Book Of Flowers

Book Of Flowers
Seorang Utusan Marcellus


__ADS_3

Dia hening, setelah 2 raja itu pergi untuk mengurus urusan mereka masing-masing. Dan sekarang hanya kami yang tersisa, setelah 10 menit berlalu dengan perbincangan manis tanpa sikap agresif kepada satu sama lain


Aku hanya merasa lega Eloy tidak mencoba menggonggong lagi kearahku tadi. Walaupun aku masih tidak suka tatapannya yang sesekali diarahkan kepadaku


Lupakan


Jadi yang tersisa di ruangan ini hanya ada... 8 orang


Aku, Verdea, Veskal, Luna, Zaphir, Julius dan kedua penjaganya. Bahkan pelayan yang menjaga pintu tadi sama sekali tidak terlihat di dalam ruangan ini lagi


Mataku mulai melirik kearah Verdea menanti dia menyadari hal itu. Dan ketika dia sadar, aku pun mengarahkannya kepada Julius yang terlihat sedang termenung


"Masih ada yang harus kita bicarakan dengan Julius" Aku berkata


Verdea mengangguk paham dengan perlahan, sementara aku mulai mengambil inisiatif untuk maju menghadap Julius terlebih dahulu


"Bintang Mediterania memberkatimu" aku pun bicara untuk menyadarkan Julius


Dia mulai menggelengkan kepalanya dengan sebuah senyum di wajah—merasa senang aku sudah mengganggunya sekarang ini


"Tidak perlu memberiku salam secara formal begitu disaat ingin berbincang, Oberon" Julius pun berkata, membuatku tertawa kecil


"Anggap saja rasa hormat antara dua raja" aku berkata


Julius tersenyum tenang mendengar hal itu


"Aku yakin kamu datang menghampiri sekarang karena undangan dari istriku?"


Itu pertanyaan yang kunanti-nanti


"Alorry tahu cara bernegosiasi, dan aku tertarik" Aku membalasnya


"Juga, aku yakin dia harus mendengarkan isi diskusi antar raja ini bukan?" Verdea menambahkan


Tetapi Julius menggelengkan kepalanya menolak pernyataan Verdea. "Dia sudah mendengarkan kita sejak tadi"


Aku ingin bertanya bagaimana, tetapi aku pun teringat kalau di dunia ini ada yang disebut dengan sihir pengintai. Alorry pasti menggunakan sihir itu untuk mendengarkan pembicaraan kami semua


Kupikir bercak Mana yang tidak terlalu tebal di bawah meja tadi cuma seberkas sihir kecil yang tidak sengaja tergores di sana saja...


"Kalau begitu lebih baik kita pergi menemui Alorry bukan?" Julius kemudian menawarkan


Ah ya. Sebaiknya begitu


"Juga..." Dia menambahkan. "Aku ingin bicara mengenai sesuatu denganmu"


...


Kalimat terakhirnya itu...


Terdengar terlalu mendalam...


Kami berdua dibuatnya menatap satu sama lain karena keheranan. Tetapi karena dia sudah mulai berjalan keluar, kami tidak bisa berlama-lama


Zaphir, Luna dan Veskal juga mengikuti dari belakang—tanpa mengeluarkan suara langkah ataupun bisikan sedikitpun, keluar dari ruangan itu


Suasananya sangat sunyi dan hanya dipenuhi oleh suara langkah kaki kami, membuat Verdea terlihat merungut karena dia tidak terlalu suka dengan hal itu—hingga aku bahkan menyadari ekspresinya yang kebosanan


Dasar


"Julius mungkin masih sedang banyak pikiran" aku berbisik kepadanya


"Tidak ada masalah yang terlalu besar, Oberon" Julius tiba-tiba menyahut, membuatku dan Verdea sedikit terkejut


"Hanya saja..."


...


Hah, sudah kuduga dia memang punya banyak pikiran


"Temanmu..."


Hm?


Temanku yang mana maksudnya-


...


Ahahaha...


Ternyata Zaphir...


Wajahnya berlipat sekali, sampai-sampai matanya juga ikut dia gulingkan keatas. Tidak perlu penjelasan darinya kalau dia sekarang merasa sangat—dan sungguh sangat, marah


Veskal dan Luna bahkan jadi diam hingga berkeringat dingin, selagi mata mereka berdua tidak berani menatapnya secara langsung


"Zaphir. Kenapa memasang wajah kaku begitu...?" Aku pun bertanya


"Sejarah..."


Ahahaha...


Dia tidak berniat untuk menghancurkan apapun disini bukan...?


"Kita bahas itu nanti di Miralius. Orion sekarang sudah jadi sekutu kita, oke?"


"Sejarah..."


Dia mengulangi kalimatnya...


Aku dan Verdea langsung undur diri—memasang senyum canggung kearah Julius yang hanya menaikkan tepi bibirnya keatas sebelum berbalik kembali kearah depan


"Aku paham kamu tidak suka kepada Orion, petinggi Zaphir" Julius kemudian berkata


Zaphir pun tidak bisa tidak menoleh kearah raja yang satu itu karena namanya baru saja disebut. Begitu juga dengan kami


"Tapi pahamilah, kami juga tidak menganggap kejadian masa lalu sebagai hal yang benar" Julius menambahkan. "Tidak ada yang benar dalam perang. Semua orang hanya memperjuangkan apa yang mereka anggap sebagai benar disana"


...


