
--- Malam harinya ---
Hari sudah mulai larut, tapi pergerakkan kapal sama sekali tidak bisa membuat Veskal tertidur. Dia bangun dan langsung keluar menuju dek untuk mencari udara segar
Saat dia membuka pintu masuk kapal, dia langsung disergap oleh angin malam yang dingin. Musim dingin memang sangat menjadi sekarang ini sampai-sampai badannya hampir terasa membeku ketika baru saja naik ke dek. Walaupun tidak separah di Hortensia karena kapal ini bergerak kearah Tenggara, menuju tepat ke bagian tengah Goeitias
Dia sibuk berjalan, dan matanya melihat ke segala arah untuk melihat pemandangan langit berbintang yang sangat gemerlap di langit malam. Pemandangan yang membuatnya spontan tersenyum melihatnya
Ketika melihat kesana kemari, dia pun menemukan Cyth, si kapten kapal yang sedang menikmati angin malam di pinggir kapal sambil menatap ke cakrawala tanpa senyuman khas miliknya. Sesuatu yang rasanya sangat aneh bagi Veskal, walau dia hanya tahu Cyth hanya beberapa jam sebelum saat itu
Dia sebenarnya tidak berniat mengganggu, tapi melihat tatapan mata sang kapten, dia tertarik dan perlahan menghampirinya, hingga Cyth pun menyadari kehadiran anak itu
Cyth pun menoleh dan melambaikan tangannya selagi Veskal mendekat dan membalas singkat sambutan itu
"Tidak bisa tidur nak?" Dia membuka percakapan
"Begitulah. Cuaca sangat dingin di Hortensia, dan aku benci dingin. Juga, kenapa kamu bisa kuat menahan dingin tanpa baju hangat?"
Veskal sudah memperhatikan pakaian sang kapten dari tadi dan tidak ada satupun dari pakaian itu yang terlihat hangat walaupun jas pelaut itu nampak cukup. Dia bahkan membuka kancing baju dan membuat dadanya terlihat....
"Kalau kamu sudah sering berlayar di kapal, cuaca ini cuma akan terasa seperti angin sejuk untukmu" Jawab Cyth mantap
Walaupun memang begitu, dia bisa sakit. Jika dia sakit, tidak akan ada tugasnya yang terselesaikan
...
Veskal mengabaikan pikirannya itu. Dia ikut berdiri di samping Cyth dan memandang ke cakrawala sambil membiarkan angin malam yang dingin menusuk sampai ke tulang
"... Kamu itu pelayan?" Tanya Cyth
Veskal hanya mengangguk pelan tanpa menggerakkan pandangannya sedikitpun, membuat Cyth ikut mengangguk paham
"Hm... Aku belum tahu namamu, omong-omong"
"Veskal Grandier. Tapi aku lebih suka kalau kamu tidak menggunakan nama 'Grandier' milikku barusan"
Cyth mengalihkan pandangannya kearah Veskal dan menyandarkan punggungnya ke pinggiran kapal, ingin bertanya-tanya kenapa. Tetapi dia langsung mencoret pertanyaan itu dari kepala dan mulutnya, beralih kepada sesuatu yang lebih tidak merusak suasana
"... Namaku yang sebenarnya adalah Cyan Keith. Aku merubahnya menjadi Cyth karena tidak suka kedua namaku itu" Katanya sambil tersenyum
Veskal akhirnya bertukar tatapan dengan Cyth ketika mendengar perkataannya, sepenuhnya tertarik mendengar cerita itu
Mengetahui tatapan penasaran anak itu, Cyth yang masih bersandar kemudian meneruskan perkataannya sambil melihat ke langit malam. Senyumnya mulai tersirat kembali
"Nama itu diberikan oleh kapten Black Hunt yang sebelumnya. Wanita itu menyelamatkanku ketika aku bernasib malang dan menjadikanku tangan kanannya
Awalnya aku tidak suka dengan nama itu karena terdengar aneh. Dan karena itu, dia sering memanggilku bocah rewel. Padahal sesungguhnya, umur kami tidak jauh berbeda"
...
