
"HRAH!"
Darwin nyaris mencakarku, tapi Zaphir berhasil membawaku menjauh darinya
Verdea kembali melempar sihir, namun kali ini sihir batu. Batu yang terbentuk di tangannya itu terlihat sangat kecil, tapi ketika batu itu sudah melesat dan menyentuh badan Darwin...
*Splat!*
Darah Darwin bersimbah berantakan. Dia terhempas tidak jauh ke belakang, dengan dada yang berlubang, membuatnya jatuh dan tidak bergerak untuk sementara waktu
"Sial! Aku meleset" Gerutu Verdea dengan mata yang tertutup sebelah
Dia kembali merapal mantra dengan tangan kanannya. Yael berusaha menggagalkan mantra itu, tapi Veskal sekali lagi menyerang Yael dan menghalanginya
Melihat kesempatan itu, aku berpesan kepada Zaphir, "Bantu anak berambut coklat itu. Aku akan pergi kearah anak yang berambut hitam"
Zaphir terlihat ragu-ragu, tapi dia tetap mengangguk
Aku langsung berpindah tempat dengan cepat ke samping Verdea
Verdea melihat kearahku dengan senyuman lebar di wajahnya
"Apa kabarmu?" Dia bertanya
"Aku baik saja. Tapi, kita simpan saja perbincangan ini untuk nanti" Aku menjawab
"Baiklah... Omong-omong, kenapa kamu malah kemari? Tidak membantu mereka berdua?"
"Hah? Aku ada rencana untuk mengakhiri ini kamu tahu?"
"... Ya... Sekarang aku harus apa?"
Dia melihat kearahku dengan wajah penuh pertanyaan
...
Hah... Anak ini...
Pikirannya sama sekali tidak bisa menyamai ku sejak dulu. Hanya badannya saja yang bertambah besar
"Pegang punggungku dengan tangan kananmu. Dan pastikan kamu bisa tahan dengan hempasan sihirku"
"... Untuk a-"
"Lakukan saja, atau kepalamu akan kuhajar dengan tongkat ini!"
"Baiklah, baiklah. Dasar agresif"
Dia meletakkan tangan kanannya di punggungku. Memastikan kesiapannya, aku pun mulai menodongkan tongkatku kearah Yael yang sedang melawan
"Oh, roh alam yang agung. Berikanlah aku kekuatanmu dan lindungi kami dari para penjahat yang mengganggu kami. Hujani mereka dengan kelopakmu yang agung. Fatal Bloom"
Menyadari rapalan sihirku, Veskal dan Zaphir langsung menghindar ke udara agar tidak terkena
Sebuah Energi berbentuk bunga terbentuk diujung tombakku. Dalam waktu yang cepat, bunga itu menembakkan peluru energi secara bertubi-tubi kearah Yael
Yael yang panik langsung berusaha menghindar, tapi peluru energi itu justru mengikutinya dan berusaha mengenainya
Dia pun mencoba menghempaskan mereka dengan jubahnya, namun justru membuat jubahnya berlubang seketika
Dan di detik selanjutnya, dia terhantam oleh semua peluru energi itu dan melubangi badannya. Dia menyemburkan darah dari mulutnya setelah itu
Dia pun jatuh terhantam ke tanah, selagi Veskal dan Zaphir bernapas dengan ritme yang tidak beraturan ketika baru mendarat di hadapan tubuh Yael
"Woah! Hebat juga!" Verdea berkata
"... Dia belum mati?"
Yael bangun kembali secara perlahan. Hal itu membuat Veskal dan Zaphir kembali waspada dan bersiap kembali
__ADS_1
Aku dan Verdea juga sudah siap merapal mantra selanjutnya
Dia pun berhasil berdiri, tapi belum tegak sama sekali. Kepalanya tiba-tiba terputar 90 derajat dengan suara tulang sendinya yang bisa terdengar jelas
"... Sial... Aku tidak suka ini..."
Kepalanya kembali terputar ke posisi normal. Dia pun melihat kearahku langsung dengan mata merah melebar yang menyala terang sekali
...!
Dia akan-!
