Book Of Flowers

Book Of Flowers
Manusia


__ADS_3

...


...


...


"Kamu memanggilku lagi rupanya..."


...


"Aku tidak memanggilmu, Canopus. Kenapa kamu kemari coba?"


"Tidak ada~ Hanya usil, hehe~"


Verdea memasang wajah aneh melihat respon Canopus yang kekanak-kanakan itu


"Dan bukan hanya aku saja orang asing yang datang kemari kali ini"


Canopus melirik kearah lain, hingga Verdea pun refleks mengikuti. Disana, tidak jauh dari sisi pohon cemara yang berdiri di belakang Verdea itu, sesosok makhluk cahaya lain terlihat


Sosok yang sama persis seperti Canopus, dengan badan yang ditutupi penuh oleh cahaya. Tetapi cahayanya berwarna putih, tidak seperti Canopus yang berwarna biru muda. Warna mata mereka sama entah kenapa


Dia terlihat sedang bermain kartu bersama dengan Marcellus, sepertinya terlihat akan menang hingga Verdea dan Canopus tidak berani menganggu


"Oke! Aku menang!" Sosok itu berseru, melempar 2 kartu yang ada di tangannya ke bawah


"Tidak ada gunanya bermain denganmu... Aku selalu kalah..." Marcellus menggerutu


Ekspresi aneh sekali lagi terpampang di wajah Verdea, ditambah dengan mata berkedut


"Oh! Regulus sudah tiba rupanya!" Sosok itu pun akhirnya menyadari kehadiran Verdea


Sosok itu rupanya sangat berisik, hingga Verdea bahkan refleks menjauhkan telinganya sedikit walaupun dia tidak mendekat


Dan dari suara sosok itu, Verdea sadar kalau suaranya mirip seperti seorang gadis seumurannya


"Maaf, tapi apa aku mengenalimu?" Verdea bertanya


Sosok itu, terkejut


"HAH??? Bagaimana bisa kamu melupakan teman terbaikmu ini??"


"Abaikan dia Regulus. Semua orang adalah teman terbaik baginya"


Verdea mengangguk mendengarkan saran Canopus, membuat sosok itu semakin terlihat cemberut


"Baiklah! Sebelum ada keributan, sebaiknya kalian memperkenalkan diri lagi saja bagaimana?" Marcellus menyela sebelum sepatah kata lagi keluar


Sikap sosok itu mengingatkan Verdea kepada Remina, dimana dia pasti akan kesal terhadap hal sekecil apapun itu yang Verdea lakukan


Tetapi dia mendapatkan sedikit gambaran kalau sosok ini justru lebih parah sedikit, entah kenapa. Hal itu pun membuat Verdea merinding dan menelan ludah


"Baiklah, baiklah. Kamu ini benar-benar sangat netral, Fomalhaut"


"Namaku Marcellus, dengar? Berhenti memanggil nama yang diberikan Sirius kepada kita ketika orang itu sudah memiliki nama lahir"


"Tapi dia memberikan nama itu saat kamu akan tiada bukan, Fomalhaut?"


"Itu sebabnya kubilang sebaiknya tidak usah saja! Kamu justru malah mengulang apa yang tidak kuinginkan!"


Sosok itu terlihat tidak peduli lagi setelah matanya tertuju kearah Verdea, membuat Marcellus langsung menepuk wajahnya karena lemas


"Jadi, siapa nama lahirmu?" Sosok itu pun bertanya


"Verdea. Dan sepertinya... Kamu adalah yang keenam, Spica" Verdea membalas


"Oh rupanya kamu masih ingat tentang diriku walaupun hanya nama...!"


