Book Of Flowers

Book Of Flowers
Banyak Hal Terlihat Baru


__ADS_3

Kami pun akhirnya sudah masuk ke dalam Miralius, dikelilingi oleh para Elf yang semuanya terlihat bahagia dan menyambut kami tadi. Namun, ada beberapa juga yang terlihat enggan menghampiri


Beberapa yang datang mendekat sekarang ini semuanya sedang mengantarku dan teman-temanku memasuki Miralius sampai di tempat tujuan kami


Tapi, kami memasuki Miralius yang terlihat tidak sama seperti dahulu


Seluruh tempat ini masih terlihat kosong dan hampa. Pulau-pulau melayang yang mengisi udara itu dulu bahkan ambruk menyatu dengan tanah sekarang. Kehijauan di tempat ini hilang dan nyaris membuatnya terlihat seperti dataran berlumpur saja


Pohon-pohon yang kutanam juga bahkan belum tumbuh tinggi sama sekali, tidak membahas soal rumputnya yang tidak terlihat ada sehelai pun di tempat ini. Bahkan... Masih ada beberapa bekas terbakar di beberapa bagian tempat ini


Aku pun melihat sekeliling dengan hatiku yang terasa silu karena pemandangan memilukan itu


Kebanyakkan Elf yang berada di dalam sini masih terlihat tidak senang dengan keadaan mereka yang sekarang. Mereka bahkan hanya melirik kearahku sebentar dan kemudian melanjutkan apa yang sedang mereka lakukan. Mereka bahkan tidak mau repot-repot menyambutku seperti dulu lagi


Mereka tidak memiliki rumah yang cukup layak menurutku. Aku hanya membentuk sulur di tanganku menjadi sebuah tempat berteduh untuk mereka, kemudian memotongnya dari tubuhku


Mereka masih terlihat murung, beberapa bahkan terlihat lemas lesu seperti sedang merindukan semua hal yang ada saat Miralius belum diserang


...


"Tidak perlu terlalu menyalahkan dirimu Oberon" Seorang Elf di belakangku berkata. Dia pun bergerak maju


Sebuah sosok Elf kecil yang sambil menggandeng tangan ayahnya muncul dari kerumunan yang mengikutiku itu, berdiri di sampingku. Sosok itu tidak lain adalah si Remina kecil dengan ayahnya


Kedua ayah anak itu sungguh terlihat sangat mirip dengan satu sama lain dan seperti bayangan cermin yang berbeda jenis kelamin saja


"Remina... Syukurlah kamu bertemu ayahmu" Aku berkata pelan


Remina pun tersenyum manis kearahku bersama dengan ayahnya


Senyum di wajahku semakin melebar ketika melihat wajah bahagia mereka


"Ya. Kami bersyukur kamu bisa menyelamatkan kami dan keluarga kami. Kami yang berada disini sangat berterima kasih padamu" Ayah Remina menambahkan


"Tidak perlu berkata begitu" Aku membalas


Lagipula...


Tidak sedikit Elf yang tidak bisa kuselamatkan selama 5 tahun pencarianku terhadap mereka


Semua hal ini membuatku pusing ketika mengingatnya kembali...


"Vain. Kamu harus beristirahat dulu ketika kita sampai nanti" Ordelia berkata sambil memegang pundakku


Aku membalasnya dengan menyentuh tangannya itu dengan pelan sambil menatap hangat wajahnya


Yah... Mungkin sedikit istirahat bisa membantu. Lagipula, aku yakin beberapa teman-temanku juga butuh istirahat setelah teleportasi tadi


"Baiklah. Terima kasih mau hadir untuk menyambut kami. Aku mohon, kalian beristirahatlah sekarang di tempat-tempat yang sudah kusiapkan. Maaf aku belum bisa mengembalikan rumah kalian" Aku berkata


Mendengarkanku, mereka semua terlihat sedikit kecewa. Tapi, mereka mengangguk paham dan bergiliran memberiku ucapan terima kasih terlebih dahulu sebelum pergi satu persatu dengan wajah ceria


"Mari pulang" Ibuku yang berdiri di sampingku berkata


"Ah, satu hal lagi sebelum kita pulang"


Aku menoleh kearah Verdea dan Veskal sehingga membuat mereka kebingungan


"Kalian harus potong rambut di dekat sungai disana sekarang, lalu kalian akan langsung tidur ketika kalian kembali" Aku berkata


...


