Book Of Flowers

Book Of Flowers
Lima Petinggi Elf


__ADS_3

--- Beberapa saat kemudian ---


"Tunggu dulu! Kamu memanggil kami dengan situasi 'darurat', hanya untuk merawat anak ini!?"


Seorang Elf cahaya bernama Luxor itu mencakar pinggangnya sehabis protes kepadaku


Aku sudah memberitahu mereka apa yang ingin kuberitahu. Hanya reaksi dan jawaban mereka yang kuperlukan sekarang


"Kupikir keadaannya genting sekali sampai membutuhkan kami"


Lyralia si Elf air juga sepertinya protes. Tapi dia lebih... Rahasia dalam menyembunyikan ekspresi tidak senangnya itu


Ivor si Elf api hanya menggerutu sambil mencari sesuatu untuk dia banting ke seluruh ruangan


Ordelia si Elf bunga, dan Luna si Elf bulan hanya diam tanpa berkata apapun lagi


Aku berdiri di hadapan mereka semua dan merasa gelisah, sama seperti Verdea yang bersembunyi di belakangku ketika melihat mereka


Aku tahu mereka akan menolak permohonanku, tapi aku membutuhkan mereka untuk membantu kastil ini


"Kalau aku tidak berkata hal ini genting aku yakin kalian tidak akan datang"


Dan hal ini memang genting karena aku juga cukup terikat ke tempat ini akibat perjanjian dengan Verdea...


Ivor mengalihkan perhatiannya kepadaku dan bergerak maju dengan cepatnya sambil berkata


"AAAAHH!! Tapi hal itu tidak berarti kamu harus menipu kami!!"


Ivor kemudian menggenggam kerah bajuku dan terlihat marah sekali


"Aku tidak bohong saat aku bilang ini genting"


Dan berhenti menggoyangkan tubuhku atau aku akan muntah


"Aku setuju dengan Ivor dalam hal ini" Seseorang menyela


Luna akhirnya membuka mulutnya dan bicara membela Ivor yang mulai senyap bersamaan denganku yang mengalihkan tatapan


"Dengar bukan!? Luna yang bijak itu saja setuju denganku!!" Ivor kemudian menyela


"Kenapa juga kamu tiba-tiba mau repot mengurus manusia? Makhluk tidak beradab seperti mereka seharusnya-"


"Lyra...! Tidak boleh begitu...!"


Ordelia yang pemalu di depan orang baru itu saja sudah mulai bicara. Tapi dia cukup peka untuk menghentikan Lyralia yang nyaris berkata kasar di hadapan Verdea


"Ayolah Ordelia. Kamu juga sebenarnya setuju bukan?"


Luxor menyela pembicaraan mereka berdua dan membuat Ordelia ragu dengan apa yang harus dia katakan


"Kalian tidak memperhatikan temanku ini sama sekali..."


Verdea semakin bersembunyi di belakangku ketika aku mengingatkan keberadaanya kepada mereka


"Setidaknya bantulah kami untuk beberapa saat. Kalian mungkin akan berubah pikiran setelah saat itu" Aku mencoba meyakinkan mereka lagi


"Kami sudah bilang-!"


"Ivor. Tenangkan dirimu"


Luna menggenggam bahu Ivor dan menyuruhnya mundur dari hadapanku


Dan menggantikan posisi Ivor, Luna yang kali ini maju menghadapiku hingga wajah kami hampir menyentuh satu sama lain


"Lalu, apa gunanya hal ini untuk kami?" Lanjut Luna


Ah, ini dia pertanyaan yang kutakutkan dari mereka. Aku tidak punya apapun untuk kutawarkan kepada mereka sekarang ini


"Aku tidak punya apapun yang menarik untuk kalian..."


"LALU UNTUK APA-!"


"Ivor!"


Ivor kembali tenang bersama 3 Elf lainnya. Luna kemudian membiarkanku melanjutkan perkataanku


"Aku benar-benar mohon kepada kalian untuk memberikan bantuan kepada kami. Aku tidak punya rencana cadangan apapun selain memanggil kalian kemari"


Jadi aku sungguh berharap kalian tidak menolak...


