Book Of Flowers

Book Of Flowers
**Chapter Bonus 2**


__ADS_3

Note : Sekalian untuk ingatkan kalau novel ini sudah 1 tahun :)


...-- Hantu --...


Veskal : Rosalia pernah bilang kalau kastil Thyme dihantui oleh roh nyonya Marianne


Vainzel & Verdea : *Melihat satu sama lain"


Verdea : Bagus! Itu artinya aku bisa bicara dengan ibuku!


Vainzel : Itu yang ada di pikiranmu...?


Verdea : Mau bagaimana lagi? Jika itu benar, berarti ibuku yang sungguhan masih ada disini!


Vainzel : Tidak Verdea. Aku yakin hal itu hanya guyonan dari Veskal saja


Veskal : Ah ya. Jika memoriku benar, aku ingat kalau pernah mendengar ada seseorang melantunkan lagu pengantar tidur saat malam hari


Verdea : *Tertarik* Lalu, lalu??


Veskal : Tidak ada orang disana. Aneh bukan?


Verdea : Dimana kamu mendengarkannya? Dimana? Dimana??


Veskal : Sabar, sabar


Veskal : *Mencoba mengingat kembali*


Veskal : Benar! Suara waktu itu datang dari dapur kastil ketika aku baru bangun dan merasa lapar!


Verdea : Kalau begitu kita akan cek saat malam sudah tiba!


Vainzel : (Apa aku harus menjelaskan kalau 'hantu' itu adalah Remina yang sedang mencuri kue karena lapar juga kah...?)


...-- Pertemuan --...


Artorius : Dulu sekali, aku bertemu dengan Marianne di malam hari, ketika dia mengumpulkan bunga Marigold dibawah sinar rembulan...


Vainzel : Terdengar seperti dongeng klise yang pernah kubaca...


Verdea : *Mengangguk*


Frank : Dia mengada-ngada!


Vainzel : Oh? Memangnya sebenarnya seperti apa?


Frank : Apa yang dikumpulkan Marianne di malam itu adalah tumbuhan herbal bukan bunga! Dia salah menyebutkan bagian itu!


Verdea : Tunggu, itu artinya sisa ceritanya itu benar?


...-- Perubahan mendadak --...


*Ratusan tahun yang lalu*


Lyralia : Halo semuanya...!


Ivor, Luna, Luxor dan Ordelia : ...........


Ivor : Aku tidak ingat kalau terakhir kali kamu murah senyum dan bercahaya...?


Luna : *Memukul Ivor*


Lyralia : Ayolah, aku hanya ingin berpenampilan ceria untuk sesekali!


Ordelia : Itu bagus. Tapi, jangan salahkan kami jika terkejut sedikit...


Lyralia : Benar juga...


Lyralia : Ah, ayo kita bermain petak umpet! Aku yakin akan seru!


Luna : (Sejak kapan dia suka petak umpet...?)


Ivor : *Membalas pukulan Luna*


Luxor : Aku ingin pulang saja. Aku-- ketakutan-- *Menyedot hingus*


Ordelia : *Kewalahan* Tapi tenang saja...! Kami tetap sayang padamu, bagaimanapun jadinya dirimu...!


Lyralia : Ordelia...


Lyralia : Temanku yang manis--- Aku jadi ingin-- Menangis--!!!


Sejak saat itulah kami semua harus berusaha menjaga mental kami ketika Lyralia berada di sekitar


Verdea : Sangat tragis


Remina : *Tertawa lemas*


...-- Tunangan --...


Verdea : Sebenarnya, menurut penilaian kalian, bagaimana hubungan Ordelia dan Vainzel?


Lyralia & Luxor : *Menatap satu sama lain*


Lyralia : Mereka manis, walaupun aku harus sarankan kepada Vainzel untuk lebih berani mendekati Ordelia


Luxor : Aku justru terbalik. Ordelia yang terlihat terlalu malu untuk mencoba mendekat


Verdea : Memangnya mereka bermesraan seperti apa coba...?


Luxor : Mereka sering mengirimkan hadiah kepada satu sama lain. Kerudung kuning Vainzel asalnya dari Ordelia, dan mahkota bunga yang kadang dipakai Ordelia di acara formal dibuat dan diawetkan sendiri oleh Vainzel


Lyralia : Tapi mereka jarang sekali bertemu. Dan walaupun memang berjumpa berdua saja, keduanya tidak akan bergerak


Verdea : Tidak bergerak?


