
--- Malam Harinya ---
*Krik krik*
Suara jangkrik akhirnya terdengar sangat menenangkan di tempat ini
Karena Miralius sudah kembali seperti semula, aku mulai berkeliling mengecek kembali semua tempat. Entah sekarang jam berapa, aku tidak tahu. Pastinya aku berkeliling semenjak sore tadi
Hm~
Aku senang dengan suasana tenang ini. Para Elf juga terlihat begitu. Mereka langsung terlihat bermain-main di sekeliling, bahkan yang sudah dewasa
Beberapa juga mengajakku bermain, tapi aku menolak mereka karena masih ingin berkeliling
...
Aku tidak pernah serindu ini pada Miralius, bahkan ketika aku bertualang dulu
"Jadi disini kamu hm?"
Suara langkah kaki mendekat kearahku. Aku berhenti sejenak untuk melihat siapa yang pergi kearahku itu
"Vain. Kamu tidak lelah apa?"
"Tentu saja dia lelah dasar bodoh!"
Pasangan yang tidak biasa. Tiba-tiba saja, aku melihat Verdea dan Remina bersama. Apa ini ilusi?
"Hoy! Jawab!" Verdea berkata lagi
"... Baiklah. Aku akan kembali"
"Benarkah? Kamu sudah berjalan selama 5 jam, tapi tidak kunjung kembali"
Begitukah?
Yah, jika aku pikir-pikir lagi, pantas saja suasana di tempat ini mulai sunyi
"Sudahlah. Mari kembali bersama kami"
".... Bagaimana kalau kita jalan-jalan sedikit lagi?" aku berkata
"Hah? Ini sudah larut" Verdea protes
"Ikuti aku sebentar saja, kalian berdua. Masih ada satu tempat yang belum ku kunjungi"
Aku lupa dengan sesuatu. Aku seharusnya mengunjungi tempat itu terlebih dahulu sebelum berkelling...
"5 jam dan masih ada yang belum dikunjungi? Raja ku ini memang hebat" Remina berkata kepadaku
"Tunggu, sejak kapan kamu jadi sarkastik seperti itu?"
"Sejak kamu menunjukkannya di hadapanku, Oberon"
Ahahaha..... Aku jadi pengaruh buruk
"Terserah kalian mau ikut atau tidak. Tapi aku ingin tetap pergi kesana dahulu"
Mereka berdua menatap satu sama lain selagi aku mulai berjalan kembali. Menghela napas pasrah, Verdea hanya mengusulkan agar mereka ikut saja. Remina pun langsung ikut menghela napas lesu
...
"Kenapa dengan pulau melayang ini?" Tanya Remina sambil mendongak keatas kearah langit
Aku yang hanya berbaring diantara mereka berdua sambil melihat langit hanya berkata, "Tidak senang disini?"
"Maksudku, jika kita ingin melihat langit malam, bukannya lebih bagus kalau di bukit kecil atau padang terbuka?"
"Lebih bagus disini. Anginnya juga sejuk"
"Hm. Tidak apa kalau begitu"
...
...
Aku tidak tahu harus bicara lagi. Aku terlalu sibuk terpaku kepada bintang-bintang di langit malam itu
Mereka bersinar sangat terang menghiasi langit malam ini. Dan walaupun bulan juga sama terangnya, bintang-bintang itulah yang mengambil pandanganku
Aku... Jadi teringat kepada ramalan Ayahanda. Ketika aku berumur 7 tahun dan baru bertemu dengannya, ramalan itu masih melekat di pikiranku
Sebuah daun kecil terbang dibawa angin, melintasi bintang-bintang di langit secara satu-persatu. Tapi, ketika dia terjatuh ke tanah, dia bisa melihat seluruh cahaya dari bintang dan bulan
Bintang-bintang ini sangat terang. Aku jadi tertarik kepada mereka. Aku penasaran apa arti dari para bintang itu
"Ramalan yang ambigu" Aku bergumam
Mungkin karena aku selalu mencoba menggapai bintang-bintang di langit itu. Aku selalu mencari sesuatu yang lebih baru dan besar di hadapanku. Tapi aku berakhir melewati semuanya dan hanya terus terbawa angin. Tidak banyak yang berkesan untukku dari tahun-tahun berkelana ku, terkecuali bertemu dengan Verdea
Dan pada akhirnya, aku jatuh di tanah, sama seperti daun itu. Aku hanya akan terjatuh selagi melihat kearah bintang-bintang yang tidak bisa kugapai itu
...
Hmm... Hidupku selama 10000 tahun mungkin hanya akan dihabiskan dengan seperti itu saja. Jatuh tanpa menggapai apapun
...
"Vain...?"
"... Kenapa?"
Verdea terlihat gelisah ketika aku menoleh kearahnya. Dia mungkin menyadari tampang sedih di wajahku barusan
__ADS_1
"Vain... Kenapa kamu terlihat sedih?"
Sudah kuduga
"Suatu hal di masa lalu" Aku menjawab
"Masa lalu? Apa sewaktu kamu kecil Oberon?" Remina ikut bertanya
"Yah, begitulah"
...