...


...


...


"... Kami akan berada disini sebulan"


"Heh?"


4 Elf lainnya juga terlihat kaget sama sepertiku ketika mendengar keputusan Luna


"Kamu bercanda...?"


"Hah... Luna sudah memutuskan..."


"Kamu-!"


"..."


Mereka tidak bisa melawan perkataan Luna. Elf yang diangkat menjadi Tangan kananku ini memang hebat sekali. Aku yakin dia bisa mengontrol perlakuan para peri dengan baik selama aku pergi


Tapi, sebulan ya... Aku harus mencari akal agar mereka mau tetap disini lebih dari masa itu


Untuk sekarang aku akan membiarkan dulu mereka semua dan memberikan tugas mereka masing-masing di kastil ini


Mereka memang terlihat setengah hati menerima permintaanku, tapi hal ini lebih baik daripada tidak sama sekali


"Aku akan membagikan tugas kalian di kastil ini jadi dengarkan baik-baik"


"Silahkan"


...


--- Beberapa saat kemudian ---


"Baiklah. Apa kalian sudah paham?" Aku bertanya setelah panjang lebar


"Aku mau menolak"


...


Ah, Ivor. Tidak bisakah kamu menerima keputusanku secara langsung...?


"Kenapa aku harus jadi koki? Berikan aku tugas yang lebih menantang boleh?"


"Memasak itu menantang kamu tahu?"


Dan dia juga cukup ahli memasak. Diantara semua orang yang aku tahu, Ivor adalah orang yang paling pandai dalam memasak


"Itu pekerjaan perempuan. Lagipula aku tahan dengan api jadi tidak ada yang bisa kulawan disana"


Tidak akan ada sesuatu yang bisa kamu lawan selama kamu disini...!


"Intinya kalian sudah menerima tugas masing-masing. Tidak bisa diganti"


"... Cih! Baiklah. Apapun yang bisa membuat Oberon kami puas"


Dia menggerutu dan berdiri dengan tenang bersama yang lainnya


...


Oberon... Sudah lama aku tidak mendengar seseorang memanggilku dengan gelar itu


Lupakan dulu itu. Sekarang kami akan mulai


Luxor dan Lyralia akan bertugas sebagai pelayan dan bertanggungjawab untuk kebersihan seluruh isi kastil


Ivor akan bertugas sebagai koki dan membeli bahan untuk memasak setiap hari di pasar terdekat


Ordelia akan menjadi penjaga gerbang dan tukang kebun di kastil ini


Dan terakhir, Luna. Dia akan bertugas sebagai pengawal kedua milik Verdea


Aku sejujurnya tidak tahu harus meletakkan Luna sebagai apa. Dia tidak terlalu bagus dalam melakukan pekerjaan apapun, kecuali bertarung


Aku yakin kemampuan bertarungnya yang tajam dan cekatan lebih cocok kuletakkan dalam pekerjaan pengawal


Sementara itu aku yang bertanggungjawab untuk mengontrol mereka semua dan mengurus keseharian Verdea


Dan dengan begitu, susunan yang diperlukan di kastil ini sudah disusun dengan rapi


"Baiklah. Aku akan mulai bersih-bersih, sekalian berkeliling"


"Aku ikut~!"


Luxor dan Lyralia langsung dengan antusias beranjak untuk melihat-lihat pemandangan baru, keluar dari ruangan mendahului kami semua


"Lalu, aku harus apa?" Ivor bertanya


"Hari sudah mulai siang. Kenapa tidak memulai masak saja untuk kita semua?" Aku menyarankan


"Tapi, apa yang disukai anak ini?"


Ah, ya. Kami tidak suka daging, jadi Ivor pasti sudah menentukan apa yang akan dia masakkan untuk kami


Hanya Verdea yang bukan Elf disini, dan menentukan menu kesukaannya tentu menjadi masalah bagi Ivor


"Kalau begitu-"


"Ayam goreng..."