Lyralia : Karena Vainzel akan selalu menyeret Ivor untuk menemani mereka berdua. Orang yang satu itu memang agak kosong juga isi kepalanya


Verdea : Heeh...?


Luxor : Tapi mereka sungguh pasangan yang manis. Walaupun ada banyak hal memalukan juga yang terjadi... *Tersenyum usil*


Verdea : *Tertegun*


Verdea : Beritahu aku semuanya *Ikut tersenyum*


Vainzel : Apa yang akan diberitahu, hah...?


...-- Topi lonceng --...


Ordelia : Kamu masih menyimpan topi bunga lonceng milikku, Vainzel?


Vainzel : Masih. Ibuku selalu meletakkannya di dalam kotak kaca di dalam kamarku


Ordelia : Aku yakin kondisi topi itu masih bagus


Vainzel : Tenang saja. Tapi, jika kamu memakainya di kepalamu, apa masih cukup ya?


Vainzel : Walaupun mahkota bunga ini lebih bagus untukmu...


Ordelia : Hmm~ Perhatian sekali... *Malu*


Vainzel & Ordelia : *Tersenyum kepada satu sama lain*


...


Ivor : Ehem...! Aku masih disini!


*Dari kejauhan*


Lyralia : Lihat bukan...?


Verdea : *Mengangguk setuju*


...-- Menyusup --...


Veskal : Rupanya Remina masih harus banyak belajar...


Claudia : *Mengangguk*


Remina : *Terengah-engah* Ayolah...! Kalian bicara seakan... Kalian bisa... Dengan mudah melakukannya...!!


Claudia : Aku bisa. *Menunjukkan sebuah buku entah dari mana kepada keduanya*


Remina : Hah? Buku apa itu?


Claudia : Mari kita lihat... *Mulai membaca bukunya*


Claudia : Oh wow. Sangat mengesankan~


Veskal : *Berpikir*


Veskal : *Terkejut* Tunggu dulu-!!


Claudia : "Perlahan dia membaringkanku diatas ranjang hangat nan halus itu, selagi-"


Veskal : *Merampas buku itu dari tangan Claudia dan menjongkok ke tanah selagi memeluk benda itu seerat mungkin*


Veskal : J- Jangan masuk ke kamarku lagi... Aku mohon...


Claudia : Aku hanya mengetes kemampuan menyusupku saja. Dan kamarmu kebetulan dijaga paling ketat selain dari kamar Verdea


Claudia : Sepertinya pengalamanmu itu memang menuntut kehati-hatian juga ya?


Veskal : Aku akui kamu memang hebat, tapi jangan bongkar koleksi buku yang diberikan Erin kepadaku!


Remina : *Perlahan menyadari apa isi buku itu dan mulai menganga*


...-- Alkimia --...


Veskal : Alkimia itu cukup praktis ya...?

__ADS_1


Eleanor : Begitulah


Eleanor : Aku senang menggunakan benda yang bisa mengecilkan ukuran sihirku, kemudian membuat sedikit kejutan ketika menyerang


Veskal : Omong-omong, darimana kamu mempelajari Alkimia seperti ini?


Eleanor : ... Singkat cerita, masalahnya ada pada saat makan


Veskal : Lalu?


Eleanor : Aku tidak suka terlalu lama diatas meja makan, jadi aku segera merogoh isi perpustakaan milikku hanya untuk mencari cara untuk menyimpan makanan di satu tempat kecil kemudian menelannya sekaligus


Veskal : Perutmu tidak meledak apa...?


Eleanor : Seperti yang kamu lihat, aku cukup sehat


Veskal : Jadi itu alasannya kamu bisa tetap ge- Maksudku proporsional!


...-- Sirius --...


Verdea : Canopus. Sebenarnya, wujud Sirius itu seperti apa?


Canopus : Maksudnya?


Verdea : Begini. Kamu itu berwujud seperti anak kecil. Sementara Spica berwujud seperti perempuan remaja. Jadi, bagaimana wujud milik 'pemimpin' kita ini?


Canopus : *Mencoba mengingat kembali*


Canopus : Aku hanya ingat dia pakai jubah berkerudung...


Verdea : Lalu?


Canopus : Cahayanya berwarna kuning keemasan, walaupun kadang ada warna biru samar-samar muncul...


Verdea : *Mengangguk paham*


Canopus : ... Dan dia itu botak. Sangat botak!


Marcellus : Terakhir kali kamu mengatakan kalimat itu, dia memukul kepalamu ingat?


Canopus : Kepalanya sangat menarik. Ya, menarik!