...
Angin berhembus lagi diantara kami bertiga. Aku kembali melihat keatas, selagi kedua anak itu terlihat kalut dan sedih kepadaku
"... Aku ingin mendengar kisah apa itu"
Hm?
Remina mengatur posisinya kembali ke posisi duduk rapi, siap mendengarkan ceritaku
Verdea juga langsung mengikuti, duduk tepat di sampingnya ditambah dengan senyum yang melekat di kedua bibir mereka
"... Baiklah. Aku akan menceritakannya"
Aku benar-benar menceritakannya. Setiap detail dari cerita itu, ramalan itu, dan reaksiku
Tidak ada satupun yang terlewatkan, aku yakin itu. Mereka berdua juga memberikan reaksi yang sedikit muram setelah aku selesai bercerita
"Jadi... 10000 tahun ya?" Verdea bergumam
Mereka berdua terdiam menunduk selagi aku menatap wajah mereka berdua
"Begitulah. Baru 100 tahun berlalu. Aku masih harus melewati 100 kali lipat dari jumlah itu" Aku berkata
"... Tapi, bukannya itu juga berita bagus?" Remina berkata
"Bagaimana bisa?"
"Habisnya, karena ramalan dari Elf pertama tidak pernah meleset, itu artinya kamu benar-benar akan hidup lama bukan? Jadi kamu tidak perlu terlalu mengkhawatirkan kematian disaat dekat ini bukan?"
...
Aku menyentil dahinya, kemudian bangun dari posisi berbaring ku
"Memang benar begitu. Tapi, jika hanya mengandalkan ramalan itu, aku tetap tidak bisa tahu bagaimana aku akan hidup bukan?"
"... Benar juga"
"Aku mungkin akan hidup dalam kekacauan. Aku mungkin akan kehilangan Miralius. Aku mungkin... Akan kehilangan kalian"
"..... Benar juga"
Dan juga...
"Sewaktu aku memanggil kalian untuk berkumpul waktu itu, seorang Sylph tewas dibunuh oleh Yael. Dia adalah mata-mata yang kukirim untuk mencari informasi mengenai Rosalia"
"Itu..."
"Hahah... Aku sebenarnya takut kalau kalian juga akan seperti itu. Karena kelalaianku, Sylph itu mati di tempat. Aku takut ketika kalian berada dibawah naunganku, kalian malah celaka seperti itu...
Aku berkata kalau kamu harus mengikuti perang ini, tapi aku sendiri tidak tahu harus menempatkan mu dimana. Itu sebabnya aku hanya bertumpu pada diriku selama ini walaupun meminta bantuan kalian. Kalian terlalu berharga untuk kuletakkan dalam bahaya..."
Aku benar-benar payah, dan aku mencap diriku sebagai seorang pemimpin selama ini
Haha... Dasar diriku yang konyol
"Tapi aku ingin berjanji pada kalian, kalau aku tidak akan membebani diriku sendiri lagi. Tidak juga membebani orang lain lagi dengan sikapku. Jadi tolonglah aku. Tolong aku agar bisa berubah"
Inilah yang harus kukatakan pada teman-temanku nanti
Aku ini adalah seorang pemimpin yang sah. Banyak orang sudah menaruh harapan besar di pundakku, tapi aku justru ingin mencopot gelar itu karena tidak ingin terbebani sebagai yang paling tinggi diantara kaumku. Dan pada prosesnya, aku hanya membebani diriku selama ini, sesuai dengan yang kutakutkan
Aku ingin mengubah hal itu. Tapi aku membutuhkan dorongan sebanyak mungkin. Aku ingin berubah bukan demi orang lain semata, tapi juga teman-temanku, rumahku, dan keluargaku. Aku ingin memiliki kekuatan untuk melindungi yang baik
Tuhan, aku mohon. Kamu boleh menghancurkan nasibku sesukamu, tapi tolong jangan hancurkan milik mereka. Berilah naungan terbaikmu untuk mereka, dan bila ini memang doa terakhirku yang akan terkabul, maka biarkanlah. Aku rela melakukan apapun untuk melindungi mereka semua
"... Aku... Tidak tahu apa aku bisa melakukannya juga" Verdea berkata. "Habisnya, bukan kamu saja yang selalu ragu selama ini. Aku, Remina, bahkan Veskal juga selalu merasa ragu mengambil keputusan"
"..."
"Aku... Sepertinya terlalu menaruh banyak beban di pundakmu, Vain. Aku yang seharusnya minta maaf"
"Tidak! Kamu tidak melakukan apapun!"
Verdea dan Remina tersentak mendengar seruanku itu
Aku menghela napas untuk menenangkan diri sejenak
"... Kamu tidak melakukan apapun. Itu saja yang bisa kubilang"
"... Aku memang terlalu membebanimu Vain. Itu sebabnya-"
"Aku sudah bilang kamu tidak melakukan apapun bukan?"
...