"Hm?"


Kami berdua melihat kearah Verdea yang masih menyembunyikan dirinya di belakang badanku


"Aku ingin ayam goreng" Verdea mengulangi, dengan suara yang lebih keras sedikit


Ayam goreng? Ah, mungkin karena sejak hari itu


Aku tertawa kecil. Melihat wajah malu milik Verdea, aku tidak tahan lagi dan langsung mengelus kepalanya


"Baiklah, jika itu yang kamu inginkan...


Lyralia! Tolong cek apa ada daging ayam di dapur!"


Dia langsung pergi ke dapur sambil berteriak mencari Lyralia


"Baiklah. Aku akan pergi juga mulai dari halaman belakang"


Ordelia berniat mengikuti Ivor keluar, tapi aku menghalaunya sebelum dia sampai diluar pintu


"Kamu akan membantu kami bertiga di halaman depan"


"H- hah?"


Verdea melihat kearah Luna yang berdiri tidak jauh dengan tatapan penuh tanya. Luna yang tahu maksud tatapan Verdea hanya menjawab dengan mengangkat bahu


......................


Kami berada di taman depan kastil sekarang ini. Ordelia berdiri dengan kakunya menatapi sekeliling taman ini


Aku sudah memperingatkannya, tapi dia tetap kaget dan gemetar melihat seluruh tanaman yang ada di sekitar kastil ini


Ya, wajar juga. Aku dan Ordelia berasal dari ras yang sama, Elf bunga. Jadi ketika melihat pemandangan mayat tumbuhan seperti ini, kami tentu geram...


"Kenapa... Bisa begini...?"


"Kalau tidak pernah diurus sudah tentu begini bukan?"


Aku menghela napas pendek setelah memberinya respon. Mataku sendiri masih sakit melihat pemandangan ini, jadi bisa dibayangkan apa yang dirasakan oleh Ordelia


"Vain..."


Air mata mengalir di pipi Ordelia


Aku yang merasa iba melihatnya langsung mengelus kepalanya agar dia tetap tenang


"Aku paham. Jadi tolong bantu kami"


Dia menatap wajahku yang tersenyum lembut. Perlahan dia mengangguk tanda setuju sambil memelukku


Luna dan Verdea berdiri tepat di belakang kami dengan wajah datar


"Mereka seperti pasangan saja" Bisik Verdea kepada Luna


"Hah... Biasakan saja. Mereka memang pasangan"


"Benar ka- Hah!?"


Catatan : Verdea baru tahu kalau aku memiliki pasangan. Dan aku puas melihat wajah terkejutnya


"Kalian jangan berbisik saja dan bantu kami merapikan tempat ini" Aku menyela diantara kedua orang itu

__ADS_1


Mereka melihat kearahku yang memelototi mereka berdua. Tanpa basa-basi lagi, mereka mengikutiku dan Ordelia untuk membersihkan taman ini


"Tapi Vain, memangnya kita berempat cukup untuk membersihkan taman ini?" Luna bertanya, hingga aku menoleh kearahnya kembali


"Luna, kita tidak berempat"


Aku berbalik dan menjentikkan jariku. Akar-akar pohon yang berada di sekitar kami langsung merambat perlahan kearahku


Belasan pohon menerima panggilanku dan menggerakkan akar mereka untuk membantu


"Ada banyak yang akan membantu"


...


"Lalu kami untuk apa?" Kata Verdea culas


"Kalian cari sekop dan buat lubang"


"Kamu bisa membuat para pohon melakukan hal itu bukan?" Sambung Luna


Jadi begitu rupanya... Kamu menolak untuk membantu hah...?


Baiklah...!


"Aku menantang kalian untuk bekerja lebih cepat dari kami berdua!" Aku mencetuskan


"Kenapa kami berdua mau-"


...


Verdea berhenti bicara karena suasana yang tiba-tiba terasa berubah. Kepalanya pun menoleh...


