
--- Rumah Eleanor, Kota Andromeda ---
Anak-anak ini...
Mereka tidak tahu malu sekali...
Suara bising mereka yang sedang melahap setiap tetes dari sup itu seakan mereka tidak pernah makan sama sekali
Aku meringis malu sebagai guru mereka karena melihat tingkah tidak tahu tata krama mereka yang harus dilihat orang lain seperti ini...
"... Kalian makan lahap sekali ya? Sampai tumpah seperti itu" Eleanor berkata dengan takjub
Verdea langsung mencoba mengatakan "Makanan ini enak", tetapi aku langsung menepis kepalanya agar dia membersihkan mulutnya sebelum bicara
Dia langsung menggerutu, kemudian menarik keluar sapu tangannya untuk membersihkan bekas sup di mulutnya
Maafkan aku karena sudah gagal mendidik mereka...!
Walaupun aku memang senang melihat mereka masih terlihat semangat, aku benar-benar minta maaf dengan sikap mereka...!
Dan aku juga harus mengakui satu hal...
Sup ini memang enak sekali...! Sial...!
Aku ingin menyeruput mangkok ini seperti mereka, tapi harga diriku sebagai seorang raja membuatku harus menahan keinginan itu...
"Sup ini memang enak. Wajar saja mereka berdua makan dengan lahap"
"Kenapa? Tidak pernah memakan sesuatu yang enak?"
"Bukan-! Bukan begitu Nyonya Eleanor... Mereka memang seperti ini sejak kecil..."
"Apa maksudmu Vain?"
"Caramu makan itu luar biasa, Veskal"
Mendengar perkataanku yang ditambah dengan sebuah senyum sarkas, Veskal langsung mengerutkan dahinya dengan wajah kesal untuk merespon
Mangkoknya juga kebetulan sudah kosong, jadi dia langsung menarik sapu tangannya keluar dan membersihkan mulutnya sambil sedikit menggerutu
"... Kalau boleh tahu, sejak kapan Yang Mulia Oberon mulai bersama dengan pangeran Verdea dan tuan Veskal?" Tanya Eleanor
"Hmm.... Sekitar 6 tahun lalu. Lalu, kurangi 5 tahun karena kami terpisah semenjak bencana itu. Aku menemukan anak ini ketika dia diculik di masa aku masih berkelana dulu" Aku menjawab Eleanor sambil mengacak rambut Verdea, membuatnya kesal dan menepis tanganku
"Diculik? Kasihan sekali..." Eleanor langsung terlihat lesu karena sedih. "Orang macam apa yang tega melakukan hal itu...?"
"Keluarganya sendiri. Gampang saja" Aku menjawab lagi sambil menyendok sesuap kuah sup itu. "Dan aku tahu persis siapa"
"... Ibunda Ratu..." Verdea meneruskan dengan wajah lesu, membuat seisi ruangan menjadi sedikit kelam dengan ekspresi sedihnya
"... Ah. Kita tidak perlu membahas hal ini lagi. Bagaimana kalau kita bahas tentang rencana milikmu saja, yang mulia Oberon?"
"Yah, aku ingin membahasnya, tapi ada dua orang dari kelompok kami yang masih sibuk mengerjakan permintaanku"
"Ah. Tuan Alf dan Tuan Zaphir. Tapi, kenapa kamu meminta mereka melakukan sesuatu saat jam makan seperti sekarang?"
"Semua hal yang kami lakukan itu penting untuk rencana ini. Dan lingkaran sihir milikmu itu merupakan kunci utama untuk keberhasilannya"
"Lingkaran sihir? Kamu tidak pernah membahas itu sebelumnya..." Verdea menyela
Veskal juga terlihat bingung dan penasaran dengan maksud perkataanku
"Aku sendiri sebenarnya terkejut kamu mengetahui keberadaan dari lingkaran teleportasi itu, yang mulia Oberon. Solusi itu sebenarnya dikemukakan oleh Yuriel untuk menghindari 'serangan' dari kalian" Eleanor berkata
"Dan sekali lagi aku katakan, mudah sekali menebak hal itu. Nyaris tidak ada bangsawan yang keluar menaiki kereta kuda semenjak 1 tahun kami berusaha menyelamatkan para Elf
Aku menduga agar para bangsawan bisa pergi kemanapun dengan bebas tanpa gangguan ancaman kami, atau untuk menyelamatkan diri saat kami menyerang rumah mereka, mereka mungkin menggunakan sebuah sihir teleportasi. Lingkaran dari sihir itu sendiri pasti diletakkan di suatu ruang rahasia juga" Aku menjawab dengan detil
Ditambah lagi, aku pernah menerobos masuk ke sebuah rumah bangsawan kerajaan Xiang, dan menemukan ruang rahasia itu, ditambah dengan-
...
Dengan-
...
...
Kepalaku sakit mengingatnya...
Setidaknya aku bisa menahan rasa mualku karena mengingat hal itu. Tapi aku masih merasa menyesal tidak bisa lebih cepat menemukan Elf yang bernasib malang itu...
