
"Verdea...?"
Verdea masih merasa sangat mengantuk. Badannya yang lelah itu sama sekali tidak membiarkannya membuka mata
"Verdea...?"
Tapi, suara itu terus memanggil. Dia yakin kalau dia baru saja tertidur, tapi suara itu terus memanggilnya seperti ingin dia segera bangun
"Verdea...?"
Suara itu terdengar semakin mendekat. Tapi matanya masih tertutup rapat. Dia terus berusaha membukanya, tapi rasa lelah benar-benar mengalahkannya
"Verdea... Bangun anakku..."
Suara itu sekarang terasa seperti berada sangat dekat dengannya
Ada cahaya yang menimpa wajah Verdea ketika suara itu berada tepat di depannya
Dan pada akhirnya, dia bisa membuka matanya dan melihat sosok suara itu
Tapi, wajahnya dipenuhi oleh cahaya yang sangat terang. Sosok itu memakai baju yang serba putih dan sekarang, menjongkok tepat di depannya
'Siapa...?'
Pikiran Verdea bertanya-tanya siapa sosok orang itu
Malaikat adalah hal pertama yang terlintas di kepalanya. Seorang sosok yang dipenuhi cahaya terang dan memakai pakaian serba putih. Begitulah gambaran sosok malaikat yang dia ketahui
"Malai- kat...?"
Dia berusaha bangun. Kepalanya masih terasa berat dan pusing, dan dia hanya duduk di tempat dia berbaring
"Itukah panggilan yang kamu berikan padaku?" Tanya sosok itu
Verdea yang kepalanya masih pusing akhirnya sudah bisa duduk dengan benar
Dia pun membalas pertanyaan sosok itu
"Kamu mirip malaikat..."
Sosok itu tertawa kecil. Suaranya yang lembut itu benar-benar menenangkan pikiran Verdea
"Silahkan panggil aku apapun. Iblis atau hewan pun boleh"
Itu bukan balasan yang dia inginkan
"Kalau begitu aku jadi tidak sopan bukan?"
"Benar. Tapi aku sudah bilang kalau aku tidak masalah"
"... Omong-omong malaikat..."
Mata Verdea melihat ke lingkungan di sekitar mereka
"Tempat apa ini?" Dia kemudian bertanya
Sebuah permukaan air seperti sungai terhampar dengan luasnya ke segala penjuru, dan ditimpa dengan cahaya matahari pagi yang dengan indahnya dipantulkan oleh permukaan air itu
Matahari yang baru terbit terlihat di garis cakrawala tanpa satupun benda yang menghalangi pandangan mata
Benda yang bisa dia temukan di tempat ini adalah pohon Cemara raksasa yang berdiri di belakang mereka. Namun, dia merasa aneh menyadari pohon Cemara yang tumbuh di permukaan air seperti ini
Dia kembali melihat kearah sosok itu dan menunggu jawabannya
"... Ah, maaf. Tempat ini sangat indah sampai aku terlalu menikmatinya" Sosok itu berkata
"... Aku juga berpikir begitu. Tapi tempat apa ini?" Verdea bertanya lagi
"Kenapa kamu bertanya? Ini jiwamu"
...
"... Kamu bercanda...?"
'Tempat ini adalah jiwaku'
Banyak pertanyaan yang ingin dia lontarkan pada sosok itu, tapi dia merasa kalau tidak semuanya akan terjawab
Dia membenarkan posisi duduknya menjadi duduk bersila, menghadap kepada sosok yang tidak dia kenali itu
"Kamu ini... Siapa?" Verdea bertanya lagi
Tapi sosok itu tidak memberinya sebuah jawaban yang jelas
"Kamu bisa anggap aku apapun dan siapapun seperti yang aku bilang tadi"
"Siapapun...?"
Siapapun. Jawaban yang membuat pertanyaan yang semakin luas
Jawaban sosok itu justru menambah pertanyaan milik Verdea
Sosok itu juga memanggil Verdea tadi, yang menandakan kalau dia tahu namanya. Tapi bagaimana bisa?
