
--- Sementara itu, Gerbang Hutan ---
...
...
Wah, wah...
Aku yakin tidak semua orang bisa bicara dengan Leshy. Tidak, jika orang itu bukanlah seseorang yang tidak terlalu penting
Apalagi jika Treant yang ada di hadapannya itu bukanlah sesama penjaga kaum Elf. Aku bisa langsung menebak siapa dirinya itu
"Augurtrail", sebuah nama pun kulontarkan keluar
Dia sontak terkejut, memastikan kalau tebakanku itu benar. Dia memang Augurtrail
Sebuah sosok Treant yang tubuhnya terbuat dari kayu jati. Lebih ramping dibandingkan dengan Treant pada umumnya, dan memiliki bentuk wajah yang sangat lugu. Dia bahkan mulai terlihat gugup dengan kehadiranku yang mendadak
Leshy menatap kearahnya agar dia bersikap lebih santai, selagi dia berdiri untuk menyambut kedatanganku kembali
"Oberon ya. Kuperkenalkan kepadamu Augurtrail, penjaga kedua dari klan Elf, dan teman dari Titania Shimia" Leshy memperkenalkan Augurtrail kepadaku
"Kamu selalu menghindariku entah kenapa. Apa ini juga berlaku untuk setiap pemimpin Elf setelah Titania Shimia?" Aku bertanya
Ini kali pertama aku bertemu dengannya secara langsung...
"A- Aku tidak tahu bagaimana harus menyapa kalian semua..." Augurtrail berkata, sebelum tersentak. "Aku lupa tata kramaku!"
Dia sangat gugup dalam berbicara hah...? Padahal beberapa saat yang lalu, dia terlihat sangat santai dengan Leshy...
"Dia datang berkunjung untuk menjenguk Seren ya. Dia berniat untuk pergi dan menitip salam untukmu kepadaku, tetapi dirimu telah tiba terlebih dahulu ya"
Hm... Begitu
"Apa kamu berkenan jika kita duduk dan bicara untuk lebih lama, Augurtrail?"
Permintaanku membuatnya tersentak lagi. Dia mulai bertingkah malu-malu, selagi aku dan Leshy menunggu jawabannya
Dan pada akhirnya, dia pun memberikan sebuah konfirmasi
"Dimengerti"
Senang mendengar itu
Kami bertiga pun duduk di tempat yang kami anggap nyaman, namun masih berdekatan dengan satu sama lain. Tepat ketika Augurtrail duduk, tiba-tiba saja banyak sekali burung datang dan hinggap di ranting dan dahannya
Aku sedikit terkejut dengan itu, tetapi aku pun teringat kalau Treant adalah wangsa kaum Elf yang paling dekat dengan makhluk tak berakal. Mereka adalah alam itu sendiri, tidak seperti Elf pada umumnya yang ditugaskan untuk melindungi alam
"Kamu sepertinya sangat lembut dengan hewan-hewan itu" Aku menyanjungnya
"Ini bukan apa-apa. Aku adalah seorang Treant, jadi sudah naluriku untuk bersikap lembut dengan semua makhluk kecil ini"
Dia bahkan memperbolehkan seekor burung kecil untuk hinggap di jarinya. Dia turunkan telunjuknya dari kepala dan dia tatap burung yang hinggap diatasnya dengan tatapan yang sangat lembut. Terlihat sekali kalau dia ingin mengelus hewan manis itu, tetapi dia takut akan menyakitinya karena perbedaan ukuran mereka
"Titania Shimia juga berkata, kalau ini adalah tugas yang mulia. Menjaga alam, mencintai makhluk di dalamnya, dan memberi mereka tempat bernaung"
Matanya tiba-tiba redup, merasakan suatu kesedihan yang tiba-tiba saja menempel di hatinya. Dengan napas berat, dia pun mengungkapkan hal itu dengan jelas
"Seren tiada karena tugas ini. Pada akhir hidupnya, aku yakin dia merasa cukup puas bisa melindungi banyak hal sekaligus. Walaupun dia tidak yakin, kalau masa depan akan baik terhadap hal yang dilindungi olehnya itu"
...
"Kami semua sudah pernah kehilangan seseorang yang kami simpan di hati kami, Oberon ya. Tapi, bukan berarti kehilangan seperti ini juga akan menghambat kami ya" Leshy menambahkan
"... Aku tahu itu, Leshy"
Jika aku yang dulu duduk bersama dengan kalian berdua, kalimat itu akan terasa seperti setengah kenyataannya saja
Tapi...
