
--- Keesokan Harinya ---
Aku masih duduk di samping Verdea yang tertidur di ranjangnya
Dia tidur lebih lama dari yang kuperkirakan. Padahal hal yang aku ingin dia lakukan adalah hal kecil dan tidak sulit
Aku memintanya untuk menanyakan beberapa hal kepada Marcellus, mulai dari yang penting terlebih dahulu, yaitu kenapa dia meletakkan benda itu di tangan Verdea
Tapi, dia masih belum bangun. Dia sudah tidur sejak pukul 10 malam. Pertanyaan itu bahkan tidak terlalu banyak, dan mungkin hanya memakan waktu setengah jam
Mungkin perkataan seseorang tentang waktu dunia mimpi yang terasa berjalan lebih cepat itu ada benarnya
Suara pintu terbuka kemudian terdengar. Veskal dan Ordelia masuk ke dalam ruangan selagi aku menoleh untuk menyambut mereka
"Dia masih tidur?" Veskal bertanya sembari mengambilkan tempat duduk untuknya dan Ordelia
"Ya. Tapi... Aku tidak merasa ini bisa berhasil" Aku berkata sambil menoleh kembali ke Verdea
Dia masih tidur, tapi tidak ada apapun yang menandakan kalau dia terganggu atau ada sesuatu yang terjadi
"... Kalian tidak seharusnya membiarkan dia terus bertemu orang itu" Ordelia berkata
Kami berdua menoleh kearahnya. Dia terlihat gelisah, dan kepalanya menunduk. Wajah kesal dan murungnya itu membuatku merasa iba
...
"Seandainya aku yang bisa melakukannya, aku yang akan pergi menemuinya, Ordelia" Aku membalas
Helaan napas panjang keluar dari mulutku. Aku bahkan tidak tidur selama semalaman
"Bagaimana dengan yang lainnya?" Aku bertanya
"Luna dan Luxor sedang membantu para Fae, sementara Ivor dan Lyralia sedang memasak sarapan" Ordelia menjawab
Tapi, aku merasa seperti sedang mengalihkan pembicaraan sekarang ini. Ordelia juga terlihat ingin lebih membahas tentang Verdea
"Aku sebenarnya masih bingung, kenapa kalian ingin bertemu dengan orang itu?" Ordelia bertanya
"... Karena aku butuh jawaban"
Rambut Verdea kuelus dengan perlahan agar tidak membangunkannya di tengah pembicaraan kami
Ya benar
Aku hanya butuh jawaban itu untuk sekarang...
...
Ah ya...
"Ordelia. Aku mohon kamu tolong ambilkan aku buku tentang kisah Marcellus sebanyak yang kamu bisa dapatkan di perpustakaan. Lalu, antarkan ke kamarku"
"Ah...? Baiklah..."
Dia langsung melangkah pergi dari kamar Verdea
Semoga aku bisa menemukan jawaban dari buku-buku itu nanti...
"... Kamu benar-benar bekerja keras, hm?" Veskal berkata setelah Ordelia pergi
"Kalau aku tidak melakukannya, aku tidak akan bisa tenang"
Anak ini sudah menaruh banyak kepercayaan padaku. Aku tidak mungkin harus mengecewakannya. Anak tidak bersalah seperti dia juga seharusnya tidak boleh mengalami kejadian-kejadian beberapa hari terakhir ini
"Kamu yang mengatakan hal ini padaku, jadi jangan lupakan...
Ambillah waktu istirahat untukmu. Kamu pantas, dan harus mendapatkannya" Veskal mengingatkanku dengan perkataan yang kuberikan padanya
...
Aku ingin istirahat. Aku memang menaruh terlalu banyak beban di pundakku
Tapi mereka berdua juga harus beristirahat. Aku tidak akan membiarkan sedikitpun beban ini jatuh ke pundak mereka
Masih banyak yang bisa mereka lakukan untuk menghabiskan masa muda mereka. Aku tidak akan membiarkan seorangpun mengambil waktu berharga milik mereka itu
...
Hah... Aku ingin bilang aku lelah, tapi masih banyak hal yang masih terasa janggal dan menggangguku
"... Vain...?"
Menyadari suara itu, aku menoleh kearah Verdea yang sudah setengah bangun
Dia perlahan mengusap matanya selagi berusaha duduk di kasurnya
Aku jadi tidak tega mengganggunya yang baru bangun ini dengan pertanyaanku, jadi aku pun tutup mulut selagi menantunya duduk dengan tegak dan kembali menyegarkan diri
"... Oh! Sudah pagi!?"
Verdea memutar kepalanya kesana kemari ketika dia sudah sepenuhnya siuman
"Ya... Begitulah" Aku menjawab
Dia masih terlihat pusing karena efek dari baru bangun tidur
Baiklah, dia harus melakukan sesuatu terlebih dahulu untuk menyegarkan badan
__ADS_1
"Kau mau kumandikan hari ini atau tidak?"