"Bukan berarti aku bisa melupakan setiap darah raja kami yang tumpah di tangan leluhurmu, Julius Orion"


Julius tersentak mendengar balasan Zaphir, namun dia segera usahakan untuk tidak terlihat


"Diantara semua kerajaan yang ada di muka Vitario, hanya kalian saja yang memiliki kemampuan untuk membunuh raja kami. Para raja yang kamu katakan memperjuangkan apa yang mereka anggap benar


Sungguh, mereka semua hanya ingin hidup dalam ketenangan. Tetapi karena sumpah dari ayah kaum Elf, kami harus terjerat dengan urusan manusia tidak berguna seperti kalian-"


"Oke, Zaphir. Itu kelewatan" aku menyela


...


Pemikirannya tidak salah. Tapi...


"Aku sedang mempelajari untuk menghormati manusia berkat pangeran kecil bernama Verdea Hortensia ini. Tapi aku tidak sudi jika kamulah yang memanggil namaku"


Dan dia tidak berhenti...


...


Kebencian memendam kaum Elf terhadap manusia...


Bohong jika aku bilang aku tidak membenci mereka sejak dulu. Aku tahu konsekuensinya jika harus berurusan dengan mereka di hari aku pergi keluar dari Miralius untuk melihat dunia


Hanya saja, seperti yang aku bilang...


Aku ingin melihat semua hal yang ada di dunia. Itu termasuk juga, betapa bebasnya manusia


Betapa berwarnanya mereka. Kumpulan makhluk yang berbeda-beda. Tidak terikat akan suatu dataran semata. Tidak terikat akan satu janji semata. Bahkan tidak terikat oleh apapun sama sekali


Hidup mereka adalah pilihan mereka. Ada jutaan pilihan yang mereka bisa ambil untuk kehidupan mereka. Yang tersisa adalah seberapa mampu mereka dapat menggapai pilihan itu


Aku sudah cukup banyak menemui manusia selama ini. Seakan mereka adalah sekumpulan bunga di sebuah padang rumput


Dan diantara padang rumput itu, aku menemukan bunga kecil yang belum tunas sama sekali. Bunga kecil yang dilindas oleh sesuatu, dan nyaris tidak terselamatkan


"Jika aku tidak mengambil resiko untuk keluar dari Miralius di hari itu, aku yakin tidak ada satupun dari kita yang akan menemui Verdea..." Aku pun berkata


Dari dia, aku juga mampu bertemu Veskal. Lalu bertemu dengan Frank


Lalu Cyth, seluruh anggota Black Hunt, Claudia, Eleanor, Albert, Zen, Julius, Alorry, dan lainnya...


"Dia orang yang bisa mendorongku untuk bisa menerima manusia secara lebih terbuka. Mendorong para Elf untuk bisa lebih terbuka"


Dan berkat dia juga...


"Aku juga jadi berpikir, kalau aku harus menjadi raja yang lebih baik. Raja yang mampu untuk memastikan masa depan yang lebih baik untuk kaum Elf"


Raja yang bisa membantu persatuan kaum kami lagi, sesuai apa yang diinginkan oleh Ayahanda. Sesuai apa yang diinginkan oleh Verdea, oleh Veskal


Oleh semua orang yang aku sayangi...


"... Kami beruntung, aku bisa bertemu dengan Verdea di hari itu. Ada banyak sekali perubahan yang aku sukai dari kaum Elf setelah kehadirannya"


Seakan sudah terbiasa, Verdea langsung menepis tanganku yang nyaris mengelus kepalanya lagi


Sepertinya mengelus kepala anak ini memang sudah menjadi bahasa tubuhku


"Tidak perlu berkata begitu juga..." Verdea malu-malu membalas


"Heh~? Malu karena dipuji lagi~?" Veskal menggodanya


Verdea pun segera mengepalkan tangan kirinya dan memukul pinggang Veskal. Tapi tidak berefek sama sekali, karena Veskal masih tertawa meledek dengan normal


"Aku bisa bilang aku setuju dengan perkataan raja kami" Luna mengikuti tiba-tiba. "Sungguh, ada banyak hal yang bisa dilakukan olehnya. Sangat banyak hingga aku merasa hutang kami tidak bisa dibayar" dia menambahkan, selagi melirik kearah ayahnya


"Luna..." Verdea bergumam pelan dengan mata berbinar


"Itu sebabnya kami semua bersumpah setia kepadanya, yang mulia Julius. Adik kecil kami ini tidak bisa digantikan oleh siapapun~" Veskal juga mengikuti, sembari mengelus kepala Verdea sekasar mungkin


"Aku ingin berterima kasih, tapi sepertinya aku harus menggunakan tangan kananku untuk melemparmu ke angkasa sekarang..." Verdea mengancam


Veskal langsung tersenyum usil sembari mundur kembali ke sisi Zaphir dan Luna yang hanya menggelengkan kepala melihat tingkahnya


Julius. Dia menyaksikan setiap gerakan yang kami buat dengan satu sama lain. Setiap kata yang kami utarakan mengenai satu sama lain. Bahkan sekarang, ketika Verdea sedang terlihat cemberut kearah Veskal yang menjulurkan lidah kepadanya—selagi aku menatapi mereka dengan wajah datar bersama dua orang lainnya


Dia perlahan memejamkan matanya, setelah kembali berbalik kearah depan. Kepalanya tertunduk, seakan dipenuhi oleh penyesalan dan sedikit rasa iri. Namun senyumnya itu menunjukkan kalau dia juga merasakan suatu kesenangan melihat apa yang dia lihat barusan


"Sejujurnya, aku ada satu hal yang ingin dibicarakan kepada pangeran Verdea" Julius pun berkata


Dibicarakan, dia bilang...


Sudah tentu itu penting


"Kamu akan lihat sebentar lagi"


...