"Bukannya ingat. Aku hanya mendapat sedikit gambaran tentang kalian semua selain diriku, termasuk nama-nama kalian. Marcellus yang memberitahuku setelah dia membongkar rahasia segel kepadaku


Dan dia menjelaskan dirimu dengan kalimat, 'Dia energetik dan tidak bisa berhenti bicara. Tetapi juga sangat pemberani dan tidak takut mati'"


"Kamu menjelaskan diriku seakan aku ini pengganggu, Fomalhaut" Spica beralih kearah Marcellus yang hanya diam


"Aku tidak bisa bilang dia salah. Walaupun aku masih ragu bagaimana dia yakin kamu itu tidak takut mati" Verdea menyela kembali


"Kamu dengarkan aku! Aku ini akan menjadi kesatria paling hebat yang akan dikenal sepanjang masa, dan kamu tidak akan bisa menyaingi prestasiku itu, hmph!"


Spica terlihat cemberut dan memalingkan wajahnya, membuat Verdea melongo canggung


"Dia seperti anak kecil kan?"


"Aku tidak ingin mendengar hal itu darimu, Canopus"


Canopus kemudian melirik kearah Verdea, terlihat cemberut juga


Tapi...


Kesampingkan hal itu dulu


"Sebenarnya ada sesuatu yang ingin ku diskusikan. Tetapi sepertinya telinga di tempat ini malah semakin banyak..." Verdea berkata kemudian


"Ayolah, kami bahkan belum hidup, mengecualikan pendiam satu ini yang satu-satunya sudah tiada. Walaupun kamu membongkar apapun, tidak akan ada pengaruhnya terhadap dunia sekarang maupun nanti" Spica berkata, menunjuk kearah Marcellus


Marcellus hanya menambah dengan menganggukkan kepala


"Dan jika hal itu harus didiskusikan...


Artinya ini berkaitan dengan tugas yang diberikan Marcellus kepada kita semua...? Benar begitu, Regulus?" Canopus meneruskan


...


...


"Aku jadi ingin mendengar"


Spica memasang posisi duduk bersila, tidak cocok dengannya yang terdengar seperti seorang gadis itu. "Lanjutkan, lanjutkan" Dia kemudian memerintahkan


"Ini juga pertama kalinya kamu berniat berdiskusi, bukannya melontarkan isi hatimu" Marcellus berkomentar


Spica langsung memberi tatapan yang dengan jelas mengatakan, 'Sungguh??'


Canopus juga sudah siap melebarkan telinganya. Secara harfiah


Yang tersisa hanyalah Verdea yang perlu berbicara saja


...


"... Aku sudah tahu siapa musuhku di masa ini. Seutuhnya, dia adalah orang itu" Verdea pun mulai berucap


"... Kamu sudah bertemu dengannya...?" Spica bertanya


"Ya. Sepertinya Marcellus sudah tahu siapa, tetapi dia tidak membongkar hal itu sejak awal karena yakin aku akan mencoba menyangkalnya"


"... Orang ini pasti dekat denganmu"


"Tidak. Tapi dia tetap seorang anggota keluarga, walaupun aku baru paham tentang dirinya akhir-akhir ini..."


Suasana pun menjadi hening setelah itu, mengerumuni Verdea yang tertunduk diantara semua orang yang dikelilingi cahaya itu

__ADS_1


Marcellus mencoba mencairkan suasana dengan membuat suara, kemudian memberikan kesempatan untuk Verdea bicara kembali


"... Lawanku itu juga menjadi kakak tiriku. Namanya Rosalia Hortensia" Verdea menjawab, kalut


...


"Melawan darahmu sendiri memang sesuatu yang berat..." Marcellus berkomentar dengan sebuah helaan napas kecil


Dia tahu betul perasaan Verdea. Ketika dia harus melawan kakaknya Lazarus, Marcellus bisa merasakan sesuatu yang mencekik


Walaupun kakaknya salah telah membunuh, walaupun kakaknya salah telah menghancurkan, Lazarus tetaplah keluarga baginya


"Aku sudah tahu siapa saja lawan kalian semua, baik dari Regulus hingga Sirius. Tetapi aku akan selalu bilang kepada kalian : Aku tidak akan membongkar apapun yang berkaitan dengan dunia roh" Marcellus menambahkan


"Dan itu adalah tugas kami untuk membongkarnya!" Celetuk Canopus


"Aku bersumpah demi Tuhan Canopus, takdirmu itu pasti sudah sangat berantakan sekarang ini..."