"Kami bukan anak kecil. Apa niatanmu coba memerintah kami seperti itu?" Veskal berkata dengan wajah kesal


Verdea hanya mengangguk hebat menyetujui perkataan Veskal


Yah... Kalian saat kecil pun tidak pernah mau langsung mendengarkanku. Besar ataupun kecil kalian masih tetap keras kepala


Rambut mereka sangat panjang. Aku bingung bagaimana mereka bisa nyaman tidur dengan rambut seperti itu. Aku bahkan yakin kalau rambut mereka memiliki aroma tidak sedap


"Uh... Siapa dari kalian yang bisa memotongkan rambut mereka berdua?" Aku bertanya pada teman-temanku yang lainnya


Lyralia langsung membuang wajahnya seakan dia ingin pergi dari tempat itu tanpa pertanyaan lebih lanjut


Ordelia terlihat ingin melakukannya, tapi juga terlihat ingin tetap bersamaku


Luna dan Luxor hanya menggelengkan kepalanya seakan berkata mereka tidak bisa


Ivor ingin melakukannya, tapi aku tidak yakin dia bisa melakukannya dengan rapi


Zaphir...


Abaikan dia. Aku yakin dia akan kasar mengingat kalau Veskal dan Verdea itu bukan Elf


"Oh! Aku bisa" Remina menyela


Semua mata langsung terarah kepadanya


Dia masih tetap berada disini bersama kami? Lalu, ayahnya bagaimana?


"Aku biasa memotong rambut ayahku sejak kecil. Aku yakin aku juga bisa memotongkan rambut teman Oberon dengan potongan rapi" Dia menambahkan


Yah... Dia mungkin bisa


Sisanya, aku harus memaksa kedua orang ini agar mereka mau...


Ah... Begini caranya...


......................


"Kamu sebaiknya tidak berbohong pada mereka" Ordelia berkata


"Kenapa juga kamu melibatkan aku coba?" Zaphir menambah sambil mengusap bagian belakang kepalanya


Yah, aku hanya berkata pada Verdea kalau aku akan memberinya makanan spesial. Anak itu bisa disuap dengan mudah kalau soal makanan, terutama milik Ivor


Sementara Veskal, aku menjanjikannya dengan sebuah latih tarung dengan Zaphir


Aku yakin dia ingin melakukan hal itu lagi sejak dia kalah dulu


Aku hanya berjalan bersama mereka semua dengan senyum kecil di wajahku


Lalu, bunyi 'Ting!' ini terus terdengar olehku dari tadi. Mungkin karena gelombang inti Ayahanda yang berada di tubuh Claudia sekarang ini


Aku ingin langsung membahas banyak hal dengan Claudia karena dia mungkin penting untuk pemulihan Miralius, tapi aku tidak yakin kalau Ordelia akan memperbolehkanku melakukannya untuk sekarang


Dia pasti akan menyuruhku istirahat terlebih dahulu sebelum melakukan sesuatu hal lagi


Aku sebenarnya tidak ingin membuang waktu dan segera menyelesaikan semua hal ini, tapi aku tidak bisa membantah perkataan Ordelia kalau aku butuh istirahat juga


Mungkin itu caranya mengatakan, 'habiskan waktu denganku'


Cyth dan kedua orang yang kami culik itu juga berada di Miralius sekarang, berdasarkan apa yang teman-temanku beritahukan


Cyth sedang tidak sadarkan diri dan sedang diurus oleh para kru nya, sementara kedua orang itu disekap oleh para Elf di suatu tempat. Tapi, mereka bisa meyakinkanku kalau kedua orang itu akan tetap aman


Dan Ordelia berkata kalau ada 1 orang lain yang tidak kusangka sedang berada di Miralius ini

__ADS_1


Kenapa dia merahasiakannya? Atau justru orang itu yang ingin merahasiakan kehadirannya dariku agar bisa cepat pergi nanti?


...


Apapun itu, Ordelia berkata kalau dia sudah sangat banyak membantu kami menyelematkan para Elf


Aku mungkin harus berterima kasih padanya walaupun sedikit


Mengenai 2 orang itu kembali, aku bisa mengeluarkan mereka nanti. Keadaan mereka yang bisa tetap aman sudah cukup membuatku tenang untuk sekarang


Kami tidak boleh membuat masalah ini lebih besar lagi dengan menyakiti mereka berdua. Setidaknya memastikan kalau mereka aman dan mengembalikan mereka nanti sudah cukup untuk sekarang


Manusia sudah menganggap Elf sebagai pelaku utama kejadian 5 tahun lalu. Banyak yang sudah mati sejak saat itu, baik dari pihak manusia maupun Elf