Saat Verdea menoleh kearah Luna, dia sadar kalau apa yang dia akan katakan tidak berguna sama sekali


Luna yang biasanya tenang itu terlihat membara sekali mendengar perkataanku, walaupun wajah datarnya tetap terlihat. Kata 'tantangan' merupakan sebuah pemicu baginya, terutama bila aku yang mengatakannya


Aku hanya tersenyum licik melihat Luna yang mulai terlihat bersemangat


"Aku terima"


"Kamu yakin Luna~?"


Aku berusaha membuat suasana semakin panas untuknya. Dia kemudian maju dengan mantapnya dan menatap langsung mataku


"Aku tidak akan kalah" Luna berujar


"Mari kita lihat. Kalian cari sekop dulu" Aku membalasnya


...


"Apa itu sekop?"


Hm?


Tunggu. Dia serius tidak tahu!?


"Alat" Kujawab dia dengan singkat


"Kalian akan membereskan tamannya sementara kami membuat lubang, begitu?" Luna bertanya lagi


"Yap. Kami akan mengurus semua tanaman ini. Kalian buatlah tempat untuk membuat kolam disini"


"Tantangan diterima"


Kami berdua berjabat tangan dan kemudian berjalan kearah yang berlawanan


Verdea diam dan tidak memiliki semangat. Tapi, Luna kemudian menggenggam bahunya dan menatap matanya tajam


"Hey, nak. Aku akan butuh bantuanmu. Bersiaplah"


Badan Verdea seketika gemetar, hingga dia segera senam di tempat untuk menyegarkan diri dan menyamai semangat mereka berdua


"Baiklah! Kami tidak akan kalah! Ayo kita cari sekop!"


"Semangat yang bagus!"


Haha! Aku suka reaksi mereka!


Mereka berdua langsung berlari meninggalkan kami untuk mencari sekop, selagi aku hanya menggelengkan kepala ditemani Ordelia yang tersenyum melihat mereka


"Temanmu itu sangat manis" Ordelia memujinya selagi tersenyum


"Iblis kecil itu kamu bilang manis?" Aku menjawab singkat, hingga dia tertawa kecil mendengarku


"Baiklah. Ayo kita lakukan pekerjaan kita. Aku yakin kamu juga tidak mau kalah"


Aku mengangguk. Tapi tepat saat aku mau mengerjakannya, Ivor, Lyralia dan Luxor datang menghadap kepadaku


Aku mencium aroma yang tidak mengenakkan dari hal ini, dan dugaanku benar


"Bagaimana caranya aku memasak dengan alat ini?" Ivor bertanya selagi memperlihatkan sebuah teko entah kenapa


"Apa yang harus kami gunakan untuk membersihkan tempat ini?" Luxor menambah pertanyaan itu


"Apa ada ember bersih??" Dan Lyralia menimpa dengan pertanyaan lainnya


...


Tamatlah riwayatku. Aku akan kalah dari Luna sebelum aku selesai mengurus ketiga orang ini...


......................


--- Beberapa jam kemudian ---


"Haha!"


Aku tertawa puas melihat pekerjaan kami yang sudah selesai. Tapi napasku yang memberat tidak membiarkan aku tertawa terlalu lama


Sial...! Aku berlarian kesana kemari... Karena ketiga orang itu harus diajari banyak hal...


Kami benar-benar hampir kalah karena aku harus pergi. Tapi aku berhasil membuat tempat ini bersih tanpa bekas daun ataupun tumbuhan kering. Semuanya sudah kami kubur di bawah tanah, secepat mungkin


Walaupun sebagian besar waktuku disita oleh 3 orang itu, pada akhirnya aku dan Ordelia tetap menang


Kami menepuk tangan kami dengan satu sama lain sambil menyaksikan Verdea dan Luna yang terkapar di tanah dengan napas tersengal-sengal


Aku ikut terkapar di tanah karena badanku yang mulai merasa lelah


"Kalian... Beruntung..."