"Itu sebabnya aku akan mencoba yang terbaik untuk menjaga yang masih hidup"
...
Keduanya terdiam. Augurtrail mulai mengalihkan kepalanya untuk saling tatap menatap dengan Leshy. Dan Leshy pun mengangguk untuk menandakan sesuatu
Kepalanya pun beralih kembali untuk menatap kepadaku
"Aku tidak berhak menilai apakah kamu adalah pemimpin yang baik ataupun tidak, Oberon. Tapi jika aku bisa bilang, sosok yang ada di hadapanku ini bukanlah seperti apa yang kudengar dari keluhan Elf di Miralius" Dia berkata kemudian
"Hm? Memangnya aku seperti apa?"
"Kamu mengingatkanku kepada Titania Shimia. Hanya saja..."
...
Dia lagi-lagi terdiam. Leshy juga begitu, mulai menanamkan dagunya di tanah, membiarkan sebuah ruang untuk digunakan Augurtrail selama yang dia perlukan
"... Hanya saja?" aku pun bertanya
Dia mulai menghela napas keluh. Sesuatu yang berat akan segera dia utarakan
"... Titania Shimia tidak pernah mati di hadapan kami. Dia meninggalkan tugasnya sebagai seorang pemimpin dan pergi begitu saja
Berlawanan dengan dirimu yang sama sekali tidak gentar walaupun diberi bisikan cemooh seperti itu. Kamu tetap menjalankan tugasmu sebagai seorang pemimpin, walaupun kaum milikmu sendiri menolak dirimu"
...
Hm... Kisah lama itu...
Para petinggi lainnya pasti akan bercerita kalau Titania Shimia telah tiada layaknya pemimpin Elf yang lain. Tetapi, apa yang diceritakan Zaphir memang benar. Dan apa yang dikatakan Augurtrail sekarang ini — seseorang yang dekat sekali dengan Titania tersebut, memperkuat apa yang telah diceritakan kepadaku
Titania Shimia ternyata memang benar tidak pernah tiada dengan cara terhormat. Dia menghilang entah kenapa, dan entah bagaimana nasibnya
__ADS_1
"Walaupun begitu, dia adalah salah satu orang yang memperkenalkan kaum Elf kepada kejayaan. Berkatnya kita mampu bertahan dengan lebih baik dalam perang ribuan tahun. Berkatnya juga, namamu dan Zaphir muncul di dalam sejarah kita sebagai prajurit terbaik dan telinga para Elf"
"Kamu juga memberi banyak hal untuk kaum Elf, Oberon. Bahkan jika kamu membandingkannya dengan ratuku itu, pencapaian yang kamu dapatkan bukanlah sesuatu yang pernah dilihat oleh kaum Elf"
Dia bermaksud untuk membahas pencapaianku dalam menjalin hubungan kembali diantara kaum Manusia dan Elf, juga menumpas beberapa masalah besar yang membuat kami semua disanjung banyak orang
"Dan aku belum menuntaskannya. Jika aku gugur sekarang atau menarik langkahku mundur, semua pencapaian itu akan sia-sia"
Keduanya pun paham, kenapa aku harus tetap maju di dalam peperangan takdir ini
...
"Namun, aku harus setuju dengan Augurtrail, Oberon ya. Melakukan perdamaian dan bahkan perbaikan hubungan sosial dengan manusia adalah suatu pencapaian yang besar. Di dalam sejarah kita, hanya Ayahanda saja yang bisa berhubungan baik dengan kaum itu"
"Jika kamu tidak menghitung suami Titania Shimia, Leshy memang benar"
...
Suami?
"Tunggu. Kamu berkata kalau suami milik Titania Shimia...
Adalah seorang manusia?"
Augurtrail mengangguk tanpa ragu sedikitpun
"Bagaimana? Masa pemerintahan Titania Shimia adalah sebuah masa dimana Elf mulai bersikap agresif kepada kaum manusia"
"Jadi, pria bernama Whistle itu memang kekasihnya ya...?"
Leshy juga tahu mengenai hal ini...
"Herran Whistle adalah nama dari suami Titania Shimia. Dan jika aku boleh jujur Oberon, aku tidak akan berada di sisi kalian para Elf seandainya aku tidak bertemu dengan pria itu terlebih dahulu"
Hm...?