"Mandikan aku saja... Rasanya aku baru bangun diatas ranjang besi" Dia menjawab
Tidak ada perumpamaan yang lebih bagus kah?
"Baiklah" Aku mengangkat tubuh Verdea dan mulai membawanya ke kamar mandi sambil berkata, "Ayo!"
Sementara itu Veskal hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, kemudian pergi mencari teman-temanku yang lain
......................
"Nyam nyam"
"Makanlah perlahan Verdea. Aku malah lebih sering mengelap saus di mulutmu daripada menyentuh makananku"
Aku mengelap mulut Verdea sekali lagi dengan sapu tanganku
Dia terus makan seakan dia itu singa yang tidak makan selama berhari-hari...
"Sepertinya pelajaran tata krama harus diperketat lagi..." Ordelia berkata
Mendengar hal itu, Verdea langsung panik dan mengubah cara makannya
Aku tertawa kecil melihatnya yang tiba-tiba terlihat seperti anak kucing itu
Tiba-tiba Verdea teringat sesuatu. Dia langsung menoleh kearahku dan berkata, "Ah benar! Aku lupa memberitahumu sesuatu!"
"Kunyah makananmu dahu-"
Dia langsung mengunyah dan menelan habis makanan di mulutnya, kemudian melanjutkan apa yang ingin dia katakan tanpa memedulikan lagi perkataanku lebih jauh
"Marcellus hanya memberi satu jawaban dari semua pertanyaanku" Dia berkata kemudian tanpa ragu
Semua temanku yang tidak tahu dengan hal ini diam, kemudian menoleh kearahku dengan mata tajam
"Kamu menyuruhnya-"
"Tunggu Luna. Aku akan jelaskan nanti, aku mohon"
Luna langsung duduk kembali, tapi raut wajah kesalnya tidak menandakan kalau dia senang dengan hal ini
Aku mengisyaratkan pada Verdea untuk melanjutkan perkataannya
"Dia hanya mengatakan, 'Carilah jati dirimu, dan aku akan memberitahumu segalanya' setiap kali aku menanyakan sesuatu"
"Hanya itu?"
'Carilah jati dirimu'? Apa maksud orang itu?
Aku menoleh kearah Luxor. Dia kemudian terlihat gugup karena semua mata tertuju kearahnya ketika dia menyerukan hal itu
"Jangan asal-"
"Tidak. Dia mungkin ada benarnya" Aku memotong Ivor
"... Kamu tahu jawabannya Vain?" Veskal bertanya
Aku tidak yakin itu jawaban tepatnya, tapi hal itu akan memudahkan masalah ini jika aku menjadikannya sebuah patokan terlebih dahulu
Tapi, jika aku menjadikan teori itu sebagai patokan, artinya...
Bukan Marcellus yang meletakkan segel itu di tangan Verdea
Segel itu lah yang dengan sendirinya memilih Verdea sebagai tuannya. Itu karena, Verdea dan Marcellus memiliki 'ikatan' dimana hanya Marcellus yang mengetahui, dan segel itulah perantaranya. Tapi...
"... Kamu terlalu banyak pikiran, Vainzel" Luna berkata
Renunganku langsung buyar karena dia menyebut namaku
"Kalau kamu butuh bantuan, kamu seharusnya membiarkan kami ikut. Bukannya malah membebani dirimu sendiri" Dia melanjutkan
"... Aku sudah cukup menyeret kalian terlalu dalam ke masalah ini..." Aku membalas
Kepalaku tertunduk, dan perasaanku kacau karena perkataan Luna itu
"Tidak. Kami tetap ingin membantu, bagaimanapun caranya. Kami ini temanmu"
"Justru karena kalian temanku yang membuatku ingin melindungi kalian semua"
"Vain-!"
"Tidak Luna. Sudah cukup. Aku tidak ingin kalian lebih terluka lagi setelah kejadian waktu itu"
...
Luna perlahan menutup wajahnya dengan tangan kanan dan menghela napas keluh. Dia sudah tidak tahu harus mengatakan apa lagi padaku
Semua temanku yang menyaksikan pembicaraan kami itu hanya diam seribu bahasa
"... Baiklah. Aku akan pergi sekarang. Terima kasih atas makanannya Ivor"
Aku bangun dari tempat dudukku sembari mengangguk pada Ivor. Ivor hanya diam ketika melihat kepergianku dari ruang makan
Brak!
Meja makan itu dihantam oleh Ivor dengan telapak tangannya
__ADS_1
"Ada apa dengan dia coba!?" Ivor berkata dengan kesalnya
"Ivor..."
