
--- Kastil Rose ---
"Jadi begitu. Mereka sudah bergerak"
"Ya. Hamba sudah mengkonfirmasinya"
"Kerja bagus. Sekarang istirahatlah"
"Terima kasih atas kebaikanmu, tuan putri. Semoga bunga selalu bermekaran bersamamu"
Orang itu melangkah pergi dari hadapan Rosalia. Di waktu dia sudah cukup jauh dari ruang kerja Damien, Rosalia langsung melirik kearah sebuah sudut ruangan yang berbayang-bayang
Damien yang daritadi duduk membeku di kursinya itu langsung berkeringat dingin ketika sebuah sosok berjubah hitam muncul dari dalam bayangan
"R- Rosalia. B- Boleh jangan panggil... Orang itu sekarang i- ini?"
"Oh?! Yang mulia Damien takut kepadaku?"
"Sudahlah Yael. Ambil tempat dudukku"
Yael yang berniat menggoda Damien pun segera bergerak ke samping Rosalia dan duduk diatas kursi yang sama dengannya
Artorius yang daritadi berdiri di dekat Damien hanya bisa memasang wajah gelisah melihat bagaimana anggota keluarganya berinteraksi dengan satu sama lain
"Kamu sudah dengar bukan?"
"Ya. Tapi, aku heran kenapa kamu tidak menghentikan mereka pergi ke Xiang"
Rosalia tersenyum, selagi menyeruput tehnya yang masih hangat itu perlahan
"Aku ingin dengar dari kakak terlebih dahulu. Kenapa menurutmu aku tidak menghentikan Verdea dan Oberon pergi ke Xiang untuk menyelamatkan Veskal?"
"A- Aku... Aku-"
"Jawab. Tidak perlu tegang"
Walaupun mereka tidak berniat agresif, Damien masih gemetar seakan dia sedang ditodong oleh sebuah pisau di wajahnya
"... Rupanya tidak ada jawaban..."
"Lihat dia gemetaran seperti seekor anjing yang baru saja dipukuli~"
"Kiasan mu itu menyedihkan sekali, Yael"
"Tapi benar bukan? Aku heran kenapa orang pengecut ini bisa menjadi seorang raja yang seharusnya bersikap gagah"
Rosalia tidak bisa menolak kebenaran perkataan itu
"Dia hanya topengku. Aku bisa memusnahkannya kapanpun itu, tapi aku lebih memilih menjalankan semua rencanaku dengan tidak terlalu berpatokan kepada kekuatanmu semata"
"Wah~ Tuanku bersikap baik kepadaku~!"
"Perlu kusuguhkan teh untukmu?"
"Boleh!"
Damien masih duduk diam, membeku. Entah kenapa dia begitu. Dia itu seorang raja, tapi entah kenapa dia tunduk kepada orang yang tidak memiliki posisi tinggi di mata publik
'Kenapa', adalah pertanyaan yang terngiang di kepalanya. Menjadi seorang raja adalah targetnya selama ini. Tetapi ketika dia sudah duduk di takhta, dia justru menjadi sebuah boneka di tangan adiknya sendiri
Dia ingin melakukan sesuatu, tapi entah apa yang bisa dia lakukan ketika orang itu selalu ada di dekat Rosalia
Penyihir hitam Yael, yang entah dari mana asalnya. Dia selalu mengikuti Rosalia, kemanapun itu
Artorius terus mengamati semua itu, tapi kepala dan hatinya sakit ketika melihatnya
"... Suguhkan untuk kakakmu juga, aku mohon" Artorius berucap, melihat Damien yang masih kaku
"Boleh. Aku sedang merasa sangat senang hari ini, jadi akan kulakukan"
Rosalia menyerahkan cangkir milik Yael terlebih dahulu, kemudian mulai membuatkan satu untuk kakaknya
"Senang?" Artorius bertanya
Sesuatu yang jarang dia dengar dari Rosalia. Menurutnya, kata 'senang' dan 'Rosalia' tidak pernah menyatu sama sekali selama ini
"Ya, aku senang. Walter mati, Veskal berhasil dijadikan umpan, dan kedua musuhku itu berjalan langsung ke jebakan yang kubuat"
"Jebakan?"
"Betul, betul. Jebakan untuk kedua musuhku. Dan aku tidak bicara tentang Verdea dan Vainzel saja"
...
__ADS_1
"Tidak mungkin..."
Rosalia tidak perlu menjelaskan lagi. Artorius sudah tahu arti dari perkataan itu
"Bagaimana bisa kamu menganggap yang mulia Shen sebagai musuhmu? Kalian bersekutu bukan?" Artorius bertanya dengan penuh rasa terkejut
"Aku tidak perlu menjelaskannya. Kamu cerdas bukan? Jadi, gunakan kepalamu itu"
...