Tepat seperti dugaanku, dia tiba-tiba sudah berada di depanku. Tapi aku dengan cepat membawa Verdea menjauh sebelum kami sempat terkena serangannya
Dia pun tidak memberi kami ruang sedikitpun. Dia menyerang kami secepat kilat sekali lagi dengan tangan kanannya yang dilapisi sihir hitam
Aku langsung mengayunkan tongkatku untuk menghalau serangannya, tapi aku nyaris terhempas karena sihir di tangannya meledak
Veskal dan Zaphir langsung berusaha membantu kami dengan melesat cepat kearah Yael
Sementara aku, sebelum Yael sempat menyerang lagi, aku mengikat tubuh Verdea dengan tangan ku dan mulai mengkonsentrasi Mana di ujung tongkatku. Ketika aku mengayunkannya ke tubuh Yael, Mana ku itu meledak dan membuat area itu tertutup asap
Tanpa pikir panjang, aku langsung membawa Verdea pergi menjauh darinya
Melihat kalau kami tidak bisa melawannya dengan usaha yang tidak penuh, aku pun mulai menyiapkan rencana lain
Aku kemudian merapal sihir tanah dan melemparnya ke Yael, tapi sihir itu berhasil ia hindari. Namun, aku hanya menggunakan sihir tanah itu untuk mengulur waktu
Zaphir dan Veskal melompat di belakang Yael, siap membelahnya. Tetapi, Yael sekali lagi menghindar dengan cepat dan mengambil jarak yang cukup jauh sehingga kedua orang yang kehabisan tenaga itu tidak bisa mengejar lagi
...
"Baiklah. Sepertinya aku harus sedikit kasar. Ayo Verdea"
Zaphir dan Veskal melihat kearahku di belakang mereka. Aku hanya bergerak maju ke depan mereka dengan Verdea di belakangku
Sudah merasa siap, aku pun menodongkan tongkatku kearah Yael sambil memejamkan mata. Verdea meletakkan tangan kanannya di punggungku dan siap menahan dorongan gelombang Mana-ku
"Eye of Storm"
Sebuah bola air terbentuk di ujung tongkatku. Tapi, bukannya terlempar, bola air itu justru melayang ke udara dan menyentuh awan
Menyadari apa yang sedang kurapal, Yael mencoba melarikan diri bersama Darwin dan Edwin yang tidak sadarkan diri
Namun, ketika dia mencoba terbang ke udara dengan sihir hitamnya, dia terhempas kembali ke tanah, bersamaan dengan kedua temannya
"A-!? Sihir Pelindung Area!?" Teriak Yael panik
Dengan sihirku itu, mereka tidak akan bisa keluar masuk kecuali jika kuizinkan. Sihirku ini sama kuatnya dengan milik Seren, hanya saja areanya lebih kecil
Dia mencoba mencari celah dari sihirku itu seperti seorang tikus yang ingin kabur menyelamatkan nyawanya. Tapi usahanya itu sia-sia. Awan hitam sudah mulai mengepul dan mengeluarkan gemuruh keras, sementara dia yang berusaha bahkan tidak bisa membuat satu lubang pun di sihirku itu
"Kaburlah dari area ini! Cepat!" Aku memerintahkan Veskal dan Zaphir
Setelah melihat ke langit sebentar, mereka mengangguk paham kearahku, kemudian pergi secepat mungkin dari area jangkauan sihirku
Sihirku kali ini diperkuat oleh Verdea. Aku tidak tahu sedahsyat apa sihirku ini nanti. Aku khawatir dengan keselamatan Verdea yang masih tetap bersamaku disini untuk sementara
Gemuruh di langit pun mulai berubah menjadi suara angin kencang yang memekakkan telinga. Tidak berapa lama, angin topan berjumlah banyak menimpa tanah dengan kerasnya dan menghancurkan apapun yang ada di dekatnya
Oh wow! Sihirku ini jadi puluhan kali lebih menakutkan dari apa yang aku perkirakan
Melihat kalau topan-topan itu sudah jatuh ke tanah, aku pun langsung membawa Verdea lari dari area itu. Aku tahu kalau topan-topan itu akan menghilang kalau aku keluar dari areanya, tapi aku tidak bisa membiarkan Verdea ikut terluka oleh sihirku
"TUNGGU-!"