"Hah... Aku jadi merasa lelah ketika berpikir soal dia" Cyth membalikkan badannya kemudian bersandar tangan di pinggiran kapal
Dia kemudian menutup wajahnya dengan tangan satunya dan senyum di wajahnya itu perlahan menghilang, membuat Veskal ikut kalut menyaksikannya
"... Tubuhnya hilang di laut. Wanita tangguh yang punya banyak bekas luka di beberapa bagian badannya itu mati karena terkena sihir. Sihir yang seharusnya mengenai diriku"
...
Veskal tidak berkomentar sama sekali
Keheningan datang diantara mereka karena dia tidak bisa memikirkan satu hal pun untuk membalikkan suasana menjadi normal
Dia hanya punya satu pertanyaan, dan pertanyaan itu pun akhirnya dia lontarkan pada Cyth setelah dia tidak bisa menahannya lebih lama lagi
"Kenapa kamu menceritakan hal itu?"
Pertanyaan yang membuat Cyth tertegun sejenak
"... Hanya butuh orang untuk bercerita" Dia pun membalas singkat, selagi tertawa kecil di sela-selanya
Itu pun membuat Veskal merasa lebih nyaman untuk melontarkan pertanyaan yang lain
"... Sekarang, kamu suka dengan namamu?"
"Hahaha! Tentu saja! Itu hadiah pertama dari kaptenku!"
Dia kemudian menelaah kalung berbentuk kerang laut yang dia kenakan dengan tatapan sedih, namun dengan senyuman bahagia. Dua ekspresi yang berlawanan, namun membuat harmoni yang cukup jelas untuk menggambarkan isi hati Cyth untuk Veskal baca
"Dan ini hadiah terakhir darinya" Cyth pun mengutarakan...
Veskal terdiam sejenak. Sontak dia tersenyum selagi ikut menatapi kalung itu
"... Kalung yang cantik" Veskal pun berkomentar
"Secantik orang yang dulu memakainya"
Cyth tertawa kecil. Tapi di balik itu, jelas sekali kalau dia merasa patah hati setelah perbincangan ini
Tawa kecil yang terdengar menyakitkan, hingga hening kembali datang setelahnya. Mereka berdua berdiri bersampingan, tapi kali ini hanya fokus melihat kearah langit malam
Suara deburan ombak yang tenang membuat mereka merasa terbawa hanyut olehnya. Dan langit berbintang diatas mereka terlihat seperti taburan pasir putih yang berkilau, menjamu mata bagi yang menyaksikan
Mereka menikmati pemandangan itu sejenak. Hingga, perbincangan selanjutnya pun dibuka kembali oleh Cyth
"... Kenapa kamu mau menjadi pelayan mereka?"
Pertanyaan Cyth membuat Veskal tertegun. Dia sebenarnya tidak pernah memikirkan alasan 'mengapa' dari niatnya itu. Dia hanya merasa 'harus' dan 'ingin'
Sebuah perasaan yang selama ini dia tahan dan baru saja dia bisa lampiaskan untuk dirinya sendiri...
"... Entahlah..."
Mata Veskal terpaku pada langit yang dipenuhi dengan cahaya bintang bertebaran dan bersinar terang selagi ia memikirkan jawaban
Dan setelah ada yang terlintas di kepalanya, dia pun menjawab pertanyaan itu dengan lebih layak
"Aku mungkin hanya ingin beristirahat"
Matanya terpejam, seakan dia tidur di tempat itu dan saat itu. Jawaban yang dia berikan hanya cukup disitu saja. Keputusan ada di tangan Cyth untuk mencerna dan menanggapi jawaban itu
Dan Cyth pun hanya tersenyum mendengar perkataan Veskal
"Elf itu berkata sesuatu padaku dulu. Dia bilang 'kamu sudah melakukan yang terbaik', atau semacamnya" Lanjut Veskal
Pikiran akan perkataanku melintas di kepalanya. Pikiran dari beberapa bulan lalu, yang selalu dia ingat dan simpan di hati
Perkataanku adalah sesuatu yang seharusnya diberikan pertanyaan 'mengapa'
"Dia orang yang aneh. Kenapa dia mau menolong orang tidak berguna seperti diriku?" Dia pun menambahkan
Dia tersenyum di tengah-tengah tawa kecilnya. Senyum kecil yang sama seperti yang baru saja dilakukan oleh Cyth. Matanya perlahan terbuka dan kembali melihat bintang diatas kepala mereka, mencoba mengusir rasa kalut di hatinya
Cyth bahkan menanggapi hal itu dengan tertawa seakan ada sesuatu yang lucu. Mungkin, memang karena seakan pembicaraan mereka sekarang ini adalah sebuah takdir yang ditentukan
"... Aku jadi berpikir kita itu sama" Cyth pun berkata
Dia kemudian mulai beranjak dari tempatnya dan berjalan kearah bagian kemudi kapal. Veskal hanya diam terpaku menatapi punggungnya yang semakin menjauh, tidak bisa menjangkaunya lagi untuk bertanya akan maksud dari perkataan itu
Tetapi Cyth berhenti melangkah, seakan dia baru saja melupakan sesuatu yang harus dia lakukan untuk Veskal
"Dengarkan nasihat dariku, nak..." Dia menoleh kembali tanpa memutar badannya
"... Jangan anggap dirimu rendah di dekat mereka. Habiskan waktu bersama mereka sebisamu. Dan yang terpenting, Hargai waktumu bersama mereka. Kamu tidak akan bisa menemukan orang seperti mereka lagi ketika kalian sudah berpisah"
...