Namun, Verdea melupakan hal itu karena berpikir sosok itu tidak akan menjawabnya
"Jika ini jiwaku, apa yang kamu lakukan disini?"
"Aku hanya mampir untuk melihat-lihat"
"Lalu?"
Hening. Sosok itu perlahan menoleh kearah Verdea, agar dia bisa menjawab pertanyaan itu dengan lebih layak
"Aku ingin tinggal disini..." Sosok itu pun mengutarakan
'Tapi, ini jiwaku'
Walaupun sosok itu berkata begitu, Verdea tidak mungkin membiarkan seseorang yang tidak dia kenal memasuki jiwanya tanpa permisi
"Lagipula, bagaimana kamu bisa masuk ke jiwaku?"
"... Sedikit sulit dijelaskan. Dan belum waktunya"
...
Dia sudah menduga hal ini. Dia tahu kalau semua pertanyaannya tidak akan dijawab. Dan karena itu, Verdea menutup mulutnya dan tidak bertanya lagi
Tapi, menyadari kediaman Verdea dalam sekejap, sosok itu justru mulai bertanya balik kepadanya
"Kenapa tiba-tiba diam?"
"...Tidak ada yang bisa dibicarakan denganmu"
"Haha...! Maaf, maaf...
__ADS_1
Kalau begitu, kenapa ada pohon di jiwamu?"
Verdea mengangkat bahunya seketika. Dia sendiri memang tidak tahu kenapa dan bagaimana pohon itu bisa berdiri di dalam jiwanya
"Aku bahkan tidak tahu kenapa semua hal yang ada disini bisa berada disini"
"Untuk matahari dan permukaan air ini, aku sudah paham kenapa. Aku hanya tidak paham dengan Pohon ini"
"... Kamu bicara seolah sudah ahli dalam hal ini"
Verdea menyandarkan bahunya ke batang pohon itu sambil terus bertukar tatapan dengan sosok itu
"Entahlah... Aku bisa dibilang cukup berpengalaman"
"... Lalu apa artinya?"
"Gampang saja. Matahari yang baru terbit itu menandakan sifatmu yang masih kekanak-kanakan"
"Hmph..."
Verdea menggembungkan pipinya dan membuang wajahnya dari sosok itu. Dipanggil kekanak-kanakan membuatnya tidak senang, teringat ketika aku memanggilnya dengan sebutan 'bocah'
"Aku sungguh-sungguh. Dan untuk air yang bening ini, menandakan kepolosanmu" Sosok itu melanjutkan
"Rasanya seperti kamu mengatakan kalau aku ini anak kecil"
"Kurang jelas? Atau perlu kugambarkan sikapmu sekarang ini?"
Sosok itu kemudian tertawa kecil diikuti dengan Verdea yang merasa kesal dan semakin memalingkan wajahnya
"Sifat sarkas mu itu mirip sekali dengan temanku"
"Teman?"
"Ya. Namanya Vainzel"
"Namanya sedikit aneh..."
"Oh!? Kamu juga setuju bukan!?"
"Ya... Tapi itu tetap nama seseorang, jadi tidak sebaiknya kujelek-jelekkan"
Dia tidak salah, dan Verdea tahu itu
"Dia juga orangnya selalu merasa berkuasa! Padahal dia tinggal di kastilku, tapi sekarang malah jadi dia yang mengontrol!"
"Lalu, kenapa dibiarkan?"
"... Karena aku percaya dengannya"
"..."
Sosok itu diam tanpa balasan, memberi ruang kepada Verdea untuk melanjutkan kalimatnya
"Aku baru mengenalnya selama beberapa hari, jadi rasanya memang aneh aku memercayainya secepat itu...
Tapi dia juga selalu baik kepadaku. Dia selalu mengurusku ketika tidak ada yang mau, dan bahkan rela memohon pada temannya yang lain untuk bantuan. Semua itu hanya untuk mengurusku"
Verdea melipat kakinya keatas perlahan dan meletakkan wajahnya di lutut. Bayangan tentang semua hal yang sudah kulakukan untuknya terlintas kembali, selagi tatapannya mulai kosong. Perlahan, sebuah senyum mulai terbentuk di bibirnya
"Padahal aku cuma anak buangan. Aku juga bukan orang yang luar biasa atau semacamnya"
"... Tidak boleh berkata seperti itu kepada dirimu sendiri, Verdea"
"... Kenapa?"