Aku tidak akan membiarkan jumlah korban tragedi itu semakin meningkat. Langkah awal untuk memastikan hal itu terjadi adalah tidak menyakiti satupun manusia dan mengakhiri kesalahpahaman mereka terhadap kami


Yah, aku bilang begitu. Tapi sebenarnya aku ingin segera mencekik Rosalia dengan tanganku sendiri


Tapi tanpa alasan yang masuk akal untuk mencabut nyawanya, aku yakin semua manusia yang ada di dunia akan menjadi semakin agresif terhadap ras Elf, mengabaikan kejahatan di balik layar yang sudah dia lakukan. Menghadiri sejarah terulang kembali adalah salah satu prioritas ku


Perang ribuan tahun adalah sesuatu bencana yang menyebabkan banyak penderitaan. Tidak mungkin aku akan membuat hal itu terulang kembali


Rosalia benar-benar membuat hal ini semakin sulit dengan menjadikan Hortensia sebuah negara adidaya akhir-akhir ini


Penguasaannya di segala bidang menggunakan kakaknya Damien sebagai topengnya itu sangatlah menakutkan. Seluruh dunia sudah mengakui kekuatan kerajaan itu dan tunduk di bawah mereka. Bahkan kerajaan Crux yang memiliki banyak orang-orang berprestasi dan kekuatan militer terbesar saja tunduk di bawah mereka


Dia mungkin hanya perlu menjentikkan jarinya untuk membuat seluruh kerajaan di dunia langsung menyerang kami tanpa basa-basi. Dan jika hal itu terjadi, hanya Tuhan yang tahu seberapa banyak korban yang akan bertambah


Tidak membahas tentang 4 orang di sisinya yang sama liciknya dengan wanita itu


"Kita sudah sampai" Luxor berkata


...


Ah. Aku terlalu banyak melamun lagi


Ya ampun...


Aku melirik sedikit dengan ragu-ragu kearah Ordelia yang berjalan di sampingku


...


Sudah kuduga... Ordelia menyadari kalau aku sedang banyak pikiran lagi sehingga dia terlihat murung sekarang


Aduh... Aku harus bagaimana sekarang...?


Ting!


Ya, ya. Aku sudah tiba. Kenapa kamu bersikeras begitu coba Ayahanda?


Aku tahu dia senang melihatku, tapi bukannya membuat suara lonceng itu terus menerus sedikit berlebihan?


"Ah, kalian sudah tiba"


Kami semua melihat ke depan dan menjumpai Ordelia berdiri tepat di depan kami, dengan bangkai Pohon Agung yang terbakar hangus masih berdiri di belakangnya


"Sudah membiasakan diri dengan tempat ini?" Aku bertanya


"Yah, sedikit. Pecahan jiwa yang ada di tubuhku ini sangat merindukan tempat ini entah kenapa. Kamu tahu kenapa?" Claudia bertanya balik


"Yah, seniat apapun aku ingin segera membahasnya, aku tetap harus beristirahat dulu"


Aku melirik kearah Ordelia untuk membuatnya yakin dengan perkataanku. Dia hanya mengangguk sedikit kemudian mulai mempersiapkan tempatku beristirahat dengan beberapa tikar yang dia beli sejak kami berkelana dan dia siapkan di dekat tempat itu


Aku kemudian beralih kearah teman-temanku yang lainnya


Beberapa dari mereka bersorak riang, beberapa hanya tersenyum kecil. Mereka kemudian mengambil posisi tempat duduk masing-masing di dekat Pohon itu sambil mempersiapkan tikar mereka masing-masing


Claudia hanya tersenyum diam sambil mengikuti yang lainnya mengambil posisi tempat duduk


Setelah tikar itu sudah disiapkan, aku duduk tepat di samping Ordelia, kemudian menghela napas panjang dan bersandar di sebuah akar pohon agung yang hangus namun besar itu


Mengambil posisi duduk yang nyaman, aku membiarkan Ordelia duduk bersandar ke badanku


Ibu dan Ayahku datang menghampiri kami bersama Cyrus, kemudian duduk di tikar yang sama dengan kami


Walaupun tikar ini cukup kecil untuk ukuran normal, besarnya sudah cukup untuk memuat kami berlima yang duduk diatasnya


Aku memberi senyumanku kepada mereka bertiga, dan mendapat senyuman balik sebagai balasan dari mereka


"Kalian ini selalu bermesraan, tapi belum menikah sampai sekarang" Ibuku berkata


Aku langsung mengalihkan pandanganku kearah lain karena gugup. Jika mereka sudah membahas soal pernikahan, semua hal jadi terasa rumit


"Yah, calon pengantin pria nya tidak pernah antusias sama sekali, jadi wajar saja kalau seperti itu" Ibuku menambahkan


"Ibu..."


