
...
Frank Gold. Ayah dari seorang wanita bernama Marianne Gold. Seorang wanita yang menjadi ibu dari anak bernama Verdea Hortensia
Dunia terasa sempit. Aku tidak menyangka akan bertemu dengan kakek Verdea secara langsung, ketika aku memasuki toko itu. Dan karena aku menjelaskan niat kami untuk mengunjungi makam Marianne, dia mengantarkan kami ke sana dengan senang hati sambil berjalan kaki
Aku berkata senang hati, tapi dia masih tetap dingin kepadaku. Hanya Verdea saja yang bisa memancing senyum dari orang ini entah bagaimana. Yah, mungkin karena secara fakta, dia memang kakek dari Verdea
Rambut hitam yang hampir memutih. Bola mata biru. Dia punya fitur tubuh yang sama dengan kakeknya. Tapi, beliau berkata kalau Verdea memiliki wajah seperti Marianne
Tapi, walaupun dia memang dingin terhadap kami, Frank ternyata cukup ramah kepada penduduk kota. Setiap kali kami lewat, dia tidak lupa untuk menyapa semua orang. Dia bahkan hafal nama-nama mereka dan dimana mereka bekerja
Dari dalam, ternyata dia sangat hangat kepada yang lain. Aku jadi paham kenapa dia kesal kepadaku disaat aku menyebut nama Artorius di hadapannya
Juga...
Walaupun dia sudah bertemu dengan kakeknya, anak ini tetap berdiri di sampingku seakan masih curiga kepadanya. Veskal bahkan terlihat heran kenapa dia bertingkah seperti itu
"Tidak mau bersama kakekmu?" Aku pun bertanya
Dia menggelengkan kepalanya secara langsung. Mungkin karena masih risau dan canggung mengenai komunikasi dengan kakeknya
Melihat sikapnya yang enggan itu, aku hanya menutup mulutku. Jika dia tidak nyaman, maka biarkan saja. Aku akan mewakilinya bicara jika perlu
"Ini pemakamannya" Frank berkata sambil menoleh kearah kanan
Benar saja. Sebuah pemakaman berdiri disana. Walaupun sekarang salju sedang turun, kuburan-kuburan itu terlihat sangat bersih dan tidak tertutup dengannya. Mereka sepertinya dibersihkan secara rutin, dan terlihat sekali dari beberapa penduduk kota yang sedang mengelap setiap batu nisan yang ada
Aku juga melihat ada beberapa orang disana—di dalam pemakaman. Mereka meletakkan bunga diatas kuburan yang mungkin milik anggota keluarga mereka. Sepertinya saat ini, tempat ini ramai dengan peziarah
Ada yang bercerita dan bersenda gurau, ada juga yang menangis sedih di depan tempat peristirahatan para orang yang sudah tiada itu
Hatiku kalut melihat pemandangan itu. Ketika melihat hal itu, kehilangan seseorang yang penting di hidupmu pasti rasanya sangat sakit. Kamu bisa bersenda gurau, tapi... Rasa sakit itu tidak akan bisa disembunyikan
Semua hal tersirat di mata seorang. Apa yang mereka rasakan, dan apa yang mereka tidak ingin tunjukkan
"Kalian beli dulu bunga untuk diletakkan diatas nisannya" Frank memberi saran
Frank kemudian menunjuk kearah sebuah toko seorang penjual bunga yang berada di pinggiran dalam area pemakaman
"Ibumu suka dengan bunga Marigold, karena sama seperti namanya"
Marigold...
Bunga itu sendiri punya makna yang sangat membuat hati sedih apabila dibawa ke pemakaman
Aku pun membuat Luna untuk pergi dan membelikan kami masing-masing sebuket bunga Marigold. Uang anggaran masih ada sisa setengah, tapi lebih baik jika kami datang dengan sebuah penghormatan kepada mendiang ibu Verdea. Lagipula, kami sejauh ini memang datang untuk menjenguknya
Luna denan cekatan membeli dan memberikan buket-buket bunga itu kepada Verdea dan Frank. Masing-masing tangan mereka sekarang membawa sebuket bunga, dan Frank pun mulai menghampiri sebuah batu nisan. Aku menyinggung Verdea agar dia mau mengikuti Frank apabila ingin bertemu ibunya
Dan kuburan yang dihampiri Frank...