Itu saja yang perlu dia sampaikan, sebelum dia mulai melangkah kembali. Veskal sama sekali tidak bisa melihat ekspresi wajahnya disaat itu
Dia hanya bisa menatap Cyth yang perlahan naik ke bagian kemudi kapal dan kemudian mengganggu anak buahnya yang terlihat mengantuk namun masih harus memperhatikan pergerakan kapal
...
...
...
'Hargai waktumu bersama mereka'
"..."
Dia sudah merasa tidak berselera lagi mencari angin. Saat itu saja sudah cukup, dan dia sebaiknya kembali ke dalam kamarnya
Sudah cukup, angin dingin untuk malam ini
......................
--- Keesokan harinya ---
*BRUK!!!*
"HAH!!??"
__ADS_1
Aku terbangun karena merasakan badan seseorang menimpaku dengan keras
Ketika aku melihat, Ivor yang jatuh dari tempat tidurnya menimpa dan ikut terbangun bersamaan denganku. Apa yang terjadi?
Aku melihat ke sekeliling untuk menemukan jawabannya. Dan aku dikejutkan karena semua benda bergerak merosot seakan kapal ini sedang berada dalam posisi miring
Tunggu! Kapal ini memang miring!
Aku langsung menyingkirkan Ivor dari atas badanku hingga dia terbanting ke lantai dan segera beranjak pergi untuk membangunkan Verdea di ruangan sebelah
Dan untungnya, Veskal sudah bersiaga dan sudah memastikan Verdea aman. Dia merangkul Verdea diatas kasur mereka, mengetahui kalau situasi ini tidaklah normal
Luna dan Luxor juga ikut serta dalam bersiaga untuk situasi ini
"Ayo kita ke dek! Veskal, diam saja disini bersama Verdea selagi kami kesana!" Aku berseru
Mereka semua mengangguk mantap, sementara aku pergi ke ruangan lain untuk membangunkan teman-temanku yang tersisa. Selagi Verdea dan Veskal melihat kearah luar jendela, apa yang mereka bisa lihat hanyalah warna putih yang disertai suara angin kencang
--- Dek kapal ---
Gawat! Badainya datang lebih awal dan membuat semua hal jadi buram diatas sini!
"Cyth! Apa yang terjadi!?"
Aku perlahan mendekatinya sambil berusaha melawan angin bersalju yang mengganas entah kenapa itu
"Kabar buruk! Badainya datang lebih awal dari perkiraanku!" Cyth menyerukan kembali
Dia terhuyung dan hampir terjatuh ketika kapal mulai tergoyang hebat karena angin yang berhembus, sehingga aku spontan membantunya agar dia tidak terlempar keluar
Para kru kapal berteriak disana-sini dan membuat suasana semakin terasa kacau
"KAPTEN! APA YANG HARUS KITA LAKUKAN!?"
"KITA TAMAT!"
"KITA HARUS MELAKUKAN SESUATU!"
Moral mereka menurun. Kami harus melakukan sesuatu, tapi aku tahu betul kalau hanya Cyth yang bisa menangani kondisi mental anggota kru-nya
Dan karena itulah, dia menenangkan para kru kapal dengan berteriak lantang dan tegas
"Tenangkan otak kecil kalian itu dan perhatikan area sekitar kapal! Jangan jadi banci di situasi ini! Kita sudah menangani yang lebih buruk bukan!?"