"Dia manusia yang sangat terhormat. Seorang petualang yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Kami bertemu secara kebetulan, dan dia meminta bantuanku untuk menunjukkan arah menuju Miralius"
Augurtrail kemudian menunduk lemas, seakan ada rasa bersalah di hatinya
"... Di dalam kepalaku aku bisa membayangkan Titania Shimia menghabisinya pada langkah pertama dia menapak kaki di Gerbang Hutan. Aku berniat untuk mengusirnya pergi dari hadapanku dan mati saja. Tapi, entah bagaimana aku bisa dia seret untuk mengawalnya ke tempat ini"
"Lalu takdir mempertemukan kalian bertiga ya?" Leshy menyela
"Titania Shimia hampir mencopot kepala kami berdua. Tapi, pada akhirnya, dia lah yang meyakinkan ratuku itu untuk mengampuni kami"
Herran Whistle
...
"Jika dia benar kekasih Titania Shimia, bagaimana bisa dia tidak tercatat di dalam sejarah kita?"
Itu masih mengganjal semenjak nama itu diperkenalkan kepadaku. Dan dari raut wajah Augurtrail yang mulai lesu serta sedikit ternganga itu, aku pun hanya diam dan menunggu
...!
Ya Tuhan...
"Bibit kebencian yang ditanamkan ratuku kepada kaum manusia mulai menggerogoti dia kembali. Disaat Herran meninggal akibat terbunuh di tangan seorang manusia, dan penolakan kaum Elf terhadap dirinya, aku melihat betapa hancurnya hati ratuku hanya dari tatapan wajah semata..."
...
Dan dua hal itu pun membawa Titania Shimia pergi untuk meninggalkan tugasnya. Rasa bersalah karena dialah yang telah menanamkan kebencian itu pasti menggerogoti hatinya...
Jika aku boleh jujur, kesedihan dan kemarahannya itu bisa dimengerti. Dia berhak untuk melakukan hal itu, dan juga tidak dalam waktu yang sama
Kejam sekali bukan? Bagi kebanyakan orang, nasib seorang pemimpin adalah sebuah kutukan, bukanlah sebuah berkah. Hanya segelintir orang saja yang mampu mengubah hal itu menjadi berkah
...
"Disaat sekarang ini, aku sungguh berharap Herran adalah seorang Verdea bagi kaum Elf. Jika dia tidak tiada dan diberi lebih banyak waktu, aku yakin kaum Elf akan memasuki masa emas dengan lebih cepat..."
"Namun naas, pria itu tiada karena peperangan yang tidak melibatkan dirinya ya. Bahkan ketika dia membela kami, Elf disaat itu masih membenci kaum manusia ya"
...
"Seorang Verdea bagi para kaum Elf..."
Aku sedikit geli mendengarkan itu, walaupun rasa syukurku juga bergejolak
"Kamu benar. Seandainya orang seperti Verdea datang lebih awal di dalam masa itu, aku yakin penderitaan kaum Elf sekarang ini tidak akan terjadi..."
Namun, aku sangat beruntung bisa bertemu dengan anak itu di masa ini. Dia sungguh adalah seorang utusan, untukku, untuk kaum Elf dan untuk kaumnya sendiri
...
"Apakah aku sudah memberitahu kalian mengenai identitas lain milik Verdea?"
Aku tidak tahu dari mana pemikiran itu berasal. Tapi, aku merasa kalau keduanya harus tahu mengenai hal ini
"Fakta kalau dia adalah utusan Marcellus bernama Regulus?"
"...!"
Ah, jadi mereka sudah tahu. Reaksi tenang mereka menunjukkan hal itu dengan baik
"Tidak ada yang terlewat dari telingaku, Oberon. Sudah menjadi tugas bagiku untuk melayani kalian seperti itu"
"Aku tidak meragukan itu, Augurtrail. Dan sepertinya, kalian sudah menerima fakta itu tanpa masalah lagi"
Augurtrail dan Leshy pun diam, dimana salah satunya hanya tersenyum dan yang satunya hanya memejamkan mata
"Lalu, apa gunanya kami kesal kepadanya ya? Karena tugas yang dia emban sebagai pelindung umat manusia? Dia lebih daripada itu, dan aku selalu berharap begitu ya
__ADS_1
Dan aku berharap, ya Oberon. Aku berharap kalau dia adalah orang yang bisa menjagamu serta memberimu arah"
...
Aku senang mendengar kalimat itu darinya...
"Terima kasih karena sudah mau percaya kepadanya"
"Tidak perlu ya. Aku hanya akan diam saja untuk sekarang. Fakta kalau dia ada kaitannya dengan Marcellus masih membuatku kesal ya"
Ahahaha...