"Vain... Aku lelah..."


"Kamu pikir... Aku tidak... Lelah?"


Terima kasih Ordelia, tapi lain kali tolong jadilah lebih membantu dalam mengontrol pepohonan itu...


"Tapi, kenapa kamu membuat temanmu ini ikut bekerja? Dia masih kecil bukan?" Lanjut Ordelia yang menjongkok di dekatku


Verdea yang mengangkat tangannya yang lemas ke udara ikut berucap


"Aku... Setuju..."


"Tidak. Laki-laki itu harus mau bekerja" Jawabku mantap


"Aku setuju denganmu Vainzel..." Sambung Luna


Dia mencoba mencari posisi duduk yang nyaman. Kemudian dia melanjutkan perkataannya


"Bekerja keras seperti ini adalah kebanggaan laki-laki...!"


"Tapi... Kamu perempuan... Bukan...?"


"Aku tetap seorang pejuang. Menerima tantangan dan memenangkannya juga termasuk dalam hal itu"


Dia menggenggam tangannya erat sambil menampakkan wajah kesal akan kekalahannya


"Sayangnya aku sekali lagi tidak menang..."


"Haha! Kamu... Tidak akan... Bisa menang...!"


Dia menatapku ketus sehabis aku memanasinya barusan


Suara sesuatu yang diketuk kemudian terdengar dari belakang kami, membuat perhatian kami yang melemas tercuri kearahnya


Terlihat Ivor yang berdiri di pintu masuk sambil memukuli sebuah nampan besi berkali-kali dengan sebuah sendok


"Makanan siap!" Teriaknya, sebelum kemudian kembali masuk tanpa menunggu


"Hm... Ayo, kita makan dulu"


Aku bangun diikuti Luna dan Ordelia. Verdea yang masih terbaring terlihat ingin protes karena hal ini


Sepertinya ada yang terlintas di pikirannya


"Aku tidak mau"


"Tidak boleh begitu. Kamu juga pasti sudah lapar sekarang ini"


Dia langsung diam dan cemberut. Tapi, dia kemudian ikut bangun dan kami berempat berjalan bersama masuk ke istana


Aku memperingatkan satu hal lagi kepada mereka sebelum kami masuk ke istana


"Kita harus membersihkan diri dulu"


"Baik, baik" Respon Verdea


"Aku benci mandi..." Respon Luna


......................


"Wah...!"


Verdea menganga melihati meja makan yang diisi dengan banyak makanan. Dan untuk menambah kesannya, semua hal yang ada diatas meja ini terlihat lezat


Kebanyakkan dari makanan ini sebenarnya sayuran, tapi semua aroma yang mereka keluarkan tercium menggugah


"Vainzel mengatakan kalau kamu suka makanan itu, jadi aku pergi membelinya sebelum memasak" Ivor berkata, menunjuk daging ayam kesukaan Verdea


Kamu pergi membelinya secepat itu? Perjalanan ke pasar terdekat butuh beberapa jam untuk bolak-balik, dan kamu melakukannya sekaligus menyelesaikan semua masakan ini?


Dia kemudian mengambil sebuah kursi di sisi kanan meja makan dan duduk dengan tenang


Verdea tanpa pikir panjang langsung mengambil tempat duduk di ujung meja dan bersiap makan


Teman-temanku yang lainnya juga duduk mengikuti mereka dan mulai mengisi piring masing-masing


Sementara itu, aku sibuk mengisi piring Verdea dengan beberapa makanan yang ada di meja. Wajahnya menunjukkan wajah jijik ketika aku menaruh kentang di piringnya


Aku kemudian meletakkan piringnya dan duduk untuk menyantap makanan juga


Kami semua sibuk dengan piring kami masing-masing disaat itu. Suara kunyahan dan peralatan makan terdengar dengan jelasnya karena tidak ada yang berbicara sama sekali


Tapi, Verdea tetap menatapi piringnya tanpa berselera sedikitpun


Verdea kemudian menarik baju milik Ivor yang duduk di dekatnya hingga Ivor memberikan perhatian kepadanya