"Hehe~"


"Itu tidak lucu! Takdirmu yang sudah kamu tulis susah payah sekarang ini malah akan berganti! Waktu lahirmu masih lama, jadi sebaiknya kamu biasakan berhati-hati sekarang juga!"


...


Itu pertama kalinya Verdea melihat Marcellus menaikkan suaranya, bahkan Canopus dan Spica saja terdiam


"... Sebaiknya kita kembali ke masalahku sebelum aku tahu lebih banyak tentang dunia roh" Verdea menyela pelan


"Aku mohon!" Spica mengikuti, semakin mendekatkan diri ke wajah Verdea, hingga membuatnya terkejut


"Baiklah, beri aku ruang..."


Verdea sudah menyiapkan topik baru untuk dibahas


"Ya. Aku datang untuk menanyakan hal itu kepada kalian, mungkin kalian memiliki ide artinya apa


Kakakku yang menjadi lawanku di masa ini... Dia membenci manusia, tetapi ingin menyelamatkan mereka"


Spica memiringkan kepalanya karena tidak paham, sementara Marcellus diam karena dia tidak ingin menjawab


Bukannya karena dia tidak bisa memberitahu. Hanya saja...


"... Aku benci teka-teki..."


Verdea termangu menatap Marcellus yang tidak sengaja melontarkan hal itu


'Roh agung yang luar biasa...', Verdea bergumam dalam hati


Namun ekspresi tidak puasnya itu terlalu jelas hingga Marcellus segera mengetahuinya tanpa perlu penjelasan


Harapan terakhirnya hanya Canopus. Dia mungkin tahu akan sesuatu, walaupun tidak pernah terlihat serius


"... Aku tahu satu atau dua hal tentang artinya. Tetapi, aku mengetahuinya melalui tulisan takdir milikmu. Memberitahukannya padamu hanya akan membuat waktuku di dunia akan semakin dipotong pendek"


...


Verdea kehilangan harapan terakhirnya. Dia nyaris mencapai jawaban itu, tetapi tabu di dunia roh menjadi penghalang yang lebih besar dari yang ia duga


Atau begitulah


Verdea tidak ingin datang dan pergi dengan tangan kosong. Dia setidaknya harus mendapatkan sesuatu


"Setidaknya beri tahu aku konsep dasarnya. Jika aku tahu, aku tidak perlu mengambang kesana kemari mencari jawaban yang masih kurang jelas"


"Konsep dasar ya...?"


Canopus pun terlihat berpikir selagi mencari sebuah jawaban yang tidak akan berakibat fatal baginya


"Aku akan bilang kalau dia membenci sebuah konsep, bukan subjek atau objek" Canopus pun menjawab


Marcellus tersentak, sebelum menunjukkan sebuah senyum. "Sekarang aku juga paham" Dia bergumam kemudian


Tapi Verdea dan Spica tidak begitu. Mereka masih tidak paham


"Ingat tujuan kita semua, Regulus. Aku ingin menjadikan kalian semua sebagai penerusku, dan kalian tahu apa tugasku bukan?" Marcellus meneruskan


"... Melindungi manusia..."


"..."


"..."


"... Sepertinya kamu belum memiliki pola pikir yang baik untuk posisimu sebagai pelindung umat manusia..."