Aku ingin bilang itu kasar, tapi lebih baik begitu daripada mereka terus ricuh. Lagipula, seruannya barusan sudah mulai berefek
"Mereka akan mendengarnya. Mereka itu bodoh, tapi tidak tolol"
Dia kemudian mengalihkan fokusnya kembali kepada para kru kapalnya
"Para anggota kru milik Black Hunt tidak akan mati di bawah pengawasanku! Jangan lupa dengan janji kita dengan rekan kita terdahulu! Terus maju dan lawan badai ini jika kita ingin keluar darinya!!"
Para kru terlihat tertegun sejenak. Wajah mereka pun berubah menjadi serius bersamaan dengan kapten mereka. "Aye!", seruan lantang itu mereka utarakan, selagi semuanya mulai bekerja selagi berusaha tenang menangani situasi ini
Dan Cyth tidak luput dalam memberi mereka instruksi. "Tetap kibarkan layar itu! Gunakan sihir milik kalian agar benda itu tidak robek!". Lalu dia kemudian melempar sebuah teropong kepada tangan kanannya. "Gunakan ini dan beri tahu semua orang tentang kondisi laut! Matamu ada empat, tapi penglihatanmu jauh lebih bagus daripada yang lainnya!"
Sepertinya pada zaman ini, semua orang yang berkacamata akan disebut bermata empat...
Aku pun jadi paham, kenapa semua anggota kru kapal ini sangat penurut kepadanya. Dia sangat karismatik, aku harus akui itu
Seorang pemimpin yang bisa meringankan suasana sekaligus mampu memberi arahan ketat sepertinya sekarang ini, adalah seseorang yang pantas disebut 'Kapten'. Aku bisa melihat kenapa dia berdiri diatas posisi itu sekarang ini
Siapapun orang yang memilihnya menjadi pemimpin kapal ini telah melakukan pilihan terbaik di dunia. Dan kami beruntung kami naik keatas kapal mereka untuk menyeberang
"Dan ketika aku bilang aku punya trik kemarin-!"
Dia berbalik menghadapku yang sedikit terkejut. Dengan percaya diri dia menunjuk kearah wajahku, dan menutup kalimatnya dengan sebuah ungkapan
"Kalian lah yang akan menjadi trik itu!" Dia dengan lantang berseru
Haha! Dia bahkan dengan tidak malu meminta bantuan kami, tamu miliknya!
Aku terkesan! Tidak banyak orang jujur sepertimu, dan aku terkesan!
"... Dengan senang hati! Kami juga tidak berencana mati, jadi gunakan kekuatan kami dalam hal ini!" Aku pun membalas, dimana teman-temanku langsung memperdengarkan sikap tidak setuju dengan nada selaras
Tapi itu tidak menghentikan Cyth untuk langsung tersenyum mantap mendengar responku
Dia kemudian pamit dari hadapan kami dan mulai mengarahkan para kru nya dengan cekatan
"Baiklah. Kalau begitu, aku ingin kalian ikut membantu mereka. Ikuti saja arahan orang itu" Aku berkata pada semua temanku
...
...
...
Dan seandainya...
"!!!"
--- Aku tidak menyadari kehadiran tidak terduga itu...
--- Semuanya seharusnya berjalan dengan lancar
"Ada apa, Vainzel?" Tanya Ordelia, menyadari wajahku yang mendadak berubah dan menengok kearah pintu bagian dalam kapal
"Verdea!! Veskal!!"
......................
--- Sementara itu ---
Veskal masih memeluk Verdea dengan erat di atas kasur mereka selagi dia merasakan kapal itu terhuyung kesana kemari karena ditimpa ombak ganas
Verdea terasa bergetar karena ketakutan di pelukan Veskal. Dia menanam wajahnya di dada temannya itu sambil menutup mata, selagi Veskal masih harus menanggung rasa takut miliknya di tengah kesunyian yang tidak mengenakkan itu
Veskal terus berusaha menenangkan Verdea, tapi selalu gagal setiap kali kapal bergetar karena dihantam ombak yang kadang terasa aneh dan membuat kapal miring itu
*BRAK!*
Kapal itu terus terhantam oleh ombak hampir setiap detik
Veskal sudah merasa cemas dengan keadaan ini, ditambah ketika merasakan badan Verdea yang semakin merinding ketakutan
...