Yael mencoba mengejar ku, tapi dia terhalang oleh sihir pelindung milikku. Dia mengetuk pembatas sihir itu berkali-kali dengan agresifnya dan berteriak keras kearah kami yang berlari keluar dari area sihir itu
Salah satu angin topan itu pun mendekat kearah mereka selagi jeritan murka milik Yael semakin terdengar keras
__ADS_1
"VERDEA! VAINZEL!"
Hah!? Kenapa Veskal dan Zaphir masih ada disini!?
...!
"Cepat kemari, Vainzel!"
Paman Zer!
Aku mempercepat langkah ku kearah mereka bertiga sambil terus membawa Verdea. Beberapa dari angin topan yang ganas itu nyaris membawaku terbang
Paman Zer mengulurkan tangan semampunya kearah kami. Aku langsung memanjangkan tanganku untuk dapat menggenggam tangannya itu
Dan tepat saat tangan kami bersentuhan...
*ZAP!*
*BRUK!*
Aku terbatuk-batuk karena rasa sakit yang tiba-tiba muncul di dadaku
Kami... Di teleportasi paksa oleh Paman Zer rupanya...
Paman Zero memang luar biasa. Kemampuan teleportasinya sama sekali tidak bisa dianggap remeh
Verdea!
Aku langsung berjalan kearahnya untuk membantunya bangun dari tanah
"Kamu tidak apa-apa nak?" Aku bertanya
"Tidak apa-apa. Setidaknya... Kita sudah aman" Dia berkata sambil menerima bantuanku
...
Aku baru tahu kalau dia suka menahan rasa sakit berlebih seperti ini
Dia jelas-jelas terlihat nyaris tidak bisa bernapas, tapi dia berusaha sebaik mungkin untuk terlihat seakan dia baik-baik saja
Teleportasi ini akan memakan Mana yang cukup besar tergantung jaraknya. Dan karena hal itu, Mana milik Verdea mungkin terkuras habis sekarang ini
Dasar. Aku tahu kalau dia sering berbohong dan ingin selalu terlihat baik-baik saja, tapi aku tidak menyangka dia akan mencoba menahan sampai sejauh itu
Kesampingkan Verdea untuk sementara, aku melihat kearah Veskal yang terbaring di tanah dengan napas tersengal-sengal
Yah... Seingatku dia memang tidak punya Mana yang cukup besar. Walaupun aku bisa bilang Mana miliknya sedikit lebih banyak dari Verdea, dia tetap saja akan kesulitan menenagkan badannya
Hah... Aku harus menyembuhkan 2 orang ini nanti
Zaphir dan Paman Zer terlihat baik-baik saja, sama sepertiku yang mungkin hanya merasakan rasa sakit untuk sementara
Aku pun melihat sekeliling kami. Dan sesuai dugaanku, Paman Zer memang membawa kami ke kota bawah tanah milik Dwarf
Kota Bargalos lebih tepatnya. Tempat ini adalah kampung halaman milik Paman Zer, dan aku masih mengenalinya karena aku sering keluar masuk kota ini ketika diajak oleh Paman untuk mampir
Para Dwarf berkumpul di sekitar kami. Ada beberapa yang berbisik ketika melihatku dan Zaphir
Dan di tengah-tengah Dwarf itu...
Frank dan Artorius datang kearah kami dengan cara berjalan setengah berlari
"Verdea!"
Frank langsung memeluk anak itu, merangkulnya di dekapannya. Aku dan Veskal pun menjauh sedikit untuk memberi ruang pada kedua orang itu
Sementara itu, ketika aku melihat kearah Artorius, dia hanya diam berdiri disana dengan wajah sedih, namun bersyukur
Ah, wajah-wajah lama ini masih bisa kulihat rupanya
__ADS_1
Hah... Perjalananku untuk terus bertahan selama ini rupanya tidak sia-sia sama sekali