"Ibumu benar Vain" Ordelia meneruskan perbincangan itu. "Kita mungkin harus memikirkan soal pernikahan kita sekarang. Kita sudah berhubungan selama puluhan tahun"


Aku beralih menghadap kearahnya dengan wajah cemberut


"Ahaha. Tidak apa-apa. Pernikahan itu bisa kapan saja, yang penting sudah berniat" Ibuku berkata lagi


Mereka kemudian tertawa kecil, sementara aku hanya diam karena merasa canggung


Hmph...


Aku dan Ordelia sudah berhubungan sejak puluhan tahun lalu, tapi aku tidak pernah sekalipun berpikir untuk menikahinya


Entah kenapa, aku merasa kalau pernikahan itu merepotkan. Bukan untukku, tapi untuk Ordelia


Jika aku menikah dengan Ordelia, dia akan menjadi seorang Titania. Tugasku sebagai Oberon pun akan dibagi kepadanya. Itu justru hanya akan merepotkan dia bukan?


Aku ingin terus bersamanya selamanya, dan aku tidak bohong saat mengatakan hal itu


*Tap! tap!*


Di tengah-tengah perbincangan itu, suara langkah kaki terdengar dengan kerasnya mengarah ke kami


Saat aku memperhatikan asal suaranya, aku melihat Remina berjalan dengan lagak kesal seakan ada yang membuatnya terganggu


Dia terlihat seperti Gorila yang sedang marah sekarang ini, entah kenapa


Gadis kecil yang terlihat manis kemarin, sekarang terlihat sangat berbeda secara tiba-tiba


"Ada apa?" Aku bertanya ketika dia sudah mendekat


Dia hanya mengambil tanganku, kemudian memberikan gunting yang dia pegang padaku


Kenapa dia menyerahkan gunting ini padaku? Ini untuk menggunting rambut Verdea dan Veskal tadi ya?


"Ini terakhir kalinya aku akan menggunting kan rambut anak bernama Verdea itu. Hmph!" Remina berkata sembari membuang wajahnya dan pergi ke dekat Lyralia


Heh?


Apa yang dilakukan Verdea sampai Remina terlihat kesal begitu coba?

__ADS_1


Tapi aku hanya perlu menunggu beberapa detik saja untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan itu


Tidak lama, Verdea pun hadir di dekat kami bersama Veskal...


--- Dengan rambutnya yang tidak terpotong rapi...


...


Aku dan teman-temanku langsung mencoba menahan tawa melihat potongan rambut Verdea. Veskal yang berdiri di sampingnya saja terlihat sudah tertawa sejak tadi sehingga membuat matanya berair dan badannya terlihat lemas


"Kalian tertawa... Akan kuhajar kalian satu persatu..." Verdea mengancam


Tapi wajahnya yang terlihat ingin menangis itu justru membuat penampilannya semakin terlihat lucu, sehingga kami semua tertawa keras secara bersamaan


Dia terlihat seperti anak anjing kecil yang mencoba untuk terlihat marah, tapi malah terlihat lucu


Sementara itu, Remina hanya tersenyum jahat melihatnya, selagi Verdea terlihat marah kepadanya


"Aah! Kalian ini menjengkelkan!!" Seru Verdea dengan nada kesal yang terdengar keras


......................


"Jadi, kenapa bisa rambutmu dipotong sampai seperti ini?" Ordelia bertanya sambil menyisirkan rambut Verdea agar terlihat rapi


Tapi kamu semua tahu itu tidak akan berefek apapun. Potongannya sudah sangat aneh, hingga mencoba menyisirnya itu sia-sia saja


"Dia membuatku kesal dengan berkata jelek tentang Oberon" Remina menyahut


"Aku cuma bilang kalau dia itu menjengkelkan dan seenaknya! Kamu yang malah tiba-tiba jadi agresif dan membuat rambutku jadi seperti ini!" Verdea membalas


"Pokoknya kamu duluan. Aku tidak terima orang yang menjelek-jelekkan Oberon"


"Kamu bilang begitu padahal belum tahu dia dengan baik!"


"Hah!? Mau berkelahi atau semacamnya, dasar bocah!"


"Siapa yang kamu panggil bocah hah!? Aku ini lebih tua darimu!"


"Umurku 12"


"Aku 14"


...


