Book Of Flowers

Book Of Flowers
Paham


__ADS_3

Malam hari tiba setelah pembicaraan panjang kami. Tetapi, untuk pertama kalinya aku merasakan malam yang sunyi setelah beberapa tahun penuh keputusasaan yang menggigit


Tapi...


Sialan. Udaranya masih sangat dingin di negara ini, persis seperti yang aku ingat!


Padahal kemarin suhunya sudah mulai naik sedikit, tetapi entah kenapa sekarang dingin lagi. Tempat ini seharusnya sudah memasuki musim semi bukan?


Dingin...


Aku ingin mencari api sekarang. Terserah aku akan terbakar atau tidak, yang jelas aku tidak akan bisa tidur sampai api itu menghangatkan badanku


Bara api di tempatku habis, jadi aku harus mengambilnya di ruang dapur. Parahnya aku harus berjalan cukup jauh dari kamarku menuju ruangan itu. Kastil ini memang kecil dibandingkan kastil pada umumnya, tetapi ukurannya bisa dibilang cukup besar


Sial. Aku kedinginan...!


Aku lebih baik mati saat bertempur daripada mati kedinginan sekarang ini...!


"K••• ••••• ••••• •••••?"


...?


Ada suara samar-samar masuk ke telingaku. Asalnya dari kamar Verdea yang baru saja kulewati


Tetapi, suaranya tidak terdengar seperti Verdea...


Aku yang mulai penasaran pun mulai berjalan pelan ke depan pintu kamarnya, menguping disana


Mari kita dengar...


"Kakek hanya khawatir padamu, Verdea. Kamu sudah melalui banyak hal. Biarkan saja Vainzel yang melakukan hal ini"


Oh! Itu suara Frank


Dia sepertinya sedang berbicara bersama Verdea. Tapi kenapa harus tutup pintu?


"Tidak kakek. Aku harus ikut"


"Hah..... Kamu sungguh anak yang keras kepala. Sama seperti ibumu"


"Kakek sungguh tidak perlu khawatir. Aku dan Vainzel pasti bisa melalui hal ini lagi. Lagipula, aku memang harus melakukan hal ini, karena nyawa temanku ada di ujung tanduk sekarang"


...


...


"Lalu, setelah kamu pergi, kamu akan kehilangan nyawamu seperti ibumu"


...!


"Kakek, kenapa kakek bicara begitu-?"


"Perkataanmu... Perkataan itu sama persis seperti dengan milik ibumu, sebelum dia pergi meninggalkanku. Lalu disaat berikutnya, aku melihat dia kembali, tetapi dalam wujud tidak bernyawa


Kamu persis seperti ibumu, Verdea. Baik wajahmu, sifatmu, maupun tindakanmu. Itulah yang membuatku takut satu-satunya anggota keluargaku yang kusayangi akan pergi lagi"


"... Kakek..."


...


Aku mungkin seharusnya tidak mendengarkan hal ini


Aku harus pergi sebelum apa yang kudengar menjadi semakin dalam di kesedihan Frank


"Oberon. Masuklah"


!!!


Dia sadar?


"Aku bisa mendengar langkah kaki dan nafasmu. Jadi tidak perlu terkejut"


...


Dia sadar...


Aku perlahan membuka pintunya dan menunjukkan diriku di hadapan keduanya


Verdea yang duduk di pinggir kasurnya itu terlihat terkejut aku ada disana, sementara Frank tidak menoleh kearahku sedikitpun


"Bagaimana kakek bisa tahu dia ada disana...?"


"Kebetulan saja. Dia tidak hati-hati melangkah sebelum menguping di pintu barusan ini"


Siapa sangka Frank yang duluan mengetahui keberadaanku...


"Kamu sudah mendengar sampai mana, Oberon?"


"Uh... Hanya sampai Verdea yang persis seperti ibunya"


"... Benar. Dia mirip persis seperti ibunya. Tapi, aku tidak ingin dia menjadi seperti ibunya"


Tidak ingin dia seperti ibunya...?


...


"Frank..."


"Tidak perlu menenangkanku Oberon. Aku lelah mendengar kata-kata 'Verdea akan selamat', dari kalian"


...