Verdea : *Tertawa canggung*


Verdea : Lalu, apa dia pintar?


Canopus : Begitulah. Pikirannya selicin kepalanya- Maksudku sangat tajam!


Verdea : Kamu membenci Sirius atau semacamnya...?


Canopus : Tidak. Dia hanya mudah digoda saja


Verdea : Aku bersyukur kamu belum mencoba menjahiliku...


Canopus : *Tertawa usil*


Canopus : (Padahal dia yang selalu mengajakku melakukannya dulu)


...-- Sepuluh --...


Verdea : Fomalhaut. Sirius. Canopus. Spica. Achernar


Verdea : Aldebaran. Altair. Vega. Procyon. Dan aku, Regulus


Spica : Benar! Kamu sekarang sudah sepenuhnya mengingat nama semua orang


Verdea : Tapi percuma juga jika aku tidak mengetahui sifat dan wujud mereka secara langsung...


Spica : Aku bisa memberitahumu satu hal. Misalnya tentang Altair


Verdea : Oh benarkah? Dia seperti apa?


Spica : Dia menyampaikan pesan kepadamu kalau, "Aku akan memukul wajahmu jika kamu mencoba memanggilku. Biarkan aku menghabiskan waktu bersama Vega dan ganggu saja yang lain"


Verdea : Kuganti pertanyaanku. Apa masalahnya denganku coba??


Marcellus : Tidak ada. Kamu tidak akan percaya padaku, tapi sungguh tidak ada...


Verdea : Aku sungguh percaya padamu entah kenapa...


...-- Cincin --...


Verdea : Jadi... Ini kekuatanku *Melihati cincinnya sekali lagi*


Marcellus : Begitulah. Kamu yang paham cara kerjanya, karena itu sumpah yang kamu buat dengan nama milikmu


Verdea : ...


Verdea : Tapi kenapa harus cincin...?


Marcellus : Kamu dulu ingin menjadikannya mahkota


Marcellus : Karena, "Jika aku menjadi raja, aku akan memakai mahkota. Jadi, bagaimana caranya aku memakai 2 mahkota sekaligus?"


Marcellus : Dan disanalah ide menjadikannya cincin terbentuk


Verdea : ... Sepertinya aku ingin berubah pikiran lagi...


Marcellus : Memangnya kenapa?


Verdea : Karena benda ini muncul di jari manis tangan kananku...!! *Meringis*


Marcellus : (Ah benar juga. Kesannya seakan dia sudah menikah...)


...-- Keluarga 1 --...


Veskal : Diantara semua anggota keluargamu, yang mana yang kamu paling tidak sukai?


Veskal : Aku juga akan memberi jawaban


Verdea : Ibu ratu Celeste


Veskal : Woah...! Tanpa ragu ya?


Verdea : Aku yakin kamu tidak perlu penjelasan kenapa bukan?


Veskal : *Tertawa canggung*


Verdea : Bagaimana denganmu? Siapa yang kamu paling tidak sukai di keluargamu?


Veskal : Albert


Verdea : K- Kamu bahkan tidak terdengar ragu. Kenapa bisa kamu membenci orang sebaik Albert?


Veskal : Karena aku terlihat seperti badut jika disandingkan dengannya...


Verdea : Kecemburuan pada level puncak rupanya


...-- Keluarga 2 --...


Luna : Ayahku. Satu-satunya anggota keluargaku saat ini


Luxor : Mungkin pamanku. Dia terlalu hiperaktif dan aku dulu takut padanya karena hal itu


Ivor : Ayahku karena dia tiba-tiba menghilang hingga ada kabar mayatnya ditemukan


Lyralia : Semua anggota keluarga Marelis. Jangan tanya kenapa atau aku akan-


Cyth : Aku tidak punya keluarga kandung, tapi jika kalian bertanya diantara anggota kru milikku, mungkin Erin


Erin : Cyth. Mengurusnya itu sama saja seperti mengurus bayi dalam tubuh orang dewasa


Claudia : Aku tidak ingat aku terlalu benci atau terlalu menyukai siapapun diantara para wanita yang merawatku dulu...


Albert : Ayah Veskal, dan kakek kami Yuriel. Utamanya karena mereka memang sepenuhnya jahat


Eleanor : Mertuaku. Karena dia memperlakukan Albert yang dulu menjadi budak keluarganya dengan kasar


Frank : Menantuku. Kalian tahu siapa


Alf : Mungkin Titania Shimia. Dia memang keturunan keluarga jauh di bawahku, tapi aku merasa gusar setiap kali dia mengabaikan tugas menjadi Titania dan membuat Augurtrail yang selalu canggung menggantikannya dalam beberapa pertemuan


Remina : Tidak ada. Aku hanya punya ayahku sekarang dan aku sangat sayang padanya


Ordelia : Tidak ada...(?)


