
--- Beberapa Jam Kemudian ---
"Jadi seperti itulah. Intinya, kami masih berada diatas kapal sekarang ini" Aku menjelaskan pada Veskal
Dia sibuk mengatur kembali posisi berbaringnya diatas kasur, baru setelahnya dia sadar aku selesai bicara
"Aku sudah panjang lebar, tapi kamu malah tidak merespon"
"Habisnya kamu bicara panjang lebar sekali. Lalu, dimana Verdea?"
"Dia mual mungkin karena masuk angin dan kedinginan. Dia sedang tidur di kabin ditemani oleh Ivor dan Lyralia"
Cuacanya juga benar-benar berangin dengan sangat kencang di laut. Mungkin, kami sekarang sudah berada diantara Hortensia dan Cassiopeia. Perjalanannya jadi cepat karena angin ini, tapi dinginnya juga sedikit membuat badan lemas
"Kalau begitu berikan benih itu padanya ketika dia bangun" Veskal berkata
Baru saja berpisah dan sekarang dia sudah merindukan Verdea hm?
"Baiklah, baiklah. Kamu juga sebaiknya menjaga benih di tanganmu itu. Aku tidak ingin pergi jauh kesana untuk memberimu yang baru lagi, dengar?" Aku membalasnya
"Ya, ya. Dasar tukang suruh"
"Kalau begitu sampai jumpa, dasar bau badan"
"HEY!!"
Tapi koneksinya terputus. Veskal pun diam disana sambil mencoba menyambung kembali koneksi kami
Hanya aku yang bisa membuat kami berbicara melalui benih itu, jadi dia tentu tidak akan bisa bicara jika aku memutuskan Mana yang menyambungnya
Veskal menggerutu ketika menyadari usahanya tidak membuahkan hasil. Dia pun meletakkan kembali benih itu kedalam kantungnya dan berguling diatas kasurnya
...
Sejujurnya, dia masih ragu dia harus mengikuti misi ini. Tetapi, semakin banyak tangan, akan semakin cepat semua hal diselesaikan. Itulah yang menyebabkan dia bersikeras untuk pergi
Namun hatinya masih bimbang. Dia masih ragu meninggalkan aku dan Verdea. Bahkan ketika menyadari dia mungkin tidak akan kembali sampai Festival Bunga berakhir, hatinya semakin terasa berat
...
Dia tidak lama merasa sesak di dalam kamarnya. Karena itu, dia kemudian mulai berjalan keluar dari penginapan untuk mencari kru Black Hunt
Dia mengecek ke seluruh kota, tapi kebanyakkan orang disana menghindarinya seakan dia itu seseorang yang jahat. Sementara itu, yang mau menjawabnya sama sekali tidak bisa memberikan apa yang dia inginkan
"Hah... Dimana mereka coba?"
Dia sudah sempat mengecek ke kedai tadinya, tapi tidak satupun dari mereka ada disana. Mereka mungkin ada di pelabuhan, tapi dia ingin menghindari area itu karena disana ada banyak prajurit kerajaan Orion. Dia ingin menghindari tatapan dan mulut kasar mereka itu selagi bisa
...
...
"Ah! Merepotkan!"
"Ya? Apanya yang merepotkan?"
"UWAH!!"
Baru saja beberapa detik Veskal berseru, Erin tiba-tiba muncul dari belakang dan mengejutkannya
"Apa-apaan kamu muncul begitu coba!? Mau membunuhku!?"
"Tidak. Aku hanya kebetulan melihatmu berjalan kesana kemari dari toko kopi itu, jadi aku datang menghampiri mu"
"Tapi tidak perlu mengagetkanku bukan?"
...
Tiba-tiba saja, Erin menggenggam tangan Veskal, kemudian menyeretnya pergi entah kemana
"... Kalau begitu, temaniku aku mencari toko buku. Aku ingin membaca semua legenda dari Orion"
"T- Tunggu dulu! Kenapa kamu malah menyeretku coba!?" Veskal yang terkejut spontan bertanya
Dan lagipula...