Kuburan itu terletak tepat di tengah-tengah pemakaman ini. Ukuran dan bentuknya bahkan sangat menonjol dibandingkan kuburan yang lainnya. Di batu nisannya tertulis, 'Disini terbaring Marianne Gold. Seorang istri, ibu, dan anak tercinta'. Cukup sederhana untuk kuburan seorang istri raja, tapi sangat terawat seakan dibersihkan tiap hari. Nyaris tidak ada retakan di batu nisan ini, dan dia terlihat mengkilat
Frank berdiri di depan kuburan anaknya itu dengan wajah sedih. Kepalanya tertunduk ke bawah hingga matanya terpejam. Dan dengan berat hati, dia meletakkan buket bunga di tangannya untuk Marianne
Sementara itu, Verdea yang kudorong sedikit untuk maju itu hanya berdiri di depan kuburan ibunya. Diam tidak bergerak, seperti patung. Wajahnya menunjukkan ekspresi sedih, tapi dia tidak menangis sedikitpun. Dia hanya menatap kuburan mendiang ibunya, seakan dia sedang menatap balik seseorang
...
Sebaiknya aku mendorong inisiatif anak ini sedikit lagi
Aku mengambil sehelai bunga berwarna kuning itu dari buket yang Verdea pegang dan meletakkannya di atas kuburan ibunya, demi menunjukkan rasa hormat
Veskal kemudian ikut melangkah maju dan mengambil sehelai bunga itu juga dari buket yang juga dipegang Verdea. Kemudian dia meletakkan bunga itu diatas kuburan Marianne, sama seperti yang kulakukan
Dan kami berdua pun berdoa, sesuai tradisi Hortensia untuk menghormati orang yang telah tiada mendahului kami. Membungkuk setengah kaki di hadapan sebuah kuburan (untuk lelaki), dan berdoa dengan khusyuk untuk kebaikannya di alam sana
Hingga selang beberapa lama Veri menatap kami kebingungan
"Kamu tidak mau ikut meletakkan bunga?" Veskal bertanya pada Verdea, berbisik kecil
Melihat hal itu, kelima temanku berdiri di belakang Verdea sambil tersenyum kearahnya
Verdea kemudian menarik napasnya sebentar dan akhirnya mau meletakkan bunga itu di kuburan ibunya. Seluruh buketnya dia letakkan dengan hati-hati, agar tidak sehelai pun lepas dan tumpah ke tanah
Kuelus kepala Verdea ketika dia ikut duduk bersama kami berdua untuk berdoa, dan dia hanya menggerutu pelan merasakan sentuhan di kepalanya
Dan entah bagaimana, ketika melihat Verdea berada di tengah-tengah diriku dan Veskal, Frank samar tersenyum melihat hal itu. Dia merasa senang ketika melihat kalau cucunya baik-baik saja, dikerumuni oleh sekumpulan orang yang peduli dengan dirinya
Dia sangat tidak menyangka kalau cucunya itu datang untuk mengunjungi ibunya. Dan tidak hanya sendiri, tapi dengan teman-temannya
"Maaf untuk sikap awalku kepada kalian" Dia tiba-tiba berkata sembari berjalan dari belakang kami
"Tidak apa, tuan Frank. Aku paham perasaanmu ketika mendengar nama Artorius" Aku pun terus terang, sama sekali tidak menyembunyikan isi pikiranku
Dia tertawa pelan, seakan sedang meledek orang yang kusebut namanya. "Dan mengenai nama, aku belum tahu milik kalian semua" Frank pun berucap
"Aku Vainzel. Dan anak ini Veskal. Lalu disini ada Ivor, Luna, Ordelia, Luxor dan Lyralia"
Semua orang sudah kuperkenalkan, dan mereka masing-masing memberi sapaan yang unik kepada Frank
"Hm... Begitu..."
