
--- Malam itu, di tempat Eleanor tinggal ---
"Tidak Albert. Kami harus membuatnya lebih kecil. Aku tidak mungkin membawa batu Mana sebesar itu"
"B- begini?"
Kedua orang itu terlihat linglung hanya karena membuat beberapa batu sihir
Si wanita terlihat sangat kewalahan dan letih karena Mana-nya mulai terkuras, sedangkan si pria terlihat sangat kaku dalam membuat sebuah batu kecil saja
Di tengah itu, Veskal pun muncul dari balik pintu ruangan tempat mereka bekerja
"Malam. Maaf jika aku mengganggu"
"Tenang saja. Kamu tidak mengganggu" Eleanor membalas
Dia tidak lama langsung kembali fokus untuk memusatkan Mana-nya di dalam batu sihir
"Veskal. Bantu aku" Albert meminta
Veskal yang daritadi hanya berdiri pun langsung menghela napas. Mau tidak mau, karena dia sudah datang, dia pun harus membantu Albert dan Eleanor
Dia duduk tepat di samping Albert. Di hadapannya dipenuhi oleh Mana yang sudah membatu dan beberapa serpihannya setelah dikikis. Sebuah batu kristal sebesar buah semangka terlihat duduk di tengah meja itu
"Jadi, aku harus menggunakan ini?" Veskal mengangkat sebuah alat berbentuk seperti pemahat
"Betul. Tapi potong kristal besar itu menggunakannya. Jangan langsung dikikis"
"Dimengerti"
Tetapi...
Jika ada pemahat, selalunya ada palu bukan? Kenapa disini tidak ada?
"Dimana palunya?"
"Tidak ada. kikis saja sebagian kristal itu dengan tanganmu"
"Batu keras ini harus kukikis dengan tenaga sendiri?"
Veskal mengetuk kristal besar itu. Dari apa yang baru saja dia lakukan saja, dia langsung tahu kalau benda itu lebih keras dari berlian
"Batu itu tidak keras kalau kamu tahu cara membuatnya lunak. Itu Mana, kamu tahu?"
"Begitukah...?"
Perlahan, dia memerhatikan kembali kristal besar itu. Dia mulai mencoba mengingat kembali tentang pelajaran sihir yang kuajarkan kepada dirinya dan Verdea
Mana tidak lebih jauh dari darah. Yang berbeda hanyalah kita bisa mengontrol mereka. Darah bisa membeku, begitu juga Mana. Jadi, Mana juga bisa cair, sama seperti darah
Bedanya hanyalah, kita bisa mengontrol Mana menjadi cair atau padat
"Hup"
Dengan satu ayunan jari, sebagian kecil dari batu itu terpotong secara Vertikal. Sebelum dia terjatuh, Veskal sempat menangkapnya dengan hati-hati, kemudian kembali mengeraskannya untuk sementara
"Lihat? Kamu alami dalam hal ini" Albert berkata sembari tersenyum
"Bagaimana? Dia bisa bukan?" Eleanor bertanya
"Aku bisa" Veskal langsung merespon
Eleanor mengangguk paham, kemudian mengambil batu mana yang dioper oleh Albert
"... Melihat dari sikap kalian sekarang, sepertinya hal ini sudah biasa ya?" Veskal bertanya
"Tidak setiap hari. Ini biasanya kulakukan ketika dulu suamiku masih hidup"
"!!!"
'Ah, sepertinya aku memicu pembicaraan yang salah', Veskal berpikir
"Kamu tahu suamiku? Dia itu tidak memiliki sihir sepertiku, tapi dia sangat hebat dalam memimpin. Dia juga pintar dan wajahnya sempurna"
__ADS_1
Eleanor tetap melanjutkan perbincangan itu. Rasa penasaran Veskal pun mulai muncul kembali, dan secara tidak sengaja, dia melontarkan sebuah pertanyaan
"... Lalu, apa yang terjadi padanya?"
"Dia mati akibat pemberontakan Eloy untuk merebut takhta 9 tahun lalu. Eloy mengeksekusinya tepat di hadapanku, karena dia tidak mau tunduk"
"..."
Cerita yang mengenaskan. Tapi entah bagaimana, walaupun berkaitan dengan suaminya, Eleanor menceritakan hal itu seperti sebuah bahan perbincangan biasa
"Aku kasihan pada suami mu..." Veskal bergumam
"Tidak perlu. Itu pesan terakhirnya padaku sebelum dia dieksekusi"
"... Tapi, bukannya menyedihkan ketika kehilangan orang yang sangat kamu hargai dan cintai?"
"Veskal!"
Albert menyela pembicaraan itu. Tetapi, Eleanor langsung memberinya isyarat untuk tetap tenang
"Aku... Bohong jika bilang aku tidak merindukannya. Hanya saja..."
"... Apa?"
"... Dia ingin aku merasa bangga dan terus mewarisinya"
"... Itu tidak akan cukup bukan? Untuk memuaskan hatimu"
"Untuk apa aku harus memuaskan hatiku dengan cara itu? Ada banyak cara di dunia ini, dan masing-masing orang menentukannya secara mandiri bukan?"
"..."
"Suamiku, dia mati dengan hati yang puas. Dia puas karena dia tahu aku akan terus menjaga kota milik keluarganya itu. Dia tidak tahu aku akan lebih baik atau tidak, tapi dia sudah puas karena akulah yang mewarisinya
Dia mati dengan tenang, itu sudah cukup untukku. Habisnya, aku memang mencintainya"
"..."
Dia... Benar
Pundak dan punggung wanita itu terlihat kecil dan lemah, tapi dia terus menanggung banyak beban. Sama seperti...