"Berpikir kalau kamu menebak dengan tepat semua hal itu... Kamu memang luar biasa, Yang Mulia Oberon"
"... Aku hanya mengandalkan kepalaku saja. Otakku itu adalah senjata terbesarku"
__ADS_1
"Kata orang yang kekuatan sihirnya minta ampun kuatnya" gumam Veskal ketus
"Kamu ini hanya fokus dengan kekuatan saja. Pantas saja kamu tidak pernah bisa mengalahkan Zaphir dalam duel" Aku membalas
Veskal langsung menggerang kesal, selagi aku menatapnya dengan tatapan penuh kemenangan
Verdea di sisi lain, hanya diam diantara kami dengan wajah datar seakan 'hal ini sudah jadi keseharian'
Eleanor pun tertawa kecil melihat tingkah kami, membuat kami beralih kearahnya
"Kalian ini sahabat yang lucu. Kalian bahkan membuat suasana menjadi hangat untuk orang lain di sekitar, walaupun sedang fokus kepada satu sama lain. Bahkan dengan melihat, semua orang akan tahu kalau kalian itu bersahabat dengan baik" Eleanor berkata dengan senyuman hangat
"Apa benar? Aku justru merasa seperti orang yang sedang mengurus dua bocah nakal" Aku membalas
"HEY!" Sontak Verdea dan Veskal merespon sambil menepuk meja makan dengan cukup keras
"Aku bercanda. Kalian itu imut dan baik...
Seperti anak kecil"
"Itu lebih parah!" Veskal berseru
"... Lebih parah ya?" Tanya Verdea yang bingung
"Memang kamu mau dipanggil anak kecil?"
"... Bukannya kedua celaannya tadi bermaksud sama ya?"
Verdea langsung termenung mencoba mencari jawaban yang tepat selagi Veskal terus bersuara keras mencoba memberitahunya perbedaan dari kedua celaanku itu
Aku hanya menggelengkan kepala mengabaikan mereka sambil melanjutkan menghabiskan sup yang dihidangkan padaku
Hingga, aku menangkap dua orang yang telah datang kembali di sudut mataku
"... Oh! Tamu yang ditunggu sudah datang"
"Sudah menunggu cukup lama, anakku?"
Alf dengan girangnya langsung berlari kearah meja makan dan memilih tempat duduk di sampingku. Tapi sebelum itu, Zaphir menarikkan kursinya sebelum dia mengambil tempat duduk lain
"Bagaimana? Sudah diurus?" Aku bertanya
"Sudah. Albert sedang sibuk memberi mereka semua pelajaran" Alf menjawab
"Untuk mempermudah. Kita semua juga akan rugi kalau pihak kerajaan Crux tahu. Dan aku juga akan melakukan sedikit trik di sekitar kota ini untuk memastikan kita semua bisa aman selama 3 hari ke depan"
"... Kamu benar-benar sudah merencanakan semua hal hm?"
"Yah, begitulah"
"... Kamu itu pemimpin yang luar biasa. Seandainya saja pemimpin kami juga seperti itu"
...
"Jika ada perkataanmu yang tidak aku setujui, aku akan mengatakan yang barusan tadi, nyonya Eleanor"
"Kenapa? Kamu itu sangat berbakat menjadi seorang pemimpin"
...
"... Bakat itu tidak ada gunanya jika kita tidak menikmatinya. Dan karena sifatku yang menolak bakatku itu, aku membuat seluruh kaumku menderita sekarang ini"
Semua Elf yang tidak bisa kuselamatkan itu...
Apa mereka juga bisa mengatakan kalau aku pantas menjadi seorang pemimpin sama seperti Eleanor?
Tentu saja tidak...
Aku ini pemimpin paling mengecewakan, walaupun tidak bersikap buruk selama masaku. Ayahanda berada di sini sekarang, dan aku yakin dia juga setuju dengan pernyataan itu
Namun, mau tidak mau, aku sekarang harus tetap fokus melindungi kaumku dengan segala upaya yang bisa kulakukan
Kewajibanku itu sudah mulai terasa seperti rantai yang mencekik, tapi kepercayaan dari para Elf kepadaku juga tidak seharusnya kuhancurkan dengan mengabaikan mereka dan lebih fokus pada hal lain
Pada ujungnya, perbuatanku sekarang ini hanyalah membersihkan apa yang sudah kubuat berantakan
...
Tapi, kenapa hal itu terdengar seperti aku menyesal telah bertualang selama 20 tahun? Menyesal karena aku sudah berhubungan dengan kerajaan Hortensia? Menyesal aku telah bertemu dengan Verdea dan Veskal?
...