Dia sungguh mengatakan hanya sebentar


Julius rupanya menuntun kami ke dalam sebuah ruangan di dalam kastil itu. Pintunya yang terbuka itu mengeluarkan sebuah suara yang menandakan kalau benda itu sudah sangat tua dan memiliki sejarah


Pintu ruangan yang kemudian mengantarkan kami ke dalam sebuah area yang memiliki kubah bulat—terbuat dari kaca berwarna kebiruan. Warna dari kaca itu membuat cahaya yang masuk melaluinya memberi kesan, seakan ruangan itu sedang berada pada waktu malam


Warna birunya juga ditemani oleh berbagai macam benda bersinar berwarna putih terang. 'Bintang', adalah gambaran yang tepat untuk menjelaskan hiasan indah berkelip dalam ruangan itu. Bukan hanya di kubah kaca itu—seluruh tembok di dalam ruangan kosong ini diisi oleh hiasan 'bintang' itu


Dan tidak hanya ada yang berwarna putih terang. Ada beberapa yang memiliki warna unik seperti emas, hijau, merah, dan lain sebagainya—mengisi tembok ruangan kosong nan luas itu


Ya. Ruangan ini kosong dan sangat luas. Sangat luas, sehingga kami bisa saja berlari hingga lelah di dalamnya—seandainya boleh


Lalu, tidak membahas beberapa lukisan fase bulan yang mengitari ruangan berbentuk lingkaran itu. Dari bulan sabit, purnama, hingga gerhana bulan itu sendiri—terlukis dengan sangat akurat di dalamnya


Pemandangan ruangan itu langsung membuat Luna, Veskal dan Verdea berdengung kagum. Bohong jika aku bilang diriku dan Zaphir tidak ikut terkesan juga


Ruangan ini seakan dibuat hanya sebagai sebuah aula kosong untuk menghibur mata semata. Tetapi aku tahu, kalau bukan hanya itu saja cerita yang ada di balik ruangan ini


"Indah bukan?" sebuah suara familiar menyapa


Kami spontan menoleh ke kanan mengarah kepada suara itu. Sungguh, ruangan ini sangat luas sehingga kami tidak menyadari kehadiran seseorang yang sudah ada di dalam ruangan itu terlebih dahulu


Seseorang wanita berambut perak yang tersenyum ramah, dan seorang pria berambut hitam yang terlihat gusar


"Yang mulia Alorry?? Juga, Edwin??" Verdea bertanya-tanya


"Jika kamu bingung kenapa kami disini, itu karena aku yang akan mengambil alih dalam menjelaskan banyak hal" Alorry menjawab


"Dan aku kebetulan kemari karena para pelayan itu memberi arahan. Seandainya kamu mau menunggu sebentar, aku tidak perlu bertemu dengan pintu ruangan rapat yang sudah tertutup itu..." Edwin menyela


Verdea hanya tertawa canggung selagi mengusap kepalanya untuk merespon, membuat Edwin justru semakin terlihat lemas


"Tuan putri pasti akan membunuhku..."


"Dan aku akan senang jika kamu keluar sekarang, tuan Edwin"


...


Pfft-!!


Dia langsung diusir??


"Kenapa?? Bukannya lancang yang mulia, tapi-"


"Justru karena tamuku sudah hadir, aku merasa kehadiranmu disini sangat lancang"


Edwin ingin protes, tetapi dia langsung mundur karena ingin mengamankan kepalanya


Alorry juga terlihat menakutkan mengarah kepadanya, jadi dia tidak punya cukup banyak nyali untuk mengetes kesabaran wanita bergelar ratu kerajaan Orion itu


Pasrah, Edwin pun meninggalkan ruangan setelah pamit hormat. Tapi aku bisa langsung melihat tubuhnya menjadi lemas selagi dia digiring keluar oleh kedua penjaga milik Julius yang juga mengikuti karena perintah


Aku hanya menggelengkan kepala melihat itu, dengan sebuah senyum yang tidak tertahan


"Verdea Hortensia. Pangeran kelima dari keluarga yang menguasai benua Flos. Anak dari mendiang seorang wanita biasa, yang sekarang menjadi tuan dari raja para Elf, duta besar dari kerajaan Hortensia sendiri, dan seorang pejuang yang menjadi topik hangat sekarang ini karena pencapaiannya seiring waktu"


Telingaku mulai melebar mendengarkan perkataan Alorry. Utamanya karena dia tiba-tiba saja membahas tentang Verdea secara lengkap namun singkat


Dan lagaknya tidak terlihat menyenangkan sama sekali. Seperti seseorang yang sedang ingin memancing emosi lawan bicaranya, sekaligus menelaah seakan sedang memandang rendah kearah Verdea


Yah, aku tidak suka perawakannya. Tapi, aku yakin dia tidak punya niat buruk


"Aku dengar kamu punya cukup banyak pengetahuan mengenai sejarah, berkat pelajaran dari teman-temanmu. Jadi aku punya pertanyaan untukmu


Satu, pertanyaan kecil..."


Dia mendekat dan mulai membisikkan satu hal yang bisa di dengar oleh kami semua


"Kamu tahu apa itu ramalan Mediteran?"


Verdea spontan menggeleng dan menoleh kearahku


Tapi aku juga sama sekali tidak tahu apa yang dimaksudkan oleh Alorry. Juga...