"..."
Sosok itu semakin mendekatkan tempat duduknya ke Verdea dan ikut menyandarkan punggungnya ke pohon yang sama
"Kamu tahu, bahkan pencuri dan penjahat juga punya arti spesial untuk keberadaan mereka?"
Verdea menatap wajah sosok itu
"... Kenapa kamu berpikir kalau penjahat seperti mereka bisa spesial?" Verdea bertanya keheranan
"Kalau begitu, pikirkan hal ini. Jika semua manusia memiliki hati yang bersih, apa yang akan terjadi?"
"... Dunia akan lebih baik"
"Normalnya orang akan berpikir begitu bukan? Tapi bagiku, hal itu akan membuat kalian tidak dipanggil manusia"
"Hah?"
"Kalian bisa dipanggil Elf karena kesucian jiwa kalian ketika hal itu terjadi, tapi kalian tidak akan bisa menjadi dan dipanggil manusia lagi"
"... Bukannya lebih bagus kalau terlahir sebagai Elf?"
"Mungkin. Tapi aku akan mengatakan hal ini. Kalian Manusia adalah makhluk paling sempurna di dunia ini"
"... Kenapa begitu?"
"Karena kalian bisa melakukan kejahatan dan kebaikan apapun di dunia ini"
Kejahatan dan kebaikan...
Dua hal yang terpisah namun menyatu, seperti 2 sisi koin yang berbeda
"Tapi, apa bagusnya melakukan kejahatan?"
"... Ada kejahatan yang diperlukan untuk menghasilkan kebaikan"
...
Sosok itu lagi-lagi tidak salah
"Misalnya, kamu menghajar seseorang untuk melindungi orang lainnya, atau kamu mencuri untuk memberi makan adikmu yang lapar"
Verdea sekali lagi dia buat tertegun, memikirkan kembali mengenai topik ini
"Aku tidak bilang hal-hal itu boleh dianggap bermoral. Yang aku ingin beritahukan padamu adalah kalau kejahatan itu harus hidup bersama kebaikan
Sama seperti kehidupanmu yang harus ada untuk temanmu itu..."
Perkataan itu kemudian menusuk masuk ke dalam kepala Verdea
"Untuk... Vainzel?"
"... Kenapa?"
"Kenapa kamu berpikir aku ada untuknya?"
...
"Seperti yang aku bilang tadi. Lagipula, kalau dipikir lagi, dia tidak mungkin rela memberikan bantuan sebesar itu kepada sembarang orang, apalagi selalu mengurus mereka"
__ADS_1
Perkataan sosok itu selalu ada benarnya, pikir Verdea. Pikirannya kemudian dipenuhi lagi oleh perlakuanku kepadanya selama ini
Aku bisa menolak permintaan raja untuk menjadi pengawalnya, aku bisa tidak mengurusnya jika aku mau, aku bisa menelantarkannya seperti semua orang yang memperlakukan hal itu kepadanya
Aku bahkan bisa pergi kapanpun itu
Tapi aku tidak melakukannya sama sekali. Untuk apa?
Semua hal itu terlintas di kepala Verdea dalam waktu yang singkat. Hingga, sebuah perasaan hinggap di dadanya. Perasaan senang yang sangat besar langsung menghangatkan hatinya
Dia menangis disaat itu. Air matanya tidak bisa dia tahan sama sekali, sekeras apapun dia berusaha mengusapnya
...
"Kamu yakin... Dia membutuhkanku...?" Verdea berkata dengan nada pelan
"... Itu sudah jelas sekali, Verdea" Balasnya sambil tersenyum
Rasa takut tiba-tiba hinggap di Verdea
Dia takut jika aku pergi, tidak akan ada yang peduli dengannya lagi. Bahkan Luna, Ivor, Ordelia, Luxor dan Lyralia. Mereka hanya mengikuti perkataanku dan datang karena permintaanku
Dan karena pembicaraannya dengan sosok ini, dia semakin ingin aku diam di sisinya
"Hey, tidak perlu menangis"
Sosok itu yang tadinya hanya duduk, perlahan memeluk Verdea
Tapi, dia tetap menangis. Kenapa tidak...?