Dan untuk menambah kecemasannya, sebuah aura hitam tidak diketahui berkumpul di dekat mereka. Aura hitam yang sangat familiar, sehingga Veskal tidak bisa mengabaikan kehadiran itu begitu saja
Aura hitam itu kemudian menghilang, dan orang yang menyerang mereka kemarin itu muncul di baliknya. Yael Tarasque
"Kamu...!"
Dia lepas paksa Verdea dari pelukannya
Veskal spontan menarik keluar pisaunya, tetapi-
"Tenang Tuan Grandier. Aku tidak ingin menyakitimu. Targetku itu ada di belakangmu" Yael berkata sambil menunjuk Verdea
--- Veskal merinding mendengar kalimat itu
Verdea tersentak, tetapi Veskal berdiri bersiaga di hadapannya
"Tutup mulut busukmu itu dan pergi...!" Veskal berkata dengan amarah yang menggumpal, walau dia sendiri merasa takut dengan kehadiran orang itu
"Ayolah~ Aku sudah susah payah memindahkan badai itu kemari, jadi beri aku sedikit hadiah"
"Aku akan mencincang badanmu jika kamu berani mendekat...!"
Yael tertawa mendengar ancaman Veskal yang baginya itu sangat imut
"Ah, begitu? Buktikan"
Yael menjentikkan jarinya dan Veskal tiba-tiba terhantam ke dinding di sisinya, sebelum memegangi lehernya seakan dia tersedak
Pisau yang dia pegang tentu terjatuh ke lantai selagi dia meronta-ronta dan mencoba untuk menghirup udara
"Hahaha! Hanya dengan sedikit sihir hitam saja kamu tidak tahan!" Yael memprovokasi
Veskal tetap berusaha mengambil napas. Tapi menyadari kalau dia tidak akan bisa melakukannya, dia bergerak maju dan melempar pisau yang dia sembunyikan dibalik bajunya. Yael tentu menepis benda itu dengan sangat mudah, namun Veskal masih berusaha dengan bergerak cepat menyeruduk Yael sampai mereka berdua terjatuh ke lantai
"Veskal!" Verdea berteriak
"LA- RI-!"
Verdea merinding. Tapi dia berusaha mendengarkan perintah Veskal
Jadi dia mencoba secepat mungkin untuk turun dari kasurnya dan berlari keluar
"Aku akan mencari Vainzel!" Verdea meneriakkan
__ADS_1
Tetapi harapannya musnah, bersamaan dengan pintu ruangan yang tiba-tiba tertutup rapat dan terkunci karena sebuah sihir, tepat ketika Verdea berada di hadapannya
"Baiklah, kita selesaikan main-mainnya. Tuanku Rosalia tidak akan senang jika aku terlalu lama"
Yael menyingkirkan badan Veskal yang mulai lemas, mengangkat badannya sendiri dengan sihir hingga dia berdiri kembali, kemudian menendang Veskal sehingga dia menggelinding kearah kaki kasur
Veskal semakin merasakan sakit di dadanya, terutama setelah bergerak dengan memaksa tubuhnya barusan. Sementara Yael perlahan mendekati Verdea dengan sebuah sihir hitam yang sudah siap di tangannya
"Ke- kenapa kamu melakukan ini?" Verdea berkata dengan badan yang gemetar ketakutan
Tetapi Yael tidak menjawab pertanyaan itu sama sekali
"Aw~ Jangan takut. Ini tidak akan sakit" Yael berkata sambil tersenyum sinis
Tapi, Veskal sekali lagi menghadangnya. Jubah yang dia pakai ditarik sekuat mungkin oleh Veskal sehingga dia tidak bisa maju lebih jauh
Karena itu, dia merasa kesal kepada Veskal dan menjentikkan jari di tangan kirinya
Veskal semakin merasa kesakitan. Sihir hitam di dalam tubuhnya itu mulai terasa menusuk seperti sebuah pisau di dalam dadanya
"Aku suka menyiksa orang, tapi sepertinya aku harus menghabisimu dengan cepat"
"... Verdea... Du- duk!"