Tapi...
"Lalu, apa kaitannya semua itu dengan kematian temanmu Walter? Kenapa bisa kamu senang dengan kematiannya?"
...
Rosalia ingin tertawa lagi, tapi dia justru hanya menaruh cangkirnya diatas meja
"Teman? Itu sebuah ungkapan paling lucu yang pernah kudengar dari seseorang
Aku tidak pernah punya teman. Hanya rekan kerja"
"Kamu bercanda..."
"Tentu tidak, Ayah. Aku tidak pernah bercanda, tidak seperti kakakku yang bodoh itu"
Damien yang baru saja tersindir itu sama sekali tidak berkutik. Dia benar-benar tunduk di bawah perkataan Rosalia, bahkan sampai mengangkat kepala saja tidak berani
"Oh tuanku, aku juga mendengar dari salah satu anggota pasukan Vampir kalau Collin sekarang ini ada di Xiang. Mereka menawan dirinya disana karena ketahuan sebagai orang asing yang berkeliling di area Xiang" Yael berkata
Tapi, dibandingkan senang karena sudah menemukan adiknya, Rosalia hanya menghela napas panjang
"Kenapa coba dia harus ditangkap oleh Shen? Aku harus membuat para bawahanku untuk bekerja sedikit lebih keras jadinya..." Dia mengeluh kemudian, meneguk tehnya
Rosalia pun berpikir apa yang harus dia lakukan untuk perkara itu
"Suruh saja Darwin untuk datang kesana saat malam. Kita buat saja dia sebagai alat penengah antara kubu kita dengan mereka, dengan mengirimnya untuk melindungi Xiang. Aku ingin menyingkirkan Vampir tidak berguna itu selanjutnya"
Artorius dan Damien tersentak mendengar respon Rosalia itu. Apa yang mereka baru dengar itu sangat tidak masuk akal, hingga mereka harus memproses kebenarannya
"Tunggu, kamu akan membunuh Darwin menggunakan Xiang juga? Tidak kreatif sekali~" Yael berkomentar
"Yang terpenting adalah seberapa efektifnya rencana ini bisa berjalan. Jika Darwin dan Walter tewas, kita tidak akan memiliki pemberontak yang perlu dikhawatirkan. Praktis bukan?"
Rosalia tertawa kecil mendengar Yael yang nadanya mirip seperti anak kecil itu
"Kamu seharusnya sudah tahu kalau orang itu sama sekali tidak terduga dan serius ketika melakukan sesuatu. Kita juga harus bermain seperti itu
Lagipula, kita mungkin bisa mendapatkan satu atau dua hal tentang kekuatan yang masih mereka sembunyikan~" Dia menambahkan
Yael mengangguk paham selagi tersenyum sinis
"Kamu benar, tuanku. Mereka akan menyangka kita kalah, tapi sesungguhnya kita juga menang dalam lebih dari satu hal~"
Wajah berseri-seri mereka pun muncul selagi mereka membahas detail rencana Rosalia lagi
...
Pemikiran anaknya itu membuat Artorius merinding. Emosi yang dia rasakan sekarang ini kepada anaknya...
Ketakutan...
Bagaimana bisa dia tersenyum seperti itu setelah mengatakan suatu hal yang tidak manusiawi? Dia tahu kalau Darwin adalah monster, tapi menyingkirkan rekan yang sudah membantunya adalah salah dari sudut pandang mana pun
Artorius bahkan tidak tahu, kalau anaknya ini masih manusia atau sudah tidak lagi
"Kenapa...? Kenapa kamu setega itu kepada manusia lain...?" Artorius menyela perbincangan mereka berdua, hingga Rosalia terpaksa berbalik setelah menghela napas
"Kamu bicara pada dirimu sendiri atau semacamnya?" Rosalia membalas
Artorius tersentak
Kata-kata yang baru saja dibalikkan kearahnya itu membuatnya merasa kaget, karena dia sama sekali tidak menyangkanya
"... Rosalia aku mohon. Hentikan semua kegilaan ini. Demi dirimu sendiri, jangan buat dirimu tersakiti"
...
"Ini kesebelas kalinya aku mendengar kamu mengatakan hal itu. Aku jadi lelah mendengarnya"
"Tapi kamu harus dengar peringatanku! Oberon tidak akan mengampunimu jika kamu terus-!"
"Terus melakukan sesuatu yang benar?"
__ADS_1
...
"Sesuatu yang benar...?"
Apa yang benar dari perbuatannya itu?