...
"Kamu ingin melihat wajah ibumu, Verdea?"
Hm. Itu datang entah dari mana. Tapi aku yakin Verdea tidak akan menolak
__ADS_1
Verdea diam sebentar, tapi kemudian mengangguk pelan, mengkonfirmasi tebakanku sebagai benar
Frank bangun dari tempatnya dan mengajak Verdea pergi kembali. Kembali ke toko yang sekaligus menjadi rumah baginya selama ini
"Ayo" Frank berkata, mengulurkan tangan kepada Verdea
Dia ragu, tetapi...
Dia pun mengangguk lagi. Tangan kakeknya dia terima dengan senang hati, dan kami semua mulai beranjak pergi meninggalkan kuburan Marianne. Kami akan membiarkan anak itu menghabiskan waktunya sebanyak yang dia mau di kota ini
Tapi, sebelum Verdea melangkah lebih jauh, dia menoleh kearah kuburan ibunya lagi. Karena dia ingin mengucapkan satu kalimat saja, "Aku akan datang lagi", kemudian kembali fokus ke depan dan hanya berjalan
......................
--- Kembali ke Gold Dust ---
Ketika sampai disana, dia menutup pintu tokonya. Kemudian dia berjalan ke belakang kasirnya dan membuka pintu tempatnya muncul tadi. Seakan kami adalah tamu terhormat, dia mempersilakan kami untuk masuk terlebih dahulu, selagi dia menjaga pintu itu tetap terbuka
Hanya aku, Verdea dan Veskal saja yang mengikuti Frank. Aku meminta teman-temanku untuk diam dan berjaga diluar saja, karena aku yakin kami semua tidak akan muat di dalam ruangan belakang toko ini. Tapi, mereka bernisiatif untuk mencari penginapan terdekat saja, dimana aku menanggapi positif hal itu sebelum ikut masuk ke dalam Gold Dust kembali
Dia menunjukkan kami sebuah ruangan di balik pintu di balik kasirnya itu. Ruangan itu ternyata adalah sebuah kamar sederhana yang diisi beberapa peralatan untuk meramu obat
Walaupun lebih luas dibanding ruangan tokonya, tempat ini tidak memiliki kasur sama sekali. Sepertinya, Frank hanya tidur di atas sebuah kursi goyang yang diatasnya terletak bantal di ruangannya itu
Ada pintu lainnya di tempat itu yang terbuka sedikit, menunjukkan kamar mandi yang sangat kecil. Tempat ini sangatlah kecil, dan tidak melebihi ekspektasiku sama sekali. Aku hanya berharap Frank selama ini merasa nyaman tinggal di tempat seperti ini
"Maaf kalau tempat ini tidak seluas istana yang kalian tinggali" Dia berkata
"Tidak perlu khawatir. Kami tidak masalah dengan hal itu" Aku membalas
Dia tidak menghiraukan kami lagi, dan dia mulai merunduk sedang mencari sesuatu di lacinya, sementara aku menemukan sebuah kertas yang dia pajang di dinding ruangan itu. Secarik kertas yang terlihat sudah mulai termakan usia
...'Untuk ayah,...
...Aku baik-baik saja disini. Artorius memperlakukanku dengan baik dan tidak ada masalah sama sekali...
...Tapi, melihat dia menikah dengan nyonya Celeste 2 hari lalu membuatku sedikit patah hati. Aku tahu itu cuma pernikahan politik, namun aku tetap merasa sakit melihatnya...
...Dia selalu dipaksa disini. Apapun yang dia lakukan adalah perkataan dari orang lain, dan bukan dirinya. Aku merasa kasihan melihatnya. Itu karena aku memang mencintainya...