Dua orang teman, aku dan Verdea
"... Aku selalu merasa lemah di hadapan orang seperti kalian" Veskal bergumam
Dia perlahan mulai mengerjakan memahat batu Mana itu
Albert melirik kearahnya karena tidak sengaja mendengar gumaman itu
"Merasa lemah?" Albert bertanya
"... Intinya aku ingin menjadi kuat saja. Jika tidak untukku, aku ingin lakukan untuk mereka"
"..."
Batu pertama yang dipahat oleh Veskal pun selesai. Namun, dia meletakkan batu itu di sisi meja dan tidak langsung melemparnya ke Eleanor seperti Albert
"... Kamu hebat dalam hal ini" Albert memuji
"Benarkah? Aku tidak yakin ini cukup sempurna"
"... Um... Veskal"
"Kenapa?"
"Aku sadar ketika dalam perjalanan ke Miralius waktu itu, kamu selalu mencoba memaksa diri untuk membantu"
"..."
Memaksa diri...
"Habisnya, aku tidak ingin tertinggal oleh mereka. Aku... Tidak ingin ditinggalkan lagi. Tapi aku tahu mereka tidak akan berhenti"
__ADS_1
...
Veskal menunduk gusar
Yang dia inginkan hanyalah menjadi kuat. Agar semua orang bisa dia kejar dengan mudah. Agar Verdea bisa hidup dengan tenang dan tidak sepertinya. Agar aku tidak terbebani sendiri lagi
Jalan kami masih panjang. Dan selama jalan itu, dia hanya bisa melihat kami dari belakang. Mendorong kami, dan menyingkirkan apapun itu yang mengganggu. Tetapi, dia ingin mengejar kami berdua
Dia tahu dia tidak akan bisa istirahat karena kami bergerak cepat, tapi dia ingin mengejar kami. Kami sama sekali tidak jauh darinya, tapi seakan ada sebuah kekuatan kuat yang tidak terlihat sedang membatasi kami berdua dengan dirinya, membuatnya tidak bisa mengejar kami walaupun dia merasa mampu
Ketika dia berhasil mengejar kami, dia hanya ingin menarik kami agar berjalan perlahan saja. Menikmati perjalanan itu bersama teman-teman kami, itu yang seharusnya dilakukan bukan?
Tapi dia tahu kalau kemampuannya sekarang ini masih tidak cukup. Masih banyak hal yang harus dia lakukan. Bahkan walaupun dia sudah sempat memberitahuku aku harus beristirahat, dia yakin kalau itu tidak akan cukup
Dan untuk sekarang...
"Aku mohon, Nyonya Eleanor. Ajarkan aku alkimia"
"... Belajar sihir dan teknik pedang masih tidak cukup untukmu?" Eleanor bertanya
"Seperti yang dikatakan Albert, aku hanya ingin memaksakan diri. Dunia ini sangat tidak adil jika kita tidak memiliki kekuatan dan usaha. Jadi, aku ingin mempelajari banyak hal untuk melindungi semua orang"
"... Kamu sangat membebani diri sendiri ya? Sama seperti kedua orang itu"
"Kalau aku tidak melakukannya, mereka berdua tidak akan berhenti. Aku ingin menghentikan obsesi mereka itu terlebih dahulu"
"... Yah, kamu ada benarnya"
Eleanor bangun dari tempat duduknya, kemudian memerhatikan batu yang sudah dipahat oleh Veskal itu
"Tapi, aku yakin kamu bisa melakukan ini"
"Terima kasih"
Veskal menunduk senang. Dia akhirnya bisa mempelajari hal baru lagi
"Aku hanya punya satu syarat, dan satu hal itu cukup simpel"
"Heh? Apa?"
Eleanor tersenyum kecil kearah Veskal dan berkata, "Apapun yang terjadi selanjutnya, jangan pernah kamu tunjukkan penyesalan. Karena itu adalah hal terbaik untuk dirimu"
Mata Veskal langsung berbinar kagum. Dia kemudian mengangguk merespon Eleanor sambil tersenyum
Eleanor pun membalas senyumannya itu
"Baiklah Albert. Aku tinggalkan pelajaran untuknya padamu"
Albert langsung terkejut dan memasang wajah tidak terima. Tapi apa yang bisa dia katakan. Itu perintah tuannya, dan dia pun hanya menerima nasib
Veskal juga berpikir kalau dia akan dilatih langsung oleh Eleanor, tapi tidak disangka Albert yang harus repot-repot
Tapi yah, yang penting ada yang berniat mengajarinya
Dia pun mendekatkan kursi duduknya kearah Albert, membuat Albert merinding panik
"Mohon kerjasamanya, sepupu Albert"
Albert pun menghela napas panjang dalam menanggapi perkataan Veskal itu
Eleanor sendiri hanya tersenyum melihat Veskal karena kagum akan tekadnya
"Hah... Kedua sepupu itu benar-benar tidak jauh berbeda" Dia bergumam pelan
Di menit selanjutnya, pintu ruangan itu terbuka lagi. Verdea masuk ke dalam ruangan itu, dan matanya langsung tertuju kearah Veskal
Dia terlihat terengah-engah karena habis panik. Veskal bertanya-tanya kenapa, dan dia langsung mendekat kearah Verdea untuk menenangkannya
"Veskal!!" Verdea tiba-tiba berseru
"Halo? Ya!? Kenapa Verdea?" Veskal merespon dengan terkejut
"Aku sepertinya melakukan kesalahan besar..."
__ADS_1
"... Hah?"