"...!"
Mengikuti perintah Veskal, Verdea dengan sigap segera membungkuk ke lantai sembari melindungi kepalanya
Dan disaat yang sama, tanganku menembus masuk melalui pintu itu dan menuju kearah Yael
Tapi, Yael menyadarinya, hingga langsung menghindar tepat sebelum tanganku menusuk dadanya. Dengan cepat dia mulai merapal sihir teleportasi
Aura hitam mulai berkumpul di sekitarnya. Namun tepat saat aku berhasil mendobrak masuk hingga pintu itu melayang dan menghantam wajahnya, aku langsung mengikat dan membantingnya hingga menembus tembok yang berlapis-lapis, membatalkan aura hitam yang berkumpul itu
Hantaman keras bisa terdengar di seluruh area itu. Yael menyemburkan darah dari mulutnya karena bantingan yang kuberikan barusan, selagi dia merosot ke bawah dan terduduk lemas di lantai
"Sial-!" Yael panik
Verdea langsung berpindah tempat mendekati Veskal selagi meringis keras ketika aku berhasil mendobrak masuk. Tanganku yang memanjang lepas dari badanku sesuai yang kuhendaki
Tanpa basa-basi, aku langsung melesat maju kearah Yael
Dia panik ketika melihatku bergerak cepat kearahnya. Tetapi, badannya terasa sakit sehingga dia melempar sihir dari tempatnya untuk melindungi diri. Dan selagi dia melakukan itu, aura hitam itu kembali berkumpul di sekitarnya
Dengan mudahnya aku menangkis serangannya dan semakin mendekat
Tapi tepat saat aku hampir memukulnya lagi, dia menghilang dalam sekejap. Kali ini, dia sukses melakukan teleportasi
Aku hanya bisa berdecak geram mengetahui hal itu
"Sial! Dia kabur!"
...
Hah...! Untung saja aku meletakkan benih pelacak milikku di saku Verdea. Seandainya aku tidak melakukannya atau telat sedikit saja, mereka berdua mungkin sudah mati sekarang karena aku tidak menyadari kehadiran Yael itu
Veskal terbatuk-batuk sambil berusaha bangun dari lantai. Sihir hitam di dalam tubuhnya sudah menghilang sehingga membuatnya bisa menghirup udara seperti biasa lagi
Aku langsung berlari menuju tempatnya untuk menolong. Tetapi, dia terlihat normal dan tidak mengalami luka yang terlalu dalam. Walaupun dia mengeluarkan sedikit darah dari mulutnya, mungkin karena sebuah hantaman keras
Aku juga tidak mendeteksi sedikitpun sihir hitam yang tersisa di badannya. Syukurlah penyihir biadab itu tidak menaruh kutukan padanya atau semacam itu
Ketika batuknya reda, dia tersenyum kearahku dengan wajah yang masih lemas
Aku langsung memeluk mereka berdua dan menghela napas lega
"Syukurlah...! Aku bersyukur kalian tidak apa-apa...!"
Tangisan Verdea semakin menjadi-jadi selagi dia dengan erat memeluk balik diriku
Di sisi lain...
--- Veskal hanya tertegun
Dia tertegun...
...
Dan dia pun meneteskan air matanya, menyadari kalau dia tidak perlu merasa takut lagi
Perlahan, dia membalas pelukanku sambil meringis tanpa suara yang keras. Aku hanya berlutut disana sambil terus menunggu mereka berdua yang menangis untuk kembali tenang. Aku tidak akan menahan sikap mereka sekarang ini setelah keduanya melalui hal menakutkan barusan
Suasana langsung terasa tenang ketika mereka meringis. Bahkan suara deburan ombak sudah mulai terdengar normal, walaupun angin masih terdengar kencang
Dan bersamaan dengan itu, Verdea mulai hanya terisak-isak. Keduanya kembali tenang, seakan mengikuti ombak yang sudah tidak menghantam kapal ini lagi
"Hey... Ombaknya sudah tenang" Aku pun berkata pada mereka berdua
Dan tidak lama, suara para kru kapal bersorak terdengar jelas sampai ke tempat kami
Aku tersenyum kearah mereka yang tertegun dengan kejadian ini. Kami akan membiarkan hal barusan berlalu untuk sementara
Sebelum mereka banyak bertanya, kugendong Verdea dan kugandeng tangan Veskal yang masih mengusap bersih air matanya. Anak kecil yang satu itu mulai menanam wajahnya di bahuku dengan tangan yang melingkar di leherku, selagi Veskal hanya diam dan tidak menatap kami sama sekali. Wajahnya terbuang seakan dia merasa malu karena sudah meringis barusan
Aku hanya tertawa kecil karena tingkahnya, dan juga untuk meringankan suasana. Keduanya pun kuajak keluar agar mereka bisa merasa lebih tenang
......................