"Bukannya ada buku di tanganmu itu...?" Veskal bertanya lagi
__ADS_1
Erin hanya tersenyum dengan wajah yang entah kenapa terlihat sinis
"Aku akan memberikan buku seperti ini. Jadi sebaiknya kita cari dulu" Dia pun membalas dan tidak berkata apapun lagi
......................
...
...
'Kenapa aku berakhir disini coba?', Veskal berpikir
Dia memang berniat mencari teman-temannya, tapi dia tidak pernah menyangka dia akan diseret oleh Erin kedalam toko buku yang dijaga oleh seorang kakek tua ini
"A- apa tempat ini sesuai dengan kenyamanan tuan-tuan?" Kakek itu bertanya pada mereka
Erin hanya memberi isyarat dengan menyatukan jari telunjuk dan ibu jarinya kearah kakek itu. Dia pun pergi dengan muka khawatir, meninggalkan kedua orang yang siap membaca sambil ditemani segelas teh hangat
"Kakek itu sepertinya ketakutan kepada kita" Veskal berkata sambil melirik
"Bagaimana lagi? Kita masih mencurigakan di mata mereka bukan? Tapi aku tidak masalah. Begini lebih baik daripada diusir" Erin merespon
Dia terlalu fokus membaca buku yang ada di depannya, sampai Veskal saja merasa kalau tidak ada gunanya mencari topik dengan Erin sekarang ini
Karena itu, dia pun ikut membaca dengan mengambil salah satu buku dari tumpukan yang dipinjam Erin
Tumpukan itu cukup menggunung. Erin itu benar-benar seorang kutu buku yang suka sekali membaca...
"Mari kita lihat... Novel Romantis. Novel Romantis. Novel Romantis..."
Semua buku di tumpukan itu hanya diisi dengan Genre Romansa...
"Erin. Tidak ada buku selain Novel Romantis?"
"Tidak. Silahkan ambil saja di rak buku sana jika kamu tidak tertarik dengan bacaanku"
"... Cih. Mengajak orang tapi memperlakukan mereka dengan tidak layak..."
Veskal sibuk menggerutu, kemudian mulai mencari-cari buku yang ingin dia baca dari beberapa rak buku itu
Toko itu cukup sempit, jadi tidak banyak rak buku yang ada disana. Itu memudahkan Veskal untuk mencari bacaan yang dia inginkan
Rasanya isi toko buku itu hanya diisi bacaan tidak ilmiah saja...
'Tidak ada buku bacaan untuk mengasah kemampuan kah...?', Veskal bergumam dalam hati
Buku Novel Bela diri saja tidak ada disini. Rata-rata Novel yang ada benar-benar diisi genre romansa
"Hah... Sepertinya dongeng lebih baik..."
Dia pun mengambil sebuah buku dongeng secara acak. Buku yang dia dapatkan adalah dongeng berjudul, 'Dua Roh Bersaudara'. Veskal langsung tahu apa isi buku itu hanya dari judulnya. Dan untuk sebuah buku dongeng, buku itu sangat tebal
Dia membawa buku itu terlebih dahulu kembali ke meja baca. Erin sempat melirik sedikit kearah buku yang dibawa Veskal, tapi tidak lama dia kembali fokus ke bukunya, memasang wajah tidak tertarik
"Kenapa kamu mengambil buku itu?" Erin bertanya pada Veskal
"Aku hanya mengambil acak. Lebih baik aku membaca buku ini daripada datang kemari dan sama sekali tidak membaca apapun"
Erin diam tidak merespon setelah itu. Veskal pun menghela napas ketika dia hanya sibuk membalik halaman bukunya. Karena kesunyian datang diantara mereka, Veskal mulai membuka buku yang dia ingin baca itu
Dan sesuai dugaannya. Buku itu memang berisi tentang 2 roh agung bersaudara, Marcellus dan Lazarus. Kisah yang dimulai dari alasan mereka tercipta, perang yang mereka akhiri, pengkhianatan seorang kakak di tengah kedamaian sesaat, dan kematian mereka berdua
Dua bersaudara itu berhadapan dengan satu sama lain selama 10 tahun lamanya. Tetapi, mereka sama sekali tidak menaruh rasa benci kepada satu sama lain. Marcellus ingin melindungi manusia, dimana Lazarus ingin menghancurkan mereka. Sayangnya, buku ini hanya menggambarkan Lazarus sebagai seorang yang tidak peduli pada siapapun, bahkan adiknya sendiri
"Aku tidak bisa membayangkan harus memusuhi saudara yang kucintai selama 10 tahun lamanya" Veskal bergumam
Ditambah dengan harus membunuhnya dengan tangan sendiri. Betapa tragisnya hal itu ketika menimpa seseorang
"Tapi, isi buku itu hanya omong kosong"
"Heh?"