"Lalu, apa yang ingin kamu lakukan?" Sosok itu pun bertanya
...
"... Aku ingin terus berteman dengannya. Aku tidak ingin dia pergi..." Verdea menjawabnya pelan
"Kalau begitu, kamu harus berusaha untuk mempertahankan hubungan kalian"
"... Tapi... Aku harus apa...?"
"Jawabannya hanya ada pada dirimu sendiri. Dia itu temanmu. Aku tidak akan bisa membantumu"
"Tapi-"
"Yakinkan dirimu. Yakinkan dirimu dan jawaban itu akan datang dengan sendirinya. Untuk sekarang, berjuanglah"
Kata itu terngiang di kepalanya. Kata itu persis sekali dengan kata yang pernah dia dengar
Verdea tertawa kecil dan membuat sosok itu penasaran kenapa
"Perkataanmu mirip dengan perkataan Vainzel" Dia berkomentar kemudian
Sosok itu tersentak. Wajahnya kemudian membuat senyuman lembut yang tertutup dengan cahaya terang
Senyuman yang sebenarnya dia ingin tunjukkan pada Verdea
"Aku yakin dia teman yang baik"
......................
"Veri... Veri..."
"Baik, baik. Aku bangun"
Cahaya matahari yang menimpa wajahnya itu membuat silau matanya
Verdea bangun dengan aku yang terduduk di sisi kasurnya selagi menggelengkan kepala karena heran
"Kamu ini mimpi apa coba sampai susah bangun begitu?" Aku bertanya kepadanya
...
"Cuma mimpi aneh"
"Hmm...
--- Kenapa kamu menangis?"
"Tidak kenapa-napa"
Dia mengusap air matanya yang mengalir dan berusaha menahannya, walaupun aku sudah tahu betul kalau dia sedang merasa sedih
"..."
Anak ini, benar-benar...
Kenapa kamu harus membuatku selalu merasa iba...?
...
Aku pun merangkulnya di pelukanku dengan hati-hati. Untuk menenangkan dirinya lebih jauh, kuelus kepalanya perlahan
Dia hanya diam tidak berkutik, kemudian memelukku balik dan memejamkan matanya
Jangan menangis lagi, Veri...
Aku ada disini...
"Mimpi buruk?"
"... Entahlah..."
"Kamu cengeng"
"Jahat sekali..."
Aku tertawa kecil dan merenggangkan pelukanku, diikuti olehnya
"Ya sudah, kita harus sarapan. Kamu tidak akan mau mendengar Ivor berisik" Aku berkata
"Hehe. Orang itu tidak pernah diam, ya...?"
"Betul sekali. Dia seperti anjing yang mencari perhatian"
Kami terus bercanda sampai dia mau turun dari tempat tidurnya dengan sendiri. Dia langsung pergi mandi meninggalkanku yang sibuk menyiapkan pakaiannya
Dia terpikir terus akan mimpi itu dan perkataan sosok di dalam jiwanya. Dan disaat yang sama, aku masih terpikir dengan perkataan Verdea di malam sebelumnya
Jawabannya hanya pada diri mereka sendiri. Kami harus meyakinkan diri kami masing-masing dan terus berjuang
Maka, jawaban itu akan muncul untuk kami. Jawaban agar kami bisa berdiri di sisi satu sama lain untuk waktu yang lama
"Ah, merepotkan" Kami berkata bersamaan, pada tempat yang berbeda
Sepasang orang yang terdiri dari Elf dan anak manusia
__ADS_1
Sepasang orang yang tidak diterima oleh semua manusia dengan baik
Apa yang akan kami lakukan dan terjadi selanjutnya, hanya Tuhan yang tahu. Aku dan dia saat itu hanya berharap untuk yang terbaik