"Nilai dari apa yang kulakukan berbeda seiring bagaimana setiap orang melihatnya. Tapi, aku melihatnya sebagai tindakan yang baik, dan hanya itu yang akan kukatakan untuk saat ini
Aku tahu betul kamu itu memata-mataiku untuk Oberon, tepat disaat kamu dikirim kemari olehnya"
...
Artorius sudah tahu betul kalau niatnya terbongkar sejak awal, bersamaan dengan Rosalia. Sekarang ini, dia lebih khawatir dengan apa yang dimaksudkan Rosalia dengan sesuatu yang baik itu
"... Kamu- Kamu tidak mungkin serius. Sesuatu yang baik?"
"... Kenapa kamu ikut gemetaran juga sekarang, Ayah?"
"Karena apa yang kamu katakan itu tidak masuk akal sama sekali"
"Oh. Maksudmu hanya karena aku memusnahkan sebagian manusia di Vitario dengan Blood Sabbath, lalu membuat sistem pemerintahan baru menggunakan kakak sebagai boneka, lalu menyeret para Elf yang tidak berdosa kedalam masalah ini, lalu..."
"Cukup Rosalia"
Sikap santainya ketika menjelaskan semua kejahatan yang dia lakukan itu membuat Artorius merinding. Berpikir kalau Rosalia adalah anak perempuan yang dia sayangi dulu...
"... Sungguh aneh. Aku pikir kejahatanku itu tidak seberapa dengan apa yang kulakukan dulu"
"... Jangan membahasnya sekarang"
...
Artorius yang terlihat tunduk itu mulai membuat Rosalia tersenyum lebar melihatnya
"Ayolah itu cerita favoritmu ayah! Kamu paling suka cerita misteri, apalagi ketika waktu itu, entah bagaimana seorang anak berumur 5 tahun meracuni istrimu tercinta hingga dia-"
"Rosalia!!"
Artorius berteriak dengan keras hingga Damien saja mengangkat kepalanya karena kaget
"A- Ayahanda..." Damien bergetar ketakutan
"... Kenapa marah, hm? Bukannya kamu senang menuduhku telah melenyapkan Marianne selama ini?"
Menyadari reaksi dadakannya itu, Artorius langsung gemetar. Sebuah reaksi yang spontan dia keluarkan karena memori yang tidak ingin dia ingat kembali
"... Aku- Aku tidak mengatakan hal itu. Aku-"
...
"--- Aku ingin minta maaf selama ini. Aku geram di hari itu ketika mengetahui cangkir teh yang kamu suguhkan kepadanya berisi racun dan-"
Tapi...
Dia tidak bisa terus bicara lagi setelah matanya terpaku ke Rosalia
Artorius terbelalak melihat Rosalia mengangkat salah satu tangannya untuk menghentikan perkataan tidak berguna itu. Tangan kirinya memegang bagian atas hidungnya itu karena dia terlihat pusing, membuat Artorius semakin kehilangan harapan karena sadar anaknya itu sudah tidak akan mendengarkan dia lagi
Sudah terlambat...
"Simpan permintaan maaf mu itu. Kamu terlambat mengatakannya selama belasan tahun semenjak kamu memiliki kesempatan" Rosalia berkata, geram
Belasan tahun Rosalia menderita akan penuduhan. Kasus itu ditutup dengan ketat berkat Yuriel yang menyelamatkan cucunya itu, dengan alasan Marianne mati akibat penyakit, karena kebetulan saja racun yang digunakan membuat gejala kepada seseorang sehingga mereka terlihat sedang sakit demam
Tapi dia masih menderita. Tidak akan ada lagi yang bisa menggantikan rasa pedih di hatinya itu sepeninggal Marianne. Dan Artorius tahu betul akan hal itu
"Anakku-"
"Sejak kapan kamu menganggapku sebagai seorang anak, ayah?"
Dia tidak bisa menjawab. Tidak ada lagi yang bisa dia katakan untuk meyakinkan Rosalia dan merubah tujuannya
Yang dia bisa lakukan hanyalah menerima fakta bahwa dia sudah ditinggalkan jauh oleh anaknya yang bernama Rosalia itu
"Teh milikku sudah habis. Boleh tambahkan?" Yael menyela tanpa pamrih, selagi menyodorkan gelas teh nya kearah Rosalia
"Buat sendiri. Dasar rakus"
"Heh~? Ayolah tuanku~"
Fakta kalau dia lebih dekat dengan sesuatu yang... Jahat... Dibandingkan dengan keluarganya sendiri...
Artorius hanya menyesal melihat semua itu. Tapi, tidak ada lagi yang bisa dia lakukan untuk mengubah dan menarik kembali anaknya itu
__ADS_1
Dia sudah terlalu jauh tenggelam di dalam lubang kesengsaraan. Semua hal yang dia lakukan adalah bentuk balas dendamnya kepada dunia