Dia kemudian perlahan mengisi piring Ivor dengan kentang dari piringnya tanpa izin lebih lanjut


Kentang di piringnya habis dan dia mulai memakan paha ayam di piringnya dengan lahap


"Kenapa? Kamu tidak suka kentang?" Tanya Ivor


Verdea menggelengkan kepalanya sambil terus mengunyah, tanda kalau dia memang tidak suka


"Hah... Kamu ini. Asal kamu tahu, kentang itu salah satu makanan yang paling penting di dunia ini"


Kami semua menatap Ivor sambil berusaha menahan tawa


"Kata orang yang tidak suka makan kentang dulu" Cela Lyralia


Kami semua langsung menertawai Ivor. Verdea yang awalnya tidak berani mengangkat kepalanya, sekarang melihati sekelilingnya yang dipenuhi bentuk tawa yang bermacam-macam


"Hey! Itu dulu!" Kata Ivor sambil menodongi Lyralia dengan garpu di tangannya


"Aku ingat dulu dia selalu menangis karena kesal setiap kali diberi kentang" Sambung Luxor


"Ivor memang cengeng dulu, ya?"


Ordelia terus tertawa kecil setelah mengatakannya


"KENAPA KALIAN MALAH MEMPERMALUKANKU HAH!!??"


"Karena kamu mudah dipermalukan"


"LUNA!?"


"Menyerah lah Ivor. Bahkan Luna yang bijak saja setuju"


Ivor kemudian menatapku dengan amarah yang menggebu-gebu


"Memangnya dia begitu dulu?"


Semua mata langsung menatap kearah Verdea yang melontarkan pertanyaan itu

__ADS_1


"Benar. Dia bahkan bilang kalau dia lebih baik makan rumput" Jawab Ordelia


Verdea mencoba menahan tawanya keluar, sementara kami terus menertawai Ivor yang semakin terlihat kesal


"Padahal kata-katamu tadi bijak sekali" Verdea rupanya ikut mencela Ivor


"Benar kan!?" Luxor semakin membuat keras tawanya


Wajah milik Ivor seperti ingin meledak saja saking merahnya. Dia pada akhirnya mencapai batas dan akhirnya berkata


"Aku tidak perlu celaan dari orang yang sering mengompol sampai sekarang"


"Hah!?"


"Luxor masih mengompol sampai sekarang?" Aku menyela dan berusaha membuat suasana semakin panas


Wajah Luxor memerah dan dia kemudian berusaha melawan balik perkataan Ivor


"A- aku-"


"Laki-laki tukang mengompol~!!" Ejek Ivor


Kami semua yang menonton mereka hanya menunjukkan ekspresi takjub dan setengah tertawa


"D- diam kamu, dasar cengeng!"


"Lebih baik keluar air melalui mata daripada celana asal kamu tahu saja!"


"Yap. Dan keadaan semakin memanas..."


Aku mencoba menjadi komentator adu mulut mereka, tetapi mereka malah mengalihkan pandangan mereka padaku dengan wajah penuh kekesalan


"Diam dasar tukang cari perhatian!"


Oke-! Sekarang aku targetnya


"Kamu rupanya tidak berubah sama sekali Vainzel!!"


"Hey, ayolah. Apa ini sesi mengungkit masa lalu yang memalukan atau semacamnya?"


"Aku bisa mengungkit hal memalukan yang kamu-"


"Ok! Stop disitu Ivor!"


Jangan berani-berani kamu-


"Hah!? Lalu kamu mau apa kalau aku tidak mau!?"


"Hey! Urusanmu denganku belum selesai!"


"Diam, tukang ngompol!"


Sementara kami beradu mulut dan membuat suasana heboh, Verdea meminta Luna menceritakan hal memalukan yang kulakukan


Luna pun berbisik pelan


"Dia sering dimanjakan oleh orang tuanya seperti anak perempuan


Dia bahkan pernah didandani seperti seorang putri dibandingkan seorang pangeran disaat sebuah acara. Kamu akan tertawa dengan bentuk dandanannya saat itu"


"LUNA!! AKU MENDENGARMU!"