Vainzel : Aku jelas tidak ada. Kedua orang tuaku itu terlalu luar biasa di mataku


Vainzel : Lagipula, kenapa coba kalian mengelilingi seluruh kastil hanya untuk menanyakan hal itu pada kami semua???


Verdea & Veskal : Hehe~


Vainzel : Apa maksud "Hehe" itu coba?!


...-- Lomba --...


Vainzel : Sekarang, kita harus apa?


Luna : Aku tidak tahu. Semua urusan untuk hari ini sudah selesai, dan sekarang ini malam. Aku tidak mungkin tidur ketika bulan terbit secerah ini


Vainzel : Bagaimana kalau kita mencari buku baru saja? Aku masih penasaran dengan cerita milik kedua roh bersaudara


Vainzel : (Utamanya karena Verdea sama sekali tidak memberitahukan apapun kepadaku mengenai Marcellus akhir-akhir ini)


Vainzel : Jadi, mencari lebih banyak buku tentangnya itu lebih baik


...


Vainzel : *Menutup mulutnya dengan panik*


Luna : Terdengar...

__ADS_1


Vainzel : Luna, dengar-!


Luna : ... Seperti...


Vainzel : Luna-!


Luna : ... LOMBA!!! *Berapi-api*


Vainzel : Berhenti membuat segala hal menjadi lomba, demi pohon agung!!


...-- Anak --...


Verdea : Jika Vainzel punya anak nanti, aku yakin dia akan jadi ayah yang payah


Vainzel : Aku bahkan tidak bisa berhubungan badan dengan siapapun Veri. Aku ini makhluk sihir


Verdea : Adopsi itu nyata, Vain


Vainzel : Kalau itu tergantung. Jika anak itu bertingkah persis sepertimu, aku tidak akan mengadopsinya


Verdea : Heeh??


Verdea : Kenapa kamu tidak ingin mengadopsi anak yang baik hati dan imut ini? *Berlagak imut*


Vainzel : Kamu sudah memberi jawabannya sekarang ini


Ordelia : *Dengan ragu mengangguk*


...-- Permainan kartu --...


Veskal : *Panik*


Cyth : *Ekstra panik*


Cyth : 3 serangkai!!


Veskal : Hah!! *Melempar kartunya*


Veskal : 5 serangkai!!


Seluruh kru Black Hunt : *Bertepuk tangan dengan keras*


Cyth : Argh!! Kenapa aku selalu kalah melawannya yang baru bermain??!!


Erin : Karena keberuntunganmu itu sampah kapten. Hadapilah kenyataan


Cyth : Kamu juga kalah, jadi diam!


Erin : Aku punya 4 serangkai kapten. Dan nilainya itu yang paling besar


Veskal : *Menahan tawa* Hanya dia yang punya 3 serangkai...


Cyth : *Suara yang tidak dapat dikenali maksudnya*


...-- Darwin --...


Verdea : Sebenarnya, apa yang membuatmu tertarik dengan Darwin?


Claudia : ... Dia tampan...?


Verdea : Lalu...?


Claudia : Cerdas...?


Verdea : Ehem...?


Claudia : Dan... Tatapannya membuatku luluh...(?)


Verdea : Entah kamu memang suka orang sadis, atau kamu sama sekali tidak tahu cara menggambarkan Darwin...


...-- Kue terakhir --...


Verdea : ...


Vainzel : ...


Veskal : ...


Vainzel : Aku yakin kalau yang terakhir makan adalah Verdea. Benar bukan?


Verdea : Oh ayolah. Kue ini tidak memiliki terlalu banyak krim, jadi tidak terlalu sesuai dengan seleraku


Veskal : Kalau begitu aku saja yang ambil boleh bukan? Toh, kamu tidak suka kue ini dan Vainzel juga sudah memakannya beberapa kali


Vainzel : Aku tidak makan banyak dari kue ini sendiri


Veskal : Tentu, tuan 2 potong kue


Vainzel : Kue ini punya 8 bagian oke? Aku yakin kalian sudah makan 5 darinya tanpa kuketahui


Verdea : Aku hanya dapat 1


Veskal : Aku juga begitu


Vainzel : ...