"Hah!! Aku lebih tua bukan!? Itu artinya kamulah yang bocah, dasar bocah!" Verdea berseru


"Diam! Umur kita tidak jauh, jadi kamu juga bisa dibilang bocah, dasar bocah!" Remina membalas, tidak mau kalah


Dan ini, dan itu... Lalu ini, lalu itu...


Aku lelah mendengarkan mereka, mungkin wajahku juga menunjukkan hal itu


Adu mulut mereka jauh lebih parah daripada saat Verdea berkelahi dengan Veskal. Dan ketika aku bilang 'jauh', tidak akan ada yang mau tahu seberapa jauh


Intinya, Verdea selalu bisa membuat seseorang mengeluarkan seluruh sisi terburuk mereka, entah bagaimana. Anak ini mungkin punya semacam sihir untuk membuat hal itu terjadi


Ordelia juga sepertinya sudah menyerah untuk menyisir rambut Verdea sampai rapi. Dia benar-benar hanya meletakkan sisir itu di tanah tanpa peduli lagi dengan apa yang sedang dia lakukan


Wajahnya benar-benar terlihat lesu. Aku pun hanya tersenyum canggung melihatnya


...


Mereka masih berlanjut...


...


Baiklah, aku sudah tidak tahan


"Diam!"


Aku menghempaskan sedikit gelombang Mana ku dan membuat mereka diam seketika


"... Terima kasih Vainzel... Telingaku tidak apa-apa sekarang..." Luna berkata dengan wajah lesu


"Ada apa dengan kalian coba?" Aku bertanya pada mereka berdua


"Dia membuatku kesal!" Verdea menjawab


"Kamu yang duluan!" Remina membalas


"Baiklah. Kalian tidak akan dapat makanan spesial untuk hari ini"


"Hah!? Aku tidak tahu ada makanan spesial!?" Mereka berdua berseru bersamaan kearahku


Aku berjanji kepadamu tadi bukan?


"Ya. Ivor akan memasakkan kita makanan spesial, tapi sepertinya kalian tidak akan dapat jatah" Aku menambahkan


Ivor yang daritadi tidak memedulikan situasinya, sekarang terbelalak karena perkataanku


Aku mengoper tatapanku kearah Ivor sambil mengedipkan mata samar-samar untuk memberinya tanda


Dia terlihat ingin meledak ketika menyadari apa yang aku ingin dia lakukan


Sementara itu, Remina dan Verdea menelan ludah mereka sekuat tenaga, kemudian menoleh ke Ivor. Mereka benar-benar terlihat seperti sudah membayangkan makanan lezat seperti apa yang akan mereka makan


Ivor akhirnya mencoba untuk menahan diri dan menyerah pada situasi. Dia pun mengikuti skema yang sudah kusiapkan yang hanya untuk membuat mereka berdua tenang


"Hanya jika kalian mau tenang"


Mereka berdua mengangguk mantap merespon Ivor, kemudian mengambil posisi duduk rapi tanpa menghadap satu sama lain


Verdea yang duduk tepat di sampingku ini akhirnya berhasil ditenangkan dengan sebuah rencana yang baru saja kubuat tanpa persiapan matang


Yang penting dia diam, itu saja


Ivor pun langsung bangun dengan malasnya untuk bersiap memasak sesuatu


Dia pun meminta bantuan kepada Luxor dan Lyralia untuk mencarikannya bahan makanan untuk dimasak, dimana Luxor dan Lyralia merespon dengan dengungan malas, kemudian bangun membantu


"Kamu masih mudah disuap dengan makanan rupanya" Aku berkata pada Verdea


"Karena itu makanan buatan Ivor. Aku sudah lama tidak merasakannya. Entah kenapa si cebol ini ikut-ikutan" Verdea merespon, kemudian melirik kearah Remina


"Aku hanya ingin merasakannya juga. Nyonya Lyralia bilang kalau makanan tuan Ivor itu enak. Sayang aku harus berbagi dengan orang ini" Remina membalas


"SEBELUM kalian berdebat lebih jauh, aku harus menghentikan kalian sekarang, atau aku akan pergi menyusul Ivor dan memberitahunya kalau kalian tidak bersikap baik" Aku mengancam, tepat sebelum Verdea ingin membuka kerusuhan seperti sebelumnya


Mereka berdua kemudian duduk tenang kembali dan terlihat menahan diri sekuat tenaga untuk tidak melakukan apapun


Anak-anak ini...


"Oh ya"


Verdea kemudian menarik perhatianku dengan menepuk pundakku berkali-kali


Aku pun bertanya ada apa dengannya, dan dia merespon dengan,

__ADS_1


"Aku ingin kamu mengajariku cara bertarung nanti"


__ADS_2