Lyralia langsung merasa gelisah dan risih karena hal ini
"Dia memang selalu begitu. Tapi aku heran kenapa kita semua tidak bisa terbiasa dengan sikap keras kepalanya itu" Luxor menyela sambil terus makan
"Itu karena dia selalu berpikir lebih jauh dari kita semua. Pikirannya itu tidak pernah bisa disamai bahkan dengan gabungan dari kita semua" Luna berkata
Dia terduduk lemas di kursi dan terlihat pusing. Dahinya dipegang dengan tangannya dan nyaris menutupi seluruh wajahnya
"Seandainya aku bisa menyamai pikiran dan kekuatannya, aku pasti bisa membantu tanpa menghalangi" Tambahnya
"Kita mungkin harus sesekali menjauhkannya dari masalah seperti ini. Jika dia sudah bertekad sepenuhnya, dia tidak akan berhenti, bahkan jika nyawa taruhannya" Luxor berkata
Ordelia dan Veskal hanya diam menunduk karena mendengar perkataan yang lainnya
"... Dia... selalu seperti itu?" Gumam Verdea
Dia baru menyadari kalau aku mendorong diriku terlalu keras dalam masalah ini. Karena itu, dia berpikir dialah yang membuatku jadi begitu
Merasa bersalah. Dia turun dari tempat duduknya dan pergi menyusul ku
Veskal yang telat menyadari kepergiannya itu kemudian ikut menyusulnya, sementara teman-temanku hanya membiarkan mereka berdua pergi
......................
Ha..................AAAHHH!!!
Kenapa buku-buku ini isinya berat sekali!!??
Semua cara penulisannya sangat deskriptif sampai-sampai aku merasa otakku akan meledak membaca detail tidak pentingnya
Semuanya ditulis dengan detail. Untuk sebuah kisah narasi yang terkenal, kisah ini sangat panjang dan berisi banyak hal
Yang aku dapati dari salah satu buku itu adalah kalau manusia mencatat segala hal tentang Marcellus. Dimulai semenjak dia dilahirkan, kemudian beratus-ratus tahun detail kehidupannya, dan selalu berakhir dengan kematiannya
Aku tidak bisa membaca semua buku-buku tebal ini dalam waktu satu hari. Jika aku melakukannya, aku mungkin akan mati karena lelah
...
Sebaiknya aku harus membaca dua buku sekaligus. Sekalian membandingkan perbedaan versi ceritanya
Kesimpulan yang kutarik dari gabungan buku-buku ini mungkin akan sangat membantu
"Vain..."
Aku tersentak karena Verdea yang tiba-tiba memanggil dan muncul di sampingku. Hal itu membuat Verdea ikut kaget dan bergerak beberapa inci ke belakang
Bagaimana dia bisa masuk tanpa terdengar suara pintu terbuka coba? Aura sihirnya sangat lemah itu sebabnya aku tidak bisa mendeteksinya dengan kekuatanku
"Ada apa?" Aku bertanya pelan
".... Membaca buku?" Tanya Verdea
"Kenapa buku-buku dongeng ini sangat berat isinya coba?" Veskal yang tiba-tiba muncul berkata sambil membaca sebuah buku
Tapi tidak seperti Verdea, aku tidak kaget ketika melihat Veskal
"Entah. Kalian para manusia memang suka menyia-nyiakan kertas seperti ini" Aku berkata ketus sambil merampas buku yang berada di tangannya
"Kisah para pelindung, hm?"
Veskal kemudian duduk di atas ranjangku dalam posisi yang nyaman. Dia menyuruh Verdea untuk ikut duduk di sampingnya, kemudian Verdea melakukan sesuai dengan apa yang dia pinta
"Ceritakan pada kami kisah itu" Veskal meminta padaku
"Haa!? Kalian bicara seakan kalian penasaran dan tidak pernah mendengar kisah ini" Aku berkata
"Yaa.... Aku tidak pernah punya waktu menyentuh buku-buku itu karena pekerjaanku" Veskal membalas
"Dan aku tidak pernah diceritakan apapun tentang kisah itu, kecuali olehmu" Verdea menambahkan
....
Entah kenapa aku jadi kasihan dengan kedua anak ini. Tapi, aku juga merasa kalau berurusan dengan dua anak ini sekarang akan membuatku lelah setengah mati
"Hah... Baiklah..."
Dengan helaan napas itu, aku mengambil sebuah buku yang paling tipis
Bahkan buku paling tipis ini berukuran cukup tebal menurutku. Apa karena aku memang suka membaca buku tipis saja ya...?
Setelah duduk di antara mereka berdua, aku mulai membacakan kisah di buku itu
Bunga bermekaran untuk sang raja...
Dan darinya isinya...
Sepertinya ini menceritakan tentang kisah dongeng seorang raja pendiri kerajaan Hortensia
Kenapa buku ini ada disini?
Dan ketika aku sadar, bukan hanya buku itu saja yang isinya tidak menceritakan tentang Marcellus. Ordelia sepertinya mencampur apa yang kuminta dengan buku lainnya juga
Ah tidak apa, aku juga jadi penasaran dengan isi dongeng ini. Aku belum pernah membaca sejarah Hortensia sama sekali
__ADS_1