"Jika itu berkaitan dengan sesuatu yang muncul setelah runtuhnya Polaris dan terisolasinya Miralius, kami para Elf sama sekali tidak akan mengetahuinya" aku menjelaskan


Alorry pun mengangguk paham, sedikit kecewa kami tidak bisa menangkap maksud perkataannya pada kesempatan pertama


"Ramalan Mediteran berasal dari cendekiawan ternama yang ada pada masa lampau setelah perang dua roh bersaudara selesai" Julius pun menjelaskan


Begitu... Cukup dimengerti kenapa kami belum mendengar ramalan itu sama sekali


"Dan kami yakin hal itu ada kaitannya dengan kalian" Alorry menambahkan. "Utamanya dirimu, pangeran Verdea"


"Maaf. Tapi, aku tidak paham dengan apa yang kalian katakan" Veskal menyela. "Aku tahu Verdea terkait kepada banyak perkara akhir-akhir ini, tapi itu bukan berarti kami harus ditampar dengan beban masa lampau dari cendekiawan kalian yang mungkin tidak akurat"


Veskal benar. Cukup dengan semua hal mengenai Blood Sabbath yang membebani kami selama ini. Tapi, kami kemudian dihadapkan dengan kenyataan kalau segel Verdea adalah perwujudan kekuatan Marcellus


Dan sekarang, kami harus mendengarkan kalau dia akan menanggung sebuah ramalan nasib penting—dimana itu mungkin saja akan menjadi sangat berat?


"Dia bukan hanya cendekiawan semata. Beliau adalah seorang penerawang yang memiliki berkah melihat masa depan melalui mimpinya"


...


Artinya...


Sama seperti Ayahanda? Maksudku, mengenai penglihatan masa depan itu?


"Ramalannya selalu tepat, walaupun sejarah pernah berkata kalau dia hanyalah seorang yang kehilangan akal sehatnya..."

__ADS_1


"Aku... Cukup paham dengan hal itu" Zaphir bergumam, hingga wajahnya tiba-tiba turun


Luna langsung mendekati ayahnya untuk meyakinkan kalau dia akan baik-baik saja


"Apa, isi ramalannya?" Aku pun bertanya


Aku mungkin bisa mencari petunjuk kebenarannya melalui penglihatan Ayahanda juga...


Alorry perlahan tersenyum lembut, kemudian menunjukkan kepada kami setiap lukisan dan kerlipan hiasan yang ada diatas tembok ruangan ini


"Kalian sudah melihatnya bukan?" dia pun berkata. "Ada banyak sekali bintang disana. Tetapi yang paling menonjol di mata kalian pastinya semua bintang yang memiliki warna berbeda"


Emas, merah, hijau dan lainnya...


Ya. Bintang-bintang itu terlihat sangat aneh disana, seakan mereka sama sekali tidak berada di tempat yang tepat. Beberapa yang melihat mungkin akan berargumen kalau mereka itu aneh dan tidak menyesuaikan diri dengan yang lainnya


"Kalian harus melihat urutan bintang itu dari gerhana bulan" Alorry memberi sebuah petunjuk. "Dan setiap bintang yang memiliki warna berbeda itu, mereka adalah perwujudan dari orang-orang penting yang akan membawa manusia melalui malam dengan cahaya mereka"


Mata Verdea langsung berbinar. Mendengar kata kiasan itu, dia langsung paham apa yang dimaksudkan Alorry


"Perwujudan dari keinginan Marcellus..." dia bergumam


Kami semua tersentak, terutama Alorry yang tidak menyangka Verdea akan mendapatkan sebuah jawaban yang seratus persen tepat hanya dalam waktu singkat


"Kamu bicara mengenai para utusan yang menemuinya sebagai pewaris dari keteguhannya. Pewaris dari kekuatannya" dia meneruskan. "Itu sebabnya mereka berjumlah 9 bukan, para bintang yang terlihat berbeda itu?"


...!


Utusan? Sembilan?


"B- benar. Dan mereka juga sudah memiliki nama yang-"


"--- Regulus" Verdea menyela lagi, membuat semua orang terkejut selagi dia mulai menunjuk satu-persatu. "Aldebaran, Achernar, Canopus, Spica, Altair, Vega, Procyon. Lalu..."


Seiring dia menyebut nama-nama itu, dia menunjuk kearah setiap bintang mulai dari posisi lukisan gerhana bulan hingga kearah yang terakhir—sebuah bintang berwarna keemasan yang terlihat jauh lebih besar dibandingkan 8 bintang lainnya


"Sirius..." dia mengakhiri kalimatnya. Matanya masih melebar, dipenuhi oleh kilauan bintang itu


Namun tatapannya kosong, seakan dia hanya bisa terpana melihat gambaran dari semua bintang itu. Semua bintang yang dia sebut sebagai utusan itu


Lalu tangannya memutar kembali. Memutar kembali kearah nama pertama yang ia sebut tadi


...


"Bintang berwarna kuning itu. Regulus adalah namanya" dia berkata, menunjuk kembali kearah lukisan bintang yang posisinya paling dekat dengan lukisan gerhana bulan


...


"Bintang itu, adalah diriku" dia menambahkan...


...


...


...


Itu bukan candaan


Itu bukan hanya omong kosong


Kata seperti utusan, bintang, dan Marcellus...


Semua hal itu terkait di kepalaku sekarang


Kebenaran dari segel di punggung tangan kanan Verdea itu...


Semuanya jadi terang di kepalaku sekarang...


...


Kebenaran yang sangat kejam. Kebenaran yang segera membuat kepala dan hati kami hancur karena rasa sakit akibat penjelasan sepenuhnya itu


Aku tidak tahu dengan yang lainnya, tetapi aku langsung-


Aku langsung merasa ingin muntah karena geram...


"Kamu baru memberitahu kami sekarang...?" Luna berkata. Nadanya terdengar sangat kesal


Sangat kesal, sehingga kami semua bisa melihat dia bergetar seakan dirinya ingin memukul sesuatu—dan harus melakukannya


Verdea yang menoleh kearahnya sama sekali tidak memberi reaksi. Dan sejujurnya, aku jadi bimbang harus ikut marah atau mengambil perspektif Verdea—karena aku tahu betul seberapa berat artiannya jika apa yang dikatakan Verdea adalah benar


Utusan dari keinginan Marcellus. Pewaris dari kekuatannya


Segel itu...


