Book Of Flowers

Book Of Flowers
Pangeran dan Pengawal


__ADS_3

--- Kastil Rose, Kota Hortensia ---


Verdea terduduk bersandar kepadaku yang duduk di sampingnya. Dia terlihat lesu sekali dari tadi dan apapun yang kulakukan sama sekali tidak menghiburnya


Aku paham kenapa dia begitu. Kami juga dibawa paksa kemari ke area istana. Tapi mau tidak mau, kami tetap berakhir disini


Pria berambut hitam itu juga kasar sekali padaku. Seenaknya saja dia mengikat tanganku dengan paksa dan memisahkan Verdea dariku


Padahal Verdea jelas-jelas meronta karena tidak ingin menjauh dariku, tapi mereka malah menggendongnya paksa dan melemparku kedalam kereta tawanan. Verdea bahkan harus bersikeras agar aku tidak terpisah darinya, dan disinilah kami berakhir


Juga, orang itu sepertinya dekat dengan raja, tapi itu tidak memberikannya hak untuk melakukan kekerasan seperti itu. Perlakuan orang itu saja sudah membuat gambaran buruk para penduduk istana di pikiranku


Aku ingin kabur bersama Verdea. Aku yakin dia juga menginginkan hal yang sama. Tapi aku tidak yakin dia tidak akan terluka jika kami melakukannya


Para prajurit yang menjaga kami juga mengatakan kalau beberapa keluarga kerajaan akan menemui kami secara langsung. Jadi aku dan Verdea dipaksa menunggu di sebuah ruang pertemuan dengan banyak orang yang mengawasi kami


Kami hanya duduk dengan tenangnya, menunggu para keluarga kerajaan itu datang


Karena bosan, mataku kemudian menuju ke seluruh ruangan kami berada sekarang ini


Untuk ruang pertemuan, tempat ini besar sekali. Meja kayu jati dilapisi cat yang tebal dan diukir dengan cantik, terbentang panjang di tengah-tengah ruangan. Ukurannya yang sangat panjang saja hampir memenuhi panjang ruangan ini


Langit-langit yang tinggi, dihiasi oleh lampu gantung yang sangat besar dan mengkilap. Ditambah dengan cahaya matahari yang menimpanya dan membuat pantulan yang menyilaukan


Rak-rak buku yang terisi buku-buku untuk hiburan terbaris rapi di dua ujung ruangan. Aku menduga buku-buku itu digunakan untuk hiburan selama menunggu disini, tapi sepertinya tidak terlalu digunakan mengingat ruangan ini hanya satu dari sekian ruangan pertemuan lainnya


Tapi tempat ini cukup rajin dibersihkan walaupun kesannya tidak terlalu sering digunakan


Mataku terus menuju kesana kemari melihat apa yang ada di sekeliling, selagi Verdea terus bersandar kepadaku dan tetap diam tanpa membuka mulut sedikitpun


Tiba-tiba seorang prajurit menyingkap kerudung jubah milikku. Karena kaget, aku refleks membantingnya keatas meja sambil memakaikan kembali kerudungku. Meja itu tentu jadi retak sedikit akibat tindakanku, dan suara terbanting yang dibuat prajurit itu sama sekali tidak membantu fakta kalau aku membantingnya dengan keras


Semua prajurit yang melihatku kaget dan berusaha melepaskan pegangan tangan kananku dari prajurit itu dengan mengancam memakai senjata mereka. Tapi aku masih mengeratkan peganganku karena refleks-ku menandakan bahaya entah kenapa


"A- aduh duh! Yang mulia- A-! Sudah tiba!"


Oh!


Aku spontan melepaskan genggamanku dari prajurit itu dan membantunya bangun. Hanya karena aku mendengar kata 'yang mulia' keluar dari mulutnya


"M- maaf..."


"Cih. Dasar bajingan"


Prajurit itu melangkah ke sudut ruangan sambil terus memberi tatapan kecut kepadaku


Aku sudah minta maaf bukan...?