Veskal terkejut mendengar respon mendadak dari Erin
Bukan karena dia tiba-tiba berbicara atau karena dia dengan jelasnya mengatakan hal itu di dalam sebuah fasilitas umum, tetapi karena dia tidak menyangka Erin memiliki pola pikir yang sama sepertinya
"Lazarus sama sekali tidak pernah berniat melakukan sesuatu yang jahat. Kehancuran yang dia sebabkan lah yang membuatnya 'jahat'. Kehancuran yang membantu manusia untuk sadar akan apa yang mereka perbuat. Kehancuran yang membuat mereka belajar bahwa sebuah tindakan keji, sekecil apapun itu bagi mereka, dapat membuat hidup seseorang hancur berkeping-keping
__ADS_1
Tetapi manusia hanya melihat kejahatan yang dilakukan Lazarus. Mereka melewatkan apa yang dimaksudkan oleh Lazarus ketika mereka melakukan dosa. Lagipula, semua hal yang dilakukan Lazarus itu disebabkan oleh dosa manusia. Jadi-"
"Erin. Ambil napas dulu"
Veskal merasa lemas melihat Erin tidak berhenti bicara seperti itu. Dia bahkan tidak terlihat mengambil napas selagi berbicara tadi. Erin bahkan tidak terlihat lemas sedikitpun setalah dia selesai bicara karena dipotong Veskal
Tapi, yang membuatnya terkesan adalah, bahwa Erin memiliki pemikiran yang persis mengenai kisah ini, sama seperti dirinya sendiri
Aku pernah mengatakan padanya dan Verdea, bahwa tidak ada yang baik atau jahat di dalam kisah ini. Semua orang memiliki warna abu-abu, dan manusia saja yang membedakan siapa dengan siapa. Itu karena mereka membutuhkan seorang penjahat dalam sebuah kisah tentang pahlawan
Mereka sengaja menggambarkan Lazarus seperti itu dalam buku-buku yang ditulis. Seorang yang jahat, keji dan tidak memiliki rasa iba kepada makhluk apapun itu. Tetapi bagi Veskal, dia adalah sebuah kejahatan terhadap kemanusiaan. Dia tidak bermaksud menyakiti manusia, tetapi dia berniat untuk menyakiti kemanusiaan mereka itu dan memaksa mereka keluar disaat adanya ancaman
Dengan pengkhianatan Lazarus, manusia menjadi satu untuk menghadapinya. Tetapi, apa yang diimpikan Lazarus tidak bisa terus bertahan. Manusia tidak akan berubah dalam persoalan ini
Mereka kembali mencoba menggulingkan satu sama lain dalam perang takhta. Pencurian dan pembunuhan tidak jarang terjadi dalam semua kalangan. Penganiayaan dan pemerkosaan juga banyak terjadi hingga meninggalkan bekas yang tidak bisa disembuhkan
Apapun yang dilakukan Lazarus adalah sia-sia dan hanya membuat kekacauan. Itulah sebabnya semua orang menggambarnya sebagai 'jahat'. Tetapi sesungguhnya, dia adalah orang yang benar-benar berada diantara hitam dan putih. Dia hanya ingin membuat manusia menyadari kesalahan mereka walaupun melalui kekerasan, tetapi tidak sedikitpun kaum itu mau berubah. Mereka memandang kekerasan dari Lazarus sebagai kejahatan, tapi mereka melupakan hal lebih keji yang pernah mereka lakukan
...