Verdea terdiam


Marcellus sudah mengatakannya, dan dia sangat benar. Dia sudah memberikan tugas ini kepada mereka, tetapi Verdea masih belum memiliki kualitas maupun kapasitas yang baik untuk melakukannya


Tidak. Segel itu sendiri lah yang memilihnya. Segel yang seakan makhluk hidup ini, dengan suatu alasan apapun itu, memilih Verdea sebagai pelindung umat manusia


"Pewaris Marcellus seperti kita memiliki tugas yang berat temanku. Tetapi, segel itu tidak memilih kita secara acak" Canopus berkata, mencoba membuat Verdea merasa baikan


"Lebih tepatnya, Sirius yang sudah memilih kita. Untuk alasan apapun itu, dia malah menarik 8 dari kita, diantara miliaran jiwa yang ada untuk menjumpai Marcellus di tempat kosong itu" Spica menambahkan


"Itu sebabnya aku ingin bertemu dengan Sirius..." Verdea bergumam lesu


Dia ingin bertanya kenapa. Kenapa Sirius memilih dirinya sebagai seorang pewaris kekuatan ini. Seperti yang Spica katakan, kenapa, diantara miliaran jiwa yang sudah terbentuk, Sirius memilih Verdea dan beberapa orang lainnya?


Dan disana juga, Verdea penasaran kenapa jiwanya yang dulu sebagai Regulus, menerima tugas ini dan datang terlebih dahulu dibandingkan para pewaris yang lain?


Dia tidak memiliki kualitas dan kapasitas yang baik, tetapi dia datang lebih awal untuk mengemban tugas ini. Dia yang harus menjadi contoh bagi para pewaris yang lain. Dirinya yang masih tidak mampu dan tanpa petunjuk yang baik itu


...


"Omong-omong, kamu belum menanyakan sesuatu kepada temanmu itu? Jika tidak salah... Namanya Vainzel?" Marcellus bertanya kemudian


Verdea tidak tahu harus menjawab apa selain yang sebenarnya


"... Bukannya aku tidak mau, tetapi dia itu selalu membebani dirinya. Itulah yang aku tidak ingin dia lakukan, di tengah semua masalah yang sedang menimpa kami sekarang ini"


"... Dia itu teman yang baik. Juga, bukannya dia adalah salah satu dari 2 orang yang membuat segelmu bisa bangkit?"


"Benar juga ya...?"


...


"Aku ingin semua orang bahagia dengan kekuatanku. Itu sebabnya aku ingin bisa menyelesaikan semua ini dengan cepat, namun juga dengan penuh ketelitian. Itu sebabnya aku harus paham dengan musuhku juga


Cara terbaik menjatuhkan mereka adalah pemahaman secara keseluruhan. Bahkan jika aku butuh waktu lama, setidaknya aku akan punya ide untuk selalu mengatasi lawanku"


Walaupun dia tidak ingin, dia tetap harus. Untuk semua orang yang dia sayangi dan cintai


Untuk semua teman yang dia anggap sebagai keluarganya sendiri. Yang telah memberinya kenyamanan dan kehangatan di dalam kehidupan


Setidaknya, jika Verdea tidak bisa menyelamatkan umat manusia secara keseluruhan, dia ingin orang-orang seperti itu tersisa, dan akan berjuang untuk menunjang kehidupan mereka. Agar mereka bisa menemui orang lain yang membutuhkan, dan memberi kehangatan seperti itu lagi, sama seperti yang dia dapatkan


Mimpinya sangat besar, tapi apa yang bisa dia gapai masih sangat kecil. Dia tahu kalau itu butuh waktu, tetapi waktu itu seberapa lama?


"Hey"

__ADS_1


Canopus memegangi kedua tangan Verdea, menatapnya langsung di mata, membuat Verdea bangkit dari renungan miliknya


"Aku sudah bilang bukan? Kekuatan terbesarmu adalah kepercayaanmu kepada teman-teman yang kamu cintai. Jadi Regulus..." Dia berkata, berhenti sejenak di tengah-tengahnya. "... Percayakan hal ini kepada mereka juga. Selalu beritahu mereka apa yang kamu butuhkan, dan kamu akan bisa melakukan apa yang kamu inginkan untuk membantu mereka setelahnya" Dia menambahkan kemudian


...


