, dan akhirnya melempar dirinya ke bagian sungai yang tidak ada batu tajam atau yang terlalu besar
Serangan mereka belum berakhir, ketika aku sadar Verdea mulai maju untuk menyerang
Aku refleks mengambil salto ke belakang sebelum Verdea mengenaiku dengan tendangannya, dan secara tidak langsung membuatnya tertendang di bagian dagu dengan kakiku ketika dia berbalik
Pendaratan sempurna kudapatkan dari salto itu tanpa membuatku terpeleset sedikitpun, selagi Verdea jatuh dengan sukses sekali lagi
Veskal mengeluarkan siulan kagum melihat hal itu
"Menyerah....." Mereka berdua berkata bersamaan sambil terus terkapar di air sungai itu
Yah... Mereka sangat lemah dalam jarak dekat kalau aku bisa bilang. Latihan ini pasti akan sangat lama dan panjang...
...
Waktunya evaluasi
"Pertama-tama, kalian sangat lemah dalam pertarungan jarak dekat"
Mereka diam cemberut
"Kedua, kalian bahkan tidak berusaha kompak dengan satu sama lain, seperti kalian berebutan mainan saja"
Mereka masih diam dengan wajah yang semakin berlipat
"Ketiga, kalian bahkan tidak bisa mengenaiku"
Mereka terus diam menunduk hingga wajah berlipat itu semakin tidak karuan, tapi pipi mereka itu semakin menggembung dari sebelumnya
"Kalau kalian ingin berlatih bertarung sekarang ini, kalian mungkin tidak akan bisa dengan kemampuan kalian itu"
"Hah!?" Mereka berdua berseru serentak. Tapi mereka tidak bisa protes karena menyadari kelemahan mereka itu
"Kalian mungkin tidak akan berlatih tarung selama beberapa minggu jika seperti ini..." Aku berkata sambil menghela napas
"Lalu, apa latihan yang akan kami jalani?" Tanya Remina
"Gampang saja. Kalian harus belajar untuk jadi kompak" Aku menjawab
"HAH!?" Mereka semakin bersorak keras bersamaan
Kenapa mereka berdua enggan sekali bekerjasama coba?
Mereka berdua melihat kearah satu sama lain, namun tiba-tiba membuang wajah seakan enggan bekerjasama
"Kalian mau latihan atau tidak...?"
"Tentu saja mau! Tapi kenapa harus dengan dia!?" Mereka berdua berkata serentak, kemudian menggerang kearah satu sama lain
"Kalian yang berminat latihan, jadi kalian berdua harus tahu dasar dari sebuah pertarungan. Kalian tidak pernah sendiri. Cara terbaik memenangkan sebuah pertarungan adalah gerakkan yang kompak dengan temanmu, bukan teknik melawan musuhmu semata. Kedua orang yang menari harus menyelaraskan diri dengan satu sama lain" Aku berkata
"... Baiklah" Remina berkata
"Yang penting kami bisa latihan..." Verdea menambah
"Bagus. Kalau begitu, kalian akan bertarung dengan satu sama lain sekarang" Aku berkata setelahnya
...
...
"Vainzel. Aku tidak ingin memukul perempuan" Verdea berkata sambil menoleh kearahku yang sudah duduk di tepi sungai
"Kamu harus melawan balik. Jangan anggap perempuan itu lemah" Aku memberi peringatan, kemudian menunjuk kearah Luna sebagai contoh
"... Kamu yakin mereka tidak akan apa-apa? Maksudku, hutan ini" Veskal yang berada di sampingku berbisik
"Kamu pikir kedua anak itu monster apa, sampai bisa menghancurkan tempat ini?" Aku menjawab
"Aku hanya bertanya. Kemungkinannya ada bukan?"
Tidak. Sama sekali tidak ada
__ADS_1
Atau hanya sedikit. Mungkin...
Verdea dan Remina berdiri berhadapan dengan satu sama lain, masih berada diatas sungai itu
Verdea terlihat tidak yakin ingin melakukan hal ini, kebalikan dengan Remina yang sudah siap ingin memukul Verdea
"Vain! Aku tidak ingin memukul perempuan!" Dia berkata sekali lagi
"Kalau begitu semoga beruntung!" Aku berseru, membuatnya sedikit terlihat kesal
Dia ingin mencoba bernegosiasi dengan Remina, tapi dia tahu hal itu tidak akan berhasil
Dan di dalam saat berikutnya, Remina mengambil langkah awal menyerang
Verdea berusaha menghindarinya sekuat tenaga selama latihannya berlangsung
"Hm...? Dia benar-benar tidak menyerang gadis itu sama sekali..." Veskal berkata sambil terus mengamati
"Omong-omong, kalian tidak pernah latihan tanding selama di kota Bargalos?" Aku bertanya
"Tidak selalu. Tapi, ketika kami latihan, Luna hanya mengajari kami cara menghindari serangan agar kami tidak mati seketika. Verdea belajar sihir dengan paman Zero, tapi aku tidak yakin itu terlalu membantu" Veskal menjawab
Hm... Begitu...
Wajar saja dia tidak punya teknik tertentu saat menyerangku tadi. Dia juga selalu menghindari serangan itu sekarang karena dia dilatih untuk itu, bukan bertarung
*Buk!*
Sebuah serangan dari Remina tiba-tiba mendarat di dada Veskal, membuat dia terpukul mundur
"Haha! Kena!" Remina berkata dengan nada bangga
"... Itu tidak biasa terjadi" Veskal berkomentar
Maksudnya, biasanya Verdea tidak pernah terkena serangan?
