Book Of Flowers

Book Of Flowers
Verdea Mencari


__ADS_3

--- Keesokan Harinya, Halaman rumah Ordelia ---


"Hrnghhh...!!!"


"..."


"Puah! Kenapa coba susah sekali menggunakan sihir menengah?!"


"Kamu hanya payah. Bahkan aku bisa melakukannya dengan mudah"


Verdea mendecak kearah Remina yang hanya tersenyum remeh


Sekian kalinya dia gagal memunculkan sihir itu, Verdea merasa semakin gusar karenanya. Dia setidaknya ingin membuktikan kalau perkataanku mengenai dirinya yang kurang serasi dengan sihir itu salah


Tapi dia bahkan tidak bisa merapal sihir menengah semampu Remina yang bisa melakukannya dengan cukup mudah. Sihir api yang dia cukup banggakan itu masih tidak memiliki tingkat yang sepadan dengan sihir air milik Remina


Dia bisa menggunakan tangan kanannya untuk memperkuat sihir itu, tapi Verdea ingin melakukannya dengan kuasanya sendiri terlebih dahulu


Aku jadi kasihan melihat dia yang terlihat murung begitu. Mungkin tidak seharusnya aku mengatakan hal itu di depannya, walaupun aku yakin membuatnya tahu hal itu juga sama pentingnya


Dan di sisi lain, aku cukup bersyukur Ordelia tidak terlalu memaksakan diri


Aku sebenarnya tidak yakin dia seharusnya ikut denganku, tapi tanpa kekuatannya kami tidak akan bisa melakukan bagian apapun dalam rencana yang sudah kubuat rapi ini


Dia kunci utamanya, tapi aku tidak ingin menggunakannya selagi aku bisa melakukannya dengan tanganku


"Ayolah Verdea. Coba sekali lagi"


Kesampingkan itu, Ordelia cukup berkarisma menjadi guru. Wajar saja Verdea cukup cepat belajar tata krama darinya


Ordelia tahu betul Verdea tidak terlalu cocok dengan sihir, tapi dia masih berusaha mengajarkannya dengan telaten


...


Haah... Apa ada cara untuk menambah Mana seseorang ya...?


Aku tidak suka melihat wajah kusutnya itu. Aku jadi merasa bersalah...


...


Hm?


Aku tidak salah lihat bukan?


Itu Ves-


...


Ah, aku salah lihat...


Itu hanya angan-anganku saja...


Aku merasa cemas sekarang ini, karena dia tidak bersama kami sekarang, tapi berada di tangan musuh


Parahnya, aku sama sekali tidak tahu apa yang sedang terjadi padanya sekarang ini


Aku tidak tahu apa dia makan dengan baik sekarang ini. Aku tidak tahu apa dia bisa tidur atau terjaga sepanjang malam. Aku tidak tahu apakah dia tersakiti...


...


Aku teringat dengan apa yang kuperbincangkan dengan Cyth, dan hal itu semakin membuatku cemas


Aku takut kehilangan kedua temanku ini..


...


Hah...


"Vain...!!!"


Verdea memanggilku. Sebaiknya aku berhenti merenung terlalu dalam


"Kenapa? Latihan sihirnya memberatkan mu?" Aku bertanya padanya


"Beri aku air...!!! Aku lelah...!!!"


Anak ini...


Padahal Remina belum selesai latihan, tapi dia malah undur diri. Padahal dia sama semangatnya ketika dia meminta diajari oleh Ordelia


Aku hanya menggelengkan kepala mengabaikan semua itu, kemudian memerintahkan sebuah pohon untuk menurunkan air dari daunnya, masuk ke dalam gelas yang kupegang


Kusodorkan gelas itu kepada Verdea, yang meneguknya tanpa ragu sedikitpun


"Ah!! Keren!! Segar sekali!! Lain kali aku minum saja lewat daun-daun itu!" Dia berseru kemudian


"Tidak bisa setiap saat. Pohonnya mungkin sedang tidak berembun. Tidak ada embun, tidak ada air"


"Ah, benar. Tapi bisanya kamu mendapatkan air segelas dengan embun-embun itu...?"


Dia kemudian mulai menelaah ukuran gelas minumnya, selagi aku hanya tersenyum melihat tingkahnya


Tetapi, dia sepertinya menyadari sesuatu dari ekspresiku. Wajahnya bahkan berubah ketika dia menatapku kembali


"Vain. Kamu memikirkan sesuatu?"


...