Telapak tanganku mengepal dengan keras karena menahan rasa kesal
Verdea juga langsung terlihat gusar kepadaku. Dia mendadak berdiri dari tempat duduknya dan berseru, "Lihat!? Kamu masih membebani dirimu sendiri bukan!? Ini yang kamu bilang ingin berubah??"
!!!
__ADS_1
Aku terkejut dia bersuara keras di hadapanku seperti itu
"Verdea-"
"Sudah! Aku mau pergi saja! Tolong dirimu sendiri, dasar tukang membebani diri!" Dia memotong Remina, kemudian melompat keatas sebuah jamur raksasa empuk dari ketinggian
Dia kemudian berlari secepat mungkin kearah hutan, entah kemana tujuannya selagi kami berdua hanya melihat dari atas sini
"... Ada apa denganmu coba Oberon!? Dia hanya mencoba mengatakan pendapatnya!" Remina protes
"... Aku hanya bilang dia tidak melakukan apapun"
Remina mendecak kesal kemudian kembali melihat ke bawah
"Aku tidak tahu bagaimana hubungan kalian selama ini dan apa yang terjadi, tapi setidaknya terimalah masukan darinya itu lain kali!"
Dia kemudian ikut melompat ke bawah, namun dia mengubah badannya menjadi air. Dia pun mendarat dengan aman, kemudian menyusul Verdea sebelum dia tersesat di area Miralius yang luas ini
Aku hanya menghela napas melihat mereka berdua yang pergi dari hadapanku itu
"Pertengkaran yang menegangkan..."
Aku yang mendengar suara itu langsung menoleh kearah tanah di sebelah kanan. Dan benar saja. Akar dari Pohon Agung sedang menyembul dari sana
"Aku bersyukur sifat menguntitmu itu masih seperti biasa Ayahanda. Tapi aku benar-benar berharap kamu melupakan hal yang baru kamu saksikan ini"
Alf terdengar tertawa kecil
"Aku tidak mungkin bisa melupakan sesuatu dengan mudah, anakku"
"Kalau begitu aku mohon jangan membahas hal ini lagi"
Suasana kembali hening selagi aku duduk dengan wajah gusar bercampur menyesal
Tapi tidak butuh terlalu lama hingga Alf bicara lagi
"Kamu tahu? Anak itu berkata benar"
Benar...?
"... Apa yang benar dari hal itu? Aku yang mengambil tanggungjawab untuk melindunginya bukan?"
"Kamu salah di situ. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi seperti yang dia bilang, kamu hanya membebani diri saja. Habisnya jika kamu pikir, memangnya akan baik jika kamu membuatnya tidak melakukan apapun sama sekali?"
"... Aku benci ketika kamu benar disaat seperti ini"
Alf kemudian terdengar menghela napas
"Vainzel anakku. Kamu juga harus menyadari satu hal. Anak itu juga sedang berusaha untuk berubah"
"Apa maksud Ayahanda?"
"Dari perkataannya saja aku bisa paham dia begitu. Dia mencoba untuk membantumu. Dia ingin melakukan sesuatu untuk dirinya sendiri agar kamu tidak perlu khawatir tentangnya"
...
Begitukah...?
"Dia hanya ingin membuktikan diri. Tapi, kamu justru menolak. Kamu masih takut, dan hal itulah yang menyeretmu hingga tidak berubah sama sekali
Perubahan membutuhkan sebuah dorongan. Dan dorongan yang paling efektif adalah sebuah tindakan. Dia ingin menunjukkan hasil dari tindakannya itu padamu, dan dia tahu persis apa yang kamu butuhkan"
...
Haha... Aku tidak tahu harus merespon apa lagi. Aku kalah dalam argumen ini
Aku terkesan Ayahanda bisa menangkap pemikiran manusia seperti itu. Elf pertama memang luar biasa
"Ayahanda"
"Ya, anakku?"
"... Aku mohon agar kamu terus membimbingku"
...
"Aku akan terus melakukannya walaupun kamu tidak meminta. Itulah tugasku sebagai ayah kalian"
...
"Ayahanda?"
Dia tiba-tiba terdengar sunyi sekali. Aku tidak tahu kenapa, dan tentu hal itu membuatku heran
"... Tidak apa-apa. Aku hanya memikirkan beberapa hal tidak penting"
"... Ramalan?"
"Insting"
...
Aku tidak tahu apa yang dipikirkan Ayahanda sekarang ini, tapi aku berharap instingnya itu berwujud baik. Tidak perlu bertanya lagi. Lebih baik aku terus menikmati malam ini saja selagi aku bisa
...
...
Kedua anak itu bisa tersesat nanti. Aku harus segera menemukan mereka
...
Lebih baik aku minta tolong pada para Fae saja untuk mencari mereka
__ADS_1
Aku tidak ingin mengganggu anak itu ketika dia sedang marah, jadi selama dia berada di Miralius, aku tidak akan merasa gelisah. Yang membuatku khawatir padanya sekarang hanya karena ini sudah larut dan dia belum tidur