...


"Tapi, aku justru akan membebani mereka jika seperti itu, sementara aku selalu mendapat sisi mudahnya saja bukan?" Verdea berkata


"Pemikiran itulah yang akan menahanmu di tempat, temanku. Lagipula, sebuah perjalanan itu tidak akan mudah tanpa seorang teman di sisimu..."


...


Canopus benar. Dia sangat benar


Manusia tidak bisa hidup tanpa uluran tangan yang lainnya. Mereka adalah makhluk yang tidak bisa hidup tanpa orang lain di sisi mereka


Baik mereka itu jahat maupun tidak, manusia tetap membutuhkan seseorang untuk berada di sisi mereka. Segala hal akan lebih mudah jika seperti itu


Dan itu mengingatkannya akan sesuatu. Seandainya aku tidak menyelamatkannya di hari itu, dia yakin kalau dirinya tidak akan seperti ini sekarang ini. Hidupnya selalu menderita akibat kesendirian, dan diatas pohon apel itu, dia mendapatkan uluran tangan dari yang lainnya


Sebuah uluran tangan yang hangat, untuk pertama kalinya dia dapatkan


Dahulu, dia selalu berpikir kalau aku memiliki pandangan yang naif kepada manusia. Membiarkan diriku diinjak seenaknya seakan aku ini keset


Tetapi semakin dia berjalan bersamaku, bahkan ketika bertemu dengan Veskal, dia sadar, kalau pandangan awalnya terhadap manusia itu keliru


Mereka memiliki banyak sekali ciri khas yang berbeda, tetapi mereka tetap membutuhkan sebuah warna yang cocok untuk melengkapi mereka diatas sebuah kanvas kehidupan


Sesuatu yang membuat Veskal berubah karena sudah melengkapi dirinya bersama dengan kami. Sesuatu yang membuat Walter dan Cyth membongkar warna asli mereka yang selalu disembunyikan, hanya sangat ingin melengkapi diri mereka lagi. Sesuatu yang membuat Claudia jatuh cinta kepada Darwin, dan begitu juga sebaliknya, seberapa buruk pun mereka ada di mata dunia


Mereka ada bermacam-macam. Karena, begitulah manusia...


Disaat tertentu, mereka ingin menggapai sesuatu bagaimanapun caranya. Dan disana lah orang-orang itu datang, untuk membantu di sisi mereka. Makhluk paling sempurna, tanpa sebuah batasan dari warna apa yang bisa mereka berikan dan dapatkan


Verdea tersenyum senang, berniat untuk berterima kasih kepada Canopus


Tetapi dia tersentak, menyadari sesuatu yang baru saja terlintas di kepalanya itu...


...


...


"Mereka tidak memiliki batasan dalam memberikan ataupun menerima apapun..."


Semakin dia memikirkan kalimat itu, semakin matanya berbinar, hingga membuat Marcellus dan Canopus juga begitu


Sementara Spica yang masih bingung justru semakin ditambah kebingungannya


"Aku sudah mendapatkan jawabannya...!" Dia berkata pelan dengan nada senang


"Itu bagus untukmu, Regulus! Akhirnya kamu paham!" Canopus ikut senang


Mereka berdua tertawa senang, membuat dua yang lainnya hanya diam menyaksikan, tidak berani mengganggu maupun menyela


Tetapi momen itu pun diganggu oleh Verdea yang merasakan sesuatu yang berubah di tubuhnya di dunia asli


Sesuatu seakan dia sudah merasa segar bugar kembali. Sebuah sensasi yang sudah cukup familiar baginya selama berada di dunia mimpi itu


"... Sepertinya sudah pagi" Verdea bergumam


Canopus sekali lagi terlihat senang setengah mati. "Kalau begitu segera beritahukan hal ini kepada temanmu. Segera selesaikan semua ini dan capai tujuanmu, Regulus!" Dia berkata lagi


"Baiklah. Tapi bagaimana aku akan kembali jika tanganku terus dipegang seperti ini?"