Aku Ketahuan


"... Sebaiknya kita tidak membahasnya. Hanya akan merusak suasana"


"Suasana hatiku akan selalu rusak jika aku tidak tahu apa yang membebanimu sekarang ini"


Dia selalu tahu cara membuat orang menyerah

__ADS_1


"Baiklah. Aku kepikiran dengan Veskal"


Wajah Verdea langsung terlihat lesu kembali, kali ini dicampur sedih


Aku tidak kuat. Aku sudah membongkarnya. Kepalaku pun tertunduk ke bawah, tidak berani menatap Verdea


Lalu perlahan, dia pun duduk di sampingku selagi memandangi Remina yang masih latihan


Kami diam cukup lama, selagi hanya suara kedua orang yang masih sibuk itu saja yang terdengar


Aku tidak ingin membicarakan apapun lagi. Semakin aku bicara tentang Veskal, aku yakin suasananya akan semakin suram


"Vain"


"... Ya?"


"Menurutmu apa yang sedang terjadi dengan Veskal sekarang?"


Hah...


Itu pertanyaan yang sulit...


"Aku tidak tahu. Aku berusaha tidak memikirkannya"


"... Aku benci diriku sendiri..."


...?


"Apa maksudmu?" Aku bertanya


"... Kamu tidak tahu kenapa aku ingin latihan seperti ini bukan?"


Aku harap aku benar, karena dia pasti meminta latihan untuk menjadi kuat untuk melindungi kami semua


"Jika kamu berpikir kalau aku hanya ingin menjadi kuat sekarang ini, kamu salah


Aku juga ingin mencari siapa diriku ini"


Hah...?


"Kamu mungkin bingung. Tapi, aku selalu memikirkan mimpiku baru-baru ini"


Mimpi...?


Jadi dia bertemu dengan Marcellus lagi?


"Sosok bernama Canopus hadir di mimpi itu bersama Marcellus. Dia membincangkan beberapa hal denganku, tapi mungkin tidak akan terlalu penting untukmu


Tapi, pada saat kami berbincang, dia berkata agar aku menemukan diriku sendiri"


...


Aku merasa ada sesuatu yang aneh dari sosok Canopus ini


Mungkin... Karena dia hadir bersama Marcellus. Aku tidak terlalu percaya dengan orang itu karena sejarahnya dengan kaum Elf


"Mencari dirimu sendiri? Terdengar filosofis sekali" Aku berkata


"Itu sebabnya. Itu sebabnya... Aku ingin memperdalam ilmu sihirku juga


Siapa tahu aku bisa berkembang dalam sihir..."


...!


Dia-


...


Verdea, kenapa...?


"Kenapa kamu merendahkan dirimu seperti itu...?"


"Nyatanya memang begitu, Vain. Aku tidak berbakat dalam pertempuran. Hal terbaik yang bisa kulakukan hanyalah mengayunkan pedang sesuai yang diajarkan Veskal. Aku bahkan tidak pernah mengangkat pedang asli dalam pertarungan selama ini


Lalu, ketika aku belajar sihir hari ini dan berbincang denganmu, aku sadar kalau aku juga tidak berbakat dalam sihir


Aku sudah janji kepada kalian kalau aku akan berusaha menyelaraskan kecepatan. Tapi perkataan Canopus membuatku sadar kalau aku ini belum apa-apa"


...


"Aku mungkin seharusnya hanya diam saja, seperti yang biasa kulakukan. Karena pada ujungnya, ketika aku sibuk memperkuat diri, kalian selalu menyelesaikan semua hal ketika aku berpikir aku bisa"


"Verdea!"


...


Apa yang terjadi padanya? Kenapa dia seperti ini?


Kenapa dia tiba-tiba tidak memiliki semangat seperti ini...?


...


...


Aku harus pelan-pelan menangani hal ini. Tarik nafas, Vainzel...


"... Jadi, kamu berpikir kalau kamu itu tidak berguna?" Aku bertanya padanya


Verdea samar-samar mengangguk, dengan wajah kecewa yang dia arahkan pada dirinya sendiri


Aku pun mengangkat wajahnya itu, membuatnya menatap langsung mataku, dan mulai berucap


"Verdea. Jika kamu tidak berguna, jika kamu tidak memiliki arti, aku dan Veskal tidak akan berjuang untukmu selama ini"


Dan itu, adalah faktanya

__ADS_1


Jika dia tidak berarti bagiku, jika aku menganggapnya sebagai manusia lainnya, aku hanya akan meninggalkannya di tangan keluarga Hortensia di hari itu