__ADS_1


Frank menghela napas


Dia terlihat sangat lesu, dan aku yang baru memperhatikan dia itu langsung tahu, kalau dia kurang tidur selama ini


"... Kamu harus menjaga kesehatanmu, sungguh"


"Tapi bagaimana caranya? Semua hal yang membebani cucuku ini sangat membuatku lelah hingga tidak bisa berkedip"


"... Maaf"


"Tidak perlu minta maaf. Aku tahu kamu melakukan semua hal ini untuk cucuku juga"


...


Verdea tidak bicara apa-apa


Dia mungkin tidak tahu harus bicara apa untuk mengikuti kami. Itu sebabnya dia hanya diam dan menunduk. Dia tidak ingin merusak suasana hingga lebih buruk lagi


Aku juga tidak berharap dia berbicara. Hal itu sudah memang menjadi hal yang harus dilakukan seseorang di situasi seperti ini


...


Aku pun melangkah dan ikut duduk bersama kedua orang itu, kemudian meminta Verdea untuk mendekat sedikit. Dia pun menyingkir dari bantalnya dan ikut duduk bersama kami berdua


Frank masih menunduk walaupun aku duduk di sampingnya. Dia menolak untuk menatap langsung mataku ketika kami akan berbicara


"Kamu sungguh sayang pada cucumu ya...?"


"... Itu normal, Oberon. Cucuku adalah satu-satunya keluargaku yang tersisa. Dan dia sangat mengingatkanku pada ibunya yang sudah pergi"


"Sudah jelas begitu... Aku heran kenapa aku bertanya..."


...


"Aku tahu betul kalau kehilangan seseorang itu rasanya amat sakit. Aku kehilangan banyak dari kaum ku dalam insiden ini. Mengingat bagaimana mayat-mayat mereka yang tergeletak saja... Bisa membuatku menangis darah


Itu sebabnya, aku tidak bisa membayangkan kehilangan seseorang yang sangat berharga dan selalu berada di sisiku selama ini. Aku tidak ingin kehilangan satupun dari mereka"


"Hah... Kamu hanya ingin meyakinkan aku saja kalau kamu bisa-"


"Sama sepertimu Frank, aku menganggap Verdea berharga. Aku menganggap semua temanku bernilai lebih mahal daripada nyawaku sendiri. Apapun itu, bahkan jika aku harus mengotori tanganku, aku rela melakukannya demi melindungi mereka"


"... Bahkan jika temanmu itu orang yang jahat?"


"Tidak mungkin aku mau berteman dengan orang jahat. Aku juga tidak bilang begitu sebelumnya bukan?"


Frank menghela napasnya. Tetapi...


Wajahnya perlahan tersenyum


"Aku sungguh bersyukur cucuku memiliki teman sepertimu"


"Ew"


Aku langsung cemberut mendengar respon Verdea itu. Hanya 1 kalimat kecil, tapi rasanya sangat menusuk ditambah dengan wajah terlipat dan senyum miliknya yang mengejek itu


"Baik hati dan cakap dari mana?"


"Dari dulu"


Aku menjulurkan lidahku kearah Verdea yang melipat wajahnya seperti tadi


"Kalian ini, sungguh seperti bocah. Umur kalian berapa coba?"


"14"


"156.... Mungkin?"


Aku lupa. Aku tidak pernah merayakan ulang tahunku semenjak bencana itu terjadi


Kalau tidak salah... Memang benar 156 tahun


"Kakek sendiri memangnya berapa?"


"25"


...


Kami berdua terkejut. Kami tahu itu cuma candaan, tapi kami tidak mempersiapkan diri untuk memasukkannya ke dalam kepala kami


"Ahahaha! Bercanda, bercanda! Aku suka reaksi kalian!"


"Ah, kamu tertawa!" Verdea berseru


Verdea benar...


Dia terlihat segar, tidak seperti tadi


"Ayolah, aku hanya mengikuti suasana. Kenapa? Kalian mau bercanda tanpaku?"


"Tidak, tidak. Silahkan, silahkan"


"Sudah cukup, kembali ke topik sebelumya"


Yah...


Padahal dia yang ingin bercanda dengan kami...