--- Kembali di dek kapal ---
"Vain...! Kamu harus memberiku sesuatu nanti...!" Lyralia mengeluh
Dia menelentangkan kedua tangannya di samping badan sambil terlihat seperti sedang sakit perut dan menahannya sekuat tenaga
Ordelia, Ivor, Luxor dan Luna melingkar di sekitarnya dan mengalirkan Mana mereka kepada Lyralia. Kenapa? Karena mereka lah alasan kenapa ombak menjadi tenang selagi kami bergerak sedikit lebih stabil di tengah badai salju yang sudah sedikit mereda ini
"Bagus, bagus! Tetap begitu sampai kita keluar dari area angin sialan ini!" Cyth justru menyerukan dari area kemudi kapal
Semua kru kapal terlihat sangat bahagia dan semangat dalam menjalankan tugas mereka mengawasi kapal, berlainan dengan teman-temanku yang terlihat ingin muntah
Aku hanya tertawa canggung melihat suasana itu, terutama karena mereka sungguh lemas dan kaku dalam tetap mempertahankan pose masing-masing
Jadi itu rencana Cyth... Dia menggunakan Lyralia yang merupakan seorang Elf klan Undine untuk menenangkan aliran ombak...
"Hahaha! Walaupun aku mengira kalau setidaknya ada 3 Elf air di antara teman-temanmu, semuanya tetap berjalan lancar!" Cyth berkata sambil mendekat kearah kami
"Setidaknya berhasil bukan?" Aku membalas
"KAMI TIDAK SETUJU DENGAN HAL INI!!" Teriak teman-temanku kesal
Sejenak, ada ombak yang cukup keras menghantam kapal dan membuat mereka terpaksa kembali fokus untuk mengendalikan air lautnya
"Terserah. Selamat bekerja~!" Aku meledek
Dan ledekanku pun membuat Verdea kembali mengangkat kepalanya, walaupun dia masih menyender di bahuku
"Vain..."
...
"Kapten Cyth-"
"Panggil saja aku Cyth"
...
"Cyth. Aku akan membahas beberapa hal denganmu. Tapi pertama, kita harus menenangkan kedua anak ini"
Kalimatku pun membuat Cyth menatap kepada keduanya dengan tatapan risau. Utamanya karena dia sungguh tidak tahu apa yang terjadi
"Kamu tidak apa-apa nak?" Cyth bertanya pada Veskal yang masih tersengal-sengal
Veskal hanya mengangguk pelan
Respon itu hanya membuat Cyth semakin risau. Dia bertukar tatapan antara Veskal dan diriku, tetapi kemudian hanya menghela napas karena yakin akan ada banyak pertanyaan
"Kalau begitu sebaiknya kita fokus saja berlayar, oke nak?" Dia pun mengelus kepala Veskal
Sebaiknya begitu. Dia benar untuk tidak melanjutkan perbincangan ini dan hanya fokus kembali untuk menangani kapalnya
"Baiklah! Menuju Goeitias!"
Mereka semua bersorak keras merespon Cyth
Dan disaat itu juga, mata Veskal tertuju kepada kami semua satu-persatu. Padaku, Verdea, teman-temanku — dan terakhir, Cyth. Tetapi tidak satupun dari kami menyadari sorot matanya itu
Matanya terpaku kepada Cyth, berbinar-binar ketika melihat sosok kapten kapal itu
Dan disaat itu, dia mengatakan sesuatu yang mana, ketika Cyth menoleh sejenak, dia menangkap makna dari pergerakan mulut Veskal
Cyth pun tersenyum seperti biasanya ketika menangkap hal itu. Tetapi dia tidak merespon lagi, membiarkan anak itu mengambil ruang sebanyak yang dia perlukan disaat ini
__ADS_1