Lagipula salahnya juga menyingkap kerudungku tanpa izin


Suara terbuka pintu ruangan kemudian terdengar. Aku dan Verdea berdiri bersampingan, menghadapi pintu itu


Seorang pria berambut pirang tebal yang disisir rapi dengan pakaian berwarna biru yang terkesan megah itu masuk ke dalam ruangan


Dia diikuti oleh seorang wanita dan beberapa pelayan. Wanita itu masuk dengan cara yang elegan dengan gaun merah gelap yang cocok sekali dengan rambut pirangnya itu ketika kulihat


Dari penampilan mereka, aku langsung bisa menangkap kalau mereka adalah sang raja dan sang ratu


"Semoga bunga Hortensia mekar bersamamu!" Seru semua prajurit disana ketika sang raja dan ratu berniat untuk duduk


Aku dan Verdea kemudian duduk kembali ketika sang raja sudah memberi isyarat. Kami ternyata duduk dekat dengan mereka sehingga membuatku merasa menggunakan ruang formal seperti ini tidak diperlukan sama sekali


"Semoga bunga Hortensia mekar bersamamu" Aku memberinya sebuah salam


"Terima kasih. Aku harap kami tidak terlalu lama menuju kemari" Artorius membalasnya, ditambah sebuah senyuman


Aku sebenarnya ingin mengadu kalau kami sudah menunggu 3 jam tanpa melakukan apapun selain diawasi ketat disini, tapi biarkan saja. Terutama...


Melihat ekspresi sang raja terhadap meja retak ini, sebaiknya aku tutup mulut saja dan mengikuti alur pembicaraan...


"Tidak apa-apa yang mulia. Kami-"


"Kalian lambat"


...


Veri...


Anak ini bicara seperti dia yang menguasai seluruh keluarganya. Aku tersenyum canggung melihat anak yang menatap tajam ayahnya itu, seakan dia ingin menerkam orang di hadapannya


"Pangeran, aku mohon..." Aku menyela untuk meringankan suasana


"Panggil namaku saja kenapa coba?" Dia justru protes


Tentu saja tidak bisa! Kamu mau kepalaku dipenggal karena tidak sopan apa?


"Rasanya... Kamu semakin tidak sopan sejak kita terakhir bertemu. Itu membuatku sedikit sedih..." Artorius berkata


Verdea yang mendengar perkataan ayahnya itu tiba-tiba terlihat geram


"Kita terakhir bertemu 6 bulan lalu, ayahanda. Aku tidak perlu perkataanmu yang tidak berguna itu"


T- tunggu dulu


Suasananya menjadi terasa berat dan dingin. Sang raja dan Verdea terlihat kesal sekali. Sang ratu sama sekali tidak berbicara, tapi ketika kuperhatikan wajahnya, dia seperti sedang mengutuk Verdea di dalam hati


Apa-apaan keluarga ini coba??


"Baru bertemu lagi dan begini perlakuanmu kepadaku?"


Sang raja sepertinya mulai tidak senang. Nadanya yang tenang dan dingin saja tiba-tiba terdengar naik sedikit


Sang ratu kemudian menyela diantara pembicaraan mereka berdua


"Abaikan saja itu yang mulia, dan langsung ke intinya saja. Anak itu memang tidak tahu diri seperti ibunya" Sang ratu berucap


Aku harap aku tidak perlu mendengar kalimat itu barusan...


"JANGAN BAHAS SOAL IBUKU!"


Dan aku harap Verdea tidak merespon kalimat itu barusan... Tapi ya sudah


Verdea bahkan tiba-tiba menghantam meja di depan kami. Dia terlihat kesal dan badannya gemetar seperti dia bisa menangis kapan saja. Matanya dengan tajam menatap kearah sang ratu, dimana wanita itu juga membalas tatapan milik Verdea. Mereka sungguh ingin membunuh satu sama lain


Baiklah. Ini sudah berada diluar kendali dengan sangat cepat-


"Jangan naikkan suaramu itu kearahku!" Sang ratu membalas


"Yang mulia, tolong tenang" Aku mencoba menengahi tapi sepertinya tidak berhasil

__ADS_1


"Kamu menyingkir saja dari masalah kami. Anak ini sudah tidak sopan sejak kecil, bagaimana bila besarnya?"


Dan sekarang dia marah kepadaku...


"Celeste, sudah"


Sang ratu kemudian menenangkan dirinya setelah sang raja berucap. Aku hanya diam dan mengarahkan Verdea untuk duduk kembali. Tapi tatapannya terus memaku kearah sang ratu tanpa sedikitpun berkedip


"Baiklah"


Sang raja kemudian mengalihkan pandangannya kearahku


"Aku mendengar kabar dari tangan kananku Edwin kalau kamu ditemukan bersama sang pangeran yang habis kabur dari istana"


"Apa maksud yang mulia orang berambut hitam yang tingkahnya kasar itu?"