Dan aku yakin pikiranku dengan Verdea sekarang sama persis ketika menghadap Frank


"Aku sungguh senang melihat anak-anak seperti kalian bercanda dengan satu sama lain. Melihatnya saja membuatku merasa lebih ceria"

__ADS_1


Aku bukan bocah...


"Itu sebabnya aku tersadar sekarang...


Aku tidak ingin ada anak yang melewatkan waktu bersama teman mereka. Waktu yang mereka bisa hargai sepanjang umur mereka"


...!


Frank...


"Aku akan berusaha tidak memikirkannya. Jadi, selamatkan lah Veskal dari Xiang. Buktikan padaku Oberon, kalau kamu bisa melindungi Verdea sejauh kamu menyelamatkan Veskal"


...


...


Aku tersenyum, dan kemudian mengangguk untuk meresponnya


"Aku pasti akan menjaga mereka berdua sebaik yang kubisa. Aku berjanji"


Verdea terlihat senang karena kami sudah mendapatkan izin penuh dari Frank. Dia langsung memeluk kakeknya dan dibalas juga hingga mereka merangkul satu sama lain


"Aku janji akan membawa Veskal dengan selamat kemari. Setelah itu, kita semua bisa bercanda lagi bersama"


"Ya, ya. Selamatkan dulu temanmu, jagoan kecil"


"Aku bukan anak kecil kakek"


"Kami masih bocah"


"Vain. Mau kutonjok?"


"Silahkan. Aku jamin kamu akan terbanting duluan"


Dia menggerang untuk mengancamku yang menjulurkan lidah padanya


"Sudah, sudah. Kalian sebaiknya istirahat dan bersiap sebaik mungkin. Kalian akan berangkat Minggu ini bukan?"


Ah, benar juga


"Kalau begitu tidur sana, bocah"


"Diam, muka hijau"


...


Oke. Sekarang aku yang kesal


Celaan barunya itu menusuk


"Besok pagi. Jam 7. Hutan di belakang. Kalau kamu berani bocah"


"Tantangan diterima, muka hijau"


Kami berjabat tangan, membuat Frank yang berada diantara kami terlihat lesu karena tingkah kami


"Sudah? Bisa tidur sekarang?"


"Siap kakek"


"Ah, aku tidak bisa tidur sekarang. Aku kedinginan setengah mati"


"Deritamu sekali"


"Bocah, diamlah"


"Sudah. Lakukan saja perintahku dan tidur"


Verdea menjulurkan lidahnya untuk yang terakhir kali, kemudian menutup wajahnya dengan selimut


Aku bertukar tatapan dengan Frank, kemudian kami berdua serentak menggelengkan kepala dan beranjak keluar


...


Sepertinya sudah aman dari Verdea. Kami berdua sudah berjalan cukup jauh di lorong tempat ini, jadi dia tidak akan mendengar pembicaraan ini


"Aku paham kamu khawatir Frank"


"... Yah, begitulah. Mustahil aku tidak khawatir bukan?"


Itu sebabnya...


"Jika aku perlu, aku bersumpah padamu. Jika ada hari kamu mendengar ataupun melihat Verdea tiada, aku akan datang kepadamu, dan kamu boleh memenggal kepalaku"


Setidaknya, itu yang bisa kujanjikan padamu


"Kamu sungguh berpendirian teguh Oberon. Aku semakin bersyukur, kamu berada di sisi anak malang itu, menemaninya dalam perjalanan yang kejam ini"


"Aku mengikutinya karena aku ingin mempersiapkan dirinya agar dia bisa mandiri. Siapa sangka aku harus menemaninya sejauh ini walaupun dia sudah melakukan banyak hal dengan usaha sendiri"


"... Setidaknya sekarang, aku bisa tenang meninggalkannya di bawah perlindunganmu sekarang ini"


"Dia temanku. Jadi sudah sewajarnya kami harus saling melindungi"


Begitu juga kepada Veskal. Itu sebabnya kami akan melakukan apapun untuk menyelamatkannya


Kami sudah direstui oleh Frank untuk pergi ke Xiang. Persiapan mental kami semua sudah siap. Yang tersisa sekarang hanyalah menunggu


Lagi-lagi...


Aku berharap waktu bisa berjalan lebih cepat sedikit jika masalah seperti ini terjadi...

__ADS_1


__ADS_2