Segel itu adalah bukti kalau dia adalah salah satu dari mereka. Salah satu dari para utusan itu...


Dan segel itu ada disana, sebagai pengingat kalau dia memiliki beban berat yang akan ditanggung. Bukan hanya meliputi dirinya sendiri dan beberapa orang, tetapi justru seluruh dunia


Seluruh, umat, manusia...


Dan itu mengingatkanku kepada satu hal lagi


'Daun yang melalui para bintang'


Sebuah ramalan dari nasibku, diberikan langsung oleh orang yang penglihatan masa depannya tidak pernah salah...


...


"Tidak..."


Aku spontan mundur, menarik perhatian semua orang selagi aku menggelengkan kepala


"Itu artinya..."


Ya tuhan...


Permainan macam apa ini...?


Ini sama sekali tidak lucu...


Aku tertawa, tetapi ini sama sekali tidak lucu...


"Jadi kamu bilang, kalau aku harus menjalani kehidupan itu? Aku harus membimbing para bintang itu, sama seperti aku membimbing dirimu?"


Takdir sudah mempermainkan diriku. Dia rupanya mempertemukan kami berdua hanya untuk melatih Verdea hingga dia mampu menjadi seorang prajurit yang bersedia mengorbankan dirinya demi seluruh umat manusia


Dia aku sudah besarkan untuk menjadi domba yang akan dipotong lehernya untuk memberi makan semua orang agar bisa bertahan hidup. Dan aku sama sekali tidak menyadari hal itu...


Bedebah...


Takdir bedebah...


Semuanya sudah masuk akal sekarang. Terkutuklah takdir ini. Dia bisa melempar dirinya sendiri ke jurang terdalam dan aku tidak akan peduli


"Aku tidak akan pernah setuju untuk membiarkan Verdea menjadi pion untuk kalian semua" aku memperingatkan dengan niatan mengancam


Seluruh tubuhku bergetar, sama seperti Luna. Ya, aku geram. Tapi apa aku bisa disalahkan?


Dan saking geramnya, aku tidak bisa menahan diri untuk membalik badan meninggalkan ruangan itu. Entah kepada siapa aku harus melampiaskan amarah ini, tapi pastinya aku tidak ingin orang itu adalah Verdea


Julius mencoba menyerukan namaku berkali-kali agar aku kembali, namun aku sama sekali tidak menoleh sehingga Veskal dan Luna tanpa sepatah kata pun mulai ikut keluar untuk menenangkan diriku


Zaphir tetap disana ketika menyadari dia tidak boleh meninggalkan Verdea sendirian begitu saja. Dan dia yakin kalau mereka berdua saja sudah cukup untuk membantuku


"Ini tidak lucu, ratu Orion" Zaphir berkata dengan nada dalam


Alorry terdiam sejenak. "Aku menyesal harus berkata, kalau ini bukan candaan sama sekali. Kami penduduk Sto Astra menganggap serius setiap ramalan yang kami dapatkan semenjak dahulu kala" dia kemudian membalas


Balasan itu membuat Zaphir terdiam, karena dia paham hal itu bukanlah kebohongan. Semua kerajaan yang ada di Sto Astra sungguh, menghormati setiap ramalan yang ada. Bahkan jika akhirannya ramalan itu tidak akurat


Verdea di sisi lain, mulai terdiam


Terdiam, namun samar air matanya mengalir. Matanya masih terbuka lebar, tetapi air matanya mulai mengalir...


Julius dan Alorry spontan merasa iba dengan hal itu, sehingga si suami mulai mendekat untuk membantu Verdea mengatur emosinya


Verdea pun mulai tersadar setelah terpaku kearah dinding ruangan itu dengan cukup lama. Dia dengan cepat mengusap air matanya selagi membersihkan hidungnya yang tersumbat sebelum isinya sempat keluar


Hening. Verdea masih berusaha mengusap air matanya, selagi Zaphir mencoba memikirkan sebuah balasan


Balasan yang cukup singkat berupa sebuah pertanyaan


"... Apakah beban itu sudah terasa lebih ringan sekarang...?"


Balasan yang membuat Verdea tertegun sejenak. Hingga kemudian, dia mengeluarkan sebuah tawa penuh rasa pasrah


"Sesungguhnya, tidak sama sekali..."


Karena dia paham, kalau dengan tahunya kami semua mengenai rahasianya itu, kami juga akan ikut terikat dengan semua ini


Terikat dengan takdir besar yang menyeretnya—beresiko dapat membahayakan nyawa kami justru


Dan pikiran kalau kami berada dalam bahaya, membuat Verdea semakin meringis. Dia mencoba melupakan hal itu semenjak dia mendapatkan petunjuk besar dari Marcellus mengenai identitasnya. Tetapi, ketakutan seperti itu tidak mungkin dia lupakan begitu saja


Tidak membahas, kalau memori yang kami buat bersamanya terus menumpuk seiring waktu berjalan. Pikiran kalau memori itu bisa saja berubah warnanya dan menjadi redup ke depannya, membuat Verdea takut


Verdea Hortensia, hanya takut kepada satu hal. Dan itu hanya satu


Dia takut, dia harus kehilangan teman-temannya. Teman-teman yang dia pegang erat di hatinya...