...Dia selalu menghabiskan waktu di kastil Thyme bersamaku. Aku kadang khawatir hubungan kami akan diketahui oleh istrinya itu, tapi aku sendiri tidak bisa menahan diri untuk menghabiskan waktu dengannya...
...Dia membuatkan aku sebuah lukisan hari ini. Aku memintanya untuk menggambarkan salinannya untuk dikirim kepadamu. Aku ingin kamu melihat betapa bagusnya dia menggambar. Aku ingin kamu memberi dia pujian yang membuatnya tersipu malu. Dan juga, agar kamu bisa melihat wajahku setiap waktu melalui lukisan itu...
...Aku tidak apa-apa disini. Suatu hari kamu akan melihatku menggandeng tangannya dengan sebuah cincin. Jika dia tidak mau melakukannya, aku akan langsung menendangnya dan pulang ke rumah. Aku ingin mendengarnya memanggilmu ayah mertua suatu hari nanti...
...Biarpun aku mencintainya, ayahku tetap pria paling hebat dan tampan di dunia bagiku. Aku sayang padanya, tapi aku lebih sayang padamu...
...Aku senang bisa bertemu dengannya, dan aku bersyukur kamu lah yang mengurusku hingga bisa bersatu dengannya...
...Aku menyayangimu...
...
"Ah, kalian membaca surat pertama darinya?" Frank menghampiri kami sambil membawa sebuah kanvas yang dibalut dengan kain setelah membongkar barang-barangnya selama beberapa saat
Dia menyerahkan kanvas itu ke tangan Verdea. Dan aku pun langsung tahu, kalau itu adalah lukisan yang dimaksudkan oleh tulisan surat ini. Sebuah lukisan Marianne
"Isinya adalah lukisan yang dia kirim bersama surat itu" Lanjutnya kemudian
Benar saja. Aku yakin kalau kanvas ini Frank rawat dengan sangat hati-hati. Memang terlihat termakan usia, tapi aku bisa merasakan kalau benda ini masih kokoh hanya dengan menyentuhnya sedikit
Verdea gugup mendapatkan benda itu di tangannya. Dan dengan ragu, dia mulai menyentuh kanvas itu untuk merasakannya terlebih dahulu
Untuk pertama kalinya, dia akan melihat wajah ibunya yang tidak pernah bisa dia ingat itu. Sebuah gambaran yang akan menunjukkan wujud seorang Marianne Gold yang sangat dicintai
Verdea menarik napasnya. Perlahan, dia membuka kain itu dan kami bertiga melihat sebuah sosok di dalam lukisan cat minyak yang indah. Lukisan dari seseorang yang telah memikat hati sang raja
Sebuah gadis jelita berambut pirang dengan mata biru yang indah duduk dengan sopan nya. Dia memakai gaun berwarna hijau dan terletak sebuah Bros berbentuk bunga mawar hijau di kepalanya
'Sosok yang indah' Aku berpikir
Setelah memperhatikan gambar Marianne sekali lagi, aku menyadari kalau tampangnya itu mirip sekali dengan Verdea. Frank tidak berbohong ketika dia berkata seperti itu tadi. Sangat mirip hingga yang membedakan mereka hanya warna rambut mereka. Mungkin karena lebih mirip dengan warna rambut hitam milik kakeknya
Seakan Verdea hanyalah versi lelaki dari Marianne. Struktur wajah mereka sama persis, hingga ke ujung dagu dan leher
Melihat gambar itu sekali lagi, aku menyadari kalau tatapan Frank mulai berubah menjadi kalut. Helaan napasnya bahkan bisa terdengar jelas oleh kami bertiga, selagi kami mengangkat kepala setelah menyaksikan lukisan itu seutuhnya
"Dia anak yang nakal. Saat kecil, dia akan selalu berkeliaran ke seluruh kota dan melompat kesana kemari seperti kucing. Dan ketika hari berakhir, dia akan tidur di pelukanku di atas kursi ini sambil kunyanyikan lagu" Frank pun menjelaskan
Dia duduk diatas kursi itu dan air mata kembali mengalir di pipinya. Kursi itu mulai bergoyang ke depan dan belakang, selagi dia melantunkan lagu yang membuat hati pilu
"Oh, bunga emasku... Tidur yang nyenyak di pelukku... Anakku mentariku... Peri tercantik di duniaku..."