Luna tersentak, sementara Verdea tertawa terbahak-bahak mendengarnya


"Kalau begitu aku juga akan membongkar rahasiamu!"


"Vain-"


"Kamu pernah menangis ketika tergantung terbalik di sebuah pohon sampai tidak bisa turun"


Semua orang disana langsung terdiam karena tidak terdengar lucu


Tapi, Luna langsung menanam wajahnya di meja karena menahan malu


'Padahal ceritanya yang paling tidak memalukan' pikir semua orang yang tahu


Tapi bagi Luna, ketika dia menangis waktu itu benar-benar menodai gambarannya sebagai pejuang yang tangguh. Belum lagi dia itu salah satu yang tertua di kelompok kami


Itu sebabnya dia selalu meratap ketika hal itu diperingatkan oleh seseorang


Sementara itu, Ordelia dan Lyralia duduk dengan santai sambil melanjutkan makanan mereka. Mereka sadar tidak ada cerita memalukan yang bisa dibongkar oleh seseorang dari diri mereka


Verdea terus tertawa mengikuti kami yang saling menertawai satu sama lain


"Kalian semua terdengar bodoh..." Dia mengomentari kemudian


"Hey bocah! Aku akan-!"


"Apa? Kamu tidak tahu cerita memalukanku sama sekali"


Verdea menjulurkan lidahnya pada Ivor, bahkan membuat Luxor terkesan


"Anak ini lumayan seru juga untuk teman berbuat jahil!" Luxor tertawa terbahak-bahak


Suasananya sangat ricuh, selagi Ivor terus mencoba memancing emosi yang lainnya dan Luxor yang terus tertawa hingga air matanya keluar. Tidak setiap hari aku mendengarkan suasana seperti ini, jadi aku bisa mendapatkan sedikit kenyamanan diantara kerusuhan ini


...


Terasa menyenangkan sekarang, berkumpul bersama teman-temanku...


"Omong-omong kami belum tahu namamu" Luxor bertanya kemudian


Ah, benar. Verdea juga tidak bertanya nama mereka sama sekali sejak tadi


Dia sepertinya malu dan gelisah ketika bertemu orang baru. Aku juga tidak menyadarinya daritadi


"Namanya Verdea. Aku Vainzel" Jawabku


"Namamu tidak penting" Luxor membalas jawabanku, sambil tertawa di sela-selanya


"Aku Luxor. Senang berkenalan denganmu"


"Aku Lyralia. Tidak senang berkenalan denganmu"


"Lyralia..." Kataku pelan


Dia hanya menggelindingkan bola matanya dan kembali fokus makan dengan sebuah senyum di bibirnya


"... Ivor"


"Hati-hati kalau di dekatnya. Dia seperti babi hutan"


"JANGAN SAMAKAN AKU DENGAN BABI, LUXOR!!"


Ordelia yang ingin memperkenalkan diri selanjutnya menyempatkan untuk tertawa kecil


"Aku selanjutnya. Namaku Ordelia..."


"Kita sudah berkenalan tadi, tapi akan kuulangi. Namaku Luna"


"Dan dengan begitu, kamu sudah tahu semua nama mereka, nak"


"Nama kalian semuanya keren!" Seru Verdea dengan antusiasnya


Kami semua terdiam. Ivor kemudian terbatuk satu kali dan berkata


"Namamu juga keren..."


Ah, dia masih tidak tahan ketika dipuji...


"Sudah, sudah. Lanjutkan saja makan kalian"


"Tidak akan seru kalau tidak mengobrol, Vain"


"Aku setuju denganmu, nak!"


"Jangan ajarkan dia kebiasaan buruk, Luxor"


"Hah! Seakan kamu tidak pernah melakukan kebiasaan buruk"


"Hey!"