Dan dia tahu, kalau beban yang dia tanggung itu sudah pasti akan membawa kami semua ke dalam bahaya


"Aku tidak ingin siapapun terluka--- Sekarang ataupun nanti---"


Zaphir terdiam menyaksikan Verdea yang mulai larut dalam kesedihannya itu


Dia tidak punya hak untuk menghapus air mata itu, juga tidak tahu bagaimana harus melakukannya. Jadi dia hanya diam menatap, selagi sebuah ingatan terlintas di kepalanya


Ingatan akan seorang teman lama. Teman lama yang tidak pernah dia lupakan selama ini


Teman lama yang juga menanggung beban berat, sehingga akhirnya termakan oleh pengorbanan yang harus dilakukan seseorang. Pengorbanan yang membuat mereka terpisah dengan satu sama lain


...


...


"Jika kamu masih bisa, pangeran Verdea..."


Dia tidak tahu apakah ini baik ataupun benar


"Jika kamu masih bisa, selalu sampaikan isi hatimu kepada teman-temanmu"


--- Tapi, seandainya dia masih bisa melihat temannya di masa lampau lagi, Zaphir ingin melakukan hal itu


"Kalian tidak akan pernah tahu kapan kalian akan berpisah..."


--- Keinginan itu datang dari hatinya. Datang, dan dia sampaikan kepada Verdea sebagai sebuah solusi


Apapun itu, jika dia bisa melihat Bjorn kembali...


Dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk mengatakan isi hatinya lagi. Kepada seorang teman yang memberinya arti untuk hidup


Dan dia melihat, kalau hal itu juga bisa berlaku kepada kami bertiga. Kepada kami bertiga yang masih belum menyesal


"Ini hanya saranku..."


Hatinya kalut. Tapi setidaknya...


Zaphir bisa tersenyum lagi. Dia semakin banyak tersenyum lagi, akhir-akhir ini


Dan semua itu selalu disertai dengan ingatannya tentang Bjorn...


Dia tahu, kalau Bjorn akan senang melihatnya sekarang. Karena...


Semua yang dia lakukan selama ini...


Dia mencoba untuk menjadikannya lebih baik


Jika tidak bisa untuk dirinya sendiri, maka dia bisa melakukannya untuk yang lain


Orang-orang yang dia percayai dengan segenap hati


......................


--- Di suatu tempat, taman kastil ---


"Tidak pernah kusangka, kalau aku akan melihat seorang raja meringkuk seperti anak kecil di bawah pohon" Veskal berkomentar


"Diam..."


Aku sedang tidak dalam suasana hati untuk bercanda


Veskal yang paham langsung diam, memasang wajah gusar yang dia arahkan kepada Luna


Sementara orang tujuannya itu malah diam dan tetap terpaku kearahku. Pikirannya juga kosong, dan dia paham betul dengan isi kepalaku sekarang


Semua ini terjadi karena hal mendadak yang diberitahukan Verdea itu. Hal yang dia sembunyikan cukup lama


"Aku sudah menduga kalau nama Regulus itu terkait dengan Marcellus. Aku tidak menduga kalau nama itu terkait dengan takdir yang jauh lebih besar" aku berkata lagi, masih dengan wajah tertanam di lengan


Semua ini membuatku gusar


Marcellus...


Aku tidak akan berhenti mengutuk nama itu jika Verdea sampai-!


...


"Apa yang harus kita lakukan, Vainzel...?" Veskal pun bertanya. "Aku bahkan kehabisan ide. Dunia ini seakan sungguh tidak ingin kalian merasa senang!" dia kemudian menggaruk kepalanya dengan kasar


"Itu pertanyaanku, Veskal..."


Aku juga, kehabisan ide


Dan tidak biasanya itu terjadi, kecuali ketika kami memang sudah terpojok


Kami sekarang benar-benar terpojok. Ketika mengetahui kebenaran semua ini, aku merasa jijik


"Aku menyesal aku terlambat menyadari hal ini..."


Dan Verdea harus menanggung beban semacam ini


Aku bahkan tidak ingin membahas takdirku ke depannya...


...


Sungguh...


Jika takdir itu berjalan dengan artian aku harus kehilangan Verdea...


Aku sama sekali tidak ingin menjalaninya...


...


Jika aku pikir kembali...


Hidupku sekarang sungguh hanya berputar kepada Verdea


Pikiranku selalu ku kerahkan untuknya. Kekuatanku juga. Kekuatan teman-temanku juga...


Dan jika dia tidak ada lagi... Jika seorang Verdea Hortensia telah tiada...


Aku tidak tahu harus apa


Sepertinya dia memang cocok menjadi sebuah 'bintang'. Dia adalah cahayaku, atau semacamnya


Aku sudah terlalu sayang kepadanya, begitu juga yang lain. Veskal, Luna, Zaphir, semuanya...


Mereka sudah terlalu sayang kepada Verdea. Dia adalah orang yang menyatukan hati kami semua, hanya menggunakan tangannya yang kecil itu—seperti sebuah rantai yang kokoh


Jadi, apa yang terjadi jika rantai itu mulai patah?


...


Aku tidak ingin membayangkannya lagi. Biarlah angin ini berhembus kearah dia ingin mengarah

__ADS_1


Aku tidak peduli lagi. Selama Verdea masih baik-baik saja, dan jika ini memang keinginannya...


Sebaiknya aku bersiap untuk yang terburuk...


Lagi...


"Aku lelah... Aku yakin kalian juga lelah..."


Mereka berdua tidak menolak kalimatku dengan diamnya mulut mereka


Tidak ada solusi selain yang satu itu. Kami tidak bisa melakukan apapun lagi


Takdir sudah mengikat kami. Mempermainkan kami seperti sebuah boneka


...


"Mungkin sebaiknya..."