Canopus spontan melepas ikatan tangan mereka


"Sekarang cepat! Temanmu menunggu jawabanmu!"


Verdea tertawa kecil melihat Canopus yang terlihat semangat itu, seakan dia akan mendapat sebuah hadiah yang besar


"Baiklah. Spica, senang berkenalan denganmu kali ini. Dan untuk kalian semua, lain kali kita akan bertemu kembali"


Verdea kemudian menyentuh dahinya, seketika membawanya pergi keluar dari dunia mimpi itu


...


...


"Kamu sejujurnya membantu dia terlalu banyak, Canopus" Marcellus berkata


Dia bilang begitu, tapi dia juga terlihat senang


"Sejujurnya, jika aku juga paham setidaknya sedikit tentang apa yang kalian bicarakan tadi, aku juga akan membantu seperti Canopus" Celetuk Spica yang masih terlihat memikirkan hal itu. "Dan jika begitu, Canopus tidak perlu memotong waktu hidupnya terlalu banyak..." Dia berkata lagi


Kepalanya pun perlahan tertunduk, menyadari kalau dia sudah merusak suasana


...


...


"Tidak apa Spica. Mungkin memang sikapku saja yang seperti ini semenjak aku dibuat" Canopus membalas pelan


"... Tapi aku datang kemari juga dengan niat membantumu. Achernar berkata kalau kamu terlalu mendorong dirimu..." Ariel yang masih gusar terus berucap


"Wanita itu selalu taat kepada peraturan. Dia selalu ingin membantu, tetapi dia selalu terkena batasan tertentu" Marcellus menyela sebelum menghela napas


Wajah tersenyum miliknya sekali lagi terlihat setelah itu


"Regulus. Aldebaran. Achernar. Canopus. Spica. Altair. Vega. Procyon. Lalu, Sirius...


Kalian punya cara sendiri membantu manusia di masa depan. Kalian sudah memikirkan cara terbaik untuk memastikan hal itu dapat terwujud di kehidupan kalian. Aku tidak akan mempertanyakan keputusan kalian, walaupun aku harus memperingatkan. Kalian adalah pewaris dari kekuatan sang pelindung" Dia kemudian menambahkan


Wajahnya pun berubah menjadi sedih ketika dia mengingat akan sesuatu. Sebuah masa lalu yang akan selalu melekat dengannya


"... Dengar, kalian semua? Aku memanggil seseorang disaat itu, dan kalian bersembilan datang ke hadapanku. Kalian adalah harapanku untuk masa depan. Harapanku agar membuat dosa yang aku buat terhadap kakakku dan kaum manusia tidak terulang lagi..."


Setitik air mata jatuh dari pipinya, selagi Spica dan Canopus hanya menatap dengan tatapan iba, tidak memiliki daya untuk menyela di momen itu


"... Semoga apa yang kulakukan kali ini benar, kakak--- Semoga--


--- Semoga kamu bahagia dengan keputusan ini, tidak seperti apa yang telah kuambil dulu..."


Entah apakah doa nya itu sampai ke kakaknya, dia tidak akan pernah tahu. Dia hanya akan terus meyakinkan dirinya, kalau kesalahan yang mereka berdua buat tidak akan pernah terulang lagi


Ketiganya pun tersenyum kecil, selagi dunia mimpi itu perlahan mulai memudar dari jiwa Verdea...


......................


...


...


"Aku mendengar doamu itu, Marcellus..."


Verdea diam tertegun, menatap punggung tangan kanannya yang masih ikut terbaring di sampingnya


Air matanya perlahan menetes, dengan suara dari Marcellus yang masih terngiang di kepalanya itu

__ADS_1


"Walaupun tidak ditujukan kepadaku, aku lah yang akan memastikan doamu terwujud. Aku, dan juga yang lainnya, sebagai pewaris kekuatanmu..."


__ADS_2