Pada akhirnya aku jadi terus beradu mulut dengan semua orang disana selagi Verdea menonton dan mengikuti adu mulut kami


Ketika sesekali aku melihat kearahnya, aku melihat wajah cerianya. Wajah ceria yang tidak bisa kugambarkan kecerahannya sama sekali


Kami terus bercanda sampai waktu makan berakhir


Bahkan, setelah itu dia terus berinteraksi dengan para Elf dengan riangnya sampai matahari terbenam


......................


Setelah malam datang, dia mengucapkan selamat malam kepada mereka dan begitu juga sebaliknya. Aku kemudian mengantarnya kembali ke kamar tidurnya


Dia terbaring di kasurnya dengan matanya yang sudah mulai meredup itu, tapi sebelum dia tidur, dia mengajakku berbicara untuk beberapa saat


"Teman-temanmu itu menyenangkan"


Hm...


"Kalau kamu tahu rasanya berkompetisi dengan mereka, kamu tidak akan bilang begitu"


"Hehe! Tapi aku heran, kenapa telinga panjang kalian bisa bergerak sementara kami para manusia tidak"


"Bisa dibilang itu ciri khas kaum kami"


"Kalian juga berbeda sekali dengan para Elf yang diceritakan di buku"


"Itu karena kami itu salah satu petinggi dari ras masing-masing. Jadi ukuran kami lebih besar dibandingkan Elf lainnya"


"Hm..."


Sebenarnya tidak juga. Kami jauh lebih besar daripada para Elf lainnya karena jumlah Mana kami yang melimpah. Beberapa Elf yang bukan petinggi juga begitu, tapi itu sangatlah jarang


Dia menaikkan selimutnya ke wajahnya


"Aku merasa senang sekali hari ini"


Aku diam terduduk di sampingnya


Aku tahu persis apa yang dia maksud dengan perkataannya itu


"Aku bisa merasa leluasa, interaksiku juga lebih banyak daripada sebelumnya, makanan di meja makanku tidak pernah satu jenis lagi...


Dan juga, aku bisa tertawa dengan banyak orang..."


"..."


"... Tapi, sayang sekali hal ini cuma berlangsung selama sebulan"


"..."


Aku tidak punya komentar apapun untuk perkataannya itu. Perkataannya itu membuatku berpikir, apa yang akan dipikirkan teman-temanku itu ketika mendengar perkataannya


Seandainya mereka bisa berubah pikiran dan bisa menetap lebih lama, aku yakin Verdea akan merasa lebih senang...


...


"Baiklah, kamu tidur saja. Kamu harus bangun pagi besok"


"... Tidak ada gunanya aku bangun pagi. Aku justru tidak mau tidur dan mau terus bersama kalian semua"


Veri...


"Vain... Kamu tidak akan pergi bukan?"


Ah-?


...


...


...


"... Kita akan lihat"


Sejujurnya... Aku juga jadi ragu ingin pergi. Terutama ketika kamu bertanya seakan sedang meminta untuk yang pertama kalinya kepada dunia ini...


...


Dia menutup matanya dan tertidur dengan lelap setelah mendengar jawabanku. Sebuah senyum manis tersirat di wajahnya, seakan dia merasakan kebahagiaan yang tidak akan pernah dia bisa dapatkan lebih dari satu kali


...


Aku tidak yakin jika aku akan meninggalkannya atau tidak nanti. Hal itu membuatku bimbang sekali terutama ketika mengingat wajahnya yang ceria sekali tadi


Aku orang yang buruk. Aku tidak bisa memberikan kepastian yang mutlak kepadanya. Aku hanya memberinya harapan palsu dan kebahagiaan sementara


...


Hah... Aku benci ini...


Aku hanya berharap aku bisa menemukan jalan keluar dari pikiran yang membebaniku ini

__ADS_1


Aku mengucapkan selamat malam kepada Verdea yang tertidur dan perlahan melangkah pergi keluar kamarnya, menutup hari ini dengan pikiran yang akan selalu membebaniku


__ADS_2