Aku yang ingin mendengar Veskal itu berniat untuk mengangkat kepala dan menatapnya


Tetapi tatapanku langsung terarah kepada orang yang ada di hadapanku


"... Kita bicara saja kepada orang itu langsung"


Orang yang ada di hadapanku adalah yang dia maksudkan. Verdea—yang wajahnya tidak berani menatapku itulah, yang dimaksudkan Veskal


Dia keluar dari ruangan itu, diluar dugaanku. Aku pikir dia akan meratap di dalam ruangan itu hingga kami tiba


Dan aku yakin itu ada kaitannya dengan Zaphir yang mengikutinya di belakang dengan sebuah wajah sedih. Tidak setiap hari dia mengeluarkan sebuah ekspresi di wajahnya itu


Aku spontan bangun, terutama ketika melihat Verdea mulai menangis


Dari posisiku sekarang, dia sungguh terlihat seperti seorang anak kecil yang tidak tahu harus apa. Itu mengingatkanku kalau dia baru saja berumur 15 tahun. Dia sama sekali tidak mengenal dunia ini sebatas konflik antar manusia seumur hidupnya


"Aku sudah duga-- Kalau kamu akan marah kepadaku--!"


...


Itu kalimat pertamanya kepadaku sekarang ini...


"Aku tahu kamu tidak akan setuju---! Tapi ini sudah menjadi takdirku-- Vain---!"


Itu tetesan air matanya yang kesekian kalinya jatuh...


"Aku ingin menjalaninya sebaik mungkin--- Aku ingin-- Kalian untuk hidup di dunia yang kita inginkan--- Dunia dimana malam tidak perlu datang lagi---!"


...


"Tapi apa kamu bahagia dengan semua ini...?" Aku pun bertanya kepadanya


Pertanyaan yang membuat dia tertegun sejenak di tengah napasnya yang terisak-isak


Pertanyaan yang membuat waktu terasa diam, seakan kami sekarang ini hanya bicara berdua. Pembicaraan dimana tidak ada siapapun selain kami yang menyaksikan


Verdea pun melihat tepat ke wajahku—lurus ke depan. Dan dengan sebuah senyuman yang nyaris ditutupi oleh air matanya itu, dia memberiku sebuah jawaban


...


"Ya..."


...


Jawaban yang singkat...


"... Karena aku menjalaninya dengan kalian semua..."


...


Jawaban yang jelas...


"... Dan aku senang selama kalian semua ada disini bersamaku---"


...


...


...


"Dan menurutmu apa kami akan bahagia...?"


...


...


...


"Aku hanya tahu kalian akan senang jika aku bisa terus hidup seperti keinginan kalian..."


...


Aku benci ketika anak ini selalu benar...


Karena kadang itu menyakitkan---


"Kenapa harus kamu---?"


Diantara semua orang di dunia ini, kenapa harus dia...?


Dia tidak bisa meyakinkan diriku kenapa tanggung jawab itu harus jatuh kepadanya...


Tapi kami tentu tidak akan bisa membiarkan dia begitu saja bukan...?


...


"Aku hanya ingin kalian semua bahagia. Jadi--"


Aku mohon, Veri...


"... Jangan pernah mati- Aku mohon---"


Aku tahu aku egois. Aku tahu kamu hanyalah seorang manusia yang bahkan tidak sempat mengenal dunia dengan baik


Tetapi aku tidak ingin kamu mati di hadapanku begitu saja...


"Hiduplah dengan umur yang panjang-- Buat sebuah keluarga atau-- Carilah sebuah cerita yang kamu inginkan---"


Aku tidak ingin lebih...


"Setidaknya jangan tinggalkan aku---!!"


Aku hanya ingin agar cahaya itu tetap memberiku sebuah tujuan untuk meneruskan perjalanan ini...


Walaupun dia sudah meredup sekalipun...


Bodoh...


Aku justru malah menangis lebih keras daripada dirinya...


...


Sepertinya hanya hari ini saja. Aku hanya ingin agar hari ini saja, aku boleh menangis seperti ini. Aku boleh, bersikap tidak tegar di hadapan mereka semua


Bagaimanapun juga, aku tetaplah seseorang yang memiliki perasaan. Sama seperti mereka...


...!


Disaat aku tidak mengetahuinya, dia sudah berada tepat di hadapanku—memberiku sebuah pelukan sehingga aku terdorong ke belakang


Aku nyaris terjatuh, tetapi dengan cepat aku mengumpulkan kekuatan untuk menetap di posisi


Dan ketika aku sudah sadar, tubuhnya mulai bergetar selagi aku merasakan bahuku—tempat dia menanam wajahnya itu mulai basah dipenuhi air mata


"Nak...?"


Aku bertanya, namun tidak dia respon


Dia hanya diam disana. Menanam wajahnya di bahuku dan menolak untuk bergerak


Tubuhnya yang kurus itu pun perlahan kupeluk, selagi mataku terpejam dan mengalirkan air mata kembali


Kami diam di posisi itu, bahkan ketika Veskal, Zaphir, dan Luna mendekat untuk menambah pelukan itu


Tidak ada dari kami yang tidak meneteskan air mata disaat itu. Tidak ada dari kami yang merasa tidak takut akan perpisahan disaat itu


Kami semua hanya menginginkan satu hal, dan semua itu karena Verdea. Semua hal yang kami lalui adalah berkat darinya


Kami hanya ingin bersama. Tetapi kami tahu, perpisahan selalu akan datang suatu hari nanti


Kami hanya bisa berdoa, waktu perpisahan itu tidak akan tiba dalam waktu yang cepat. Kami hanya bisa berdoa, dia datang dalam waktu terlama yang bisa diberikan dunia ini kepada kami


Aku ingin melihat mereka semua mencapai kebahagiaan yang mereka inginkan...


Aku hanya ingin itu...