Dia berusaha menahan tangisnya, tapi air matanya justru semakin deras daripada sebelumnya semakin dia melantunkan lagu itu berulang-ulang dengan nada pelan. Dan semakin dia meneruskan, semakin terisak dia melantunkan lirik lagu itu
Aku dan Veskal tentu merasa sedih melihat Frank. Apapun itu, rasanya tidak baik untuk orang tua mengantar pergi anak yang mereka bawa ke dunia
Banyak orang yang mengatakan kalau orang tua yang mengubur anaknya adalah hal paling menyakitkan untuk dialami. Dan aku paham kenapa, ketika melihat langsung Frank yang berkabung karena kematian Marianne
Dan dia hanya tinggal sendiri disini. Tidak ada siapapun lagi yang bisa menemaninya di tempat kecil ini. Satu-satunya orang yang bisa dia cintai telah padam kehidupannya semenjak bertahun-tahun lalu, dan dia tidak punya orang seperti itu lagi
Tempat kecil yang hanya dia dan anaknya tinggali ini langsung terasa sepi, ketika aku membayangkan kesedihannya selama bertahun-tahun ini
...
Verdea bahkan ikut menangis. Air matanya mulai tidak terbendung, setelah merasakan kesedihan mendalam selama perjalanannya di dalam kota ini
Dia memeluk lukisan ibunya dengan erat. Benda itu serasa tidak bisa lepas dari genggamannya yang kecil itu, selagi dia mulai berjalan ke depan mengarah kepada kakeknya
__ADS_1
Dia kemudian duduk di lantai sambil menatap mata kakeknya. Tapi, dia tidak tahu harus berkata apa-apa dan hanya diam sambil ikut menangis
Aku tidak pernah merasakan kehilangan orang terdekat. Ibu dan ayahku, teman-temanku, dan para Elf yang dekat denganku semuanya masih hidup. Dan ketika melihat kedua orang ini, aku merasa kalau aku sebaiknya tidak perlu merasakan hal itu
Aku tidak ingin, lebih tepatnya. Teman-temanku adalah setengah jiwaku. Apabila mereka pergi, aku tidak tahu harus apa lagi
Jika aku merasakan kehilangan nanti, bagaimana aku akan menanganinya, ya...?
"Kehilangan itu menyakitkan ya...?" Aku bergumam pelan
Veskal hanya merespon dengan perlahan menarik kerudungnya untuk menutupi wajah. Kami berdua hanya berdiri diam, seakan dunia mulai menipis menjadi ruangan itu saja. Tidak satupun dari kami mencoba untuk mendekat kepada 2 orang yang masih menumpahkan kesedihan mereka itu
......................
--- Di sebuah Penginapan Kota Calendula ---
"Heh? Dimana Verdea?"
Ordelia yang menyambut kami di depan sebuah kamar langsung merasa cemas ketika dia tidak melihat keberadaan Verdea
"... Aku pikir meninggalkannya bersama kakeknya itu akan lebih baik" Aku membalas
Veskal di sisi lain, langsung meluncur ke dalam kamarnya. Dia tidak tahu ruangan yang mana yang akan dia tempati, tapi disaat itu dia hanya tidak ingin bicara mengenai pengalaman di hari ini
Ordelia yang melihat Veskal yang menyelip tanpa sepatah kata itu jadi merasa risau, selagi pintu yang dimasuki Veskal tertutup
"... Aku juga sudah merapal sihir pelindung agar tidak ada yang mengganggu mereka disana. Jadi jangan khawatir" Aku menambahkan, untuk mengalihkan perhatian Ordelia
"... Kalian berdua terlihat lelah" Ordelia pun berkata
Aku tidak bisa menolak itu—hanya mengangguk dan memberi sebuah helaan napas di tengah-tengahnya. Dia tidak tahu apa yang kami lihat di dalam toko itu, tapi dia langsung mencoba meringankan suasana dengan tersenyum
Dia gandeng tanganku dan berbalik, sembari berkata, "Aku akan antarkan kamu-"
Tetapi...