Yah, apapun itu
"Baiklah, akhiri saja! Remina pemenangnya!" Aku berseru
Remina langsung melompat dengan ceria di tempat, selagi Verdea hanya menggerutu sambil memegangi dadanya yang sakit
"Anak gadis itu sangat energetik sekali... Sifat mereka itu sama persis, hanya berlainan jenis" Veskal berkata
Aku hanya tertawa kecil mendengar perkataannya itu
Yah, apa yang dia katakan itu ada benarnya. Verdea dan Remina itu hanya dua orang berbeda dengan sifat yang sama
......................
"Haha! Aku menang!" Remina berkata selagi aku mengeringkan rambutnya
"Aku cuma menyerah kamu tahu?? M.E.N.Y.E.R.A.H!!" Verdea membalas
"Hah! Alasan!"
"Tidak! Aku sungguh menyerah saja tadi! Aku tidak ingin memukul orang cebol sepertimu!"
"Hah!? Kamu ada masalah apa coba, kepala hitam!?"
"Remina. Aku sedang mengeringkan rambutmu" Aku menyela
Remina duduk kembali dengan tenang, memasang wajah cemberut selagi aku kembali meluruskan rambutnya agar lebih mudah dikeringkan
Tidak lama, aku pun beralih kearah Verdea yang masih sibuk mengeringkan diri
"Kalau memang kamu menyerah, kenapa kamu melakukannya Verdea?" Aku bertanya kemudian
"Aku sudah bilang kalau aku tidak ingin memukul perempuan daritadi bukan? Dia juga ingin menang, jadi ya sudah!"
"Hmm..."
"Apa maksudnya, 'hm' coba?"
"... Aku bisa bilang, walaupun Remina memang memenangkan pertandingannya, kamu yang lebih maju dalam tes ini"
...
"Hah!?"
Mereka berdua terkejut mendengar perkataanku itu
"Tidak, tidak. Kenapa bisa begitu!?" Remina protes
"Sudah kubilang bukan, 'Kedua orang yang menari harus menyelaraskan diri dengan satu sama lain'. Itu artinya, kamu harus bisa memahami apa yang sedang dipikirkan kawanmu. Gerakkan mereka, Tujuan mereka, juga niat mereka yang terdalam, kamu harus memahami semua hal itu dari diri mereka tanpa perlu mereka beritahu
Verdea bisa membaca gerakanmu dengan baik dan menyelaraskan diri agar tidak kehilangan tempo. Dan hal yang paling membuatnya unggul darimu adalah, dia mampu mengetahui apa yang kamu inginkan dan menyerah" Aku menjelaskan panjang lebar
Dua orang untuk menari. Kamu pasti memiliki seseorang di sisimu untuk membantu dalam segala hal, termasuk bertarung. Dan dalam semua hal itu, semua orang bertanggungjawab atas keberhasilan dan hasilnya
Tapi yang terpenting, mereka harus memahami orang yang satunya lagi, agar tidak ada kaki yang terinjak
"Tapi, Remina lebih unggul dalam membaca gerak tubuh lawannya. Mengetahui kalau Verdea tidak akan melawan balik, dia terus menyerang tanpa ragu ataupun khawatir. Seandainya kamu menyerang balik, Remina mungkin akan berusaha menghindar juga
Sayangnya, karena Verdea sempat meneriakkan hal itu beberapa kali, mengartikan kalau Remina hanya memanfaatkan hal itu saja untuk kemenangannya. Dan itu sangat salah, karena kamu hanya memperhatikan yang terlihat saja. Memperkirakan tindak tersembunyi juga penting dalam latihan ini dan pertarungan asli" Aku menambahkan
"Hm... Begitu..." Verdea bergumam paham
Remina juga terlihat paham dengan apa yang aku jelaskan
Sementara itu, Veskal terlihat bingung dan berusaha menganalisa ulang perkataanku
"Ah begitu. Aku paham sekarang" Veskal bergumam. "Jadi, tes ini bertujuan untuk menyelaraskan diri dan membaca niat sekutu?" Veskal menjelaskan ulang
"Benar sekali" Aku menjawab
Veskal kemudian mengangguk paham dengan lagak bangga
"Kalian berdua sama-sama bagus. Tapi, masih banyak latihan yang harus kalian lakukan untuk sampai ke titik ahli, benar?" Aku berkata pada mereka berdua
"Ya" Mereka berdua berseru dan mengangguk serentak
"Ah ya. Kalian mungkin bisa berdiskusi untuk menganalisa kelemahan kalian dengan satu sama lain selama tidak latihan. Aku yakin itu akan memperlancar latihannya"
"Kalau dia mau..." Remina berkata sambil melirik remeh kearah Verdea
"Tentu saja aku mau! Aku tidak mau kalah darimu!" Verdea membalas
"Hah! Kamu akan tetap kalah! Dan akan kupastikan aku akan lebih unggul nanti!"
Yap, mereka kembali lagi berbuat rusuh dan berteriak kearah satu sama lain
Aku dan Veskal hanya tersenyum kepada satu sama lain ketika melihat tingkah mereka
Yah... Setidaknya mereka akan lebih akrab nanti
Dan setelah latihan mereka berdua selesai nanti, aku yakin mereka berdua akan menjadi cukup handal
Ini untuk kesenangan mereka berdua juga. Melihat kedua anak ini masih bisa tersenyum, aku senang melihatnya, mengetahui kalau aku masih bisa melindungi senyum mereka itu
__ADS_1