"Kenapa kamu berpikir kalau kisah ini hanya omong kosong, Erin?"
"Karena aku tahu betul semua hal yang dilakukan, semua niat yang Lazarus miliki, sama sekali tidak seperti yang digambarkan dalam buku itu. Itu sebabnya ada banyak versi dari cerita ini, karena tidak ada satupun yang tahu kebenaran aslinya. Mereka hanya menilai berdasarkan apa yang mereka lihat"
"... Benar juga. Aku terkesan dan salut padamu karena bisa mengambil kesimpulan seperti itu"
"Jadi, kamu memiliki pendapat yang sama?"
"Begitulah. Tetapi, aku tidak ingin menggambarkan Lazarus sebagai seseorang yang baik. Itu karena setelah apapun niatnya itu untuk manusia, kehancuran yang dia sebabkan bukanlah sesuatu yang seharusnya dilakukan, walaupun itu adalah jalan pintas tercepat"
"Kalau begitu kita berbeda. Jika menurutku, kaum kita pantas mendapatkan 'kekejaman' dari Lazarus itu. Memang banyak juga yang tidak pantas menerimanya, tapi teguran seperti itu sangat diperlukan"
Veskal mengangguk kecil meresponnya
Rasanya...
"Rasanya, situasi Lazarus saat itu... Sama seperti kita dan kaum Elf sekarang. Hanya saja, Lazarus tidak pernah memiliki kesempatan untuk membuktikan kembali dirinya"
...
"Sangat disayangkan bukan? Tapi, kita hanya mendoakan mereka saja sekarang ini, setidaknya
Dan untuk kita sendiri, aku harap kita semua akan selalu baik-baik saja. Tidak ada dari kita yang akan termakan takdir buruk"
"... Terima kasih, Erin. Terima kasih sudah membantuku tenang"
"Tidak apa, bocah. Semua hal yang akan ada di depannya tidak akan berhenti memburuk, sama seperti ombak laut. Jadi, kamu harus bisa membiasakan diri"
Perkataan Erin barusan sudah cukup membuatnya tenang dan yakin, bahwa dia harus terus melanjutkan pekerjaan ini
Seandainya dia memang tersapu ombak besar atau dimakan seekor ular nanti, setidaknya dia sudah melakukan usaha terbaik dengan tekadnya yang terkuat. Setidaknya... Dia bisa membantuku dan Verdea menuju tempat terbaik di dunia ini. Tempat dimana nama kami kembali bersih, dan ketenangan selalu datang kepada kami
'Itulah alasan aku lahir. Aku hidup untuk melayani, maka dengan melayani lah aku akan mati. Selama mereka berdua baik-baik saja, itu sudah cukup untuk membuat senyum terbesar di wajahku'
...
"Omong-omong, soal buku yang kamu bawa tadi..."
"Pertama-tama, berapa umurmu?"
"Aku yakin tahun ini akan berumur 20 atau sekitar itu...?"
"Baiklah. Kalau begitu kamu boleh membacanya"
Veskal bertanya-tanya kenapa dia harus diperbolehkan membaca sebuah buku
Sampai... Dia membaca isinya...
Wajahnya langsung memerah. Dia ingin berhenti membaca, tapi entah kenapa ingin melanjutkan juga...
"Masih ada banyak jika kamu penasaran. Akan kuhadiahkan beberapa yang sudah kubaca untukmu" Erin yang mulai tersenyum lebar berkata padanya, selagi Veskal terus tertimpa dilema
......................
Dia sudah siap berangkat menuju Benua Lao. Semua persiapannya sudah selesai, baik mental maupun materi. Yang tersisa adalah naik keatas kapal itu. Kapal yang akan membawa kehancuran bagi Walter
Para Kru Black Hunt terlihat berapi-api, sampai terasa mereka siap membakar seseorang
__ADS_1
"Baiklah badut-badutku yang setia! Mari kita balaskan dendam Kapten Alice, sekali dan selamanya!"