...


...


...


"Mereka lebih terlihat seperti keluarga dibandingkan teman semata"


Kelima kepala yang melihat kami itu hanya diam tidak berkata apapun


Kelima kepala yang hanya bisa menyaksikan tanpa bisa menyela untuk membantu


Kelima kepala yang berada di balik bayang-bayang kastil dan kebetulan berada di tempat itu untuk menyaksikan


"Bagaimana pendapatmu, yang mulia Julius?" Eloy bertanya


"Aku tidak tahu..." Julius menjawab dengan berat hati


"Kamu yakin anak itu adalah utusan dari Marcellus? Disaat selanjutnya kamu tahu, dia akan menjadi seorang malaikat!" Louis menyela


"Aku harap kamu menjaga mulutmu seandainya itu sungguh sebuah sarkasme"


Louis pun mendengus melirik Edwin yang terlihat siap menarik pedangnya


"Tidak bisa disalahkan lagi, yang mulia Louis" Alorry berkata. "Tidak bisa disalahkan lagi, kalau dia adalah utusan yang diramalkan oleh cendekiawan itu. Bahkan reaksi dari Oberon memperkuat hal ini"


"Dari mana kamu bisa yakin?" Eloy bertanya, setengah kesal


"Karena aku tahu alasannya"


...


Alorry hanya perlu melihat


"Mereka semua adalah faktor penting dari bangkitnya seorang Regulus"


"... Aku tidak yakin itu benar-"


"Seorang raja membutuhkan subjek mereka" Alorry menyela. "Begitu juga sebaliknya"


Karena arti dari nama Regulus adalah 'Raja kecil'


Mereka semua paham akan itu. Tapi beberapa dari mereka masih tidak menerima kebenarannya


Dan salah satu yang masih belum menerima pun sudah memutuskan


"Aku akan pergi mendahului kalian" Eloy berkata, selagi beranjak untuk mencari pengawalnya


"Kemana, yang mulia Eloy?" Louis bertanya


"Kalian seharusnya sudah mendapatkan sedikit pelajaran bukan?" dia membalas balik


Karena mereka membahas seorang Regulus sekarang ini


"Entah kalian berada di sisinya dan membantu, atau kalian tidak mencoba menghalanginya sama sekali..."


Dan Eloy memutuskan untuk memilih pilihan kedua. Pilihan paling aman baginya dan kerajaannya


"Setidaknya aku punya sesuatu yang harus kulakukan untuk negaraku. Sepertinya aku harus mengikuti kalimat kakek tua itu untuk sesekali"


...


Dia pergi, meninggalkan 4 orang yang masih tersisa disana


4 orang yang masih bingung dengan pilihan mereka. Ada konsekuensi di setiap pilihan, dan mereka masih bingung memutuskan yang mana opsi terbaik


Kecuali satu orang


"Papan permainan sudah semakin besar, Julius" Alorry berkata. "Kita semua sudah melihat garis besarnya"


Dan jawabannya adalah, tidak terbatas


Tidak terbatas, hingga satu kesalahan saja, mereka bisa langsung gagal. Satu kesalahan dari faktor tidak terduga


"Tapi aku akan tetap melihat ujung dari perjalanan ini. Jadi kita akan membantu Verdea Hortensia bagaimanapun caranya"


Alorry terlihat serius, begitu juga Julius


Dan itu pun mengundang senyum di wajah raja tersebut. Dia senang, istrinya berpikiran sama dengannya


"Anggap juga ini adalah bayaran untuk apa yang dia sudah lakukan demi kita semua"


Selagi kedua orang itu sudah memilih, Louis hanya terdiam


Hanya dengan itu juga, dia pergi tanpa sepatah kata, membiarkan Edwin terlihat kebingungan dengan kepergiannya itu


...


Dalam hatinya dia tahu, kalau Julius dan Alorry benar


Papan, dunia ini, sudah semakin besar


Sangat besar, justru. Mereka hanya baru bisa melihat ukurannya dari balik kabut yang sebelumnya menutupi


Tetapi ketika mereka sudah melihatnya, dan dia sekali lagi menatap kearah Verdea, Edwin pun paham kalau dia juga harus berperan dalam permainan ini


...


Dia tidak tahu apakah caranya akan berhasil, tapi...


"Mungkin memang saatnya bagiku untuk memberontak sesekali"


Sama seperti yang dimau oleh seorang teman yang tidak terlalu dia kenal di masa lalu


"Anggap ini hutang budiku kepadamu, nyonya Marianne. Karena kamu sudah membuat temanku Artorius bahagia walaupun hanya dalam waktu yang singkat"


Dia tidak akan melupakan sumpahnya kepada takhta. Tetapi...


Dia ingin setidaknya, ada yang bisa menghentikannya, seandainya sisinya dan Verdea harus berlawanan...


Maka dia juga harus bertindak. Dia harus memilih seseorang untuk menghentikan dirinya suatu hari nanti


"Aku harap, ada kebahagiaan untuk kalian semua"


Walaupun dia mungkin tidak akan bisa melihat hal itu suatu hari nanti...


...


Tahap akhir, sudah dimulai


Kisah kami, sudah akan mencapai *******-nya


******* dimana kami mulai menggerogoti musuh kami secara perlahan. ******* dimana mereka mencoba menggigit kembali


Semua orang sudah memilih sisi mereka dengan pikiran yang kokoh. Tidak ada lagi yang harus berubah di hari itu


Maka...


"Permainan... Sudah dimulai, Yael"


"Tentu, tuan putri. Tentu..."


...\=\=\=\=\=\=\= Arc Utusan Tamat \=\=\=\=\=\=\=...

__ADS_1


__ADS_2