Sang raja mengangguk pelan tanda setuju, walaupun dia sedikit ragu dengan apa yang kubicarakan


Edwin, hah... Aku akan menandai orang itu untuk nanti


"Apa yang dikatakannya ada benarnya. Sayangnya, Pangeran Verdea bukan kabur, melainkan diculik oleh seseorang" aku memperjelas


Sang raja tertegun sambil mengusap dagunya. Dia kemudian memintaku menjelaskan semua kejadiannya secara terperinci


Aku mengatakan persis sesuai apa yang ingin dia dengar. Mulai dari tempat aku menemukannya ke wajah orang yang menculiknya. Kebetulan sekali ketika aku mengangkat kedua orang itu, kerudung mereka turun dan memperlihatkan wajah mereka


Aku kemudian menceritakan kejadian setelahnya. Ketika kami dikejar ke seluruh penjuru desa oleh penjahat dan bagaimana kami bisa diseret kesini


Selama aku menceritakan semua itu, sang raja hanya memperlihatkan wajah terkejut. Sementara sang ratu dan Verdea terlihat tidak peduli sama sekali selagi menoleh kearah lain


"Seperti itu kejadiannya" Aku mengakhiri ceritaku dengan kalimat itu


Raja Artorius hanya diam. Tapi, kemudian dia mengeluarkan napas lega


Tatapannya menjadi lembut dan samar senyum kecil terlihat di bibirnya. Tapi hal itu tidak lama dia lakukan, dan dia kembali fokus kepadaku dengan tatapan dingin


"Aku berterima kasih padamu. Maafkan aku karena tidak mengetahui namamu, jadi sekarang aku ingin mengenalmu"


"Ah, nama saya Vainzel"


Akhirnya, suasana yang normal...


"Sekali lagi aku berterima kasih, sir Vainzel. Aku akan ingat jasamu"


Aku merasa lega. Sepertinya kepalaku tidak akan apa-apa kali ini


Tapi raja Hortensia sama sekali tidak sesuai dengan apa yang diceritakan oleh orang-orang kerajaan ini


Artorius, Raja ke-8 dari kerajaan yang daerahnya meliputi seluruh benua Flos ini dikenal sebagai raja yang tegas dan tidak kenal ampun. Dia dikatakan sering memenggal kepala seseorang yang dia anggap tidak pantas hidup


Ada satu kali seseorang mencuri roti untuk makan karena tidak memiliki uang. Orang itu dia potong tangannya tanpa berpikir dua kali. Atau begitulah perintahnya yang kudengar dari pembicaraan di desa sekitar


Dia juga dikenal dingin dan sangat hati-hati. Aku sebenarnya berpikir kalau dia tidak akan memercayai perkataanku karena sifatnya itu. Tapi dia justru langsung memercayainya tanpa menyelediki lebih lanjut


Aku berpikir dia orang yang mengerikan dan misterius, tapi ketika berbicara langsung dengannya hari ini...


...


Aku hanya melihatnya seperti pria biasa yang terlihat lelah, entah kenapa


"Tidak apa-apa, yang mulia"


"Aku akan memberikanmu hadiah, Sir Vainzel. Dan kamu boleh keluar masuk kota ini tanpa izin formal"


"..."


"Aku harap kita bisa bertemu lagi untuk ke depannya"


Aku diam sambil tersenyum. Tapi senyumku itu terasa berat seperti aku sedang menempelkan sebuah benda asing ke wajahku sehingga ada rasa tidak nyaman


Aku akan pergi. Pergi meninggalkan Verdea, orang pertama yang sungguh mau menjadi temanku selama aku berkelana


Tapi sisi baiknya aku bisa keluar masuk kota ini dengan bebas bukan? Aku bisa sering mengunjunginya bukan? Ya bukan?


...


"Tunggu dulu! Aku belum bicara apapun daritadi"


Verdea berdiri seketika dan menatap langsung mata Artorius dengan tegas. Aku kaget melihatnya yang tiba-tiba berdiri di sampingku itu


Artorius dan sang ratu, Celeste, seketika menunjukkan perhatian mereka pada Verdea


"Aku ingin ikut dengannya"


...


Aku langsung berdiri dan memukul meja di depanku dengan keras sambil berkata


"Tidak! Aku menolak!" Aku pun memberi balasan


"HAH!? Kenapa malah kamu yang menolak coba?" Verdea protes


"Karena aku tidak bisa menjamin keselamatanmu!"