"Walaupun begitu, Oberon..."
Aku kembali fokus ketika menyadari dia mengangkat kepalanya — menatap langsung kearahku. Moncongnya yang sedikit panjang itu terarah dengan lurus, selagi matanya dipenuhi dengan sikap serius
"Aku ingatkan agar kamu tidak terlalu dekat dengan manusia ya. Kehancuran bagi para Elf yang tidak mengindahkan laranganku ini selalu bersikap fatal ya"
...
Itu kalimat yang dia utarakan kepadaku. Kalimat yang entah bagaimana, memiliki nada yang sama dengan apa yang dikatakan kedua orang tuaku dulu
'Jangan terlalu dekat dengan manusia'. Sebuah kalimat yang tidak akan terlupakan begitu saja. Sebuah peringatan, lebih tepatnya
...
"Kamu mungkin sudah terlalu terlambat untuk memperingatkanku, Leshy"
Aku sudah terlalu jauh berada diantara manusia. Banyak dari teman-temanku juga berasal dari kaum itu
Aku juga tidak mengindahkan kalimat dari orang tuaku itu dahulu...
"Walaupun begitu, terima kasih karena sudah mau memperingatkanku. Hanya saja, aku sudah tidak bisa menarik langkahku kembali. Inilah aku"
Apapun itu, aku tidak akan bisa menjauh dari manusia. Terutama kedua anak itu...
...
"Kalau begitu, jagalah mereka, Oberon"
Augurtrail yang melontarkan kalimatnya menarik perhatian kami berdua
"Manusia tidak hidup selamanya di sisi kita para Elf"
Kalimatnya berhenti disana, diakhiri dengan sebuah senyum lebar yang menenangkan
Ya... Aku paham itu Augurtrail...
Aku paham kalau Verdea dan Veskal tidak akan hidup dengan umur panjang seperti kaum kita. Mereka mungkin akan tiada di umur yang bahkan belum menyentuh 100 tahun
Dan yang paling tragis, mereka mungkin akan bertemu dengan akhir mereka di ujung pertempuran ini...
Hal terbaik yang bisa kulakukan untuk mereka hanyalah menyediakan kebahagiaan yang cukup
...
Aku yakin, inilah yang dirasakan Ayahanda ketika dia masih menjadi satu-satunya Elf dahulu, dan berkelana untuk menjaga manusia...
"Tapi... Ada kala aku tidak tahu bagaimana agar anak-anak itu bisa bahagia..."
Karena ada masanya, aku merasa kalau keduanya semakin menapak jauh dari posisiku...
...
"Kamu akan tahu, Oberon"
Augurtrail pun bangun dari tempatnya duduk. Perlahan dia membungkuk, seakan dia memberi salam untuk izin pamit
"Ada waktunya sebuah bunga mekar bukan? Yang kamu perlu lakukan hanyalah menjaga bunga-bunga itu dengan baik dan tepat"
Dia sungguh ingin pergi, terlihat ketika dia mulai berbalik dari posisiku dan Leshy
"Pertemuan kita sudahi disini saja, Augurtrail?" aku berkata kepadanya
"Para Gnome yang beristirahat sebentar lagi akan keluar. Aku tidak ingin mengganggu mereka dengan kehadiranku"
"Kehadiranmu tidak mengganggu, Augurtrail"
Walaupun aku yakin kamulah yang akan terganggu dengan mereka
Tapi dia hanya melambai dengan canggung, selagi langkahnya yang berat itu dia arahkan ke timur Goeitias
...
"Verdea akan senang bertemu denganmu, Augurtrail"
Langkahnya pun sempat terhenti. Senyap datang diantara kami bertiga, selagi dia sedikit memutar badannya kembali
"Sampaikan salamku kepadanya. Aku... Juga akan senang bertemu dengannya"
Dan dengan begitu, dia pun kembali berjalan. Hanya hitungan detik, kami pun tidak bisa mendengar suara langkah kakinya, apalagi wujudnya dalam pandangan mata. Augurtrail sudah sepenuhnya pergi, selagi para Gnome mulai hadir kembali
"Maaf kami terlambat untuk menyambutmu, Oberon" Welt, petinggi mereka, menyambutku
...
...
...
Aku harap kamu mau bertemu dengan Verdea lagi. Karena...
Sepertinya aku sudah paham, kenapa kamu tidak ingin merasa dekat dengan orang lain lagi...
__ADS_1