Hah... Membingungkan
Aku tidak paham lagi dengan apa yang kulanturkan
__ADS_1
Semua orang juga jadi hening dan terlihat kalut karena aku tiba-tiba lesu. Aku harus mengganti arah suasana sekarang ini
"Ehem. Terima kasih atas makanannya"
Aku bangun dari tempat dudukku dan pergi menuju pintu keluar dari ruang makan
"Tunggu. Kamu mau kemana?" Tanya Verdea
Aku menoleh kearahnya sejenak setelah aku nyaris keluar dari ruang makan
"Kamu lupa kalau kita harus melatih pengguna sihir Fae? Atau jangan bilang kamu mau malas-malasan?" Aku berkata dengan nada mengejek
"Hah?! Kalau mau pergi katakan! Aku menunggumu dari tadi, bodoh!" Dia berkata sembari berlari dan mulai berjalan bersamaku
Selama kami berjalan pun, dia terus melontarkan protes kearahku selagi aku membalasnya dengan nada mengejek
Dan semua orang yang masih tertinggal di dalam ruangan itu masih terlihat kalut, belum memindahkan suasana hati mereka
"Hmph... Dia pasti berpikir lagi kalau aku membuat kesalahan telah memilihnya sebagai Oberon..." Alf berkata dengan nada keluh, kemudian mengaduk sup di depannya
"... Maaf kalau aku bertanya, tapi... Menurut kalian... Dia sendiri bagaimana?" Tanya Eleanor
"Bagaimana apa?"
"Bagaimana dia, sebagai seorang pemimpin di mata kalian"
...
Eleanor hanya dijawab dengan keheningan dari semua mulut teman-temanku
Kecuali...
"Aku tidak akan menyembunyikan hal ini. Dia payah" Veskal menjawab
"Dia tidak tahu cara mengatur apapun selama kami masih tinggal di Kastil Thyme dulu. Dia membagi tugas yang membebani kami, dia selalu menuruti perkataan Verdea soal makanan walaupun harganya akan mahal, dan dia sama sekali tidak belajar dari hal itu. Kami harus membantunya dalam mengerjakan semua hal, orang itu" Dia meneruskan sembari memutar gelas minumnya perlahan
"Sudah cukup! Aku akan memotong lidahmu kalau kamu meneruskannya, bocah!" Zaphir menyela
"Tapi, dia tidak pernah memilih menjadi seorang pemimpin, seperti yang dia katakan secara tidak langsung tadi"
"...!"
Dengan satu tegukan yang menghabiskan isi gelas itu, Veskal pun kembali meneruskan perkataannya
"Sama seperti Verdea. Dia sama sekali tidak memilih menjadi seorang pangeran, tapi Tuhan justru berkata begitu"
"... Apa tujuanmu berkata begitu, tuan Veskal?" Tanya Eleanor
"Mudah. Pangeran yang tidak menginginkan statusnya, dan raja yang tidak menginginkan kuasanya. Mereka berdua dibuat untuk membantu sama lain, sama seperti yang mereka lakukan sekarang
Mereka secara tidak langsung mendorong satu sama lain untuk mencintai diri mereka masing-masing. Dan aku yakin, jika salah satu dari mereka sudah menerima diri mereka, yang satunya pasti akan mengikuti
Tidak mau kalah dengan satu sama lain juga adalah sifat yang mereka miliki" Veskal kembali berucap panjang lebar
"... Kamu yakin sekali bocah itu bisa menolong Oberon. Bagaimana jika tidak?" Zaphir menyela lagi
"Hah~ Mau taruhan berapa?"
Zaphir pun hanya bisa menggerang kesal karena wajah percaya diri yang ditunjukkan Veskal
"Aku tahu dia akan berubah, tapi aku yakin bukan karena bocah itu. Vainzel sangatlah mudah beradaptasi dalam berbagai hal, dan aku sangat tahu batas dari kemampuannya itu, bukan sepertimu, bocah"
"Tidak. Aku setuju dengan Veskal dalam situasi ini"
"Elf Agung?!"
Zaphir terkejut mendengar respon Alf yang tidak mendukung dirinya itu sama sekali
Alf hanya tersenyum dengan tatapan lembut, merespon Zaphir yang masih syok
"Mereka berbeda, tapi memiliki keinginan yang sama. Kesamaan itu akan membuat mereka paham dengan jalan pikiran satu sama lain, dan pada akhirnya, mereka akan mencoba melengkapi satu sama lain untuk membuka diri pada diri masing-masing
Mereka bisa berteman dengan cepat bukan karena kebetulan atau takdir belaka. Itu karena mereka bisa menemukan orang yang bisa paham dengan diri mereka. Mereka butuh orang itu. Dan tanpa mereka sadari, mereka pun mendekat kepada satu sama lain untuk saling membantu"
"Ayah dari para Elf memang sangat luar biasa. Penjelasanmu sangatlah tepat seperti pikiranku" Veskal berkata dengan senyum di wajahnya
Dia kemudian bangun dari tempat duduknya
"Baiklah, aku akan pergi menyusul mereka berdua. Verdea akan berisik kalau aku tidak mengikuti mereka"
Pergi dari ruangan itu, dia meninggalkan mereka bertiga yang masih duduk
"... Kalian memang luar biasa. Aku sudah menduganya sejak awal" Eleanor bergumam di balik kipasnya
"Aku jadi semakin penasaran untuk berdiri diantara kalian"
__ADS_1