"Jangan remehkan aku! Aku bisa menjaga diriku sendiri walaupun ada kamu!"


"Oh, maksudmu seperti saat kamu terkapar tidak berdaya malam itu!?"


Aku dan Verdea saling beradu mulut dan membuat suasana ruangan menjadi ricuh. Artorius terlihat terganggu, begitu juga sang ratu. Sang raja kemudian ikut berdiri untuk menengahi adu mulut ini


"Tenangkan diri kalian!"


Kami berdua terus beradu mulut mengabaikannya. Dia kemudian terlihat kesal dan menggenggam kepala kami berdua


"Boleh tenang?"


Nada dan tatapannya yang dingin membuatku dan Verdea merasa ketakutan. Kami berdua kemudian duduk perlahan seperti kelinci yang ketakutan


Dia tidak mencoba menakuti kami, tapi aku sadar kalau aku terlalu berlebihan dan memilih untuk menyerah saja


"Aku tidak akan memperbolehkanmu pergi ke tempat-tempat yang berbahaya" Artorius pun berkata


"Aku tidak peduli-"


"Tolong dengarkan yang mulia, pangeran Verdea" Aku ikut menyela


"Pokoknya aku tidak peduli! Aku harus ikut bersamamu!"


Dia bertingkah seperti anak kecil yang sedang kesal sekarang ini sambil merengek tidak jelas tanpa henti...

__ADS_1


Aku tidak tahu lagi cara mengurus makhluk menjengkelkan sepertinya dan hanya duduk sambil menutupi telingaku dari suara-suara rengekannya


"Kalau begitu aku ada usul"


Kami berdua yang masih dipegang kepalanya itu menoleh kearah Artorius. Tapi dari tatapannya yang mengarah kepadaku, aku sudah merasakan usul yang tidak ingin kudengar tapi tidak bisa ku tentang


"Aku bisa menjadikanmu pengawal milik Verdea"


......................


Apa yang terjadi kepadaku...?


Kenapa aku bisa berakhir begini...?


Kenapa sang raja harus mengusulkan hal ini...?


Aku duduk dengan lemas sambil menempelkan wajahku ke meja. Kami masih berada di ruangan yang sama dengan orang-orang yang sama di posisi yang sama


Kali ini, kami menunggu di dalam ruangan ini untuk membuatku menandatangani sebuah surat perjanjian yang akan dikirim kemari sebentar lagi


Aku memutar arah wajahku di meja dan melihat kearah Verdea. Dia sibuk sekali membaca sebuah buku di tempat duduknya


Tapi, sebuah senyum puas tersirat di wajahnya. Senyuman sejuta warna seperti saat dia mendapatkan hadiah paling luar biasa di dunia ini


Kebalikan dari Verdea, aku merasa risau dan cemas. Ada alasan kenapa aku merasa begitu


Ketika aku menandatangani surat perjanjian itu, aku otomatis akan terlibat dengan urusan kerajaan ini. Terlibat dengan urusan kerajaan sama sekali tidak menyenangkan berdasarkan yang kualami selama hidupku


Lalu bagaimana dengan kerajaanku, kerajaan para Elf coba...? Apa yang akan mereka katakan jika mendengar kalau aku menjadi pengawal milik seorang pangeran dari kerajaan asing...?


Terlibat dengan urusan kerajaan Elf saja sudah menyebalkan untukku, apalagi urusan kerajaan manusia...


Aku mungkin tidak akan tahan...


"Kenapa lesu begitu coba?"


Verdea menutup bukunya dan melihat kearahku dengan pipinya yang menggembung


"Memikirkan hal yang menyebalkan..."


"Kamu seharusnya merasa senang dan terhormat sudah diangkat olehku secara langsung"


"Silahkan bilang begitu kalau kamu sudah jadi raja"


"Aku yang belum jadi raja saja sudah bisa jadi tuanmu"


Dia menyilangkan tangannya di dada sambil tersenyum dengan sombongnya


Anak ini...


"Kenapa? Tidak mau bersamaku ya...?" Sebuah pertanyaan tiba-tiba dia lontarkan


Pertanyaan yang membuatku tersentak dan tertegun sejenak, sehingga dia mendapat perhatian penuh dariku


"Bukan begitu-"


"Jadi kamu mau menerimanya!?"


"......"


Aku ingin bilang tidak. Tapi...