Vainzel : Kue ini terlalu enak untuk diserahkan kepada kalian


Verdea & Veskal : *Mengangguk setuju dengan niat buruk*


Yang lainnya : *Duduk santai menikmati perdebatan yang kami bertiga buat*


...


Ivor : Padahal tadi aku yakin kalau Remina yang sudah makan 3 po-


...-- Para pelayan --...


Vainzel : Jadi, bagaimana mereka bekerja?


Verdea : Tragis. Tapi aku tidak bisa mengharapkan pelayan selain mereka untuk membuatmu beristirahat


Verdea : Tapi aku tetap harus menghargai usaha keras mereka. Mungkin mereka hanya tidak terbiasa hidup teratur dan bekerja keras sepertimu


Remina : Lalu aku ini kamu anggap apa?


Verdea : Entahlah. Kamu juga memang tidak seharusnya melakukan pekerjaan sebagai tamu di tempat ini


Remina : ...


Remina : Oberon


Vainzel : Ya?


Remina : Sihir apa yang dirimu letakkan padanya hingga dia bisa terdengar baik?


Verdea : Boleh hargai diriku sedikit?!


......................


\=\= Sedikit spoiler untuk Arc selanjutnya \=\=


...


...


"... Beritahu aku sekali lagi, kenapa kamu gagal melacak keberadaan orang itu?"


"Maafkan aku yang ter-agung... Masalahnya ada pada-"


Sebuah jari terangkat keatas, menghentikan kalimat dari orang itu dalam waktu nyaris seketika. Sebuah jari yang terkesan kuat, hingga angin saja tidak berani bersuara


Di tengah ruangan gelap yang hanya diisi cahaya obor itu dia bersujud ampun, di hadapan seseorang yang sepenuhnya ditutupi oleh jubah hitam


Seseorang yang dipanggil 'Yang ter-agung', dan orang yang telah memberinya 'Wahyu'


Seseorang yang membuka matanya, kalau manusia hanyalah ras rendah yang bisa ditaklukkan dengan mudah


Sang 'ter-agung' itu pun perlahan berjalan kearahnya, dengan dagu yang terangkat. Sepenuhnya menunjukkan kuasa diatas orang-orang yang bersujud tidak berdaya di tanah, tepat di hadapannya itu


Langkahnya pun terhenti, tepat diujung jari tangan orang yang berada di paling depan dan bicara mewakili sejak tadi itu. Sebuah keheningan tidak mengenakkan pun menusuk, selagi dia merasakan yang 'ter-agung' menunduk untuk meraih kepalanya


Kerudung hitam yang menutupi wajah orang itu pun dibuka perlahan, sebelum wajahnya dengan lembut dielus dari atas hingga ke dagu


Sebuah tangan yang dingin, namun hangat. Tempat dia bisa merasa nyaman, baik saat itu dia harus mati ataupun tidak


Jadi dia hanya memejamkan matanya, menunggu penghakiman apa yang akan jatuh kepadanya


"Sia... Muridku tersayang... Murid terbaik yang selalu kuimpikan..."


Suara yang sangat dalam dan serak. Suara yang memanggil namanya, datang langsung dari orang yang selalu dia puja dengan menundukkan kepala ke tanah itu


Matanya pun terbuka, untuk menatap langsung mata 'pahlawan' miliknya itu. Sepasang mata merah yang ditemani oleh rambut perak yang indah itu berdiri dengan lemah lembut di hadapan sosok yang sangat berkuasa itu, bagai kelinci di depan mulut serigala


Dia menundukkan kepalanya dengan hormat, siap untuk menerima perintah selanjutnya. Perintah yang tidak boleh dia gagalkan, dan sekarang ini seharusnya dia sudah tuntaskan


Sebuah tugas yang akan menentukan masa depan dirinya, semua pengikut yang bersamanya, dan orang yang berada di hadapannya itu


Orang yang 'Agung'...


"Anakku... Tugasmu hanya satu, untuk sekarang ini"


Dia mengangguk paham, merespon sosok itu yang sama sekali tidak menunjukkan wajahnya di balik kerudung itu. Hanya sebuah perintah, tanpa perlu pertanyaan lebih lanjut


Dan sebuah perintah itu pun dikumandangkan sekali lagi kepadanya


"... Bawakan aku Yael Tarasque. Baik dia hidup, maupun mati"


...


"Untukmu, dunia ini, yang ter-agung...", suaranya yang lembut itu pun sekali lagi menjawab perintah jelas itu

__ADS_1


__ADS_2