Tapi sikapnya lah yang menarik perhatianku. Sedikit terpaksa, tapi ada hal lain yang membuatku ingin menetap di dekatnya


"Dan aku, sama sekali tidak menyesal menandatangani surat perjanjian di hari itu


Veskal juga begitu. Dia mengikutimu atas pilihannya. Dia menyayangimu apa adanya, tanpa memandang kekuranganmu"


Aku menatap matanya langsung. Awalnya matanya terlihat memaku kearah mataku. Kemudian, terlihat berkaca-kaca. Dan akhirnya, dia terlihat ingin meringis


"Tapi aku tidak bisa melindungi kalian. Apa yang harus kulakukan, Vainzel---?"


"Fokus padaku. Kamu harus menjadi raja. Dengan begitu, kamu tidak hanya akan bisa melindungi kami, tapi juga semua orang dari kekejaman Rosalia"


"Kenapa--- Kamu yakin aku bisa menjadi raja---?"


...


Itu... Pertanyaan yang sulit


Tapi, jika aku harus menjawab...


"... Karena kamu adalah orang yang paling bisa dipercaya, walaupun sedikit tidak bisa diandalkan"


Verdea kemudian memasang wajah kusut dengan senyum, selagi memukulku karena sudah mengusili dirinya


Aku pun menawarkan diri untuk memeluknya, dan dia langsung membalas dengan suka hati


"... Vain"


"Ya?"


"Kira-kira, apa yang akan kita lakukan setelah Veskal kembali?"


Hm... Aku belum memikirkan yang satu itu


Kami berdua melepas pelukan satu sama lain, kemudian mulai berpikir


"... Sebaiknya kita nikmati saja kehidupan di istana setelah itu"


Aku tidak yakin, tapi ada kemungkinannya terjadi. Rosalia mungkin akan mengadakan pesta formal untuk memperkenalkan Verdea kepada umum


Aku sudah paham kenapa... Tapi, aku ingin fokus kepada misi ini terlebih dahulu


"Hey, sudah selesai latihan?" Verdea berseru


Remina mengangguk senang, ditemani oleh Ordelia yang mengelus kepalanya dengan lembut


"Hah... Padahal aku ingin lanjut setelah ini..."


Verdea mulai kembali mengeluh seperti sebelumnya


"Kamu pikir belajar sihir itu semudah belajar pedang? Lebih banyak tenaga yang dibutuhkan untuk merapal sihir kamu tahu?" Remina membalas ketus


"... Baiklah, kamu benar untuk sesekali"


Verdea memalingkan wajahnya, selagi Remina langsung bergaya sebagai tanda kemenangan


Anak-anak. Sikap kompetitif mereka itu kadang tidak masuk akal, tapi cukup menyenangkan dilihat


"... Ordelia, Remina"


"Ya?"


Tunggu, kenapa aku ikut membalas?


"... Apa kalian yakin sepenuhnya rencana ini akan berhasil dengan lancar?"


...


Mereka tidak bisa menjawab. Karena memang benar kalau tidak bisa dijamin rencana ini akan lancar


Tapi...


"Percayakan saja padaku dan Ordelia. Untuk anak yang satu ini, kita lihat saja"


"Hmph! jangan berkata seakan aku tidak akan berguna, Oberon!" Remina berujar dengan wajah cemberut


Aku hanya tertawa bersama dua yang lainnya


"Oh, dan Verdea"


Verdea menoleh kearahku dengan wajah penasaran


"Jika kamu tanya kepadaku siapa dirimu sebenarnya, kamu itu adalah orang yang pandai untuk memimpin" Aku berkata padanya


"... Kenapa bisa bilang begitu?" Verdea bertanya


"Karena kamu tahu siapa yang harus dipercaya atau tidak, dan pandai mengontrol situasi"


Hanya dia saja orang yang bisa menjebak ku untuk terus jujur kepadanya tanpa menyembunyikan sesuatu


Verdea tertegun, kemudian entah kenapa dia terlihat sedang berpikir keras


"Verdea?"


"Aku tidak yakin itu cukup..."


Heh?


"Apa yang tidak cukup?" Remina bertanya


"Ada saja. Bocah tidak perlu tahu"


Tanpa perlu selang waktu, Remina langsung menyiramnya dengan sihir air hingga kepala Verdea basah, kemudian tersenyum puas melihatnya

__ADS_1


Dan keduanya pun berkelahi seperti biasa~


Ah~ Hari-hari yang normal...


__ADS_2