Belum sempat dia melangkah dan menyelesaikan kalimatnya, aku memeluknya dari belakang dan menanam wajahku di pundaknya...
Pelukanku semakin erat ketika dia semakin diam, selagi aku menarik tubuh kami berdua agar lebih mendekati satu sama lain
...
...
...
"Ordelia. Seandainya... Aku kehilangan salah satu dari kalian, apa yang harus kulakukan?"
Itu pertanyaan yang membuat bimbang bukan? Tapi itulah yang paling kutakutkan sekarang ini
Aku tidak ingin siapapun dari kalian pergi...
...
Ordelia diam. Dia juga tidak memiliki jawaban untuk pertanyaan itu. Dia sama sekali tidak siap untuk menjawabnya, hingga yang bisa dia lakukan hanyalah perlahan berbalik kembali dan meletakkan tangannya di kepalaku
"Kenapa berkata begitu?" Tanyanya pelan. Tangan kami terlepas
Dia pun perlahan menarik turun kerudungku agar wajahku bisa dia lihat. Wajah yang dipenuhi oleh rasa sedih dan risau—nyaris ingin meringis kesal dengan semua pikiran yang ada di kepalaku
Kupalingkan wajahku darinya, dan aku pun mulai mengeluh
"Aku takut... Verdea yang berumur 7 tahun saja sudah merasakan kehilangan. Wajahnya selalu menunjukkan rasa sakit ketika mengingat hal itu. Umurku sudah 151 tahun. Masih ada sisa ribuan tahun lagi untuk umurku. Dan dalam masa itu, bagaimana kalau-"
--- Kalau kalian pergi dari duniaku...
...
...
...
"Aku tahu kalau umurmu masih sangat lama. Tapi..."
Dia menatap langsung mataku dengan tatapan yang teguh. Tatapan yang membuat dia berkata kalau semua akan baik-baik saja, selagi kedua tanganku dia raih keatas
"Aku yakin akan bisa bersamamu. Baik 10000 tahun lamanya ataupun lebih, aku akan tetap bersamamu" Dia pun berkata, menenangkan sedikit hatiku
Rasa ingin menangis menusuk dadaku ketika mendengar perkataannya itu. Menusuk seketika layaknya sebuah pedang
Tapi itu adalah kata-kata yang kubutuhkan dan kuinginkan. Agar aku yakin dia bisa terus berada di sisiku. Elf tidak berbohong, dan aku tahu kalau dia juga sangat menginginkan hal itu
"Janji...?"
"Janji"
Aku mulai memeluknya di detik itu, dan kami berdua mulai saling memeluk erat satu sama lain. Untuk sesaat, aku tidak yakin aku ingin melepas Ordelia dari sisiku
"Aku ini memang penakut, ya...?" Aku pun berkata lagi
Ordelia tertawa pelan. "Jangan berpikir begitu" Dia menambahkan sebuah kalimat
Aku tersenyum diantara pelukannya. Aku bersyukur aku bisa menemukanmu di hari itu, di dekat Pohon Agung. Aku bersyukur kamu mau mencintaiku
Jadi aku mohon, jangan pergi terlalu cepat. Jangan tinggalkan aku sendirian
Terima kasih sudah mau berjanji untuk terus berada di sampingku selamanya
...
__ADS_1
Dan aku berharap kamu mendapatkan apa yang kamu perlukan di dunia ini. Aku mencintaimu, Ordelia...