Aku sudah jelas berbohong kalau aku bilang tidak sedikitpun aku mau ataupun bisa menolaknya...


"Entahlah... Menjadi bawahan rekan petualanganku mungkin seru juga"


Dia menoleh dengan mata yang berbinar sekali. Wajahnya yang terlihat sangat senang sampai ke puncaknya itu membuatku tertawa kecil dan mengelus kepalanya


Artorius yang memperhatikan kami daritadi bahkan tersenyum melihat hal itu tanpa kami sadari


*Tok tok!*


"Permisi yang mulia, saya sudah membawakan apa yang mulia inginkan"


Pelayan itu masuk dan kemudian menyerahkan dokumen resmi untuk kutandatangani


Aku memperhatikan isi surat itu dengan teliti. Sumpah yang diinginkan untuk mengikat perjanjian ini adalah agar aku selalu setia kepada seorang tuan dan sang raja sampai ujung hayat mereka


Jadi ini yang harus ditandatangani oleh semua prajurit pribadi kerajaan Hortensia hm...? Ini adalah sumpah tertulis yang biasanya diserahkan kepada seorang pengawal anggota kerajaan


Aku hanya memastikan semua hal ini semata-mata agar aku bisa menemukan jalan keluar yang aman bila diperlukan


Aku sebagai Elf ketika melakukan sumpah akan membuat sumpah itu menjadi mutlak dan mengikat. Dan ketika sudah memastikan perjanjian dalam isi suratnya aman untukku, aku mencoret sebuah bagian kertas itu dengan tanda tanganku


"Wah! Tanda tanganmu jelek!" Celetuk Verdea


Dan dengan begitu, aku mengakhiri hari itu dengan langsung diantar ke Kastil Thyme, kastil tempat tinggal milik Verdea


Aku merasa sedikit aneh karena anak sekecil dia diberikan kastil pribadi oleh Artorius. Aku bertanya kenapa dia melakukannya mengetahui anak nakal seperti Verdea ini tidak mungkin mengurus kastil itu tanpa pengawasan miliknya


Tapi, aku sangat kecewa dengan jawaban yang kutemukan


Kami melakukan perjalanan yang cukup lama dari kastil Rose ke kastil Thyme—tempat Verdea tinggal dan kastil pribadinya. Kastil Thyme rupanya adalah kastil terjauh dan terletak paling pojok dibandingkan kastil lainnya di area istana


Kastil ini terlihat sangat tua. Hampir semua temboknya retak. Ukurannya saja tidak sebanding dengan ukuran kastil Rose yang kulihat tadi. Malah, kastil ini terlihat seperti Villa dibanding kastil


Banyak sekali tanaman yang mati di halamannya, membuat mata dan hatiku terasa sakit. Mereka mati tidak terurus dibiarkan begitu saja. Tanaman-tanaman malang ini pasti sangat menderita di tangan orang-orang yang mengabaikan mereka...


Ketika kami masuk ke dalam kastil, ada beberapa pelayan yang sibuk berjalan di lorong-lorongnya. Mereka bahkan tidak mempedulikan kehadiran Verdea maupun keberadaanku


Mereka kadang melihat kami, menghakimi kam. Tapi itu hanya sementara dan juga, mereka menggunakan tatapan yang menandakan mereka tidak peduli kepada kami


Apa-apaan tempat ini? Aku bahkan tidak pernah membayangkan tempat seperti ini nyata


Pertanyaanku dari kenapa Artorius memberikan kastil ini pada Verdea, berubah menjadi bagaimana bisa dia setega ini membiarkan anaknya di tempat tidak layak ini


Rumah yang tidak layak di tempat yang jauh, pemandangan dan suasana yang tidak menyegarkan mata sama sekali, dan orang-orang yang tidak bisa diandalkan yang dipekerjakan disini


Aku tidak mungkin membiarkan hal ini. Aku tidak mungkin membiarkan hal sekejam ini dibiarkan lebih lama lagi


Aku... Harus melakukan sesuatu. Lagipula ini juga demi tuanku dan temanku, Verdea


Sebagai pengawalnya dan temannya, aku akan memastikan setidaknya tempat ini pantas untuk dia tinggali


Tiga hari selanjutnya kulalui dengan memperhatikan keadaan sekitar kastil ini


dan merencanakan beberapa hal


Dan ketika waktunya sudah tepat serta rencanaku yang semuanya sudah siap, aku pun langsung melancarkannya atas persetujuan Verdea

__ADS_1


__ADS_2